Badai Laut Selatan ; Bagian 006


Ia menculik, mempermainkan dan memperkosa gadis-gadis, bahkan isteri orang yang muda dan cantik, asal yang menggerakkan seleranya tentu akan ia culik, mengandalkan kepandaiannya! Makin ia turuti, makin menggelora iblis menguasai dirinya, makin menghebat nafsunya sehingga akhirnya ia dicari oleh Empu Bharodo untuk disuruh mempertanggung jawabkan semua perbuatannya yang keji. Namun Jokowanengpati melarikan diri, merantau ke barat dan terkenallah ia sebagai seorang tampan, sakti dan cabul. Betapapun juga, Jokowanengpati tidak melupakan bahwa ia harus selalu menggembleng diri dan memupuk kepandaiannya, karena kalau tidak, tentu ia kelak akan celaka, apalagi kalau sampai bertemu dengan gurunya.

Inilah sebabnya maka Jokowanengpati pergi ke Guha Siluman untuk bertapa, karena daerah pantai Laut Selatan ini memang terkenal sebagai daerah yang baik sekali untuk bertapa dan mencari pusaka bagi para ahli tapa dan pendekar. Sudah dua hari dua malam Jokowanengpati bertapa di sebelah dalam Guha Siluman, di sudut sebelah dalam yang amat gelap, bertapa sambil duduk bersila di atas batu karang yang menonjol setinggi satu meter berbentuk runcing. Ia telah mewarisi Ilmu Bayusakti dari gurunya, maka ia sanggup bertapa di atas batu karang yang meruncing itu selama dua hari dua malam. Pada senja itu ketika Pujo dan Kartikosari memasuki guha, Jokowanengpati sesungguhnya sudah berada di sebelah dalam guha! Ia kaget sekali, mula-mula mengira bahwa kedatangan dua orang yang dikenalnya itu merupakan utusan gurunya untuk menangkapnya. Betapa lega hatinya mendengar percakapan suami isteri itu yang sama sekali tidak ada hubungan dengan dirinya dan ia terbelalak dengan jantung berdebar-debar melihat suami isteri itu menanggalkan seluruh pakaian. Karena suami isteri itu berada di mulut guha dan dia berada di sebelah dalam guha yang amat gelap, tentu saja semua perbuatan mereka itu dapat ia lihat dengan jelas sekali. Maka ia dapat menyaksikan semua gerak-gerik Kartikosari yang dahulu membuat ia mabok kepayang. Kini melihat wanita yang pernah dicintainya secara diam-diam itu menanggalkan pakaian dan duduk bersila bertelanjang bulat, Jokowanengpati hampir tak kuat menahan gelora hatinya. Jantungnya meloncat-loncat serasa hendak copot, matanya melotot dan berkali-kali ia menelan ludah. Namun ia cukup mengerti bahwa suami isteri itu adalah murid-murid paman gurunya, Resi Bhargowo yang sakti mandraguna. Tak berani ia berlaku lancang menurutkan nafsu hatinya. Maka iapun hanya dapat menubruk, mendekap dan membelai-belai Kartikosari dalam benaknya yang kotor saja. Kemudian muncullah Raden Wisangjiwo yang mengakibatkan terlukanya Pujo dan isterinya karena kecurangannya. Tentu saja kalau ia mau, Jokowanengpati dapat membantu mereka. Akan tetapi Jokowanengpati sekarang bukanlah murid Empu Bharodo yang dahulu. Melihat perbuatan Wisangjiwo itu, ia malah menyeringai kegirangan. Ia hanya bersiap memberi hajaran kepada Radlen Wisangjiwo kalau pemuda bangsawan ini mengganggu Kartikosari. Namun akhirnya Raden Wisangjiwo yang juga sudah terluka, mengurungkan niatnya mengganggu dan pergi meninggalkan guha, meninggalkan Pujo dan Kartikosari yang sudah terluka hebat dan setengah pingsan.

