Badai Laut Selatan ; Bagian 003


Keduanya sudah tenggelam betul-betul dan seakan-akan ada cahaya manter (bersinar) dari ubun-ubun kepala mereka.

Tak tahu mereka bahwa ada anak-anak burung dalam sarang bercicit-ciclt merengek-rengek dan menangis kelaparan karena ayah bunda tak pemah pulang semenjak kemarin, karena ayah bunda burung-burung itu telah berpindah ke dalam perut elang yang menyambar mereka dan menjadikan mereka santapan anak-anak elang. Mengapa sepasang wallet ini demikian buruk nasibnya? Dosa apa gerangan yang telah mereka lakukan? Tak seorangpun akan dapat menjawabnya. Suami isteri itupun tidak pernah tahu bahwa beberapa ekor ikan kecil dilempar ombak ke atas batu karang, berkelojotan berkelepekan disiksa terik sinar matahari, megap-megap menanti maut datang menjemput dalam keadaan tersiksa. Apakah dosa ikan-ikan ini sehingga mereka terhukum sedemikian rupa? Tak ada yang akan dapat menjawab pula. Banyak sekali hal-hal yang gaib, hal-hal yang tampaknya ganjil, yang tampak-nya menurut alam pikiran dan pendapat manusia, tidak adil. Yang jahat hidup bahagia, yang baik hidup merana. Inilah rahasia besar yang hanya mampu diselami oleh kesadaran mereka yang tahu akan Kuasa Tertinggi. Dan apa yang akan menimpa sepasang suami isteri yang tekun bersamadhi itupun berada mutlak di tangan Yang Maha Wenang, tak seorangpun manusia mampu merubahnya!

Hari sudah menjelang senja lagi, ketika udara mendadak menjadi mendung. Awan hitam berkumpul dari atas darat menuju ke atas laut. Geledek menyambar nyambar diseling kilat berkeredepan. Gemuruh suara halilintar menyaingi gemuruh ombak memecah di batu karang. Lambat-laun air laut makin tenang dan deburan ombak tidak keras lagi menghantam karang. Seolah-olah air laut dengan ombaknya menyatakan takluk dan kalah terhadap guruh di angkasa, mengakui kekuasaan angkasa, yang dapat merubah keadaan laut. Tak jauh dari Guha Siluman, dekat Guha Leter, di bagian pantai yang datar dan tertutup pasir halus, ombak tak tertahan karang dan selalu mengalir sampai ke pasir. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar air bergolak disusul suara wanita tertawa, suaranya merdu. Lalu tampaklah mahkluk bergerak-gerak di permukaan air, seakan-akan menunggang ombak yang menuju ke pasir. Dari jauh mahluk itu kelihatan berambut panjang dan seperti menerkam sesuatu, akan tetapi setelah makin dekat dengan pantai, tampaklah bahwa ia adalah seorang wanita yang cantik berkulit kuning bersih, rambutnya panjang sampai ke kaki. Wanita ini usianya tentu sudah tiga puluh tahun lebih, namun benar-benar amat cantik, wajahnya berseri-seri dan giginya amat putih berkilauan di kala sinar kilat menerangi permukaan air laut itu. Ia memang sedang menerkam sesuatu, akan tetapi menerkam dengan mesra atau memeluk tubuh seorang laki-laki muda tampan yang juga tertawa-tawa. Wanita itu membawa si laki-laki berenang ke pantai, bukan berenang seperti manusia biasa, melainkan berenang seperti ikan. Tubuhnya yang ramping semampai itu dapat bergerak-gerak menggeliat seperti ikan berenang, akan tetapi amat cepat tubuhnya maju. Laki-laki itu sebaliknya, tidak pandai berenang, buktinya ia selalu berusaha menaikkan kepalanya, ke permukaan air sambil merangkul leher si wanita.
Seekor ikan hiu besar, sebesar manusia, berenang cepat menghampiri, agaknya tertarik oleh mahkluk-mahkluk aneh ini. Akan tetapi setelah dekat, tiba-tiba hiu itu menghentikan renangnya, mundur-mundur karena takut.
“Bibi…. Ikan besar itu…” tiba-tiba si lelaki berseru ketakutan dan merangkul si wanita makin erat.

