Badai Laut Selatan ; Bagian 002


"Di manakah kita akan mencari benda langka itu?” Kartikosari menjenguk ke bawah, tangan kirinya memegang tangan kanan suaminya karena ia merasa ingeri.
“Kaulihat di sana itu, batu yang menonjol itu, yang atasnya terdapat pohon besar, di bawah itulah letaknya Guha Siluman. Di depan Guha Siluman itulah kita harus mencari, karena di sana terdapat banyak batu-batu kecil dan segala macam jenis tiram, ketam, dan udang terdampar di sana. Akan tetapi, seperti pesan bapa resi, kita harus bersamadhi minta anugerah dewata, karena tanpa anugerah dan wahyu dewata, takkan mungkin kita dapat menemukan tiram kencana disitu.”
Kartikosari tersenyum, pipinya menjadi merah sekali.
“Syaratnya untuk samadhi begitu aneh lagi"
Pujo menarik napas panjang dan menggenggam jari tangan isterinya.
"Tidak saja aneh, nimas Sari, juga amat berat bagiku. Apakah aku akan kuat menahan dalam keadaan begitu bersamamu, hal ini benar-benar masih kusangsikan. Aku ragu-ragu dan takut kalau-kalau aku akan gagal."

Keduanya saling pandang dan termenung. Kartikosari bertemu pandang dengan suaminya perlahan menundukkan mukanya. Ia maklum betapa berat syarat itu bagi suaminya yang amat mencintanya. Mereka berdua, adalah pengantin baru yang sedang diamuk badai asmara. Betapa mungkin mereka melakukan puja samadhi dengan syarat seperti itu.
“Kangmas Pujo, aku yakin kita bersama akan dapat melawan gelora nafsu yang merupakan godaan dan tantangan terberat. Latihan untuk kita sudah kita lakukan sejak kecil.”
“Kau benar, sayang. Kau lihat, di sebelah timur Guha Siluman itu, yang ada batu karang menonjol seperti ikan, nah di sanalah letak Guha Celeng. Di kanan kiri Guha Siluman masih banyak terdapat guha-guha kecil seperti Guha Walet, Guha Kalong dan Guha Leter, dan di sebelah barat itu adalah Dwarawati.”
“Wah, kau hafal benar keadaan di bawah sana, kangmas!”
“Dahulu aku sering kali turun ke sana, nimas. Indah bukan main disana, akan tetapi juga serem dan gawat. Maklumlah, di bawah sana adalah tempat para laskar Laut Selatan bersenang-senang apabila mereka mendarat."
“Ihhh….."
“Kau takut?”
"Tidak, hanya ngeri. Manusia dapat dilawan, akan tetapi bangsa halus begitu..”
“Tak usah khawatir, kasih. Bukankah ada aku di sampingmu? Di samping itu, kita sudah hafal ajaran bapa resi untuk menyelamatkan diri dari gangguan makhluk halus.”
“Widada Mantra?”
“Benar, marilah kita turun, nimas. Biarlah aku di depan dan kau berpegang dengan tangan kiriku. Tidak sukar, banyak akar pohon dan batu karang untuk tempat berpegang tangan atau berinjak kaki."

