"Hamba setuju dan hanya mengandalkan kemurahan hati dan kebijaksanaan paduka, gusti patih."
Narotama atau
Rakyana Patih Kanuruhan mencabut keluar sebatang keris kecil berbentuk lurus
yang disebut keris Kolomisani, memberikan keris itu kepada Wisangjiwo dan
berkata,
"Baiklah,
kau boleh berangkat sekarang juga, bawa keris ini ke kepatihan, serahkan kepada
kepala pengawal istana yang selanjutnya akan memberi petunjuk kepadamu."
Wisangjiwo
menerima keris kecil itu, bersembah menghaturkan terima kasih, kemudian dengan
hati girang ia minta diri, berpamit kepada gurunya untuk langsung pergi ke
Mataram. Ia tidak peduli akan pandangan kecewa gurunya karena sesungguhnya Ni
Durgogini tidak mengira bahwa muridnya yang terkasih itu akan berangkat
sekarang juga! Ia tentu akan kehilangan dan kesepian, akan tetapi ia tidak tahu
bahwa Wisangjiwo memang sengaja ingin lekas-lekas pergi agar jangan sampai
terganggu oleh gurunya sendiri, karena ia harus mentaati pesan bibi gurunya
untuk berlatih dengan tekun dan dengan pantangan mendekati wanita dan makan
barang berjiwa. Inilah kesempatan amat baik baginya, karena kalau tidak segera
ia pergi, ia tak mungkin dapat mengharapkan kesempurnaan dalam melatih Ilmu
Tirto Rudiro apabila ia berdekatan dengan Ni Durgogini!. Setelah pemuda itu
pergi jauh, Narotama berkata,
"Ni
Lasmini, telah kukatakan tadi bahwa kedatanganku ke sini adalah kebetulan,
karena aku sedang mencari Durgogini dan sama sekali tidak mengira akan bertemu
denganmu di sini."
Durgogini
mencibirkan bibirnya yang masih merah semringah, namun sepasang matanya
kehilangan gairah cintanya yang dahulu terhadap patih ini. Sepuluh tahun lebih
telah lalu dan kini sang patih bukan lagi seorang pria muda perkasa yang tampan
gagah, melainkan seorang pria yang sudah setengah tua dengan rambut berwarna
dua dan air muka dingin.
"Rakanda
patih, setelah tahu bahwa Ni Durgogini adalah Lasmini, lalu bagaimana?" Ia
tertawa terkekeh dan terheranlah Narotama betapa setelah lewat hampir tigabelas
tahun, bekas selirnya ini masih tetap saja kelihatan muda, mukanya berseri,
bibirnya merah membasah, giginya putih berkilau, tidak tampak sedikitpun
keriput pada kulitnya yang masih halus.
Patih ini
tentu saja tidak tahu bahwa Durgogini dan adiknya, Nogogini telah dapat
menemukan Suket Sungsang, yakni semacam rumput laut yang langka, dan yang
mengandung khasiat mustajab untuk membuat wanita awet muda. Inilah sebabnya
maka Ni Durgogini dan Ni Nogogini, biarpun sudah berusia kurang lebih
empatpuluh tahun, masih tampak seperti gadis-gadis remaja berusia dua puluh
tahun!
"Ni
Lasmini, kepadamu aku lebih baik berterus terang, karena sedikit banyak engkau
tentu masih memiliki perasaan setia kepada Mataram. Aku sedang memikul tugas
berat, tugas yang kuterima langsung dari sang prabu sendiri. Ketahuilah bahwa
sebulan yang lalu, secara tiba-tiba dan ghaib, patung emas Sang Batara Wisnu
telah lenyap dari dalam istana. Sang prabu merasa prihatin sekali akan
kehilangan ini, karena hal itu merupakan perlambang buruk bagi kejayaan Mataram.
Oleh karena itulah maka aku sendiri diutus untuk pergi mencari dan mendapatkan
kembali patung emas itu."
"Hemm,
hanya sebuah patung kecil, mengapa perlu diributkan? Apa sukarnya bagi sang
prabu untuk menitah para empu membuatkan kembali patung emas yang lebih indah
dan besar?"
