Badai Laut Selatan ; Bagian 009


"Keluarkan kerang emasmu dan kau serang aku dengan Tirto Rudiro!"
Kembali Raden Wisangjiwo terkejut.
"Eh ....... ini ..... ini ..... saya tidak berani ... "
"Kau berani membantah? Hem kalau tidak lekas-lekas kaulakukan perintahku, pecah kepalamu oleh Sarpo kenoko!"
"Saya ..... mana berani membantah ? Hanya ..... ah, mengapa Dewi agaknya tidak mau mengampuni saya? Kalau memang Dewi kehendaki, akan saya buang saja kerang emas ini ......."
"Uhhh, bocah tolol. Aku hanya hendak melihat bagaimana hebatnya Tirto Rudiro dari nini Nogogini, dan sekalian memperlihatkan kepadamu, membuka matamu bahwa percuma saja kau mempelajari ilmu orang lain sedangkan gurumu sendiri merupakan gudang ilmu, hanya engkau yang kurang berbakat dan malas. Hayo serang!"
Mendengar ucapan ini, lega hati Raden Wisangjiwo. Ia mengambil kerang emas, menggenggam di tangan kanannya, lalu maju menyerang gurunya dengan pukulan Tirto Rudiro sambil berkata,
"Maafkan saya!"
"Wuuuutttt...... dessss......!!"
Pukulan ampuh meluncur disambut telapak tangan halus lunak. Akibatnya, tubuh Raden Wisangjiwo terlempar ke belakang, terjengkang dan bergulingan. Pemuda ini merangkak bangun, matanya berkunang, kepalanya pening sehingga ia harus menggoyang-goyang kepalanya sejenak, baru peningnya hilang.
"Hemmm, kau memandang rendah gurumu, ya? Mengapa tidak mempergunakan semua tenagamu? Hayo serang lagi, dengan tenaga penuh."
"Saya tidak berani, mana saya akan kuat menerima tangan Ampak-ampak Dewi yang ampuhnya menggila tanpa tanding?" kata Raden Wisangjiwo.
Pemuda ini maklum bahwa ilmu pukulan telapak tangan gurunya yang bernama Aji Ampak-ampak amatlah berbahaya, salah-salah ia akan mampus konyol. Aji Ampak-ampak berhawa dingin, seperti ampak-ampak, yaitu halimun tebal yang dingin sekali, membekukan segala yang basah, sehingga sekali digunakan untuk memukul lawan, lawan itu akan mati seketika dengan darah membeku. Ilmu ini adalah ilmu keturunan dari perguruan Ni Durgogini dan Ni Nogogini, merupakan ilmu rahasia yang jarang dikeluarkan kalau tidak perlu sekali.
"Heh-heh, kaukira aku tadi mempergunakan Ampak-ampak? Tolol, kalau aku pergunakan ajian itu, kau sudah mampus sekarang. Jangan takut, hayo pukul lagi dua kali, sekali akan kubuktikan bahwa tanpa menangkis aku akan sanggup memecahkan Tirto Rudiro dan membuat kau tak berdaya, kedua kalinya akan kuterima pukulanmu Tirto Rudiro, dengan tubuhku!"
Hati Raden Wisangjiwo tertarik. Memang gurunya amat sakti dan ia hanya baru mewarisi sedikit bagian saja. Dengan kesempatan ini ia mengharapkan petunjuk dan penambahan ilmu.
"Baiklah, Dewi. Harap suka menaruh kasihan kepada saya."
Setelah berkata demikian, ia mengerahkan seluruh tenaga, menggenggam Kerang Merah seeratnya lalu ia menerjang maju mengirim pukulan dengan jurus Tirto Rudiro. Jurus ini ia pelajari hanya dalam waktu tiga hari karena memang hanya terdiri dari sembilan gerakan yang berubah-ubah, karena keampuhannya bukan terletak kepada gerak ketangkasan, melainkan kepada tenaga mujijat dan perbawanya yang ampuh sehingga sukar dielakkan atau ditangkis oleh lawan yang kurang kuat tenaga dalamnya. Kepalan tangan kanannya menyambar dahsyat ke arah leher gurunya, mengeluarkan angin pukulan bersiutan.
"Wuuuuuttt!" Ni Durgogini miringkan tubuhnya, cambuk Sarpokenoko berkelebat tanpa suara dan dari samping mengancam pergelangan tangan kanan dengan ujungnya.
Raden Wisangjiwo terkejut, cepat menarik tangan kanannya menyusul dengan jurus pukulan gertakan dengan tangan kiri mengarah lambung, akan tetapi sesungguhnya yang menyerang adalah kepalan kanannya yang melanjutkan penyerangan gerakan kedua, kini menghantam muka. Ketika dielakkan gurunya, dengan gerakan siku memutar, pukulan itu menerjang lagi dari atas menghantam dada.
"Ciuuuuutttl" Cambuk Sarpokenoko menyambar dan tahu-tahu melibat pangkal lengan, terus melibat ke bawah sampai ke mata kaki dan sekali membetot, tubuh Wisangjiwo terlempar lagi untuk kedua kalinya, jatuh terbanting dan bergulingan.
Kini ia merangkak bangun sambil mengeluh, duduk dengan kedua mata menjuling karena pandang matanya berkunang-kunang, bumi serasa berputaran dan kepalanya berdenyut-denyut seperti dijadikan tambur, dipukuli dari sebelah dalam. Ia menggoyang-goyang kepalanya akan tetapi matanya tetap juling, baru setelah ia menumbuk dahinya, kedua biji matanya menjadi betul kembali letaknya, namun telinganya mendengar suara terngiang-ngiang di sela suara ketawa gurunya bercekikikan.
"Waduhhhh......, ampun, Dewi ......" keluhnya.
"Hayo bangun! Pengecut, kau tak patut menjadi murid Ni Durgogini kalau tidak cepat bangkit kembali. Hayo serang lagi dan kali ini aku tidak akan menangkis, tidak akan mengelak, tidak akan menggunakan cambuk Sarpokenoko!"

