Perlahan Ni Durgogini menyimpan cambuknya. Wajahnya tidak membayangkan kemarahan, bahkan ia tersenyum dan berseri-seri, matanya mengerling tajam, kemudian ia melangkah lambat-lambat menghampiri Narotama dengan lenggang seperti seorang penari. Pinggang yang kecil ramping itu meliuk-liuk dan pinggulnya melenggak-lenggok ke kanan-kini, langkahnya kecil-kecil dengan kaki merapat sehingga lututnya bersentuhan, pundaknya bergerak-gerak, juga lehernya, matanya setengah terpejam, ujung hidungnya berkembang-kempis, dadanya yang membusung bergelombang, bibirnya yang merah membasah setengah terbuka. Narotama berdiri terpesona, jantungnya berdebar-debar aneh, getaran mujijat yang tidak sewajarnya membangkitkan gairah, darahnya berdenyar-denyar dan napasnya menjadi sesak oleh gejolak nafsu berahi. Hampir saja pendekar sakti ini tenggelam, hampir bertekuk lutut kalau saja ia bukan putera angkat Sang Wiku Darmojati dan murid Eyang Begawan Setyadharma, dua orang tokoh sakti di Bali. Batinnya yang sudah kuat itu membuat ia sadar bahwa keadaan ini bukan sewajarnya. Mengapa Ni Durgogini tiba-tiba tampak demikian cantik jelitanya dan bahkan memiliki daya penarik yang jauh lebih ampuh daripada dahulu ketika menjadi selirnya? Diam-diam Narotama mengerahkan hawa sakti dari dalam pusarnya, dan membaca mantera menolak pengaruh jahat sehingga ia dapat menguasai diri. Setelah lenyap pengaruh itu, kini tampaklah olehnya betapa lucu gerak-gerik Ni Durgogini. Akan tetapi dasar seorang bijaksana, ia tidak mau menghina, bahkan merasa iba hati dan terlontarlah pujian dari mulutnya,
"Kau
sungguh masih cantik jelita, nimas Lasmini!"
Bukan main
girangnya hati Ni Durgogini. Setelah tadi semua ilmu kesaktiannya tidak
berhasil mengalahkan Narotama, ia lalu mengerahkan ajiannya yang paling ampuh,
yaitu ilmu Guno Asmoro. Biasanya, tidak ada seorangpun pria yang kuat
menghadapi ajiannya ini, yang luar biasa ampuhnya, kuat merobohkan pertahanan
hati seorang pertapa tua sekalipun. Dengan Ilmu Guno Asmoro inilah ia berusaha
mengalahkan Narotama, karena dengan ilmu kesaktian dan ilmu ketangkasan,ia
seakan-akan bertemu dengan gurunya. Hatinya girang mendengar pujian yang keluar
dari mulut Narotama, karena ini merupakan pertanda bahwa ajiannya telah
berhasil! Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa Narotama yang berhati penuh
welas asih itu memujinya untuk tidak mengecewakannya. Ia makin
menggeliat-geliatkan tubuhnya, dan berjalan makin mendekat. Bau yang harum
seperti kayu cendana dan kembang keluar dari tubuhnya, dan inilah merupakan
sebagian daripada Aji Guno Asmoro. Biasanya, kalau lawan sudah terkena Aji Guno
Asmoro, ia akan kehilangan semangatnya, akan menurut saja semua kehendaknya,
bahkan andaikata dipukul matipun tentu takkan melawan karena semangat
perlawanannya sudah lenyap, semua kemauannya sudah lenyap dan berada di tangan
Ni Durgogini. Kini, Narotama yang diam saja itu agaknyapun sudah kehilangan
semangatnya!
"Narotama.......!
" Suara Ni Durgogini berbeda dengan tadi, kini suaranya merdu merayu
mengandung daya tarik yang luar biasa,
"Kekasihku,
kau berlututlah....... , dan bersihkan kakiku yang kotor.....!" Dengan
mata setengah terpejam, Ni Durgogini siap menikmati hasil kemenangannya yang
sudah pasti itu.
"Ni
Durgogini, apakah kau sudah edan? Aku tidak ada waktu melayani kau main-main,
selamat tinggal!" Narotama lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi
dari situ.
