Badai Laut Selatan ; Bagian 014


"Ada penjahat, hendak membunuhku. Itu dia lari ke sana. Kejar!"
Roro Luhito tidaklah sehebat Wisangjiwo kepandaiannya, akan tetapi dibandingkan dengan para penjaga, agaknya gadis ini masih lebih unggul karena ia mendapat gemblengan sendiri dari ayahnya. Maka kini ia dapat berlari cepat di samping ayahnya dan para pengejar ini sejenak tertegun ketika melihat bahwa orang yang mereka kejar itu tidak terus lari, bahkan kini dengan muka beringas dan senyum mengejek menanti kedatangan mereka dengan keris yang berlumur darah di tangan!
Seorang pemuda yang amat tampan, akan tetapi yang tampak mengerikan karena pandang matanya menyinarkan kehausan akan darah, sinar mata maut!. Akan tetapi yang merasa paling kaget dan heran adalah Adipati Joyowiseso sendiri. Dia merasa seperti pernah melihat pemuda ini, dan setelah ia mengingat-ingat, cambangnya yang tebal tergetar saking marahnya. Dengan tombak ditudingkan ia membentak marah,
"Babo-babo, keparat jahanaml Kiranya kau! Bukankah kau murid Resi Bhargowo dari Sungapan? Mengapa kau datang dan menyerangku?"
"Adipati Joyowiseso! Kau harus menebus dosa yang diperbuat oleh puteramu yang biadab!"
Terbelalak lebar mata adipati itu.
"Jahanam, lancang mulutmu! Perbuatan apa yang dilakukan Wisangjiwo?"
"Tak usah banyak cakap, siaplah kau untuk mampus!"
Setelah berkata demikian, Pujo menubruk maju dan menyerang dengan kerisnya. Adipati itu juga menggerakkan tombak untuk menangkis karena biarpun keris merupakan senjata pendek, namun gerakan pemuda itu cepat sekali.
"Tranggg!"

Tombak itu terpental dan kedua tangan Adipati Joyowiseso terasa kaku. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan Roro Luhito menyerang Pujo dengan cundriknya yang ditusukkan ke arah lambung si orang muda dari samping. Tadinya Roro Luhito terpesona karena sama sekali tidak menyangka bahwa "penjahat" yang dikejar-kejar ayahnya adalah seorang pemuda yang demikian ganteng dan wajahnya menimbulkan rasa iba dan suka di hatinya. Akan tetapi mengingat bahwa pemuda ini sudah melukai ayahnya dan bahkan hendak membunuh ayahnya, kemarahannya timbul dan ia segera menyerang.
Tangkisan tombak tadi menggagalkan serangan Pujo, akan tetapi melihat adipati itu terhuyung, ia hendak menambahi dengan serangan ke dua sebelum para penjaga sempat mengurung, akan tetapi mendadak ia mendengar bentakan suara wanita dan disusul sambaran angin serangan. Ia membalikkan tubuh dengan putaran tumitnya dan melihat seorang gadis remaja menyerangnya, ia terheran-heran. Ia tidak pernah tahu bahwa adipati itu mempunyai seorang anak perempuan. Betapapun juga, Pujo adalah seorang ksatria, maka tidaklah tega hatinya untuk membunuh wanita, biarpun ia melihat betapa gerakan wanita ini masih amat lemah dan lambat sehingga sekali saja mendahului serangan, ia pasti akan dapat memukul roboh gadis ini. Karena pikiran itulah maka ia lalu menyampok dengan tangan kirinya, menggunakan jari telunjuknya menyentil kulit lengan yang putih halus.
"Aaauuuhhh!" Roro Luhito menjerit, cundriknya terlepas dan ia memegangi lengan kanan yang terasa copot sambungannya itu dengan tangan kiri sambil meloncat mundur.
Pada saat itu, para penjaga sudah maju mengurung dan menggerakkan senjata yang datang bagaikan hujan menyerang tubuh Pujo. Namun Pujo berseru garang, tubuhnya berkelebat di antara mata tombak dan golok, lalu meloncat ke atas menubruk pengeroyok sebelah kiri. Begitu tangan kirinya menyampok dan kerisnya berkelebat, empat orang penjaga roboh tak dapat bangun kembali! Dua orang penjaga terdekat di kanan kirinya mempergunakan kesempatan ini untuk menggerakkan tombak yang ditusukkan dari kanan kiri. Pujo tidak tergesa-gesa. Begitu kedua tombak itu mendekat, ia sudah menggigit kerisnya dan kini kedua tangannya menyambar tombak, dan sekali kedua tangannya membuat gerakan menyendal dan menusuk, dua orang penjaga itu roboh dengan perut tertembus tombak kawannya!.