Mendengar tantangan ini, Raden Wisangjiwo bangkit, kepalanya masih terayun-ayun ke kanan kiri, akan tetapi kepeningannya lenyap karena ia tadi memang hanya terbanting biasa saja dan mengalami babak-bundas (lecet-lecet) dan matang biru, ia melihat gurunya berdiri dengan dada dibusungkan, kedua tangan bertolak pinggang, cantik dan menantang. Menerima pukulan Tirto Rudiro dengan tubuh tanpa menangkis atau mengelak? Mana mungkin? Raden Wisangjiwo ragu-ragu. Bagaimana kalau gurunya terluka atau mati oleh pukulannya ini?
"Hayo pukul! Pukul sekuat tenaga dengan Tirto Rudiro. Awas, kalau kau memukul tidak sepenuh tenaga, aku akan membunuhmu karena menganggap kau memandang rendah kepandaian gurumu. Hayo pukul!"
Raden Wisangjiwo melangkah maju, mengerahkan tenaga, namun ia merasa bimbang ragu. Bagaimana ia tega memukul wanita yang begini cantik dengan sepenuh tenaga? Dia ini gurunya, akan tetapi juga kekasihnya. Wanita inilah yang menggemblengnya menjadi seorang jagoan, jago berkelahi dan jago dalam asmara. Ia tahu bahwa gurunya ini amat cinta kepadanya, buktinya ia telah menerima pelajaran Ilmu Asmoro Kingkin, Ilmu Cambuk Sarpokenoko, ilmu pukulan tangan kosong yang hebat-hebat. Akan tetapi, kalau ia tidak memukul sekuat tenaga, tentu gurunya itu akan membunuhnya. Hal itu mungkin saja karena memang gurunya berwatak aneh sekali. Setelah mengumpulkan tenaganya, Raden Wisangjiwo berseru keras dan memukul dengan Aji Tirto Rudiro. Akan tetapi ia tidak mau memukul tempat berbahaya, padahal kalau ia memukul lambung atau pusar, apalagi ia mau memukul dada tempat paling lemah dari wanita, tentu akan lebih hebat akibatnya. Ia memang menggunakan seluruh tenaganya, akan tetapi ia memilih tempat yang tidak begitu berbahaya, yaitu di pundak, pangkal lengan kiri gurunya.
"Syuuuuutttt....... wesssssss...! "
Alangkah kaget hati Raden Wisangjiwo ketika kepalan tangannya melesak ke dalam kulit daging bahu gurunya, seakan-akan tersedot dan tak dapat ditarik kembalil Dan dari kepalan tangannya itu terdengar bunyi "ssssssssss" seperti api bertemu air, perlahan kepalan tangannya terasa panas terbakar.
"Aduh..... aduhh......, ampun Dewi..... ampun.....!" Ia menjerit-jerit kesakitan.
"Hi-hi-hi-hik! Apa sih hebatnya Tirto Rudiro?" Ni Durgogini memekik keras dan untuk ketiga kalinya tubuh Raden Wisangjiwo terlempar, kini amat keras dan ia roboh menabrak pohon, lalu rebah dengan leher miring dan mata mendelik, lidahnya terjulur keluar, tak dapat berkutik setengah pingsan!

