Badai Laut Selatan ; Bagian 011


"Hamba setuju dan hanya mengandalkan kemurahan hati dan kebijaksanaan paduka, gusti patih."
Narotama atau Rakyana Patih Kanuruhan mencabut keluar sebatang keris kecil berbentuk lurus yang disebut keris Kolomisani, memberikan keris itu kepada Wisangjiwo dan berkata,
"Baiklah, kau boleh berangkat sekarang juga, bawa keris ini ke kepatihan, serahkan kepada kepala pengawal istana yang selanjutnya akan memberi petunjuk kepadamu."
Wisangjiwo menerima keris kecil itu, bersembah menghaturkan terima kasih, kemudian dengan hati girang ia minta diri, berpamit kepada gurunya untuk langsung pergi ke Mataram. Ia tidak peduli akan pandangan kecewa gurunya karena sesungguhnya Ni Durgogini tidak mengira bahwa muridnya yang terkasih itu akan berangkat sekarang juga! Ia tentu akan kehilangan dan kesepian, akan tetapi ia tidak tahu bahwa Wisangjiwo memang sengaja ingin lekas-lekas pergi agar jangan sampai terganggu oleh gurunya sendiri, karena ia harus mentaati pesan bibi gurunya untuk berlatih dengan tekun dan dengan pantangan mendekati wanita dan makan barang berjiwa. Inilah kesempatan amat baik baginya, karena kalau tidak segera ia pergi, ia tak mungkin dapat mengharapkan kesempurnaan dalam melatih Ilmu Tirto Rudiro apabila ia berdekatan dengan Ni Durgogini!. Setelah pemuda itu pergi jauh, Narotama berkata,
"Ni Lasmini, telah kukatakan tadi bahwa kedatanganku ke sini adalah kebetulan, karena aku sedang mencari Durgogini dan sama sekali tidak mengira akan bertemu denganmu di sini."

