Keduanya sudah tenggelam betul-betul dan seakan-akan ada cahaya manter (bersinar) dari ubun-ubun kepala mereka.
Tak tahu
mereka bahwa ada anak-anak burung dalam sarang bercicit-ciclt merengek-rengek
dan menangis kelaparan karena ayah bunda tak pemah pulang semenjak kemarin,
karena ayah bunda burung-burung itu telah berpindah ke dalam perut elang yang
menyambar mereka dan menjadikan mereka santapan anak-anak elang. Mengapa
sepasang wallet ini demikian buruk nasibnya? Dosa apa gerangan yang telah
mereka lakukan? Tak seorangpun akan dapat menjawabnya. Suami isteri itupun
tidak pernah tahu bahwa beberapa ekor ikan kecil dilempar ombak ke atas batu
karang, berkelojotan berkelepekan disiksa terik sinar matahari, megap-megap menanti
maut datang menjemput dalam keadaan tersiksa. Apakah dosa ikan-ikan ini
sehingga mereka terhukum sedemikian rupa? Tak ada yang akan dapat menjawab
pula. Banyak sekali hal-hal yang gaib, hal-hal yang tampaknya ganjil, yang
tampak-nya menurut alam pikiran dan pendapat manusia, tidak adil. Yang jahat
hidup bahagia, yang baik hidup merana. Inilah rahasia besar yang hanya mampu
diselami oleh kesadaran mereka yang tahu akan Kuasa Tertinggi. Dan apa yang
akan menimpa sepasang suami isteri yang tekun bersamadhi itupun berada mutlak
di tangan Yang Maha Wenang, tak seorangpun manusia mampu merubahnya!
Hari sudah
menjelang senja lagi, ketika udara mendadak menjadi mendung. Awan hitam
berkumpul dari atas darat menuju ke atas laut. Geledek menyambar nyambar
diseling kilat berkeredepan. Gemuruh suara halilintar menyaingi gemuruh ombak
memecah di batu karang. Lambat-laun air laut makin tenang dan deburan ombak
tidak keras lagi menghantam karang. Seolah-olah air laut dengan ombaknya
menyatakan takluk dan kalah terhadap guruh di angkasa, mengakui kekuasaan
angkasa, yang dapat merubah keadaan laut. Tak jauh dari Guha Siluman, dekat
Guha Leter, di bagian pantai yang datar dan tertutup pasir halus, ombak tak
tertahan karang dan selalu mengalir sampai ke pasir. Pada saat itu, tiba-tiba
terdengar air bergolak disusul suara wanita tertawa, suaranya merdu. Lalu
tampaklah mahkluk bergerak-gerak di permukaan air, seakan-akan menunggang ombak
yang menuju ke pasir. Dari jauh mahluk itu kelihatan berambut panjang dan
seperti menerkam sesuatu, akan tetapi setelah makin dekat dengan pantai,
tampaklah bahwa ia adalah seorang wanita yang cantik berkulit kuning bersih,
rambutnya panjang sampai ke kaki. Wanita ini usianya tentu sudah tiga puluh
tahun lebih, namun benar-benar amat cantik, wajahnya berseri-seri dan giginya
amat putih berkilauan di kala sinar kilat menerangi permukaan air laut itu. Ia
memang sedang menerkam sesuatu, akan tetapi menerkam dengan mesra atau memeluk
tubuh seorang laki-laki muda tampan yang juga tertawa-tawa. Wanita itu membawa
si laki-laki berenang ke pantai, bukan berenang seperti manusia biasa,
melainkan berenang seperti ikan. Tubuhnya yang ramping semampai itu dapat
bergerak-gerak menggeliat seperti ikan berenang, akan tetapi amat cepat
tubuhnya maju. Laki-laki itu sebaliknya, tidak pandai berenang, buktinya ia
selalu berusaha menaikkan kepalanya, ke permukaan air sambil merangkul leher si
wanita.
Seekor ikan
hiu besar, sebesar manusia, berenang cepat menghampiri, agaknya tertarik oleh
mahkluk-mahkluk aneh ini. Akan tetapi setelah dekat, tiba-tiba hiu itu
menghentikan renangnya, mundur-mundur karena takut.
