Badai Laut Selatan ; Bagian 013


Ketika dalam penyambutan itu muncul Roro Luhito, jantung pemuda mata keranjang ini berdebar keras. Matanya menjadi berminyak dan secara sembunyi ia mencuri pandang menikmati wajah yang manis dan tubuh yang denok itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa Wisangjiwo mempunyai seorang adik perempuan yang begini denok! Ia amat kagum dan tertarik oleh sikap yang wajar, bebas dan kenes. Berbeda dengan lain puteri yang biasanya hanya menyembunyikan diri di dalam taman sari atau keputren. Memang Roro Luhito sejak kecil bukan seorang anak pemalu. Ia kenes dan pemberani, apalagi oleh ayahnya ia diberi pelajaran olah keprajuritan sehingga wataknya yang memang kenes bebas itu membuat ia merasa seakan-akan ia seorang Srikandi!

Hidangan-hidangan mewah dikeluarkan, bahkan pada malam harinya Adipati Joyowiseso memerintahkan rombongan kesenian kadipaten mengadakan klenengan dan tarian untuk menghormat dan menghibur tamu muda yang dihormati ini. Namun, setelah melihat Roro Luhito, para penari yang berbedak tebal itu dalam pandang mata Jokowanengpati tiada ubahnya seperti boneka-boneka hidup yang sama sekali tidak menarik. Padahal biasanya, dalam setiap kesempatan perayaan tayuban, pemuda yang pandai menari ini selalu menjadi tokoh untuk menari bersama penari-penari, bergaya, bergurau dan bergepit. Kini seolah-olah ia menjadi seorang yang pendiam. Sampai jauh tengah malam baru pesta dihentikan. Tamu muda ini dipersilakan mengaso dalam kamar khusus yang bersih, lengkap dan mempunyai tempat tidur berbau harum kembang melati. Betapapun nyamannya tidur di kamar ini, namun Jokowanengpati tak dapat tidur pulas. Gelisah ia miring ke kanan kiri memeluk guling yang dikhayalkannya sebagai Roro Luhito! Dipelukciumi guling itu, dibisikkan kata-kata halus merayu, kemudian ia kadang-kadang menarik papas panjang dan memanggil nama Roro Luhito dalam bisikan penuh rindu. Pemuda mata keranjang ini, untuk entah ke berapa kalinya, tergila-gila dan diserang penyakit wuyung (rindu) kepada seorang gadis ayu. Ia tiada melihat jalan untuk mengobati penyakit rindu berahinya. Meminang gadis Puteri adipati itu tidaklah mungkin sekarang, setelah ia diusir gurunya. Masih baik bahwa Empu Bharodo seorang yang dapat menjaga nama sehingga persoalan murtadnya itu tidak diketahui orang lain sehingga ia masih dapat mengecap kenikmatan sebagai murid Empu Bharodo dengan penyambutan penuh penghormatan seperti sekarang ini.
Cuaca lewat tengah malam itu amat gelap Mendung yang tidak mau turun-turun menjadi hujan membuat hawa udara panas sekali. Keadaan di kadipaten dan sekitarnya sunyi melengang karena semua penghuninya telah tidur lejap setelah kelelahan dalam kesibukan siang dan malam hari tadi. Bahkan para penjaga merasai pula kelelahan dan hawa panas ini, membuat mereka agak malas meronda dan hanya berjaga-jaga di sekitar pintu gapura depan.

