"Di manakah kita akan mencari benda langka itu?” Kartikosari menjenguk ke bawah, tangan kirinya memegang tangan kanan suaminya karena ia merasa ingeri.
“Kaulihat di
sana itu, batu yang menonjol itu, yang atasnya terdapat pohon besar, di bawah
itulah letaknya Guha Siluman. Di depan Guha Siluman itulah kita harus mencari,
karena di sana terdapat banyak batu-batu kecil dan segala macam jenis tiram,
ketam, dan udang terdampar di sana. Akan tetapi, seperti pesan bapa resi, kita
harus bersamadhi minta anugerah dewata, karena tanpa anugerah dan wahyu dewata,
takkan mungkin kita dapat menemukan tiram kencana disitu.”
Kartikosari
tersenyum, pipinya menjadi merah sekali.
“Syaratnya
untuk samadhi begitu aneh lagi"
Pujo menarik
napas panjang dan menggenggam jari tangan isterinya.
"Tidak
saja aneh, nimas Sari, juga amat berat bagiku. Apakah aku akan kuat menahan
dalam keadaan begitu bersamamu, hal ini benar-benar masih kusangsikan. Aku
ragu-ragu dan takut kalau-kalau aku akan gagal."
Keduanya
saling pandang dan termenung. Kartikosari bertemu pandang dengan suaminya
perlahan menundukkan mukanya. Ia maklum betapa berat syarat itu bagi suaminya
yang amat mencintanya. Mereka berdua, adalah pengantin baru yang sedang diamuk
badai asmara. Betapa mungkin mereka melakukan puja samadhi dengan syarat
seperti itu.
“Kangmas Pujo,
aku yakin kita bersama akan dapat melawan gelora nafsu yang merupakan godaan
dan tantangan terberat. Latihan untuk kita sudah kita lakukan sejak kecil.”
“Kau benar,
sayang. Kau lihat, di sebelah timur Guha Siluman itu, yang ada batu karang
menonjol seperti ikan, nah di sanalah letak Guha Celeng. Di kanan kiri Guha
Siluman masih banyak terdapat guha-guha kecil seperti Guha Walet, Guha Kalong
dan Guha Leter, dan di sebelah barat itu adalah Dwarawati.”
“Wah, kau
hafal benar keadaan di bawah sana, kangmas!”
“Dahulu aku
sering kali turun ke sana, nimas. Indah bukan main disana, akan tetapi juga
serem dan gawat. Maklumlah, di bawah sana adalah tempat para laskar Laut
Selatan bersenang-senang apabila mereka mendarat."
“Ihhh….."
“Kau takut?”
"Tidak,
hanya ngeri. Manusia dapat dilawan, akan tetapi bangsa halus begitu..”
“Tak usah
khawatir, kasih. Bukankah ada aku di sampingmu? Di samping itu, kita sudah
hafal ajaran bapa resi untuk menyelamatkan diri dari gangguan makhluk halus.”
“Widada
Mantra?”
“Benar,
marilah kita turun, nimas. Biarlah aku di depan dan kau berpegang dengan tangan
kiriku. Tidak sukar, banyak akar pohon dan batu karang untuk tempat berpegang
tangan atau berinjak kaki."
