Badai Laut Selatan ; Bagian 004


“Demi Ratu Lelembut” Tak terasa lagi mulut Raden Wisangjiwo berseru penuh kekaguman dan keheranan.
Seruan penuh nafsu ini cukup untuk membuat Pujo dan Kartikosari tersentak kaget, seakan-akan semangat mereka disendal memasuki alam kesadaran kembali. Otomatis Kartikosari menggerakkan tangan menyambar kain di sebelahnya dan menutupi tubuhnya dengan kain, mengikat ujungnya erat-erat di atas dada, matanya berkilat marah ketika ia melihat seorang laki-laki muda berdiri di mulut guha, menelannya dengan pandang mata lahap. Pujo juga cepat melompat berdiri dan berseru keras ketika mengenal orang yang datang itu.
“Raden Wisangjiwo! Benar-benar tidak sopan mengganggu orang bersamadi, apa lagi jika suami isteri bersamadhi bersama!"
Raden Wisangjiwo juga sadar daripada pesona yang menggairahkan hatinya, membalikkan tubuh memandang penegurnya. Ia tertawa mengejek, lalu bertolak pinggang.
“Aha, kiranya engkau ini, Pujo? Dan dia isterimu? Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali. Sudah lama aku ingin berhadapan dengan seorang laki-laki pengecut macam engkau, kiranya para dewata mengabulkan pengharapanku"
Pujo mengenal baik siapa Raden Wisangjiwo. Taat akan kehendak gurunya, ia memang selalu menjauhkan diri dan tidak mencampuri urusan putera adipati ini, maka tak pernah antara dia dan putera bangsawan itu terdapat sesuatu hal. Mengapa kini ia dimaki pengecut dan sudah lama dicari?
“Raden Wisangjiwo jalan hidupmu dan jalan hidupku seperti jalannya air dan asap, tak pemah dapat bertemu. Mengapa kau datang-datang memaki aku dan ada keperluan apa kau hendak bertemu denganku?” tanya Pujo sambil menyambar pakaiannya dan mengenakan pakalan sebelah bawah. Tubuh atasnya masih bertelanjang.
“Hua-ha-ha-haha...masih pura-pura bertanya? Tidak merasa betapa kau seorang laki-laki pengecut dan penakut? Percuma saja kau mengaku murid Resi Bhargowo malah ehm menjadi mantunya, menikah dengan puteri Resi Bhargowo yang eh, begini denokl” Matanya mengerling ke arah Kartikosari.
“Raden Wisangjiwo, harap jangan menggunakan ucapan kasar, tak patut didengar wanita. Katakan saja, mengapa aku kau anggap pengecut?”
Kini pandang mata putera adipati itu melotot marah, kedua tangannya mengepal tinju.
“Benar-benar kau tidak merasa ataukah berpura-pura? Setahun yang lalu, daerah kita dilanda perang, diserbu oleh bala tentara dari Mataram. Semua laki-laki turun tangan membela tanah air, mengapa engkau tidak mau ikut membantu biarpun ramanda adipati memerintah dan mengirim utusan ke Sungapan? Bukankah kau tidak mau ikut berperang karena kau takut, karena kau pengecut?”
“Raden Wisangjiwo, harap kausimpan saja maki-makian kotor itu ke dalam mulutmu, di situ lebih cocok daripada dihambur keluar membusukkan udara! Kami memang tidak berangkat membantu, aku dan para cantrik, juga isteriku yang di kala itu masih menjadi adik seperguruanku, karena dilarang oleh bapa resi. Kami harus tunduk dan mentaati perintah guru, apapun yang terjadi. Bapa resi menyatakan bahwa tak mungkin dilawan kekuasaan dari Mataram karena memang sudah semestinya semua daerah di bawah kekuasaan Mataram. Sama sekali bukan karena takut!”
“Hemmm, alasan kosong! Karena mengingat bahwa Resi Bhargowo sudah lanjut usianya, maka aku tidak menyalahkannya. Dan karena memandang wajah Resi Bhargowo maka aku tidak mau mencari kau dan membikin ribut di Sungapan.” Ia melirik kembali ke arah Kartikosari untuk menandaskan bahwa dia tidak mau bermusuh dengan ayah wanita jelita ini.
“Akan tetapi engkau yang masih muda dan kuat, hemmm, tak mungkin aku memaafkanmu begitu saja”.