“Bibi…. Ikan
besar itu…” tiba-tiba si lelaki berseru ketakutan dan merangkul si wanita makin
erat.
Wanita itu
dengan gerakan luar biasa cepatnya sudah memutar tubuh di dalam air, mukanya
yang cantik tiba-tiba menjadi murka.
“Bedebahl
Berani kau menggangguku?” bentaknya, tubuhnya meluncur di air cepat sekali,
tangan kirinya menyeret laki-laki itu dan tangan kanannya mengayun sebuah
cundrik (keris) yang tepat menghantam perut ikan hiu itu dan sekali
menyontekkan tangan, perut itu pecah dan ususnya keluar. Ikan itu lari
kesakitan dan ketakutan, namun hukum laut yang sama dengan hukum rimba
menimpanya. Tak lama kemudian ia menjadi mangsa ikan-ikan lain yang berpesta pora
atas daging dan isi perut. Wanita, itu tertawa bergelak, lalu meluncur lagi ke
pantai. Mereka, bergulingan di atas pasir seperti orang bergumul sehingga tubuh
mereka kotor semua oleh pasir. Sambil bercumbu wanita itu tertawa-tawa. Akhimya
lelaki muda itu melepaskan diri dari pelukan kedua lengan halus dan rambut
panjang, lalu bangkit berdiri dan berkata,
“Cukuplah,
bibi. Kita sudah bersenang-senang selama tiga hari di sini. Kalau Ni-guru
Durgogini tahu….”
"Hi-hi-hik,
kalau dia, tahu mengapa? Kau yang akan dibunuhnya lebih dulu, sedangkan aku...?
belum tentu mbakyu Durgogini mampu mengalahkan aku!” Ia meraih lagi dan hendak
mencium muka yang tampan itu.
Akan tetapi
pemuda itu menolak dengan kedua tangannya, mendorong dada padat yang tertutup
tapih pinjung (kain sedada).
“Sudahlah,
bibi, lihat udara mendung, hampir hujan. Jangan-jangan badai mengamuk"
"Hi-hik,,
cah bagus. Siapa takut badai?”
"Kau
tidak takut, akan tetapi aku takut. Bibi guru yang manis, aku sudah mematuhi
kehendakmu selama tiga hari. Mana pusaka yang bibi hendak hadiahkan kepadaku?
Aku hendak pergi dari sini, berlindung semalam dalam guha dan besok akan
kembali ke Selopenangkep.”
Wanita itu
tertawa, lalu menarik napas panjang.
“Baiklah,
raden, kau sudah menyenangkan hatiku selama tiga hari. Pusaka yang hendak
kuberikan kepadamu bukanlah sembarang pusaka. Ilmu pukulan yang kuajarkan
kepadamu selama tiga hari ini sudah dapat kaulakukan dengan baik, akan tetapi
tanpa pusaka ini, ilmu pukulan Tirto Rudiro (Air Darah) itu takkan sempuma. Di
samping itu, kaupun harus tekun berlatih selama duapuluh satu hari dengan
pantangan, tidak boleh makan daging dan tidak boleh bergaul dengan wanita!”
Setelah
berkata demikian wanita itu lalu mengeluarkan sebuah rumah kerang yang berwama
merah kepada pemuda itu. Pemuda itu menerimanya dengan girang, lalu berkata,
“Terima kasih
atas kebaikan hati bibi guru. Aku akan selalu mentaati perintah dan kehendak
bibi.”
“Hi-hik, cah
bagus. Kau tunggu saja sewaktu-waktu aku akan ajak kau bersenang-senang sampai
puas. Kau tunggu saja panggilanku bagus.” Ia membelai dagu pemuda itu yang
ditumbuhi rambut halus, kemudian katanya,
“Sekarang
pergilah. Malam nanti badai Laut Selatan akan mengamuk. Sampai jumpa!” Setelah
berkata demikian, wanita itu lalu melempar diri ke dalam ombak yang datang ke
pantai dan sebentar kemudian ia sudah lenyap, ditelan ombak.
