"Sudah, sang resi. Juga teman-teman datang melapor. Burung-burung walet berbondong keluar dari dalam guha-guha, bercicit bingung di atas guha menguatirkan sarang yang mereka tinggali. Monyet-monyet menjauhi tebing di pinggir pantai, burung-burung gagak berdatangan ke pantai dari gunung, sebaliknya burung-burung elang laut mengungsi ke gunung. Langit sebelah selatan hitam oleh awan mendung, permukaan laut amat tenang seolah-olah tidak bergerak. Agaknya akan luar biasa besarnya badai yang datang mengamuk, sang resi."
"Kalau
begitu, kau cantrik Wisudo bersama dua orang temanmu pergilah ke barat, beri
peringatan kepada para nelayan dan penduduk pantai agar meninggalkan pantai dan
bantu mereka. Juga cantrik Wistoro bersama dua orang teman lain membantu
penduduk di sebelah timur. Berangkatlah kalian sekarang juga."
"Tapi.......
tapi sang resi.. kalau semua cantrik pergi, bagaimana dengan pondok Bayuwismo
di Sungapan ini? Tidak ada yang membantu sang resi....."
"Heh,
cantrik Wisudo! Lupakah engkau bahwa menolong orang lain adalah hal pertama,
menolong diri sendiri hal terakhir?"
"Ohhh.......
baik sang resi, perkenankan saya dan teman-teman berangkat sekarang juga."
"Berangkatlah,
aku segera menyusul."
Sepergi
cantrik Wisudo dan teman-temannya mentaati perintah Resi Bhargowo, kakek ini
masih duduk termenung. berulang kali menarik napas panjang menenangkan
jantungnya yang berdebar-debar. Getaran yang mengguncangkan batinnya makin
menghebat dan akhirnya ia keluar dari pondok dengan tongkat di tangan. Ia
menengadah memandang ke angkasa, melihat laksaan bintang menghias angkasa di
atas pantai, lautpun tenang-tenang saja, akan tetapi angin bertiup keras dan
angkasa di selatan gelap pekat. Dari pengalamannya berpuluh tahun tinggal di pantai,
Resi Bhargowo dapat menduga bahwa badai akan tiba di pagi hari, dan saat itu
sudah jauh lewat tengah malam, jadi tidak lama lagi badai akan mengamuk.
Kembali ia menghela napas karena guncangan batinnya makin menghebat.
"Terserah
kehendak Hyang Widi......." bisiknya, kemudian tubuhnya melesat dan lenyap
ditelan gelap malam.
Pada keesokan
harinya, bersama dengan munculnya sang surya (matahari), datanglah badai yang
telah dinanti-nanti dengan hati gelisah itu. Badai yang amat hebat, mengamuk di
sepanjang pantai Laut Selatan. Resi Bhargowo tidak tinggal diam. Bersama enam
orang cantriknya, kakek ini menolong para nelayan dan penduduk pantai, menaiki
perahu ke tempat aman, mengungsikan anak-anak, wanita dan ternak ke atas bukit
karang yang kiranya takkan terjangkau lidah ombak badai, mengangkuti
barang-barang kebutuhan ke tempat aman dan terpaksa meninggalkan pondok-pondok
dan gubuk-gubuk bersunyi sendiri di tepi pantai menghadapi sebuah badai yang
mengganas.
Dengan mata
terbelalak para penduduk pantai itu melihat dari atas, di tempat persembunyian
mereka, betapa gubuk-gubuk dan pondok-pondok mereka beterbangan dilanda badai,
sebagian pula dicabut ombak dan dihempaskan ke batu-batu karang sampai hancur
berkeping-keping! Lewat tengah hari setelah badai mereda, enam orang cantrik
sibuk mengkumpulkan barang-barang yang masih dapat dipakai, sisa-sisa dari
pondok Bayuwismo yang hanyut dan hancur oleh badai. Namun Resi Bhargowo tidak
tampak bersama mereka. Pada saat itu, Resi Bhargowo telah berdiri di mulut Guha
Siluman, berdiri seperti patung, bersandar pada tongkatnya dan sepasang matanya
memandang ke dalam guha tanpa berkedip.