Terbelalak
kini mata yang tadinya hampir terpejam itu. Pucat wajah yang tadinya merah
berseri, kering bibir yang tadinya membasah, kemudian muka itu menjadi
beringas.
"Kubunuh
engkau.......!!" Bagaikan seekor singa betina, Ni Durgogini melompat dan
menerkam dari belakang. Tanpa menoleh, Narotama menggerakkan lengannya ke
belakang.
"PlakkkH"
Tubuh Ni
Durgogini tertampar dan terpelanting ke belakang, roboh bergulingan, kepalanya
terasa pusing sekali.
"Narotama......,
kau....... kau kejam....! Aku benci padamu, benci....... benci......
benci..,...!!!"
Ni Durgogini
lalu menangis melolong-lolong sambil bergulingan di atas tanah seperti anak
kecil, menolehpun tidak Narotama. Ia berjalan terus dengan tenang dan dengan
langkah lebar, senyum pahit membayang di bibirnya yang bergerak-gerak perlahan
seperti bicara dengan dirinya sendiri. Biarpun pada lahirnya Narotama seperti
tidak mempedulikan Ni Durgogini, namun dalam batinnya ia menaruh hati iba
kepada bekas selirnya itu yang ternyata kini telah tersesat ke dunia hitam. Ia
menyesal, dan kasihan karena maklum bahwa kesesatan bekas selirnya itu akan
menyeretnya ke lembah kesengsaraan batin.
Bayangan itu
tak dapat diusirnya, selalu membayangi benaknya ke mana jugapun ia pergi, dan
hatinya menjadi panas dan panas lagi. Di dalam telinganya selalu bergema suara
kain robek disusul jerit tangis. Kain dan jerit Kartikosari. Gema suara inilah
yang menimbulkan bayangan. Bayangan yang direka dan dikira-kirakan sendiri oleh
hatinya yang penuh cemburu, dendam, duka dan sesal, yang makin menghebat saja
apabila ia kenangkan. Suara kain terobek disusul lengking mengerikan. Suara itu
selalu berkumandang di dalam telinganya, membuatnya hampir gila. Pujo duduk di
tepi batu karang, matanya menatap air laut bergulung-gulung di bawah kaki.
Gelombang buas yang panjang mengerikan seperti seekor naga siluman yang hendak
menelannya, namun mata Pujo seperti tidak melihat semua itu. Suara ombak
memecah di batu karang menimbulkan suara menggelegar susul-menyusul, namun
telinganya hanya penuh oleh suara kain robek dan lengking mengerikan.
"Cintamu
hanya cinta jasmani belaka, cinta yang berdasarkan nafsu berahi semata karena
cintamu dangkal dan hanya tubuhku yang kaucinta, maka kau kecewa melihat
tubuhku dinodai orang lain, padahal kau maklum seyakinnya bahwa batinku sama
sekali tidak ternoda......"
Kata-kata
isterinya ini berkumandang dibawa deru ombak dan terbayanglah wajah isterinya
yang jelita, yang tercinta, dengan sepasang mata bintang yang tak pernah dapat
ia lupakan itu memandangnya penuh sesal dan duka, bibir yang indah bentuknya
dan tadinya menjadi sarang madu baginya itu tergetar seperti bibir seekor
kijang yang ketakutan.
"Prakkk!!
Prakkk!"
Dua kali kedua
tangan Pujo dengan jari-jari terbuka menggempur batu karang di depannya
sehingga ujung batu karang itu remuk berhamburan. Mulutnya komat-kamit, mulut
yang membayangkan hati sakit bukan main, matanya menatap ombak, mata penuh
dendam dan duka.
"Tidak
perduli! Aku memang mencinta tubuhmu Kartikosari, kau menjadi milikku tunggal,
tak boleh orang lain menjamahmu, apalagi menodaimu! Aku mencintaimu dengan
seluruh jiwa dan ragaku, semua bulu di kulitku, setiap tetes darah di badanku,
sampai ke tulang sumsumku, aku mencintaimu. Tapi....... tapi kau ternoda orang
lain....... mengapa hal itu bisa terjadi ? Mengapa tidak kaulawan sampai mati?