Durgogini mencibirkan bibirnya yang masih merah semringah, namun sepasang matanya kehilangan gairah cintanya yang dahulu terhadap patih ini. Sepuluh tahun lebih telah lalu dan kini sang patih bukan lagi seorang pria muda perkasa yang tampan gagah, melainkan seorang pria yang sudah setengah tua dengan rambut berwarna dua dan air muka dingin.
"Rakanda patih, setelah tahu bahwa Ni Durgogini adalah Lasmini, lalu bagaimana?" Ia tertawa terkekeh dan terheranlah Narotama betapa setelah lewat hampir tigabelas tahun, bekas selirnya ini masih tetap saja kelihatan muda, mukanya berseri, bibirnya merah membasah, giginya putih berkilau, tidak tampak sedikitpun keriput pada kulitnya yang masih halus.
Patih ini tentu saja tidak tahu bahwa Durgogini dan adiknya, Nogogini telah dapat menemukan Suket Sungsang, yakni semacam rumput laut yang langka, dan yang mengandung khasiat mustajab untuk membuat wanita awet muda. Inilah sebabnya maka Ni Durgogini dan Ni Nogogini, biarpun sudah berusia kurang lebih empatpuluh tahun, masih tampak seperti gadis-gadis remaja berusia dua puluh tahun!
"Ni Lasmini, kepadamu aku lebih baik berterus terang, karena sedikit banyak engkau tentu masih memiliki perasaan setia kepada Mataram. Aku sedang memikul tugas berat, tugas yang kuterima langsung dari sang prabu sendiri. Ketahuilah bahwa sebulan yang lalu, secara tiba-tiba dan ghaib, patung emas Sang Batara Wisnu telah lenyap dari dalam istana. Sang prabu merasa prihatin sekali akan kehilangan ini, karena hal itu merupakan perlambang buruk bagi kejayaan Mataram. Oleh karena itulah maka aku sendiri diutus untuk pergi mencari dan mendapatkan kembali patung emas itu."
"Hemm, hanya sebuah patung kecil, mengapa perlu diributkan? Apa sukarnya bagi sang prabu untuk menitah para empu membuatkan kembali patung emas yang lebih indah dan besar?"
Narotama menarik napas panjang.
"Engkau tidak tahu, Lasmini. Patung kencana itu sebuah benda keramat dan bertuah, dahulu menjadi ajimat dari Empu Lo Hapala yang kemudian bergelar Rakai Kayuwangi, hampir dua abad yang lalu. Pernah dahulu patung inipun lenyap dari istana Rakai Kayuwangi dan akibatnya, Kerajaan Mataram menyuram. Oleh karena itulah maka sang prabu menjadi prihatin dan akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kembali patung itu."
"Hemm!" Bibir merah itu mencibir;
"Kalau begitu, mengapa engkau mencarinya ke sini? Apa kaukira aku yang mencuri patung itu?" Sepasang mata bening yang bersinar genit cabul itu mengeluarkan cahaya berkilat.
Narotama tersenyum lebar.
"Engkau masih galak seperti dahulu, Lasmini! Tentu saja aku tidak berani menuduh siapapun juga tanpa bukti. Akan tetapi menurut getaran yang kurasakan, patung itu pasti berada di sekitar pantai Laut Selatan. Aku sengaja mencari Ni Durgogini bukan untuk menuduh, melainkan untuk minta keterangan, barangkali saja Ni Durgogini mengetahui tentang patung ini."
"Hi-hik! Rakanda Narotama mengapa bicara berputar-putar? Aku bukan Lasmini lagi, akulah Ni Durgogini dan aku tidak tahu-menahu tentang patung itu. Agaknya rakanda salah perhitungan, maka sampai datang ke sini. Di antara sang prabu dan aku tidak ada urusan sesuatu, maka mengapa aku bersusah payah mencuri patung? Kalau rakanda pandai! mengapa tidak mencarinya pada orang yang memang ada urusan dan dendam dengan sang prabu?"
Narotama termenung sejenak, tiba-tiba ia menepuk dahinya sendiri.
"Aha! Kau benar, Ni Durgogini! Mengapa aku begini bodoh? Ni Mandari, adikmu! Agaknya ia lebih tahu......."
"Bukan niatku mengkhianati adik kandung! Pula, seperti juga Ni Lasmini, Ni Mandari telah mati, tidak ada lagi, yang ada adalah Ni Nogogini!"
"Di mana dia? Di mana aku bisa bertemu dengan Ni Nogogini?"
Ni Durgogini terkekeh genit dan matanya tajam mengerling.
"Sang patih yang arif bijaksana dan sakti mandraguna, apakah tidak malu bertanya-tanya, kepada seorang wanita yang tidak berdaya? Kaucarilah sendiri, sepanjang pengetahuanku, Ni Nogogini bertahta di dalam istana yang letaknya di dasar Segoro Kidul (Laut Selatan), hi-hi-hik!"