Tiada bekas
dari sepasang orang muda itu, tidak ada tanda-tanda bahwa puterinya,
Kartikosari dan mantunya, Pujo pernah bertapa di tempat ini. Padahal ia maklum
betul bahwa anak dan mantunya itu pasti mematuhi nasehatnya, bertapa di dalam
guha ini. Apakah mereka hanyut oleh ombak dalam badai? Ataukah mereka berhasil
menyelamatkan diri? Akan tetapi, menurut perhitungannya, ketika badai mulai, anak
dan menantunya itu pasti sedang berada dalam keadaan bersamadhi sehingga amat
boleh jadi tidak mendengar keributan badai. Kalau demikian halnya, tidak ada
jalan lagi untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba tubuh kakek itu menggigil,
matanya memandang ke sudut guha, terbelalak, keningnya berkerut-kerut.
"Ya Jagad
Dewa Batara. ampunilah kiranya hambaMu ini dan berilah kekuatan untuk menerima
segala akibat karma dengan tenang dan sadar....." Ia memuji sambil
meramkan mata.
Tenanglah
hatinya ketika ia membuka mata kembali memandang ke sudut. Kemudian
perlahan-lahan ia menghampiri sudut guha membungkuk dan mengambil sebuah benda
kecil yang menancap pada lantai karang. Sebuah benda kecil mengkilap, yang ia
kenal sebagai tusuk sanggul rambut puterinya, terbuat daripada emas, berbentuk
bunga seruni, hiasan rambut buatannya sendiri! Ia menggenggam tusuk sanggul
itu, menggenggam erat-erat, menahan rasa nyeri dari hati yang seperti
disayat-sayat.
Suara
berkelepekan membuat ia membuka kembali matanya yang tadi dipejamkan, menoleh
ke sebelah dalam guha. Di bagian karang yang rendah masih tertinggal air laut
dan di situlah tampak seekor ikan berkelepekan karena kekurangan air. Agaknya
ikan itu terbawa oleh ombak ketika badai mengamuk dilontarkan ke dalam guha
bersama ombak dan ketika ombak kembali ke laut, ikan sebesar paha itu
tertinggal di situ. Sejenak Resi Bhargowo hanya memandang, ia masih terlalu
tenggelam dalam kekhawatiran dan duka memikirkan keadaan puteri dan mantunya,
akan tetapi sejenak kemudian kakek itu melangkah ke arah ikan, dipegangnya ikan
itu dengan tangan lalu ia melangkah keluar guha.
"Ikan,
kubantu engkau pulang ke asalmu. Sekiranya anak mantuku tersesat ke daerahmu,
harap kau suka membantu mereka pulang ke darat!"
Kakek itu
menggerakkan tangan dan melesatlah ikan itu ke udara, kemudian jatuh ke dalam
laut, menyelam dan tidak muncul lagi. Resi Bhargowo menghela napas, sekali lagi
memeriksa ke dalam guha yang telah bersih dicuci oleh ombak kemudian pergi
meninggalkan guha, pulang ke Sungapan.
Setelah bersama
enam orang cantriknya membangun kembali pondok Bayuwismo yang runtuh oleh
badai, Sang Resi Bhargowo menyuruh para cantriknya untuk pergi mencari anak dan
menantunya. Namun usaha itu sia-sia belaka. Para cantrik pulang dengan tangan
hampa. Mereka tidak dapat menemukan Kartikosari atau Pujo, bahkan tidak
mendengar berita tentang mereka, tidak pula mendengar mayat-mayat mereka
terdampar di pinggir laut.
