Badai Laut Selatan ; Bagian 007


Seakan-akan ditusuk keris berkarat rasa hati Kartikosari. Betapapun besar cinta kasihnya kepada Pujo, namun ia adalah puteri tunggal Resi Bhargowo. Tiba-tiba ia meloncat bangun dan berdiri,sikapnya agung, matanya memancarkan sinar berapi. Dengan tenang ia membereskan pakaiannya, membalut ketat dan erat-erat, lalu ia berkata, suaranya berbeda sekali dengan tadi, kini tenang, berwibawa, dan penuh rasa penasaran.

"Kangmas Pujo! Kau melampaui batas, Agaknya iblis yang menguasai hati jahanam Wisangjiwo, tertinggal di sini dan kini menguasai hatimu dalam bentuk lain. Kau cemburu dan iri hati. Kau tidak mau melihat kenyataan dan sekarang aku berani menyatakan bahwa kau sebenarnya pengecut. Kau diperhamba nafsu sendiri sehingga buta melihat kenyataan. Kau seorang yang terlalu sayang, terlalu memanjakan diri sendiri sehingga tidak melihat keadaan lain orang. Kau buta sehingga tidak melihat betapa malapetaka ini membuat aku jauh lebih menderita lahir batin daripada engkau! Demikian pengecut engkau, demikian mementingkan diri sendiri sehingga kau bukannya menaruh kasihan kepada isterimu, malah kau mencaci-makinya dengan fitnah-fitnah keji. Bukannya kau mencari daya membalas dendam kepada orang yang telah menghina kita, sebaliknya kau malah secara keji menyiksa hatiku. Ini semua membuktikan bahwa cintamu adalah cinta jasmani belaka, cinta yang berdasarkan nafsu berahi semata. Karena cintamu dangkal dan hanya tubuhku yang kau cinta, maka kau kecewa melihat tubuhku dinodai orang lain, padahal kau maklum seyakinnya bahwa batinku sama sekali tidak ternoda, bahwa cintaku sama sekali tidak pernah goyah. Kangmas Pujo, kau picik dan buta. Kau menghina dan menyakiti hatiku. Karena aku cinta kepadamu, maka rasanya hatiku lebih sakit lagi, lebih sakit daripada perbuatan si jahanam Wisangjiwo kepadaku. Alangkah inginku membunuhmu di saat ini, lalu membunuh diri sendiri. Akan tetapi aku harus hidup, aku harus membalas semua penghinaan ini. Dan aku...... aku tetap mencintaimu sampai akhir hidupku. Kangmas Pujo......, suamiku....., kekasihku....., selamat tinggal.......!"
Kartikosari terisak-isak, lalu berjalan keluar dari guha. Akan tetapi setibanya di sudut guha, di mana semalam ia rebah, ia melihat sesuatu. Sejenak ia tertegun, lalu dipungutnya sepotong jari kelingking, digenggamnya erat-erat, kemudian ia melompat keluar sambil menangis terisak-isak.

Pujo masih bersila tak bergerak seperti patung. Semua ucapan Kartikosari menghunjam di jantungnya. Tepat dan cocok, demikian bisik kesadaran batinnya. Namun nafsu hati mencibirkan bibirnya. Mengenang dan membayangkan betapa tubuh isteri yang menjadi miliknya seumur hidup itu dijamah orang, dipermainkan dan dibelai, otak dan hatinya panas sekali dan ia sanggup membenci segala apa di dunia ini, termasuk dirinya sendiri. Dendam kepada Raden Wisangjiwo! Ya, benar! Itulah tujuan hidupnya kini. Membalas dendam yang hebat ini, sehebat badai Laut Selatan. Masih terdengar olehnya isak tangis Kartikosari yang meninggalkan guha dan terdengar suara isterinya,
"Dendam sedalam Laut Selatan! Tunggu saja kau, jahanam, tunggu kau datangnya pembalasanku. Akan kupicis (kerat-kerat) mukamu, akan kuhisap darahmu, kukeluarkan dan ganyang jantungmu, kukeluarkan isi perutmu dan kujadikan umpan burung gagak dan ikan hiu. Tunggu saja kau......hi-hi-hi-hik!"
Pujo terlompat kaget dan bulu tengkuknya meremang.
"Kartikosari............... mengapa................., mengapa engkau ? "
Demikian bisik hatinya. Belum pernah ia mendengar isterinya tertawa seperti itu. Sayang, sayang rasa cemburu telah meracuni hati nuraninya. Kalau saja ia menyusul isterinya dan merangkulnya, menghiburnya, mungkin belum terlambat. Akan tetapi sayang, Pujo melompat keluar dari Guha Siluman bukan untuk mengejar isterinya, melainkan untuk lari ke jurusan yang berlawanan, isterinya ke kiri dia ke kanan, lalu melompat-lompat menahan rasa nyeri akibat luka-lukanya meninggalkan Guha Siluman.

