"Aduh Kakangmas Pujo, telapak kakiku sakit, batu karang ini tajam runcing dan nakal, menggigit kakiku !” keluhnya lalu mogok jalan, duduk di atas batu, jari-jari tangan kecil mungil halus mengusap sinom yang berjuntai di atas dahi, membasah oleh peluh. Alis hitam menjelirit mengerut, bibir yang merah membasah merengut.
Pujo berhenti
melangkah dan menengok. Sejenak ia terpesona. Kartikosari telah sebulan lebih
menjadi isterinya namun setiap saat ia masih saja terpesona akan kejelitaan
isterinya. Amboi...bisik hatinya kagum. Di dunia ini tak mungkin ada keduanya,
wanita seindah ini bentuk tubuhnya sekuning halus ini kulitnya, secantik jelita
ini wajahnya. Dari ujung rambut yang hitam subur mengandan-andan dengan rambut
sinom melingkar-lingkar di depan telinga dan atas dahi, sampai ke tumit kaki
yang kemerahan, membuktikan kesempurnaan ciptaan Yang Maha Wenang sebagai
anugerah.
Pujo
berjongkok di depan isterinya. Ia tersenyum lebar dan wajahnya yang tampan
berseri-seri, matanya yang tajam bersinar-sinar. la maklum bahwa telah 'kumat'
lagi penyakit isterinya, yaitu penyakit manja yang muncul semenjak mereka
menikah. Perjalanan menuju Laut Selatan ini memang tidak mudah, bahkan terlalu
sukar bagi manusia biasa, harus mendaki Pegunungan Seribu, naik turun puncak
dan jurang, menerjang rumpun duri dan alang-alang. Akan tetapi, isterinya
bukanlah wanita biasa, melainkan seorang wanita gemblengan yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi, sakti mandraguna, dan telah menerima pelajaran berbagai ilmu
olah keprajuritan dan ilmu kesaktian.
Kartikosari
adalah puteri tunggal Resi Bargowo yang sakti mandraguna. Tikaman segala keris
biasa masih belum dapat menembus kekebalan kulit yang halus menguning itu. Masa
sekarang berjalan di atas batu karang saja telapak kakinya menjadi sakit-sakit?
Akan tetapi, tentu saja Pujo tidak melahirkan pengertian ini dalam bentuk
kata-kata. Terlalu besar kasih sayangnya kepada isterinya sehingga ia jauhi
benar sikap dan kata-kata yang akan menyinggung hati kekasih. Dengan penuh
perhatian dan mesra ia membersihkan tanah lempung dari telapak kaki isterinya
yang halus kemerahan itu, kemudian memijit-mijitnya untuk mengusir rasa lelah.
“Nimas Sari,
kasihan sekali kakimu yang mungil. Biarlah kugendong engkau, nimas. Tapi upahnya
kauberikan dulu, upah cium.........”
“lhhh…dasar…
Tiada bosan-bosan nya ih….”
Pujo merangkul
isterinya, dan menciumi kedua pipi yang kemerahan, mengecup keringat yang
membasahi kening. Kartikosari memejamkan kedua matanya. Sudah sebulan lebih
Pujo, menjadi suaminya yang tak kunjung henti mencumbunya mesra, namun masih
saja serasa ia terayun di awang-awang (angkasa) tiap kali Pujo mencium dan
mencumbunya.
“Kau
mustikaku, pujaan hatiku mana bisa bosan, kasih?” Pujo membelai rambut yang
agak kusut, mengusapnya ke belakang dan membereskannya. Melihat setangkai bunga
mawar merah kecil yang tumbuh liar di dekatnya, ia memetiknya dan menyelipkan
bunga itu di antara rambut atas telinga kanan, lalu mencium telinga kanan
isterinya yang tampak makin cantik.
“Tunggu saia.
kalau aku sudah menjadi nenek-nenek dan kau menjadi kakek-kakek, kalau gigi
kita sudah ompong dan pipi kita sudah kempot peyot, apakah kau juga masih suka
menci .......”
