Badai Laut Selatan ; Bagian 010


Andaikata ia tahu, sebagai putera Adipati Selopenangkep dan berarti orang sebawahan patih ini, sudah tentu sampai matipun ia tidak akan berani melawan!.
"Bagus!" seru Narotama sambil tersenyum.

Ia mengenal gerakan pemuda ini karena ilmu ketangkasan tangan kosong ini adalah pecahan yang dikembangkan dari ilmunya sendiri, yaitu ilmu silat Kukiko Sakti (Burung Sakti) yang pernah dahulu ia ajarkan kepada Lasmini. Ia menanti sampai pukulan itu datang dekat, lalu menggeser kaki ke kiri dan tangan kanannya ia gerakkan menangkis dengan tiba-tiba.
"Dukkkk!!"
Perlahan saja tangkisan itu, namun akibatnya tubuh Raden Wisangjiwo terhuyung-huyung ke belakang. Pemuda Ini kaget dan lenyaplah perasaan hatinya yang tadi memandang rendah lawan tua ini. Ia melompat maju lagi dengan serangan yang lebih hebat, tubuhnya masih dalam lompatan, masih menyambar satu meter di atas tanah, tangan kanannya dibuka mencengkeram mata, tangan kiri disodokkan menghantam ulu hati sedangkan dengan gerakan cepat kaki kanannya menyusul dengan tendangan ke arah bawah pusar! Hebat sekali serangan ini, serangan maut karena berturut-turut kedua tangan dan sebuah kaki telah menyerang hebat dan satu saja di antaranya mengenai sasaran tentu akan membuat lawan terjungkal dengan luka parah atau mati!
"Ganas..... ganas.....!"
Narotama berseru, diam-diam kagum juga karena ternyata pemuda ini memiliki bakat yang baik, sayangnya terbimbing oleh seorang yang berwatak ganas sehingga ilmu silatnya juga menjadi ganas sifatnya. Kembali ia berdiri diam saja menanti sampai serangan bertubi-tubi itu tiba dekat, tiba-tiba kedua tangannya bergerak terdengar suara,
"Plak-plak-plak!"
Tiga kali dan semua serangan itu dapat ia tangkis, akan tetapi kali ini tubuh Raden Wisangjiwo terlempar sampai tiga meter jauhnya dan roboh berdebuk di atas tanah hingga debu mengepul dari bawah pantatnya. Raden Wisangjiwo meringis kesakitan, akan tetapi ia menjadi amat penasaran. Darah mudanya bergolak. Dia, murid terkasih Ni Durgogini yang ditakuti orang, masa sekarang menghadapi seorang lawan tua yang tidak ternama harus menelan kekalahan demikian mudahnya?.
"Jangan tertawa dulu, orang tua. Lihat seranganku!" bentaknya dan kini diam-diam ia telah menggenggam Kerang Merahnya di tangan kanan, lalu menerjang maju dengan dahsyat. Pukulannya mengandung Aji Tirto Rudiro yang ampuhnya menggila. Namun dengan senyum dikulum Narotama menghadapi pukulan ini dengan dada membusung dan mulut berkata,
"Eh-eh, Lasmini, pukulan iblis apa yang kau ajarkan kepada muridmu ini? Biar kucoba menerimanya!"
Pukulan tiba, ke arah pusar Narotama. Patih yang sakti ini lalu menekuk lututnya, tidak berani sembrono menerima pukulan sedahsyat itu dengan pusar, maka ia memasang dadanya menjadi sasaran.
"Dessss.......!!!"
Hebat sekali pukulan itu, tubuh Narotama sampai tergoyang-goyang seperti pohon beringin terlanda angin. Akan tetapi tubuh Raden Wisangjiwo mencelat seperti daun kering tertiup angin, jatuh terbanting dan bergulingan. Ia hanya mampu merangkak bangun dan tahu-tahu gurunya sudah berada di sampingnya. Cekatan sekali Ni Durgogini menekan punggung muridnya dan mengurut lengan kanannya di bawah pangkal dekat ketiak. Seketika Raden Wisangjiwo segar kembali.
"Pukulan keji!" kata Narotama.
"Orang muda, lebih baik kau mempergunakan cambukmu. Bukankah kau telah menerima pelajaran Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang hebat itu?"
Raden Wisangjiwo meragu. Kini yakinlah hatinya bahwa lawannya adalah seorang sakti. Akan tetapi Ni Durgogini tertawa genit.
"Rakanda, kau benar-benar tidak mau mengalah terhadap orang muda. Mana dia mampu menandingi tenagamu? Eh, Wisangjiwo, jangan malu-malu menghadapi orang pandai. Saat ini adalah saat baik bagimu, dapat menambah pengalaman. Hayo serang lagi dia, kau gunakan cambukku ini."

