Ketika dalam penyambutan itu muncul Roro Luhito, jantung pemuda mata keranjang ini berdebar keras. Matanya menjadi berminyak dan secara sembunyi ia mencuri pandang menikmati wajah yang manis dan tubuh yang denok itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa Wisangjiwo mempunyai seorang adik perempuan yang begini denok! Ia amat kagum dan tertarik oleh sikap yang wajar, bebas dan kenes. Berbeda dengan lain puteri yang biasanya hanya menyembunyikan diri di dalam taman sari atau keputren. Memang Roro Luhito sejak kecil bukan seorang anak pemalu. Ia kenes dan pemberani, apalagi oleh ayahnya ia diberi pelajaran olah keprajuritan sehingga wataknya yang memang kenes bebas itu membuat ia merasa seakan-akan ia seorang Srikandi!
Hidangan-hidangan
mewah dikeluarkan, bahkan pada malam harinya Adipati Joyowiseso memerintahkan
rombongan kesenian kadipaten mengadakan klenengan dan tarian untuk menghormat
dan menghibur tamu muda yang dihormati ini. Namun, setelah melihat Roro Luhito,
para penari yang berbedak tebal itu dalam pandang mata Jokowanengpati tiada
ubahnya seperti boneka-boneka hidup yang sama sekali tidak menarik. Padahal
biasanya, dalam setiap kesempatan perayaan tayuban, pemuda yang pandai menari
ini selalu menjadi tokoh untuk menari bersama penari-penari, bergaya, bergurau
dan bergepit. Kini seolah-olah ia menjadi seorang yang pendiam. Sampai jauh
tengah malam baru pesta dihentikan. Tamu muda ini dipersilakan mengaso dalam
kamar khusus yang bersih, lengkap dan mempunyai tempat tidur berbau harum
kembang melati. Betapapun nyamannya tidur di kamar ini, namun Jokowanengpati
tak dapat tidur pulas. Gelisah ia miring ke kanan kiri memeluk guling yang
dikhayalkannya sebagai Roro Luhito! Dipelukciumi guling itu, dibisikkan
kata-kata halus merayu, kemudian ia kadang-kadang menarik papas panjang dan
memanggil nama Roro Luhito dalam bisikan penuh rindu. Pemuda mata keranjang
ini, untuk entah ke berapa kalinya, tergila-gila dan diserang penyakit wuyung
(rindu) kepada seorang gadis ayu. Ia tiada melihat jalan untuk mengobati
penyakit rindu berahinya. Meminang gadis Puteri adipati itu tidaklah mungkin
sekarang, setelah ia diusir gurunya. Masih baik bahwa Empu Bharodo seorang yang
dapat menjaga nama sehingga persoalan murtadnya itu tidak diketahui orang lain
sehingga ia masih dapat mengecap kenikmatan sebagai murid Empu Bharodo dengan
penyambutan penuh penghormatan seperti sekarang ini.
Cuaca lewat
tengah malam itu amat gelap Mendung yang tidak mau turun-turun menjadi hujan
membuat hawa udara panas sekali. Keadaan di kadipaten dan sekitarnya sunyi
melengang karena semua penghuninya telah tidur lejap setelah kelelahan dalam
kesibukan siang dan malam hari tadi. Bahkan para penjaga merasai pula kelelahan
dan hawa panas ini, membuat mereka agak malas meronda dan hanya berjaga-jaga di
sekitar pintu gapura depan.
Sunyi sekali
setelah suara gamelan berhenti dan penghuninya sudah tidur, lebih sunyi
daripada malam-malam biasa sebelumnya. Sesosok bayangan hitam dengan gerakan
yang gesit menyelinap di antara rumpun bambu yang tumbuh di luar tembok
belakang kadipaten. Sinar kilat yang kadang-kadang memecah di angkasa dalam
sekejap mata menyinari bayangan ini yang ternyata adalah seorang laki-laki muda
bertubuh tegap bermata liar. Orang muda ini adalah Pujo, yang dengan nafsu
dendam meluap-luap menjelang fajar itu mendatangi kadipaten di Selopenangkep.