Turunlah suami
isteri muda ini berbimbingan tangan, melalui jalan yang tak patut disebut jalan
karena mereka harus bergantung kepada akar-akar pohon dan meloncat ke sana ke
mari melalui batu karang yang licin dan ada pula yang tajam runcing. Kesukaran
jalan yang mereka lalui ini ditambah lagi oleh kengerian kalau mereka menjenguk
ke bawah kaki di mana tampak kekosongan yang mengerikan dan jauh di sebelah
bawah sana tampak batu karang runcing seperti barisan tombak yang siap menerima
tubuh mereka kalau mereka terjatuh ke bawah. Kiranya hanya sebangsa kera saja
yang akan mampu melalui jalan turun ini dengan aman. Namun suami isteri ini
adalah orang-orang muda gemblengan yang tidak saja memiliki tubuh yang kuat,
juga memiliki batin yang sentausa dan ketabahan besar. Sepuluh menit kemudian
mereka telah tiba di bawah, berjalan di atas karang di antara tetumbuhan pandan
berduri dan rumput laut. Kini terdengarlah oleh mereka gemuruh bunyi ombak
memecah di pantal batu karang susul-menyusul seperti mendidih, diseling bunyi
menggelegar di kala ombak besar menghantam karang yang menggetarkan dinding
gunung karang di sekelilingnya. Setelah berada di bawah, tampaklah oleh mereka
betapa ombak yang dari atas tadi hanya kelihatan seperti air berkeriput, kini
ternyata bahwa ombak itu amatlah dahsyat, dari tengah-tengah laut
berlumba-lumba ke pinggir, makin lama makin besar sampai setinggi pohon kelapa,
panjang dengan kepala keputihan seperti seekor naga bergulingan, untuk kemudian
terhempas di batu karang dan pecah, porak-poranda menimbulkan uap air
mengembun.
Tak tampak
manusia lain di situ. Memang, tempat seperti ini tak patut didatangi oleh
manusia, patutnya berpenghuni sebangsa jin dan iblis bekasakan. Takkan
mengherankanlah kiranya apa bila di tempat seperti ini muncul makhluk-makhluk
yang mengerikan dari dalam laut, makhluk-makhluk yang hanya akan muncul dalam
mimpi buruk seorang yang terserang demam panas. Ombak yang tiada hentinya
mengganas menggelora itu menimbulkan suasana seram, seakan-akan seperti inilah
agaknya neraka jahanam yang siap menelan dan menyiksa roh-roh manusia jahanam.
“Mari, nimas,
kita ke sebelah sana, ke Guha Siluman.” Kata Pujo menggandeng tangan.
Kartikosari yang merasa dingin.
“Kau kenapa,
sayang? Tanganmu dingin sekalil” Pujo membawa telapak tangan isterinya ke depan
hidung dan menciuminya, seakan-akan dengan ciuman nya itu ia akan dapat
menghangatkan tangan isterinya.
Akan tetapi
Kartikosari menarik tangannya, wajahnya muram membayangkan kekhawatiran.
“Entah,
kangmas, aku merasa ngeri, tidak enak rasa hatiku."
“Ah, tidak
apa-apa, nimas. Tempat begini indah. Mari kita ke guhal” ia menarik tangan
isterinya dan pergilah mereka ke sebuah guha yang besar, guha yang merupakan
sebuah mulut ternganga lebar, bentuknya seperti mulut raksasa dan kebetulan sekali,
di atas guha, pada dinding gunung karang, terdapat dua buah batu hitam sehingga
merupakan mata sedangkan di atas tumbuh sebuah pohon merupakan rambut raksasa.
Dan agaknya kebetulan sekali, batu-batu yang dibentuk oleh tetesan air
bergantungan dari atas dan menjungat di lantai, membentuk gigi dan caling yang
mengerikan.
Pujo dan
Kartikosari sudah memasuki guha dan waktu itu menjelang senja di dalam guha
sudah mulai gelap. Beberapa ekor burung walet beterbangan ke luar masuk guha
mengeluarkan bunyi mencicit ramal. Guha itu amat dalam, makin ke dalam makin
menurun ke bawah, seram dan gelap sekali. Terdengar bunyi air terjun dari dalam
guha, akan tetapi, tidak tampak dari luar.
“Kita
bersamadhi di mulut guha seperti pesan bapa resi nimas Sari. Tiga hari tiga
malam. Kemudian ke situlah kita mencari tiram kencana."
Kartikosari
sudah duduk di mulut guha. Ia memandang ke arah telunjuk suaminya menuding.
Benar, di depan guha itu terdapat banyak sekali batu karang kecil, agak sebelah
bawah karena memang guha itu tinggi letaknya, ada lima-belas meter dari
permukaan laut. Di antara batu-batu itu tampaklah bermacam-macam benda laut
kulit-kulit kerang, tiram dan sebangsanya. Airnya jernih bukan main sehingga
tampak semua benda di dasarnya, tidak dalam, akan tetapi selalu bergerak-gerak
naik turun mengikuti datangnya ombak yang memecah pada batu karang besar di
sebelah depan, seakan-akan batu karang besar ini menjadi penghalang amukan
ombak ke tempat itu.