Narotama tentu tahu bahwa bekas selirnya ini mempermainkannya, karena tidak mungkin seorang manusia biasa bertempat tinggal di dasar laut. Ia mengangguk dan berkata,
"Sudahlah, Ni Durgogini, aku mohon diri. Akan kucari sendiri Ni Nogogini!" Ia membalikkan tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar suara angin menyambar diiringi ketawa cekikikan yang menyeramkan dari arah belakangnya. Narotama terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya lagi dan tangan kanannya bergerak dengan jari-jari terbuka, menghantam benda hitam yang menyambar dahsyat.
"Blarrrr.......!" Batu karang yang besar itu pecah berantakan sampai mengepulkan debu.
"Ni Durgogini, apa maksudmu main-main seperti ini?" tegurnya, suaranya penuh wibawa.
"Hi-hi-hi-hik, siapa main-main, sang patih yang terhormat? Tiga belas tahun aku menderita dengan hati perih, mengingat betapa kejam seorang pria telah mengusir dan menghinaku! Narotama, apakah kau pura-pura lupa bahwa kaulah yang membunuh Ni Lasmini sehingga menjelma menjadi Ni Durgodini yang hidup terasing di Girilimut ini?"
Narotama menarik napas panjang, penuh sesal,
"Nimas, kau salah paham. Semenjak dahulu aku tidak mendendam kepadamu, aku maklum akan kelemahanmu sebagai wanita muda. Aku dahulu sengaja membebaskanmu agar kau dapat melanjutkan langen asmoro (bermain cinta) dengan pangeranmu. Aku mengira bahwa sang pangeran tentu akan mengambilmu sebagai selir dalam, siapa tahu dia menyia-nyiakanmu. Aku selalu bermaksud baik kepadamu, nimas. Buktinya, putera adipati muridmu itupun kuterima dengan segala kerelaan hati."
"Tidak ada sangkut-pautnya denganku! Betapapun juga, setelah kau datang ke sini, tak dapat aku membiarkan kau pergi begitu saja tanpa membuat beres perhitungan lama, Narotama!"
"Hemmmm, kalau begitu wawasanmu, terserah kepadamu, Ni Durgogini."
"Heh-heh-hi-hi-hik, jangan kira Lasmini dahulu sama dengan Durgogini sekarang, Rakyana Patih Kanuruhan. Terimalah pukulanku Aji Ampak-ampak ini!"
Wanita itu memekik dahsyat lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipe tang, jari-jari tangannya terbuka dan mengirim pukulan yang mengandung hawa dingin, sedingin ampak-ampak (halimun) yang dapat membekukan darah dalam tubuh!

Melihat cahaya kebiruan keluar dari telapak tangan Durgogini, Narotama terkejut. Hebat ilmu pukulan ini, dan amatlah kuatnya. Bukannya ia tidak berani menghadapi keras lawan keras, akan tetapi ia tidak bermaksud melukai wanita yang sudah mendatangkan iba di hatinya ini. Kalau ia lawan dengan kekuatan hawa sakti pula, tentu seorang di antara mereka akan terluka hebat dan ia tidak menginginkan hal ini terjadi. Maka Narotama lalu melesat menghindarkan pukulan-pukulan yang datangnya cepat bertubi, mempergunakan Ilmu Silat Dojro Dahono (Api Halilintar) untuk melawan Aji Ampak-ampak. Aji Bojro Dahono merupakan lawan setimpal Aji Ampak-ampak yang dingin, karena Bojro Dahono menimbulkan hawa panas seperti pusar Kawah Candradimuka. Dari kedua telapak tangan sang patih keluar hawa bersinar kuning kemerahan dan setelah tangkis-menangkis puluhan jurus, Ni Durgogini tak kuat menahan pula, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat saking panas hawa yang dideritanya.
"Wuuuttt, tar-tar-tarl"
Kini cambuk Sarpokepoko berada di tangannya dan menyambar-nyambar ganas. Biarpun Aji Bojro Dahono hebat, namun gerakan ilmu silat ini kurang tangkas kalau harus dipergunakan menghadapi Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang amat cepat itu. Bagaikan seekor ular sakti, cambuk itu melingkar-lingkar, menyambar-nyambar dan ujungnya mematuk-matuk ke arah jalan darah dan bagian tubuh yang penting dan berbahaya, setiap gerak merupakan margapati (jalan maut). Kembali Narotam menjadi kagum. Tadi ia sudah menyaksikan dan melawan Ilmu Cambuk Sarpokenoko ini ketika dimainkan Wisangjiwo, dan sudah menjadi kagum. Kini setelah ilmu cambuk ini dimainkan oleh sang pencipta sendiri, hebatnya berlipat ganda! Angin yang diakibatkan oleh pemutaran cambuk itu ikut berpusing, membentuk angin lesus yang berpusing-pusing membawa daun kering dan debu ke atas. Ini semua masih ditambah lecutan-lecutan di udara yang menimbulkan suara ledakan, sehingga ketika Ni Durgogini mainkan ilmu Cambuk Sarpokenoko, keadaan di puncak Girilimut itu tiada ubahnya seperti ada angin lesus (angina puyuh) mengamuk disertai halilintar menyambar-nyambar!
"Nimas, apakah kau menghendaki nyawaku ? Begitu tega.......?" Narotama berkata penuh sesal.
"Hi-hi-hiil Kaupun tega lara terhadapku, mengapa aku tidak tega pati terhadapmu?" Dengan kata-kata ini Ni Durgogini hendak mengatakan bahwa dahulu Narotama tega mengusirnya dan membuatnya bersengsara hati, maka sekarang iapun tega hendak membunuh patih itu.
"Hebat ilmu cambukmu, nimas. Sayang kaupergunakan untuk membunuh orang secara ganas!" Narotama masih sibuk mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara bayangan cambuk.
"Babo-babo! Keluarkan semua keahlianmu, Narotama. Hendak kulihat, di samping pandai menghina wanita, apakah kau juga pandai mengalahkan aku Ni Durgogini, hi-hi-hik!"
Cambuk Sarpokenoko makin hebat amukannya dan sekali kain kepala Narotama tercium ujung cambuk. Robeklah ujung kain kepala itu, hancur berhamburan seperti dimakan api!
"Tingkahmu seperti ular saja, Durgogini!"

