Ia menculik, mempermainkan dan memperkosa gadis-gadis, bahkan isteri orang yang muda dan cantik, asal yang menggerakkan seleranya tentu akan ia culik, mengandalkan kepandaiannya! Makin ia turuti, makin menggelora iblis menguasai dirinya, makin menghebat nafsunya sehingga akhirnya ia dicari oleh Empu Bharodo untuk disuruh mempertanggung jawabkan semua perbuatannya yang keji. Namun Jokowanengpati melarikan diri, merantau ke barat dan terkenallah ia sebagai seorang tampan, sakti dan cabul. Betapapun juga, Jokowanengpati tidak melupakan bahwa ia harus selalu menggembleng diri dan memupuk kepandaiannya, karena kalau tidak, tentu ia kelak akan celaka, apalagi kalau sampai bertemu dengan gurunya.
Inilah
sebabnya maka Jokowanengpati pergi ke Guha Siluman untuk bertapa, karena daerah
pantai Laut Selatan ini memang terkenal sebagai daerah yang baik sekali untuk
bertapa dan mencari pusaka bagi para ahli tapa dan pendekar. Sudah dua hari dua
malam Jokowanengpati bertapa di sebelah dalam Guha Siluman, di sudut sebelah
dalam yang amat gelap, bertapa sambil duduk bersila di atas batu karang yang
menonjol setinggi satu meter berbentuk runcing. Ia telah mewarisi Ilmu
Bayusakti dari gurunya, maka ia sanggup bertapa di atas batu karang yang meruncing
itu selama dua hari dua malam. Pada senja itu ketika Pujo dan Kartikosari
memasuki guha, Jokowanengpati sesungguhnya sudah berada di sebelah dalam guha!
Ia kaget sekali, mula-mula mengira bahwa kedatangan dua orang yang dikenalnya
itu merupakan utusan gurunya untuk menangkapnya. Betapa lega hatinya mendengar
percakapan suami isteri itu yang sama sekali tidak ada hubungan dengan dirinya
dan ia terbelalak dengan jantung berdebar-debar melihat suami isteri itu
menanggalkan seluruh pakaian. Karena suami isteri itu berada di mulut guha dan
dia berada di sebelah dalam guha yang amat gelap, tentu saja semua perbuatan
mereka itu dapat ia lihat dengan jelas sekali. Maka ia dapat menyaksikan semua
gerak-gerik Kartikosari yang dahulu membuat ia mabok kepayang. Kini melihat
wanita yang pernah dicintainya secara diam-diam itu menanggalkan pakaian dan
duduk bersila bertelanjang bulat, Jokowanengpati hampir tak kuat menahan gelora
hatinya. Jantungnya meloncat-loncat serasa hendak copot, matanya melotot dan
berkali-kali ia menelan ludah. Namun ia cukup mengerti bahwa suami isteri itu
adalah murid-murid paman gurunya, Resi Bhargowo yang sakti mandraguna. Tak
berani ia berlaku lancang menurutkan nafsu hatinya. Maka iapun hanya dapat
menubruk, mendekap dan membelai-belai Kartikosari dalam benaknya yang kotor
saja. Kemudian muncullah Raden Wisangjiwo yang mengakibatkan terlukanya Pujo
dan isterinya karena kecurangannya. Tentu saja kalau ia mau, Jokowanengpati
dapat membantu mereka. Akan tetapi Jokowanengpati sekarang bukanlah murid Empu
Bharodo yang dahulu. Melihat perbuatan Wisangjiwo itu, ia malah menyeringai
kegirangan. Ia hanya bersiap memberi hajaran kepada Radlen Wisangjiwo kalau
pemuda bangsawan ini mengganggu Kartikosari. Namun akhirnya Raden Wisangjiwo
yang juga sudah terluka, mengurungkan niatnya mengganggu dan pergi meninggalkan
guha, meninggalkan Pujo dan Kartikosari yang sudah terluka hebat dan setengah
pingsan.
