"Cah ayu (anak manis), kau ajak ibumu ke kamar dan beri hiburan. Dia mengalami kaget semalam," kata Adipati Joyowiseso kepada Roro Luhito.
Gadis itu
merangkul ibunya dan mengajaknya masuk, tidak peduli atau agaknya tidak melihat
betapa Jokowanengpati melirik ke arahnya dengan mata penuh gairah. Isteri
adipati segera memanggil pelayan untuk minta datang dukun pengobatan. Tak lama
kemudian datanglah kakek berambut putih yang berjari cekatan, mencuci dan
mengobati luka di pundak Adipati Joyowiseso. Setelah berganti pakaian, adipati
ini mengajak Jokowanengpati duduk di ruangan dalam, menyuguhkan kopi dan
penganan.
"Anakmas,
saya mendengar tadi anak-mas agaknya kenal dengan penjahat itu. Dia itu bernama
Pujo, murid Resi Bhargowo. Apakah benar anakmas mengenalnya?"
Jokowanengpati
mengangguk.
"Tentu
saja saya mengenalnya, paman adipati. Dia adalah murid dan juga mantu paman
Resi Bhargowo, sedangkan paman resi adalah adik seperguruan bapa Empu
Bharodo."
"Ohhh.......?"
Adipati Joyowiseso benar-benar kaget mendengar ini.
"Harap
paman adipati bertenang hati. Biarpun masih ada hubungan perguruan, namun
hubungan antara saya dan mereka guru dan murid tidaklah dapat dikatakan baik.
Apalagi setelah jelas bahwa Pujo berkhianat dan mempunyai niat buruk terhadap
paman adipati, betapapun juga saya tidak akan membelanya."
"Bagus!
Tentu saja pribadi anakmas mana dapat disamakan dengan segala macam pengecut
seperti Pujo dan gurunya? He, pengawal! Tengok si keparat itu, kalau sudah
siuman dari pingsannya, seret dia ke ruangan belakang, hendak kuperiksa!"
Si pengawal
menyatakan baik, memberi hormat lalu mundur.
"Maaf,
paman adipati. Sungguhpun saya sama sekali tidak akan membela Pujo yang
melakukan tindak khianat, akan tetapi sebaiknya saya tidak hadir dalam
pemeriksaan atas dirinya, tidak hadir secara terang-terangan melainkan saya
akan mengintai dari balik jendela saja. Perkenankan saya mundur."
"Ah, saya
maklum, anakmas. Baiklah. Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan anakmas,
dan sekali lagi saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada anakmas."
Jokowanengpati
lalu mengundurkan diri pula. Sebenarnya, pemuda ini merasa gentar juga kalau
harus menyaksikan pemeriksaan itu, bukan gentar terhadap orang lain, melainkan
terhadap bayangannya sendiri. Sukar diduga isi hati seorang murid Resi
Bhargowo, pikirnya. Ia masih belum yakin benar apakah Pujo masih belum tahu
akan perbuatannya di Guha Siluman, ataukah pura-pura tidak tahu, kemudian akan
membuka rahasia ini di depan adipati? Orang yang melakukan perbuatan jahat
tentu selalu akan merasa tertekan dan tidak tenteram hatinya, selalu diganggu
bayangan-bayangan sendiri yang bermunculan. Oleh karena inilah agaknya
Jokowanengpati mengajukan alasan itu.
Tak lama
kemudian, setelah disiram beberapa ember air dingin, Pujo sadar daripada
pingsannya. Kepalanya masih terasa pening dan pangkal lengannya kaku sakit.
Akan tetapi begitu ia sadar, ia telah diseret-seret kembali dalam keadaan
terikat kaki tangannya, dibawa ke ruangan belakang di mana telah menunggu Adipati
Joyowiseso, lengkap dengan para pembantunya, para penyiksa dan algojo yang
kesemuanya berpakaian dinas.
"Berlutut
kau!!"