Sambil tertawa cekikikan Ni Durgogini melompat ke depan mendekati Raden Wisangjiwo, dengan jari tangan kirinya ia mengurut pundak dan leher. Pemuda itu mengeluh dan sadar kembali.
"Hemm, Lasmini, kau makin liar dan masih suka mempermainkan orang!"
Ni Durgogini kaget seperti disambar petir mendengar suara ini dan tubuhnya cepat bergerak membalik, cambuk Sarpokenoko digenggam erat. Juga Raden Wisangjiwo sudah bangkit berdiri, memandang laki-laki yang entah dari mana datangnya tahu-tahu sudah berdiri di situ. Laki-laki ini berusia empatpuluhan tahun lebih, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan berwibawa. Kepalanya yang berambut nyambel wijen (banyak uban) itu tertutup kain kepala yang ujungnya berdiri meruncing di sebelah belakang. Biarpun ia bertelanjang kaki, namun pakaiannya dan sikapnya membayangkan keagungan seorang bangsawan. Yang amat menarik adalah pancaran pandang matanya yang penuh tenaga batin, tenang lembut dan dalam seperti permukaan air telaga yang dalam. Raden Wisangjiwo tidak mengenal orang ini, akan tetapi Ni Durgogini kelihatan makin kaget ketika ia melihat siapa orangnya yang mengeluarkan ucapan tadi. Sesaat wajahnya yang cantik itu menjadi pucat, matanya terbelalak memandang laki-laki itu tanpa berkedip dan mulutnya bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan suara.
"Lasmini, kau kaget melihatku?" laki-laki itu menegur sambil tersenyum, kumisnya yang tipis bergerak menambah ketampanan wajahnya.
"Kau....... rakanda....... Narotama.....! Mau..... mau apakah kau datang ke Girilimut (Bukit Halimun) ini.....?"
Narotama tersenyum lebar.
"Tidak ada urusan denganmu, nimas, sama sekali tidak ada, hanya kebetulan saja. Bahkan aku sama sekali tidak mengira bahwa Ni Durgogini yang tersohor adalah engkau! Kalau begitu, Ni Nogogini adalah si Mandari. Ah, siapa sangka.......! Kebetulan saja aku datang ke sini, terus terang hendak mencari Ni Durgogini karena ada sesuatu hendak kutanyakan, tidak tahunya Ni Durgogini adalah engkau dan aku melihat engkau mempermainkan orang muda ini. Apa dosanya?"
Agaknya lega hati Ni Durgogini mendengar ucapan itu. Ia tersenyum manja dan genit, lalu berkata,
"Siapa main-main dengan dia? Dia sedang kuberi latihan ilmu, dia ini muridku. Raden Wisangjiwo putera Adipati Joyowiseso."
Narotama mengangguk-angguk.
"Hemm, putera adipati di Selopenangkep? Putera adipati seyogianya menjadi perajurit, dan untuk menjadi seorang ksatria utama bukan di sini tempat perguruannya. Lasmini, apa sih kebisaanmu maka engkau berani menjadi guru putera seorang adipati?"

