Badai Laut Selatan ; Bagian 015


"Cah ayu (anak manis), kau ajak ibumu ke kamar dan beri hiburan. Dia mengalami kaget semalam," kata Adipati Joyowiseso kepada Roro Luhito.
Gadis itu merangkul ibunya dan mengajaknya masuk, tidak peduli atau agaknya tidak melihat betapa Jokowanengpati melirik ke arahnya dengan mata penuh gairah. Isteri adipati segera memanggil pelayan untuk minta datang dukun pengobatan. Tak lama kemudian datanglah kakek berambut putih yang berjari cekatan, mencuci dan mengobati luka di pundak Adipati Joyowiseso. Setelah berganti pakaian, adipati ini mengajak Jokowanengpati duduk di ruangan dalam, menyuguhkan kopi dan penganan.
"Anakmas, saya mendengar tadi anak-mas agaknya kenal dengan penjahat itu. Dia itu bernama Pujo, murid Resi Bhargowo. Apakah benar anakmas mengenalnya?"
Jokowanengpati mengangguk.
"Tentu saja saya mengenalnya, paman adipati. Dia adalah murid dan juga mantu paman Resi Bhargowo, sedangkan paman resi adalah adik seperguruan bapa Empu Bharodo."
"Ohhh.......?" Adipati Joyowiseso benar-benar kaget mendengar ini.
"Harap paman adipati bertenang hati. Biarpun masih ada hubungan perguruan, namun hubungan antara saya dan mereka guru dan murid tidaklah dapat dikatakan baik. Apalagi setelah jelas bahwa Pujo berkhianat dan mempunyai niat buruk terhadap paman adipati, betapapun juga saya tidak akan membelanya."
"Bagus! Tentu saja pribadi anakmas mana dapat disamakan dengan segala macam pengecut seperti Pujo dan gurunya? He, pengawal! Tengok si keparat itu, kalau sudah siuman dari pingsannya, seret dia ke ruangan belakang, hendak kuperiksa!"

Si pengawal menyatakan baik, memberi hormat lalu mundur.
"Maaf, paman adipati. Sungguhpun saya sama sekali tidak akan membela Pujo yang melakukan tindak khianat, akan tetapi sebaiknya saya tidak hadir dalam pemeriksaan atas dirinya, tidak hadir secara terang-terangan melainkan saya akan mengintai dari balik jendela saja. Perkenankan saya mundur."
"Ah, saya maklum, anakmas. Baiklah. Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan anakmas, dan sekali lagi saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada anakmas."
Jokowanengpati lalu mengundurkan diri pula. Sebenarnya, pemuda ini merasa gentar juga kalau harus menyaksikan pemeriksaan itu, bukan gentar terhadap orang lain, melainkan terhadap bayangannya sendiri. Sukar diduga isi hati seorang murid Resi Bhargowo, pikirnya. Ia masih belum yakin benar apakah Pujo masih belum tahu akan perbuatannya di Guha Siluman, ataukah pura-pura tidak tahu, kemudian akan membuka rahasia ini di depan adipati? Orang yang melakukan perbuatan jahat tentu selalu akan merasa tertekan dan tidak tenteram hatinya, selalu diganggu bayangan-bayangan sendiri yang bermunculan. Oleh karena inilah agaknya Jokowanengpati mengajukan alasan itu.
Tak lama kemudian, setelah disiram beberapa ember air dingin, Pujo sadar daripada pingsannya. Kepalanya masih terasa pening dan pangkal lengannya kaku sakit. Akan tetapi begitu ia sadar, ia telah diseret-seret kembali dalam keadaan terikat kaki tangannya, dibawa ke ruangan belakang di mana telah menunggu Adipati Joyowiseso, lengkap dengan para pembantunya, para penyiksa dan algojo yang kesemuanya berpakaian dinas.
"Berlutut kau!!"
Empat orang penjaga yang menggusur Pujo, secara kasar memaksa Pujo berlutut di atas lantai menghadap sang adipati yang duduk dengan muka masam. Pujo tidak melawan mereka, karena dalam keadaan terbelenggu dan terluka, ia maklum bahwa melawanpun tidak ada gunanya. Maka ia duduk berlutut akan tetapi mukanya diangkat dan pandang matanya menentang adipati itu dengan penuh keberanian dan kemarahan. Atas sikapnya ini, seorang penjaga menampar kepalanya dari belakang, namun Pujo tidak bergeming, tetap saja mukanya dihadapkan kepada adipati penuh tantangan.
"Heh keparat Pujo! Kau sudah tertangkap dan tidak berdaya, masih saja memperlihatkan sikap kepala batu? Apakah kau tidak merasa betapa besar dosamu? Apakah kau tidak menyesal telah membunuh dan melukai banyak pengawal kadipaten?"
Pujo menggerakkan bibir mengejek,
"Huh! Menyesal? Aku hanya menyesal mengapa aku tidak sempat membunuhmu sebagai gantinya anakmu si bedebah Wisangjiwo!"
"Plak-plak-desss....!!"
Kemplangan dan hantaman dari para penjaga di belakangnya membuat Pujo yang kaki tangannya terbelenggu itu jatuh terjerembab ke depan, akan tetapi gentakan-gentakan keras para penjaga mendudukkannya kembali.
"Ha-ha-ha-ha! Pujo, agaknya kau telah menjadi gila! Sebelum kau kujatuhi hukuman yang setimpal dengan kejahatanmu, lebih dulu kau mengakulah apa sebabnya kau melakukan perbuatan semalam dan apa sebabnya kau mencaci-maki puteraku."
"Joyowiseso! Aku hendak menumpas keluargamu untuk menebus dosa si Wisangjiwo.".
"Dosa apa?"
"Tak perlu kau tahu!"

