“Demi Ratu Lelembut” Tak terasa lagi mulut Raden Wisangjiwo berseru penuh kekaguman dan keheranan.
Seruan penuh
nafsu ini cukup untuk membuat Pujo dan Kartikosari tersentak kaget, seakan-akan
semangat mereka disendal memasuki alam kesadaran kembali. Otomatis Kartikosari
menggerakkan tangan menyambar kain di sebelahnya dan menutupi tubuhnya dengan
kain, mengikat ujungnya erat-erat di atas dada, matanya berkilat marah ketika
ia melihat seorang laki-laki muda berdiri di mulut guha, menelannya dengan
pandang mata lahap. Pujo juga cepat melompat berdiri dan berseru keras ketika
mengenal orang yang datang itu.
“Raden
Wisangjiwo! Benar-benar tidak sopan mengganggu orang bersamadi, apa lagi jika
suami isteri bersamadhi bersama!"
Raden
Wisangjiwo juga sadar daripada pesona yang menggairahkan hatinya, membalikkan
tubuh memandang penegurnya. Ia tertawa mengejek, lalu bertolak pinggang.
“Aha, kiranya
engkau ini, Pujo? Dan dia isterimu? Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali. Sudah
lama aku ingin berhadapan dengan seorang laki-laki pengecut macam engkau,
kiranya para dewata mengabulkan pengharapanku"
Pujo mengenal
baik siapa Raden Wisangjiwo. Taat akan kehendak gurunya, ia memang selalu
menjauhkan diri dan tidak mencampuri urusan putera adipati ini, maka tak pernah
antara dia dan putera bangsawan itu terdapat sesuatu hal. Mengapa kini ia
dimaki pengecut dan sudah lama dicari?
“Raden
Wisangjiwo jalan hidupmu dan jalan hidupku seperti jalannya air dan asap, tak
pemah dapat bertemu. Mengapa kau datang-datang memaki aku dan ada keperluan apa
kau hendak bertemu denganku?” tanya Pujo sambil menyambar pakaiannya dan
mengenakan pakalan sebelah bawah. Tubuh atasnya masih bertelanjang.
“Hua-ha-ha-haha...masih
pura-pura bertanya? Tidak merasa betapa kau seorang laki-laki pengecut dan
penakut? Percuma saja kau mengaku murid Resi Bhargowo malah ehm menjadi
mantunya, menikah dengan puteri Resi Bhargowo yang eh, begini denokl” Matanya
mengerling ke arah Kartikosari.
“Raden
Wisangjiwo, harap jangan menggunakan ucapan kasar, tak patut didengar wanita.
Katakan saja, mengapa aku kau anggap pengecut?”
Kini pandang
mata putera adipati itu melotot marah, kedua tangannya mengepal tinju.
“Benar-benar
kau tidak merasa ataukah berpura-pura? Setahun yang lalu, daerah kita dilanda
perang, diserbu oleh bala tentara dari Mataram. Semua laki-laki turun tangan
membela tanah air, mengapa engkau tidak mau ikut membantu biarpun ramanda
adipati memerintah dan mengirim utusan ke Sungapan? Bukankah kau tidak mau ikut
berperang karena kau takut, karena kau pengecut?”
“Raden
Wisangjiwo, harap kausimpan saja maki-makian kotor itu ke dalam mulutmu, di
situ lebih cocok daripada dihambur keluar membusukkan udara! Kami memang tidak
berangkat membantu, aku dan para cantrik, juga isteriku yang di kala itu masih
menjadi adik seperguruanku, karena dilarang oleh bapa resi. Kami harus tunduk
dan mentaati perintah guru, apapun yang terjadi. Bapa resi menyatakan bahwa tak
mungkin dilawan kekuasaan dari Mataram karena memang sudah semestinya semua daerah
di bawah kekuasaan Mataram. Sama sekali bukan karena takut!”
“Hemmm, alasan
kosong! Karena mengingat bahwa Resi Bhargowo sudah lanjut usianya, maka aku
tidak menyalahkannya. Dan karena memandang wajah Resi Bhargowo maka aku tidak
mau mencari kau dan membikin ribut di Sungapan.” Ia melirik kembali ke arah
Kartikosari untuk menandaskan bahwa dia tidak mau bermusuh dengan ayah wanita
jelita ini.