Setelah menanti sesaat dan mendapat keyakinan bahwa tidak ada penjaga meronda,
dengan tangkas Pujo lari mendekati tembok, mengenjotkan kedua kakinya yang kuat
ke atas tanah. Tubuhnya melayang naik, tangannya meraih dan menangkap ujung
tembok di atas, kakinya diayun ke belakang terus ke atas dan berjungkir
baliklah tubuhnya, langsung melompat ke sebelah dalam tembok! Tiada suara
ditimbulkan kedua telapak kakinya yang menyentuh tanah sebelah dalam dengan
gerakan seperti kucing melompat, kemudian mengindap-indap ia menghampiri gedung
kadipaten yang sunyi. Sejenak ia berdiri di bawah pohon sawo yang gelap, agak
bingung karena ia tidak mengenal gedung ini, tidak dapat mengira-ngirakan di
mana kiranya kamar tidur Raden Wisangjiwo. Ia berpikir sejenak, giginya
berkeret-keret gemas ketika ia berbisik.
"Tidak
peduli siapa dia, asal keluarga si bedebah Wisangjiwo, akan kubunuh!"
Dengan pikiran
ini, dengan gerakan secepat kera, ia memanjat pohon sawo kemudian dari cabang
yang berdekatan dengan wuwungan rumah, ia meloncat lalu berjalan di atas
wuwungan rumah. Ilmu kepandaiannya yang sudah amat tinggi membuat wuwungan dan
genteng itu dapat dilaluinya dengan mudah tanpa menimbulkan suara gaduh.
Setelah mencari-cari di atas wuwungan, akhirnya ia dapat meloncat ke sebelah
dalam gedung, yaitu di ruangan belakang yang terbuka. Di lain saat ia telah
mendekati sebuah jendela dari kamar terbesar yang berada di tengah gedung.
Terdengar suara orang bercakap-cakap perlahan di dalam kamar itu. Ia
menempelkan telinganya dan mendengar suara ketawa seorang laki-laki, suara
ketawa yang dalam dan parau,
"Ha-ha-ha,
diajeng! Enak saja kau bicara. Mana mungkin kami pihak perempuan mengajukan
urusan perjodohan? Hal itu akan terlalu merendahkan diri. Akupun setuju kalau
anak kita Roro Luhito dapat menjadi isteri Jokowanengpati, karena biarpun ia
bukan keturunan bangsawan, namun ia mempunyai kedudukan baik dan tentu akan
mudah mendapatkan pangkat besar di kemudian hari. Biarlah nanti sepulangnya
Wisangjiwo, dia yang akan bicara dengan Jokowanengpati. Kalau yang bicara itu
di antara sahabat, itu bukan merendahkan diri namanya."
"Terserah,
kakangmas adipati. Pokoknya saya menghendaki agar anak kita bisa mendapatkan jodoh
yang baik dan saya lihat pemuda itu cukup tampan dan sopan. Banyak para
waranggana dan penari cantik-cantik malam tadi, tapi melirikpun dia tidak mau.
Padahal biasanya orang-orang muda kalau melihat waranggana cantik lalu menjadi
liar dan tidak mau diam seperti cacing terkena abu!"
"Hah-hah-hah-hah,
biasa itu, diajeng. Orang kalau sudah menyukai seseorang, segalanya kelihatan
baik saja. Mudah-mudahan begitulah dan mudah-mudahan dia akan suka memperisteri
anak kita si Luhito."
"Tentu
suka! Pemuda mana yang tidak keedanan bertemu dengan Luhito? Perawan mana yang
lebih cantik jelita, denok ayu seperti anakku Luhito?"
"Ha-ha-ha,
siapa maido (tak percaya)? Ibunya begini denok, begini montok, begini ayu
manis, tentu saja anaknya hebat!"
"Ah,
kangmas, sudah malam begini hampir fajar, jangan keras-keras, malu terdengar
orang!"
