Akan tetapi semua itu telah terjadi, tak perlu disesalkan lagi. Sekarang baginya hanyalah menanti datangnya hukuman, akan tetapi di dalam hatinya ia mengambil ketetapan untuk tidak menyerah begitu saja. Akan ia pertahankan nyawanya dengan segala ilmu yang dimilikinya.
Ketika para
algojo yang bertubuh tegap-tegap seperti raksasa mengikat lagi kedua tangan dan
kedua kakinya dengan sebuah tambang besar yang panjang, barulah Pujo membuka
matanya. Kaki tangannya yang sudah terbelenggu, kaki menjadi satu dan tangan
juga menjadi satu, kini diikat lebih kuat dengan tambang baru yang panjang,
setiap tangan dan setiap kaki diikat erat-erat. Pujo tidak mempedulikan ini
semua. Ia maklum bahwa para algojo itu sudah terlatih dan berlaku amat
hati-hati. Sukar mencari kesempatan untuk memberontak atau meloloskan diri.
Kini biji matanya mulai bergerak-gerak. Melihat para penonton memenuhi
sekeliling alun-alun, kulit di antara kedua matanya berkerut sedikit.
Akan tetapi
ketika ia memandang ke arah panggung dan melihat Adipati Joyowiseso duduk
didampingi gadis remaja yang ikut mengeroyoknya dan Jokowanengpati, matanya
menjadi liar dan dadanya terasa panas oleh amarah. Ia menentang pandang mata
adipati itu dengan sinar mata menyala penuh tantangan. Pandang mata
Jokowanengpati yang tidak langsung memandangnya itu tidak ia peduli, juga
pandang mata penuh perasaan haru dan kagum dari gadis remaja itupun tak
dihiraukan.
Kini keempat
buah kaki tangan Pujo sudah diikat erat dengan ujung tambang panjang. Setiap
tambang lalu diurai dan dibawa kepada kuda yang sudah menanti. Empat ekor kuda
itu berada di empat penjuru. Dua ekor di kanan kiri panggung, yang dua ekor
lagi menghadap ke arah berlainan, jadi empat ekor kuda itu berdiri membelakangi
tubuh Pujo. Tambang-tambang yang panjang dan yang mengikat keempat buah kaki
tangan Pujo, kini diikatkan pada pundak kuda yang sudah dipasangi alat yang
khusus untuk pekerjaan ini. Kemudian empat orang algojo melompat ke atas
punggung kuda, dengan cambuk di tangan.
Seorang algojo
lain menghampiri Pujo, lalu menggunakan pedang yang amat tajam untuk membikin
putus belenggu pertama yang mengikat kaki dan tangan masing-masing menjadi
satu. Kini kaki dan tangan Pujo terpentang, tangan kanan di selatan, kaki kiri
di utara, tangan kiri di barat dan kaki kanan di timur. Hukum perapat yang
mengerikan sudah siap dilaksanakan! Para penonton yang tadi saling bicara
sehingga keadaan di situ menjadi berisik seperti suara ribuan lebah diganggu
pada saat persiapan dilakukan, kini semua diam tak ada yang mengeluarkan suara
sedikitpun, seperti seekor binatang jengkerik terpijak.
Ketegangan
memuncak dan semua orang menahan napas. Keadaan menjadi sunyi sekali dan
kesunyian inilah yang membuat suara Adipati Joyowiseso terdengar jelas,
"Heii, si
pembunuh laknat Pujo! Kesempatan terakhir kuberikan kepadamu. Kalau kau
bersedia mengaku sebab perbuatanmu yang jahat malam tadi, aku masih belum
terlambat untuk mengubah hukumanmu!"
"Hah!
Joyowiseso, mengapa masih banyak cerewet lagi? Aku gagal membunuhmu, dan
sekarang hendak membunuh mati kepadaku, lakukanlah! Seorang satria sejati tidak
gentar menghadapi kematian karena kegagalan perjuangannya!"