Kartikosari
malu-malu untuk mengucapkan kata-kata itu, lalu tertawa. Deretan giginya yang
putih bersih berbaris rapi di dalam mulut yang merah, di balik sepasang bibir
kemerahan yang bergerak-gerak patut, menciptakan kombinasi yang elok. Pujo, tak
dapat menahan hatinya dan sekali lagi ia mencium isterinya, pada bibimya.
Beberapa saat mereka berdekapan mesra, terbuai kasih sayang yang amat dalam,
sampai terasa di tulang sungsum. Burung laut camar yang terbang di angkasa
memekik-mekik nyaring, agaknya menyaksikan sepasang manusia yang
berasyik-masyuk berkasih mesra di sebelah bawah, mendatangkan rasa iri dan
rindu kepada betinanya. Angin laut bertiup lirih, silir dan sejuk menggerakkan
rambut halus hitam Kartikosari menyapu-nyapu pipi dan leher suaminya.
“Sudahlah
kangmas, dengar itu burung mentertawai kita. Dan lihat hidung dan bibirmu basah
oleh keringat ku ........”
“Keringatmu
sedap"
“Iiihhhh!
Tunggu kalau aku sudah nenek-nenek kelak” Kartikosari tertawa.
Dengan halus
Pujo menarik tangan isterinya bangkit berdiri.
"Sampai
kau menjadi nenek-nenek dan aku menjadi kakek-kakek, aku akan tetap mencintamu
nimas. Kau akan tetap cantik jelita bagiku, seperti Dewi Suprobo"
“lhhh,
sudahlah. Takkan pernah sampai di tempat tujuan kita kalau begini. Kau gendong
aku?”
"Tentu!
Agar jangan kotor telapak kakimu yang halus bersih oleh lumpur.”
Dengan sikap
manja Kartikosari lalu merangkul leher suaminya dari belakang dan ia meloncat
duduk di atas punggung Pujo. Suami yang bahagia ini tertawa, lalu melangkah
dengan cepat melanjutkan perjalanan, meloncat-loncat dari batu ke batu menuruni
tebing yang curam dengan cekatan sekali. Kartikosari merangkul leher suaminya
dan meletakkan pipi kanannya di atas bahu yang bidang dan kokoh kuat itu. Pagi
tadi suami isteri muda ini meninggalkan pondok Baymismo, tempat tinggal Resi
Bhargowo yang bertapa di Sungapan, yaitu muara Sungai Progo di pantai Laut
Selatan. Kartikosari adalah puteri tunggal Resi Bhargowo, adapun Pujo adalah
murid pertapa itu. Murid tersayang yang kemudian menjadi mantunya. Dengan
demikian, suami isteri ini adalah juga saudara tunggal guru. Di atas gendongan
suaminya, Kartiko sari merasa aman sentausa dan bangga. Bulu matanya yang
lentik melengkung ke atas itu bergerak-gerak ketika matanya meram-melek nyaman.
Jari-jari tangannya yang kecil meruncing mempermainkan rambut di atas tengkuk
yang keluar dari balik destar suaminya.
"Kangmas"
bisiknya manja di dekat telinga kanan.
“Hemm?” jawab
Pujo sambil terus meloncat-loncat dengan tangkasnya.
“Apakah
kangmas benar-benar mencintaku?”
“Ehh ??” Pujo
berhenti meloncat.
Mereka berdiri
di puncak bukit terakhir. Pemandangan di depan amatlah indahnya, tampak Laut
Selatan yang maha luas itu terbentang di depan mata, tanpa batas.
“Mengapa kau
bertanya begitu, sayang? Tentu saja aku mencintamu, sepenuh jiwa ragakul”
Ucapan penuh
perasaan ini menyejukkan hati dan mendapat upah sebuah ciuman bibir yang
mengecup pangkal telinga kanan.
“Seperti apa
besamya cintamu, kangmas?”
Pujo menuding
ke arah laut.