Menyaksikan kehebatan pemuda ini, para penjaga undur tiga langkah dengan gentar, mengharapkan, datangnya kawan-kawan yang kini sudah tampak datang berlarian dari luar gedung. Pujo tertawa bergelak,
"Ha-ha-ha-ha! Adipati Joyowiseso, hayo inilah dada Pujo anak Sungapan! Kerahkan seluruh anjing-anjing penjagamu, jangan maju seorang demi seorang, majulah berbareng! Saat ini adalah saat kematianmu dan sebelum aku meninggalkan Kadipaten Selopenangkep, kadipaten ini akan menjadi telaga darah!"
"Keparat sombong! Hayo maju semua, tangkap keparat ini, hidup atau mati!" teriak Adipati Joyowiseso yang sudah menerjang maju lagi dengan tombaknya.
Gerakan adipati ini cukup tangkas, tenaganya besar sehingga Pujo tidak berani memandang rendah, apalagi karena para penjaga yang berkumpul di situ lebih dari dua puluh orang banyaknya. Ia mengelak dan melesat ke kiri ketika banyak senjata menyambarnya, kemudian ia menggunakan kelincahan gerakan tubuhnya untuk melesat ke kanan kiri sambil kadang-kadang menghantam seorang pengeroyok atau menggunakan kerisnya mencari korban. Ramai suara para penjaga yang mengepungnya, sama ramainya dengan pemburu-pemburu mengepung harimau. Pertandingan yang amat tak sebanding ini berlangsung seru. Pujo mempergunakan kepandaiannya, tangan kirinya yang mempergunakan Ilmu Pethit Nogo dan kerisnya seakan-akan pesta pora dengan tubuh para pengeroyoknya. Belum sampai setengah jam lamanya, di pekarangan belakang gedung kadipaten itu sudah bergelimpangan tubuh sembilan orang penjaga, ada yang sudah tewas, ada yang masih berkelojotan dan ada yang merintih-rintih. Akan tetapi Pujo tidak berhasil mendekati Adipati Joyowiseso yang selain dijaga oleh para pengawalnya, juga dijaga oleh Roro Luhito yang kini mainkan sebatang tombak juga! Adipati itu sendiri tidak tinggal diam, ia selalu mencari kesempatan selagi pemuda itu sibuk melayani pengeroyokan untuk menggunakan tombaknya menusuk.