Adipati
Joyowiseso dan selirnya tertawa-tawa, bersendau gurau. Kedua orang ini tidak
tahu betapa di luar jendela kamar mereka, Pujo menjadi merah mukanya, merah
karena marah dan kecewa. Jadi Wisangjiwo belum pulang, pikirnya geram. Akan
tetapi ia sudah tiba di situ, terlalu menyesal kalau pulang dengan tangan
hampa. Di dalam kamar ini terdapat ayah si bedebah Wisangjiwo dan orang tua ini
ikut pula berdosa karena mempunyai putera yang telah menghancurkan kebahagiaan
hidupnya. Kedua tangannya mengepal tinju, matanya beringas memandang jendela,
seluruh urat di tubuhnya menegang. Pujo melangkah mundur tiga tindak,
mengerahkan tenaga lalu meloncat menerjang daun jendela yang tertutup!
"Braaaakkkk!!"
Pecahlah daun
jendela itu dan tubuh Pujo terhuyung ke dalam kamar yang diterangi sebuah dian
(lampu kecil) di sudut kamar. Selir adipati itu menjerit kaget dan Adipati
Joyowiseso melompat dari atas pembaringan, tubuhnya tidak memakai baju hanya
berselimut sehelai kain, matanya melotot, kumisnya yang tebal sekepal sebelah
itu berdiri, lalu membentak.
"Keparat
biadab! Siapa ini.....?!?"
"Adipati
Joyowiseso, terimalah hukuman dosa anakmu si bedebah Wisangjiwo!"
Pujo berseru
dan bagaikan angin badai ia menyerbu dengan sebuah keris telanjang di tangan!
Tusukannya ke arah ulu hati adipati itu amat dahsyat, cepat sekali dan disertai
tenaga yang kuat, kemudian disusul sebuah tendangan ke arah perut.
Joyowiseso
takkan menjadi adipati kalau dia bukan seorang yang pandai beryuda. Usianya
sudah lima puluh tahun namun tubuhnya yang tinggi besar itu masih tampak kuat.
Dadanya yang terbuka tanpa baju itu memperlihatkan bahu yang bidang dan
segumpal rambut yang hitam menghias ulu hati dan buah dada otot-ototnya sebesar
tambang bambu. Melihat serangan dahsyat ini, trengginas (sigap) ia menangkis
dengan tangan kanannya, sebuah lengan yang besar berbulu menyampok tangan kanan
Pujo. Namun Pujo adalah seorang pemuda gemblengan, pula ia menjadi makin kuat
karena dorongan kenekatan bulat dan kemarahan. Selain ini, memang ia lebih dulu
membuat persiapan, tidak seperti sang adipati yang masih belum lenyap rasa
kagetnya. Maka begitu kedua lengan bertemu, tangan Pujo yang menusuk meleset ke
atas dan kerisnya masih menancap pada pangkal lengan kanan Adipati Joyowiseso.
Agaknya
tusukan pada pangkal lengan ini tidak akan membuat adipati itu berteriak kalau
saja tendangan kaki Pujo tidak mengenai perutnya. Sebuah tendangan yang keras,
tepat mengenai perut yang sudah mulai bekel (menggendut), menimbulkan suara
"blegggl" dan tubuh adipati itu terlempar ke belakang, lalu
terhuyung-huyung.
"Terimalah
kematianmu, Joyowiseso! " Pujo menerjang lagi dan adipati itu
berteriak-teriak,
"Tolong.......!
Toloooonggg..!! Penjahat!!"
Namun dalam ketakutannya,
ia masih cukup tangkas untuk menggulingkan tubuh ke atas lantai dan terus
menggelinding mendekati meja di sudut kamar. Sebelum Pujo sempat menyerang
lawan yang bergulingan itu, Adipati Joyowiseso sudah menarik kaki meja. Pelita
di atas meja terlempar ke bawah dan padam. Gelap gulita di dalam kamar itu.
