Badai Laut Selatan ; Bagian 012


Perlahan Ni Durgogini menyimpan cambuknya. Wajahnya tidak membayangkan kemarahan, bahkan ia tersenyum dan berseri-seri, matanya mengerling tajam, kemudian ia melangkah lambat-lambat menghampiri Narotama dengan lenggang seperti seorang penari. Pinggang yang kecil ramping itu meliuk-liuk dan pinggulnya melenggak-lenggok ke kanan-kini, langkahnya kecil-kecil dengan kaki merapat sehingga lututnya bersentuhan, pundaknya bergerak-gerak, juga lehernya, matanya setengah terpejam, ujung hidungnya berkembang-kempis, dadanya yang membusung bergelombang, bibirnya yang merah membasah setengah terbuka. Narotama berdiri terpesona, jantungnya berdebar-debar aneh, getaran mujijat yang tidak sewajarnya membangkitkan gairah, darahnya berdenyar-denyar dan napasnya menjadi sesak oleh gejolak nafsu berahi. Hampir saja pendekar sakti ini tenggelam, hampir bertekuk lutut kalau saja ia bukan putera angkat Sang Wiku Darmojati dan murid Eyang Begawan Setyadharma, dua orang tokoh sakti di Bali. Batinnya yang sudah kuat itu membuat ia sadar bahwa keadaan ini bukan sewajarnya. Mengapa Ni Durgogini tiba-tiba tampak demikian cantik jelitanya dan bahkan memiliki daya penarik yang jauh lebih ampuh daripada dahulu ketika menjadi selirnya? Diam-diam Narotama mengerahkan hawa sakti dari dalam pusarnya, dan membaca mantera menolak pengaruh jahat sehingga ia dapat menguasai diri. Setelah lenyap pengaruh itu, kini tampaklah olehnya betapa lucu gerak-gerik Ni Durgogini. Akan tetapi dasar seorang bijaksana, ia tidak mau menghina, bahkan merasa iba hati dan terlontarlah pujian dari mulutnya,
"Kau sungguh masih cantik jelita, nimas Lasmini!"
Bukan main girangnya hati Ni Durgogini. Setelah tadi semua ilmu kesaktiannya tidak berhasil mengalahkan Narotama, ia lalu mengerahkan ajiannya yang paling ampuh, yaitu ilmu Guno Asmoro. Biasanya, tidak ada seorangpun pria yang kuat menghadapi ajiannya ini, yang luar biasa ampuhnya, kuat merobohkan pertahanan hati seorang pertapa tua sekalipun. Dengan Ilmu Guno Asmoro inilah ia berusaha mengalahkan Narotama, karena dengan ilmu kesaktian dan ilmu ketangkasan,ia seakan-akan bertemu dengan gurunya. Hatinya girang mendengar pujian yang keluar dari mulut Narotama, karena ini merupakan pertanda bahwa ajiannya telah berhasil! Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa Narotama yang berhati penuh welas asih itu memujinya untuk tidak mengecewakannya. Ia makin menggeliat-geliatkan tubuhnya, dan berjalan makin mendekat. Bau yang harum seperti kayu cendana dan kembang keluar dari tubuhnya, dan inilah merupakan sebagian daripada Aji Guno Asmoro. Biasanya, kalau lawan sudah terkena Aji Guno Asmoro, ia akan kehilangan semangatnya, akan menurut saja semua kehendaknya, bahkan andaikata dipukul matipun tentu takkan melawan karena semangat perlawanannya sudah lenyap, semua kemauannya sudah lenyap dan berada di tangan Ni Durgogini. Kini, Narotama yang diam saja itu agaknyapun sudah kehilangan semangatnya!
"Narotama.......! " Suara Ni Durgogini berbeda dengan tadi, kini suaranya merdu merayu mengandung daya tarik yang luar biasa,
"Kekasihku, kau berlututlah....... , dan bersihkan kakiku yang kotor.....!" Dengan mata setengah terpejam, Ni Durgogini siap menikmati hasil kemenangannya yang sudah pasti itu.
"Ni Durgogini, apakah kau sudah edan? Aku tidak ada waktu melayani kau main-main, selamat tinggal!" Narotama lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.
Terbelalak kini mata yang tadinya hampir terpejam itu. Pucat wajah yang tadinya merah berseri, kering bibir yang tadinya membasah, kemudian muka itu menjadi beringas.
"Kubunuh engkau.......!!" Bagaikan seekor singa betina, Ni Durgogini melompat dan menerkam dari belakang. Tanpa menoleh, Narotama menggerakkan lengannya ke belakang.
"PlakkkH"
Tubuh Ni Durgogini tertampar dan terpelanting ke belakang, roboh bergulingan, kepalanya terasa pusing sekali.
"Narotama......, kau....... kau kejam....! Aku benci padamu, benci....... benci...... benci..,...!!!"
Ni Durgogini lalu menangis melolong-lolong sambil bergulingan di atas tanah seperti anak kecil, menolehpun tidak Narotama. Ia berjalan terus dengan tenang dan dengan langkah lebar, senyum pahit membayang di bibirnya yang bergerak-gerak perlahan seperti bicara dengan dirinya sendiri. Biarpun pada lahirnya Narotama seperti tidak mempedulikan Ni Durgogini, namun dalam batinnya ia menaruh hati iba kepada bekas selirnya itu yang ternyata kini telah tersesat ke dunia hitam. Ia menyesal, dan kasihan karena maklum bahwa kesesatan bekas selirnya itu akan menyeretnya ke lembah kesengsaraan batin.

