"Keluarkan kerang emasmu dan kau serang aku dengan Tirto Rudiro!"
Kembali Raden
Wisangjiwo terkejut.
"Eh
....... ini ..... ini ..... saya tidak berani ... "
"Kau
berani membantah? Hem kalau tidak lekas-lekas kaulakukan perintahku, pecah
kepalamu oleh Sarpo kenoko!"
"Saya
..... mana berani membantah ? Hanya ..... ah, mengapa Dewi agaknya tidak mau
mengampuni saya? Kalau memang Dewi kehendaki, akan saya buang saja kerang emas
ini ......."
"Uhhh,
bocah tolol. Aku hanya hendak melihat bagaimana hebatnya Tirto Rudiro dari nini
Nogogini, dan sekalian memperlihatkan kepadamu, membuka matamu bahwa percuma
saja kau mempelajari ilmu orang lain sedangkan gurumu sendiri merupakan gudang
ilmu, hanya engkau yang kurang berbakat dan malas. Hayo serang!"
Mendengar
ucapan ini, lega hati Raden Wisangjiwo. Ia mengambil kerang emas, menggenggam
di tangan kanannya, lalu maju menyerang gurunya dengan pukulan Tirto Rudiro
sambil berkata,
"Maafkan
saya!"
"Wuuuutttt......
dessss......!!"
Pukulan ampuh
meluncur disambut telapak tangan halus lunak. Akibatnya, tubuh Raden Wisangjiwo
terlempar ke belakang, terjengkang dan bergulingan. Pemuda ini merangkak
bangun, matanya berkunang, kepalanya pening sehingga ia harus menggoyang-goyang
kepalanya sejenak, baru peningnya hilang.
"Hemmm,
kau memandang rendah gurumu, ya? Mengapa tidak mempergunakan semua tenagamu?
Hayo serang lagi, dengan tenaga penuh."
"Saya
tidak berani, mana saya akan kuat menerima tangan Ampak-ampak Dewi yang
ampuhnya menggila tanpa tanding?" kata Raden Wisangjiwo.
Pemuda ini
maklum bahwa ilmu pukulan telapak tangan gurunya yang bernama Aji Ampak-ampak
amatlah berbahaya, salah-salah ia akan mampus konyol. Aji Ampak-ampak berhawa
dingin, seperti ampak-ampak, yaitu halimun tebal yang dingin sekali, membekukan
segala yang basah, sehingga sekali digunakan untuk memukul lawan, lawan itu
akan mati seketika dengan darah membeku. Ilmu ini adalah ilmu keturunan dari
perguruan Ni Durgogini dan Ni Nogogini, merupakan ilmu rahasia yang jarang
dikeluarkan kalau tidak perlu sekali.
"Heh-heh,
kaukira aku tadi mempergunakan Ampak-ampak? Tolol, kalau aku pergunakan ajian
itu, kau sudah mampus sekarang. Jangan takut, hayo pukul lagi dua kali, sekali
akan kubuktikan bahwa tanpa menangkis aku akan sanggup memecahkan Tirto Rudiro
dan membuat kau tak berdaya, kedua kalinya akan kuterima pukulanmu Tirto
Rudiro, dengan tubuhku!"
Hati Raden
Wisangjiwo tertarik. Memang gurunya amat sakti dan ia hanya baru mewarisi
sedikit bagian saja. Dengan kesempatan ini ia mengharapkan petunjuk dan
penambahan ilmu.
"Baiklah,
Dewi. Harap suka menaruh kasihan kepada saya."
Setelah
berkata demikian, ia mengerahkan seluruh tenaga, menggenggam Kerang Merah
seeratnya lalu ia menerjang maju mengirim pukulan dengan jurus Tirto Rudiro.
Jurus ini ia pelajari hanya dalam waktu tiga hari karena memang hanya terdiri
dari sembilan gerakan yang berubah-ubah, karena keampuhannya bukan terletak
kepada gerak ketangkasan, melainkan kepada tenaga mujijat dan perbawanya yang
ampuh sehingga sukar dielakkan atau ditangkis oleh lawan yang kurang kuat
tenaga dalamnya. Kepalan tangan kanannya menyambar dahsyat ke arah leher
gurunya, mengeluarkan angin pukulan bersiutan.