Turunlah suami isteri muda ini berbimbingan tangan, melalui jalan yang tak patut disebut jalan karena mereka harus bergantung kepada akar-akar pohon dan meloncat ke sana ke mari melalui batu karang yang licin dan ada pula yang tajam runcing. Kesukaran jalan yang mereka lalui ini ditambah lagi oleh kengerian kalau mereka menjenguk ke bawah kaki di mana tampak kekosongan yang mengerikan dan jauh di sebelah bawah sana tampak batu karang runcing seperti barisan tombak yang siap menerima tubuh mereka kalau mereka terjatuh ke bawah. Kiranya hanya sebangsa kera saja yang akan mampu melalui jalan turun ini dengan aman. Namun suami isteri ini adalah orang-orang muda gemblengan yang tidak saja memiliki tubuh yang kuat, juga memiliki batin yang sentausa dan ketabahan besar. Sepuluh menit kemudian mereka telah tiba di bawah, berjalan di atas karang di antara tetumbuhan pandan berduri dan rumput laut. Kini terdengarlah oleh mereka gemuruh bunyi ombak memecah di pantal batu karang susul-menyusul seperti mendidih, diseling bunyi menggelegar di kala ombak besar menghantam karang yang menggetarkan dinding gunung karang di sekelilingnya. Setelah berada di bawah, tampaklah oleh mereka betapa ombak yang dari atas tadi hanya kelihatan seperti air berkeriput, kini ternyata bahwa ombak itu amatlah dahsyat, dari tengah-tengah laut berlumba-lumba ke pinggir, makin lama makin besar sampai setinggi pohon kelapa, panjang dengan kepala keputihan seperti seekor naga bergulingan, untuk kemudian terhempas di batu karang dan pecah, porak-poranda menimbulkan uap air mengembun.
Tak tampak manusia lain di situ. Memang, tempat seperti ini tak patut didatangi oleh manusia, patutnya berpenghuni sebangsa jin dan iblis bekasakan. Takkan mengherankanlah kiranya apa bila di tempat seperti ini muncul makhluk-makhluk yang mengerikan dari dalam laut, makhluk-makhluk yang hanya akan muncul dalam mimpi buruk seorang yang terserang demam panas. Ombak yang tiada hentinya mengganas menggelora itu menimbulkan suasana seram, seakan-akan seperti inilah agaknya neraka jahanam yang siap menelan dan menyiksa roh-roh manusia jahanam.
“Mari, nimas, kita ke sebelah sana, ke Guha Siluman.” Kata Pujo menggandeng tangan. Kartikosari yang merasa dingin.
“Kau kenapa, sayang? Tanganmu dingin sekalil” Pujo membawa telapak tangan isterinya ke depan hidung dan menciuminya, seakan-akan dengan ciuman nya itu ia akan dapat menghangatkan tangan isterinya.
Akan tetapi Kartikosari menarik tangannya, wajahnya muram membayangkan kekhawatiran.
“Entah, kangmas, aku merasa ngeri, tidak enak rasa hatiku."
“Ah, tidak apa-apa, nimas. Tempat begini indah. Mari kita ke guhal” ia menarik tangan isterinya dan pergilah mereka ke sebuah guha yang besar, guha yang merupakan sebuah mulut ternganga lebar, bentuknya seperti mulut raksasa dan kebetulan sekali, di atas guha, pada dinding gunung karang, terdapat dua buah batu hitam sehingga merupakan mata sedangkan di atas tumbuh sebuah pohon merupakan rambut raksasa. Dan agaknya kebetulan sekali, batu-batu yang dibentuk oleh tetesan air bergantungan dari atas dan menjungat di lantai, membentuk gigi dan caling yang mengerikan.