Bayangan itu tak dapat diusirnya, selalu membayangi benaknya ke mana jugapun ia pergi, dan hatinya menjadi panas dan panas lagi. Di dalam telinganya selalu bergema suara kain robek disusul jerit tangis. Kain dan jerit Kartikosari. Gema suara inilah yang menimbulkan bayangan. Bayangan yang direka dan dikira-kirakan sendiri oleh hatinya yang penuh cemburu, dendam, duka dan sesal, yang makin menghebat saja apabila ia kenangkan. Suara kain terobek disusul lengking mengerikan. Suara itu selalu berkumandang di dalam telinganya, membuatnya hampir gila. Pujo duduk di tepi batu karang, matanya menatap air laut bergulung-gulung di bawah kaki. Gelombang buas yang panjang mengerikan seperti seekor naga siluman yang hendak menelannya, namun mata Pujo seperti tidak melihat semua itu. Suara ombak memecah di batu karang menimbulkan suara menggelegar susul-menyusul, namun telinganya hanya penuh oleh suara kain robek dan lengking mengerikan.
"Cintamu hanya cinta jasmani belaka, cinta yang berdasarkan nafsu berahi semata karena cintamu dangkal dan hanya tubuhku yang kaucinta, maka kau kecewa melihat tubuhku dinodai orang lain, padahal kau maklum seyakinnya bahwa batinku sama sekali tidak ternoda......"
Kata-kata isterinya ini berkumandang dibawa deru ombak dan terbayanglah wajah isterinya yang jelita, yang tercinta, dengan sepasang mata bintang yang tak pernah dapat ia lupakan itu memandangnya penuh sesal dan duka, bibir yang indah bentuknya dan tadinya menjadi sarang madu baginya itu tergetar seperti bibir seekor kijang yang ketakutan.
"Prakkk!! Prakkk!"
Dua kali kedua tangan Pujo dengan jari-jari terbuka menggempur batu karang di depannya sehingga ujung batu karang itu remuk berhamburan. Mulutnya komat-kamit, mulut yang membayangkan hati sakit bukan main, matanya menatap ombak, mata penuh dendam dan duka.
"Tidak perduli! Aku memang mencinta tubuhmu Kartikosari, kau menjadi milikku tunggal, tak boleh orang lain menjamahmu, apalagi menodaimu! Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku, semua bulu di kulitku, setiap tetes darah di badanku, sampai ke tulang sumsumku, aku mencintaimu. Tapi....... tapi kau ternoda orang lain....... mengapa hal itu bisa terjadi ? Mengapa tidak kaulawan sampai mati? Setelah hal terkutuk itu terjadi, mengapa kau masih dapat hidup, masih ada muka untuk hidup dan bicara denganku? Hal itu hanya berarti bahwa kau......, kau senang dengan pengalamanmu itu, kau girang bahwa selain suamimu, ada pria lain, tampan sakti bangsawan dan kaya raya, juga mencintamu!"

