Badai Laut Selatan ; Bagian 005


Di lain saat tangannya sudah memegang sebatang cambuk berwama hitam dengan lorek-lorek putih seperti ular belang Bandot, kemudian ia menggerakkan cambuk itu ke atas kepalanya.
“Tar-tar-tarl”
Ledakan-ledakan seperti halilintar menyambar dan batu karang di langit-langit guha yang terkena ujung cambuk rontok semua berhamburan. Inilah ilmu Cambuk Sarpokenoko yang merupakan inti dari pada kesaktian Ni Durgogini, yang sudah menurun kepada murid tunggalnya yang terkasih.
"Hemm, Raden Wisangjiwo, sesungguhnya di antara kita tidak terdapat permusuhan, mengapa engkau begini mendesakku, bahkan telah melukai isteriku? Aku mengenal cambukmu, apakah kau benar-benar hendak mengadu nyawa?”
“Pengecut Pujo, tak usah banyak cerewet. Saat ini kematianmu sudah di depan mata. Kau mampus dan isterimu menjadi milikku semalam suntuk.”
“Keparat”
Pujo marah sekali dan menerjang ke depan dengan tangan terbuka. Biasanya dalam ilmu silat pukulan tangan terbuka dilakukan dengan jari-jari tangan saling berapatan dan ibu jari ditekuk ke dalam. Akan tetapi Ilmu Pethit Nogo lain lagi, mempunyai keistimewaan tersendiri. Ilmu Pethit Nogo ini bukan mengandalkan keampuhannya pada pukulan tangan miring atau keampuhan epek-epek (telapakan) tangan. Melainkan mendasarkan keampuhannya pada ujung-ujung jari tangan! Ujung-ujung jari tangan inilah yang menjadi pethit (ekor) naga. Oleh karena itu, jari-jari itu tidak merapat satu kepada yang lain, melainkan terpisah seperti kaki burung garuda, namun lurus-lurus tidak melengkung atau mencengkeram.
“Tar-tar! Wesss Ciuuuttt"
Cambuk Sarpokenoko benar-benar ampuh sekali, ketika diputar membentuk bayang-bayang hitam namun dayanya seperti halilintar menyambar, hawa pukulannya saja sudah terasa panas dan kalau mengenal tubuh manusia, konon akibatnya seperti sambaran petir, kulit tubuh bisa mlonyoh seperti tersiram air mendidih!

Namun Pujo sudah cukup waspada. la cepat mempergunakan Aji Bayu Tantra sehingga tubuhnya menjadi ringan seperti sehelai daun dan cepat seperti angin, kemanapun juga ujung cambuk lawan menerjang, tubuhnya sudah mendahului berpindah tempat. Kadang-kadang kedua tangannya yang mainkan ilmu silat Pethit Nogo menyambar dengan serangan balasan yang dahsyat. Bahkan jari-jari tangan yang sudah kemasukan Aji Pethit Nogo, kadang-kadang berani menangkap ujung cambuk dan begitu bertemu, ujung cambuk seperti menghantam karet, terpental kembali memukul pemegangnya!.
Raden Wisangjiwo makin penasaran dan marah. Beberapa kali hampir saja ia termakan jari-jari tangan ampuh itu, karena setiap kali menyerang, gerakan lawannya cepat sekali membuat ia repot dan hampir tidak mendapat kesempatan mengelak. Maklum bahwa ia tak dapat mengatasi kehebatan lawan hanya dengan Ilmu Cambuk Sarpokenoko, dengan kemarahan meluap-luap Raden Wisangjiwo lalu memindahkan cambuk ke tangan kiri, tangan kanannya mengeluarkan Kerang Merah dan mulailah ia menggunakan ajinya Tirto Rudiro di samping Ilmu Cambuk Sarpokenoko! Bukan main hebatnya pertandingan antara dua orang muda murid guru-guru yang sakti ini. Setengah jam lebih mereka bertanding, dan mulut guha sudah mulai gelap. Raden Wisangjiwo berseru keras ketika tangan kanannya memukulkan Aji Tirto Rudiro. Ketika Pujo menggunakan tangan kiri menangkis, cambuknya sudah menyambar dengan cara melibat dari belakang, mengarah leher lawan. Pujo tak sempat mengelak karena lengan kirinya masih "lekat" dengan lengan kanan lawan, maka cepat ia menundukkan kepala dan tangan kanannya menangkap ujung cambuk! Hebat cengkeraman tangan dengan jari-jari yang merupakan Pethit Nogo ini, sekali ia mengerahkan tenaga membetot, terdengar suara keras dan cambuk itu patah ujungnya!.
Raden Wisangjiwo kaget, kembali tangan kanannya memukul, namun tertangkis tangan kiri dan pada saat itu Pujo sudah menggunakan tangan kanannya menampar pundaknya.
"Plakkkk!"
Kelihatannya perlahan saja jari-jari tangan kanan Pujo menyentuh pundak, akan tetapi akibatnya hebat karena inilah pukulan Pethit Nogo!
"Aduuhhhh......!"
Raden Wisangjiwo berseru kesakitan, tubuhnya terlempar dan sekali lagi terbanting pada dinding guha. Pujo tidak memperdulikannya lagi, melainkan cepat-cepat ia menghampiri istrinya. Kartikosari sudah siuman, akan tetapi wanita ini merasa betapa isi dadanya panas seperti terbakar, kepalanya pening dan seluruh tubuhnya sakit-sakit. Maka ia telah duduk bersila, tidak berani membagi perhatian ke luar, melainkan mengeraskannya ke dalam untuk mengumpulkan hawa murni dan menghalau hawa beracun yang mengeram di dalam tubuhnya.