“Kau lihat
laut Selatan itu, nimas. Demikian luas dan besar. Seperti Laut Selatan itulah
besamya cinta kasihku kepadamu”.
Kartikosari
memandang ke arah laut bebas, lalu cemberut dan merajuk, kentara dari kedua
betisnya yang bergerak-gerak tak puas di pinggang Pujo, kepalanya
digeleng-gelengkan.
“Ah, tak
senang aku betapapun besar dan luasnya, laut itu masih selalu berubah,
kadang-kadang pasang kadang-kadang surut. Aku tidak suka kalau cintamu
kadang-kadang surut pula, kangmas. Dan lagi, laut itu terlalu ganas terlalu
besar, aku takut akan tenggelam di dalamnya kalau cintamu seganas dan sebesar
itul”
“Ha-ha-ha-hal
Kau lucu!, nimas. Eh, tahu aku sekarang hemmm, cintaku kepadamu sebesar kuku
hitam!”
"Ihhhhh
!!”
Tiba-tiba
Kartikosari melorot turun dari punggung suaminya dan ketika Pujo membalikkan
tubuh, ia melihat isterinya berdiri dengan kedua tangan menolak pinggang, dada yang
sudah membusung itu dibusungkan lagi kepala dikedikkan, sepasang mata yang
biasanya lembut bening sejuk mesra itu kini seakan-akan memijarkan bunga api
kedua pipinya yang biasanya memerah jambu kini menjadi merah darah.
“Apa? Cinta
kasihmu hanya sekuku hitam? Terlalu! Lebih baik aku matil"
Wanita cantik
yang menjadi isteri manja ini membanting-bantingkan kakinya yang bertelapak
halus itu, akan tetapi batu terinjak bantingan kakinya menjadi hancur seperti
tepung! Menyaksikan kemarahan isterinya Pujo hanya tersenyum, akan tetapi
cepat-cepat berkata,
“Nimas pujaan
hatiku. Aku tidak main-main ketika aku mengatakan bahwa cinta kasihku kepadamu
sebesar kuku hitam. Tahukah engkau, nimas, bahwa biarpun kuku hitam itu
kecil-kecil, akan tetapi tak pemah dapat musnah? Pagi dipotong sore tumbuh,
sore dibuang pagi muncul. Demikianpun cinta kasihku, nimas, selalu akan tumbuh
dan ia..”
“Aku tidak
suka! Biarpun akan timbul lagi akan tetapi bisa hilang!”
Pujo
mengerutkan keningnya, memutar otak. Wajahnya yang tampan itu tiba-tiba berseri
dan ia cepat berkata,
“Ah, tahu aku
sekarang! Cinta kasihku kepadamu sebesar ujung rambutl”.
“Apa ?? Malah
lebih kecil lagi?? Kakangmas, apakah kau tega menghina Sari?” Sepasang pelupuk
mata itu sudah mulai merah, ibarat langit sudah mulai mendung akan hujan.
“Sama sekali
tidak menghina, manis. Apakah yang dapat memusnahkan ujung rambut? Kalau laut
akan surut, kuku hitam bisa dipotong, akan tetapi seribu kali orang memangkas
rambut, tentu masih selalu akan ada ujungnya. Ujung rambut takkan pemah lenyap,
takkan pernah surut selalu ada dan demikianlah cinta kasihku kepadamu!”
“Kalau
digunduli?”
“Kepala
digundulipun masih akan ada akar rambutnya dan akar itupun ada ujungnya.
Pendeknya, ujung rambut tak kan dapat lenyap, kecuali kalau kulit kepalanya
dikupas Akan tetapi siapa mau mengupas kulit kepalanya? Tentu dia akan
mampusi!” Bukan main bahagia rasa hati Pujo melihat wajah isterinya
berseri-seri lagi, matanya sejuk dan mesra pandangnya, akan tetapi dua titik
air mata seperti mutiara tergenang lalu menggantung di bulu mata. Ia memeluk
dan berbisik risau,
“Mengapa
menangis sayang?”
