Seakan-akan ditusuk keris berkarat rasa hati Kartikosari. Betapapun besar cinta kasihnya kepada Pujo, namun ia adalah puteri tunggal Resi Bhargowo. Tiba-tiba ia meloncat bangun dan berdiri,sikapnya agung, matanya memancarkan sinar berapi. Dengan tenang ia membereskan pakaiannya, membalut ketat dan erat-erat, lalu ia berkata, suaranya berbeda sekali dengan tadi, kini tenang, berwibawa, dan penuh rasa penasaran.
"Kangmas
Pujo! Kau melampaui batas, Agaknya iblis yang menguasai hati jahanam
Wisangjiwo, tertinggal di sini dan kini menguasai hatimu dalam bentuk lain. Kau
cemburu dan iri hati. Kau tidak mau melihat kenyataan dan sekarang aku berani
menyatakan bahwa kau sebenarnya pengecut. Kau diperhamba nafsu sendiri sehingga
buta melihat kenyataan. Kau seorang yang terlalu sayang, terlalu memanjakan
diri sendiri sehingga tidak melihat keadaan lain orang. Kau buta sehingga tidak
melihat betapa malapetaka ini membuat aku jauh lebih menderita lahir batin
daripada engkau! Demikian pengecut engkau, demikian mementingkan diri sendiri
sehingga kau bukannya menaruh kasihan kepada isterimu, malah kau
mencaci-makinya dengan fitnah-fitnah keji. Bukannya kau mencari daya membalas
dendam kepada orang yang telah menghina kita, sebaliknya kau malah secara keji
menyiksa hatiku. Ini semua membuktikan bahwa cintamu adalah cinta jasmani
belaka, cinta yang berdasarkan nafsu berahi semata. Karena cintamu dangkal dan
hanya tubuhku yang kau cinta, maka kau kecewa melihat tubuhku dinodai orang lain,
padahal kau maklum seyakinnya bahwa batinku sama sekali tidak ternoda, bahwa
cintaku sama sekali tidak pernah goyah. Kangmas Pujo, kau picik dan buta. Kau
menghina dan menyakiti hatiku. Karena aku cinta kepadamu, maka rasanya hatiku
lebih sakit lagi, lebih sakit daripada perbuatan si jahanam Wisangjiwo
kepadaku. Alangkah inginku membunuhmu di saat ini, lalu membunuh diri sendiri.
Akan tetapi aku harus hidup, aku harus membalas semua penghinaan ini. Dan
aku...... aku tetap mencintaimu sampai akhir hidupku. Kangmas Pujo......,
suamiku....., kekasihku....., selamat tinggal.......!"
Kartikosari
terisak-isak, lalu berjalan keluar dari guha. Akan tetapi setibanya di sudut
guha, di mana semalam ia rebah, ia melihat sesuatu. Sejenak ia tertegun, lalu
dipungutnya sepotong jari kelingking, digenggamnya erat-erat, kemudian ia
melompat keluar sambil menangis terisak-isak.
Pujo masih
bersila tak bergerak seperti patung. Semua ucapan Kartikosari menghunjam di
jantungnya. Tepat dan cocok, demikian bisik kesadaran batinnya. Namun nafsu
hati mencibirkan bibirnya. Mengenang dan membayangkan betapa tubuh isteri yang
menjadi miliknya seumur hidup itu dijamah orang, dipermainkan dan dibelai, otak
dan hatinya panas sekali dan ia sanggup membenci segala apa di dunia ini, termasuk
dirinya sendiri. Dendam kepada Raden Wisangjiwo! Ya, benar! Itulah tujuan
hidupnya kini. Membalas dendam yang hebat ini, sehebat badai Laut Selatan.
Masih terdengar olehnya isak tangis Kartikosari yang meninggalkan guha dan
terdengar suara isterinya,
"Dendam
sedalam Laut Selatan! Tunggu saja kau, jahanam, tunggu kau datangnya
pembalasanku. Akan kupicis (kerat-kerat) mukamu, akan kuhisap darahmu,
kukeluarkan dan ganyang jantungmu, kukeluarkan isi perutmu dan kujadikan umpan
burung gagak dan ikan hiu. Tunggu saja kau......hi-hi-hi-hik!"
