"Ada penjahat, hendak membunuhku. Itu dia lari ke sana. Kejar!"
Roro Luhito
tidaklah sehebat Wisangjiwo kepandaiannya, akan tetapi dibandingkan dengan para
penjaga, agaknya gadis ini masih lebih unggul karena ia mendapat gemblengan
sendiri dari ayahnya. Maka kini ia dapat berlari cepat di samping ayahnya dan
para pengejar ini sejenak tertegun ketika melihat bahwa orang yang mereka kejar
itu tidak terus lari, bahkan kini dengan muka beringas dan senyum mengejek
menanti kedatangan mereka dengan keris yang berlumur darah di tangan!
Seorang pemuda
yang amat tampan, akan tetapi yang tampak mengerikan karena pandang matanya
menyinarkan kehausan akan darah, sinar mata maut!. Akan tetapi yang merasa
paling kaget dan heran adalah Adipati Joyowiseso sendiri. Dia merasa seperti
pernah melihat pemuda ini, dan setelah ia mengingat-ingat, cambangnya yang
tebal tergetar saking marahnya. Dengan tombak ditudingkan ia membentak marah,
"Babo-babo,
keparat jahanaml Kiranya kau! Bukankah kau murid Resi Bhargowo dari Sungapan?
Mengapa kau datang dan menyerangku?"
"Adipati
Joyowiseso! Kau harus menebus dosa yang diperbuat oleh puteramu yang
biadab!"
Terbelalak
lebar mata adipati itu.
"Jahanam,
lancang mulutmu! Perbuatan apa yang dilakukan Wisangjiwo?"
"Tak usah
banyak cakap, siaplah kau untuk mampus!"
Setelah
berkata demikian, Pujo menubruk maju dan menyerang dengan kerisnya. Adipati itu
juga menggerakkan tombak untuk menangkis karena biarpun keris merupakan senjata
pendek, namun gerakan pemuda itu cepat sekali.
"Tranggg!"
Tombak itu
terpental dan kedua tangan Adipati Joyowiseso terasa kaku. Akan tetapi pada
saat itu terdengar bentakan nyaring dan Roro Luhito menyerang Pujo dengan
cundriknya yang ditusukkan ke arah lambung si orang muda dari samping. Tadinya
Roro Luhito terpesona karena sama sekali tidak menyangka bahwa
"penjahat" yang dikejar-kejar ayahnya adalah seorang pemuda yang
demikian ganteng dan wajahnya menimbulkan rasa iba dan suka di hatinya. Akan
tetapi mengingat bahwa pemuda ini sudah melukai ayahnya dan bahkan hendak
membunuh ayahnya, kemarahannya timbul dan ia segera menyerang.
Tangkisan
tombak tadi menggagalkan serangan Pujo, akan tetapi melihat adipati itu
terhuyung, ia hendak menambahi dengan serangan ke dua sebelum para penjaga sempat
mengurung, akan tetapi mendadak ia mendengar bentakan suara wanita dan disusul
sambaran angin serangan. Ia membalikkan tubuh dengan putaran tumitnya dan
melihat seorang gadis remaja menyerangnya, ia terheran-heran. Ia tidak pernah
tahu bahwa adipati itu mempunyai seorang anak perempuan. Betapapun juga, Pujo
adalah seorang ksatria, maka tidaklah tega hatinya untuk membunuh wanita,
biarpun ia melihat betapa gerakan wanita ini masih amat lemah dan lambat
sehingga sekali saja mendahului serangan, ia pasti akan dapat memukul roboh
gadis ini. Karena pikiran itulah maka ia lalu menyampok dengan tangan kirinya,
menggunakan jari telunjuknya menyentil kulit lengan yang putih halus.
"Aaauuuhhh!"
Roro Luhito menjerit, cundriknya terlepas dan ia memegangi lengan kanan yang
terasa copot sambungannya itu dengan tangan kiri sambil meloncat mundur.