Wanita itu dengan gerakan luar biasa cepatnya sudah memutar tubuh di dalam air, mukanya yang cantik tiba-tiba menjadi murka.
“Bedebahl Berani kau menggangguku?” bentaknya, tubuhnya meluncur di air cepat sekali, tangan kirinya menyeret laki-laki itu dan tangan kanannya mengayun sebuah cundrik (keris) yang tepat menghantam perut ikan hiu itu dan sekali menyontekkan tangan, perut itu pecah dan ususnya keluar. Ikan itu lari kesakitan dan ketakutan, namun hukum laut yang sama dengan hukum rimba menimpanya. Tak lama kemudian ia menjadi mangsa ikan-ikan lain yang berpesta pora atas daging dan isi perut. Wanita, itu tertawa bergelak, lalu meluncur lagi ke pantai. Mereka, bergulingan di atas pasir seperti orang bergumul sehingga tubuh mereka kotor semua oleh pasir. Sambil bercumbu wanita itu tertawa-tawa. Akhimya lelaki muda itu melepaskan diri dari pelukan kedua lengan halus dan rambut panjang, lalu bangkit berdiri dan berkata,
“Cukuplah, bibi. Kita sudah bersenang-senang selama tiga hari di sini. Kalau Ni-guru Durgogini tahu….”
"Hi-hi-hik, kalau dia, tahu mengapa? Kau yang akan dibunuhnya lebih dulu, sedangkan aku...? belum tentu mbakyu Durgogini mampu mengalahkan aku!” Ia meraih lagi dan hendak mencium muka yang tampan itu.
Akan tetapi pemuda itu menolak dengan kedua tangannya, mendorong dada padat yang tertutup tapih pinjung (kain sedada).
“Sudahlah, bibi, lihat udara mendung, hampir hujan. Jangan-jangan badai mengamuk"
"Hi-hik,, cah bagus. Siapa takut badai?”
"Kau tidak takut, akan tetapi aku takut. Bibi guru yang manis, aku sudah mematuhi kehendakmu selama tiga hari. Mana pusaka yang bibi hendak hadiahkan kepadaku? Aku hendak pergi dari sini, berlindung semalam dalam guha dan besok akan kembali ke Selopenangkep.”
Wanita itu tertawa, lalu menarik napas panjang.
“Baiklah, raden, kau sudah menyenangkan hatiku selama tiga hari. Pusaka yang hendak kuberikan kepadamu bukanlah sembarang pusaka. Ilmu pukulan yang kuajarkan kepadamu selama tiga hari ini sudah dapat kaulakukan dengan baik, akan tetapi tanpa pusaka ini, ilmu pukulan Tirto Rudiro (Air Darah) itu takkan sempuma. Di samping itu, kaupun harus tekun berlatih selama duapuluh satu hari dengan pantangan, tidak boleh makan daging dan tidak boleh bergaul dengan wanita!”
Setelah berkata demikian wanita itu lalu mengeluarkan sebuah rumah kerang yang berwama merah kepada pemuda itu. Pemuda itu menerimanya dengan girang, lalu berkata,
“Terima kasih atas kebaikan hati bibi guru. Aku akan selalu mentaati perintah dan kehendak bibi.”
“Hi-hik, cah bagus. Kau tunggu saja sewaktu-waktu aku akan ajak kau bersenang-senang sampai puas. Kau tunggu saja panggilanku bagus.” Ia membelai dagu pemuda itu yang ditumbuhi rambut halus, kemudian katanya,
“Sekarang pergilah. Malam nanti badai Laut Selatan akan mengamuk. Sampai jumpa!” Setelah berkata demikian, wanita itu lalu melempar diri ke dalam ombak yang datang ke pantai dan sebentar kemudian ia sudah lenyap, ditelan ombak.