Ajaib. Pagi hari yang tadi cerah itu tiba-tiba menjadi gelap. Badai yang sudah diramalkan oleh sibuknya burung-burung walet meninggalkan guha-guha semalam, tiba-tiba muncul. Angin bertiup, air bergelombang, makin lama makin menghebat, cuaca di permukaan laut menjadi gelap, suara angin bersiutan disambut suara gelegar ombak menghantam batu-batu karang. Makin lama makin tinggi, makin lama makin besar. Mula-mula ujung ombak yang memukul batu karang di bawah Guha Siluman hanya muncrat ke atas, percikan air membasahi mulut guha. Akan tetapi makin lama badai mengamuk makin hebat, ombak makin tinggi sehingga ombak raksasa melontarkan air masuk ke dalam guha Air menyerbu masuk dan keluar lagi mengalir seperti air bah. Semua yang berada di dalam guha dihanyutkan keluar, seakan-akan Laut Selatan hendak mencuci Guha Siluman daripada noda-noda semalam. Sayang! Bekas-bekas noda dapat dicuci, akan tetapi goresan luka di hati tak mungkin dapat disembuhkan. Peristiwa semalam di dalam Guha Siluman disusul badai Laut Selatan yang amat hebat, yang menumbangkan banyak pohon, menggetarkan gunung-gunung, menggugurkan banyak batu-batu karang besar menutup guha-guha lama membentuk guha-guha baru. Agaknya badai Laut Selatan ini telah memberi peringatan bahwa peristiwa malam jahanan itu akan menimbulkan hal-hal hebat seperti badai mengamuk!. Badai di Laut Selatan ditimpali hujan ribut di atas bukit pantai, yaitu bukit atau Pegunungan Seribu. Kilat menyambar-nyambar, seakan-akan para dewata marah-marah kepada seorang pemuda yang menyelinap di antara pohon-pohon kemloko yang buahnya jatuh berhamburan. Pemuda ini menyumpah-nyumpah karena pakaiannya basah kuyup dan lebih sering menyumpah ketika tangan kirinya terasa perih oleh air hujan. Ia berteduh di bawah sebatang pohon randu alas, menghapus mukanya yang penuh air dan peluh, lalu memandang tangan kirinya. Jari tangan kirinya tinggal empat buah. Ketika ia hendak meninggalkan guha menjelang fajar, ketika tangan kirinya membelai muka yang halus cantik, wanita yang tadinya lemas tak berdaya itu pada saat terakhir seakan-akan dapat menghimpun tenaga, menjadi liar dan jari tangannya yang membelai bibir dengan cubitan, telah digigit. Kelingkingnya putus oleh gigitan itu!.
"Iblis betina.......!"

