Andaikata ia tahu, sebagai putera Adipati Selopenangkep dan berarti orang sebawahan patih ini, sudah tentu sampai matipun ia tidak akan berani melawan!.
"Bagus!"
seru Narotama sambil tersenyum.
Ia mengenal
gerakan pemuda ini karena ilmu ketangkasan tangan kosong ini adalah pecahan
yang dikembangkan dari ilmunya sendiri, yaitu ilmu silat Kukiko Sakti (Burung
Sakti) yang pernah dahulu ia ajarkan kepada Lasmini. Ia menanti sampai pukulan
itu datang dekat, lalu menggeser kaki ke kiri dan tangan kanannya ia gerakkan
menangkis dengan tiba-tiba.
"Dukkkk!!"
Perlahan saja
tangkisan itu, namun akibatnya tubuh Raden Wisangjiwo terhuyung-huyung ke
belakang. Pemuda Ini kaget dan lenyaplah perasaan hatinya yang tadi memandang
rendah lawan tua ini. Ia melompat maju lagi dengan serangan yang lebih hebat,
tubuhnya masih dalam lompatan, masih menyambar satu meter di atas tanah, tangan
kanannya dibuka mencengkeram mata, tangan kiri disodokkan menghantam ulu hati
sedangkan dengan gerakan cepat kaki kanannya menyusul dengan tendangan ke arah
bawah pusar! Hebat sekali serangan ini, serangan maut karena berturut-turut
kedua tangan dan sebuah kaki telah menyerang hebat dan satu saja di antaranya
mengenai sasaran tentu akan membuat lawan terjungkal dengan luka parah atau
mati!
"Ganas.....
ganas.....!"
Narotama
berseru, diam-diam kagum juga karena ternyata pemuda ini memiliki bakat yang
baik, sayangnya terbimbing oleh seorang yang berwatak ganas sehingga ilmu
silatnya juga menjadi ganas sifatnya. Kembali ia berdiri diam saja menanti
sampai serangan bertubi-tubi itu tiba dekat, tiba-tiba kedua tangannya bergerak
terdengar suara,
"Plak-plak-plak!"
Tiga kali dan
semua serangan itu dapat ia tangkis, akan tetapi kali ini tubuh Raden
Wisangjiwo terlempar sampai tiga meter jauhnya dan roboh berdebuk di atas tanah
hingga debu mengepul dari bawah pantatnya. Raden Wisangjiwo meringis kesakitan,
akan tetapi ia menjadi amat penasaran. Darah mudanya bergolak. Dia, murid
terkasih Ni Durgogini yang ditakuti orang, masa sekarang menghadapi seorang
lawan tua yang tidak ternama harus menelan kekalahan demikian mudahnya?.
"Jangan
tertawa dulu, orang tua. Lihat seranganku!" bentaknya dan kini diam-diam
ia telah menggenggam Kerang Merahnya di tangan kanan, lalu menerjang maju
dengan dahsyat. Pukulannya mengandung Aji Tirto Rudiro yang ampuhnya menggila.
Namun dengan senyum dikulum Narotama menghadapi pukulan ini dengan dada
membusung dan mulut berkata,
"Eh-eh,
Lasmini, pukulan iblis apa yang kau ajarkan kepada muridmu ini? Biar kucoba
menerimanya!"
Pukulan tiba,
ke arah pusar Narotama. Patih yang sakti ini lalu menekuk lututnya, tidak
berani sembrono menerima pukulan sedahsyat itu dengan pusar, maka ia memasang
dadanya menjadi sasaran.
"Dessss.......!!!"
Hebat sekali
pukulan itu, tubuh Narotama sampai tergoyang-goyang seperti pohon beringin
terlanda angin. Akan tetapi tubuh Raden Wisangjiwo mencelat seperti daun kering
tertiup angin, jatuh terbanting dan bergulingan. Ia hanya mampu merangkak
bangun dan tahu-tahu gurunya sudah berada di sampingnya. Cekatan sekali Ni
Durgogini menekan punggung muridnya dan mengurut lengan kanannya di bawah
pangkal dekat ketiak. Seketika Raden Wisangjiwo segar kembali.