Marahlah sang adipati. Ia melompat dari kursinya dan meringis karena pundaknya yang terluka terasa nyeri. Hal ini mengingatkan dia bahwa pundaknya terluka keris, mengingatkan dia betapa semalam hampir saja ia terbunuh oleh Pujo yang kini terbelenggu tak berdaya di depan kakinya.
"Jahanam. Kau masih sombong, ya? Hendak kulihat apakah kau masih tidak mau mengaku? Hajar dia! Rangket dengan seratus kali cambukan, telanjangi punggungnya kemudian jemur di tengah alun-alun sampai dia mengaku!" teriak adipati penuh kemarahan.
Pujo mendengarkan perintah ini dengan mata melotot dan mulut tersenyum mengejek, sedikit-pun tidak memperlihatkan muka gentar. Tubuhnya lalu diseret ke sudut, diikat pada tiang, punggungnya ditelanjangi dan tak lama kemudian terdengarlah suara cambuk melecut-lecut menghantam punggung, merobek-robek kulit punggung Pujo sampai lumat, membuat darah segar yang keluar menjadi kental dan kering kembali. Biarpun tubuh Pujo telah terlatih dan ia memiliki kekebalan, namun karena ia terluka, tak dapat ia mengerahkan terus kekuatannya dan akhirnya ia harus menyerah. Setelah seratus kali cambukan, ia terkulai. Namun, sedikitpun keluhan tidak pernah keluar dari mulutnya.
"Jahanam, kau masih tidak hendak mengaku?"
Pujo hanya mengedikkan kepala dan memandang adipati sambil melotot dan berkata,
"Kau tidak perlu tahu. Pendeknya, Wisangjiwo akan mampus di tanganku, bersama keluarganya!"
"Ha-ha-ha-ha, sudah hampir mampus masih banyak tingkah!" Adipati Joyowiseso makin panas hatinya.
"Seret dia ke alun-alun, jemur dia. Kalau mau mengaku boleh bawa menghadap, kalau tidak mau, sore nanti jalankan hukum perapat kepadanya!"
Pujo hanya tersenyum mengejek dan ia masih melotot kepada adipati ketika tubuhnya kembali diseret keluar untuk dijemur di tengah alun-alun. Ia tahu apa artinya hukum perapat. Hukuman mati yang mengerikan. Diperapat berarti dibagi menjadi empat. Tubuhnya akan dirobek menjadi empat potong oleh tarikan empat ekor kuda pada kedua kaki dan kedua tangannya, ditarik ke empat jurusan sampai pecah menjadi empat potong!.