Melihat keadaan isterinya, Pujo kaget sekali. Begitu memegang pergelangan tangan isterinya dan memandang wajahnya dalam keadaan remang-remang itu, maklumlah ia apa yang terjadi. Isterinya terserang pukulan berbisa dan perlu segera ditolong. Keadaan isteri terkasih inilah yang membuat Pujo terlengah. Ia lalu duduk bersila di depan Kartikosari, menempelkan telapak kedua tangannya kepada telapak tangan isterinya, lalu ia mengumpulkan daya cipta dan mengerahkan ajinya sehingga hawa sakti dari dalam tubuhnya mengalir bagaikan air bah melalui telapak tangan mereka, masuk ke dalam tubuh isterinya dan merupakan tenaga maha kuat membantu isterinya menghalau pergi hawa beracun.
Pujo memang terlalu baik hati. Kalau saja ia tadi tidak menaruh kasihan kepada Raden Wisangjiwo sehingga dalam pukulannya ia mengerahkan seluruh tenaganya, tentu lawan itu telah tewas. Kalau saja ia tidak terlalu percaya bahwa lawan tentu malu untuk melakukan penyerangan gelap, tentu ia takkan selengah itu, atau kalau saja ia tidak terlalu khawatir akan keadaan isterinya yang tercinta, tentu ia akan berlaku hati-hati. Akan tetapi, setiap kejadian di dunia ini memang sudah teratur terlebih dahulu oleh kekuasaan yang melebihi segala kekuasaan di dunia. Ada saja sebabnya sehingga terjadilah hal yang semestinya terjadi. Pujo yang sedang tekun mengerahkan tenaga dalam, sama sekali tidak tahu bahwa Raden Wisangjiwo berindap-indap menghampirinya dari belakang, menggenggam Kerang Merah lalu menggerakkan tangan kanan menghantam punggungnya.
"Dessss......!! "
Hebat pukulan ini. Biarpun Raden Wisangjiwo sudah terluka, namun ilmu pukulan Tirto Rudiro ini memang hebat. Seketika tubuh Pujo terguling dan menggigil kedinginan, juga Kartikosari terserang pula, namun tidak sehebat suaminya. Wanita ini terguling dan pingsan kembali. Pujo berusaha bangun, akan tetapi sebuah tendangan membuatnya terlempar ke sudut guha.
"Huah-ha-ha-hahI Pujo, kau mau bisa apakah sekarang? Aku tidak akan membunuhmu, biarlah kausaksikan betapa isterimu menjadi milikku malam ini. Huah-ha-ha-hah!"
Seperti seorang mabok atau gila, Raden Wisangjiwo menghampiri tubuh Kartikosari yang menggeletak miring dalam keadaan tak sadar. Memang putera adipati itu mabok, mabok oleh nafsunya sendiri. Dan memang ia gila, karena orang yang mabok oleh nafsunya sendiri, yang diperhamba nafsu, tiada ubahnya seorang gila yang hilang akan kesadarannya sebagai manusia. Bahagialah dia yang dapat menguasai nafsunya, sebaliknya celakalah mereka yang menjadi hamba dari pada nafsunya sendiri!.