Pujo terlompat
kaget dan bulu tengkuknya meremang.
"Kartikosari...............
mengapa................., mengapa engkau ? "
Demikian bisik
hatinya. Belum pernah ia mendengar isterinya tertawa seperti itu. Sayang,
sayang rasa cemburu telah meracuni hati nuraninya. Kalau saja ia menyusul
isterinya dan merangkulnya, menghiburnya, mungkin belum terlambat. Akan tetapi
sayang, Pujo melompat keluar dari Guha Siluman bukan untuk mengejar isterinya,
melainkan untuk lari ke jurusan yang berlawanan, isterinya ke kiri dia ke
kanan, lalu melompat-lompat menahan rasa nyeri akibat luka-lukanya meninggalkan
Guha Siluman.
Ajaib. Pagi
hari yang tadi cerah itu tiba-tiba menjadi gelap. Badai yang sudah diramalkan
oleh sibuknya burung-burung walet meninggalkan guha-guha semalam, tiba-tiba
muncul. Angin bertiup, air bergelombang, makin lama makin menghebat, cuaca di
permukaan laut menjadi gelap, suara angin bersiutan disambut suara gelegar
ombak menghantam batu-batu karang. Makin lama makin tinggi, makin lama makin
besar. Mula-mula ujung ombak yang memukul batu karang di bawah Guha Siluman
hanya muncrat ke atas, percikan air membasahi mulut guha. Akan tetapi makin
lama badai mengamuk makin hebat, ombak makin tinggi sehingga ombak raksasa
melontarkan air masuk ke dalam guha Air menyerbu masuk dan keluar lagi mengalir
seperti air bah. Semua yang berada di dalam guha dihanyutkan keluar,
seakan-akan Laut Selatan hendak mencuci Guha Siluman daripada noda-noda
semalam. Sayang! Bekas-bekas noda dapat dicuci, akan tetapi goresan luka di
hati tak mungkin dapat disembuhkan. Peristiwa semalam di dalam Guha Siluman
disusul badai Laut Selatan yang amat hebat, yang menumbangkan banyak pohon,
menggetarkan gunung-gunung, menggugurkan banyak batu-batu karang besar menutup
guha-guha lama membentuk guha-guha baru. Agaknya badai Laut Selatan ini telah
memberi peringatan bahwa peristiwa malam jahanan itu akan menimbulkan hal-hal
hebat seperti badai mengamuk!. Badai di Laut Selatan ditimpali hujan ribut di
atas bukit pantai, yaitu bukit atau Pegunungan Seribu. Kilat menyambar-nyambar,
seakan-akan para dewata marah-marah kepada seorang pemuda yang menyelinap di
antara pohon-pohon kemloko yang buahnya jatuh berhamburan. Pemuda ini
menyumpah-nyumpah karena pakaiannya basah kuyup dan lebih sering menyumpah
ketika tangan kirinya terasa perih oleh air hujan. Ia berteduh di bawah
sebatang pohon randu alas, menghapus mukanya yang penuh air dan peluh, lalu
memandang tangan kirinya. Jari tangan kirinya tinggal empat buah. Ketika ia hendak
meninggalkan guha menjelang fajar, ketika tangan kirinya membelai muka yang
halus cantik, wanita yang tadinya lemas tak berdaya itu pada saat terakhir
seakan-akan dapat menghimpun tenaga, menjadi liar dan jari tangannya yang
membelai bibir dengan cubitan, telah digigit. Kelingkingnya putus oleh gigitan
itu!.
"Iblis
betina.......!"