Ia menyumpah-nyumpah sambil melanjutkan perjalanan, berlari-lari menuruni lereng, mulutnya sebentar tersenyum sebentar menyeringai ketakutan. Ia tersenyum kalau teringat akan wanita bekas kekasihnya itu, akan tetapi Jokowanengpati, pemuda ini menyeringai khawatir kalau ia mengingat betapa ia menghadapi bahaya kalau Kartikosari atau Pujo mengenalnya. Akan tetapi semalam itu amat gelap di guha, dan tak pernah ia mengeluarkan kata-kata, tak mungkin Pujo atau Kartikosari sekalipun, dapat mengenalnya. Sementara itu di sepanjang pantai sebelah timur Guha Siluman, yang penuh batu-batu karang, Kartikosari berlari-lari sambil menangis menjerit-jerit, kadang-kadang tertawa bergelak-gelak. Wanita ini berlari dengan pakaian tidak karuan, rambut riap-riapan sampai ke pinggang. Angin badai mengamuk ia tidak peduli. Berkali-kali ombak besar datang sampai di batu karang di mana ia berloncatan, seakan-akan ia ditelan ombak berikut batu karang. Namun setelah ombak kembali ke tengah, ia masih saja kelihatan berloncatan dengan pakaian, tubuh, dan rambut basah kuyup.
"Kakangmas Pujo....... aduh, kangmas...., kau tega benar kepadaku..,...! Awas kau Wisangjiwo, kuhancur lumatkan kepalamu, hi-hi-hi-hik, ha-hah!"
Badai masih mengamuk hebat ketika Kartikosari tiba jauh di timur sampai di daerah yang disebut Karang Racuk. Ia berhenti di sana karena pantai telah terputus oleh sebuah teluk, yaitu Teluk Baron. Namun hanya sebentar saja Kartikosari termenung, kemudian dengan nekat ia meloncat ke bawah, ke air laut yang bergolak naik diamuk badai. Air mengganas, badai membuat laut bergelombang sebesar anak bukit, demikian besar dan dahsyatnya Laut Selatan sehingga tubuh Kartikosari yang mencebur itu kelihatannya hanya seperti sebuah titik hitam yang segera lenyap ditelan ombak! Namun, beberapa menit kemudian, tubuh Kartikosari terdampar di pantai teluk, di atas pasir yang halus. Ombak yang terakhir mempermainkannya sedemikian besarnya sehingga tubuhnya dilontarkan jauh ke pantai pasir dan ia tertinggal di situ, tak tercapai oleh ombak lain yang datang bergulung-gulung. Lidah ombak yang menjulur ke pantai pasir paling jauh hanya mencapai kedua kakinya yang tak tertutup kain lagi, putih kekuningan seperti perut ikan hiu. Wanita itu tak bergerak-gerak. Ia pingsan di pantai Teluk Baron yang sunyi senyap.

Dari dalam hutan dekat pantai terdengar auman harimau, disusul bunyi rombongan kera yang bercicitan takut. Beberapa ekor burung gagak terbang berputar-putar di atas tubuh yang rebah tak bergerak, makin lama makin rendah lalu hinggap di atas batu karang yang menonjol keluar dari pasir, hinggap di situ tak bergerak seperti patung dan mata melirik ke arah tubuh manusia yang tak bergerak gerak itu. Burung-burung gagak ini maklum bahwa manusia yang rebah tak berkutik itu belum mati, mungkin akan mati dan mereka hanya mau mendekati bangkai. Mereka sabar menunggu. Akan tetapi tak lama kemudian rombongan burung gagak itu terbang ke atas sambil mengeluarkan bunyi nyaring,
"Gaaaaok....... gaaaok..... gaaaokk!" dan terbang makin jauh. Suara burung-burung ini mengandung kecewa, karena manusia yang tadinya disangka akan mati ternyata dapat bergerak dan bangkit, lalu berlutut di atas pasir sambil menangis tersedu-sedu. Hancur hati Kartikosari ketika ia siuman kembali dan mendapatkan dirinya berada di pantai, di atas pasir halus.
"Duhai Dewata yang agung....... mengapa hamba masih hidup? Masih kurangkah hukuman penderitaan yang ditimpakan kepada diri hamba? Aduh, Dewa..... dosa apakah gerangan yang hamba lakukan dalam kehidupan yang lalu? Bapa..... bapa resi....... tak mungkin aku dapat kembali ke Sungapan, aku malu berjumpa dengan bapa....... aduh bapa resi, bagaimanakah anakmu ini, bapa.......!"
Kartikosari menangis, mengeluh, menyembah-nyembah dan bersambat kepada para dewata, kepada ayahnya Resi Bhargowo, kepada ibunya yang telah tiada. Namun, hanya deru dan ombak membadai yang menjawabnya, deru ombak yang berpengaruh, yang menelan semua tangis dan keluhnya, yang membungkam auman harimau dan suara margasatwa di dalam hutan, yang membuat binatang yang betapa buaspun lari ketakutan menjauhi pantai.