Pada saat itu,
para penjaga sudah maju mengurung dan menggerakkan senjata yang datang bagaikan
hujan menyerang tubuh Pujo. Namun Pujo berseru garang, tubuhnya berkelebat di
antara mata tombak dan golok, lalu meloncat ke atas menubruk pengeroyok sebelah
kiri. Begitu tangan kirinya menyampok dan kerisnya berkelebat, empat orang
penjaga roboh tak dapat bangun kembali! Dua orang penjaga terdekat di kanan
kirinya mempergunakan kesempatan ini untuk menggerakkan tombak yang ditusukkan
dari kanan kiri. Pujo tidak tergesa-gesa. Begitu kedua tombak itu mendekat, ia
sudah menggigit kerisnya dan kini kedua tangannya menyambar tombak, dan sekali
kedua tangannya membuat gerakan menyendal dan menusuk, dua orang penjaga itu
roboh dengan perut tertembus tombak kawannya!.
Menyaksikan
kehebatan pemuda ini, para penjaga undur tiga langkah dengan gentar,
mengharapkan, datangnya kawan-kawan yang kini sudah tampak datang berlarian
dari luar gedung. Pujo tertawa bergelak,
"Ha-ha-ha-ha!
Adipati Joyowiseso, hayo inilah dada Pujo anak Sungapan! Kerahkan seluruh
anjing-anjing penjagamu, jangan maju seorang demi seorang, majulah berbareng!
Saat ini adalah saat kematianmu dan sebelum aku meninggalkan Kadipaten
Selopenangkep, kadipaten ini akan menjadi telaga darah!"
"Keparat
sombong! Hayo maju semua, tangkap keparat ini, hidup atau mati!" teriak
Adipati Joyowiseso yang sudah menerjang maju lagi dengan tombaknya.
Gerakan
adipati ini cukup tangkas, tenaganya besar sehingga Pujo tidak berani memandang
rendah, apalagi karena para penjaga yang berkumpul di situ lebih dari dua puluh
orang banyaknya. Ia mengelak dan melesat ke kiri ketika banyak senjata
menyambarnya, kemudian ia menggunakan kelincahan gerakan tubuhnya untuk melesat
ke kanan kiri sambil kadang-kadang menghantam seorang pengeroyok atau
menggunakan kerisnya mencari korban. Ramai suara para penjaga yang
mengepungnya, sama ramainya dengan pemburu-pemburu mengepung harimau.
Pertandingan yang amat tak sebanding ini berlangsung seru. Pujo mempergunakan
kepandaiannya, tangan kirinya yang mempergunakan Ilmu Pethit Nogo dan kerisnya
seakan-akan pesta pora dengan tubuh para pengeroyoknya. Belum sampai setengah
jam lamanya, di pekarangan belakang gedung kadipaten itu sudah bergelimpangan
tubuh sembilan orang penjaga, ada yang sudah tewas, ada yang masih berkelojotan
dan ada yang merintih-rintih. Akan tetapi Pujo tidak berhasil mendekati Adipati
Joyowiseso yang selain dijaga oleh para pengawalnya, juga dijaga oleh Roro
Luhito yang kini mainkan sebatang tombak juga! Adipati itu sendiri tidak
tinggal diam, ia selalu mencari kesempatan selagi pemuda itu sibuk melayani
pengeroyokan untuk menggunakan tombaknya menusuk.