Pemuda tampan itu menggenggam kerang merah lalu melompat-lompat ke atas batu karang. Ia memandang ke angkasa yang makin gelap. Tidak baik melakukan perjalanan malam ini, pikirnya. Lebih baik malam ini mengaso di Guha Siluman dan besok pagi-pagi baru naik ke atas dan pulang ke dusun Selopenangkep. Dengan gerakan sigap pemuda itu terus berloncatan dari batu ke batu menuju ke Guha Siluman. Pemuda ini adalah Raden Wisangjiwo, putera tunggal bekas Adipati Joyowiseso yang tadinya menguasai pantai Laut Selatan. Setahun yang lalu, yaitu pada, tahun 1031 ketika Kerajaan Mataram di bawah pemerintahan Raja Airlangga (1019-1049) mengirim pasukan untuk menundukkan seluruh wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, daerah Pantai Selatan inipun dilanda perang. Adipati Joyowiseso mengadakan perlawanan hebat, namun tak kuasa menghadang penyerbuan bala tentara Mataram yang kuat dan dipimpin panglima-panglima yang sakti mandraguna dan pandai, sehingga akhirnya terpaksa menyerah. Betapapun juga, seperti di daerah lain, Adipati Joyowiseso inipun tidak dihukum, bahkan diberi kedudukan kembali sebagai adipati di pantai Laut Selatan. Akan tetapi ia sekarang merupakan orang taklukan atau sebagai punggawa dari Kerajaan Mataram di timur, siap mentaati segala perintah yang dipertuan Raja Airlangga. Selain menjadi putera orang tertinggi kedudukannya di pedusunan pantai selatan, juga Raden Wisangjiwo menjadi murid terkasih seorang pertapa wanita yang sakti mandraguna, yang oleh manusia biasa dianggap sebagai siluman atau peri penjaga gunung dan hutan-hutan, kadang-kadang saja memperlihatkan diri kepada umum. Datang dan perginya seperti iblis yang pandai menghilang. Tak seorangpun di daerah Laut Selatan berani menyebut namanya secara terbuka, sebuah nama Yang membuat bulu tengkuk berdiri, membuat orang menggigil ketakutan, sebuah nama yang sekali didengar sukar dilupa, yang juga amat terkenal sampai jauh di luar wilayah pantai selatan. Para pertapa, para ksatria, para jagoan mengenal belaka nama ini, Ni Durgogini. Karena gurunya seorang wanita sakti yang luar biasa, sudah tentu saja Raden Wisangjiwo juga memiliki kesaktian yang sukar dilawan. Ketika terjadi perang melawan tentara Kerajaan Mataram setahun yang lalu, banyaklah perwira dan tamtama Mataram binasa di ujung keris dan kepalan tangannya. Biarpun akhirnya perlawanan ayahnya patah dan mereka harus mengakui keunggulan bala tentara Mataram, namun Raden Wisangjiwo tidak sampai pernah dirobohkan atau tertawan.