"Wuuuuuttt!"
Ni Durgogini miringkan tubuhnya, cambuk Sarpokenoko berkelebat tanpa suara dan
dari samping mengancam pergelangan tangan kanan dengan ujungnya.
Raden
Wisangjiwo terkejut, cepat menarik tangan kanannya menyusul dengan jurus
pukulan gertakan dengan tangan kiri mengarah lambung, akan tetapi sesungguhnya
yang menyerang adalah kepalan kanannya yang melanjutkan penyerangan gerakan
kedua, kini menghantam muka. Ketika dielakkan gurunya, dengan gerakan siku
memutar, pukulan itu menerjang lagi dari atas menghantam dada.
"Ciuuuuutttl"
Cambuk Sarpokenoko menyambar dan tahu-tahu melibat pangkal lengan, terus
melibat ke bawah sampai ke mata kaki dan sekali membetot, tubuh Wisangjiwo
terlempar lagi untuk kedua kalinya, jatuh terbanting dan bergulingan.
Kini ia
merangkak bangun sambil mengeluh, duduk dengan kedua mata menjuling karena
pandang matanya berkunang-kunang, bumi serasa berputaran dan kepalanya
berdenyut-denyut seperti dijadikan tambur, dipukuli dari sebelah dalam. Ia
menggoyang-goyang kepalanya akan tetapi matanya tetap juling, baru setelah ia
menumbuk dahinya, kedua biji matanya menjadi betul kembali letaknya, namun
telinganya mendengar suara terngiang-ngiang di sela suara ketawa gurunya
bercekikikan.
"Waduhhhh......,
ampun, Dewi ......" keluhnya.
"Hayo
bangun! Pengecut, kau tak patut menjadi murid Ni Durgogini kalau tidak cepat
bangkit kembali. Hayo serang lagi dan kali ini aku tidak akan menangkis, tidak
akan mengelak, tidak akan menggunakan cambuk Sarpokenoko!"
Mendengar
tantangan ini, Raden Wisangjiwo bangkit, kepalanya masih terayun-ayun ke kanan
kiri, akan tetapi kepeningannya lenyap karena ia tadi memang hanya terbanting
biasa saja dan mengalami babak-bundas (lecet-lecet) dan matang biru, ia melihat
gurunya berdiri dengan dada dibusungkan, kedua tangan bertolak pinggang, cantik
dan menantang. Menerima pukulan Tirto Rudiro dengan tubuh tanpa menangkis atau
mengelak? Mana mungkin? Raden Wisangjiwo ragu-ragu. Bagaimana kalau gurunya
terluka atau mati oleh pukulannya ini?
"Hayo
pukul! Pukul sekuat tenaga dengan Tirto Rudiro. Awas, kalau kau memukul tidak
sepenuh tenaga, aku akan membunuhmu karena menganggap kau memandang rendah
kepandaian gurumu. Hayo pukul!"
Raden
Wisangjiwo melangkah maju, mengerahkan tenaga, namun ia merasa bimbang ragu.
Bagaimana ia tega memukul wanita yang begini cantik dengan sepenuh tenaga? Dia
ini gurunya, akan tetapi juga kekasihnya. Wanita inilah yang menggemblengnya
menjadi seorang jagoan, jago berkelahi dan jago dalam asmara. Ia tahu bahwa
gurunya ini amat cinta kepadanya, buktinya ia telah menerima pelajaran Ilmu
Asmoro Kingkin, Ilmu Cambuk Sarpokenoko, ilmu pukulan tangan kosong yang
hebat-hebat. Akan tetapi, kalau ia tidak memukul sekuat tenaga, tentu gurunya
itu akan membunuhnya. Hal itu mungkin saja karena memang gurunya berwatak aneh
sekali. Setelah mengumpulkan tenaganya, Raden Wisangjiwo berseru keras dan
memukul dengan Aji Tirto Rudiro. Akan tetapi ia tidak mau memukul tempat
berbahaya, padahal kalau ia memukul lambung atau pusar, apalagi ia mau memukul
dada tempat paling lemah dari wanita, tentu akan lebih hebat akibatnya. Ia
memang menggunakan seluruh tenaganya, akan tetapi ia memilih tempat yang tidak
begitu berbahaya, yaitu di pundak, pangkal lengan kiri gurunya.