“Akan tetapi
engkau yang masih muda dan kuat, hemmm, tak mungkin aku memaafkanmu begitu
saja”.
Biarpun Pujo sudah
menerima gemblengan lahir batin dari gurunya, namun darah muda masih mengalir
di tubuhnya dan hawa panas yang naik dari dalam hatinya membuat kepalanya panas
pula.
“Raden
Wisangjiwo! Dengan mencela mereka yang tidak ikut berperang, kau seakan-akan hendak
mengagungkan dirimu sendiri yang menentang Mataram. Akan tetapi bagaimana
buktinya sekarang? Ayahmu dan kau menakluk kepada Mataram, dan rela menjadi
abdi Mataram? Itukah yang kau anggap kegagahanmu?”
“Tutup mulut!
Bersiaplah engkau!”
Pujo juga
mengepal tinju.
“Kau mau apa?”
Raden
Wisangjiwo sudah hendak menerjang maju, akan tetapi ia mendengar betapa wanita
jelita itu menahan napas, lalu ia mengerling dan tersenyum.
“Pujo,
isterimu cantik bukan main. Keluarlah kau dari guha ini dan biarkan aku bercakap-cakap
dengan isterimu. Biarkan dia mengawaniku semalam ini di guha, karena aku hendak
bermalam di sini. Dan besok pagi kuampuni kesalahanmu yang dahulu.”
“Jahanam”
Teriakan ini
bukan keluar dari mulut Pujo melainkan keluar dari mulut Kartikosari yang sudah
menerjang dari belakang dengan pukulan yang disebut Gelap Musti (Tinju Petir).
"Nimas
jangan bunuh orang!"
Pujo berseru
kaget dan melompat ke depan. Orang muda ini memang sudah mendalami wejangan
guru dan ayah mertuanya, maka sifat welas asih selalu menyelubungi lubuk
hatinya. Betapapun marahnya mendengar ucapan kotor dan kurang sopan dari Raden
Wisangjiwo terhadap isterinya, namun melihat isterinya mempergunakan pukulan
gledek yang ampuh bukan main itu, ia merasa terkejut dan hendak mencegah.
Terlambat.
Pukulan Gelap Musti memang hebat bukan main, batu karang hancur sekali pukul,
apa lagi tubuh manusia biasa. Namun, Raden Wisangjiwo bukanlah manusia biasa.
Dia murid terkasih seorang manusia iblis yang tentu saja tidak dapat
dipersamakan manusia biasa. Ketika pukulan dari arah belakangnya ini menyambar,
mendatangkan hawa panas seperti lahar cepat ia membalikkan tubuh dan mendorong
dengan kedua tangannya, tangan kanan menyambut pukulan dengan pengerahan tenaga
sakti dan dengan gerakan ilmu pukulan Tirto Rudiro yang baru saja ia pelajari
dari bibi gurunya, Ni Nogogini. Memang Kerang Merah berada di tangan kanan, maka
otomatis ia menggunakan pukulan ini. Perlu diketahui bahwa ilmu pukulan Gelap
Musti (Tinju Petir) adalah pukulan yang keras dengan penggunaan tenaga yang
dikerahkan dari pusar yang membentuk api hidup maka jika dipergunakan
mengeluarkan hawa panas yang dapat melebihi panasnya api biasa. Di lain fihak,
sebagai kebalikannya, ilmu pukulan Tirto Rudiro yang dikeluarkan oleh Raden
Wisangjiwo adalah pukulan yang berhawa dingin, sedingin air membeku akan tetapi
karena ilmu ini hasil penciptaan Ni Nogogini yang hidupnya menjadi hamba nafsu
dan menyimpang dari pada kebenaran terjerumus ke jalan sesat maka hasil
penciptaan inipun adalah ilmu sesat (ilmu hitam). Andaikata yang mencipta ilmu
ini seorang suci seperti Resi Bhargowo dan yang lain-lain, maka api yang bagaimana
panaspun sekali terkena sambaran hawa pukulan ini tentu akan padam dan dingin.