Sunyi sekali setelah suara gamelan berhenti dan penghuninya sudah tidur, lebih sunyi daripada malam-malam biasa sebelumnya. Sesosok bayangan hitam dengan gerakan yang gesit menyelinap di antara rumpun bambu yang tumbuh di luar tembok belakang kadipaten. Sinar kilat yang kadang-kadang memecah di angkasa dalam sekejap mata menyinari bayangan ini yang ternyata adalah seorang laki-laki muda bertubuh tegap bermata liar. Orang muda ini adalah Pujo, yang dengan nafsu dendam meluap-luap menjelang fajar itu mendatangi kadipaten di Selopenangkep. Setelah menanti sesaat dan mendapat keyakinan bahwa tidak ada penjaga meronda, dengan tangkas Pujo lari mendekati tembok, mengenjotkan kedua kakinya yang kuat ke atas tanah. Tubuhnya melayang naik, tangannya meraih dan menangkap ujung tembok di atas, kakinya diayun ke belakang terus ke atas dan berjungkir baliklah tubuhnya, langsung melompat ke sebelah dalam tembok! Tiada suara ditimbulkan kedua telapak kakinya yang menyentuh tanah sebelah dalam dengan gerakan seperti kucing melompat, kemudian mengindap-indap ia menghampiri gedung kadipaten yang sunyi. Sejenak ia berdiri di bawah pohon sawo yang gelap, agak bingung karena ia tidak mengenal gedung ini, tidak dapat mengira-ngirakan di mana kiranya kamar tidur Raden Wisangjiwo. Ia berpikir sejenak, giginya berkeret-keret gemas ketika ia berbisik.
"Tidak peduli siapa dia, asal keluarga si bedebah Wisangjiwo, akan kubunuh!"
Dengan pikiran ini, dengan gerakan secepat kera, ia memanjat pohon sawo kemudian dari cabang yang berdekatan dengan wuwungan rumah, ia meloncat lalu berjalan di atas wuwungan rumah. Ilmu kepandaiannya yang sudah amat tinggi membuat wuwungan dan genteng itu dapat dilaluinya dengan mudah tanpa menimbulkan suara gaduh. Setelah mencari-cari di atas wuwungan, akhirnya ia dapat meloncat ke sebelah dalam gedung, yaitu di ruangan belakang yang terbuka. Di lain saat ia telah mendekati sebuah jendela dari kamar terbesar yang berada di tengah gedung. Terdengar suara orang bercakap-cakap perlahan di dalam kamar itu. Ia menempelkan telinganya dan mendengar suara ketawa seorang laki-laki, suara ketawa yang dalam dan parau,
"Ha-ha-ha, diajeng! Enak saja kau bicara. Mana mungkin kami pihak perempuan mengajukan urusan perjodohan? Hal itu akan terlalu merendahkan diri. Akupun setuju kalau anak kita Roro Luhito dapat menjadi isteri Jokowanengpati, karena biarpun ia bukan keturunan bangsawan, namun ia mempunyai kedudukan baik dan tentu akan mudah mendapatkan pangkat besar di kemudian hari. Biarlah nanti sepulangnya Wisangjiwo, dia yang akan bicara dengan Jokowanengpati. Kalau yang bicara itu di antara sahabat, itu bukan merendahkan diri namanya."
"Terserah, kakangmas adipati. Pokoknya saya menghendaki agar anak kita bisa mendapatkan jodoh yang baik dan saya lihat pemuda itu cukup tampan dan sopan. Banyak para waranggana dan penari cantik-cantik malam tadi, tapi melirikpun dia tidak mau. Padahal biasanya orang-orang muda kalau melihat waranggana cantik lalu menjadi liar dan tidak mau diam seperti cacing terkena abu!"
"Hah-hah-hah-hah, biasa itu, diajeng. Orang kalau sudah menyukai seseorang, segalanya kelihatan baik saja. Mudah-mudahan begitulah dan mudah-mudahan dia akan suka memperisteri anak kita si Luhito."
"Tentu suka! Pemuda mana yang tidak keedanan bertemu dengan Luhito? Perawan mana yang lebih cantik jelita, denok ayu seperti anakku Luhito?"
"Ha-ha-ha, siapa maido (tak percaya)? Ibunya begini denok, begini montok, begini ayu manis, tentu saja anaknya hebat!"
"Ah, kangmas, sudah malam begini hampir fajar, jangan keras-keras, malu terdengar orang!"

