Badai Laut Selatan ; Bagian 001


"Aduh Kakangmas Pujo, telapak kakiku sakit, batu karang ini tajam runcing dan nakal, menggigit kakiku !” keluhnya lalu mogok jalan, duduk di atas batu, jari-jari tangan kecil mungil halus mengusap sinom yang berjuntai di atas dahi, membasah oleh peluh. Alis hitam menjelirit mengerut, bibir yang merah membasah merengut.
Pujo berhenti melangkah dan menengok. Sejenak ia terpesona. Kartikosari telah sebulan lebih menjadi isterinya namun setiap saat ia masih saja terpesona akan kejelitaan isterinya. Amboi...bisik hatinya kagum. Di dunia ini tak mungkin ada keduanya, wanita seindah ini bentuk tubuhnya sekuning halus ini kulitnya, secantik jelita ini wajahnya. Dari ujung rambut yang hitam subur mengandan-andan dengan rambut sinom melingkar-lingkar di depan telinga dan atas dahi, sampai ke tumit kaki yang kemerahan, membuktikan kesempurnaan ciptaan Yang Maha Wenang sebagai anugerah.
Pujo berjongkok di depan isterinya. Ia tersenyum lebar dan wajahnya yang tampan berseri-seri, matanya yang tajam bersinar-sinar. la maklum bahwa telah 'kumat' lagi penyakit isterinya, yaitu penyakit manja yang muncul semenjak mereka menikah. Perjalanan menuju Laut Selatan ini memang tidak mudah, bahkan terlalu sukar bagi manusia biasa, harus mendaki Pegunungan Seribu, naik turun puncak dan jurang, menerjang rumpun duri dan alang-alang. Akan tetapi, isterinya bukanlah wanita biasa, melainkan seorang wanita gemblengan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti mandraguna, dan telah menerima pelajaran berbagai ilmu olah keprajuritan dan ilmu kesaktian.
Kartikosari adalah puteri tunggal Resi Bargowo yang sakti mandraguna. Tikaman segala keris biasa masih belum dapat menembus kekebalan kulit yang halus menguning itu. Masa sekarang berjalan di atas batu karang saja telapak kakinya menjadi sakit-sakit? Akan tetapi, tentu saja Pujo tidak melahirkan pengertian ini dalam bentuk kata-kata. Terlalu besar kasih sayangnya kepada isterinya sehingga ia jauhi benar sikap dan kata-kata yang akan menyinggung hati kekasih. Dengan penuh perhatian dan mesra ia membersihkan tanah lempung dari telapak kaki isterinya yang halus kemerahan itu, kemudian memijit-mijitnya untuk mengusir rasa lelah.
“Nimas Sari, kasihan sekali kakimu yang mungil. Biarlah kugendong engkau, nimas. Tapi upahnya kauberikan dulu, upah cium.........”
“lhhh…dasar… Tiada bosan-bosan nya ih….”
Pujo merangkul isterinya, dan menciumi kedua pipi yang kemerahan, mengecup keringat yang membasahi kening. Kartikosari memejamkan kedua matanya. Sudah sebulan lebih Pujo, menjadi suaminya yang tak kunjung henti mencumbunya mesra, namun masih saja serasa ia terayun di awang-awang (angkasa) tiap kali Pujo mencium dan mencumbunya.
“Kau mustikaku, pujaan hatiku mana bisa bosan, kasih?” Pujo membelai rambut yang agak kusut, mengusapnya ke belakang dan membereskannya. Melihat setangkai bunga mawar merah kecil yang tumbuh liar di dekatnya, ia memetiknya dan menyelipkan bunga itu di antara rambut atas telinga kanan, lalu mencium telinga kanan isterinya yang tampak makin cantik.
“Tunggu saia. kalau aku sudah menjadi nenek-nenek dan kau menjadi kakek-kakek, kalau gigi kita sudah ompong dan pipi kita sudah kempot peyot, apakah kau juga masih suka menci .......”