Pujo dan Kartikosari sudah memasuki guha dan waktu itu menjelang senja di dalam guha sudah mulai gelap. Beberapa ekor burung walet beterbangan ke luar masuk guha mengeluarkan bunyi mencicit ramal. Guha itu amat dalam, makin ke dalam makin menurun ke bawah, seram dan gelap sekali. Terdengar bunyi air terjun dari dalam guha, akan tetapi, tidak tampak dari luar.
“Kita bersamadhi di mulut guha seperti pesan bapa resi nimas Sari. Tiga hari tiga malam. Kemudian ke situlah kita mencari tiram kencana."
Kartikosari sudah duduk di mulut guha. Ia memandang ke arah telunjuk suaminya menuding. Benar, di depan guha itu terdapat banyak sekali batu karang kecil, agak sebelah bawah karena memang guha itu tinggi letaknya, ada lima-belas meter dari permukaan laut. Di antara batu-batu itu tampaklah bermacam-macam benda laut kulit-kulit kerang, tiram dan sebangsanya. Airnya jernih bukan main sehingga tampak semua benda di dasarnya, tidak dalam, akan tetapi selalu bergerak-gerak naik turun mengikuti datangnya ombak yang memecah pada batu karang besar di sebelah depan, seakan-akan batu karang besar ini menjadi penghalang amukan ombak ke tempat itu.
“Kau sudah siap, nimas?”
Kartikosarl mengangguk.
“Nah kalau begitu kita mulai. Mari kita menanggalkan pakaian, taruh di sudut sini agar jangan sampai terbawa angin.” Sambil berkata demikian Pujo sudah menanggalkan destarnya dan mulai membuka baju. Tiba-tiba Kartikosari menghampirinya, merangkul terus menciumnya sambil terisak.
"Kangmas hatiku tidak enak kau jangan tinggalkan aku, ya?”
Pujo terpaksa tertawa, sungguhpun ia merasa tidak nyaman hatinya menyaksikan tingkah isterinya. Isterinya biasanya seorang yang tabah, seorang Srikandi tulen, mengapa kini menjadi begini lemah?
"Ah, apakah aku gila? Sampai matipun tak mungkin aku meninggalkanmu hal ini kau tentu sudah yakin, nimas." Ia balas mencium dan membelai rambut kekasihnya. Sampai lama mereka berpelukan, kemudian Pujo melepaskan rangkulan isterinya sambil berkata dengan senyum.
“Ah, belum apa-apa kita sudah tenggelam lagi. Bagimana aku bisa menahan tiga hari tiga malam kalau begini?”
Kartikosari tertawa juga, lalu menjauhkan diri.
“Kita lihat saja, siapa yang tidak tahan, kau atau aku!” Kemudian Kartikosari memilih tempat di sudut kiri, sedangkan Pujo hanya menurut ke mana isterinya memilih tempat. Ia menghampiri dan suami isteri ini lalu menanggalkan seluruh pakaian yang menempel di tubuh. Inilah syaratnya. Menurut petunjuk Resi Bhargowo hanya dengan cara demikian itulah, yaitu dengan duduk samadhi bersama dalam keadaan bertelanjang bulat, sepasang suami isteri akan dapat diterima oleh dewata dan mendapatkan wahyu untuk menemukan mutiara hijau dalam tiram kencana.