"Pukulan
keji!" kata Narotama.
"Orang
muda, lebih baik kau mempergunakan cambukmu. Bukankah kau telah menerima
pelajaran Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang hebat itu?"
Raden
Wisangjiwo meragu. Kini yakinlah hatinya bahwa lawannya adalah seorang sakti.
Akan tetapi Ni Durgogini tertawa genit.
"Rakanda,
kau benar-benar tidak mau mengalah terhadap orang muda. Mana dia mampu
menandingi tenagamu? Eh, Wisangjiwo, jangan malu-malu menghadapi orang pandai.
Saat ini adalah saat baik bagimu, dapat menambah pengalaman. Hayo serang lagi
dia, kau gunakan cambukku ini."
Ni Durgogini
menyerahkan cambuknya, Sarpokenoko yang ia pergunakan untuk menciptakan Ilmu
Cambuk Sarpokenoko yang sangat dahsyat. Diam-diam wanita ini merasa penasaran
bahwa muridnya dapat dikalahkan secara demikian mudah. Biarpun ia cukup maklum
bahwa Narotama amat sakti, apa lagi muridnya, dia sendiripun takkan mampu
menangkan, akan tetapi sebagai seorang guru ia merasa penasaran tak dapat
memamerkan kepandaian muridnya. Ia cukup mengerti bahwa dalam hal ilmu silat
tangan kosong tentu saja muridnya tidak akan berhasil seujung rambutpun, karena
semua ilmu silat tangan kosong yang ia miliki sebenarnya bersumber dari ajaran
Narotama. Benar bahwa ilmu pukulan Tirto Rudiro yang dimiliki Wisangjiwo tidak
dikenal Narotama, akan tetapi muridnya itu belum terlatih betul, tenaganya
dalam ilmu itu masih lemah, maka tentu saja tidak akan ada gunanya. Berbeda
dengan ilmu cambuknya. Ilmu ini adalah ciptaannya sendiri dan biarpun ia
percaya bahwa Narotama tentu akan dapat mengatasinya, namun sedikit banyak
Narotama akan berhadapan dengan ilmu yang asing dan tentu tidak akan dapat
secara mudah saja mengalahkannya. Dengan hati geram Raden Wisangjiwo menerima
cambuk dari tangan gurunya. Ia cukup percaya akan keampuhan cambuk gurunya.
Pernah ia melihat betapa dalam segebrakan saja cambuk di tangan gurunya ini mencabut
nyawa lima orang bajak sungai yang berani mati menentang gurunya, padahal lima
orang bajak Sungai Progo itu bukanlah lawan yang empuk, melainkan orang-orang
digdaya pula. Begitu ia mencekal gagang cambuk, rasanya ia bertambah semangat
dan dengan langkah gagah ia menghampiri lawan, cambuk Sarpokenoko diayun-ayun.
"Tar-tar-tar-tar-tar!!"
Cambuk itu melecut ke udara dan suara ledakannya nyaring sekali.
"Wah-wah,
hebat benar cambuk Sarpokenoko!"
Orang tua itu
memuji akan tetapi sikapnya tenang-tenang saja. Ia tahu akan keampuhan cambuk
yang terbuat daripada kulit ular itu, maklum bahwa cambuk ini mengandung racun
yang berbahaya, jangankan terkena lecutan, baru terkena hawanya saja cukup
dapat merobohkan orang. Ditambah lagi dengan permainan Ilmu Cambuk Sarpokenoko,
benar-benar amat ampuh dan tepat sekali dengan namanya. Sarpokenoko berarti
Kuku Ular, dan adalah nama adik Sang Prabu Dosomuko dalam ceritera pewayangan
Ramayana, adik perempuan yang mempunyai aji pada kukunya, yang sakti mandraguna
dan ganas liar seperti iblis.
"Paman,
lihat serangankul" Raden Wisangjiwo berseru.