Yang terdengar hanya isak tangis selir adipati di atas pembaringan yang
diusahakannya untuk didekap dengan mulut agar tidak bersuara. Dendam kesumat
mendidih dalam dada Pujo dan kenekatannya sudah bulat, namun dia bukanlah
seorang yang sembrono atau bodoh. Melihat betapa dalam kamar yang asing baginya
itu gelap sekali, Pujo maklum bahwa bahaya mengancam dirinya. Apalagi ia
mendengar suara kaki berlari-lari mendatangi ke arah kamar. Cepat ia lalu mengayun
tubuh melompat keluar dari jendela yang sudah berlubang besar karena daun
jendelanya roboh oleh terjangannya ketika masuk tadi. Hanya lubang jendela
itulah yang tampak dari dalam gelap, disinari oleh cahaya lampu di luar kamar.
Untung ia berlaku waspada dan begitu mendengar ada angin sambaran dari samping,
ia mengelak. Sebuah pisau belati melayang dan menancap di jendela, belati yang
disambitkan dari dalam gelap oleh Adipati Joyowiseso.
"Penjahat!
Tangkap!!"
Terdengar
adipati itu berteriak-teriak sambil mengejar, sebatang tombak di tangannya dan
kain yang tadi menyelimuti tubuhnya sudah ia lilitkan ke belakang, merupakan
cawat. Begitu tubuh Pujo berada di luar kamar, sebuah tombak dan sebilah golok
menyambar dari kanan kiri. Trengginas (sigap) ia melompat terus ke depan,
menghindarkan diri lalu membalik cepat. Kiranya yang menyerangnya adalah dua
orang penjaga yang berlari datang karena teriakan adipati. Pujo tidak menanti
sampai mereka menyerang lagi atau menunggu datangnya lawan yang lebih banyak lagi.
Begitu si pemegang tombak memutar senjata hendak menusuk, ia telah
mendahuluinya dengan terjangan kilat ke depan. Sukar diikuti pandang mata
lawannya gerakan ini saking cepatnya dan tahu-tahu kerisnya telah menancap di
perut lawan dan begitu dicabut, darah muncrat keluar dan si pemegang tombak
roboh tertelungkup. Pada saat itu si pemegang golok sudah mengayun senjatanya
mengancam ke arah kepala dari kiri. Pujo miringkan tubuh, tangan kirinya dengan
Aji Pethit Nogo menangkis, jari-jari tangan kirinya yang sudah kemasukan aji
yang ampuh ini tepat menghantam pergelangan tangan yang memegang golok,
mendahului datangnya sambaran senjata tajam itu. Terdengar bunyi
"krakk!" tanda bahwa lengan itu patah dihajar Ilmu Pethit Nogo. Si
pemegang golok berseru kesakitan, akan tetapi di lain saat iapun terjungkal
seperti temannya dengan lambung berlubang oleh keris!
"Penjahat
busuk, rasakan tombakku!"
Adipati
Joyowiseso yang sudah melompat keluar dari jendela mengayun tombaknya. Adipati
ini memang terkenal sebagai pemain tombak yang jagoan, tombaknya bergerak cepat
berputaran dan mata tombak seakan-akan berubah menjadi lima buah banyaknya,
menyambar dengan kecepatan kilat bertubi-tubi ke arah bagian tubuh yang
berbahaya.
Pujo tentu
saja tidak menjadi gentar, akan tetapi melihat banyak penjaga dengan obor di
tangan lari mendatang, ia merasa bahwa tempat itu kurang luas untuk bertempur
menghadapi banyak lawan. Kurang leluasalah ia bergerak kalau sampai terkepung.
Maka ia meloncat ke belakang menjauhi ancaman tombak, lalu lari menuju ke
pekarangan belakang.
"Keparat,
hendak lari ke mana kau?"
Adipati
Joyowiseso mengejar, kini diikuti oleh belasan orang pengawal yang sudah
memegang senjata masing-masing ditangan. Bahkan dari dalam gedung keluar pula
seorang gadis yang berpakaian ringkas, memegang cundrik kecil panjang yang
runcing. Dia ini adalah Roro Luhito. Dengan hati cemas gadis ini melihat pundak
ayahnya yang berdarah.
"Ayah,
ada apakah??" tanyanya sambil berlari di samping ayahnya.
No comments:
Post a Comment