Matahari pagi mulai muncul menyinari permukaan bumi dengan cahayanya yang kemerahan, semerah darah yang berceceran membasahi bumi pekarangan belakang Kadipaten Selopenangkep. Keadaan di situ makin gaduh oleh suara mereka yang mengepung Pujo. Diam-diam Pujo mulai merasa kuatir. Kalau semua penduduk sudah bangun dan bala bantuan datang makin banyak, sukarlah baginya untuk melarikan diri. Akan tetapi, para penjaga itu tak pernah mau melepaskannya lagi dan sebegitu lama belum juga ia berhasil membunuh ayah Wisangjiwo. Ia kecewa. Kalau Wisangjiwo sendiri tidak berada di situ dan ia tidak berhasil membunuh Adipati Joyowiseso, bukankah sia-sia belaka usahanya? Apalagi kalau ia sampai tertawan dan terbunuh! Apa artinya sekian banyak penjaga yang terbunuh olehnya? Nyawa ratusan penjagapun tidak ada artinya bagi pembalasan dendamnya terhadap Wisangjiwo!. Kekecewaan ini membuat kemarahan Pujo meluap dan berteriak menyeramkan, lalu tubuhnya berkelebat seperti burung srikatan mengejar belalang. Hebat bukan main amukannya, karena ini menggunakan pukulan Gelap Musti sehingga tiap orang yang terkena pukulan geledeknya tentu roboh dengan kepala atau dada pecah! juga Ilmu Bayutantra membuat gerakannya seperti angin puyuh!. Akan tetapi kenekatannya ini menimbulkan pula ketidak hati-hatiannya. Tusukan tombak Adipati Joyowiseso yang tentu saja lebih berbahaya daripada tusukan para pengeroyok, secepat kilat menyambar ke arah ulu hati Pujo yang ketika itu sibuk mempergunakan kedua tangannya. Pujo terkejut dan cepat tangannya menyampok dari bawah. Mata tombak tersampok ke atas, meleset malah menyambar ke arah tenggorokannya. Pujo cepat miringkan kepala, akan tetapi tetap saja mata tombak itu menghunjam ke arah lehernya. Baiknya ia telah cepat-cepat mengerahkan tenaga sakti ke arah leher sehingga tombak itu meleset, hanya melukai kulit leher. Saking marahnya Pujo mencengkeram dengan Aji Pethit Nogo, menangkap mata tombak dan sekali tangannya meremas, hancurlah tombak itu! Adipati Joyowiseso sampai terhuyung ke belakang dan hampir terjengkang. Pujo berteriak seperti harimau terluka, menubruk ke depan. Tetapi sebatang tombak menerima kedatangannya dengan tusukan ke arah perut. Lagi-lagi Roro Luhito yang melindungi ayahnya.
"Setan!!"
Pujo mendamprat, tangannya mencengkeram tombak dan sekali ia menarik ke samping, tubuh Roro Luhito terlempar dan roboh! Akan tetapi belasan orang penjaga sudah menghadang di depannya, memisahkannya dari Adipati Joyowiseso. Darah mengucur dari lehernya dan luka di leher terasa panas, tanda bahwa mata tombak itu biasa diberi ramuan yang beracun. Matanya agak berkunang, akan tetapi begitu ia menerjang maju, kembali dua orang penjaga roboh dan tewas. Amukan Pujo benar-benar hebat dan nggegirisi (menggiriskan).

Pada saat itu berkelebat sesosok bayangan hitam, gerakannya seperti burung terbang saja dan begitu tiba di dekat Pujo, ia mengirim pukulan dengan telapak tangan ke arah pelipis kanan. Pujo kaget karena hawa pukulan ini amat panas serta mendatangkan angin keras. Cepat ia memutar tubuh dan menangkis, akan tetapi tangan yang memukul itu ditarik kembali, diganti tendangan ke arah pusar! Hebat dan tangkas bukan main penyerang ini. Tadinya hati Pujo berdebar, mengira bahwa yang datang itu musuh lamanya yang dicari-cari, Wisangjiwo, akan tetapi ketika ia mengangkat muka memandang sambil meloncat mundur menghindarkan tendangan, ia menjadi kaget bukan main.
"Kakang Jokowanengpati.......! "
Tentu saja ia mengenal orang muda ganteng berpakaian hitam itu, mengenal murid uwa gurunya. Jokowanengpati adalah murid Empu Bharodo yang sakti.
"Hemm, siapapun yang mengacau harus ditawan!" berkata Jokowanengpati sambil menerjang maju lagi.
Pujo sudah menjadi pening dan lelah dan ia maklum bahwa murid Empu Bharodo ini adalah seorang yang amat pandai.
"Kakang Joko...... harap jangan turut campur!"
"Adipati adalah punggawa gusti prabu, mana bisa aku membiarkan beliau diganggu orang? Pujo, kau menyerahlah!"
"Menyerah? Kepada adipati ayah si laknat Wisangjiwo? Lebih baik mati!"
Sambil berkata demikian, Pujo membalik ke kanan, kerisnya bekerja dan seorang penjaga yang tertusuk keris menjerit dan roboh. Akan tetapi pada saat itu, Jokowanengpati telah menggunakan aji pukulan Siyung Warak (Taring Badak), tepat mengenai tengkuk Pujo yang mengeluarkan suara keluhan dan roboh terguling, pingsan dengan keris masih digenggam di tangan kanan!.

