Badai Laut Selatan ; Bagian 016


Akan tetapi semua itu telah terjadi, tak perlu disesalkan lagi. Sekarang baginya hanyalah menanti datangnya hukuman, akan tetapi di dalam hatinya ia mengambil ketetapan untuk tidak menyerah begitu saja. Akan ia pertahankan nyawanya dengan segala ilmu yang dimilikinya.

Ketika para algojo yang bertubuh tegap-tegap seperti raksasa mengikat lagi kedua tangan dan kedua kakinya dengan sebuah tambang besar yang panjang, barulah Pujo membuka matanya. Kaki tangannya yang sudah terbelenggu, kaki menjadi satu dan tangan juga menjadi satu, kini diikat lebih kuat dengan tambang baru yang panjang, setiap tangan dan setiap kaki diikat erat-erat. Pujo tidak mempedulikan ini semua. Ia maklum bahwa para algojo itu sudah terlatih dan berlaku amat hati-hati. Sukar mencari kesempatan untuk memberontak atau meloloskan diri. Kini biji matanya mulai bergerak-gerak. Melihat para penonton memenuhi sekeliling alun-alun, kulit di antara kedua matanya berkerut sedikit.
Akan tetapi ketika ia memandang ke arah panggung dan melihat Adipati Joyowiseso duduk didampingi gadis remaja yang ikut mengeroyoknya dan Jokowanengpati, matanya menjadi liar dan dadanya terasa panas oleh amarah. Ia menentang pandang mata adipati itu dengan sinar mata menyala penuh tantangan. Pandang mata Jokowanengpati yang tidak langsung memandangnya itu tidak ia peduli, juga pandang mata penuh perasaan haru dan kagum dari gadis remaja itupun tak dihiraukan.
Kini keempat buah kaki tangan Pujo sudah diikat erat dengan ujung tambang panjang. Setiap tambang lalu diurai dan dibawa kepada kuda yang sudah menanti. Empat ekor kuda itu berada di empat penjuru. Dua ekor di kanan kiri panggung, yang dua ekor lagi menghadap ke arah berlainan, jadi empat ekor kuda itu berdiri membelakangi tubuh Pujo. Tambang-tambang yang panjang dan yang mengikat keempat buah kaki tangan Pujo, kini diikatkan pada pundak kuda yang sudah dipasangi alat yang khusus untuk pekerjaan ini. Kemudian empat orang algojo melompat ke atas punggung kuda, dengan cambuk di tangan.
Seorang algojo lain menghampiri Pujo, lalu menggunakan pedang yang amat tajam untuk membikin putus belenggu pertama yang mengikat kaki dan tangan masing-masing menjadi satu. Kini kaki dan tangan Pujo terpentang, tangan kanan di selatan, kaki kiri di utara, tangan kiri di barat dan kaki kanan di timur. Hukum perapat yang mengerikan sudah siap dilaksanakan! Para penonton yang tadi saling bicara sehingga keadaan di situ menjadi berisik seperti suara ribuan lebah diganggu pada saat persiapan dilakukan, kini semua diam tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, seperti seekor binatang jengkerik terpijak.

Ketegangan memuncak dan semua orang menahan napas. Keadaan menjadi sunyi sekali dan kesunyian inilah yang membuat suara Adipati Joyowiseso terdengar jelas,
"Heii, si pembunuh laknat Pujo! Kesempatan terakhir kuberikan kepadamu. Kalau kau bersedia mengaku sebab perbuatanmu yang jahat malam tadi, aku masih belum terlambat untuk mengubah hukumanmu!"
"Hah! Joyowiseso, mengapa masih banyak cerewet lagi? Aku gagal membunuhmu, dan sekarang hendak membunuh mati kepadaku, lakukanlah! Seorang satria sejati tidak gentar menghadapi kematian karena kegagalan perjuangannya!"
Kumis sekepal sebelah di bawah hidung adipati itu bangkit berdiri saking marahnya.
"Kau..... pengecut besar masih membuka mulut mengaku satria!"
"Ha-ha-ha! Joyowiseso, kau selalu menyebutku pengecut. Tentu karena dahulu aku tidak ikut melawan barisan Mataram maka kauanggap aku pengecut, bukan? Ha-ha-ha, siapakah yang lebih pengecut di antara kita? Kau dahulu melawan mati-matian, setelah kalah bertekuk lutut untuk mempertahankan kedudukan. Dan semua orang dapat kau tipu, akan tetapi aku tahu bahwa kau menakluk kepada Mataram hanyalah lahirnya saja, sedangkan batinnya....... ha-ha-ha!"
"Cukup! Hayo laksanakan hukumannya!" bentak sang adipati sambil bangkit berdiri dengan muka pucat saking marahnya, tangannya memberi tanda kepada empat orang algojo di atas punggung kuda yang memang sejak tadi sudah siap, hanya tinggal menanti tanda yang diberikan sendiri oleh sang adipati.
Penonton yang tadinya menjadi berisik kembali mendengar perbantahan itu, kini diam lagi dan memandang dengan mata terbelalak, bahkan bernapaspun ditahan agaknya. Ketegangan memuncak dan tanpa diketahui orang lain kecuali Jokowanengpati yang selalu melirik ke arah Roro Luhito, gadis ini agak menggigil tubuhnya dan duduk bersandar kursi lalu meramkan kedua matanya!
"Tar-tar-tar-tar!" Empat batang cambuk di tangan empat orang algojo itu berdetak di udara bergantian, kendali kuda disendai dan empat ekor kuda itu bergerak maju sambil mengerahkan tenaga.