Biarpun keadaan sudah remang-remang, namun masih tampak jelas tubuh berbentuk indah tergolek di depannya. Dengan kasar Raden Wisangjiwo menggunakan kakinya menggerakkan tubuh Kartikosari sehingga terlentang. Sebagian rambutnya yang panjang terurai itu menutupi muka dan leher yang putih menguning. Dalam pertandingan tadi kainnya mengendur ikatannya sehingga agak melorot dan membayangkan keindahan dadanya. Raden Wisangjiwo menelan ludah, lalu tertawa dan kedua tangannya menjangkau.
Tiba-tiba ia tersentak kaget dan melangkah mundur, keningnya berkerut. Ketika tangannya menjangkau hendak menjamah, terasa olehnya Kerang Merah tergenggam ditangan kanannya tadi ia menggunakan Kerang Merah untuk memukul Pujo dengan Aji Tirto Rudiro. Kerang Merah inilah yang mengingatkan dia. Bibi gurunya berpesan agar ia memperdalam ilmu sakti Tirto Rudiro, akan tetapi ia harus berpantang, tidak boleh mendekati wanita selama dua puluh satu hari! Dan baru sehari saja kini ia akan melanggar pantangan. Jantungnya berdebar dan seluruh tubuhnya terasa dingin. Untung ia teringat. Ilmunya harus diperdalam, apalagi setelah ada permusuhan ini. Resi Bhargowo tak boleh dibuat main-main. Ia menoleh dan melihat betapa Pujo masih menggeletak tak bergerak. Siapa tahu Pujo tewas karena pukulannya tadi. Tentu Resi Bhargowo takkan tinggal diam. Ia bergidik mengingat hal ini. Baru muridnya saja, Pujo sudah sedemikian saktinya, apa lagi gurunya!.
Rasa takut menggerogoti hati Raden Wisangjiwo, membuat nafsu berahinya lenyap dan sirna seketika. Ia menghampiri Pujo yang tak bergerak-gerak, lalu meludah dan tertawa bergelak sambil melompat keluar dari dalam guha. Ia harus cepat-cepat pergi mendapatkan gurunya, Ni Durgogini untuk menceritakan kejadian ini agar gurunya dapat membelanya apa bila Resi Bhargowo mencarinya dan membalas.
Suara ketawanya masih terdengar bergema, makin lama makin lemah, ketika Raden Wisangjiwo berlompat-lompatan naik meninggalkan pantai selatan yang menyeramkan ini, naik melalui jalan yang sukar itu menuju ke atas tebing.