Akan tetapi ilmu ini sudah jauh menyimpang, biarpun pada dasamya menggunakan
hawa yang timbul dari pusar juga, namun telah dicampur dengan hawa beracun,
terutama sekali setelah dicampur dengan khasiat pusaka Kerang Merah. Pukulan
ini selain dapat membekukan darah, juga dapat menyebar hawa beracun yang
menyusup ke dalam tubuh lawan yang terpukul!
“Dessss”
Kedua lengan
yang disaluri hawa yang bertentangan itu bertemu hebat. Raden Wisangjiwo
terkejut sekali karena merasa betapa hawa panas seperti lahar menyerap ke dalam
lengan kanannya. Hal ini menandakan bahwa hawa saktinya kalah kuat dan kalah
latihan dalam penggunaan ilmu pukulan. Maka. cepat-cepat ia menggunakan tangan
kirinya yang sudah siap tadi untuk melanjutkan rencananya yang sejak tadi sudah
ia persiapkan. Begitu jari-jari tangannya bergerak dan secepat kilat menyentuh
pundak kiri Kartikosari murid Ni Durgogini yang licik dan cerdik ini sudah
menggunakan ilmu pemberian gurunya, ilmu sesat yang hanya digunakan oleh
manusia-manusia hamba nafsu) yaitu Ilmu Asmoro Kingkin (Rindu Berahi).
Jari-jari tangannya menyentuh jalan darah di pundak, diperkuat oleh penyaluran
tenaga tidak sewajarnya yang timbul dari mantra yang cepat ia ucapkan dengan
gerak bibir yang tanpa suara. Tentu saja Kartikosari terkejut. Tadinya wanita
ini sudah merasa girang karena maklum bahwa ia menang kuat dalam pertemuan
lengan, maka ia menjadi agak lengah, apa lagi karena tangan kiri lawan bergerak
terlalu cepat menuju ke pundak, ia tidak sempat mengelak. Ia ingin merobohkan
lawan dengan tindihan tenaga Gelap Musti siapa kira setelah pundak dekat
lehemya tersentuh jari tangan Raden Wisangjiwo, mendadak ia merasa betapa
jantungnya berdenyutan, darahnya bergolak dan nafsu berahi mengamuk di
benaknya. Kartikosari terkejut dan berusaha melawan dorongan nafsu yang seperti
ditimbulkan oleh iblis Ini, namun dengan usaha ini, ia harus mengerahkan hawa
saktinya sehingga saluran hawa panas pada pukulan Gelap Musti di lengan menjadi
habis daya. Inilah yang mencelakakan Kartikosari. Begitu hawa pukulan Gelap
Musti membuyar.. ia terserang oleh hawa pukulan dingin dari dorongan ilmu
pukulan Tirto Rudiro hawa dingin yang menyusup dari lengan menyerang isi
dadanya. Kartikosari menjerit dan roboh terguling ke sudut guha.
“Wisangjiwo
keparat, kaulukai isteriku?” Pujo marah sekali dan dengan gerakan kilat ia
menerjang putera adipati itu. Namun Raden Wisangjiwo sambil tersenyum mengejek
sudah mengelak sehingga pukulan Pujo lewat di atas kepalanya.
Sambil
mengelak kaki Raden Wisangjiwo melayang ke arah lambung kiri Pujo, disusul
tamparan tangan kiri dengan jari terbuka. Hebat serangan ini karena yang
diserang kaki adalah lambung kiri dan yang diancam tamparan tangan adalah leher,
dua tempat yang apabila terkena dapat mendatangkan maut. Pujo yang merasa
gelisah melihat isterinya pingsan, mengeluarkan ajiannya yang ia dapat dari
guru dan ayah mertuanya, yaitu ilmu meringankan tubuh cepat Bayu Tantra (Gerak
Angin) berkelebat cepat dan berhasil menghindarkan diri dari pada tendangan dan
pukulan lawan. Kemudian kembali Pujo membalas serangan lawannya yang sakti ini
dengan pukulan Gelap Musti seperti yang dilakukan isterinya tadi. Tingkat
kepandaian Pujo lebih unggul dari pada Kartikosari, maka penggunaan Gelap Musti
ia menang setingkat, maka pukulannya ini tentu saja lebih hebat dari pada yang
dilakukan Kartikosari tadi. Raden Wisangjiwo terkejut. Tadi ia telah merasai
kehebatan ilmu pukulan yang mengandung hawa panas lahar ini dari Kartikosari,
maka, tentu saja ia tidak berani berlaku sembrono. Dengan geseran kaki ke kanan
ia miringkan tubuhnya sehingga pukulan lawan tidak langsung menghantamnya,
kemudian ia mengerahkan ajiannya untuk menyampok pukulan yang dahsyat itu dari
samping, menggunakan ilmu barunya, pukulan Tirto Rudiro.
