Badai Laut Selatan ; Bagian 008


"Sudah, sang resi. Juga teman-teman datang melapor. Burung-burung walet berbondong keluar dari dalam guha-guha, bercicit bingung di atas guha menguatirkan sarang yang mereka tinggali. Monyet-monyet menjauhi tebing di pinggir pantai, burung-burung gagak berdatangan ke pantai dari gunung, sebaliknya burung-burung elang laut mengungsi ke gunung. Langit sebelah selatan hitam oleh awan mendung, permukaan laut amat tenang seolah-olah tidak bergerak. Agaknya akan luar biasa besarnya badai yang datang mengamuk, sang resi."
"Kalau begitu, kau cantrik Wisudo bersama dua orang temanmu pergilah ke barat, beri peringatan kepada para nelayan dan penduduk pantai agar meninggalkan pantai dan bantu mereka. Juga cantrik Wistoro bersama dua orang teman lain membantu penduduk di sebelah timur. Berangkatlah kalian sekarang juga."
"Tapi....... tapi sang resi.. kalau semua cantrik pergi, bagaimana dengan pondok Bayuwismo di Sungapan ini? Tidak ada yang membantu sang resi....."
"Heh, cantrik Wisudo! Lupakah engkau bahwa menolong orang lain adalah hal pertama, menolong diri sendiri hal terakhir?"
"Ohhh....... baik sang resi, perkenankan saya dan teman-teman berangkat sekarang juga."
"Berangkatlah, aku segera menyusul."

Sepergi cantrik Wisudo dan teman-temannya mentaati perintah Resi Bhargowo, kakek ini masih duduk termenung. berulang kali menarik napas panjang menenangkan jantungnya yang berdebar-debar. Getaran yang mengguncangkan batinnya makin menghebat dan akhirnya ia keluar dari pondok dengan tongkat di tangan. Ia menengadah memandang ke angkasa, melihat laksaan bintang menghias angkasa di atas pantai, lautpun tenang-tenang saja, akan tetapi angin bertiup keras dan angkasa di selatan gelap pekat. Dari pengalamannya berpuluh tahun tinggal di pantai, Resi Bhargowo dapat menduga bahwa badai akan tiba di pagi hari, dan saat itu sudah jauh lewat tengah malam, jadi tidak lama lagi badai akan mengamuk. Kembali ia menghela napas karena guncangan batinnya makin menghebat.
"Terserah kehendak Hyang Widi......." bisiknya, kemudian tubuhnya melesat dan lenyap ditelan gelap malam.
Pada keesokan harinya, bersama dengan munculnya sang surya (matahari), datanglah badai yang telah dinanti-nanti dengan hati gelisah itu. Badai yang amat hebat, mengamuk di sepanjang pantai Laut Selatan. Resi Bhargowo tidak tinggal diam. Bersama enam orang cantriknya, kakek ini menolong para nelayan dan penduduk pantai, menaiki perahu ke tempat aman, mengungsikan anak-anak, wanita dan ternak ke atas bukit karang yang kiranya takkan terjangkau lidah ombak badai, mengangkuti barang-barang kebutuhan ke tempat aman dan terpaksa meninggalkan pondok-pondok dan gubuk-gubuk bersunyi sendiri di tepi pantai menghadapi sebuah badai yang mengganas.
Dengan mata terbelalak para penduduk pantai itu melihat dari atas, di tempat persembunyian mereka, betapa gubuk-gubuk dan pondok-pondok mereka beterbangan dilanda badai, sebagian pula dicabut ombak dan dihempaskan ke batu-batu karang sampai hancur berkeping-keping! Lewat tengah hari setelah badai mereda, enam orang cantrik sibuk mengkumpulkan barang-barang yang masih dapat dipakai, sisa-sisa dari pondok Bayuwismo yang hanyut dan hancur oleh badai. Namun Resi Bhargowo tidak tampak bersama mereka. Pada saat itu, Resi Bhargowo telah berdiri di mulut Guha Siluman, berdiri seperti patung, bersandar pada tongkatnya dan sepasang matanya memandang ke dalam guha tanpa berkedip.
Tiada bekas dari sepasang orang muda itu, tidak ada tanda-tanda bahwa puterinya, Kartikosari dan mantunya, Pujo pernah bertapa di tempat ini. Padahal ia maklum betul bahwa anak dan mantunya itu pasti mematuhi nasehatnya, bertapa di dalam guha ini. Apakah mereka hanyut oleh ombak dalam badai? Ataukah mereka berhasil menyelamatkan diri? Akan tetapi, menurut perhitungannya, ketika badai mulai, anak dan menantunya itu pasti sedang berada dalam keadaan bersamadhi sehingga amat boleh jadi tidak mendengar keributan badai. Kalau demikian halnya, tidak ada jalan lagi untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba tubuh kakek itu menggigil, matanya memandang ke sudut guha, terbelalak, keningnya berkerut-kerut.
"Ya Jagad Dewa Batara. ampunilah kiranya hambaMu ini dan berilah kekuatan untuk menerima segala akibat karma dengan tenang dan sadar....." Ia memuji sambil meramkan mata.
Tenanglah hatinya ketika ia membuka mata kembali memandang ke sudut. Kemudian perlahan-lahan ia menghampiri sudut guha membungkuk dan mengambil sebuah benda kecil yang menancap pada lantai karang. Sebuah benda kecil mengkilap, yang ia kenal sebagai tusuk sanggul rambut puterinya, terbuat daripada emas, berbentuk bunga seruni, hiasan rambut buatannya sendiri! Ia menggenggam tusuk sanggul itu, menggenggam erat-erat, menahan rasa nyeri dari hati yang seperti disayat-sayat.