Kumis sekepal
sebelah di bawah hidung adipati itu bangkit berdiri saking marahnya.
"Kau.....
pengecut besar masih membuka mulut mengaku satria!"
"Ha-ha-ha!
Joyowiseso, kau selalu menyebutku pengecut. Tentu karena dahulu aku tidak ikut
melawan barisan Mataram maka kauanggap aku pengecut, bukan? Ha-ha-ha, siapakah
yang lebih pengecut di antara kita? Kau dahulu melawan mati-matian, setelah
kalah bertekuk lutut untuk mempertahankan kedudukan. Dan semua orang dapat kau
tipu, akan tetapi aku tahu bahwa kau menakluk kepada Mataram hanyalah lahirnya
saja, sedangkan batinnya....... ha-ha-ha!"
"Cukup!
Hayo laksanakan hukumannya!" bentak sang adipati sambil bangkit berdiri
dengan muka pucat saking marahnya, tangannya memberi tanda kepada empat orang
algojo di atas punggung kuda yang memang sejak tadi sudah siap, hanya tinggal
menanti tanda yang diberikan sendiri oleh sang adipati.
Penonton yang
tadinya menjadi berisik kembali mendengar perbantahan itu, kini diam lagi dan
memandang dengan mata terbelalak, bahkan bernapaspun ditahan agaknya.
Ketegangan memuncak dan tanpa diketahui orang lain kecuali Jokowanengpati yang
selalu melirik ke arah Roro Luhito, gadis ini agak menggigil tubuhnya dan duduk
bersandar kursi lalu meramkan kedua matanya!
"Tar-tar-tar-tar!"
Empat batang cambuk di tangan empat orang algojo itu berdetak di udara
bergantian, kendali kuda disendai dan empat ekor kuda itu bergerak maju sambil
mengerahkan tenaga.
Terdengar
jerit di sana-sini antara para penonton dan banyak yang kurang kuat syarafnya
sudah roboh pingsan dengan tubuh lemas! Sudah terbayang di dalam otak para
penonton betapa dalam detik-detik berikutnya, tubuh pemuda ganteng itu akan
robek menjadi empat potong. Tanpa ia sadari, dua titik air mata meloncat keluar
dari pelupuk mata Roro Luhito, dan Jokowanengpati yang melihat ini tersenyum
sinis.
Tiba-tiba
kesunyian yang mencengkam perasaan itu berubah sama sekali. Keadaan menjadi
berisik sekali, bahkan makin lama makin riuh. Orang-orang berteriak tak tentu
maksudnya, ada yang bersorak bahkan ada yang bertepuk tangan, ada pula
terdengar suara para penjaga memaki-maki.
Roro Luhito
cepat membuka matanya, memandang. Ia terbelalak memandang ke depan, bahkan kini
ia berdiri tanpa ia sadari, kedua tangannya menekan dadanya yang membusung.
Apakah yang ia lihat? Apakah yang terjadi? Hebat memang! Tubuh Pujo yang
terlentang di atas tanah itu meregang, matanya separuh terpejam, otot-otot pada
lengannya tampak menonjol, bibirnya berkemak-kemik tanpa suara dan.......
tubuhnya sama sekali belum robek seperti orang sangka. Empat ekor kuda itu
menarik sekuatnya, keempat kaki mereka bengkok-bengkok ke belakang dan empat
orang algojo membunyikan cambuk, menyendal-nyendal kendali.
Namun tubuh
Pujo tidak bergeming! Empat ekor kuda itu seakan-akan berusaha untuk merobek
sepotong batu karang yang kokoh kuat! Ternyata dalam saat terakhir itu, Pujo
telah mengerahkan kesaktiannya, mengerahkan tenaga sakti untuk menahan tarikan
empat ekor kuda dari empat penjuru. Berkali-kali empat orang algojo itu menoleh
dan mata mereka terbelalak melihat betapa korban mereka sama sekali belum
terobek tubuhnya.