Ni Durgogini menyerahkan cambuknya, Sarpokenoko yang ia pergunakan untuk menciptakan Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang sangat dahsyat. Diam-diam wanita ini merasa penasaran bahwa muridnya dapat dikalahkan secara demikian mudah. Biarpun ia cukup maklum bahwa Narotama amat sakti, apa lagi muridnya, dia sendiripun takkan mampu menangkan, akan tetapi sebagai seorang guru ia merasa penasaran tak dapat memamerkan kepandaian muridnya. Ia cukup mengerti bahwa dalam hal ilmu silat tangan kosong tentu saja muridnya tidak akan berhasil seujung rambutpun, karena semua ilmu silat tangan kosong yang ia miliki sebenarnya bersumber dari ajaran Narotama. Benar bahwa ilmu pukulan Tirto Rudiro yang dimiliki Wisangjiwo tidak dikenal Narotama, akan tetapi muridnya itu belum terlatih betul, tenaganya dalam ilmu itu masih lemah, maka tentu saja tidak akan ada gunanya. Berbeda dengan ilmu cambuknya. Ilmu ini adalah ciptaannya sendiri dan biarpun ia percaya bahwa Narotama tentu akan dapat mengatasinya, namun sedikit banyak Narotama akan berhadapan dengan ilmu yang asing dan tentu tidak akan dapat secara mudah saja mengalahkannya. Dengan hati geram Raden Wisangjiwo menerima cambuk dari tangan gurunya. Ia cukup percaya akan keampuhan cambuk gurunya. Pernah ia melihat betapa dalam segebrakan saja cambuk di tangan gurunya ini mencabut nyawa lima orang bajak sungai yang berani mati menentang gurunya, padahal lima orang bajak Sungai Progo itu bukanlah lawan yang empuk, melainkan orang-orang digdaya pula. Begitu ia mencekal gagang cambuk, rasanya ia bertambah semangat dan dengan langkah gagah ia menghampiri lawan, cambuk Sarpokenoko diayun-ayun.
"Tar-tar-tar-tar-tar!!" Cambuk itu melecut ke udara dan suara ledakannya nyaring sekali.
"Wah-wah, hebat benar cambuk Sarpokenoko!"
Orang tua itu memuji akan tetapi sikapnya tenang-tenang saja. Ia tahu akan keampuhan cambuk yang terbuat daripada kulit ular itu, maklum bahwa cambuk ini mengandung racun yang berbahaya, jangankan terkena lecutan, baru terkena hawanya saja cukup dapat merobohkan orang. Ditambah lagi dengan permainan Ilmu Cambuk Sarpokenoko, benar-benar amat ampuh dan tepat sekali dengan namanya. Sarpokenoko berarti Kuku Ular, dan adalah nama adik Sang Prabu Dosomuko dalam ceritera pewayangan Ramayana, adik perempuan yang mempunyai aji pada kukunya, yang sakti mandraguna dan ganas liar seperti iblis.
"Paman, lihat serangankul" Raden Wisangjiwo berseru.
Pemuda ini cukup cerdik. Ia maklum bahwa orang tua yang tak dikenalnya ini adalah seorang kenalan gurunya, seorang yang sakti dan karenanya ia mulai bersikap lunak dan hormat, menyebutnya paman dan memberitahukan dulu sebelum menyerang. Hal ini tentu saja ia lakukan karena ia merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat menang, biarpun ia bersenjatakan cambuk Sarpokenoko sedangkan lawannya bertangan kosong.
"Siuuuuttt..... blarrrrr!"
Batu karang sebesar kepala kerbau hancur menjadi tepung ketika cambuk itu menyambar dan tahu-tahu tubuh Narotama lenyap dan sebagai gantinya, batu itu yang tadi berada di bawahnya menjadi korban hantaman cambuk. Raden Wisangjiwo cepat membalikkan tubuh. Entah bagaimana gerakan orang tua itu ia tidak melihat, akan tetapi tadi tahu-tahu lenyap dan kini sudah berada di belakangnya, tenang-tenang saja berdiri menanti datangnya serangan. Kembali Raden Wisangjiwo menyerang, kini menggunakan gerakan memutar cambuk membentuk lingkaran-lingkaran di sekitar tubuh lawan, menghadang jalan keluar. Dari dalam lingkaran itu, ujung cambuk baru mematuk seperti paruh burung elang, mengarah bagian berbahaya seperti mata, leher, ulu hati, lambung, pusar dan sebagainya.
"Hebat.......!"