“Kau sudah
siap, nimas?”
Kartikosarl
mengangguk.
“Nah kalau begitu
kita mulai. Mari kita menanggalkan pakaian, taruh di sudut sini agar jangan
sampai terbawa angin.” Sambil berkata demikian Pujo sudah menanggalkan
destarnya dan mulai membuka baju. Tiba-tiba Kartikosari menghampirinya,
merangkul terus menciumnya sambil terisak.
"Kangmas
hatiku tidak enak kau jangan tinggalkan aku, ya?”
Pujo terpaksa
tertawa, sungguhpun ia merasa tidak nyaman hatinya menyaksikan tingkah
isterinya. Isterinya biasanya seorang yang tabah, seorang Srikandi tulen,
mengapa kini menjadi begini lemah?
"Ah,
apakah aku gila? Sampai matipun tak mungkin aku meninggalkanmu hal ini kau
tentu sudah yakin, nimas." Ia balas mencium dan membelai rambut
kekasihnya. Sampai lama mereka berpelukan, kemudian Pujo melepaskan rangkulan
isterinya sambil berkata dengan senyum.
“Ah, belum
apa-apa kita sudah tenggelam lagi. Bagimana aku bisa menahan tiga hari tiga
malam kalau begini?”
Kartikosari
tertawa juga, lalu menjauhkan diri.
“Kita lihat
saja, siapa yang tidak tahan, kau atau aku!” Kemudian Kartikosari memilih tempat
di sudut kiri, sedangkan Pujo hanya menurut ke mana isterinya memilih tempat.
Ia menghampiri dan suami isteri ini lalu menanggalkan seluruh pakaian yang
menempel di tubuh. Inilah syaratnya. Menurut petunjuk Resi Bhargowo hanya
dengan cara demikian itulah, yaitu dengan duduk samadhi bersama dalam keadaan
bertelanjang bulat, sepasang suami isteri akan dapat diterima oleh dewata dan
mendapatkan wahyu untuk menemukan mutiara hijau dalam tiram kencana.
Suami isteri
yang amat taat kepada orang tua. Dan ia kini sudah duduk berhadapan, duduk
bersila dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas. Mereka memilih sikap
masing-masing seenaknya. Kartikosari seperti biasa, merangkap kedua telapak
tangan membentuk sembah, menempelkan kedua ibu jari depan hidung dan memejamkan
mata, duduk bersila dengan tegak dan lurus. Hebat bukan main. Seperti sebuah
patung kencana yang cantik gemilang, patung dewi kahyangan terbuat daripada
kencana sedikitpun tidak ada cacatnya. Adapun Pujo yang bertubuh tegap dan
bidang, duduk bersila dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas pula, akan
tetapi sikap kedua tangannya berbeda yaitu lengan kiri memeluk pusar melingkar
ke kanan, lengan kanan memeluk pundak kiri, duduknya juga tegak lurus, matanya
setengah terpejam dipusatkan ke puncak hidung. Suami isteri ini mengheningkan
cipta memusatkan panca indera mengerahkan daya cipta ke arah satu yakni memohon
anugerah dewata untuk memperoleh mutiara hijau. Baik Kartikosari maupun Pujo
adalah dua orang muda yang sejak kecil sudah biasa bersamadhi. Biasanya sekali
duduk bersila mengatur sikap, otomatis pernapasan mereka teratur sesuai dengan
latihan dan dalam waktu sekejap mata saja mereka sudah dapat hening. Akan
tetapi kali ini, apalagi Pujo, mengalami siksaan dan godaan yang bukan main
beratnya. Kesadaran bahwa isterinya yang terkasih, isterinya yang cantik jelita
isterinya yang memiliki bentuk tubuh menggairahkan tanpa cacat, duduk bersila
berselimut rambut di depannya, membuatnya sukar sekali memusatkan panca indera.