Algojo yang
menunggang kuda di sebelah timur menjadi penasaran. Ia mencambuki leher
kudanya, menendang-nendang perut kuda sehingga kudanya yang besar itu lalu
meringkik marah, mengerahkan tenaga kakinya untuk berlari maju sehingga tambang
yang ditariknya dan yang mengikat kaki kanan Pujo itu meregang, makin meregang
dan.....
"takk!"
tambang itu putus, kudanya terjengkal ke depan dan penunggangnya jatuh
tunggang-langgang! Tepuk tangan riuh menyambut peristiwa hebat ini, bahkan
mereka yang tadinya benci kepada Pujo, ikut pula bertepuk tangan dan
bersorak-sorak.
Tiga ekor kuda
lainnya terkejut dan panik oleh sorakan ini, apalagi penunggang merekapun
mencambuki dan menendang kaki, mereka itupun meringkik-ringkik, meloncat ke
depan dan....... ketiganya terjungkal karena tambang-tambang itu putus dalam
waktu yang sama. Hal ini terjadi bukan hanya karena kekuatan tiga ekor kuda
itu, melainkan juga karena Pujo sudah menggerakkan dua tangan dan kaki kirinya
sehingga tambang itu tidak kuat bertahan dan menjadi putus! Makin hebatlah
sorak-sorai menggegap-gempita. Lucunya, Roro Luhito juga ikut bertepuk tangan
tanpa ia sadari lagi!
"Luhito,
gilakah kau?" Adipati Joyowiseso membentak dan gadis itu sadar, lalu
menundukkan muka dan berkata perlahan,
"Ayah, ia
benar-benar hebat!"
"Apanya
yang hebat? Haiii, para pengawal keroyok dia, bunuh di tempat!"
Akan tetapi
kini Pujo sudah bangkit berdiri karena tambang-tambang yang mengikat kaki
tangannya sudah terlepas dari kuda. Ia tertawa bergelak melihat para pengawal
datang dengan senjata terhunus sehingga para pengawal itu menjadi jerih dan
ragu-ragu.
Melihat betapa
orang hukuman yang amat perkasa itu hendak dikeroyok, para penonton menjadi
tegang kembali dan tidak ada suara terdengar. Maka suara Pujo terdengar jelas,
"Ha-ha-ha-ha,
Joyowiseso! Siapakah sekarang yang menjadi pengecut besar? Apakah kau lupa
bahwa sang prabu di Mataram sendiri pernah membebaskan Ki Warok Gendroyono
karena Ki Warok Gendroyono tidak terluka ketika dijatuhi hukum penggal
lehernya? Sekali hukuman dilaksanakan, si terhukum telah menjalani hukumannya.
Sekarang akupun sudah menjalani hukuman. Salahkah aku kalau empat ekor kudamu
itu lemah kurang makan? Ha-ha-ha, sekarang kau hendak mengerahkan
anjing-anjingmu mengeroyokku? Boleh, boleh, aku tidak takut mati, akan tetapi
kau akan tetap hidup sebagai seorang pengecut besar, ha-ha!"
Para penonton
kembali menjadi gaduh, sebagian besar terpengaruh oleh ucapan ini.
Jokowanengpati bangkit berdiri mendekati Adipati Joyowiseso dan berbisik,
"Paman
adipati, tidak baik agaknya kalau dia dikeroyok dan dibunuh."
"Maksud
anakmas.......??" Joyowiseso memandang tajam.
"Jangan
salah sangka, paman. Saya bukan membelanya, akan tetapi ucapan Pujo tadi patut
direnungkan. Amat tidak baik bagi nama paman kalau pengeroyokan dilaksanakan.
Percayalah kepada saya dan saya akan membereskan persoalan ini. Saya akan
membujuknya agar dia suka menerangkan sebab permusuhannya dengan kangmas
Wisangjiwo, kemudian, saya akan membunuhnya. Berilah saya waktu sampai malam
nanti, paman adipati."