Lambat-laun, tampak perubahan pada sikap Kartikosari. Ia meloncat tinggi dan dengan sikap orang menghadapi lawan, dengan muka beringas, mata berapi-api, ia memasang kuda-kuda mengepalkan tinju menghadapi Laut Selatan yang menggelora, kemudian ia memekik, suaranya tinggi nyaring hendak mengatasi gemuruh sang badai,
"Badai Laut Selatan! Saksikanlah sumpahku! Mulai saat ini aku bukanlah puteri Resi Bhargowo lagi, melainkan puterimu! Mulai saat ini aku-pun bukan isteri Pujo lagi, melainkan isterimu! Ya, aku puteri Laut Selatan, aku isteri Badai Laut Selatan. Ha-ha-ha, aku akan mengamuk seperti badai!"
Ia berteriak-teriak, menyambut datangnya ombak, bermain-main dengan ombak seakan-akan menyambut suaminya yang tercinta, lalu bergulingan ke atas pantai pasir bersama ombak, tertawa-tawa seperti sedang bersendau-gurau dengan suami yang tercinta! Badai Laut Selatan mengamuk hebat. Tidak hanya daerah Guha Siluman dan Teluk Baron yang diamuk, juga pasisir Karang Tumaritis dan daerah Sungapan dilanda badai pula.
Malam terjadinya peristiwa jahanam di dalam Guha Siluman itu mengakibatkan getaran hebat dalam batin Resi Bhargowo. Kakek ini tengah bersamadhi setengah pulas pada malam hari itu. Tiba-tiba ia tersentak kaget dan sadar, lalu membetulkan letak kedua kakinya yang bersila, tangan kanan meraba dada kiri, tangan kiri meraba dahi, keningnya bergerak-gerak.
"Jagad Dewa Batara........ terlaksanalah segala kehendak Hyang Widi! Getar begini hebat mengguncang batin, ujian apa gerangan yang akan kuhadapi”
Sebagai jawaban pertanyaan sang resi terdengarlah deru angin kencang, disusui derap kaki mendekat pintu pondok pemujaan, lalu terdengar suara cantrik Wisudo,
"Sang resi......! Sang resi......!"
Pintu pondok terbuka dan muncullah cantrik Wisudo dengan muka pucat dan gugup.
"Cantrik, kau nyalakan lebih dulu pelita di sudut itu, agar terang," suara Resi Bhargowo terdengar lirih dan halus, penuh ketenangan.
Cantrik Wisudo meraba-raba dalam gelap, bertemu dian dan berusaha menggores batu api membuat api. Namun sia-sia, karena tangannya gemetar dan gugup sekali.
"Tenang........ tenang...., tenang.....,Wisudo. Tiada kesukaran yang tak dapat diatasi dengan modal ketenangan."
Mendengar kata-kata ini, lenyaplah kegugupan cantrik Wisudo dan akhirnya ia berhasil menyalakan pelita dan bilik sederhana itu menjadi terang.
"Urusan apakah yang memaksa engkau malam-malam begini datang kepadaku, cantrik?"
"Maafkan saya, sang resi. Akan tetapi ....... bahaya datang mengancam ....... badai akan mengamuk.......!"
Resi Bhargowo mengangguk-angguk,
"Kau sudah melihat tanda-tandanya?"

<<< Bagian 006                                                                                   Bagian 008 >>>

No comments:

Post a Comment