Kartikosari malu-malu untuk mengucapkan kata-kata itu, lalu tertawa. Deretan giginya yang putih bersih berbaris rapi di dalam mulut yang merah, di balik sepasang bibir kemerahan yang bergerak-gerak patut, menciptakan kombinasi yang elok. Pujo, tak dapat menahan hatinya dan sekali lagi ia mencium isterinya, pada bibimya. Beberapa saat mereka berdekapan mesra, terbuai kasih sayang yang amat dalam, sampai terasa di tulang sungsum. Burung laut camar yang terbang di angkasa memekik-mekik nyaring, agaknya menyaksikan sepasang manusia yang berasyik-masyuk berkasih mesra di sebelah bawah, mendatangkan rasa iri dan rindu kepada betinanya. Angin laut bertiup lirih, silir dan sejuk menggerakkan rambut halus hitam Kartikosari menyapu-nyapu pipi dan leher suaminya.
“Sudahlah kangmas, dengar itu burung mentertawai kita. Dan lihat hidung dan bibirmu basah oleh keringat ku ........”
“Keringatmu sedap"
“Iiihhhh! Tunggu kalau aku sudah nenek-nenek kelak” Kartikosari tertawa.
Dengan halus Pujo menarik tangan isterinya bangkit berdiri.
"Sampai kau menjadi nenek-nenek dan aku menjadi kakek-kakek, aku akan tetap mencintamu nimas. Kau akan tetap cantik jelita bagiku, seperti Dewi Suprobo"
“lhhh, sudahlah. Takkan pernah sampai di tempat tujuan kita kalau begini. Kau gendong aku?”
"Tentu! Agar jangan kotor telapak kakimu yang halus bersih oleh lumpur.”

Dengan sikap manja Kartikosari lalu merangkul leher suaminya dari belakang dan ia meloncat duduk di atas punggung Pujo. Suami yang bahagia ini tertawa, lalu melangkah dengan cepat melanjutkan perjalanan, meloncat-loncat dari batu ke batu menuruni tebing yang curam dengan cekatan sekali. Kartikosari merangkul leher suaminya dan meletakkan pipi kanannya di atas bahu yang bidang dan kokoh kuat itu. Pagi tadi suami isteri muda ini meninggalkan pondok Baymismo, tempat tinggal Resi Bhargowo yang bertapa di Sungapan, yaitu muara Sungai Progo di pantai Laut Selatan. Kartikosari adalah puteri tunggal Resi Bhargowo, adapun Pujo adalah murid pertapa itu. Murid tersayang yang kemudian menjadi mantunya. Dengan demikian, suami isteri ini adalah juga saudara tunggal guru. Di atas gendongan suaminya, Kartiko sari merasa aman sentausa dan bangga. Bulu matanya yang lentik melengkung ke atas itu bergerak-gerak ketika matanya meram-melek nyaman. Jari-jari tangannya yang kecil meruncing mempermainkan rambut di atas tengkuk yang keluar dari balik destar suaminya.
"Kangmas" bisiknya manja di dekat telinga kanan.
“Hemm?” jawab Pujo sambil terus meloncat-loncat dengan tangkasnya.
“Apakah kangmas benar-benar mencintaku?”
“Ehh ??” Pujo berhenti meloncat.
Mereka berdiri di puncak bukit terakhir. Pemandangan di depan amatlah indahnya, tampak Laut Selatan yang maha luas itu terbentang di depan mata, tanpa batas.
“Mengapa kau bertanya begitu, sayang? Tentu saja aku mencintamu, sepenuh jiwa ragakul”
Ucapan penuh perasaan ini menyejukkan hati dan mendapat upah sebuah ciuman bibir yang mengecup pangkal telinga kanan.
“Seperti apa besamya cintamu, kangmas?”
Pujo menuding ke arah laut.
“Kau lihat laut Selatan itu, nimas. Demikian luas dan besar. Seperti Laut Selatan itulah besamya cinta kasihku kepadamu”.
Kartikosari memandang ke arah laut bebas, lalu cemberut dan merajuk, kentara dari kedua betisnya yang bergerak-gerak tak puas di pinggang Pujo, kepalanya digeleng-gelengkan.
“Ah, tak senang aku betapapun besar dan luasnya, laut itu masih selalu berubah, kadang-kadang pasang kadang-kadang surut. Aku tidak suka kalau cintamu kadang-kadang surut pula, kangmas. Dan lagi, laut itu terlalu ganas terlalu besar, aku takut akan tenggelam di dalamnya kalau cintamu seganas dan sebesar itul”
“Ha-ha-ha-hal Kau lucu!, nimas. Eh, tahu aku sekarang hemmm, cintaku kepadamu sebesar kuku hitam!”
"Ihhhhh !!”