Pujo membuka matanya. Guha mulai gelap. Ia cepat bangkit duduk karena teringat kepada isterinya. Ketika ia memandang, hampir ia pingsan kembali. Isterinya sedang meronta-ronta, menggunakan tangan kaki menolak seorang laki-laki yang hendak memeluknya, memperdengarkan sedu sedan dan isak tangis.
"Raden Wisangjiwo, lepaskan dia......!"
Pujo melompat bangun dan meringis karena rasa nyeri menusuk jantungnya, dan tubuhnya tiba-tiba menggigil kedinginan. Orang itu kaget dan melepaskan Kartikosari. Wanita ini sebetulnya adalah seorang wanita sakti yang tidak akan mudah begitu saja dipermainkan orang. Akan tetapi ia masih setengah lumpuh oleh daya pukulan Tirto Rudiro sehingga tenaga saktinya untuk sementara lenyap dan ia mengadakan perlawanan dengan tenaga seorang wanita biasa. Sambil memaksakan diri Pujo sudah bangkit dan terhuyung-huyung menerjang orang yang disangkanya Raden Wisangjiwo itu, namun dengan gerakan sigap sekali orang itu mengelak ke samping sambil mengayun kaki. Tanpa dapat dicegah lagi Pujo kena tertendang dadanya dan tubuhnya terlempar kembali ke sudut guha. Tendangan orang itu antep sekali dan rasanya dadanya seperti akan melesak, napasnya sesak. Pujo hendak bergerak bangun, akan tetapi sia-sia. Tenaganya habis dan seluruh tubuhnya sakit-sakit, matanya berkunang-kunang, kepalanya pening dan ia hampir pingsan. Hanya jerit isterinya yang menyeretnya ke alam kesadaran, yang membuat ia terpaksa membuka matanya menembus cuaca remang-remang, la melihat betapa isterinya meronta-ronta, kemudian terdengar kain terobek disusul lengking isterinya yang seakan-akan mencabut jantungnya. Pujo mengerahkan tenaga melompat bangun, akan tetapi hal ini membuat ia menyemburkan darah hidup dan roboh kembali, pingsan. Suara terakhir yang didengarnya hanyalah lengking mengerikan di tengah-tengah suara ketawa iblis!

Siapakah sesungguhnya manusia iblis yang disangka Raden Wisangjiwo oleh Pujo dan Kartikosari itu? Bagaimana ia bisa tiba secara kebetulan pada saat Pujo dan isterinya terluka dan tak berdaya?. Dia juga seorang pemuda yang tampan, seorang pemuda perkasa yang biasanya dianggap sebagai seorang pendekar gemblengan. Sesungguhnya dia bukanlah orang asing, bahkan ada hubungan seperguruan yang dekat dengan Pujo dan Kartikosari, karena dia inilah Jokowanengpati, seorang di antara murid-murid terpandai dari Empu Bharodo di Mataram! Empu Bharodo adalah seorang pendeta yang amat terkenal di Mataram, bahkan dihormati oleh Raja Airlangga sendiri yang menganggapnya sebagai seorang pertapa sakti mandraguna yang sukar dicari tandingnya. Sebagai murid seorang pertapa sakti seperti Empu Bharodo, sudah tentu saja Jokowanengpati amatlah tangguh. Adapun Empu Bharodo adalah terhitung kakak seperguruan atau kakak angkat dari Resi Bhargowo, maka sesungguhnya di antara Jokowanengpati dan suami isteri di Guha Siluman itu masih terdapat pertalian atau hubungan seperguruan atau sealiran. Agaknya hubungan dengan Empu Bharodo yang membantu Mataram inilah yang membuat Resi Bhargowo melarang anak dan muridnya membantu perjuangan menentang Mataram setahun yang lalu. Dua tahun yang lalu, pernah Empu Bharodo mengusulkan perjodohan dengan keponakannya, Kartikosari dengan Jokowanengpati, akan tetapi usul itu ditolak oleh Resi Bhargowo yang sudah waspada akan isi hati anaknya yang jatuh cinta kepada murid tunggalnya sendiri, Pujo. Penolakan ini bagi Empu Bharodo bukan apa-apa dan sudah sewajarnya, namun tidak demikianlah bagi Jokowanengpati. Diam-diam ia sudah tergila-gila kepada Kartikosari yang denok ayu, sehingga membuat ia gandrung-gandrung rindu dendam mabok kepayang. Agaknya sudah menjadi kehendak Dewata bahwa inilah yang menjadi lantaran runtuhnya pertahanan batin Jokowanengpati, ataukah memang pada dasarnya pemuda ini tidak memiliki batin yang kuat. Kalau tadinya ia merupakan seorang ksatria utama pembela kebenaran dan keadilan, seorang murid yang disayang gurunya karena selalu mengutamakan kebajikan, setelah kegagalan perjodohan itu, Jokowanengpati melampiaskan nafsu dan kekecewaannya kepada dara-dara di luar kota raja!

<<< Bagian 004                                                                                   Bagian 006 >>>

No comments:

Post a Comment