Raden Wisangjiwo mendongkol sekali mendengar ini dan ia terheran-heran melihat gurunya yang biasanya galak itu kini seakan-akan mati kutunya berhadapan dengan orang asing ini. Ia tahu dengan pasti bahwa kalau orang lain yang mengucapkan kalimat itu, tentu sekali bergerak gurunya akan membunuh orang itu yang dianggap menghina. Akan tetapi aneh bin ajaib, terhadap orang ini gurunya hanya tersenyum-senyum malu dan tidak dapat menjawab. Rasa terheran-heran ini membuat Raden Wisangjiwo menjadi penasaran, maka ia melangkah maju ke depan orang itu dan menghardik,
"Paman! Siapapun adanya engkau ini, tidak sepatutnya kau mengeluarkan kata-kata memandang rendah guruku. Mungkin kau sahabat baik guruku maka guruku bersabar mendengar penghinaan mu, akan tetapi aku sebagai muridnya tidak dapat membiarkan kekurangajaranmu. Kau hendak melihat pelajaran apa yang diberikan guruku kepadaku? Nah, apakah kau mau bukti dengan mengadu kerasnya tulang tebalnya kulit melawanku? Kalau tidak berani, kau harus menarik kembali ucapanmu yang menghina tadi!"
"Uwah, boleh juga muridmu, nimas! "
"Apa kaukira aku suka mengambil murid orang yang tiada gunanya?"
"Namamu Raden Wisangjiwo, orang muda? Keberanianmu cukup, semangat dan kesetiaanmu lumayan, sayang kau terlalu menghambur tenaga dan hawa murni yang seharusnya dihimpun. Boleh,boleh..... mari kita main-main sebentar. Dan kau boleh menggunakan cambukmu itu. Mari!"
Sedetik wajah Raden Wisangjiwo menjadi merah sekali. Ucapan ini menusuk jantungnya karena memang tepat. Iapun maklum bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu dan membuang tenaga dan hawa murni yang seharusnya ia himpun dengan perbuatannya yang tak dapat ia cegah, yaitu menjadi barang permainan gurunya sendiri, bahkan akhir-akhir ini bibi gurunyapun mempermainkannya. Ia telah terombang-ambing dalam permainan nafsu berahi yang merupakan pantangan bagi seorang pengejar ilmu kesaktian. Hubungan yang wajar dan bersih daripada nafsu kotor dengan isterinya malah jarang terjadi karena ia lebih senang berada di tempat gurunya dan inilah yang merupakan racun yang memabokkan seperti madat. Karena merasa jengah dan malu, ia menjadi marah.
"Kau sombong, orang tua. Biarlah aku mencobamu dengan pukulan tangan tanpa senjata. Siap dan sambutlah ini!"
Raden Wisangjiwo lalu menerjang maju, gerakannya sigap dan pukulannya mendatangkan angin menderu. Pemuda ini tidak hanya hendak mendemonstrasikan kehebatan ilmu gurunya, juga hatinya panas dan ia ingin memberi hajaran kepada orang yang berani bersikap kurang ajar terhadap Ni Durgogini. Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa yang ia hadapi ini adalah Narotama yang kini telah menjadi pepatih dalam di Mataram berjuluk Rakyana Patih Kanuruhan, sahabat baik Sang Prabu Airlangga dan kesaktiannya dalam olah jurit hanyalah di bawah sang prabu sendiri! Tentu saja ia tidak tahu karena nama Narotama tidak begitu terkenal, yang terkenal adalah Rakyana Patih Kanuruhan, maka ketika gurunya menyebut nama Narotama, ia sama sekali tidak tahu bahwa yang dilawannya adalah patih yang sakti mandraguna itu.

<<< Bagian 008                                                                                    Bagian 010 >>>

No comments:

Post a Comment