Setelah hal terkutuk itu terjadi, mengapa kau masih dapat hidup, masih ada muka
untuk hidup dan bicara denganku? Hal itu hanya berarti bahwa kau......, kau
senang dengan pengalamanmu itu, kau girang bahwa selain suamimu, ada pria lain,
tampan sakti bangsawan dan kaya raya, juga mencintamu!"
Kembali
tangannya menghantam batu karang. Tiba-tiba Pujo bangkit berdiri, matanya
melotot terbelalak, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangannya dikepal
menempel pinggang, sikapnya seperti seorang siap bertanding dengan musuh yang
dibencinya.
"Wisangjiwo!
Dendam ini sedalam Laut Selatan! Takkan dapat tercuci selamanya kecuali dengan
darahmu. Kautunggulah, sekali kau terjatuh ke dalam tanganku, aku
akan......."
Akan ia
apakan? Dibunuh begitu saja? Terlampau enak! Hati yang begini disakiti haus
akan pembalasan yang memuaskan. Tidak, ia tidak akan membunuh Wisangjiwo begitu
saja. Ia akan menyiksanya sepuas hati.
Dendam adalah
semacam perasaan yang memabokkan seperti racun yang menggerogoti batin sehingga
menyelimuti kesadaran dan mematahkan pertimbangan. Dendam timbul dari sakit
hati yang dapat muncul karena sesungguhnya terpengaruh oleh rasa sayang diri
yang berlebihan. Rasa sayang diri inilah yang menimbulkan sakit hati apabila
dirinya dirugikan orang lain, menimbulkan benci dan memupuk dendam untuk
membalas! Rasanya belum akan sudah dan puas hati ini kalau belum membalas dendam
dengan perbuatan keji yang setaraf atau bahkan melebihi perbuatan yang
dilakukan orang terdendam terhadap dirinya. Dan orang yang mabok dendam ini di
luar kesadarannya telah diperhamba nafsu iblis yang haus dan baru dapat
dipuaskan oleh perbuatan-perbuatan membalas yang sama kejinya. Perbuatan keji
kejam untuk membalas dalam pandangan orang yang mendendam bukanlah perbuatan
keji lagi, melainkan perbuatan adil! Mabok semabok-maboknya dan tidak ada yang
lebih gila daripada ini.
Dengan batin
rapuh digerogoti nafsu iblis ini seperti rapuhnya bilik digerogot rayap, Pujo
mereka-reka pembalasan dan siksaan bagaimana yang dianggapnya tepat dan adil
bagi musuh besarnya, Raden Wisangjiwo. Akan kutangkap dia, pikirnya geram. Akan
kubuat dia tidak berdaya dan kuseret dia di dalam hutan! Teringat akan
kebiadabannya terhadap isterinya, ia akan merajang-rajang anggota kelaminnya,
merobek perut dan mengeluarkan usus dan jantungnya! Ah, tidak! Kalau demikian
tentu ia akan mampus, terlalu enak dan terlalu cepat baginya! Ia berpikir-pikir
dan mereka-reka lagi pembalasan yang lebih menyiksa. Akan kurobek-robek kulit
mukanya yang tampan dengan ujung keris, agar ia menjadi seorang manusia bermuka
setan yang sedemikian buruknya sehingga setiap orang wanita yang melihatnya
akan meludah dan muntah-muntah. Tapi sebelumnya akan kuseret dia di muka umum
agar semua orang senegara maklum dan mengenal bahwa Wisangjiwo adalah seorang
laki-laki binatang yang suka mengganggu bini orang! Kemudian kubuntungi kedua
kakinya agar selamanya tak pandai berjalan, hidup dan bergerak mengesot seperti
binatang! Akan ku....... akan ku....... Pujo tak dapat berpikir lagi saking
geram. Tiba-tiba ia terkejut dan menampar kepalanya sendiri.
"Kau
telah gila!" serunya keras-keras ketika kesadarannya yang timbul dari
dasar pendidikan ksatria mencelanya.
"Kau
telah menjadi manusia iblis! Tak mungkin Pujo murid terkasih Resi Bhargowo,
bahkan menjadi mantunya, dapat memikirkan kekejaman yang dapat timbul dalam
benak iblis itu!" Suaranya sendiri terdengar seperti suara gurunya dan
Pujo lalu menangis. Ditumbuk-tumbuknya kepala: dan dadanya, kemudian ia menjadi
beringas.