Adipati Joyowiseso dan selirnya tertawa-tawa, bersendau gurau. Kedua orang ini tidak tahu betapa di luar jendela kamar mereka, Pujo menjadi merah mukanya, merah karena marah dan kecewa. Jadi Wisangjiwo belum pulang, pikirnya geram. Akan tetapi ia sudah tiba di situ, terlalu menyesal kalau pulang dengan tangan hampa. Di dalam kamar ini terdapat ayah si bedebah Wisangjiwo dan orang tua ini ikut pula berdosa karena mempunyai putera yang telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya. Kedua tangannya mengepal tinju, matanya beringas memandang jendela, seluruh urat di tubuhnya menegang. Pujo melangkah mundur tiga tindak, mengerahkan tenaga lalu meloncat menerjang daun jendela yang tertutup!
"Braaaakkkk!!"
Pecahlah daun jendela itu dan tubuh Pujo terhuyung ke dalam kamar yang diterangi sebuah dian (lampu kecil) di sudut kamar. Selir adipati itu menjerit kaget dan Adipati Joyowiseso melompat dari atas pembaringan, tubuhnya tidak memakai baju hanya berselimut sehelai kain, matanya melotot, kumisnya yang tebal sekepal sebelah itu berdiri, lalu membentak.
"Keparat biadab! Siapa ini.....?!?"
"Adipati Joyowiseso, terimalah hukuman dosa anakmu si bedebah Wisangjiwo!"
Pujo berseru dan bagaikan angin badai ia menyerbu dengan sebuah keris telanjang di tangan! Tusukannya ke arah ulu hati adipati itu amat dahsyat, cepat sekali dan disertai tenaga yang kuat, kemudian disusul sebuah tendangan ke arah perut.
Joyowiseso takkan menjadi adipati kalau dia bukan seorang yang pandai beryuda. Usianya sudah lima puluh tahun namun tubuhnya yang tinggi besar itu masih tampak kuat. Dadanya yang terbuka tanpa baju itu memperlihatkan bahu yang bidang dan segumpal rambut yang hitam menghias ulu hati dan buah dada otot-ototnya sebesar tambang bambu. Melihat serangan dahsyat ini, trengginas (sigap) ia menangkis dengan tangan kanannya, sebuah lengan yang besar berbulu menyampok tangan kanan Pujo. Namun Pujo adalah seorang pemuda gemblengan, pula ia menjadi makin kuat karena dorongan kenekatan bulat dan kemarahan. Selain ini, memang ia lebih dulu membuat persiapan, tidak seperti sang adipati yang masih belum lenyap rasa kagetnya. Maka begitu kedua lengan bertemu, tangan Pujo yang menusuk meleset ke atas dan kerisnya masih menancap pada pangkal lengan kanan Adipati Joyowiseso.
Agaknya tusukan pada pangkal lengan ini tidak akan membuat adipati itu berteriak kalau saja tendangan kaki Pujo tidak mengenai perutnya. Sebuah tendangan yang keras, tepat mengenai perut yang sudah mulai bekel (menggendut), menimbulkan suara "blegggl" dan tubuh adipati itu terlempar ke belakang, lalu terhuyung-huyung.
"Terimalah kematianmu, Joyowiseso! " Pujo menerjang lagi dan adipati itu berteriak-teriak,
"Tolong.......! Toloooonggg..!! Penjahat!!"