Manusia adalah
makhluk yang paling lemah di antara segala makhluk sehingga mudah
terombang-ambing di antara kebaikan dan kejahatan. Sekali hati ini dikuasai
nafsu, apa saja akan dilakukannya demi pemuasan nafsu hati. Hati nurani
tertutup tabir dari asap hitam yang timbul dari nafsu, segala pertimbangannya
patah dan satu-satunya hasrat hanya pelaksanaan dan pemuasan nafsu yang telah
menguasai dirinya. Demikian pula halnya dengan Jokowanengpati. Sejak kemarin ia
memang telah tenggelam dalam nafsu berahi, namun karena tiada kesempatan, ia
masih menahan diri karena pertimbangan keselamatannya. Kini, begitu melihat
kesempatan terbuka, gejolak nafsunya tak dapat ia tahan lagi. Tak mungkin ia
dapat menyia-nyiakan kesempatan yang demikian baiknya. Di dalam guha sudah
gelap, mereka takkan dapat mengenalnya lagi dan diapun muda serta tampan
seperti Raden Wisangjiwo. Demikianlah, tanpa membuka mulut mengeluarkan suara,
Jokowanengpati menjadi iblis menerkam Kartikosari. Pujo bermimpi. Serasa ia
hanyut, diseret dan dipermainkan ombak laut yang bergelora, diangkat tinggi,
dibanting dan diangkat kembali. Betapapun ia berusaha untuk berenang ke pantai,
ombak selalu menyeretnya kembali ke tengah. Dinginnya bukan main ketika ia
dipermainkan ombak, serasa ditusuk-tusuk tulang sungsum, membeku jantungnya dan
kaku-kaku seluruh tubuhnya. Hampir tak tertahankan lagi rasa sakit-sakit,
hampir ia menangis dan menjerit-jerit kesakitan kalau saja ia tidak teringat
bahwa hal demikian bukanlah laku seorang gagah. Lebih baik mati saja. Ia sudah
menyerahkan diri, tidak mau lagi melawan ombak mendahsyat, menyerahkan diri dan
pasrah kepada kehendak Dewata, menanti datangnya Sang Batara Kala mencaplok
tubuhnya dan Sang Batara Yamadipati menjemput nyawanya.
Tiba-tiba ia
mendengar suara memanggil,
"Kakangmas
Pujo....." Seruan memanggil yang terdengar jauh sekali, akan tetapi
berulang-ulang dan makin lama makin jelas.
Suara
Kartikosari! Suara isterinya yang tercinta! Suara yang seakan-akan
mengembalikan semangatnya, mendatangkan tenaga mujijat ke dalam tubuhnya yang
sudah lemah dan kaku. Ia mengerahkan tenaganya dan mulai melawan ombak lagi,
berenang ke pantai. Suara itu makin jelas, bahkan kini bercampur dengan isak
tangis.
"Duhai
kangmas Pujo..... dosa apakah yang kita perbuat..... sehingga kita mengalami
semua ini.....?" Suara isterinya terputus-putus oleh sedu sedan.
Isterinya!
Kartikosari di dekatnya! Lenyaplah semua ombak, dan kesadaran kembali memasuki
benaknya. Di dalam guha, diserang Raden Wisangjiwo, bertempur, terluka dan.....
dan.... isterinya meronta-ronta dalam pelukan Raden Wisangjiwo..... terdengar
kain terobek dan lengking isterinya mengerikan! Pujo mengerutkan kening, tak
berani membuka matanya. Terlampau buruk mimpi itu. Mimpi? Punggungnya masih
terasa sakit dan dingin, bekas pukulan berbisa lawan. Dadanya juga masih terasa
sakit, bekas tendangan kaki lawan. Mimpi? Bukan mimpi! Kenyataan! Dan
Kartikosari?.
".....kakangmas.....
mengapa kau diam saja.....? Apakah kau sudah mati, kangmas.....? Kalau kau
mati, akupun ikut....,aduhhh, memang lebih baik kita mati....."