Suara berkelepekan membuat ia membuka kembali matanya yang tadi dipejamkan, menoleh ke sebelah dalam guha. Di bagian karang yang rendah masih tertinggal air laut dan di situlah tampak seekor ikan berkelepekan karena kekurangan air. Agaknya ikan itu terbawa oleh ombak ketika badai mengamuk dilontarkan ke dalam guha bersama ombak dan ketika ombak kembali ke laut, ikan sebesar paha itu tertinggal di situ. Sejenak Resi Bhargowo hanya memandang, ia masih terlalu tenggelam dalam kekhawatiran dan duka memikirkan keadaan puteri dan mantunya, akan tetapi sejenak kemudian kakek itu melangkah ke arah ikan, dipegangnya ikan itu dengan tangan lalu ia melangkah keluar guha.
"Ikan, kubantu engkau pulang ke asalmu. Sekiranya anak mantuku tersesat ke daerahmu, harap kau suka membantu mereka pulang ke darat!"
Kakek itu menggerakkan tangan dan melesatlah ikan itu ke udara, kemudian jatuh ke dalam laut, menyelam dan tidak muncul lagi. Resi Bhargowo menghela napas, sekali lagi memeriksa ke dalam guha yang telah bersih dicuci oleh ombak kemudian pergi meninggalkan guha, pulang ke Sungapan.
Setelah bersama enam orang cantriknya membangun kembali pondok Bayuwismo yang runtuh oleh badai, Sang Resi Bhargowo menyuruh para cantriknya untuk pergi mencari anak dan menantunya. Namun usaha itu sia-sia belaka. Para cantrik pulang dengan tangan hampa. Mereka tidak dapat menemukan Kartikosari atau Pujo, bahkan tidak mendengar berita tentang mereka, tidak pula mendengar mayat-mayat mereka terdampar di pinggir laut.
Semenjak itu, terjadi perubahan pada diri Resi Bhargowo. Rambut dan jenggotnya tiba-tiba menjadi putih seluruhnya, seputih perak. Setahun kemudian Resi Bhargowo meninggalkan Bayuwismo di Sungapan, meninggalkannya dalam rawatan enam orang cantrik, kemudian mengembara dengan memakai julukan baru, yaitu Bhagawan Rukmoseto (Rambut Putih).