“Plakkk”
Pukulannya
tepat mengenai lengan Pujo dari samping. Menurut perhitungan, Raden Wisangjiwo
menang posisi karena ia memukul dari samping. Akan tetapi kenyataannya adalah
hebat. Begitu kepalan tangannya yang menggenggam Kerang Merah itu menghantam
lengan Pujo, tubuh Raden Wisangjiwo serasa dibakar api neraka. Ia menarik
tangannya dan oleh hawa pukulan lawan ditambah daya tariknya, tubuhnya mencelat
ke belakang, menabrak dinding guha dan terbanting ke bawah. Ia mengerang
kesakitan, akan tetapi sebagai murid manusia iblis yang sudah memiliki tubuh
kebal, tentu saja pertemuan keras dengan batu karang itu tidak membuatnya luka.
Sambil menggereng marah ia melompat bangun lagi. Ketika melihat Pujo menoleh ke
arah isterinya yang masih pingsan, Raden Wisangjiwo lalu menyambar sebuah batu
karang sebesar perut kerbau bunting di sebelahnya. Batu karang ini beratnya
melebihi seekor kerbau bunting sendiri, namun dengan pengerahan tenaga
saktinya, ia dapat mengangkatnya dengan mudah ke atas kepala, lalu melontarkan
batu besar itu ke arah kepala Pujo yang berdiri dalam jarak empat meter.
Terdengar angin menguik ketika batu besar itu terbang melayang dengan cepat ke
arah Pujo.
“Drrrrr”
Batu karang
yang besar itu hancur luluh dan pecah berhamburan ketika bertemu dengan pukulan
ujung-ujung jari tangan Pujo. Hebat dan dahsyatnya bukan kepalang gerakan orang
muda ini ketika menyambut batu karang. Jauh lebih hebat dari pada ilmu pukulan
Gelap Musti, tidak mengandung hawa panas lagi, akan tetapi mengandung kekuatan
yang tak terukur besamya. Itulah aji kesaktian yang disebut ilmu Pethit Nogo
(Ekor Naga) yang menjadi ilmu simpanan dari Resi Bhargowo. Dengan Ilmu Pethit
Nogo inilah puluhan tahun yang lalu Resi Bhargowo membuat nama besar. Dan hanya
kepada Pujo seorang ilmu ini diturunkan, bahkan kepada puterinya sendiripun
tidak. Tidak sembarang orang dapat menerima aji ini, karena banyak yang takkan
kuat menahan. Dan ilmu inipun merupakan ilmu simpanan yang takkan dipergunakan
kalau tidak terpaksa. Sebetulnya, serangan batu karang yang dilontarkan itu
tidaklah berbahaya bagi seorang pendekar seperti Pujo, dan tanpa penggunaan
Pethit Nogo sekalipun ia tentu akan sanggup menghindar. Akan tetapi Pujo sedang
marah dan gelisah melihat isterinya, maka dalam kemarahannya itu ia menghajar
batu karang yang menyambarnya.
Raden
Wisangjiwo sendiri terkejut setengah mati ketika melihat cahaya menyilaukan
seperti keluar dari tangan Pujo, menyambar batu karang dan menghancurkannya.
Maklumlah ia bahwa Pujo benar-benar merupakan lawan yang amat berat, maka cepat
ia meloloskan senjatanya dari pinggang sambil menyimpan Kerang Merahnya.
No comments:
Post a Comment