Narotama
menarik napas panjang.
"Engkau
tidak tahu, Lasmini. Patung kencana itu sebuah benda keramat dan bertuah,
dahulu menjadi ajimat dari Empu Lo Hapala yang kemudian bergelar Rakai
Kayuwangi, hampir dua abad yang lalu. Pernah dahulu patung inipun lenyap dari
istana Rakai Kayuwangi dan akibatnya, Kerajaan Mataram menyuram. Oleh karena
itulah maka sang prabu menjadi prihatin dan akan berusaha sekuat tenaga untuk
mendapatkan kembali patung itu."
"Hemm!"
Bibir merah itu mencibir;
"Kalau
begitu, mengapa engkau mencarinya ke sini? Apa kaukira aku yang mencuri patung
itu?" Sepasang mata bening yang bersinar genit cabul itu mengeluarkan
cahaya berkilat.
Narotama
tersenyum lebar.
"Engkau
masih galak seperti dahulu, Lasmini! Tentu saja aku tidak berani menuduh
siapapun juga tanpa bukti. Akan tetapi menurut getaran yang kurasakan, patung
itu pasti berada di sekitar pantai Laut Selatan. Aku sengaja mencari Ni
Durgogini bukan untuk menuduh, melainkan untuk minta keterangan, barangkali saja
Ni Durgogini mengetahui tentang patung ini."
"Hi-hik!
Rakanda Narotama mengapa bicara berputar-putar? Aku bukan Lasmini lagi, akulah
Ni Durgogini dan aku tidak tahu-menahu tentang patung itu. Agaknya rakanda
salah perhitungan, maka sampai datang ke sini. Di antara sang prabu dan aku
tidak ada urusan sesuatu, maka mengapa aku bersusah payah mencuri patung? Kalau
rakanda pandai! mengapa tidak mencarinya pada orang yang memang ada urusan dan
dendam dengan sang prabu?"
Narotama
termenung sejenak, tiba-tiba ia menepuk dahinya sendiri.
"Aha! Kau
benar, Ni Durgogini! Mengapa aku begini bodoh? Ni Mandari, adikmu! Agaknya ia
lebih tahu......."
"Bukan
niatku mengkhianati adik kandung! Pula, seperti juga Ni Lasmini, Ni Mandari
telah mati, tidak ada lagi, yang ada adalah Ni Nogogini!"
"Di mana
dia? Di mana aku bisa bertemu dengan Ni Nogogini?"
Ni Durgogini
terkekeh genit dan matanya tajam mengerling.
"Sang
patih yang arif bijaksana dan sakti mandraguna, apakah tidak malu
bertanya-tanya, kepada seorang wanita yang tidak berdaya? Kaucarilah sendiri,
sepanjang pengetahuanku, Ni Nogogini bertahta di dalam istana yang letaknya di
dasar Segoro Kidul (Laut Selatan), hi-hi-hik!"
Narotama tentu
tahu bahwa bekas selirnya ini mempermainkannya, karena tidak mungkin seorang
manusia biasa bertempat tinggal di dasar laut. Ia mengangguk dan berkata,
"Sudahlah,
Ni Durgogini, aku mohon diri. Akan kucari sendiri Ni Nogogini!" Ia
membalikkan tubuhnya.
Tiba-tiba
terdengar suara angin menyambar diiringi ketawa cekikikan yang menyeramkan dari
arah belakangnya. Narotama terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya lagi dan
tangan kanannya bergerak dengan jari-jari terbuka, menghantam benda hitam yang
menyambar dahsyat.
"Blarrrr.......!"
Batu karang yang besar itu pecah berantakan sampai mengepulkan debu.
"Ni
Durgogini, apa maksudmu main-main seperti ini?" tegurnya, suaranya penuh
wibawa.
"Hi-hi-hi-hik,
siapa main-main, sang patih yang terhormat? Tiga belas tahun aku menderita
dengan hati perih, mengingat betapa kejam seorang pria telah mengusir dan menghinaku!