Sayang seribu kali sayang, pemuda rupawan yang sakti ini, agaknya terlalu dimanja oleh orang tuanya, seperti lajim terjadi pada keluarga bangsawan. Agaknya karena terlalu manja inilah yang membentuk watak tinggi hati, sombong, tak pernah mau kalah, dan lambat-laun watak ini membentuk pula sifat-siiat kejam, curang, dan hendak berkuasa sendiri, tak pernah mau menghiraukan perasaan atau pendapat orang. Raden Wisangjiwo terkenal sebagai seorang pemuda berandalan yang bengis tidak ada yang berani menentangnya. Mungkin sekali, biarpun dimanja ia takkan sampai tersesat sedemikian jauhnya kalau saja ia tidak menjadi murid Ni Durgogini, seorang wanita yang berwatak iblis. Watak gurunya ini tentu saja sedikit banyak menurun pula kepadanya. Pertama-tama, begitu pemuda ganteng ini menjadi murid Ni Durgoginiq iapun merangkap menjadi kekasih gurunya. Tidaklah terlalu aneh kalau orang tahu bagaimana macamnya manusia iblis Ni Durgogini itu. Seorang wanita yang cantik dan genit, yang tak pernah dapat diterka berapa usianya akan tetapi kelihatan masih muda, kurang tiga puluh, dan di antara sekian banyak ilmu-ilmunya yang mujijat, ia memiliki pula ilmu guna-guna yang disebut Guno Asmoro. Tidaklah mengherankan apabila Raden Wisangjiwo yang memang berjiwa lemah ini hanyut dan mentaati kehendak kotor gurunya dengan gembira. Namun, sikapnya yang pandai melayani gurunya ini menguntungkan Raden Wisangjiwo, karena gurunya makin sayang kepadanya dan menurunkan pelbagai ilmu simpanan yang hebat-hebat. Ni Durgogini mempunyai seorang adik seperguruan, yang juga amat terkenal, terutama sekali oleh para nelayan dan bajak. Adapun penduduk pantai dan para nelayan malah menganggap bahwa ia adalah Dewi Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan! Betapa orang takkan menyangka demikian kalau menyaksikan seorang wanita cantik dengan rambut terurai panjang, bermain-main di antara ombak laut bagaikan seekor ikan saja lincahnya. Akan tetapi, seperti juga halnya Ni Durgogini, wanita cantik jelita yang bernama Ni Nogogini ini, membuat orang menggigil kalau mengingatnya. Selain sakti, juga Ni Nogogini berwatak iblis, mudah sekali menjatuhkan tangan saktinya membunuh orang tanpa sebab. Mudah sekali menyerbu golongan-golongan lain untuk mengacau dan membunuh. Kalau Ni Durgogini dianggap sebagai iblis betina hutan dan gunung, maka Ni Nogogini ini adalah iblis betina sungai dan Laut Selatan! Sebagaimana dapat kita duga dari adegan di pantai tadi, Ni Nogogini pun mempunyai penyakit yang sama dengan penyakit kakak seperguruannya, yaitu gila laki-laki dan cabul. Bibi guru ini melihat murid keponakannya dan tidak mau melewatkan kesempatan untuk menggodanya. Raden Wisangiiwo memang tampan dan gagah, juga amat cerdik. Tentu saja ia tidak menolak godaan bibi gurunya yang biarpun kulitnya tidak seputih dan sehalus kulit tubuh gurunya, namun memiliki kecantikan khas, dan pula memiliki bentuk tubuh yang lebih indah dan padat kalau dibandingkan dengan gurunya, karena agaknya kebiasaan bermain di air dan renang itulah yang membuat ia memiliki bentuk tubuh yang amat baik. Di samping ini, iapun sudah maklum akan keganasan watak bibi gurunya sehingga kalau ia menolak, amatlah berbahaya. Oleh karena ini maka ia melayani bibi gurunya, bermain asmara sampai tiga hari di pantai, kadang-kadang Raden Wisangjiwo harus mandah dibawa ke tengah laut dipermainkan sesuka hati bibi gurunya. Namun, ia tidak bodoh dan kesempatan ini ia pergunakan untuk minta upah berupa ilmu kesaktian dan pusaka. Dan bujukannya berhasil sehingga ia diberi pelajaran ilmu pukulan Tirto Rudiro yang ampuh bersama pusaka Kerang Merah.

Demikianlah, dengan hati gembira karena mendapatkan ilmu dan pusaka, juga karena akhirnya ia dapat terlepas dari pelukan bibi gurunya yang mulai membosankan itu, Raden Wisangjiwo berlompatan menuju ke Guha Siluman. Ketika akhirnya ia dapat melompat sampai ke mulut guha, ia berdiri bagaikan patung dengan mata terbelalak lebar memandang ke dalam guha. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka, hampir ia tidak percaya akan pandang matanya sendiri. Di bawah sinar matahari senja yang keemasan, ia melihat sebuah patung sebesar manusia, patung seorang dewi kahyangan yang bertubuh keemasan, rambut terurai, bertelanjang bulat, cantik jelita tanpa cacad! Akan tetapi patung itu bernapas. Dada yang indah bentuknya itu bergerak perlahan.

<<< Bagian 002                                                                                   Bagian 004 >>>

No comments:

Post a Comment