Di lain saat tangannya sudah memegang sebatang cambuk berwama hitam dengan lorek-lorek putih seperti ular belang Bandot, kemudian ia menggerakkan cambuk itu ke atas kepalanya.
“Tar-tar-tarl”
Ledakan-ledakan
seperti halilintar menyambar dan batu karang di langit-langit guha yang terkena
ujung cambuk rontok semua berhamburan. Inilah ilmu Cambuk Sarpokenoko yang
merupakan inti dari pada kesaktian Ni Durgogini, yang sudah menurun kepada
murid tunggalnya yang terkasih.
"Hemm,
Raden Wisangjiwo, sesungguhnya di antara kita tidak terdapat permusuhan,
mengapa engkau begini mendesakku, bahkan telah melukai isteriku? Aku mengenal
cambukmu, apakah kau benar-benar hendak mengadu nyawa?”
“Pengecut
Pujo, tak usah banyak cerewet. Saat ini kematianmu sudah di depan mata. Kau
mampus dan isterimu menjadi milikku semalam suntuk.”
“Keparat”
Pujo marah
sekali dan menerjang ke depan dengan tangan terbuka. Biasanya dalam ilmu silat
pukulan tangan terbuka dilakukan dengan jari-jari tangan saling berapatan dan
ibu jari ditekuk ke dalam. Akan tetapi Ilmu Pethit Nogo lain lagi, mempunyai
keistimewaan tersendiri. Ilmu Pethit Nogo ini bukan mengandalkan keampuhannya
pada pukulan tangan miring atau keampuhan epek-epek (telapakan) tangan.
Melainkan mendasarkan keampuhannya pada ujung-ujung jari tangan! Ujung-ujung
jari tangan inilah yang menjadi pethit (ekor) naga. Oleh karena itu, jari-jari
itu tidak merapat satu kepada yang lain, melainkan terpisah seperti kaki burung
garuda, namun lurus-lurus tidak melengkung atau mencengkeram.
“Tar-tar!
Wesss Ciuuuttt"
Cambuk
Sarpokenoko benar-benar ampuh sekali, ketika diputar membentuk bayang-bayang
hitam namun dayanya seperti halilintar menyambar, hawa pukulannya saja sudah
terasa panas dan kalau mengenal tubuh manusia, konon akibatnya seperti sambaran
petir, kulit tubuh bisa mlonyoh seperti tersiram air mendidih!
Namun Pujo
sudah cukup waspada. la cepat mempergunakan Aji Bayu Tantra sehingga tubuhnya
menjadi ringan seperti sehelai daun dan cepat seperti angin, kemanapun juga
ujung cambuk lawan menerjang, tubuhnya sudah mendahului berpindah tempat.
Kadang-kadang kedua tangannya yang mainkan ilmu silat Pethit Nogo menyambar
dengan serangan balasan yang dahsyat. Bahkan jari-jari tangan yang sudah
kemasukan Aji Pethit Nogo, kadang-kadang berani menangkap ujung cambuk dan
begitu bertemu, ujung cambuk seperti menghantam karet, terpental kembali
memukul pemegangnya!.
Raden
Wisangjiwo makin penasaran dan marah. Beberapa kali hampir saja ia termakan
jari-jari tangan ampuh itu, karena setiap kali menyerang, gerakan lawannya
cepat sekali membuat ia repot dan hampir tidak mendapat kesempatan mengelak.
Maklum bahwa ia tak dapat mengatasi kehebatan lawan hanya dengan Ilmu Cambuk
Sarpokenoko, dengan kemarahan meluap-luap Raden Wisangjiwo lalu memindahkan
cambuk ke tangan kiri, tangan kanannya mengeluarkan Kerang Merah dan mulailah
ia menggunakan ajinya Tirto Rudiro di samping Ilmu Cambuk Sarpokenoko! Bukan
main hebatnya pertandingan antara dua orang muda murid guru-guru yang sakti
ini. Setengah jam lebih mereka bertanding, dan mulut guha sudah mulai gelap.