Narotama, apakah kau pura-pura lupa bahwa kaulah yang membunuh Ni Lasmini
sehingga menjelma menjadi Ni Durgodini yang hidup terasing di Girilimut
ini?"
Narotama
menarik napas panjang, penuh sesal,
"Nimas,
kau salah paham. Semenjak dahulu aku tidak mendendam kepadamu, aku maklum akan
kelemahanmu sebagai wanita muda. Aku dahulu sengaja membebaskanmu agar kau
dapat melanjutkan langen asmoro (bermain cinta) dengan pangeranmu. Aku mengira
bahwa sang pangeran tentu akan mengambilmu sebagai selir dalam, siapa tahu dia
menyia-nyiakanmu. Aku selalu bermaksud baik kepadamu, nimas. Buktinya, putera
adipati muridmu itupun kuterima dengan segala kerelaan hati."
"Tidak
ada sangkut-pautnya denganku! Betapapun juga, setelah kau datang ke sini, tak
dapat aku membiarkan kau pergi begitu saja tanpa membuat beres perhitungan
lama, Narotama!"
"Hemmmm,
kalau begitu wawasanmu, terserah kepadamu, Ni Durgogini."
"Heh-heh-hi-hi-hik,
jangan kira Lasmini dahulu sama dengan Durgogini sekarang, Rakyana Patih
Kanuruhan. Terimalah pukulanku Aji Ampak-ampak ini!"
Wanita itu
memekik dahsyat lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipe tang, jari-jari
tangannya terbuka dan mengirim pukulan yang mengandung hawa dingin, sedingin
ampak-ampak (halimun) yang dapat membekukan darah dalam tubuh!
Melihat cahaya
kebiruan keluar dari telapak tangan Durgogini, Narotama terkejut. Hebat ilmu
pukulan ini, dan amatlah kuatnya. Bukannya ia tidak berani menghadapi keras
lawan keras, akan tetapi ia tidak bermaksud melukai wanita yang sudah
mendatangkan iba di hatinya ini. Kalau ia lawan dengan kekuatan hawa sakti
pula, tentu seorang di antara mereka akan terluka hebat dan ia tidak
menginginkan hal ini terjadi. Maka Narotama lalu melesat menghindarkan
pukulan-pukulan yang datangnya cepat bertubi, mempergunakan Ilmu Silat Dojro
Dahono (Api Halilintar) untuk melawan Aji Ampak-ampak. Aji Bojro Dahono
merupakan lawan setimpal Aji Ampak-ampak yang dingin, karena Bojro Dahono
menimbulkan hawa panas seperti pusar Kawah Candradimuka. Dari kedua telapak
tangan sang patih keluar hawa bersinar kuning kemerahan dan setelah
tangkis-menangkis puluhan jurus, Ni Durgogini tak kuat menahan pula, seluruh
tubuhnya mengeluarkan keringat saking panas hawa yang dideritanya.
"Wuuuttt,
tar-tar-tarl"
Kini cambuk
Sarpokepoko berada di tangannya dan menyambar-nyambar ganas. Biarpun Aji Bojro
Dahono hebat, namun gerakan ilmu silat ini kurang tangkas kalau harus
dipergunakan menghadapi Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang amat cepat itu. Bagaikan
seekor ular sakti, cambuk itu melingkar-lingkar, menyambar-nyambar dan ujungnya
mematuk-matuk ke arah jalan darah dan bagian tubuh yang penting dan berbahaya,
setiap gerak merupakan margapati (jalan maut). Kembali Narotam menjadi kagum.
Tadi ia sudah menyaksikan dan melawan Ilmu Cambuk Sarpokenoko ini ketika
dimainkan Wisangjiwo, dan sudah menjadi kagum. Kini setelah ilmu cambuk ini
dimainkan oleh sang pencipta sendiri, hebatnya berlipat ganda! Angin yang
diakibatkan oleh pemutaran cambuk itu ikut berpusing, membentuk angin lesus
yang berpusing-pusing membawa daun kering dan debu ke atas. Ini semua masih
ditambah lecutan-lecutan di udara yang menimbulkan suara ledakan, sehingga
ketika Ni Durgogini mainkan ilmu Cambuk Sarpokenoko, keadaan di puncak
Girilimut itu tiada ubahnya seperti ada angin lesus (angina puyuh) mengamuk
disertai halilintar menyambar-nyambar!