Pemuda tampan
itu menggenggam kerang merah lalu melompat-lompat ke atas batu karang. Ia
memandang ke angkasa yang makin gelap. Tidak baik melakukan perjalanan malam
ini, pikirnya. Lebih baik malam ini mengaso di Guha Siluman dan besok pagi-pagi
baru naik ke atas dan pulang ke dusun Selopenangkep. Dengan gerakan sigap
pemuda itu terus berloncatan dari batu ke batu menuju ke Guha Siluman. Pemuda
ini adalah Raden Wisangjiwo, putera tunggal bekas Adipati Joyowiseso yang
tadinya menguasai pantai Laut Selatan. Setahun yang lalu, yaitu pada, tahun
1031 ketika Kerajaan Mataram di bawah pemerintahan Raja Airlangga (1019-1049)
mengirim pasukan untuk menundukkan seluruh wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah,
daerah Pantai Selatan inipun dilanda perang. Adipati Joyowiseso mengadakan
perlawanan hebat, namun tak kuasa menghadang penyerbuan bala tentara Mataram
yang kuat dan dipimpin panglima-panglima yang sakti mandraguna dan pandai,
sehingga akhirnya terpaksa menyerah. Betapapun juga, seperti di daerah lain,
Adipati Joyowiseso inipun tidak dihukum, bahkan diberi kedudukan kembali
sebagai adipati di pantai Laut Selatan. Akan tetapi ia sekarang merupakan orang
taklukan atau sebagai punggawa dari Kerajaan Mataram di timur, siap mentaati
segala perintah yang dipertuan Raja Airlangga. Selain menjadi putera orang
tertinggi kedudukannya di pedusunan pantai selatan, juga Raden Wisangjiwo
menjadi murid terkasih seorang pertapa wanita yang sakti mandraguna, yang oleh
manusia biasa dianggap sebagai siluman atau peri penjaga gunung dan
hutan-hutan, kadang-kadang saja memperlihatkan diri kepada umum. Datang dan
perginya seperti iblis yang pandai menghilang. Tak seorangpun di daerah Laut
Selatan berani menyebut namanya secara terbuka, sebuah nama Yang membuat bulu
tengkuk berdiri, membuat orang menggigil ketakutan, sebuah nama yang sekali
didengar sukar dilupa, yang juga amat terkenal sampai jauh di luar wilayah
pantai selatan. Para pertapa, para ksatria, para jagoan mengenal belaka nama
ini, Ni Durgogini. Karena gurunya seorang wanita sakti yang luar biasa, sudah
tentu saja Raden Wisangjiwo juga memiliki kesaktian yang sukar dilawan. Ketika
terjadi perang melawan tentara Kerajaan Mataram setahun yang lalu, banyaklah perwira
dan tamtama Mataram binasa di ujung keris dan kepalan tangannya. Biarpun
akhirnya perlawanan ayahnya patah dan mereka harus mengakui keunggulan bala
tentara Mataram, namun Raden Wisangjiwo tidak sampai pernah dirobohkan atau
tertawan.
Sayang seribu
kali sayang, pemuda rupawan yang sakti ini, agaknya terlalu dimanja oleh orang
tuanya, seperti lajim terjadi pada keluarga bangsawan. Agaknya karena terlalu
manja inilah yang membentuk watak tinggi hati, sombong, tak pernah mau kalah,
dan lambat-laun watak ini membentuk pula sifat-siiat kejam, curang, dan hendak
berkuasa sendiri, tak pernah mau menghiraukan perasaan atau pendapat orang.