Empat orang
penjaga yang menggusur Pujo, secara kasar memaksa Pujo berlutut di atas lantai
menghadap sang adipati yang duduk dengan muka masam. Pujo tidak melawan mereka,
karena dalam keadaan terbelenggu dan terluka, ia maklum bahwa melawanpun tidak
ada gunanya. Maka ia duduk berlutut akan tetapi mukanya diangkat dan pandang
matanya menentang adipati itu dengan penuh keberanian dan kemarahan. Atas
sikapnya ini, seorang penjaga menampar kepalanya dari belakang, namun Pujo
tidak bergeming, tetap saja mukanya dihadapkan kepada adipati penuh tantangan.
"Heh
keparat Pujo! Kau sudah tertangkap dan tidak berdaya, masih saja memperlihatkan
sikap kepala batu? Apakah kau tidak merasa betapa besar dosamu? Apakah kau
tidak menyesal telah membunuh dan melukai banyak pengawal kadipaten?"
Pujo
menggerakkan bibir mengejek,
"Huh!
Menyesal? Aku hanya menyesal mengapa aku tidak sempat membunuhmu sebagai
gantinya anakmu si bedebah Wisangjiwo!"
"Plak-plak-desss....!!"
Kemplangan dan
hantaman dari para penjaga di belakangnya membuat Pujo yang kaki tangannya
terbelenggu itu jatuh terjerembab ke depan, akan tetapi gentakan-gentakan keras
para penjaga mendudukkannya kembali.
"Ha-ha-ha-ha!
Pujo, agaknya kau telah menjadi gila! Sebelum kau kujatuhi hukuman yang
setimpal dengan kejahatanmu, lebih dulu kau mengakulah apa sebabnya kau
melakukan perbuatan semalam dan apa sebabnya kau mencaci-maki puteraku."
"Joyowiseso!
Aku hendak menumpas keluargamu untuk menebus dosa si Wisangjiwo.".
"Dosa
apa?"
"Tak
perlu kau tahu!"
Marahlah sang
adipati. Ia melompat dari kursinya dan meringis karena pundaknya yang terluka
terasa nyeri. Hal ini mengingatkan dia bahwa pundaknya terluka keris,
mengingatkan dia betapa semalam hampir saja ia terbunuh oleh Pujo yang kini
terbelenggu tak berdaya di depan kakinya.
"Jahanam.
Kau masih sombong, ya? Hendak kulihat apakah kau masih tidak mau mengaku? Hajar
dia! Rangket dengan seratus kali cambukan, telanjangi punggungnya kemudian
jemur di tengah alun-alun sampai dia mengaku!" teriak adipati penuh
kemarahan.
Pujo
mendengarkan perintah ini dengan mata melotot dan mulut tersenyum mengejek,
sedikit-pun tidak memperlihatkan muka gentar. Tubuhnya lalu diseret ke sudut,
diikat pada tiang, punggungnya ditelanjangi dan tak lama kemudian terdengarlah
suara cambuk melecut-lecut menghantam punggung, merobek-robek kulit punggung
Pujo sampai lumat, membuat darah segar yang keluar menjadi kental dan kering
kembali. Biarpun tubuh Pujo telah terlatih dan ia memiliki kekebalan, namun
karena ia terluka, tak dapat ia mengerahkan terus kekuatannya dan akhirnya ia
harus menyerah. Setelah seratus kali cambukan, ia terkulai. Namun, sedikitpun
keluhan tidak pernah keluar dari mulutnya.
"Jahanam,
kau masih tidak hendak mengaku?"
Pujo hanya
mengedikkan kepala dan memandang adipati sambil melotot dan berkata,
"Kau
tidak perlu tahu. Pendeknya, Wisangjiwo akan mampus di tanganku, bersama
keluarganya!"
"Ha-ha-ha-ha,
sudah hampir mampus masih banyak tingkah!" Adipati Joyowiseso makin panas
hatinya.
"Seret
dia ke alun-alun, jemur dia. Kalau mau mengaku boleh bawa menghadap, kalau
tidak mau, sore nanti jalankan hukum perapat kepadanya!"