Narotama kembali memuji dan ia benar-benar kagum. Memang tak boleh dibuat permainan ilmu cambuk ini, terpaksa ia lalu mengeluarkan ajiannya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat seperti terbang atau seperti bayang-bayang saja yang mengikuti gerakan cambuk, menyelinap di antara sinar cambuk dan anehnya, gerakannya ini mengeluarkan bunyi mengaung perlahan tiada hentinya. Inilah ilmu silat tangan kosong Bramoro Seto (Lebah Putih) yang merupakan sebuah di antara raja ilmu silat tangan kosong. Sampai berkunang kedua mata Raden Wisangjiwo mencari-cari lawannya dan mengikuti gerakan bayangan yang berkelebat itu, bayangan putih yang tak tentu ujudnya, tak tentu ke mana pindahnya. Tubuhnya sudah lelah sekali karena ia telah mainkan semua jurus Ilmu Cambuk Sarpokenoko untuk menghantam bayangan itu, namun sia-sia, semua serangannya hanya mengenai angin belaka, sedangkan suara mengaung-ngaung seperti lebah besar beterbangan di sekitar kepalanya membuat ia menjadi panik dan pening. Apalagi karena lawannya itu bergerak-gerak bukan hanya untuk mengelak, melainkan membalas dengan tamparan-tamparan yang mendatangkan hawa panas, membuat Raden Wisangjiwo bingung mengelak ke sana ke mari, menyambarkan cambuknya ke kanan kiri, dan masih untung baginya bahwa lawannya tidak mau memukulnya, melainkan membikin bingung saja. Kalau memang lawan berniat buruk, sudah tadi-tadi ia kena pukuli
"Cukup, Wisangjiwo, lekas memberi hormat kepada gusti patih!" seru Ni Durgogini dan tahu-tahu cambuk di tangan pemuda itu sudah terampas oleh gurunya.
Narotama berhenti dan berdiri dengan wajah biasa, tenang dan tertawa ramah.
"Gusti....... gusti patih.......?" Wisangjiwo kebingungan, memandang gurunya dan orang tua itu berganti-ganti.
Ni Durgogini tertawa genit cekikikan.
"Anak bodoh, apakah kau tidak tahu bahwa rakanda Narotama adalah Gusti Rakyana Patih Kanuruhan, Patih Dalam Mataram yang terkenal sakti mandraguna?"
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Raden Wisangjiwo mendengar ini. Matanya terbelalak, mukanya pucat dan cepat sekali ia menjatuhkan diri berlutut sembah di depan Narotama sambil berkata,
"Mohon beribu ampun, gusti patih. Karena hamba tidak tahu maka hamba telah berani bersikap kurang ajar dan tidak sopan di hadapan paduka."
"Tidak mengapa, orang muda. Andaikata engkau tahu sekalipun, tetap aku ingin menyaksikan kemajuan murid Ni Durgogini. Kepandaianmu lumayan, hanya kurang matang, dan....... dan ganas."
"Rakanda Narotama, kebetulan sekali kau datang. Aku minta kepadamu, demi mengingat hubungan antara kita dahulu, berilah bimbingan kepada muridku ini. Dia putera Adipati Selopenangkep, sudah sepatutnya ia menghamba di kerajaan dan kurasa kepandaiannya cukup memenuhi syarat. Kuharap kau suka menerimanya dan memberinya kedudukan di kota raja."