Terdengar jerit di sana-sini antara para penonton dan banyak yang kurang kuat syarafnya sudah roboh pingsan dengan tubuh lemas! Sudah terbayang di dalam otak para penonton betapa dalam detik-detik berikutnya, tubuh pemuda ganteng itu akan robek menjadi empat potong. Tanpa ia sadari, dua titik air mata meloncat keluar dari pelupuk mata Roro Luhito, dan Jokowanengpati yang melihat ini tersenyum sinis.
Tiba-tiba kesunyian yang mencengkam perasaan itu berubah sama sekali. Keadaan menjadi berisik sekali, bahkan makin lama makin riuh. Orang-orang berteriak tak tentu maksudnya, ada yang bersorak bahkan ada yang bertepuk tangan, ada pula terdengar suara para penjaga memaki-maki.
Roro Luhito cepat membuka matanya, memandang. Ia terbelalak memandang ke depan, bahkan kini ia berdiri tanpa ia sadari, kedua tangannya menekan dadanya yang membusung. Apakah yang ia lihat? Apakah yang terjadi? Hebat memang! Tubuh Pujo yang terlentang di atas tanah itu meregang, matanya separuh terpejam, otot-otot pada lengannya tampak menonjol, bibirnya berkemak-kemik tanpa suara dan....... tubuhnya sama sekali belum robek seperti orang sangka. Empat ekor kuda itu menarik sekuatnya, keempat kaki mereka bengkok-bengkok ke belakang dan empat orang algojo membunyikan cambuk, menyendal-nyendal kendali.
Namun tubuh Pujo tidak bergeming! Empat ekor kuda itu seakan-akan berusaha untuk merobek sepotong batu karang yang kokoh kuat! Ternyata dalam saat terakhir itu, Pujo telah mengerahkan kesaktiannya, mengerahkan tenaga sakti untuk menahan tarikan empat ekor kuda dari empat penjuru. Berkali-kali empat orang algojo itu menoleh dan mata mereka terbelalak melihat betapa korban mereka sama sekali belum terobek tubuhnya.
Algojo yang menunggang kuda di sebelah timur menjadi penasaran. Ia mencambuki leher kudanya, menendang-nendang perut kuda sehingga kudanya yang besar itu lalu meringkik marah, mengerahkan tenaga kakinya untuk berlari maju sehingga tambang yang ditariknya dan yang mengikat kaki kanan Pujo itu meregang, makin meregang dan.....
"takk!" tambang itu putus, kudanya terjengkal ke depan dan penunggangnya jatuh tunggang-langgang! Tepuk tangan riuh menyambut peristiwa hebat ini, bahkan mereka yang tadinya benci kepada Pujo, ikut pula bertepuk tangan dan bersorak-sorak.
Tiga ekor kuda lainnya terkejut dan panik oleh sorakan ini, apalagi penunggang merekapun mencambuki dan menendang kaki, mereka itupun meringkik-ringkik, meloncat ke depan dan....... ketiganya terjungkal karena tambang-tambang itu putus dalam waktu yang sama. Hal ini terjadi bukan hanya karena kekuatan tiga ekor kuda itu, melainkan juga karena Pujo sudah menggerakkan dua tangan dan kaki kirinya sehingga tambang itu tidak kuat bertahan dan menjadi putus! Makin hebatlah sorak-sorai menggegap-gempita. Lucunya, Roro Luhito juga ikut bertepuk tangan tanpa ia sadari lagi!
"Luhito, gilakah kau?" Adipati Joyowiseso membentak dan gadis itu sadar, lalu menundukkan muka dan berkata perlahan,
"Ayah, ia benar-benar hebat!"
"Apanya yang hebat? Haiii, para pengawal keroyok dia, bunuh di tempat!"