Biarpun Pujo sudah menerima gemblengan lahir batin dari gurunya, namun darah muda masih mengalir di tubuhnya dan hawa panas yang naik dari dalam hatinya membuat kepalanya panas pula.
“Raden Wisangjiwo! Dengan mencela mereka yang tidak ikut berperang, kau seakan-akan hendak mengagungkan dirimu sendiri yang menentang Mataram. Akan tetapi bagaimana buktinya sekarang? Ayahmu dan kau menakluk kepada Mataram, dan rela menjadi abdi Mataram? Itukah yang kau anggap kegagahanmu?”
“Tutup mulut! Bersiaplah engkau!”
Pujo juga mengepal tinju.
“Kau mau apa?”
Raden Wisangjiwo sudah hendak menerjang maju, akan tetapi ia mendengar betapa wanita jelita itu menahan napas, lalu ia mengerling dan tersenyum.
“Pujo, isterimu cantik bukan main. Keluarlah kau dari guha ini dan biarkan aku bercakap-cakap dengan isterimu. Biarkan dia mengawaniku semalam ini di guha, karena aku hendak bermalam di sini. Dan besok pagi kuampuni kesalahanmu yang dahulu.”
“Jahanam”
Teriakan ini bukan keluar dari mulut Pujo melainkan keluar dari mulut Kartikosari yang sudah menerjang dari belakang dengan pukulan yang disebut Gelap Musti (Tinju Petir).
"Nimas jangan bunuh orang!"
Pujo berseru kaget dan melompat ke depan. Orang muda ini memang sudah mendalami wejangan guru dan ayah mertuanya, maka sifat welas asih selalu menyelubungi lubuk hatinya. Betapapun marahnya mendengar ucapan kotor dan kurang sopan dari Raden Wisangjiwo terhadap isterinya, namun melihat isterinya mempergunakan pukulan gledek yang ampuh bukan main itu, ia merasa terkejut dan hendak mencegah.
Terlambat. Pukulan Gelap Musti memang hebat bukan main, batu karang hancur sekali pukul, apa lagi tubuh manusia biasa. Namun, Raden Wisangjiwo bukanlah manusia biasa. Dia murid terkasih seorang manusia iblis yang tentu saja tidak dapat dipersamakan manusia biasa. Ketika pukulan dari arah belakangnya ini menyambar, mendatangkan hawa panas seperti lahar cepat ia membalikkan tubuh dan mendorong dengan kedua tangannya, tangan kanan menyambut pukulan dengan pengerahan tenaga sakti dan dengan gerakan ilmu pukulan Tirto Rudiro yang baru saja ia pelajari dari bibi gurunya, Ni Nogogini. Memang Kerang Merah berada di tangan kanan, maka otomatis ia menggunakan pukulan ini. Perlu diketahui bahwa ilmu pukulan Gelap Musti (Tinju Petir) adalah pukulan yang keras dengan penggunaan tenaga yang dikerahkan dari pusar yang membentuk api hidup maka jika dipergunakan mengeluarkan hawa panas yang dapat melebihi panasnya api biasa. Di lain fihak, sebagai kebalikannya, ilmu pukulan Tirto Rudiro yang dikeluarkan oleh Raden Wisangjiwo adalah pukulan yang berhawa dingin, sedingin air membeku akan tetapi karena ilmu ini hasil penciptaan Ni Nogogini yang hidupnya menjadi hamba nafsu dan menyimpang dari pada kebenaran terjerumus ke