Raden Wisangjiwo berseru keras ketika tangan kanannya memukulkan Aji Tirto
Rudiro. Ketika Pujo menggunakan tangan kiri menangkis, cambuknya sudah
menyambar dengan cara melibat dari belakang, mengarah leher lawan. Pujo tak
sempat mengelak karena lengan kirinya masih "lekat" dengan lengan
kanan lawan, maka cepat ia menundukkan kepala dan tangan kanannya menangkap
ujung cambuk! Hebat cengkeraman tangan dengan jari-jari yang merupakan Pethit
Nogo ini, sekali ia mengerahkan tenaga membetot, terdengar suara keras dan
cambuk itu patah ujungnya!.
Raden
Wisangjiwo kaget, kembali tangan kanannya memukul, namun tertangkis tangan kiri
dan pada saat itu Pujo sudah menggunakan tangan kanannya menampar pundaknya.
"Plakkkk!"
Kelihatannya
perlahan saja jari-jari tangan kanan Pujo menyentuh pundak, akan tetapi
akibatnya hebat karena inilah pukulan Pethit Nogo!
"Aduuhhhh......!"
Raden
Wisangjiwo berseru kesakitan, tubuhnya terlempar dan sekali lagi terbanting
pada dinding guha. Pujo tidak memperdulikannya lagi, melainkan cepat-cepat ia
menghampiri istrinya. Kartikosari sudah siuman, akan tetapi wanita ini merasa
betapa isi dadanya panas seperti terbakar, kepalanya pening dan seluruh
tubuhnya sakit-sakit. Maka ia telah duduk bersila, tidak berani membagi
perhatian ke luar, melainkan mengeraskannya ke dalam untuk mengumpulkan hawa
murni dan menghalau hawa beracun yang mengeram di dalam tubuhnya.
Melihat
keadaan isterinya, Pujo kaget sekali. Begitu memegang pergelangan tangan
isterinya dan memandang wajahnya dalam keadaan remang-remang itu, maklumlah ia
apa yang terjadi. Isterinya terserang pukulan berbisa dan perlu segera
ditolong. Keadaan isteri terkasih inilah yang membuat Pujo terlengah. Ia lalu
duduk bersila di depan Kartikosari, menempelkan telapak kedua tangannya kepada
telapak tangan isterinya, lalu ia mengumpulkan daya cipta dan mengerahkan
ajinya sehingga hawa sakti dari dalam tubuhnya mengalir bagaikan air bah
melalui telapak tangan mereka, masuk ke dalam tubuh isterinya dan merupakan
tenaga maha kuat membantu isterinya menghalau pergi hawa beracun.
Pujo memang
terlalu baik hati. Kalau saja ia tadi tidak menaruh kasihan kepada Raden
Wisangjiwo sehingga dalam pukulannya ia mengerahkan seluruh tenaganya, tentu
lawan itu telah tewas. Kalau saja ia tidak terlalu percaya bahwa lawan tentu
malu untuk melakukan penyerangan gelap, tentu ia takkan selengah itu, atau
kalau saja ia tidak terlalu khawatir akan keadaan isterinya yang tercinta,
tentu ia akan berlaku hati-hati. Akan tetapi, setiap kejadian di dunia ini
memang sudah teratur terlebih dahulu oleh kekuasaan yang melebihi segala
kekuasaan di dunia. Ada saja sebabnya sehingga terjadilah hal yang semestinya
terjadi. Pujo yang sedang tekun mengerahkan tenaga dalam, sama sekali tidak
tahu bahwa Raden Wisangjiwo berindap-indap menghampirinya dari belakang,
menggenggam Kerang Merah lalu menggerakkan tangan kanan menghantam punggungnya.
"Dessss......!!
"
Hebat pukulan
ini. Biarpun Raden Wisangjiwo sudah terluka, namun ilmu pukulan Tirto Rudiro
ini memang hebat. Seketika tubuh Pujo terguling dan menggigil kedinginan, juga
Kartikosari terserang pula, namun tidak sehebat suaminya. Wanita ini terguling
dan pingsan kembali. Pujo berusaha bangun, akan tetapi sebuah tendangan
membuatnya terlempar ke sudut guha.
"Huah-ha-ha-hahI
Pujo, kau mau bisa apakah sekarang? Aku tidak akan membunuhmu, biarlah
kausaksikan betapa isterimu menjadi milikku malam ini. Huah-ha-ha-hah!"