Pemuda ini
cukup cerdik. Ia maklum bahwa orang tua yang tak dikenalnya ini adalah seorang
kenalan gurunya, seorang yang sakti dan karenanya ia mulai bersikap lunak dan
hormat, menyebutnya paman dan memberitahukan dulu sebelum menyerang. Hal ini
tentu saja ia lakukan karena ia merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat menang,
biarpun ia bersenjatakan cambuk Sarpokenoko sedangkan lawannya bertangan
kosong.
"Siuuuuttt.....
blarrrrr!"
Batu karang
sebesar kepala kerbau hancur menjadi tepung ketika cambuk itu menyambar dan
tahu-tahu tubuh Narotama lenyap dan sebagai gantinya, batu itu yang tadi berada
di bawahnya menjadi korban hantaman cambuk. Raden Wisangjiwo cepat membalikkan
tubuh. Entah bagaimana gerakan orang tua itu ia tidak melihat, akan tetapi tadi
tahu-tahu lenyap dan kini sudah berada di belakangnya, tenang-tenang saja
berdiri menanti datangnya serangan. Kembali Raden Wisangjiwo menyerang, kini
menggunakan gerakan memutar cambuk membentuk lingkaran-lingkaran di sekitar
tubuh lawan, menghadang jalan keluar. Dari dalam lingkaran itu, ujung cambuk
baru mematuk seperti paruh burung elang, mengarah bagian berbahaya seperti
mata, leher, ulu hati, lambung, pusar dan sebagainya.
"Hebat.......!"
Narotama
kembali memuji dan ia benar-benar kagum. Memang tak boleh dibuat permainan ilmu
cambuk ini, terpaksa ia lalu mengeluarkan ajiannya, tiba-tiba tubuhnya
berkelebat seperti terbang atau seperti bayang-bayang saja yang mengikuti
gerakan cambuk, menyelinap di antara sinar cambuk dan anehnya, gerakannya ini
mengeluarkan bunyi mengaung perlahan tiada hentinya. Inilah ilmu silat tangan
kosong Bramoro Seto (Lebah Putih) yang merupakan sebuah di antara raja ilmu
silat tangan kosong. Sampai berkunang kedua mata Raden Wisangjiwo mencari-cari
lawannya dan mengikuti gerakan bayangan yang berkelebat itu, bayangan putih
yang tak tentu ujudnya, tak tentu ke mana pindahnya. Tubuhnya sudah lelah
sekali karena ia telah mainkan semua jurus Ilmu Cambuk Sarpokenoko untuk
menghantam bayangan itu, namun sia-sia, semua serangannya hanya mengenai angin
belaka, sedangkan suara mengaung-ngaung seperti lebah besar beterbangan di
sekitar kepalanya membuat ia menjadi panik dan pening. Apalagi karena lawannya
itu bergerak-gerak bukan hanya untuk mengelak, melainkan membalas dengan
tamparan-tamparan yang mendatangkan hawa panas, membuat Raden Wisangjiwo
bingung mengelak ke sana ke mari, menyambarkan cambuknya ke kanan kiri, dan
masih untung baginya bahwa lawannya tidak mau memukulnya, melainkan membikin
bingung saja. Kalau memang lawan berniat buruk, sudah tadi-tadi ia kena pukuli
"Cukup,
Wisangjiwo, lekas memberi hormat kepada gusti patih!" seru Ni Durgogini
dan tahu-tahu cambuk di tangan pemuda itu sudah terampas oleh gurunya.
Narotama
berhenti dan berdiri dengan wajah biasa, tenang dan tertawa ramah.
"Gusti.......
gusti patih.......?" Wisangjiwo kebingungan, memandang gurunya dan orang
tua itu berganti-ganti.
Ni Durgogini
tertawa genit cekikikan.
"Anak
bodoh, apakah kau tidak tahu bahwa rakanda Narotama adalah Gusti Rakyana Patih
Kanuruhan, Patih Dalam Mataram yang terkenal sakti mandraguna?"