"Tarrr......! Wessss......, tar-tarrrr...!!"
Sinar menyilaukan mata menyambar dan "krakkkk....... bruuuukkk.....!" pohon sebesar manusia yang tinggi itu tumbang!
Raden Wisangjiwo meramkan matanya penuh kengerian. Ia maklum bahwa sekali cambuk Sarpokenoko di tangan gurunya itu menyentuhnya, tubuhnya akan hangus dan nyawanya takkan tertolong lagi.
"Berlutut engkau!"
Suaranya nyaring namun merdu. Ia amatlah cantiknya dengan rambut yang digelung lebar terhias bunga-bunga segar mawar melati, ujung gelung rambut itu terurai di leher kanan terhias untaian bunga melati sedangkan di atas kepala terhias hiasan rambut dari emas bermata intan berbentuk ular kembar memadu kasih. Wajahnya yang bulat seperti bulan purnama itu dihalus putihkan oleh bedak cendana sedangkan rambutnya hitam halus oleh minyak sari bunga. Tubuhnya agak gemuk padat dan dadanya membusung, tertutup kemben sutera berkembang merah dengan dasar ungu, pinggangnya dipaksa agar ramping oleh balutan ikat pinggang berwarna kuning. Kainnya amat indah buatan tanah Hindu, dan gelang emas menghias kedua pergelangan tangan dan kakinya. Sebuah keris kecil terselip di ikat pinggangnya dan sebuah cambuk yang mengerikan, cambuk berwarna kuning mengkilap yang seakan-akan hidup dan mendatangkan hawa maut yang serem, berada di tangannya. Inilah dia Ni Durgogini, seorang manusia yang terkenal sebagai manusia iblis yang sakti, yang tidak diketahui berapa usia sebenarnya namun agaknya belum ada tigapuluh tahun, cantik dan buas, liar dan ganas, guru Raden Wisangjiwo, ya guru ya kekasih!.
Dengan kedua kaki gemetar Raden Wisangjiwo berlutut dan menyembah di depan kaki gurunya. Wanita di depannya ini kadang-kadang jinak dan merupakan seorang kekasih yang bernafsu jalang, memejamkan mata dan mengeluarkan suara seperti seekor kucing manja dalam belaiannya. Akan tetapi kalau sudah datang kemarahannya seperti sekarang ini, ia menjadi ganas dan amat berbahaya, karena membunuh siapa saja merupakan hal lumrah! Karena maklum akan watak gurunya inilah maka Raden Wisangjiwo kini berlutut dengan tubuh gemetar.
"Ampun, Dewi......."
Memang menyimpang daripada aturan biasa. Raden Wisangjiwo menyebut gurunya "dewi", hal ini untuk memenuhi perintah gurunya yang aneh itu. Agaknya karena sang murid juga menjadi kekasih, maka Ni Durgogini tidak sudi disebut guru dan minta disebut dewi!
"Hemmm, kau tahu akan dosamu?"
"Ampun, sungguh mati saya tidak tahu mengapa datang-datang mendapat amarah Sang Dewi......." Setengah menyanjung Raden Wisangjiwo berkata.
"Kedatangan saya menghadap Dewi adalah untuk mohon pertolongan karena saya telah bertanding dan melukai murid-murid Resi Bhargowo maka tanpa pertolongan Dewi, nyawa saya dalam bahaya ... "
"Tarrr......" Raden Wisangjiwo terkejut sekali ketika ujung cambuk meledak di atas kepalanya. Ia diam-diam merasa heran mengapa gurunya semarah ini dan agaknya tidak main-main.
"Nyawamu berada dalam tanganku, bagaimana bisa terancam orang lain? Wisangjiwo, dari mana kau selama tiga hari ini?"
Suaranya tetap merdu dan halus, akan tetapi mengandung nada yang tajam mengiris jantung. Mampus aku, pikir Raden Wisangjiwo. Agaknya gurunya maklum akan perbuatannya selama tiga hari bersama Ni Nogogini!
"Saya....... saya bertapa di pantai selatan mencari anugerah dewata, bertemu dengan puteri dan mantu Resi Bhargowo dan bertempur. Berkat ilmu pemberian Dewi yang sakti, saya mendapat kemenangan dan......."
"Sebelum itu! Dengan siapa kau di pantai? Dan dari mana kau mendapatkan ajian (ilmu) Tirto Rudiro dengan Kerang Merahnya? Jawab!"
Pucat seketika wajah Raden Wisangjiwo mendengar ini. Yakin sudah kini bahwa gurunya telah tahu kesemuanya dan membohong tidak ada artinya lagi, maka dengan penuh hormat ia menyembah dan menjawab,
"Saya tidak akan membohong, Dewi. Mana saya berani menyembunyikan sesuatu dari Sang Dewi yang bijaksana dan waspada? Sesungguhnya, di pantai selatan saya berjumpa dengan yang terhormat bibi guru Ni Nogogini dan beliau berkenan menurunkan Ilmu Tirto Rudiro kepada murid keponakannya."
"Huh! Bibi guru yang terhormat, ya? Siapa tidak mengenal nimas Nogogini? Hayo jawab, mengapa dia menurunkan Tirto Rudiro kepadamu? Jawab!"
"Dewi yang mulia, guru hamba yang sakti, mengapa Dewi bertanya demikian? Bukankah Ni Nogogini adalah bibi guru saya? Apa salahnya seorang bibi guru menurunkan ilmunya kepada seorang murid keponakannya?"
"Cihhh!" Durgogini meludah melalui lidah dan giginya yang putih dengan sikap menghina.
"Tak mungkin dia mengajar ilmu kepadamu tanpa upah! Hayo katakan apa upahnya? Tentu dia mengajak engkau bermain gila, bukan?"
"Tidak.......! Tidak, Dewi! Masa beliau mau merendahkan diri untuk bermain-main dengan murid keponakannya......."
"Ahhh! Jadi kalau seorang bibi guru atau seorang guru bermain-main dengan muridnya kauanggap rendah, ya?"
"Eh....... ohhh, bukan begitu maksud saya ....... eh, sama sekali tidak, Dewi Andaikata bibi guru mengajak saya bermain-main, sayapun tidak akan sudi. Dia ....... eh, dia sudah tua, dan gandanya (baunya) ....... amis!"
"Hi-hi-hi-hikk! Tentu saja amis karena selalu bermain-main dengan ikan-ikan di laut. Menjijikkan! Wisangjiwo, kau benar-benar tidak berjina dengannya?"
'Tidak, Dewi, sungguh mati......."
"Berani bersumpah?"
"Berani!"
Ni Durgogini menggerakkan cambuk Sarpokenoko yang melecut-lecut di udara dan terdengar ledakan-ledakan seperti petir menyambar.
"Bangunlah!"

Lapang sudah dada Raden Wisangjiwo, akan tetapi ia masih cemas menyaksikan cambuk itu melecut-lecut. Ia bangkit berdiri dan memasang senyum semanis-manisnya agar wajahnya yang tampan itu kelihatan makin bagus.
"Syukur dan terima kasih bahwa Dewi tidak marah lagi. Lemah lunglai seluruh tubuh saya kalau Dewi marah-marah......."

<<< Bagian 007                                                                                   Bagian 009 >>>

No comments:

Post a Comment