Kembali tangannya menghantam batu karang. Tiba-tiba Pujo bangkit berdiri, matanya melotot terbelalak, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangannya dikepal menempel pinggang, sikapnya seperti seorang siap bertanding dengan musuh yang dibencinya.
"Wisangjiwo! Dendam ini sedalam Laut Selatan! Takkan dapat tercuci selamanya kecuali dengan darahmu. Kautunggulah, sekali kau terjatuh ke dalam tanganku, aku akan......."
Akan ia apakan? Dibunuh begitu saja? Terlampau enak! Hati yang begini disakiti haus akan pembalasan yang memuaskan. Tidak, ia tidak akan membunuh Wisangjiwo begitu saja. Ia akan menyiksanya sepuas hati.
Dendam adalah semacam perasaan yang memabokkan seperti racun yang menggerogoti batin sehingga menyelimuti kesadaran dan mematahkan pertimbangan. Dendam timbul dari sakit hati yang dapat muncul karena sesungguhnya terpengaruh oleh rasa sayang diri yang berlebihan. Rasa sayang diri inilah yang menimbulkan sakit hati apabila dirinya dirugikan orang lain, menimbulkan benci dan memupuk dendam untuk membalas! Rasanya belum akan sudah dan puas hati ini kalau belum membalas dendam dengan perbuatan keji yang setaraf atau bahkan melebihi perbuatan yang dilakukan orang terdendam terhadap dirinya. Dan orang yang mabok dendam ini di luar kesadarannya telah diperhamba nafsu iblis yang haus dan baru dapat dipuaskan oleh perbuatan-perbuatan membalas yang sama kejinya. Perbuatan keji kejam untuk membalas dalam pandangan orang yang mendendam bukanlah perbuatan keji lagi, melainkan perbuatan adil! Mabok semabok-maboknya dan tidak ada yang lebih gila daripada ini.
Dengan batin rapuh digerogoti nafsu iblis ini seperti rapuhnya bilik digerogot rayap, Pujo mereka-reka pembalasan dan siksaan bagaimana yang dianggapnya tepat dan adil bagi musuh besarnya, Raden Wisangjiwo. Akan kutangkap dia, pikirnya geram. Akan kubuat dia tidak berdaya dan kuseret dia di dalam hutan! Teringat akan kebiadabannya terhadap isterinya, ia akan merajang-rajang anggota kelaminnya, merobek perut dan mengeluarkan usus dan jantungnya! Ah, tidak! Kalau demikian tentu ia akan mampus, terlalu enak dan terlalu cepat baginya! Ia berpikir-pikir dan mereka-reka lagi pembalasan yang lebih menyiksa. Akan kurobek-robek kulit mukanya yang tampan dengan ujung keris, agar ia menjadi seorang manusia bermuka setan yang sedemikian buruknya sehingga setiap orang wanita yang melihatnya akan meludah dan muntah-muntah. Tapi sebelumnya akan kuseret dia di muka umum agar semua orang senegara maklum dan mengenal bahwa Wisangjiwo adalah seorang laki-laki binatang yang suka mengganggu bini orang! Kemudian kubuntungi kedua kakinya agar selamanya tak pandai berjalan, hidup dan bergerak mengesot seperti binatang! Akan ku....... akan ku....... Pujo tak dapat berpikir lagi saking geram. Tiba-tiba ia terkejut dan menampar kepalanya sendiri.
"Kau telah gila!" serunya keras-keras ketika kesadarannya yang timbul dari dasar pendidikan ksatria mencelanya.
"Kau telah menjadi manusia iblis! Tak mungkin Pujo murid terkasih Resi Bhargowo, bahkan menjadi mantunya, dapat memikirkan kekejaman yang dapat timbul dalam benak iblis itu!" Suaranya sendiri terdengar seperti suara gurunya dan Pujo lalu menangis. Ditumbuk-tumbuknya kepala: dan dadanya, kemudian ia menjadi beringas.
"Biar! Biarlah aku menjadi iblis penasaran! Dia telah merusak kesucian Kartikosari, telah menghancurkan kebahagiaanku! Aku takkan dapat bertemu muka lagi dengan Kartikosari kekasihku sebelum dendam ini terbalas!"
Bagaikan seorang gila Pujo lalu melompat dan lari dari tepi Laut Selatan, berlari terus mendaki bukit karang dengan tujuan bulat, yaitu, mencari Wisangjiwo dan melampiaskan nafsu dendamnya yang dahsyat menggelora seperti Laut Selatan yang diserang badai. Sesungguhnya, bukan dendam semata yang membuat Pujo seperti gila. Terutama karena rasa duka kehilangan isterinya itulah. Setelah berada seorang diri, terbayang oleh kesadarannya betapa ia telah menyiksa isterinya, telah berlaku tidak adil terhadap kekasihnya. Betapa ia telah menghina Kartikosari dan membanting hancur mahkota asmara mereka berdua. Sudah terlanjur, dan ia kini benar-benar kehilangan isterinya. Dan semua ini gara-gara Wisangjiwo. Inilah yang meracuni hatinya dan menambah rasa dendam dan sakit hatinya, seperti minyak menambah berkobarnya api.