Tangis
Kartikosari makin menjadi, terisak-isak dan tersedu-sedu, air matanya menjatuhi
muka Pujo, rambutnya yang terurai menyapu-nyapu dada dan leher. Pujo membuka
mata. Air mata isterinya amat panas menyentuh pipi dan dahinya. Silau matanya
karena ternyata sinar matahari pagi telah menerobos masuk ke dalam guha.
"Kakangmas
Pujo....."
Ia bangun
duduk. Mereka berpandangan. Pujo menjelajahi tubuh isterinya dengan pandang
matanya. Rambut yang hitam panjang terurai itu kusut, amat hitam membuat wajah
berbentuk mendaun sirih itu makin pucat tampaknya, wajah cantik pucat yang basah
oleh air mata yang masih bertetesan turun tiada hentinya, hidung yang
berkembang-kempis oleh tangis, bibir yang bergerak-gerak, merah sekali karena
di ujungnya berdarah. Pandang matanya menurun. Dada yang bergerak
menggelombang, agak terengah-engah oleh tangis pula, dada membusung yang hampir
tak tertutup kain. Kain robek! Kain itu telah robek lebar sekali dan kini
dibalutkan sedapatnya untuk menutupi tubuh. Teringatlah Pujo. Terbayang semua
olehnya. Kain robek menutup tubuh yang tidak bersih lagi! .
"Kakangmas
Pujo.....!" Kartikosari menjerit cemas. "Kau..... kau kenapa.....?
Jangan pandang aku seperti itu, kangmas....., jangan.....!"
Kartikosari
menjerit dan menangis sambil merangkul suaminya. Akan tetapi Pujo menangkis dan
mendorong tubuh isterinya. Kartikosari terjengkang, lalu merayap bangun dan
memandang suaminya dengan sepasang mata terbelalak, dihias air mata yang
menetes-netes turun. Ia menjangkau kembali, hendak menyentuh pundak suaminya.
"Jangan
kau sentuh aku!" Tiba-tiba Pujo membentak, suaranya parau setengah
terisak, wajahnya pucat dan matanya terbelalak setengah melotot.
"Kangmas......."
".......kau.....,
kau sudah..... ternoda olehnya.......?" Ucapan ini setengah menuduh
setengah bertanya, mengandung harap-harap cemas.
Kartikosari
menatap wajah suaminya beberapa saat, matanya penuh mengandung sesal, ujung
hidung yang mancung itu bergerak-gerak, bibirnya berkomat-kamit tanpa dapat
mengeluarkan kata-kata, air matanya bercucuran seperti air hujan. Tiba-tiba ia
menjerit dan menutup muka dengan kedua tangannya, menangis terisak-isak,
pundaknya bergerak-gerak, tangis yang amat memilukan hati, akan tetapi bagi
Pujo merupakan tanda bahwa dugaannya tepat, bahwa harapannya hancur. Ia
mengepal tinju dan memukuli lantai guha tanpa disadarinya sehingga kedua
tangannya sampai lecet-lecet dan berdarah. Tanpa pengerahan tenaga sakti,
tangannya adalah tangan manusia biasa.
".....
kangmas Pujo..... ahhh, kangmas...... aku..... aku tak berdaya..... aku.... aku
terluka..... kehilangan tenaga dan dia..... dia kuat sekali....." Akhirnya
Kartikosari dapat berkata, menurunkan kedua tangannya. Mukanya makin pucat dan
tubuhnya menggigil ketika ia mendekat hendak merangkul suaminya.
"Jangan
sentuh aku dengan tubuhmu yang kotor dan hina!" Pujo membentak.
"Jangan
seret aku ke dalam lumpur kehinaan!"
Bentakan dan
makian ini seakan-akan merupakan tamparan pada muka Kartikosari, membuatnya
tersentak kaget dan mundur. Matanya terbelalak seperti mata kelinci ketakutan
bertemu harimau.
"Kangmas....
Kenapa kau sesalkan aku.......? Kenapa kau mencaci-maki aku.....? Kau tahu, aku
tidak berdaya, aku terpaksa....... ahhhh ...... kangmas....... mengapa kau
memandangku seperti itu? Kau tahu, malapetaka itu bukan salahku..... aku tidak
berdaya....."