jalan sesat maka hasil penciptaan inipun adalah ilmu sesat (ilmu hitam). Andaikata yang mencipta ilmu ini seorang suci seperti Resi Bhargowo dan yang lain-lain, maka api yang bagaimana panaspun sekali terkena sambaran hawa pukulan ini tentu akan padam dan dingin. Akan tetapi ilmu ini sudah jauh menyimpang, biarpun pada dasamya menggunakan hawa yang timbul dari pusar juga, namun telah dicampur dengan hawa beracun, terutama sekali setelah dicampur dengan khasiat pusaka Kerang Merah. Pukulan ini selain dapat membekukan darah, juga dapat menyebar hawa beracun yang menyusup ke dalam tubuh lawan yang terpukul!
“Dessss”
Kedua lengan yang disaluri hawa yang bertentangan itu bertemu hebat. Raden Wisangjiwo terkejut sekali karena merasa betapa hawa panas seperti lahar menyerap ke dalam lengan kanannya. Hal ini menandakan bahwa hawa saktinya kalah kuat dan kalah latihan dalam penggunaan ilmu pukulan. Maka. cepat-cepat ia menggunakan tangan kirinya yang sudah siap tadi untuk melanjutkan rencananya yang sejak tadi sudah ia persiapkan. Begitu jari-jari tangannya bergerak dan secepat kilat menyentuh pundak kiri Kartikosari murid Ni Durgogini yang licik dan cerdik ini sudah menggunakan ilmu pemberian gurunya, ilmu sesat yang hanya digunakan oleh manusia-manusia hamba nafsu) yaitu Ilmu Asmoro Kingkin (Rindu Berahi). Jari-jari tangannya menyentuh jalan darah di pundak, diperkuat oleh penyaluran tenaga tidak sewajarnya yang timbul dari mantra yang cepat ia ucapkan dengan gerak bibir yang tanpa suara. Tentu saja Kartikosari terkejut. Tadinya wanita ini sudah merasa girang karena maklum bahwa ia menang kuat dalam pertemuan lengan, maka ia menjadi agak lengah, apa lagi karena tangan kiri lawan bergerak terlalu cepat menuju ke pundak, ia tidak sempat mengelak. Ia ingin merobohkan lawan dengan tindihan tenaga Gelap Musti siapa kira setelah pundak dekat lehemya tersentuh jari tangan Raden Wisangjiwo, mendadak ia merasa betapa jantungnya berdenyutan, darahnya bergolak dan nafsu berahi mengamuk di benaknya. Kartikosari terkejut dan berusaha melawan dorongan nafsu yang seperti ditimbulkan oleh iblis Ini, namun dengan usaha ini, ia harus mengerahkan hawa saktinya sehingga saluran hawa panas pada pukulan Gelap Musti di lengan menjadi habis daya. Inilah yang mencelakakan Kartikosari. Begitu hawa pukulan Gelap Musti membuyar.. ia terserang oleh hawa pukulan dingin dari dorongan ilmu pukulan Tirto Rudiro hawa dingin yang menyusup dari lengan menyerang isi dadanya. Kartikosari menjerit dan roboh terguling ke sudut guha.
“Wisangjiwo keparat, kaulukai isteriku?” Pujo marah sekali dan dengan gerakan kilat ia menerjang putera adipati itu. Namun Raden Wisangjiwo sambil tersenyum mengejek sudah mengelak sehingga pukulan Pujo lewat di atas kepalanya.