Kartikosari
juga memeluk suaminya.
“Karena
bahagia, kakangmas”.
Mereka kembali
berdekapan dan berciuman. Mesra! Mesra memang kasih sayang suami isteri muda
ini. Kasih sayang pengantin baru. Dunia milik mereka. Surga milik mereka. Lupa
akan segala sesuatu. Lupa bahwa mereka tenggelam dalam buaian asmara, sehingga
tidak ingat bahwa tiada yang kekal di dunia ini. Cinta kasihpun tidak. Ada
cinta ada benci, ada suka ada duka, seperti halnya ada siang tentu ada malam!
“Jangan
gendong aku lagi, kangmas. Kasihan kau terlalu lelah. Mari kita lanjutkan
perjalanan.”
Mereka
bergandeng tangan, lalu menuruni puncak bukit menuju ke tebing yang menjulang
ke depan, amat curam di atas laut. Berdiri di pinggir tebing ini saja sudah
mendatangkan rasa ngeri bagi yang tidak biasa. Bisa membuat tengkuk menebal dan
bulu tengkuk meremang. Dari tebing ini memandang ke bawah, tampak ombak taut
bercumbu dengan batu-batu karang raksasa, menghantam batu karang menimbulkan
suara menggelegar lalu air pecah muncrat ke atas menjadi uap dan mencipta warna
pelangi. Sebentar menghilang, disusul ombak berikutnya, terus-menerus begitu,
siang malam tiada hentinya sehingga di sepanjang pantai air laut membuih putih.
Dinding batu karang yang tinggi itu bentuknya aneh-aneh, berlubang-lubang
seperti menjadi perkampungan tempat tinggal para jin dan iblis penghuni laut.
Di atas
tebing, Pujo dan Kartikosari berdiri mengagumi pemandangan di bawah kaki
mereka. Mereka kagum terpesona oleh keindahan dan kebesaran alam yang maha
hebat. Apalagi bagi Kartlkosari yang belum pemah datang ke tempat ini. Tempat
tinggal ayahnya terletak di Sungapan, di pantai yang datar dan rendah, tertutup
pasir, di mana air Sungai Progo terjun ke laut, kembali kepada sumbemya. Yang
mereka datangi ini adalah pantai yang berdinding gunung karang, di sebelah
timur. Rambut dan ujung kain Kartikosari berkibar-kibar tertiup angin taut.
“Cancutkan
kainmu, nimas. Kita turun ke bawah.”
Kartikosari
adalah seorang wanita gemblengan, yang tidak gentar menghadapi seekor harimau
dengan tangan kosong. Akan tetapi melihat tebing yang curam itu, yang tingginya
melebihi tiga puluh batang pohon kelapa, ia bergidik. Menuruni tebing securam
itu? Sekali terpeleset dan terbanting ke bawah, tubuh akan melayang-layang dan
batu-batu karang runcing tajam akan menyambut tulbuh, lalu ombak dahsyat akan
menghancur luluhkan tubuh dengan hempasan keras pada batu karang.
“Kau ngeri,
nimas? Biarlah kugendong ........”
“Tak usah kaugendong,
kangmas. Akan tetapi perlukah kita turun?”
Pujo
tersenyum.
“Tentu saja.
Kalau kita tidak turun ke sana, bagaimana kita mampu mendapatkan tiram kencana
dan mutiara hijau?”
Kartikosari
menarik napas panjang. Di dalam hati ia mengeluh. Mengapa ayahnya merasa begitu
yakin bahwasanya kebahagiaan suami isteri hanya akan dapat kekal kalau mereka
dapat memiliki mutiara hijau yang berada dalam tiram kencana? Bukankah cinta
kasih antara dia dan suaminya dapat menjamin kebahagiaan yang kekal? Namun,
ayahnya adalah seorang pertapa yang sidik permana, waspada dan bijaksana. Tak
mungkin mereka dapat membantah kehendak orang tua itu.
No comments:
Post a Comment