"Syuuuuutttt.......
wesssssss...! "
Alangkah kaget
hati Raden Wisangjiwo ketika kepalan tangannya melesak ke dalam kulit daging
bahu gurunya, seakan-akan tersedot dan tak dapat ditarik kembalil Dan dari
kepalan tangannya itu terdengar bunyi "ssssssssss" seperti api
bertemu air, perlahan kepalan tangannya terasa panas terbakar.
"Aduh.....
aduhh......, ampun Dewi..... ampun.....!" Ia menjerit-jerit kesakitan.
"Hi-hi-hi-hik!
Apa sih hebatnya Tirto Rudiro?" Ni Durgogini memekik keras dan untuk
ketiga kalinya tubuh Raden Wisangjiwo terlempar, kini amat keras dan ia roboh
menabrak pohon, lalu rebah dengan leher miring dan mata mendelik, lidahnya
terjulur keluar, tak dapat berkutik setengah pingsan!
Sambil tertawa
cekikikan Ni Durgogini melompat ke depan mendekati Raden Wisangjiwo, dengan
jari tangan kirinya ia mengurut pundak dan leher. Pemuda itu mengeluh dan sadar
kembali.
"Hemm,
Lasmini, kau makin liar dan masih suka mempermainkan orang!"
Ni Durgogini
kaget seperti disambar petir mendengar suara ini dan tubuhnya cepat bergerak
membalik, cambuk Sarpokenoko digenggam erat. Juga Raden Wisangjiwo sudah
bangkit berdiri, memandang laki-laki yang entah dari mana datangnya tahu-tahu
sudah berdiri di situ. Laki-laki ini berusia empatpuluhan tahun lebih, tubuhnya
tinggi tegap, wajahnya tampan berwibawa. Kepalanya yang berambut nyambel wijen
(banyak uban) itu tertutup kain kepala yang ujungnya berdiri meruncing di
sebelah belakang. Biarpun ia bertelanjang kaki, namun pakaiannya dan sikapnya
membayangkan keagungan seorang bangsawan. Yang amat menarik adalah pancaran
pandang matanya yang penuh tenaga batin, tenang lembut dan dalam seperti
permukaan air telaga yang dalam. Raden Wisangjiwo tidak mengenal orang ini,
akan tetapi Ni Durgogini kelihatan makin kaget ketika ia melihat siapa orangnya
yang mengeluarkan ucapan tadi. Sesaat wajahnya yang cantik itu menjadi pucat,
matanya terbelalak memandang laki-laki itu tanpa berkedip dan mulutnya
bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan suara.
"Lasmini,
kau kaget melihatku?" laki-laki itu menegur sambil tersenyum, kumisnya
yang tipis bergerak menambah ketampanan wajahnya.
"Kau.......
rakanda....... Narotama.....! Mau..... mau apakah kau datang ke Girilimut
(Bukit Halimun) ini.....?"
Narotama
tersenyum lebar.
"Tidak
ada urusan denganmu, nimas, sama sekali tidak ada, hanya kebetulan saja. Bahkan
aku sama sekali tidak mengira bahwa Ni Durgogini yang tersohor adalah engkau!
Kalau begitu, Ni Nogogini adalah si Mandari. Ah, siapa sangka.......! Kebetulan
saja aku datang ke sini, terus terang hendak mencari Ni Durgogini karena ada
sesuatu hendak kutanyakan, tidak tahunya Ni Durgogini adalah engkau dan aku
melihat engkau mempermainkan orang muda ini. Apa dosanya?"
Agaknya lega
hati Ni Durgogini mendengar ucapan itu. Ia tersenyum manja dan genit, lalu
berkata,
"Siapa
main-main dengan dia? Dia sedang kuberi latihan ilmu, dia ini muridku. Raden
Wisangjiwo putera Adipati Joyowiseso."
Narotama
mengangguk-angguk.