"Kenapa
kau tidak bunuh diri? Huh, agaknya kau mengalami kesenangan dengan dia, ya?
Perempuan hina......!"
"Kangmas......
ohhh....... kangmas Pujo....... tega benar kau mencaciku seperti itu.......
aduh, kangmas......" Sukar sekali Kartikosari bicara karena isak tangisnya
merampas semua kata, membuat napasnya sesak dan ia roboh pingsan!.
Pujo tetap
duduk bersila, wajahnya yang pucat itu mengeras, keningnya berkerut, matanya
berapi-api, dadanya turun naik. Matanya menatap tubuh isterinya yang tergolek
di depan kakinya, tubuh yang hampir telanjang. Keindahan bentuk tubuh isterinya
yang tersinar matahari pagi itu kini tidak lagi mendatangkan rasa berahi dan
bangga, malah merupakan tusukan yang membuat hatinya terasa perih sekali. Tubuh
yang sudah dijamah orang lain! Kotor, penuh aib dan noda! Ia membuang muka
ketika tubuh itu bergerak-gerak kembali.
Kartikosari
siuman sambil terisak, kemudian merangkak bangun dan muka yang pucat itu
menengadah, mencari-cari pandang mata suaminya, mencari-cari sinar mata penuh
kasih yang biasa memancar dari mata suaminya.
"Kakangmas
Pujo , aku bersembah sujut di depan kakimu, kangmas........., harap kangmas
sadar kembali. Benar aku telah ternoda orang, akan tetapi....... kau maklum
bahwa hal itu terjadi di luar kemauanku. Aku tidak berdaya......."
"Cukup!
Kau tadi bilang lebih baik mati. Itu benar sekali. Kenapa tidak lekas-lekas
mati, mau tunggu apa lagi?"
"Kakangmas
Pujo! Benarkah yang bicara ini kakangmas Pujo, suamiku yang amat mencintaiku,
yang bijaksana dan luas pandangan? Kangmas......."
"Cukup.
Lebih baik kau mampus!" Pujo membentak.
Kartikosari
bangkit berdiri. Air matanya berhenti mengucur, namun pandang matanya seperti
lampu kehabisan minyak.
"Kangmas
Pujo, memang aku lebih senang mati, akan tetapi bersamamu. Percayalah,
andaikata kau tewas, aku pasti akan menyusulmu. Kakangmas Pujo suamiku, sekali
lagi aku peringatkan bahwa apapun yang terjadi, aku tetap isterimu yang setia
dan mencintamu. Sadarlah bahwa apa yang terjadi adalah di luar kemauanku.....,
ingatlah akan cinta kasihmu, kakangmas. Seperti samudera, seperti kuku hitam,
seperti ujung rambut? Kangmas, ingatlah....."
Bergerak-gerak
bibir Pujo dan hampir saja air matanya runtuh. Hatinya terharu sekali,
lebih-lebih mendengar kini isterinya terisak-isak sedih. Ia hendak bicara, akan
tetapi kerongkongannya tersumbat. Akhirnya ia membentak,
"Cukup!,
Aku tidak mau dekat lagi denganmu! Kau kotor, ternoda, penghinaan yang takkan
dapat tercuci bersih biar dengan maut sekalipun. Aku....... aku benci
kepadamu!"
"Aduh,
kakangmas....." Tubuh Kartikosari lemas dan roboh lagi terguling, berlutut
di depan kaki Pujo.
"Kau
ampunkan aku, kakangmas....... jangan putuskan cinta kasih kita....."
"Hemm,
perempuan rendah, kau masih berpura-pura lagi? Lebih baik kau lekas pergi
menyusul Raden Wisangjiwo dan ikut padanya, kan lebih senang jadi selirnya,
atau jadi pelayannya, dia tampan dan kaya raya, putera bangsawan pula. Pada
lahirnya saja kau pura-pura menyesal, sebenarnya dalam batin kau amat senang
kepadanya. Huh, hina dina!"
No comments:
Post a Comment