Ia
menyumpah-nyumpah sambil melanjutkan perjalanan, berlari-lari menuruni lereng,
mulutnya sebentar tersenyum sebentar menyeringai ketakutan. Ia tersenyum kalau
teringat akan wanita bekas kekasihnya itu, akan tetapi Jokowanengpati, pemuda
ini menyeringai khawatir kalau ia mengingat betapa ia menghadapi bahaya kalau
Kartikosari atau Pujo mengenalnya. Akan tetapi semalam itu amat gelap di guha,
dan tak pernah ia mengeluarkan kata-kata, tak mungkin Pujo atau Kartikosari
sekalipun, dapat mengenalnya. Sementara itu di sepanjang pantai sebelah timur
Guha Siluman, yang penuh batu-batu karang, Kartikosari berlari-lari sambil
menangis menjerit-jerit, kadang-kadang tertawa bergelak-gelak. Wanita ini
berlari dengan pakaian tidak karuan, rambut riap-riapan sampai ke pinggang.
Angin badai mengamuk ia tidak peduli. Berkali-kali ombak besar datang sampai di
batu karang di mana ia berloncatan, seakan-akan ia ditelan ombak berikut batu
karang. Namun setelah ombak kembali ke tengah, ia masih saja kelihatan
berloncatan dengan pakaian, tubuh, dan rambut basah kuyup.
"Kakangmas
Pujo....... aduh, kangmas...., kau tega benar kepadaku..,...! Awas kau
Wisangjiwo, kuhancur lumatkan kepalamu, hi-hi-hi-hik, ha-hah!"
Badai masih
mengamuk hebat ketika Kartikosari tiba jauh di timur sampai di daerah yang
disebut Karang Racuk. Ia berhenti di sana karena pantai telah terputus oleh
sebuah teluk, yaitu Teluk Baron. Namun hanya sebentar saja Kartikosari
termenung, kemudian dengan nekat ia meloncat ke bawah, ke air laut yang
bergolak naik diamuk badai. Air mengganas, badai membuat laut bergelombang
sebesar anak bukit, demikian besar dan dahsyatnya Laut Selatan sehingga tubuh
Kartikosari yang mencebur itu kelihatannya hanya seperti sebuah titik hitam
yang segera lenyap ditelan ombak! Namun, beberapa menit kemudian, tubuh
Kartikosari terdampar di pantai teluk, di atas pasir yang halus. Ombak yang
terakhir mempermainkannya sedemikian besarnya sehingga tubuhnya dilontarkan
jauh ke pantai pasir dan ia tertinggal di situ, tak tercapai oleh ombak lain
yang datang bergulung-gulung. Lidah ombak yang menjulur ke pantai pasir paling
jauh hanya mencapai kedua kakinya yang tak tertutup kain lagi, putih kekuningan
seperti perut ikan hiu. Wanita itu tak bergerak-gerak. Ia pingsan di pantai
Teluk Baron yang sunyi senyap.
Dari dalam
hutan dekat pantai terdengar auman harimau, disusul bunyi rombongan kera yang
bercicitan takut. Beberapa ekor burung gagak terbang berputar-putar di atas tubuh
yang rebah tak bergerak, makin lama makin rendah lalu hinggap di atas batu
karang yang menonjol keluar dari pasir, hinggap di situ tak bergerak seperti
patung dan mata melirik ke arah tubuh manusia yang tak bergerak gerak itu.
Burung-burung gagak ini maklum bahwa manusia yang rebah tak berkutik itu belum
mati, mungkin akan mati dan mereka hanya mau mendekati bangkai. Mereka sabar
menunggu. Akan tetapi tak lama kemudian rombongan burung gagak itu terbang ke
atas sambil mengeluarkan bunyi nyaring,
"Gaaaaok.......
gaaaok..... gaaaokk!" dan terbang makin jauh. Suara burung-burung ini
mengandung kecewa, karena manusia yang tadinya disangka akan mati ternyata
dapat bergerak dan bangkit, lalu berlutut di atas pasir sambil menangis
tersedu-sedu. Hancur hati Kartikosari ketika ia siuman kembali dan mendapatkan
dirinya berada di pantai, di atas pasir halus.
"Duhai
Dewata yang agung....... mengapa hamba masih hidup? Masih kurangkah hukuman
penderitaan yang ditimpakan kepada diri hamba? Aduh, Dewa..... dosa apakah gerangan
yang hamba lakukan dalam kehidupan yang lalu? Bapa..... bapa resi....... tak
mungkin aku dapat kembali ke Sungapan, aku malu berjumpa dengan bapa.......
aduh bapa resi, bagaimanakah anakmu ini, bapa.......!"