Narotama mengelus-elus jenggotnya. Di dalam hatinya, ia kurang cocok dengan pemuda ini karena ilmu-ilmunya amat ganas, tak pantas menjadi ilmu pegangan ksatria. Akan tetapi untuk menolak, iapun merasa tidak enak kepada Nl Durgogini atau Lasmini. Lasmini yang dahulunya seorang puteri jelita kini telah berubah menjadi wanita iblis yang terkenal dengan nama Ni Durgogini, perubahan ini sebagian adalah dia yang menyebabkannya, maka diam-diam ia menaruh hati iba kepada Lasmini, bekas selirnya ini. Ya, Lasmini dahulu adalah selirnya, selir yang tercinta, karena di antara para selirnya, Lasmini adalah selir yang paling tangkas dan pandai olah keprajuritan, seperti Srikandi, memiliki bakat yang amat baik sehingga dalam cinta kasihnya, Narotama telah menurunkan banyak ilmu kesaktian kepada selirnya itu. Akan tetapi, sayang sekali, Lasmini selain memiliki dasar ketangkasan, juga memiliki dasar yang tidak baik dan cabul. Terpaksa Narotama mengusirnya ketika selir itu terdapat melakukan hubungan gelap, berjina dengan seorang pangeran melalui perantaraan ki juru taman. Karena peristiwa memalukan ini menyangkut diri seorang pangeran, dengan bijaksana Narotama tidak menimbulkan heboh, hanya secara diam-diam ia mengusir Lasmini. Tadinya ia mengira bahwa pangeran itu tentu akan menolong Lasmini dan mengambilnya sebagai selir, siapa tahu, Lasmini tersia-sia agaknya dan ternyata telah berubah menjadi wanita iblis berjuluk Ni Durgogini.
Setelah pertemuan ini barulah Narotama dapat menduga bahwa saudara Ni Durgogini yang sama terkenalnya, yaitu Ni Nogogini, tentulah si cantik Mandari pula, adik Lasmini yang pernah diselir Sang Prabu Airlangga sendiri, akan tetapi sudah lebih dahulu diusir karena sang prabu tidak suka akan perangai Mandari yang liar.
"Wisangjiwo, apakah kau setuju dengan usul gurumu itu? Inginkan kau menjadi ksatria di kota raja?"
Sebetulnya tidak pernah gurunya mengajaknya bicara tentang hal ini, akan tetapi siapa orangnya tidak ingin menjadi ksatria? Dan siapa pula tidak ingin memperoleh kesempatan mencari kemuliaan? Selain itu, ia merasa terancam keselamatannya setelah pertempurannya di Guha Siluman dan melukai anak dan mantu Resi Bhargowo, maka kiranya hanya di kota raja sajalah tempat yang aman baginya. Juga, di kota raja ia tahu banyak terdapat orang-orang sakti sehingga mudah pula untuk memperdalam ilmu-ilmunya sehingga ia kelak tidak takut menghadapi ancaman dari manapun juga datangnya. Maka sambil berlutut dan menyembah iapun menjawab tegas,

<<< Bagian 009                                                                                    Bagian 011 >>>

No comments:

Post a Comment