Matahari pagi
mulai muncul menyinari permukaan bumi dengan cahayanya yang kemerahan, semerah
darah yang berceceran membasahi bumi pekarangan belakang Kadipaten
Selopenangkep. Keadaan di situ makin gaduh oleh suara mereka yang mengepung
Pujo. Diam-diam Pujo mulai merasa kuatir. Kalau semua penduduk sudah bangun dan
bala bantuan datang makin banyak, sukarlah baginya untuk melarikan diri. Akan
tetapi, para penjaga itu tak pernah mau melepaskannya lagi dan sebegitu lama
belum juga ia berhasil membunuh ayah Wisangjiwo. Ia kecewa. Kalau Wisangjiwo
sendiri tidak berada di situ dan ia tidak berhasil membunuh Adipati Joyowiseso,
bukankah sia-sia belaka usahanya? Apalagi kalau ia sampai tertawan dan
terbunuh! Apa artinya sekian banyak penjaga yang terbunuh olehnya? Nyawa
ratusan penjagapun tidak ada artinya bagi pembalasan dendamnya terhadap
Wisangjiwo!. Kekecewaan ini membuat kemarahan Pujo meluap dan berteriak
menyeramkan, lalu tubuhnya berkelebat seperti burung srikatan mengejar
belalang. Hebat bukan main amukannya, karena ini menggunakan pukulan Gelap
Musti sehingga tiap orang yang terkena pukulan geledeknya tentu roboh dengan
kepala atau dada pecah! juga Ilmu Bayutantra membuat gerakannya seperti angin
puyuh!. Akan tetapi kenekatannya ini menimbulkan pula ketidak hati-hatiannya.
Tusukan tombak Adipati Joyowiseso yang tentu saja lebih berbahaya daripada
tusukan para pengeroyok, secepat kilat menyambar ke arah ulu hati Pujo yang
ketika itu sibuk mempergunakan kedua tangannya. Pujo terkejut dan cepat
tangannya menyampok dari bawah. Mata tombak tersampok ke atas, meleset malah
menyambar ke arah tenggorokannya. Pujo cepat miringkan kepala, akan tetapi
tetap saja mata tombak itu menghunjam ke arah lehernya. Baiknya ia telah
cepat-cepat mengerahkan tenaga sakti ke arah leher sehingga tombak itu meleset,
hanya melukai kulit leher. Saking marahnya Pujo mencengkeram dengan Aji Pethit
Nogo, menangkap mata tombak dan sekali tangannya meremas, hancurlah tombak itu!
Adipati Joyowiseso sampai terhuyung ke belakang dan hampir terjengkang. Pujo
berteriak seperti harimau terluka, menubruk ke depan. Tetapi sebatang tombak
menerima kedatangannya dengan tusukan ke arah perut. Lagi-lagi Roro Luhito yang
melindungi ayahnya.
"Setan!!"
Pujo
mendamprat, tangannya mencengkeram tombak dan sekali ia menarik ke samping,
tubuh Roro Luhito terlempar dan roboh! Akan tetapi belasan orang penjaga sudah
menghadang di depannya, memisahkannya dari Adipati Joyowiseso. Darah mengucur
dari lehernya dan luka di leher terasa panas, tanda bahwa mata tombak itu biasa
diberi ramuan yang beracun. Matanya agak berkunang, akan tetapi begitu ia
menerjang maju, kembali dua orang penjaga roboh dan tewas. Amukan Pujo
benar-benar hebat dan nggegirisi (menggiriskan).
Pada saat itu
berkelebat sesosok bayangan hitam, gerakannya seperti burung terbang saja dan
begitu tiba di dekat Pujo, ia mengirim pukulan dengan telapak tangan ke arah
pelipis kanan. Pujo kaget karena hawa pukulan ini amat panas serta mendatangkan
angin keras. Cepat ia memutar tubuh dan menangkis, akan tetapi tangan yang
memukul itu ditarik kembali, diganti tendangan ke arah pusar! Hebat dan tangkas
bukan main penyerang ini. Tadinya hati Pujo berdebar, mengira bahwa yang datang
itu musuh lamanya yang dicari-cari, Wisangjiwo, akan tetapi ketika ia
mengangkat muka memandang sambil meloncat mundur menghindarkan tendangan, ia
menjadi kaget bukan main.
"Kakang
Jokowanengpati.......! "
Tentu saja ia
mengenal orang muda ganteng berpakaian hitam itu, mengenal murid uwa gurunya.
Jokowanengpati adalah murid Empu Bharodo yang sakti.
"Hemm,
siapapun yang mengacau harus ditawan!" berkata Jokowanengpati sambil
menerjang maju lagi.