Manusia adalah makhluk yang paling lemah di antara segala makhluk sehingga mudah terombang-ambing di antara kebaikan dan kejahatan. Sekali hati ini dikuasai nafsu, apa saja akan dilakukannya demi pemuasan nafsu hati. Hati nurani tertutup tabir dari asap hitam yang timbul dari nafsu, segala pertimbangannya patah dan satu-satunya hasrat hanya pelaksanaan dan pemuasan nafsu yang telah menguasai dirinya. Demikian pula halnya dengan Jokowanengpati. Sejak kemarin ia memang telah tenggelam dalam nafsu berahi, namun karena tiada kesempatan, ia masih menahan diri karena pertimbangan keselamatannya. Kini, begitu melihat kesempatan terbuka, gejolak nafsunya tak dapat ia tahan lagi. Tak mungkin ia dapat menyia-nyiakan kesempatan yang demikian baiknya. Di dalam guha sudah gelap, mereka takkan dapat mengenalnya lagi dan diapun muda serta tampan seperti Raden Wisangjiwo. Demikianlah, tanpa membuka mulut mengeluarkan suara, Jokowanengpati menjadi iblis menerkam Kartikosari. Pujo bermimpi. Serasa ia hanyut, diseret dan dipermainkan ombak laut yang bergelora, diangkat tinggi, dibanting dan diangkat kembali. Betapapun ia berusaha untuk berenang ke pantai, ombak selalu menyeretnya kembali ke tengah. Dinginnya bukan main ketika ia dipermainkan ombak, serasa ditusuk-tusuk tulang sungsum, membeku jantungnya dan kaku-kaku seluruh tubuhnya. Hampir tak tertahankan lagi rasa sakit-sakit, hampir ia menangis dan menjerit-jerit kesakitan kalau saja ia tidak teringat bahwa hal demikian bukanlah laku seorang gagah. Lebih baik mati saja. Ia sudah menyerahkan diri, tidak mau lagi melawan ombak mendahsyat, menyerahkan diri dan pasrah kepada kehendak Dewata, menanti datangnya Sang Batara Kala mencaplok tubuhnya dan Sang Batara Yamadipati menjemput nyawanya.
Tiba-tiba ia mendengar suara memanggil,
"Kakangmas Pujo....." Seruan memanggil yang terdengar jauh sekali, akan tetapi berulang-ulang dan makin lama makin jelas.
Suara Kartikosari! Suara isterinya yang tercinta! Suara yang seakan-akan mengembalikan semangatnya, mendatangkan tenaga mujijat ke dalam tubuhnya yang sudah lemah dan kaku. Ia mengerahkan tenaganya dan mulai melawan ombak lagi, berenang ke pantai. Suara itu makin jelas, bahkan kini bercampur dengan isak tangis.
"Duhai kangmas Pujo..... dosa apakah yang kita perbuat..... sehingga kita mengalami semua ini.....?" Suara isterinya terputus-putus oleh sedu sedan.
Isterinya! Kartikosari di dekatnya! Lenyaplah semua ombak, dan kesadaran kembali memasuki benaknya. Di dalam guha, diserang Raden Wisangjiwo, bertempur, terluka dan..... dan.... isterinya meronta-ronta dalam pelukan Raden Wisangjiwo..... terdengar kain terobek dan lengking isterinya mengerikan! Pujo mengerutkan kening, tak berani membuka matanya. Terlampau buruk mimpi itu. Mimpi? Punggungnya masih terasa sakit dan dingin, bekas pukulan berbisa lawan. Dadanya juga masih terasa sakit, bekas tendangan kaki lawan. Mimpi? Bukan mimpi! Kenyataan! Dan Kartikosari?.
".....kakangmas..... mengapa kau diam saja.....? Apakah kau sudah mati, kangmas.....? Kalau kau mati, akupun ikut....,aduhhh, memang lebih baik kita mati....."
Tangis Kartikosari makin menjadi, terisak-isak dan tersedu-sedu, air matanya menjatuhi muka Pujo, rambutnya yang terurai menyapu-nyapu dada dan leher. Pujo membuka mata. Air mata isterinya amat panas menyentuh pipi dan dahinya. Silau matanya karena ternyata sinar matahari pagi telah menerobos masuk ke dalam guha.
"Kakangmas Pujo....."