Namun dalam ketakutannya, ia masih cukup tangkas untuk menggulingkan tubuh ke atas lantai dan terus menggelinding mendekati meja di sudut kamar. Sebelum Pujo sempat menyerang lawan yang bergulingan itu, Adipati Joyowiseso sudah menarik kaki meja. Pelita di atas meja terlempar ke bawah dan padam. Gelap gulita di dalam kamar itu. Yang terdengar hanya isak tangis selir adipati di atas pembaringan yang diusahakannya untuk didekap dengan mulut agar tidak bersuara. Dendam kesumat mendidih dalam dada Pujo dan kenekatannya sudah bulat, namun dia bukanlah seorang yang sembrono atau bodoh. Melihat betapa dalam kamar yang asing baginya itu gelap sekali, Pujo maklum bahwa bahaya mengancam dirinya. Apalagi ia mendengar suara kaki berlari-lari mendatangi ke arah kamar. Cepat ia lalu mengayun tubuh melompat keluar dari jendela yang sudah berlubang besar karena daun jendelanya roboh oleh terjangannya ketika masuk tadi. Hanya lubang jendela itulah yang tampak dari dalam gelap, disinari oleh cahaya lampu di luar kamar. Untung ia berlaku waspada dan begitu mendengar ada angin sambaran dari samping, ia mengelak. Sebuah pisau belati melayang dan menancap di jendela, belati yang disambitkan dari dalam gelap oleh Adipati Joyowiseso.
"Penjahat! Tangkap!!"
Terdengar adipati itu berteriak-teriak sambil mengejar, sebatang tombak di tangannya dan kain yang tadi menyelimuti tubuhnya sudah ia lilitkan ke belakang, merupakan cawat. Begitu tubuh Pujo berada di luar kamar, sebuah tombak dan sebilah golok menyambar dari kanan kiri. Trengginas (sigap) ia melompat terus ke depan, menghindarkan diri lalu membalik cepat. Kiranya yang menyerangnya adalah dua orang penjaga yang berlari datang karena teriakan adipati. Pujo tidak menanti sampai mereka menyerang lagi atau menunggu datangnya lawan yang lebih banyak lagi. Begitu si pemegang tombak memutar senjata hendak menusuk, ia telah mendahuluinya dengan terjangan kilat ke depan. Sukar diikuti pandang mata lawannya gerakan ini saking cepatnya dan tahu-tahu kerisnya telah menancap di perut lawan dan begitu dicabut, darah muncrat keluar dan si pemegang tombak roboh tertelungkup. Pada saat itu si pemegang golok sudah mengayun senjatanya mengancam ke arah kepala dari kiri. Pujo miringkan tubuh, tangan kirinya dengan Aji Pethit Nogo menangkis, jari-jari tangan kirinya yang sudah kemasukan aji yang ampuh ini tepat menghantam pergelangan tangan yang memegang golok, mendahului datangnya sambaran senjata tajam itu. Terdengar bunyi "krakk!" tanda bahwa lengan itu patah dihajar Ilmu Pethit Nogo. Si pemegang golok berseru kesakitan, akan tetapi di lain saat iapun terjungkal seperti temannya dengan lambung berlubang oleh keris!
"Penjahat busuk, rasakan tombakku!"
Adipati Joyowiseso yang sudah melompat keluar dari jendela mengayun tombaknya. Adipati ini memang terkenal sebagai pemain tombak yang jagoan, tombaknya bergerak cepat berputaran dan mata tombak seakan-akan berubah menjadi lima buah banyaknya, menyambar dengan kecepatan kilat bertubi-tubi ke arah bagian tubuh yang berbahaya.
Pujo tentu saja tidak menjadi gentar, akan tetapi melihat banyak penjaga dengan obor di tangan lari mendatang, ia merasa bahwa tempat itu kurang luas untuk bertempur menghadapi banyak lawan. Kurang leluasalah ia bergerak kalau sampai terkepung. Maka ia meloncat ke belakang menjauhi ancaman tombak, lalu lari menuju ke pekarangan belakang.
"Keparat, hendak lari ke mana kau?"

Adipati Joyowiseso mengejar, kini diikuti oleh belasan orang pengawal yang sudah memegang senjata masing-masing ditangan. Bahkan dari dalam gedung keluar pula seorang gadis yang berpakaian ringkas, memegang cundrik kecil panjang yang runcing. Dia ini adalah Roro Luhito. Dengan hati cemas gadis ini melihat pundak ayahnya yang berdarah.
"Ayah, ada apakah??" tanyanya sambil berlari di samping ayahnya.

<<< Bagian 012                                                                                     Bagian 014 >>>

No comments:

Post a Comment