"Hemm,
putera adipati di Selopenangkep? Putera adipati seyogianya menjadi perajurit,
dan untuk menjadi seorang ksatria utama bukan di sini tempat perguruannya.
Lasmini, apa sih kebisaanmu maka engkau berani menjadi guru putera seorang
adipati?"
Raden
Wisangjiwo mendongkol sekali mendengar ini dan ia terheran-heran melihat
gurunya yang biasanya galak itu kini seakan-akan mati kutunya berhadapan dengan
orang asing ini. Ia tahu dengan pasti bahwa kalau orang lain yang mengucapkan
kalimat itu, tentu sekali bergerak gurunya akan membunuh orang itu yang
dianggap menghina. Akan tetapi aneh bin ajaib, terhadap orang ini gurunya hanya
tersenyum-senyum malu dan tidak dapat menjawab. Rasa terheran-heran ini membuat
Raden Wisangjiwo menjadi penasaran, maka ia melangkah maju ke depan orang itu
dan menghardik,
"Paman!
Siapapun adanya engkau ini, tidak sepatutnya kau mengeluarkan kata-kata
memandang rendah guruku. Mungkin kau sahabat baik guruku maka guruku bersabar
mendengar penghinaan mu, akan tetapi aku sebagai muridnya tidak dapat
membiarkan kekurangajaranmu. Kau hendak melihat pelajaran apa yang diberikan
guruku kepadaku? Nah, apakah kau mau bukti dengan mengadu kerasnya tulang
tebalnya kulit melawanku? Kalau tidak berani, kau harus menarik kembali
ucapanmu yang menghina tadi!"
"Uwah,
boleh juga muridmu, nimas! "
"Apa
kaukira aku suka mengambil murid orang yang tiada gunanya?"
"Namamu
Raden Wisangjiwo, orang muda? Keberanianmu cukup, semangat dan kesetiaanmu
lumayan, sayang kau terlalu menghambur tenaga dan hawa murni yang seharusnya
dihimpun. Boleh,boleh..... mari kita main-main sebentar. Dan kau boleh
menggunakan cambukmu itu. Mari!"
Sedetik wajah
Raden Wisangjiwo menjadi merah sekali. Ucapan ini menusuk jantungnya karena
memang tepat. Iapun maklum bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu dan membuang
tenaga dan hawa murni yang seharusnya ia himpun dengan perbuatannya yang tak
dapat ia cegah, yaitu menjadi barang permainan gurunya sendiri, bahkan
akhir-akhir ini bibi gurunyapun mempermainkannya. Ia telah terombang-ambing
dalam permainan nafsu berahi yang merupakan pantangan bagi seorang pengejar
ilmu kesaktian. Hubungan yang wajar dan bersih daripada nafsu kotor dengan
isterinya malah jarang terjadi karena ia lebih senang berada di tempat gurunya
dan inilah yang merupakan racun yang memabokkan seperti madat. Karena merasa
jengah dan malu, ia menjadi marah.
"Kau
sombong, orang tua. Biarlah aku mencobamu dengan pukulan tangan tanpa senjata.
Siap dan sambutlah ini!"
Raden
Wisangjiwo lalu menerjang maju, gerakannya sigap dan pukulannya mendatangkan
angin menderu. Pemuda ini tidak hanya hendak mendemonstrasikan kehebatan ilmu
gurunya, juga hatinya panas dan ia ingin memberi hajaran kepada orang yang
berani bersikap kurang ajar terhadap Ni Durgogini. Sama sekali ia tidak pernah
mimpi bahwa yang ia hadapi ini adalah Narotama yang kini telah menjadi pepatih
dalam di Mataram berjuluk Rakyana Patih Kanuruhan, sahabat baik Sang Prabu
Airlangga dan kesaktiannya dalam olah jurit hanyalah di bawah sang prabu sendiri!
Tentu saja ia tidak tahu karena nama Narotama tidak begitu terkenal, yang
terkenal adalah Rakyana Patih Kanuruhan, maka ketika gurunya menyebut nama
Narotama, ia sama sekali tidak tahu bahwa yang dilawannya adalah patih yang
sakti mandraguna itu.
No comments:
Post a Comment