Ia bangun duduk. Mereka berpandangan. Pujo menjelajahi tubuh isterinya dengan pandang matanya. Rambut yang hitam panjang terurai itu kusut, amat hitam membuat wajah berbentuk mendaun sirih itu makin pucat tampaknya, wajah cantik pucat yang basah oleh air mata yang masih bertetesan turun tiada hentinya, hidung yang berkembang-kempis oleh tangis, bibir yang bergerak-gerak, merah sekali karena di ujungnya berdarah. Pandang matanya menurun. Dada yang bergerak menggelombang, agak terengah-engah oleh tangis pula, dada membusung yang hampir tak tertutup kain. Kain robek! Kain itu telah robek lebar sekali dan kini dibalutkan sedapatnya untuk menutupi tubuh. Teringatlah Pujo. Terbayang semua olehnya. Kain robek menutup tubuh yang tidak bersih lagi! .
"Kakangmas Pujo.....!" Kartikosari menjerit cemas. "Kau..... kau kenapa.....? Jangan pandang aku seperti itu, kangmas....., jangan.....!"
Kartikosari menjerit dan menangis sambil merangkul suaminya. Akan tetapi Pujo menangkis dan mendorong tubuh isterinya. Kartikosari terjengkang, lalu merayap bangun dan memandang suaminya dengan sepasang mata terbelalak, dihias air mata yang menetes-netes turun. Ia menjangkau kembali, hendak menyentuh pundak suaminya.
"Jangan kau sentuh aku!" Tiba-tiba Pujo membentak, suaranya parau setengah terisak, wajahnya pucat dan matanya terbelalak setengah melotot.
"Kangmas......."
".......kau....., kau sudah..... ternoda olehnya.......?" Ucapan ini setengah menuduh setengah bertanya, mengandung harap-harap cemas.
Kartikosari menatap wajah suaminya beberapa saat, matanya penuh mengandung sesal, ujung hidung yang mancung itu bergerak-gerak, bibirnya berkomat-kamit tanpa dapat mengeluarkan kata-kata, air matanya bercucuran seperti air hujan. Tiba-tiba ia menjerit dan menutup muka dengan kedua tangannya, menangis terisak-isak, pundaknya bergerak-gerak, tangis yang amat memilukan hati, akan tetapi bagi Pujo merupakan tanda bahwa dugaannya tepat, bahwa harapannya hancur. Ia mengepal tinju dan memukuli lantai guha tanpa disadarinya sehingga kedua tangannya sampai lecet-lecet dan berdarah. Tanpa pengerahan tenaga sakti, tangannya adalah tangan manusia biasa.
"..... kangmas Pujo..... ahhh, kangmas...... aku..... aku tak berdaya..... aku.... aku terluka..... kehilangan tenaga dan dia..... dia kuat sekali....." Akhirnya Kartikosari dapat berkata, menurunkan kedua tangannya. Mukanya makin pucat dan tubuhnya menggigil ketika ia mendekat hendak merangkul suaminya.
"Jangan sentuh aku dengan tubuhmu yang kotor dan hina!" Pujo membentak.
"Jangan seret aku ke dalam lumpur kehinaan!"