"Biar!
Biarlah aku menjadi iblis penasaran! Dia telah merusak kesucian Kartikosari,
telah menghancurkan kebahagiaanku! Aku takkan dapat bertemu muka lagi dengan
Kartikosari kekasihku sebelum dendam ini terbalas!"
Bagaikan
seorang gila Pujo lalu melompat dan lari dari tepi Laut Selatan, berlari terus
mendaki bukit karang dengan tujuan bulat, yaitu, mencari Wisangjiwo dan
melampiaskan nafsu dendamnya yang dahsyat menggelora seperti Laut Selatan yang
diserang badai. Sesungguhnya, bukan dendam semata yang membuat Pujo seperti
gila. Terutama karena rasa duka kehilangan isterinya itulah. Setelah berada
seorang diri, terbayang oleh kesadarannya betapa ia telah menyiksa isterinya,
telah berlaku tidak adil terhadap kekasihnya. Betapa ia telah menghina
Kartikosari dan membanting hancur mahkota asmara mereka berdua. Sudah
terlanjur, dan ia kini benar-benar kehilangan isterinya. Dan semua ini
gara-gara Wisangjiwo. Inilah yang meracuni hatinya dan menambah rasa dendam dan
sakit hatinya, seperti minyak menambah berkobarnya api.
Beberapa hari
kemudian di Kadipaten Selopenangkep, sebuah kadipaten di tepi Sungai Progo.
Kadipaten ini tempat tinggal Joyowiseso, ayah Raden Wisangjiwo. Di sini,
tinggal adipati yang berusia limapuluh tahun ini, bersama isteri dan enam orang
selirnya. Puteranya ada dua orang, yaitu Raden Wisangjiwo yang lahir dari
isterinya dan Roro Luhito yang lahir dari seorang selir kinasih (terkasih). Anak
ini dinamai Luhito (merah) karena ketika lahir kelihatan kulitnya kemerahan.
Akan tetapi setelah kini menjadi seorang gadis remaja berusia limabelas tahun,
kulitnya menjadi putih kuning kemerahan dan wajahnya cantik, tubuhnya denok,
wataknya manja dan kenes (lincah).
Di samping
adipati dan keluarganya, di situ tinggal pula isteri Raden Wisangjiwo yang
bernama Listyokumolo dan puteranya yang baru berusia satu tahun bernama Joko
Wandiro. Rumah kadipaten itu selalu terjaga oleh para pengawal yang tak pernah
terpisah dari tombak dan keris, tiada hentinya bergiliran menjaga di sekitar
kadipaten dan setiap saat tertentu, siang malam, jalan meronda untuk menjaga
keselamatan dan keamanan sang adipati sekeluarga. Pada hari itu di dalam
kadipaten tampak kesibukan dan kemeriahan. Sang adipati sendiri bersama isteri,
para selir dan puterinya, Roro Luhito yang cantik dan berwatak bebas, menyambut
datangnya seorang tamu yang dihormati. Tamu ini adalah seorang pemuda tampan
yang bukan lain adalah Jokowanengpati! Pemuda yang datang dari kota raja ini
dikenal baik oleh Adipati Jayowiseso, karena Jokowanengpati dahulu ikut pula
menjadi perwira yang tangguh dan terkenal dalam barisan Kerajaan Mataram ketika
barisan ini menyerbu ke barat. Sebagai murid Empu Bharodo, tentu saja pemuda
ini menjadi terkenal dan dihormat oleh para taklukan Mataram. Jokowanengpati
bersahabat pula dengan Raden Wisangjiwo dan kedatangannya menggunakan dalih
mencari sahabatnya ini, padahal ia dapat menduga bahwa orang yang dicarinya
tentu tidak berada di rumah setelah perisitiwa yang ia saksikan di Guha Siluman
baru-baru ini. Memang maksud kedatangannya itu mengandung rahasia untuk
menyelidiki keadaan Wisangjiwo setelah ia melakukan perbuatan terkutuk di dalam
guha yang akan menimpa diri Wisangjiwo itu.
No comments:
Post a Comment