Akan tetapi kini Pujo sudah bangkit berdiri karena tambang-tambang yang mengikat kaki tangannya sudah terlepas dari kuda. Ia tertawa bergelak melihat para pengawal datang dengan senjata terhunus sehingga para pengawal itu menjadi jerih dan ragu-ragu.
Melihat betapa orang hukuman yang amat perkasa itu hendak dikeroyok, para penonton menjadi tegang kembali dan tidak ada suara terdengar. Maka suara Pujo terdengar jelas,
"Ha-ha-ha-ha, Joyowiseso! Siapakah sekarang yang menjadi pengecut besar? Apakah kau lupa bahwa sang prabu di Mataram sendiri pernah membebaskan Ki Warok Gendroyono karena Ki Warok Gendroyono tidak terluka ketika dijatuhi hukum penggal lehernya? Sekali hukuman dilaksanakan, si terhukum telah menjalani hukumannya. Sekarang akupun sudah menjalani hukuman. Salahkah aku kalau empat ekor kudamu itu lemah kurang makan? Ha-ha-ha, sekarang kau hendak mengerahkan anjing-anjingmu mengeroyokku? Boleh, boleh, aku tidak takut mati, akan tetapi kau akan tetap hidup sebagai seorang pengecut besar, ha-ha!"
Para penonton kembali menjadi gaduh, sebagian besar terpengaruh oleh ucapan ini. Jokowanengpati bangkit berdiri mendekati Adipati Joyowiseso dan berbisik,
"Paman adipati, tidak baik agaknya kalau dia dikeroyok dan dibunuh."
"Maksud anakmas.......??" Joyowiseso memandang tajam.
"Jangan salah sangka, paman. Saya bukan membelanya, akan tetapi ucapan Pujo tadi patut direnungkan. Amat tidak baik bagi nama paman kalau pengeroyokan dilaksanakan. Percayalah kepada saya dan saya akan membereskan persoalan ini. Saya akan membujuknya agar dia suka menerangkan sebab permusuhannya dengan kangmas Wisangjiwo, kemudian, saya akan membunuhnya. Berilah saya waktu sampai malam nanti, paman adipati."

Adipati Joyowiseso mengangguk-angguk dan memberi tanda dengan tangan agar para pengawal dan algojonya mundur. Mereka merasa lega sekali dan mundur teratur. Jokowanengpati dengan gerakan indah dan ringan seperti burung terbang, telah melompat turun dari atas panggung dan berlari-lari menghampiri Pujo. Semua penonton menjadi makin tegang. Wah, tentu akan terjadi pertandingan puncak yang hebat sekarang, pikir mereka. Tentu akan lebih hebat menarik, lebih ramai daripada keroyokan para pengawal yang tidak seimbang jumlahnya.
Agaknya Pujopun berpendapat bahwa turunnya Jokowanengpati tentu akan berusaha menangkapnya. Maka ia mengerutkan kening, bersiap siaga dan menegur dengan kata-kata dingin,
"Kakang Jokowanengpati, malam tadi karena kecuranganmu aku tertawan! Apakah sekarang engkau hendak mengadu nyawa denganku?"
Jokowanengpati mengedipkan matanya lalu mendekat.
"Adimas Pujo, kau benar-benar bodoh. Aku sedang menyelidiki adipati, kalau tidak membantunya tentu ia curiga. Mengapa engkau bersikeras hendak melawan? Betapapun juga, menghadapi begini banyak orang kau tentu akan tewas. Kau mendendam kepada Wisangjiwo, bukan? Nah, mengapa nekat mencari mati sebelum berhasil membalas dendam? Percayalah, aku akan mencari akal. Aku sudah menipu adipati, mari kau pura-pura taat dan takluk kepadaku, kuantar kembali ke tempat tahanan tanpa belenggu. Nanti kuceritakan kepadamu bagaimana kau harus bertindak. Aku bersumpah kepada para dewata, malam ini kau pasti akan bebas dan balas dendammu berhasil!"
Sejenak Pujo tertegun, akan tetapi mendengar sumpah Jokowanengpati ia mengangguk.
"Baik, kakang. Sekali ini aku hendak melihat bagaimana setia kawan adanya kakang Jokowanengpati."
Jokowanengpati lalu merenggut tambang panjang yang masih bergantungan pada kedua tangan dan kaki Pujo. Empat kali ia merenggut dan....... empat helai tambang yang besar dan kuat itu putus semua! Para penonton menjadi riuh karena memuji penuh kekaguman. Namun mereka kecewa ketika melihat betapa Jokowanengpati menggandeng tangan Pujo, diajak masuk ke halaman kadipaten! Juga Adipati Joyowiseso dan para pengiringnya tanpa bicara apa-apa lagi kembali ke dalam kadipaten. Penonton bubar dan alun-alun itu menjadi sunyi kembali menjelang datangnya malam.

Mereka duduk bersila di dalam kamar tahanan, berhadapan. Dengan suara berbisik-bisik dan singkat, Jokowanengpati menceritakan kepada Pujo bahwa ia hanya berpura-pura bertamu di Kadipaten Selopenangkep. Maksud sebenarnya adalah melakukan tugas rahasia dari Mataram untuk menyelidik, karena didengar berita rahasia bahwa Adipati Joyowiseso mempunyai niat untuk memberontak terhadap Mataram. Pujo hanya mendengarkan acuh tak acuh.
"Karena itulah maka malam tadi aku terpaksa turun tangan menangkapmu, dimas. Urusan tugas yang begini penting tidak boleh dirusak oleh urusan pribadimu. Sekarang ceritakanlah, mengapa kau begini nekat hendak membasmi keluarga Adipati Joyowiseso? Permusuhan apa yang terjadi antara kau dan Wisangjiwo?"
Pujo menunduk, menarik napas panjang. Biar kepada Jokowanengpati sekalipun tak mungkin ia menceritakan aib dan hina yang diderita oleh isterinya,

<<< Bagian 015                                                                                     Bagian 017 >>>

No comments:

Post a Comment