Dengan pengerahan tenaga batinnya ia berusaha sampai berjam-jam, sampai lewat
tengah malam, namun hasilnya sia-sia. Berkali-kali ia terpaksa membuka mata
untuk memandang bayangan isterinya yang duduk bersila di depannya merasakan
tiupan halus pernapasan isterinya, menyadari sedalamnya akan kehadiran
Kartikosari, tak pernah dapat mengusir bau sedap keringat dan rambut isterinya.
Pujo menjadi kesal hatinya, hampir putus asa dan diam-diam ia mulai mengerjakan
pikirannya, menyelami mengapa ayah mertuanya Resi Bhargowo yang sakti itu menyuruh
mereka menjalani tapa seperti ini. Untuk memperoleh kebahagiaan kekal bersuami
isteri, mengapa harus mendapatkan mutiara hijau dalam cara bersamadhi bersama
dalam keadaan telanjang bulat seperti ini? Menjelang pagi, barulah terdapat
titik pertemuan dalam alam pikiran Pujo yang ruwet dan terputar-putar. Bukankah
semua ini hanya merupakan lambang saja? Merupakan ujian bagi mereka? Ujian bagi
kekuatan batin mereka sehingga mereka terlatih dan mendasari cinta kasih suami
isteri tidak hanya dengan nafsu birahi, tidak hanya oleh tarikan daya dari
kecantikan wajah dan keindahan tubuh belaka. Karena, suami isteri yang
mendasari kasih sayang hanya dengan nafsu berahi, dengan daya tarik badani maka
kasih sayang seperti itu akan mudah luntur. Badan yang sudah tua kelak, mana
ada daya penariknya lagi? Hal itu sudah disinggung isterinya dalam sendau gurau
siang tadi. Isterinya berpendapat bahwa kalau mereka sudah menjadi kakek-nenek,
suami ini akan luntur cinta kasihnya. Dan hal ini mungkin saja terjadi kalau
cinta kasihnya terhadap Kartikosari hanya berdasar pada keindahan jasmani.
Inikah kehendak Resi Bhargowo? Melatih mereka agar dapat mengekang nafsu, agar
dapat terbuka alam kesadarannya bahwa yang indah dalam cinta kasih bukan
pemuasan nafsu berahi karena keindahan tubuh semata? Mereka disuruh berlatih
menguasai diri, menolak daya tarik masing-masing jangan sampai terseret dan
diperbudak hawa nafsu agar mencari dasar kasih sayang yang suci yang lebih
mendalam, cinta kasih batin yang tentu saja akan mengekalkan cinta kasih mereka
karena apapun yang terjadi pada tubuh mereka, bahkan andaikata mereka menjadi
manusia cacat sekalipun, cinta kasih mereka akan tetap kekal! Agaknya itulah
maksud perintah Resi Bhargowo agar mereka mencari mutiara hijau secara aneh
ini. Setelah matahari mulai bersinar, barulah Pujo dapat mengendalikan panca
inderanya. Ia menekan semua lamunan tentang kecantikan isterinya, mengubah
kenangan akan isterinya itu lebih mendalam lagi membayangkan isterinya sebagai
wanita, yang sudah menjadi haknya, yang sudah bersandar kepadanya. Dan menjadi
tanggung jawabnya sebagai wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya
menjadi kawan hidup selamanya, bersama mendidik anak-anak. Sebagai teman hidup
senasib sependeritaan, susah sama diderita, suka sama dinikmati. Ringan sama
dijinjing, berat sama dipikul. Akhimya ia terlelap dalam samadhinya,
pernapasannya lambat teratur, wajahnya tenang tenteram dan ia berhasil. Deru
ombak yang makin membesar sama sekali tidak mengganggu suami isteri yang sedang
tekun dalam Samadhi itu. Juga cicit burung walet yang beterbangan keluar dari
dalam guha untuk mencari makanan bagi anak-anak mereka, sama sekali tak tampak
atau terdengar.
No comments:
Post a Comment