Tiba-tiba Kartikosari melorot turun dari punggung suaminya dan ketika Pujo membalikkan tubuh, ia melihat isterinya berdiri dengan kedua tangan menolak pinggang, dada yang sudah membusung itu dibusungkan lagi kepala dikedikkan, sepasang mata yang biasanya lembut bening sejuk mesra itu kini seakan-akan memijarkan bunga api kedua pipinya yang biasanya memerah jambu kini menjadi merah darah.
“Apa? Cinta kasihmu hanya sekuku hitam? Terlalu! Lebih baik aku matil"
Wanita cantik yang menjadi isteri manja ini membanting-bantingkan kakinya yang bertelapak halus itu, akan tetapi batu terinjak bantingan kakinya menjadi hancur seperti tepung! Menyaksikan kemarahan isterinya Pujo hanya tersenyum, akan tetapi cepat-cepat berkata,
“Nimas pujaan hatiku. Aku tidak main-main ketika aku mengatakan bahwa cinta kasihku kepadamu sebesar kuku hitam. Tahukah engkau, nimas, bahwa biarpun kuku hitam itu kecil-kecil, akan tetapi tak pemah dapat musnah? Pagi dipotong sore tumbuh, sore dibuang pagi muncul. Demikianpun cinta kasihku, nimas, selalu akan tumbuh dan ia..”
“Aku tidak suka! Biarpun akan timbul lagi akan tetapi bisa hilang!”
Pujo mengerutkan keningnya, memutar otak. Wajahnya yang tampan itu tiba-tiba berseri dan ia cepat berkata,
“Ah, tahu aku sekarang! Cinta kasihku kepadamu sebesar ujung rambutl”.
“Apa ?? Malah lebih kecil lagi?? Kakangmas, apakah kau tega menghina Sari?” Sepasang pelupuk mata itu sudah mulai merah, ibarat langit sudah mulai mendung akan hujan.
“Sama sekali tidak menghina, manis. Apakah yang dapat memusnahkan ujung rambut? Kalau laut akan surut, kuku hitam bisa dipotong, akan tetapi seribu kali orang memangkas rambut, tentu masih selalu akan ada ujungnya. Ujung rambut takkan pemah lenyap, takkan pernah surut selalu ada dan demikianlah cinta kasihku kepadamu!”
“Kalau digunduli?”
“Kepala digundulipun masih akan ada akar rambutnya dan akar itupun ada ujungnya. Pendeknya, ujung rambut tak kan dapat lenyap, kecuali kalau kulit kepalanya dikupas Akan tetapi siapa mau mengupas kulit kepalanya? Tentu dia akan mampusi!” Bukan main bahagia rasa hati Pujo melihat wajah isterinya berseri-seri lagi, matanya sejuk dan mesra pandangnya, akan tetapi dua titik air mata seperti mutiara tergenang lalu menggantung di bulu mata. Ia memeluk dan berbisik risau,
“Mengapa menangis sayang?”
Kartikosari juga memeluk suaminya.
“Karena bahagia, kakangmas”.