Matahari telah tenggelam jauh di barat, namun cahayanya masih membayang dan membentuk senja yang cerah. Alun-alun Kadipaten Selopenangkep penuh orang, hampir semua laki-laki, tidak tampak wanita dan anak-anak. Memang, tontonan yang menarik perhatian hampir seluruh penduduk Selopenangkep, bahkan dari dusun-dusun di sekitarnya, adalah tontonan yang mengerikan sehingga anak-anak dilarang orang tuanya menonton dan wanita-wanita takut menyaksikannya. Bayangkan saja. Hukum perapat!. Siapa dapat menahan kengerian melihat tubuh seorang hidup-hidup dirobek menjadi empat? Darah akan menyembur-nyembur, isi perut akan berantakan, daging merah akan bertelanjang di depan mata!

Ribuan orang telah memenuhi alun-alun, mengelilingi tengah-tengah alun-alun yang menjadi pusat perhatian, dalam jarak seratus meter. Di tengah-tengah alun-alun itu terdapat sebuah bangunan panggung, tempat yang disediakan khusus bagi keluarga kadipaten untuk menonton setiap pertunjukan yang diadakan di alun-alun. Kadang-kadang alun-alun ini bias diubah menjadi tempat latihan kuda, tempat adu banteng, mengurung harimau, atau dipakai ujian ketangkasan para perajurit. Pada senja hari itu, alun-alun diubah menjadi tempat pelaksanaan hukuman bagi Pujo, hukuman perapat! Tak seorangpun berani menghalangi perintah Adipati Joyowiseso untuk melaksanakan hukuman terberat ini. Semua orang maklum bahwa memang sepatutnya pemuda pesisir Laut Selatan itu menerima hukuman berat. Pemuda itu telah menyerang kadipaten, melukai bahkan hampir membunuh sang adipati sendiri, membunuh dan melukai belasan orang pengawal, dan di samping itu berani mengeluarkan kata-kata kasar dan sikap menantang kurang ajar terhadap Adipati Joyowiseso. Dosanya terlalu besar dan terlalu banyak. Sejak pagi tadi Pujo dijemur di bawah terik matahari yang menggerogoti kulit. Hebat penderitaan ini, apalagi bagian punggungnya yang hancur bekas cambukan, amat perih dan nyeri disengat sinar matahari. Namun, pemuda ini tetap tak pernah mengeluh dan atas pertanyaan-pertanyaan para petugas yang mendesak, ia sama sekali tidak mau menjawab. Oleh karena ia sama sekali tidak mau mengaku mengapa ia memusuhi Wisangjiwo, maka akhirnya Adipati Joyowiseso tak dapat menahan amarahnya dan menjatuhkan hukuman perapat kepadanya. Dalam keadaan terikat kaki tangannya, Pujo diseret ke tengah alun-alun, ditelentangkan dan dijadikan tontonan orang seperti orang menonton seekor harimau yang tertangkap. Empat ekor kuda yang besar-besar telah dipersiapkan. Inilah empat ekor kuda yang bertugas merobek tubuh Pujo menjadi empat potong!.
Para penduduk Selopenangkep yang memenuhi alun-alun itu semua mempercakapkan Pujo. Ada yang menyatakan sayang dan iba hati terhadap pemuda tampan itu, apalagi ketika mereka mendengar bahwa pemuda itu putera mantu Resi Bhargowo di Sungapan. Akan tetapi banyak pula yang mencaci-maki karena menganggap bahwa pemuda ini seorang penjahat besar yang mencoba melakukan pembunuhan terhadap adipati, maka sudah sepatutnya menerima hukuman paling berat. Ada semacam hukuman yang juga hebat sekali, yaitu