Beberapa hari kemudian di Kadipaten Selopenangkep, sebuah kadipaten di tepi Sungai Progo. Kadipaten ini tempat tinggal Joyowiseso, ayah Raden Wisangjiwo. Di sini, tinggal adipati yang berusia limapuluh tahun ini, bersama isteri dan enam orang selirnya. Puteranya ada dua orang, yaitu Raden Wisangjiwo yang lahir dari isterinya dan Roro Luhito yang lahir dari seorang selir kinasih (terkasih). Anak ini dinamai Luhito (merah) karena ketika lahir kelihatan kulitnya kemerahan. Akan tetapi setelah kini menjadi seorang gadis remaja berusia limabelas tahun, kulitnya menjadi putih kuning kemerahan dan wajahnya cantik, tubuhnya denok, wataknya manja dan kenes (lincah).
Di samping adipati dan keluarganya, di situ tinggal pula isteri Raden Wisangjiwo yang bernama Listyokumolo dan puteranya yang baru berusia satu tahun bernama Joko Wandiro. Rumah kadipaten itu selalu terjaga oleh para pengawal yang tak pernah terpisah dari tombak dan keris, tiada hentinya bergiliran menjaga di sekitar kadipaten dan setiap saat tertentu, siang malam, jalan meronda untuk menjaga keselamatan dan keamanan sang adipati sekeluarga. Pada hari itu di dalam kadipaten tampak kesibukan dan kemeriahan. Sang adipati sendiri bersama isteri, para selir dan puterinya, Roro Luhito yang cantik dan berwatak bebas, menyambut datangnya seorang tamu yang dihormati. Tamu ini adalah seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah Jokowanengpati! Pemuda yang datang dari kota raja ini dikenal baik oleh Adipati Jayowiseso, karena Jokowanengpati dahulu ikut pula menjadi perwira yang tangguh dan terkenal dalam barisan Kerajaan Mataram ketika barisan ini menyerbu ke barat. Sebagai murid Empu Bharodo, tentu saja pemuda ini menjadi terkenal dan dihormat oleh para taklukan Mataram. Jokowanengpati bersahabat pula dengan Raden Wisangjiwo dan kedatangannya menggunakan dalih mencari sahabatnya ini, padahal ia dapat menduga bahwa orang yang dicarinya tentu tidak berada di rumah setelah perisitiwa yang ia saksikan di Guha Siluman baru-baru ini. Memang maksud kedatangannya itu mengandung rahasia untuk menyelidiki keadaan Wisangjiwo setelah ia melakukan perbuatan terkutuk di dalam guha yang akan menimpa diri Wisangjiwo itu.

<<< Bagian 011                                                                                     Bagian 013 >>>

No comments:

Post a Comment