"Nimas,
apakah kau menghendaki nyawaku ? Begitu tega.......?" Narotama berkata
penuh sesal.
"Hi-hi-hiil
Kaupun tega lara terhadapku, mengapa aku tidak tega pati terhadapmu?"
Dengan kata-kata ini Ni Durgogini hendak mengatakan bahwa dahulu Narotama tega
mengusirnya dan membuatnya bersengsara hati, maka sekarang iapun tega hendak
membunuh patih itu.
"Hebat
ilmu cambukmu, nimas. Sayang kaupergunakan untuk membunuh orang secara
ganas!" Narotama masih sibuk mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara
bayangan cambuk.
"Babo-babo!
Keluarkan semua keahlianmu, Narotama. Hendak kulihat, di samping pandai
menghina wanita, apakah kau juga pandai mengalahkan aku Ni Durgogini,
hi-hi-hik!"
Cambuk
Sarpokenoko makin hebat amukannya dan sekali kain kepala Narotama tercium ujung
cambuk. Robeklah ujung kain kepala itu, hancur berhamburan seperti dimakan api!
"Tingkahmu
seperti ular saja, Durgogini!"
Narotama mulai
panas hatinya dan cepat ia mengerahkan Aji Kukilo Sakti (Burung Sakti), semacam
ilmu silat yang amat cepat gerakannya, seperti seekor burung sakti beterbangan
dan semua gerakannya tentu saja menindih gerakan cambuk Sarpokenoko yang
berdasarkan gerakan seekor ular. Memang tidak ada yang lebih ampuh daripada burung
untuk menaklukkan ular. Tubuh Narotama kini berkelebat cepat, seperti
melayang-layang, sukar sekali diikuti cambuk, bahkan pada saat Ni Durgogini
menggoyang kepala mengusir kepeningannya, kesempatan ini tak disia-siakan
Narotama dan secepat kilat jari tangannya menjepit ujung cambuk! Gerakan ini
sekelebatan tepat seperti seekor burung yang mematuk seekor ular. Ni Durgogini
mengeluarkan pekik menyeramkan dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot
cambuknya, namun sia-sia belaka. Biarpun yang menjepit cambuk hanya tiga buah
jari, yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengah, namun cambuk itu seakan-akan
telah berakar pada jari dan tidak mungkin dapat dilepaskan lagi. Ni Durgogini
marah, kakinya melangkah maju dan tangan kirinya dengan jari tangan berkuku
panjang, mencakar muka dan mencokel mata. Melihat ini, Narotama berseru keras
dan tiba-tiba ia mengerahkan tenaga sakti yang ia warisi dari eyang gurunya di
Gunung Agung Bali Sang Begawan Setyadharma, lalu sekali ia menggereng, Ni
Durgogini tak kuat bertahan lagi, tubuhnya berikut cambuknya terlempar ke udara
seperti terbang! Benar mengagumkan Ni Durgogini. Kalau lain orang yang
dilontarkan macam itu, tentu akan terbanting di atas tanah berbatu dan akan
hancur luluh tubuhnya. Karena Narotama tidak berniat membunuh, patih yang sakti
ini sudah bersiap-siap untuk menyambut tubuh Ni Durgogini agar jangan
terbanting, akan tetapi ia tercengang menyaksikan betapa di tengah udara dalam
keadaan terlempar itu sampai setinggi pohon waru, tubuh Ni Durgogini dapat terjungkir
balik sampai tiga kali dan turun ke atas tanah dalam keadaan berdiri seperti
gerakan seekor burung walet saja ringannya! Turunnya agak jauh dari Narotama
dan kini mereka berhadapan dalam jarak limabelas meter jauhnya.
No comments:
Post a Comment