Tentu tubuh orang muda ini sudah hancur berkeping-keping dihujani senjata oleh para penjaga kalau saja Jokowanengpati tidak cepat-cepat mencegah.
"Tahan semua senjata! Dia harus ditawan dan diperiksa perkaranya!"
Sambil memegang ujung kainnya yang tadi terlepas kaitannya dengan tangan kiri dan menyeret tombak buntung dengan tangan kanan, Adipati Joyowiseso melangkah datang didampingi Roro Luhito yang dahinya lecet sedikit terlempar tadi.
"Benar! Jangan bunuh! Ambil tambang yang besar, ikat kaki tangannya!" teriaknya memerintah.
Sibuk para penjaga mencari tali besar terbuat daripada ijuk yang amat kuat dan membelenggu kaki tangan Pujo yang masih pingsan. Jokowanengpati mengambil keris dari tangan Pujo.
"Setan alas! Keparat jahanam! " Adipati Joyowiseso berjongkok memukuli muka dan kepala Pujo sehingga darah keluar dari hidung dan mulut orang muda itu.
Setelah lelah ia lalu bangkit berdiri dan menggunakan kedua kakinya menendangi muka dan tubuh Pujo berganti-ganti sampai napasnya terengah-engah mau putus saking lelahnya.
"Seret ia ke dalam tahanan! Jaga kuat-kuat jangan sampai ia terlepas. Juga jaga jangan sampai ia membunuh diri atau terbunuh sebelum kuperiksa!"
Setelah berkata demikian, Adipati Joyowiseso menggandeng tangan Jokowaneng-pati, menariknya ke dalam sambil berkata,:
"Untung ada anakmas yang hadir di sini. Genduk Luhito, kaulihat betapa hebat dan tangkasnya kangmasmu Raden Jokowanengpati merobohkan penjahat itu tadi!"
Akan tetapi Roro Luhito. seperti orang termenung. Di dalam hatinya bukan mengagumi sepak terjang Jokowanengpati, melainkan mengagumi sepak terjang Pujo! Kagum dan juga menyesal mengapa pemuda yang ganteng seperti Arjuno dan gagah perkasa seperti Gatutkoco itu memusuhi ayahnya sehingga tertangkap dan tentu akan dihukum mati!.

Para penjaga sibuk sekali. Ada yang menyeret tubuh Pujo yang masih pingsan dan lemas itu ke dalam tahanan sambil mengawalnya ketat sekali. Ada yang sibuk mengurus para mayat dan menolong yang terluka. Ada yang membersihkan darah dan membereskan tempat yang menjadi rusak oleh bekas-bekas pertempuran. Ketika Adipati Joyowiseso bersama Roro Luhito dan Jokowanengpati memasuki ruangan dalam, mereka disambut oleh isteri adipati bersama para selir. Selir yang semalam menyaksikan serbuan Pujo ke dalam kamar dan mukanya pucat sekali, menubruk puterinya, Luhito sambil menangis.

<<< Bagian 013                                                                                     Bagian 015 >>>

No comments:

Post a Comment