Pujo hanya
tersenyum mengejek dan ia masih melotot kepada adipati ketika tubuhnya kembali
diseret keluar untuk dijemur di tengah alun-alun. Ia tahu apa artinya hukum
perapat. Hukuman mati yang mengerikan. Diperapat berarti dibagi menjadi empat.
Tubuhnya akan dirobek menjadi empat potong oleh tarikan empat ekor kuda pada
kedua kaki dan kedua tangannya, ditarik ke empat jurusan sampai pecah menjadi
empat potong!.
Matahari telah
tenggelam jauh di barat, namun cahayanya masih membayang dan membentuk senja
yang cerah. Alun-alun Kadipaten Selopenangkep penuh orang, hampir semua
laki-laki, tidak tampak wanita dan anak-anak. Memang, tontonan yang menarik
perhatian hampir seluruh penduduk Selopenangkep, bahkan dari dusun-dusun di
sekitarnya, adalah tontonan yang mengerikan sehingga anak-anak dilarang orang
tuanya menonton dan wanita-wanita takut menyaksikannya. Bayangkan saja. Hukum
perapat!. Siapa dapat menahan kengerian melihat tubuh seorang hidup-hidup
dirobek menjadi empat? Darah akan menyembur-nyembur, isi perut akan berantakan,
daging merah akan bertelanjang di depan mata!
Ribuan orang
telah memenuhi alun-alun, mengelilingi tengah-tengah alun-alun yang menjadi
pusat perhatian, dalam jarak seratus meter. Di tengah-tengah alun-alun itu
terdapat sebuah bangunan panggung, tempat yang disediakan khusus bagi keluarga
kadipaten untuk menonton setiap pertunjukan yang diadakan di alun-alun.
Kadang-kadang alun-alun ini bias diubah menjadi tempat latihan kuda, tempat adu
banteng, mengurung harimau, atau dipakai ujian ketangkasan para perajurit. Pada
senja hari itu, alun-alun diubah menjadi tempat pelaksanaan hukuman bagi Pujo,
hukuman perapat! Tak seorangpun berani menghalangi perintah Adipati Joyowiseso
untuk melaksanakan hukuman terberat ini. Semua orang maklum bahwa memang
sepatutnya pemuda pesisir Laut Selatan itu menerima hukuman berat. Pemuda itu
telah menyerang kadipaten, melukai bahkan hampir membunuh sang adipati sendiri,
membunuh dan melukai belasan orang pengawal, dan di samping itu berani
mengeluarkan kata-kata kasar dan sikap menantang kurang ajar terhadap Adipati
Joyowiseso. Dosanya terlalu besar dan terlalu banyak. Sejak pagi tadi Pujo
dijemur di bawah terik matahari yang menggerogoti kulit. Hebat penderitaan ini,
apalagi bagian punggungnya yang hancur bekas cambukan, amat perih dan nyeri
disengat sinar matahari. Namun, pemuda ini tetap tak pernah mengeluh dan atas
pertanyaan-pertanyaan para petugas yang mendesak, ia sama sekali tidak mau
menjawab. Oleh karena ia sama sekali tidak mau mengaku mengapa ia memusuhi
Wisangjiwo, maka akhirnya Adipati Joyowiseso tak dapat menahan amarahnya dan
menjatuhkan hukuman perapat kepadanya. Dalam keadaan terikat kaki tangannya,
Pujo diseret ke tengah alun-alun, ditelentangkan dan dijadikan tontonan orang
seperti orang menonton seekor harimau yang tertangkap. Empat ekor kuda yang
besar-besar telah dipersiapkan. Inilah empat ekor kuda yang bertugas merobek
tubuh Pujo menjadi empat potong!.