Mereka kembali berdekapan dan berciuman. Mesra! Mesra memang kasih sayang suami isteri muda ini. Kasih sayang pengantin baru. Dunia milik mereka. Surga milik mereka. Lupa akan segala sesuatu. Lupa bahwa mereka tenggelam dalam buaian asmara, sehingga tidak ingat bahwa tiada yang kekal di dunia ini. Cinta kasihpun tidak. Ada cinta ada benci, ada suka ada duka, seperti halnya ada siang tentu ada malam!
“Jangan gendong aku lagi, kangmas. Kasihan kau terlalu lelah. Mari kita lanjutkan perjalanan.”
Mereka bergandeng tangan, lalu menuruni puncak bukit menuju ke tebing yang menjulang ke depan, amat curam di atas laut. Berdiri di pinggir tebing ini saja sudah mendatangkan rasa ngeri bagi yang tidak biasa. Bisa membuat tengkuk menebal dan bulu tengkuk meremang. Dari tebing ini memandang ke bawah, tampak ombak taut bercumbu dengan batu-batu karang raksasa, menghantam batu karang menimbulkan suara menggelegar lalu air pecah muncrat ke atas menjadi uap dan mencipta warna pelangi. Sebentar menghilang, disusul ombak berikutnya, terus-menerus begitu, siang malam tiada hentinya sehingga di sepanjang pantai air laut membuih putih. Dinding batu karang yang tinggi itu bentuknya aneh-aneh, berlubang-lubang seperti menjadi perkampungan tempat tinggal para jin dan iblis penghuni laut.

Di atas tebing, Pujo dan Kartikosari berdiri mengagumi pemandangan di bawah kaki mereka. Mereka kagum terpesona oleh keindahan dan kebesaran alam yang maha hebat. Apalagi bagi Kartlkosari yang belum pemah datang ke tempat ini. Tempat tinggal ayahnya terletak di Sungapan, di pantai yang datar dan rendah, tertutup pasir, di mana air Sungai Progo terjun ke laut, kembali kepada sumbemya. Yang mereka datangi ini adalah pantai yang berdinding gunung karang, di sebelah timur. Rambut dan ujung kain Kartikosari berkibar-kibar tertiup angin taut.
“Cancutkan kainmu, nimas. Kita turun ke bawah.”
Kartikosari adalah seorang wanita gemblengan, yang tidak gentar menghadapi seekor harimau dengan tangan kosong. Akan tetapi melihat tebing yang curam itu, yang tingginya melebihi tiga puluh batang pohon kelapa, ia bergidik. Menuruni tebing securam itu? Sekali terpeleset dan terbanting ke bawah, tubuh akan melayang-layang dan batu-batu karang runcing tajam akan menyambut tulbuh, lalu ombak dahsyat akan menghancur luluhkan tubuh dengan hempasan keras pada batu karang.
“Kau ngeri, nimas? Biarlah kugendong ........”
“Tak usah kaugendong, kangmas. Akan tetapi perlukah kita turun?”
Pujo tersenyum.
“Tentu saja. Kalau kita tidak turun ke sana, bagaimana kita mampu mendapatkan tiram kencana dan mutiara hijau?”
Kartikosari menarik napas panjang. Di dalam hati ia mengeluh. Mengapa ayahnya merasa begitu yakin bahwasanya kebahagiaan suami isteri hanya akan dapat kekal kalau mereka dapat memiliki mutiara hijau yang berada dalam tiram kencana? Bukankah cinta kasih antara dia dan suaminya dapat menjamin kebahagiaan yang kekal? Namun, ayahnya adalah seorang pertapa yang sidik permana, waspada dan bijaksana. Tak mungkin mereka dapat membantah kehendak orang tua itu.

<<< Nurseta Satria Karangtirta                                                    Bagian 002 >>>

No comments:

Post a Comment