Kartikosari
menangis, mengeluh, menyembah-nyembah dan bersambat kepada para dewata, kepada
ayahnya Resi Bhargowo, kepada ibunya yang telah tiada. Namun, hanya deru dan
ombak membadai yang menjawabnya, deru ombak yang berpengaruh, yang menelan
semua tangis dan keluhnya, yang membungkam auman harimau dan suara margasatwa
di dalam hutan, yang membuat binatang yang betapa buaspun lari ketakutan
menjauhi pantai.
Lambat-laun,
tampak perubahan pada sikap Kartikosari. Ia meloncat tinggi dan dengan sikap
orang menghadapi lawan, dengan muka beringas, mata berapi-api, ia memasang
kuda-kuda mengepalkan tinju menghadapi Laut Selatan yang menggelora, kemudian
ia memekik, suaranya tinggi nyaring hendak mengatasi gemuruh sang badai,
"Badai
Laut Selatan! Saksikanlah sumpahku! Mulai saat ini aku bukanlah puteri Resi
Bhargowo lagi, melainkan puterimu! Mulai saat ini aku-pun bukan isteri Pujo
lagi, melainkan isterimu! Ya, aku puteri Laut Selatan, aku isteri Badai Laut
Selatan. Ha-ha-ha, aku akan mengamuk seperti badai!"
Ia
berteriak-teriak, menyambut datangnya ombak, bermain-main dengan ombak
seakan-akan menyambut suaminya yang tercinta, lalu bergulingan ke atas pantai
pasir bersama ombak, tertawa-tawa seperti sedang bersendau-gurau dengan suami
yang tercinta! Badai Laut Selatan mengamuk hebat. Tidak hanya daerah Guha Siluman
dan Teluk Baron yang diamuk, juga pasisir Karang Tumaritis dan daerah Sungapan
dilanda badai pula.
Malam
terjadinya peristiwa jahanam di dalam Guha Siluman itu mengakibatkan getaran
hebat dalam batin Resi Bhargowo. Kakek ini tengah bersamadhi setengah pulas
pada malam hari itu. Tiba-tiba ia tersentak kaget dan sadar, lalu membetulkan
letak kedua kakinya yang bersila, tangan kanan meraba dada kiri, tangan kiri
meraba dahi, keningnya bergerak-gerak.
"Jagad
Dewa Batara........ terlaksanalah segala kehendak Hyang Widi! Getar begini
hebat mengguncang batin, ujian apa gerangan yang akan kuhadapi”
Sebagai
jawaban pertanyaan sang resi terdengarlah deru angin kencang, disusui derap
kaki mendekat pintu pondok pemujaan, lalu terdengar suara cantrik Wisudo,
"Sang
resi......! Sang resi......!"
Pintu pondok
terbuka dan muncullah cantrik Wisudo dengan muka pucat dan gugup.
"Cantrik,
kau nyalakan lebih dulu pelita di sudut itu, agar terang," suara Resi
Bhargowo terdengar lirih dan halus, penuh ketenangan.
Cantrik Wisudo
meraba-raba dalam gelap, bertemu dian dan berusaha menggores batu api membuat
api. Namun sia-sia, karena tangannya gemetar dan gugup sekali.
"Tenang........
tenang...., tenang.....,Wisudo. Tiada kesukaran yang tak dapat diatasi dengan
modal ketenangan."
Mendengar
kata-kata ini, lenyaplah kegugupan cantrik Wisudo dan akhirnya ia berhasil
menyalakan pelita dan bilik sederhana itu menjadi terang.
"Urusan
apakah yang memaksa engkau malam-malam begini datang kepadaku, cantrik?"
"Maafkan
saya, sang resi. Akan tetapi ....... bahaya datang mengancam ....... badai akan
mengamuk.......!"
Resi Bhargowo
mengangguk-angguk,
"Kau
sudah melihat tanda-tandanya?"
No comments:
Post a Comment