hukum picis. Penjahat yang dijatuhi hukum picis, dibelenggu di alun-alun atau di depan pasar, kemudian orang-orang yang lewat di depannya, diperbolehkan mengerat kulitnya dengan sebuah pisau tajam runcing yang sudah disediakan di tempat itu!. Kalau dia memang seorang penjahat besar, tentu sudah banyat ia menyakiti hati orang, banyak orang membencinya, maka itulah saatnya bagi orang-orang yang bersakit hati untuk melampiaskan dendamnya. Tubuh penjahat itu sebentar saja sudah dikerat-kerat kulitnya, berlumur darah. Bahkan diperbolehkan menggosokkan garam atau asam pada luka-luka di kulit bekas keratan untuk menambah siksaan. Tak sampai sehari, orang yang dihukum picis akan mati kehabisan darah yang mengalir di sepanjang tubuhnya yang tercacah itu. Akan tetapi, dibandingkan dengan hukum perapat, hukum picis tidaklah terlalu mengerikan. Hukum perapat ini benar-benar amat mengerikan.
Menyaksikan betapa tubuh yang utuh itu dirobek tarikan empat ekor kuda yang kuat, benar-benar dapat membuat orang yang menonton menjadi pingsan!. Kini Adipati Joyowiseso sudah berada di panggung, bersama para pengawalnya. Semua penonton menjadi kagum sekali menyaksikan betapa Roro Luhito yang cantik dan denok itu ikut pula hadir di samping ayahnya! Benar-benar seorang gadis yang luar biasa, pikir mereka.
Tentu saja semua penduduk maklum belaka bahwa puteri adipati ini adalah seorang gadis gemblengan, pandai menunggang kuda, memanah dan mainkan keris atau lembing, tidak kalah oleh perwira-perwira biasa saja. Akan tetapi, melihat gadis itu hadir pula dalam pelaksanaan hukum perapat, benar-benar membuktikan ketabahan hatinya yang luar biasa. Biarpun wajah gadis itu agak pucat dan ia kelihatan pendiam tidak lincah kenes seperti biasa, namun dia tampak tenang-tenang saja, matanya memandang ke arah tubuh si terhukum yang terlentang di atas tanah, hanya belasan meter jauhnya dari atas panggung.
Dari tempat sedekat itu, tentu akan terdengar suaranya jika tubuh itu tersayat menjadi empat oleh tarikan kuda. Tentu akan tampak jelas isi perut yang berhamburan, jantung yang masih hidup bergerak berloncatan di atas tanah! Puteri ini duduk di samping kiri Adipati Joyowiseso, sedangkan di sebelah kanannya duduk seorang pemuda ganteng berpakaian serba hitam, destarnya kehijauan, bibirnya selalu tersenyum dan sikapnya tenang. Inilah Jokowanengpati dan para penonton memandang kepadanya dengan kagum.
Berita bahwa pemuda perkasa yang menjadi tamu adipati inilah yang merobohkan si penjahat, telah tersiar luas. Karena angkasa raya masih terang cemerlang oleh sinar senja, Pujo yang terlentang tidak mau membuka matanya karena silau. Ia meramkan matanya dan berada dalam keadaan samadhi. ia tidak menyesal akan nasib yang menimpanya, hanya menyesal mengapa belum berhasil membalas dendam. Teringat akan pengalamannya semalam, ia sadar bahwa ia telah berlaku kurang hati-hati, terlalu menurutkan nafsu dendamnya.

<<< Bagian 014                                                                                     Bagian 016 >>>

No comments:

Post a Comment