Suami isteri yang amat taat kepada orang tua. Dan ia kini sudah duduk berhadapan, duduk bersila dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas. Mereka memilih sikap masing-masing seenaknya. Kartikosari seperti biasa, merangkap kedua telapak tangan membentuk sembah, menempelkan kedua ibu jari depan hidung dan memejamkan mata, duduk bersila dengan tegak dan lurus. Hebat bukan main. Seperti sebuah patung kencana yang cantik gemilang, patung dewi kahyangan terbuat daripada kencana sedikitpun tidak ada cacatnya. Adapun Pujo yang bertubuh tegap dan bidang, duduk bersila dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas pula, akan tetapi sikap kedua tangannya berbeda yaitu lengan kiri memeluk pusar melingkar ke kanan, lengan kanan memeluk pundak kiri, duduknya juga tegak lurus, matanya setengah terpejam dipusatkan ke puncak hidung. Suami isteri ini mengheningkan cipta memusatkan panca indera mengerahkan daya cipta ke arah satu yakni memohon anugerah dewata untuk memperoleh mutiara hijau. Baik Kartikosari maupun Pujo adalah dua orang muda yang sejak kecil sudah biasa bersamadhi. Biasanya sekali duduk bersila mengatur sikap, otomatis pernapasan mereka teratur sesuai dengan latihan dan dalam waktu sekejap mata saja mereka sudah dapat hening. Akan tetapi kali ini, apalagi Pujo, mengalami siksaan dan godaan yang bukan main beratnya. Kesadaran bahwa isterinya yang terkasih, isterinya yang cantik jelita isterinya yang memiliki bentuk tubuh menggairahkan tanpa cacat, duduk bersila berselimut rambut di depannya, membuatnya sukar sekali memusatkan panca indera. Dengan pengerahan tenaga batinnya ia berusaha sampai berjam-jam, sampai lewat tengah malam, namun hasilnya sia-sia. Berkali-kali ia terpaksa membuka mata untuk memandang bayangan isterinya yang duduk bersila di depannya merasakan tiupan halus pernapasan isterinya, menyadari sedalamnya akan kehadiran Kartikosari, tak pernah dapat mengusir bau sedap keringat dan rambut isterinya. Pujo menjadi kesal hatinya, hampir putus asa dan diam-diam ia mulai mengerjakan pikirannya, menyelami mengapa ayah mertuanya Resi Bhargowo yang sakti itu menyuruh mereka menjalani tapa seperti ini. Untuk memperoleh kebahagiaan kekal bersuami isteri, mengapa harus mendapatkan mutiara hijau dalam cara bersamadhi bersama dalam keadaan telanjang bulat seperti ini? Menjelang pagi, barulah terdapat titik pertemuan dalam alam pikiran Pujo yang ruwet dan terputar-putar. Bukankah semua ini hanya merupakan lambang saja? Merupakan ujian bagi mereka? Ujian bagi kekuatan batin mereka sehingga mereka terlatih dan mendasari cinta kasih suami isteri tidak hanya dengan nafsu birahi, tidak hanya oleh tarikan daya dari kecantikan wajah dan keindahan tubuh belaka. Karena, suami isteri yang mendasari kasih sayang hanya dengan nafsu berahi, dengan daya tarik badani maka kasih sayang seperti itu akan mudah luntur. Badan yang sudah tua kelak, mana ada daya penariknya lagi? Hal itu sudah disinggung isterinya dalam sendau gurau siang tadi. Isterinya berpendapat bahwa kalau mereka sudah menjadi kakek-nenek, suami ini akan luntur cinta kasihnya. Dan hal ini mungkin saja terjadi kalau cinta kasihnya terhadap Kartikosari hanya berdasar pada keindahan jasmani. Inikah kehendak Resi Bhargowo? Melatih mereka agar dapat mengekang nafsu, agar dapat terbuka alam kesadarannya bahwa yang indah dalam cinta kasih bukan pemuasan nafsu berahi karena keindahan tubuh semata? Mereka disuruh berlatih menguasai diri, menolak daya tarik masing-masing jangan sampai terseret dan diperbudak hawa nafsu agar mencari dasar kasih sayang yang suci yang lebih mendalam, cinta kasih batin yang tentu saja akan mengekalkan cinta kasih mereka karena apapun yang terjadi pada tubuh mereka, bahkan andaikata mereka menjadi manusia cacat sekalipun, cinta kasih mereka akan tetap kekal! Agaknya itulah maksud perintah Resi Bhargowo agar mereka mencari mutiara hijau secara aneh ini. Setelah matahari mulai bersinar, barulah Pujo dapat mengendalikan panca inderanya. Ia menekan semua lamunan tentang kecantikan isterinya, mengubah kenangan akan isterinya itu lebih mendalam lagi membayangkan isterinya sebagai wanita, yang sudah menjadi haknya, yang sudah bersandar kepadanya. Dan menjadi tanggung jawabnya sebagai wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya menjadi kawan hidup selamanya, bersama mendidik anak-anak. Sebagai teman hidup senasib sependeritaan, susah sama diderita, suka sama dinikmati. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Akhimya ia terlelap dalam samadhinya, pernapasannya lambat teratur, wajahnya tenang tenteram dan ia berhasil. Deru ombak yang makin membesar sama sekali tidak mengganggu suami isteri yang sedang tekun dalam Samadhi itu. Juga cicit burung walet yang beterbangan keluar dari dalam guha untuk mencari makanan bagi anak-anak mereka, sama sekali tak tampak atau terdengar.

<<< Bagian 001                                                                                    Bagian 003 >>>

No comments:

Post a Comment