Narotama mulai panas hatinya dan cepat ia mengerahkan Aji Kukilo Sakti (Burung Sakti), semacam ilmu silat yang amat cepat gerakannya, seperti seekor burung sakti beterbangan dan semua gerakannya tentu saja menindih gerakan cambuk Sarpokenoko yang berdasarkan gerakan seekor ular. Memang tidak ada yang lebih ampuh daripada burung untuk menaklukkan ular. Tubuh Narotama kini berkelebat cepat, seperti melayang-layang, sukar sekali diikuti cambuk, bahkan pada saat Ni Durgogini menggoyang kepala mengusir kepeningannya, kesempatan ini tak disia-siakan Narotama dan secepat kilat jari tangannya menjepit ujung cambuk! Gerakan ini sekelebatan tepat seperti seekor burung yang mematuk seekor ular. Ni Durgogini mengeluarkan pekik menyeramkan dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot cambuknya, namun sia-sia belaka. Biarpun yang menjepit cambuk hanya tiga buah jari, yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengah, namun cambuk itu seakan-akan telah berakar pada jari dan tidak mungkin dapat dilepaskan lagi. Ni Durgogini marah, kakinya melangkah maju dan tangan kirinya dengan jari tangan berkuku panjang, mencakar muka dan mencokel mata. Melihat ini, Narotama berseru keras dan tiba-tiba ia mengerahkan tenaga sakti yang ia warisi dari eyang gurunya di Gunung Agung Bali Sang Begawan Setyadharma, lalu sekali ia menggereng, Ni Durgogini tak kuat bertahan lagi, tubuhnya berikut cambuknya terlempar ke udara seperti terbang! Benar mengagumkan Ni Durgogini. Kalau lain orang yang dilontarkan macam itu, tentu akan terbanting di atas tanah berbatu dan akan hancur luluh tubuhnya. Karena Narotama tidak berniat membunuh, patih yang sakti ini sudah bersiap-siap untuk menyambut tubuh Ni Durgogini agar jangan terbanting, akan tetapi ia tercengang menyaksikan betapa di tengah udara dalam keadaan terlempar itu sampai setinggi pohon waru, tubuh Ni Durgogini dapat terjungkir balik sampai tiga kali dan turun ke atas tanah dalam keadaan berdiri seperti gerakan seekor burung walet saja ringannya! Turunnya agak jauh dari Narotama dan kini mereka berhadapan dalam jarak limabelas meter jauhnya.

<<< Bagian 010                                                                                     Bagian 012 >>>

No comments:

Post a Comment