Seperti
seorang mabok atau gila, Raden Wisangjiwo menghampiri tubuh Kartikosari yang
menggeletak miring dalam keadaan tak sadar. Memang putera adipati itu mabok,
mabok oleh nafsunya sendiri. Dan memang ia gila, karena orang yang mabok oleh
nafsunya sendiri, yang diperhamba nafsu, tiada ubahnya seorang gila yang hilang
akan kesadarannya sebagai manusia. Bahagialah dia yang dapat menguasai
nafsunya, sebaliknya celakalah mereka yang menjadi hamba dari pada nafsunya
sendiri!.
Biarpun
keadaan sudah remang-remang, namun masih tampak jelas tubuh berbentuk indah tergolek
di depannya. Dengan kasar Raden Wisangjiwo menggunakan kakinya menggerakkan
tubuh Kartikosari sehingga terlentang. Sebagian rambutnya yang panjang terurai
itu menutupi muka dan leher yang putih menguning. Dalam pertandingan tadi
kainnya mengendur ikatannya sehingga agak melorot dan membayangkan keindahan
dadanya. Raden Wisangjiwo menelan ludah, lalu tertawa dan kedua tangannya
menjangkau.
Tiba-tiba ia
tersentak kaget dan melangkah mundur, keningnya berkerut. Ketika tangannya
menjangkau hendak menjamah, terasa olehnya Kerang Merah tergenggam ditangan
kanannya tadi ia menggunakan Kerang Merah untuk memukul Pujo dengan Aji Tirto
Rudiro. Kerang Merah inilah yang mengingatkan dia. Bibi gurunya berpesan agar
ia memperdalam ilmu sakti Tirto Rudiro, akan tetapi ia harus berpantang, tidak
boleh mendekati wanita selama dua puluh satu hari! Dan baru sehari saja kini ia
akan melanggar pantangan. Jantungnya berdebar dan seluruh tubuhnya terasa
dingin. Untung ia teringat. Ilmunya harus diperdalam, apalagi setelah ada
permusuhan ini. Resi Bhargowo tak boleh dibuat main-main. Ia menoleh dan
melihat betapa Pujo masih menggeletak tak bergerak. Siapa tahu Pujo tewas
karena pukulannya tadi. Tentu Resi Bhargowo takkan tinggal diam. Ia bergidik
mengingat hal ini. Baru muridnya saja, Pujo sudah sedemikian saktinya, apa lagi
gurunya!.
Rasa takut
menggerogoti hati Raden Wisangjiwo, membuat nafsu berahinya lenyap dan sirna
seketika. Ia menghampiri Pujo yang tak bergerak-gerak, lalu meludah dan tertawa
bergelak sambil melompat keluar dari dalam guha. Ia harus cepat-cepat pergi
mendapatkan gurunya, Ni Durgogini untuk menceritakan kejadian ini agar gurunya
dapat membelanya apa bila Resi Bhargowo mencarinya dan membalas.
Suara
ketawanya masih terdengar bergema, makin lama makin lemah, ketika Raden
Wisangjiwo berlompat-lompatan naik meninggalkan pantai selatan yang menyeramkan
ini, naik melalui jalan yang sukar itu menuju ke atas tebing.
Pujo membuka
matanya. Guha mulai gelap. Ia cepat bangkit duduk karena teringat kepada
isterinya. Ketika ia memandang, hampir ia pingsan kembali. Isterinya sedang
meronta-ronta, menggunakan tangan kaki menolak seorang laki-laki yang hendak
memeluknya, memperdengarkan sedu sedan dan isak tangis.
"Raden
Wisangjiwo, lepaskan dia......!"
Pujo melompat
bangun dan meringis karena rasa nyeri menusuk jantungnya, dan tubuhnya
tiba-tiba menggigil kedinginan. Orang itu kaget dan melepaskan Kartikosari.