Dapat
dibayangkan betapa kagetnya hati Raden Wisangjiwo mendengar ini. Matanya
terbelalak, mukanya pucat dan cepat sekali ia menjatuhkan diri berlutut sembah
di depan Narotama sambil berkata,
"Mohon
beribu ampun, gusti patih. Karena hamba tidak tahu maka hamba telah berani
bersikap kurang ajar dan tidak sopan di hadapan paduka."
"Tidak
mengapa, orang muda. Andaikata engkau tahu sekalipun, tetap aku ingin
menyaksikan kemajuan murid Ni Durgogini. Kepandaianmu lumayan, hanya kurang
matang, dan....... dan ganas."
"Rakanda
Narotama, kebetulan sekali kau datang. Aku minta kepadamu, demi mengingat
hubungan antara kita dahulu, berilah bimbingan kepada muridku ini. Dia putera
Adipati Selopenangkep, sudah sepatutnya ia menghamba di kerajaan dan kurasa
kepandaiannya cukup memenuhi syarat. Kuharap kau suka menerimanya dan
memberinya kedudukan di kota raja."
Narotama
mengelus-elus jenggotnya. Di dalam hatinya, ia kurang cocok dengan pemuda ini
karena ilmu-ilmunya amat ganas, tak pantas menjadi ilmu pegangan ksatria. Akan
tetapi untuk menolak, iapun merasa tidak enak kepada Nl Durgogini atau Lasmini.
Lasmini yang dahulunya seorang puteri jelita kini telah berubah menjadi wanita
iblis yang terkenal dengan nama Ni Durgogini, perubahan ini sebagian adalah dia
yang menyebabkannya, maka diam-diam ia menaruh hati iba kepada Lasmini, bekas
selirnya ini. Ya, Lasmini dahulu adalah selirnya, selir yang tercinta, karena
di antara para selirnya, Lasmini adalah selir yang paling tangkas dan pandai
olah keprajuritan, seperti Srikandi, memiliki bakat yang amat baik sehingga
dalam cinta kasihnya, Narotama telah menurunkan banyak ilmu kesaktian kepada
selirnya itu. Akan tetapi, sayang sekali, Lasmini selain memiliki dasar
ketangkasan, juga memiliki dasar yang tidak baik dan cabul. Terpaksa Narotama
mengusirnya ketika selir itu terdapat melakukan hubungan gelap, berjina dengan
seorang pangeran melalui perantaraan ki juru taman. Karena peristiwa memalukan
ini menyangkut diri seorang pangeran, dengan bijaksana Narotama tidak
menimbulkan heboh, hanya secara diam-diam ia mengusir Lasmini. Tadinya ia
mengira bahwa pangeran itu tentu akan menolong Lasmini dan mengambilnya sebagai
selir, siapa tahu, Lasmini tersia-sia agaknya dan ternyata telah berubah
menjadi wanita iblis berjuluk Ni Durgogini.
Setelah
pertemuan ini barulah Narotama dapat menduga bahwa saudara Ni Durgogini yang
sama terkenalnya, yaitu Ni Nogogini, tentulah si cantik Mandari pula, adik
Lasmini yang pernah diselir Sang Prabu Airlangga sendiri, akan tetapi sudah
lebih dahulu diusir karena sang prabu tidak suka akan perangai Mandari yang
liar.
"Wisangjiwo,
apakah kau setuju dengan usul gurumu itu? Inginkan kau menjadi ksatria di kota
raja?"
Sebetulnya
tidak pernah gurunya mengajaknya bicara tentang hal ini, akan tetapi siapa
orangnya tidak ingin menjadi ksatria? Dan siapa pula tidak ingin memperoleh
kesempatan mencari kemuliaan? Selain itu, ia merasa terancam keselamatannya
setelah pertempurannya di Guha Siluman dan melukai anak dan mantu Resi
Bhargowo, maka kiranya hanya di kota raja sajalah tempat yang aman baginya.
Juga, di kota raja ia tahu banyak terdapat orang-orang sakti sehingga mudah
pula untuk memperdalam ilmu-ilmunya sehingga ia kelak tidak takut menghadapi
ancaman dari manapun juga datangnya. Maka sambil berlutut dan menyembah iapun
menjawab tegas,
No comments:
Post a Comment