Semenjak itu,
terjadi perubahan pada diri Resi Bhargowo. Rambut dan jenggotnya tiba-tiba
menjadi putih seluruhnya, seputih perak. Setahun kemudian Resi Bhargowo
meninggalkan Bayuwismo di Sungapan, meninggalkannya dalam rawatan enam orang
cantrik, kemudian mengembara dengan memakai julukan baru, yaitu Bhagawan
Rukmoseto (Rambut Putih).
"Tarrr......!
Wessss......, tar-tarrrr...!!"
Sinar
menyilaukan mata menyambar dan "krakkkk....... bruuuukkk.....!" pohon
sebesar manusia yang tinggi itu tumbang!
Raden
Wisangjiwo meramkan matanya penuh kengerian. Ia maklum bahwa sekali cambuk
Sarpokenoko di tangan gurunya itu menyentuhnya, tubuhnya akan hangus dan
nyawanya takkan tertolong lagi.
"Berlutut
engkau!"
Suaranya
nyaring namun merdu. Ia amatlah cantiknya dengan rambut yang digelung lebar
terhias bunga-bunga segar mawar melati, ujung gelung rambut itu terurai di
leher kanan terhias untaian bunga melati sedangkan di atas kepala terhias
hiasan rambut dari emas bermata intan berbentuk ular kembar memadu kasih.
Wajahnya yang bulat seperti bulan purnama itu dihalus putihkan oleh bedak
cendana sedangkan rambutnya hitam halus oleh minyak sari bunga. Tubuhnya agak
gemuk padat dan dadanya membusung, tertutup kemben sutera berkembang merah
dengan dasar ungu, pinggangnya dipaksa agar ramping oleh balutan ikat pinggang
berwarna kuning. Kainnya amat indah buatan tanah Hindu, dan gelang emas
menghias kedua pergelangan tangan dan kakinya. Sebuah keris kecil terselip di
ikat pinggangnya dan sebuah cambuk yang mengerikan, cambuk berwarna kuning
mengkilap yang seakan-akan hidup dan mendatangkan hawa maut yang serem, berada
di tangannya. Inilah dia Ni Durgogini, seorang manusia yang terkenal sebagai
manusia iblis yang sakti, yang tidak diketahui berapa usia sebenarnya namun
agaknya belum ada tigapuluh tahun, cantik dan buas, liar dan ganas, guru Raden
Wisangjiwo, ya guru ya kekasih!.
Dengan kedua
kaki gemetar Raden Wisangjiwo berlutut dan menyembah di depan kaki gurunya.
Wanita di depannya ini kadang-kadang jinak dan merupakan seorang kekasih yang
bernafsu jalang, memejamkan mata dan mengeluarkan suara seperti seekor kucing
manja dalam belaiannya. Akan tetapi kalau sudah datang kemarahannya seperti
sekarang ini, ia menjadi ganas dan amat berbahaya, karena membunuh siapa saja
merupakan hal lumrah! Karena maklum akan watak gurunya inilah maka Raden
Wisangjiwo kini berlutut dengan tubuh gemetar.
"Ampun,
Dewi......."
Memang
menyimpang daripada aturan biasa. Raden Wisangjiwo menyebut gurunya
"dewi", hal ini untuk memenuhi perintah gurunya yang aneh itu.
Agaknya karena sang murid juga menjadi kekasih, maka Ni Durgogini tidak sudi
disebut guru dan minta disebut dewi!
"Hemmm,
kau tahu akan dosamu?"
"Ampun,
sungguh mati saya tidak tahu mengapa datang-datang mendapat amarah Sang
Dewi......." Setengah menyanjung Raden Wisangjiwo berkata.
"Kedatangan
saya menghadap Dewi adalah untuk mohon pertolongan karena saya telah bertanding
dan melukai murid-murid Resi Bhargowo maka tanpa pertolongan Dewi, nyawa saya
dalam bahaya ... "
"Tarrr......"
Raden Wisangjiwo terkejut sekali ketika ujung cambuk meledak di atas kepalanya.