Adipati
Joyowiseso mengangguk-angguk dan memberi tanda dengan tangan agar para pengawal
dan algojonya mundur. Mereka merasa lega sekali dan mundur teratur.
Jokowanengpati dengan gerakan indah dan ringan seperti burung terbang, telah
melompat turun dari atas panggung dan berlari-lari menghampiri Pujo. Semua
penonton menjadi makin tegang. Wah, tentu akan terjadi pertandingan puncak yang
hebat sekarang, pikir mereka. Tentu akan lebih hebat menarik, lebih ramai
daripada keroyokan para pengawal yang tidak seimbang jumlahnya.
Agaknya
Pujopun berpendapat bahwa turunnya Jokowanengpati tentu akan berusaha
menangkapnya. Maka ia mengerutkan kening, bersiap siaga dan menegur dengan
kata-kata dingin,
"Kakang
Jokowanengpati, malam tadi karena kecuranganmu aku tertawan! Apakah sekarang
engkau hendak mengadu nyawa denganku?"
Jokowanengpati
mengedipkan matanya lalu mendekat.
"Adimas
Pujo, kau benar-benar bodoh. Aku sedang menyelidiki adipati, kalau tidak
membantunya tentu ia curiga. Mengapa engkau bersikeras hendak melawan?
Betapapun juga, menghadapi begini banyak orang kau tentu akan tewas. Kau
mendendam kepada Wisangjiwo, bukan? Nah, mengapa nekat mencari mati sebelum
berhasil membalas dendam? Percayalah, aku akan mencari akal. Aku sudah menipu
adipati, mari kau pura-pura taat dan takluk kepadaku, kuantar kembali ke tempat
tahanan tanpa belenggu. Nanti kuceritakan kepadamu bagaimana kau harus
bertindak. Aku bersumpah kepada para dewata, malam ini kau pasti akan bebas dan
balas dendammu berhasil!"
Sejenak Pujo
tertegun, akan tetapi mendengar sumpah Jokowanengpati ia mengangguk.
"Baik,
kakang. Sekali ini aku hendak melihat bagaimana setia kawan adanya kakang
Jokowanengpati."
Jokowanengpati
lalu merenggut tambang panjang yang masih bergantungan pada kedua tangan dan
kaki Pujo. Empat kali ia merenggut dan....... empat helai tambang yang besar
dan kuat itu putus semua! Para penonton menjadi riuh karena memuji penuh
kekaguman. Namun mereka kecewa ketika melihat betapa Jokowanengpati menggandeng
tangan Pujo, diajak masuk ke halaman kadipaten! Juga Adipati Joyowiseso dan para
pengiringnya tanpa bicara apa-apa lagi kembali ke dalam kadipaten. Penonton
bubar dan alun-alun itu menjadi sunyi kembali menjelang datangnya malam.
Mereka duduk
bersila di dalam kamar tahanan, berhadapan. Dengan suara berbisik-bisik dan
singkat, Jokowanengpati menceritakan kepada Pujo bahwa ia hanya berpura-pura
bertamu di Kadipaten Selopenangkep. Maksud sebenarnya adalah melakukan tugas
rahasia dari Mataram untuk menyelidik, karena didengar berita rahasia bahwa
Adipati Joyowiseso mempunyai niat untuk memberontak terhadap Mataram. Pujo
hanya mendengarkan acuh tak acuh.
"Karena
itulah maka malam tadi aku terpaksa turun tangan menangkapmu, dimas. Urusan
tugas yang begini penting tidak boleh dirusak oleh urusan pribadimu. Sekarang
ceritakanlah, mengapa kau begini nekat hendak membasmi keluarga Adipati
Joyowiseso? Permusuhan apa yang terjadi antara kau dan Wisangjiwo?"
Pujo menunduk,
menarik napas panjang. Biar kepada Jokowanengpati sekalipun tak mungkin ia
menceritakan aib dan hina yang diderita oleh isterinya,
No comments:
Post a Comment