Para penduduk
Selopenangkep yang memenuhi alun-alun itu semua mempercakapkan Pujo. Ada yang
menyatakan sayang dan iba hati terhadap pemuda tampan itu, apalagi ketika
mereka mendengar bahwa pemuda itu putera mantu Resi Bhargowo di Sungapan. Akan
tetapi banyak pula yang mencaci-maki karena menganggap bahwa pemuda ini seorang
penjahat besar yang mencoba melakukan pembunuhan terhadap adipati, maka sudah
sepatutnya menerima hukuman paling berat. Ada semacam hukuman yang juga hebat
sekali, yaitu hukum picis. Penjahat yang dijatuhi hukum picis, dibelenggu di
alun-alun atau di depan pasar, kemudian orang-orang yang lewat di depannya,
diperbolehkan mengerat kulitnya dengan sebuah pisau tajam runcing yang sudah
disediakan di tempat itu!. Kalau dia memang seorang penjahat besar, tentu sudah
banyat ia menyakiti hati orang, banyak orang membencinya, maka itulah saatnya
bagi orang-orang yang bersakit hati untuk melampiaskan dendamnya. Tubuh
penjahat itu sebentar saja sudah dikerat-kerat kulitnya, berlumur darah. Bahkan
diperbolehkan menggosokkan garam atau asam pada luka-luka di kulit bekas
keratan untuk menambah siksaan. Tak sampai sehari, orang yang dihukum picis
akan mati kehabisan darah yang mengalir di sepanjang tubuhnya yang tercacah
itu. Akan tetapi, dibandingkan dengan hukum perapat, hukum picis tidaklah
terlalu mengerikan. Hukum perapat ini benar-benar amat mengerikan.
Menyaksikan
betapa tubuh yang utuh itu dirobek tarikan empat ekor kuda yang kuat,
benar-benar dapat membuat orang yang menonton menjadi pingsan!. Kini Adipati
Joyowiseso sudah berada di panggung, bersama para pengawalnya. Semua penonton
menjadi kagum sekali menyaksikan betapa Roro Luhito yang cantik dan denok itu
ikut pula hadir di samping ayahnya! Benar-benar seorang gadis yang luar biasa,
pikir mereka.
Tentu saja
semua penduduk maklum belaka bahwa puteri adipati ini adalah seorang gadis
gemblengan, pandai menunggang kuda, memanah dan mainkan keris atau lembing,
tidak kalah oleh perwira-perwira biasa saja. Akan tetapi, melihat gadis itu
hadir pula dalam pelaksanaan hukum perapat, benar-benar membuktikan ketabahan
hatinya yang luar biasa. Biarpun wajah gadis itu agak pucat dan ia kelihatan
pendiam tidak lincah kenes seperti biasa, namun dia tampak tenang-tenang saja,
matanya memandang ke arah tubuh si terhukum yang terlentang di atas tanah,
hanya belasan meter jauhnya dari atas panggung.
Dari tempat
sedekat itu, tentu akan terdengar suaranya jika tubuh itu tersayat menjadi
empat oleh tarikan kuda. Tentu akan tampak jelas isi perut yang berhamburan,
jantung yang masih hidup bergerak berloncatan di atas tanah! Puteri ini duduk
di samping kiri Adipati Joyowiseso, sedangkan di sebelah kanannya duduk seorang
pemuda ganteng berpakaian serba hitam, destarnya kehijauan, bibirnya selalu
tersenyum dan sikapnya tenang. Inilah Jokowanengpati dan para penonton
memandang kepadanya dengan kagum.
Berita bahwa
pemuda perkasa yang menjadi tamu adipati inilah yang merobohkan si penjahat,
telah tersiar luas. Karena angkasa raya masih terang cemerlang oleh sinar
senja, Pujo yang terlentang tidak mau membuka matanya karena silau. Ia meramkan
matanya dan berada dalam keadaan samadhi. ia tidak menyesal akan nasib yang
menimpanya, hanya menyesal mengapa belum berhasil membalas dendam. Teringat
akan pengalamannya semalam, ia sadar bahwa ia telah berlaku kurang hati-hati,
terlalu menurutkan nafsu dendamnya.
No comments:
Post a Comment