Ia diam-diam merasa heran mengapa gurunya semarah ini dan agaknya tidak
main-main.
"Nyawamu
berada dalam tanganku, bagaimana bisa terancam orang lain? Wisangjiwo, dari
mana kau selama tiga hari ini?"
Suaranya tetap
merdu dan halus, akan tetapi mengandung nada yang tajam mengiris jantung.
Mampus aku, pikir Raden Wisangjiwo. Agaknya gurunya maklum akan perbuatannya
selama tiga hari bersama Ni Nogogini!
"Saya.......
saya bertapa di pantai selatan mencari anugerah dewata, bertemu dengan puteri
dan mantu Resi Bhargowo dan bertempur. Berkat ilmu pemberian Dewi yang sakti,
saya mendapat kemenangan dan......."
"Sebelum
itu! Dengan siapa kau di pantai? Dan dari mana kau mendapatkan ajian (ilmu)
Tirto Rudiro dengan Kerang Merahnya? Jawab!"
Pucat seketika
wajah Raden Wisangjiwo mendengar ini. Yakin sudah kini bahwa gurunya telah tahu
kesemuanya dan membohong tidak ada artinya lagi, maka dengan penuh hormat ia
menyembah dan menjawab,
"Saya
tidak akan membohong, Dewi. Mana saya berani menyembunyikan sesuatu dari Sang
Dewi yang bijaksana dan waspada? Sesungguhnya, di pantai selatan saya berjumpa
dengan yang terhormat bibi guru Ni Nogogini dan beliau berkenan menurunkan Ilmu
Tirto Rudiro kepada murid keponakannya."
"Huh!
Bibi guru yang terhormat, ya? Siapa tidak mengenal nimas Nogogini? Hayo jawab,
mengapa dia menurunkan Tirto Rudiro kepadamu? Jawab!"
"Dewi
yang mulia, guru hamba yang sakti, mengapa Dewi bertanya demikian? Bukankah Ni
Nogogini adalah bibi guru saya? Apa salahnya seorang bibi guru menurunkan
ilmunya kepada seorang murid keponakannya?"
"Cihhh!"
Durgogini meludah melalui lidah dan giginya yang putih dengan sikap menghina.
"Tak
mungkin dia mengajar ilmu kepadamu tanpa upah! Hayo katakan apa upahnya? Tentu
dia mengajak engkau bermain gila, bukan?"
"Tidak.......!
Tidak, Dewi! Masa beliau mau merendahkan diri untuk bermain-main dengan murid
keponakannya......."
"Ahhh!
Jadi kalau seorang bibi guru atau seorang guru bermain-main dengan muridnya
kauanggap rendah, ya?"
"Eh.......
ohhh, bukan begitu maksud saya ....... eh, sama sekali tidak, Dewi Andaikata
bibi guru mengajak saya bermain-main, sayapun tidak akan sudi. Dia ....... eh,
dia sudah tua, dan gandanya (baunya) ....... amis!"
"Hi-hi-hi-hikk!
Tentu saja amis karena selalu bermain-main dengan ikan-ikan di laut.
Menjijikkan! Wisangjiwo, kau benar-benar tidak berjina dengannya?"
'Tidak, Dewi,
sungguh mati......."
"Berani
bersumpah?"
"Berani!"
Ni Durgogini
menggerakkan cambuk Sarpokenoko yang melecut-lecut di udara dan terdengar
ledakan-ledakan seperti petir menyambar.
"Bangunlah!"
Lapang sudah
dada Raden Wisangjiwo, akan tetapi ia masih cemas menyaksikan cambuk itu
melecut-lecut. Ia bangkit berdiri dan memasang senyum semanis-manisnya agar
wajahnya yang tampan itu kelihatan makin bagus.
"Syukur
dan terima kasih bahwa Dewi tidak marah lagi. Lemah lunglai seluruh tubuh saya
kalau Dewi marah-marah......."
No comments:
Post a Comment