Wanita ini sebetulnya adalah seorang wanita sakti yang tidak akan mudah begitu
saja dipermainkan orang. Akan tetapi ia masih setengah lumpuh oleh daya pukulan
Tirto Rudiro sehingga tenaga saktinya untuk sementara lenyap dan ia mengadakan
perlawanan dengan tenaga seorang wanita biasa. Sambil memaksakan diri Pujo
sudah bangkit dan terhuyung-huyung menerjang orang yang disangkanya Raden
Wisangjiwo itu, namun dengan gerakan sigap sekali orang itu mengelak ke samping
sambil mengayun kaki. Tanpa dapat dicegah lagi Pujo kena tertendang dadanya dan
tubuhnya terlempar kembali ke sudut guha. Tendangan orang itu antep sekali dan
rasanya dadanya seperti akan melesak, napasnya sesak. Pujo hendak bergerak
bangun, akan tetapi sia-sia. Tenaganya habis dan seluruh tubuhnya sakit-sakit,
matanya berkunang-kunang, kepalanya pening dan ia hampir pingsan. Hanya jerit
isterinya yang menyeretnya ke alam kesadaran, yang membuat ia terpaksa membuka
matanya menembus cuaca remang-remang, la melihat betapa isterinya
meronta-ronta, kemudian terdengar kain terobek disusul lengking isterinya yang
seakan-akan mencabut jantungnya. Pujo mengerahkan tenaga melompat bangun, akan
tetapi hal ini membuat ia menyemburkan darah hidup dan roboh kembali, pingsan.
Suara terakhir yang didengarnya hanyalah lengking mengerikan di tengah-tengah
suara ketawa iblis!
Siapakah
sesungguhnya manusia iblis yang disangka Raden Wisangjiwo oleh Pujo dan
Kartikosari itu? Bagaimana ia bisa tiba secara kebetulan pada saat Pujo dan
isterinya terluka dan tak berdaya?. Dia juga seorang pemuda yang tampan,
seorang pemuda perkasa yang biasanya dianggap sebagai seorang pendekar gemblengan.
Sesungguhnya dia bukanlah orang asing, bahkan ada hubungan seperguruan yang
dekat dengan Pujo dan Kartikosari, karena dia inilah Jokowanengpati, seorang di
antara murid-murid terpandai dari Empu Bharodo di Mataram! Empu Bharodo adalah
seorang pendeta yang amat terkenal di Mataram, bahkan dihormati oleh Raja
Airlangga sendiri yang menganggapnya sebagai seorang pertapa sakti mandraguna
yang sukar dicari tandingnya. Sebagai murid seorang pertapa sakti seperti Empu
Bharodo, sudah tentu saja Jokowanengpati amatlah tangguh. Adapun Empu Bharodo
adalah terhitung kakak seperguruan atau kakak angkat dari Resi Bhargowo, maka
sesungguhnya di antara Jokowanengpati dan suami isteri di Guha Siluman itu
masih terdapat pertalian atau hubungan seperguruan atau sealiran. Agaknya
hubungan dengan Empu Bharodo yang membantu Mataram inilah yang membuat Resi
Bhargowo melarang anak dan muridnya membantu perjuangan menentang Mataram
setahun yang lalu. Dua tahun yang lalu, pernah Empu Bharodo mengusulkan
perjodohan dengan keponakannya, Kartikosari dengan Jokowanengpati, akan tetapi
usul itu ditolak oleh Resi Bhargowo yang sudah waspada akan isi hati anaknya
yang jatuh cinta kepada murid tunggalnya sendiri, Pujo. Penolakan ini bagi Empu
Bharodo bukan apa-apa dan sudah sewajarnya, namun tidak demikianlah bagi
Jokowanengpati. Diam-diam ia sudah tergila-gila kepada Kartikosari yang denok
ayu, sehingga membuat ia gandrung-gandrung rindu dendam mabok kepayang. Agaknya
sudah menjadi kehendak Dewata bahwa inilah yang menjadi lantaran runtuhnya
pertahanan batin Jokowanengpati, ataukah memang pada dasarnya pemuda ini tidak
memiliki batin yang kuat. Kalau tadinya ia merupakan seorang ksatria utama
pembela kebenaran dan keadilan, seorang murid yang disayang gurunya karena
selalu mengutamakan kebajikan, setelah kegagalan perjodohan itu, Jokowanengpati
melampiaskan nafsu dan kekecewaannya kepada dara-dara di luar kota raja!
No comments:
Post a Comment