Raden Wisangjiwo terkenal sebagai seorang pemuda berandalan yang bengis tidak
ada yang berani menentangnya. Mungkin sekali, biarpun dimanja ia takkan sampai
tersesat sedemikian jauhnya kalau saja ia tidak menjadi murid Ni Durgogini,
seorang wanita yang berwatak iblis. Watak gurunya ini tentu saja sedikit banyak
menurun pula kepadanya. Pertama-tama, begitu pemuda ganteng ini menjadi murid
Ni Durgoginiq iapun merangkap menjadi kekasih gurunya. Tidaklah terlalu aneh
kalau orang tahu bagaimana macamnya manusia iblis Ni Durgogini itu. Seorang
wanita yang cantik dan genit, yang tak pernah dapat diterka berapa usianya akan
tetapi kelihatan masih muda, kurang tiga puluh, dan di antara sekian banyak
ilmu-ilmunya yang mujijat, ia memiliki pula ilmu guna-guna yang disebut Guno
Asmoro. Tidaklah mengherankan apabila Raden Wisangjiwo yang memang berjiwa
lemah ini hanyut dan mentaati kehendak kotor gurunya dengan gembira. Namun,
sikapnya yang pandai melayani gurunya ini menguntungkan Raden Wisangjiwo,
karena gurunya makin sayang kepadanya dan menurunkan pelbagai ilmu simpanan
yang hebat-hebat. Ni Durgogini mempunyai seorang adik seperguruan, yang juga
amat terkenal, terutama sekali oleh para nelayan dan bajak. Adapun penduduk
pantai dan para nelayan malah menganggap bahwa ia adalah Dewi Roro Kidul yang
menguasai Laut Selatan! Betapa orang takkan menyangka demikian kalau menyaksikan
seorang wanita cantik dengan rambut terurai panjang, bermain-main di antara
ombak laut bagaikan seekor ikan saja lincahnya. Akan tetapi, seperti juga
halnya Ni Durgogini, wanita cantik jelita yang bernama Ni Nogogini ini, membuat
orang menggigil kalau mengingatnya. Selain sakti, juga Ni Nogogini berwatak
iblis, mudah sekali menjatuhkan tangan saktinya membunuh orang tanpa sebab.
Mudah sekali menyerbu golongan-golongan lain untuk mengacau dan membunuh. Kalau
Ni Durgogini dianggap sebagai iblis betina hutan dan gunung, maka Ni Nogogini
ini adalah iblis betina sungai dan Laut Selatan! Sebagaimana dapat kita duga
dari adegan di pantai tadi, Ni Nogogini pun mempunyai penyakit yang sama dengan
penyakit kakak seperguruannya, yaitu gila laki-laki dan cabul. Bibi guru ini
melihat murid keponakannya dan tidak mau melewatkan kesempatan untuk
menggodanya. Raden Wisangiiwo memang tampan dan gagah, juga amat cerdik. Tentu
saja ia tidak menolak godaan bibi gurunya yang biarpun kulitnya tidak seputih
dan sehalus kulit tubuh gurunya, namun memiliki kecantikan khas, dan pula
memiliki bentuk tubuh yang lebih indah dan padat kalau dibandingkan dengan
gurunya, karena agaknya kebiasaan bermain di air dan renang itulah yang membuat
ia memiliki bentuk tubuh yang amat baik. Di samping ini, iapun sudah maklum
akan keganasan watak bibi gurunya sehingga kalau ia menolak, amatlah berbahaya.
Oleh karena ini maka ia melayani bibi gurunya, bermain asmara sampai tiga hari
di pantai, kadang-kadang Raden Wisangjiwo harus mandah dibawa ke tengah laut
dipermainkan sesuka hati bibi gurunya. Namun, ia tidak bodoh dan kesempatan ini
ia pergunakan untuk minta upah berupa ilmu kesaktian dan pusaka. Dan bujukannya
berhasil sehingga ia diberi pelajaran ilmu pukulan Tirto Rudiro yang ampuh
bersama pusaka Kerang Merah.
Demikianlah,
dengan hati gembira karena mendapatkan ilmu dan pusaka, juga karena akhirnya ia
dapat terlepas dari pelukan bibi gurunya yang mulai membosankan itu, Raden
Wisangjiwo berlompatan menuju ke Guha Siluman. Ketika akhirnya ia dapat melompat
sampai ke mulut guha, ia berdiri bagaikan patung dengan mata terbelalak lebar
memandang ke dalam guha. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka, hampir ia
tidak percaya akan pandang matanya sendiri. Di bawah sinar matahari senja yang
keemasan, ia melihat sebuah patung sebesar manusia, patung seorang dewi
kahyangan yang bertubuh keemasan, rambut terurai, bertelanjang bulat, cantik
jelita tanpa cacad! Akan tetapi patung itu bernapas. Dada yang indah bentuknya
itu bergerak perlahan.
No comments:
Post a Comment