Pujo sudah
menjadi pening dan lelah dan ia maklum bahwa murid Empu Bharodo ini adalah
seorang yang amat pandai.
"Kakang
Joko...... harap jangan turut campur!"
"Adipati
adalah punggawa gusti prabu, mana bisa aku membiarkan beliau diganggu orang?
Pujo, kau menyerahlah!"
"Menyerah?
Kepada adipati ayah si laknat Wisangjiwo? Lebih baik mati!"
Sambil berkata
demikian, Pujo membalik ke kanan, kerisnya bekerja dan seorang penjaga yang
tertusuk keris menjerit dan roboh. Akan tetapi pada saat itu, Jokowanengpati
telah menggunakan aji pukulan Siyung Warak (Taring Badak), tepat mengenai
tengkuk Pujo yang mengeluarkan suara keluhan dan roboh terguling, pingsan
dengan keris masih digenggam di tangan kanan!.
Tentu tubuh orang
muda ini sudah hancur berkeping-keping dihujani senjata oleh para penjaga kalau
saja Jokowanengpati tidak cepat-cepat mencegah.
"Tahan
semua senjata! Dia harus ditawan dan diperiksa perkaranya!"
Sambil
memegang ujung kainnya yang tadi terlepas kaitannya dengan tangan kiri dan
menyeret tombak buntung dengan tangan kanan, Adipati Joyowiseso melangkah
datang didampingi Roro Luhito yang dahinya lecet sedikit terlempar tadi.
"Benar!
Jangan bunuh! Ambil tambang yang besar, ikat kaki tangannya!" teriaknya memerintah.
Sibuk para
penjaga mencari tali besar terbuat daripada ijuk yang amat kuat dan membelenggu
kaki tangan Pujo yang masih pingsan. Jokowanengpati mengambil keris dari tangan
Pujo.
"Setan
alas! Keparat jahanam! " Adipati Joyowiseso berjongkok memukuli muka dan
kepala Pujo sehingga darah keluar dari hidung dan mulut orang muda itu.
Setelah lelah
ia lalu bangkit berdiri dan menggunakan kedua kakinya menendangi muka dan tubuh
Pujo berganti-ganti sampai napasnya terengah-engah mau putus saking lelahnya.
"Seret ia
ke dalam tahanan! Jaga kuat-kuat jangan sampai ia terlepas. Juga jaga jangan
sampai ia membunuh diri atau terbunuh sebelum kuperiksa!"
Setelah
berkata demikian, Adipati Joyowiseso menggandeng tangan Jokowaneng-pati,
menariknya ke dalam sambil berkata,:
"Untung
ada anakmas yang hadir di sini. Genduk Luhito, kaulihat betapa hebat dan
tangkasnya kangmasmu Raden Jokowanengpati merobohkan penjahat itu tadi!"
Akan tetapi
Roro Luhito. seperti orang termenung. Di dalam hatinya bukan mengagumi sepak
terjang Jokowanengpati, melainkan mengagumi sepak terjang Pujo! Kagum dan juga
menyesal mengapa pemuda yang ganteng seperti Arjuno dan gagah perkasa seperti
Gatutkoco itu memusuhi ayahnya sehingga tertangkap dan tentu akan dihukum
mati!.
Para penjaga
sibuk sekali. Ada yang menyeret tubuh Pujo yang masih pingsan dan lemas itu ke
dalam tahanan sambil mengawalnya ketat sekali. Ada yang sibuk mengurus para
mayat dan menolong yang terluka. Ada yang membersihkan darah dan membereskan
tempat yang menjadi rusak oleh bekas-bekas pertempuran. Ketika Adipati
Joyowiseso bersama Roro Luhito dan Jokowanengpati memasuki ruangan dalam,
mereka disambut oleh isteri adipati bersama para selir. Selir yang semalam
menyaksikan serbuan Pujo ke dalam kamar dan mukanya pucat sekali, menubruk
puterinya, Luhito sambil menangis.
No comments:
Post a Comment