Sambil mengelak kaki Raden Wisangjiwo melayang ke arah lambung kiri Pujo, disusul tamparan tangan kiri dengan jari terbuka. Hebat serangan ini karena yang diserang kaki adalah lambung kiri dan yang diancam tamparan tangan adalah leher, dua tempat yang apabila terkena dapat mendatangkan maut. Pujo yang merasa gelisah melihat isterinya pingsan, mengeluarkan ajiannya yang ia dapat dari guru dan ayah mertuanya, yaitu ilmu meringankan tubuh cepat Bayu Tantra (Gerak Angin) berkelebat cepat dan berhasil menghindarkan diri dari pada tendangan dan pukulan lawan. Kemudian kembali Pujo membalas serangan lawannya yang sakti ini dengan pukulan Gelap Musti seperti yang dilakukan isterinya tadi. Tingkat kepandaian Pujo lebih unggul dari pada Kartikosari, maka penggunaan Gelap Musti ia menang setingkat, maka pukulannya ini tentu saja lebih hebat dari pada yang dilakukan Kartikosari tadi. Raden Wisangjiwo terkejut. Tadi ia telah merasai kehebatan ilmu pukulan yang mengandung hawa panas lahar ini dari Kartikosari, maka, tentu saja ia tidak berani berlaku sembrono. Dengan geseran kaki ke kanan ia miringkan tubuhnya sehingga pukulan lawan tidak langsung menghantamnya, kemudian ia mengerahkan ajiannya untuk menyampok pukulan yang dahsyat itu dari samping, menggunakan ilmu barunya, pukulan Tirto Rudiro.
“Plakkk”
Pukulannya tepat mengenai lengan Pujo dari samping. Menurut perhitungan, Raden Wisangjiwo menang posisi karena ia memukul dari samping. Akan tetapi kenyataannya adalah hebat. Begitu kepalan tangannya yang menggenggam Kerang Merah itu menghantam lengan Pujo, tubuh Raden Wisangjiwo serasa dibakar api neraka. Ia menarik tangannya dan oleh hawa pukulan lawan ditambah daya tariknya, tubuhnya mencelat ke belakang, menabrak dinding guha dan terbanting ke bawah. Ia mengerang kesakitan, akan tetapi sebagai murid manusia iblis yang sudah memiliki tubuh kebal, tentu saja pertemuan keras dengan batu karang itu tidak membuatnya luka. Sambil menggereng marah ia melompat bangun lagi. Ketika melihat Pujo menoleh ke arah isterinya yang masih pingsan, Raden Wisangjiwo lalu menyambar sebuah batu karang sebesar perut kerbau bunting di sebelahnya. Batu karang ini beratnya melebihi seekor kerbau bunting sendiri, namun dengan pengerahan tenaga saktinya, ia dapat mengangkatnya dengan mudah ke atas kepala, lalu melontarkan batu besar itu ke arah kepala Pujo yang berdiri dalam jarak empat meter. Terdengar angin menguik ketika batu besar itu terbang melayang dengan cepat ke arah Pujo.
“Drrrrr”
Batu karang yang besar itu hancur luluh dan pecah berhamburan ketika bertemu dengan pukulan ujung-ujung jari tangan Pujo. Hebat dan dahsyatnya bukan kepalang gerakan orang muda ini ketika menyambut batu karang. Jauh lebih hebat dari pada ilmu pukulan Gelap Musti, tidak mengandung hawa panas lagi, akan tetapi mengandung kekuatan yang tak terukur besamya. Itulah aji kesaktian yang disebut ilmu Pethit Nogo (Ekor Naga) yang menjadi ilmu simpanan dari Resi Bhargowo. Dengan Ilmu Pethit Nogo inilah puluhan tahun yang lalu Resi Bhargowo membuat nama besar. Dan hanya kepada Pujo seorang ilmu ini diturunkan, bahkan kepada puterinya sendiripun tidak. Tidak sembarang orang dapat menerima aji ini, karena banyak yang takkan kuat menahan. Dan ilmu inipun merupakan ilmu simpanan yang takkan dipergunakan kalau tidak terpaksa. Sebetulnya, serangan batu karang yang dilontarkan itu tidaklah berbahaya bagi seorang pendekar seperti Pujo, dan tanpa penggunaan Pethit Nogo sekalipun ia tentu akan sanggup menghindar. Akan tetapi Pujo sedang marah dan gelisah melihat isterinya, maka dalam kemarahannya itu ia menghajar batu karang yang menyambarnya.

Raden Wisangjiwo sendiri terkejut setengah mati ketika melihat cahaya menyilaukan seperti keluar dari tangan Pujo, menyambar batu karang dan menghancurkannya. Maklumlah ia bahwa Pujo benar-benar merupakan lawan yang amat berat, maka cepat ia meloloskan senjatanya dari pinggang sambil menyimpan Kerang Merahnya.

<<< Bagian 003                                                                                   Bagian 005 >>>

No comments:

Post a Comment