Bentakan dan makian ini seakan-akan merupakan tamparan pada muka Kartikosari, membuatnya tersentak kaget dan mundur. Matanya terbelalak seperti mata kelinci ketakutan bertemu harimau.
"Kangmas.... Kenapa kau sesalkan aku.......? Kenapa kau mencaci-maki aku.....? Kau tahu, aku tidak berdaya, aku terpaksa....... ahhhh ...... kangmas....... mengapa kau memandangku seperti itu? Kau tahu, malapetaka itu bukan salahku..... aku tidak berdaya....."
"Kenapa kau tidak bunuh diri? Huh, agaknya kau mengalami kesenangan dengan dia, ya? Perempuan hina......!"
"Kangmas...... ohhh....... kangmas Pujo....... tega benar kau mencaciku seperti itu....... aduh, kangmas......" Sukar sekali Kartikosari bicara karena isak tangisnya merampas semua kata, membuat napasnya sesak dan ia roboh pingsan!.
Pujo tetap duduk bersila, wajahnya yang pucat itu mengeras, keningnya berkerut, matanya berapi-api, dadanya turun naik. Matanya menatap tubuh isterinya yang tergolek di depan kakinya, tubuh yang hampir telanjang. Keindahan bentuk tubuh isterinya yang tersinar matahari pagi itu kini tidak lagi mendatangkan rasa berahi dan bangga, malah merupakan tusukan yang membuat hatinya terasa perih sekali. Tubuh yang sudah dijamah orang lain! Kotor, penuh aib dan noda! Ia membuang muka ketika tubuh itu bergerak-gerak kembali.
Kartikosari siuman sambil terisak, kemudian merangkak bangun dan muka yang pucat itu menengadah, mencari-cari pandang mata suaminya, mencari-cari sinar mata penuh kasih yang biasa memancar dari mata suaminya.
"Kakangmas Pujo , aku bersembah sujut di depan kakimu, kangmas........., harap kangmas sadar kembali. Benar aku telah ternoda orang, akan tetapi....... kau maklum bahwa hal itu terjadi di luar kemauanku. Aku tidak berdaya......."
"Cukup! Kau tadi bilang lebih baik mati. Itu benar sekali. Kenapa tidak lekas-lekas mati, mau tunggu apa lagi?"
"Kakangmas Pujo! Benarkah yang bicara ini kakangmas Pujo, suamiku yang amat mencintaiku, yang bijaksana dan luas pandangan? Kangmas......."
"Cukup. Lebih baik kau mampus!" Pujo membentak.

Kartikosari bangkit berdiri. Air matanya berhenti mengucur, namun pandang matanya seperti lampu kehabisan minyak.
"Kangmas Pujo, memang aku lebih senang mati, akan tetapi bersamamu. Percayalah, andaikata kau tewas, aku pasti akan menyusulmu. Kakangmas Pujo suamiku, sekali lagi aku peringatkan bahwa apapun yang terjadi, aku tetap isterimu yang setia dan mencintamu. Sadarlah bahwa apa yang terjadi adalah di luar kemauanku....., ingatlah akan cinta kasihmu, kakangmas. Seperti samudera, seperti kuku hitam, seperti ujung rambut? Kangmas, ingatlah....."
Bergerak-gerak bibir Pujo dan hampir saja air matanya runtuh. Hatinya terharu sekali, lebih-lebih mendengar kini isterinya terisak-isak sedih. Ia hendak bicara, akan tetapi kerongkongannya tersumbat. Akhirnya ia membentak,
"Cukup!, Aku tidak mau dekat lagi denganmu! Kau kotor, ternoda, penghinaan yang takkan dapat tercuci bersih biar dengan maut sekalipun. Aku....... aku benci kepadamu!"
"Aduh, kakangmas....." Tubuh Kartikosari lemas dan roboh lagi terguling, berlutut di depan kaki Pujo.
"Kau ampunkan aku, kakangmas....... jangan putuskan cinta kasih kita....."
"Hemm, perempuan rendah, kau masih berpura-pura lagi? Lebih baik kau lekas pergi menyusul Raden Wisangjiwo dan ikut padanya, kan lebih senang jadi selirnya, atau jadi pelayannya, dia tampan dan kaya raya, putera bangsawan pula. Pada lahirnya saja kau pura-pura menyesal, sebenarnya dalam batin kau amat senang kepadanya. Huh, hina dina!"

<<< Bagian 005                                                                                    Bagian 007 >>>

No comments:

Post a Comment