Badai Laut Selatan ; Bagian 017


"Wisangjiwo telah..... membunuh isteriku....."
"Apa......?? Diajeng Kartikosari dibunuh oleh Wisangjiwo? Akan tetapi...... diajeng Kartikosari bukan seorang wanita lemah, bagaimana dia bisa......."
"Memang tidak begitu, akan tetapi.....yah, pendeknya isteriku mati karena perbuatan Wisangjiwo. Aku datang ke sini hendak mencarinya, karena dia tidak ada, maka aku hendak bunuh ayahnya."
"Aaahh, mengapa begitu, dimas? Mengapa kau kurang sabar menanti? Carilah kesempatan yang lebih baik sampai kau dapat bertemu dengan Wisangjiwo. Atau....... andaikata kau hendak membalas kepada keluarganya, seharusnya isteri dan anaknya yang kaucari, bukan ayahnya. Harap kau mengerti bahwa sekali Adipati Joyowiseso terbunuh, maka gagallah usahaku membongkar rahasia pemberontakan ini. Maka kuminta kepadamu sekarang, jangan kauganggu Adipati Joyowiseso, dan aku akan membantu kau bebas dari sini, bukan itu saja.......bahkan kubantu kau menculik isteri dan putera Wisangjiwo!"

Sepasang mata Pujo bersinar-sinar. Mengapa ia tidak ingat akan isteri dan anak Wisangjiwo. Isterinya harus ia culik? Inilah pembalasan yang paling tepat. Dan anaknya sekali. Hah, akan lebih hebat pukulan ini bagi Wisangjiwo, lebih hebat daripada maut!.
"Baiklah, kakang, dan terima kasih atas budimu."
"Mari, dimas, jangan terlambat."
Karena tempat tahanan itu atas permintaan Jokowanengpati dan atas perintah adipati tidak terjaga, maka mudah saja bagi dua orang muda yang berkepandaian tinggi ini untuk melesat keluar. Jokowanengpati yang sudah hafal akan keadaan di dalam kadipaten, membawa Pujo ke kamar Listyokumolo, isteri Wisangjiwo yang tidur bersama Joko Wandiro, puteranya yang baru berusia satu tahun.
Sore-sore Listyokumolo sudah tidur mengeloni puteranya, karena semua peristiwa yang terjadi di kadipaten benar-benar membuat hatinya merasa tidak enak. Sebagai seorang anak lurah yang biasa hidup tenteram di dalam dusun dan dianggap sebagai puteri raja kecil oleh penghuni dusun, Listyokumolo memang tidak begitu kerasan semenjak ia diperisteri Wisangjiwo, tidak kerasan tinggal di kadipaten. Apalagi ia dikawin putera adipati itu atas paksaan orang tuanya, dan watak Wisangjiwo yang suka berfoya-foya dan tidak menghargainya, sering memakinya sebagai perawan dusun, membuat Listyokumolo makin jauh daripada kebahagiaan rumah tangga. Hanya puteranya, Joko Wandiro yang merupakan hiburan satu-satunya.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang di dalam kamarnya. Listyokumolo terkejut dan mengira bahwa ia bermimpi. Akan tetapi begitu ia bangkit duduk, lehernya serasa ditekan keras-keras dari belakang. Ia hendak berteriak, akan tetapi aneh, seakan-akan ia menjadi gagu karena tidak ada suara keluar dari kerongkongannya. Tubuhnya seketika menjadi lemas dan ia pingsan ketika melihat bahwa ia berada dalam pelukan seorang pemuda ganteng yang bukan lain adalah Pujo, orang yang dihukum perapat sore tadi! Bayangan lain menyambar dari dalam kamar, memondong Joko Wandiro, lalu Pujo bersama Jokowanengpati bayangan ke dua itu, melompat keluar jendela, terus keluar dari dalam kadipaten melalui tembok belakang mempergunakan ilmu kepandaian mereka, pergi tanpa diketahui seorangpun penjaga.
"Nah, di sini saja kita berpisah, dimas. Untung dia pingsan sehingga tidak sempat mengenaliku. Nah, kaubawa dia dan puteranya ini. Setelah mereka ini menjadi tawananmu, tak mungkin Wisangjiwo tidak akan pergi mencarimu."
"Terima kasih, kakang Jokowanengpati. Kau benar-benar seorang yang berhati mulia. Aku tidak akan melupakan kebaikan hatimu," jawab Pujo sambil menerima anak kecil yang masih tidur pulas karena aji sirep yang dikenakan Jokowanengpati kepadanya.

Sambil memondong Joko Wandiro dan memanggul tubuh Listyokumolo, Pujo berlari cepat di tengah malam buta, meninggalkan Selopenangkep. Adapun Jokowanengpati setelah berpisah dengan Pujo, menggunakan ilmunya Bayusakti, tubuhnya berkelebat cepat sekali seperti terbang, kembali ke kadipaten. Wajahnya yang tampan itu tersenyum-senyum, kadang-kadang, ia tertawa sendiri dengan hati girang. Ia merasa yakin sekarang bahwa Pujo tetap menyangka Wisangjiwo yang memperkosa isterinya di dalam guha, tepat seperti rencananya. Biarkanlah mereka bermusuhan, pikirnya. Memang mudah kalau ia membantu adipati dan membunuh Pujo, akan tetapi di sudut hati kecilnya, pemuda ini merasa jerih terhadap paman gurunya, Resi Bhargowo. Ia tidak mau menempatkan dirinya menjadi musuh Resi Bhargowo, dan memang lebih aman baginya begini. Dia yang makan nangkanya, Wisangjiwo yang berlepotan getahnya! Ha-ha-ha, dengan penculikan anak dan isteri Wisangjiwo, permusuhan mereka akan makin mendalam dan dia akan berada makin jauh dari lingkaran permusuhan, aman dan selamat. Sayang, Kartikosari yang cantik jelita itu telah meninggal dunia. Wanita yang sukar dicari bandingnya di dunia ini, cantik bagai dewi kahyangan, harum bagai bunga mawar yang sedang mekar.
"Sayang kau telah mati......." bisiknya! "tapi sudah meninggalkan kenang-kenangan manis, hemmm....." Ia meraba tangan kirinya yang telah kehilangan sebuah jari kelingking, tangan kiri yang hanya berjari empat buah saja, lalu tersenyum dan mempercepat larinya, melompati tembok belakang kadipaten dan menyelinap di dalam gelap bagaikan setan.

Senyum iblis yang menghias mukanya yang tampan itu masih membayang, matanya berkilat-kilat ketika ia mengintai dari jendela sebuah kamar. Kamar Roro Luhito! Pelita kecil di kamar dara itu masih menyala dan Roro Luhito duduk melamun di atas pembaringannya, rambutnya kusut wajahnya lesu, diam tak bergerak seperti sebuah patung. Pintu kamarnya terketuk dari luar, perlahan, namun cukup membuat dara yang sedang melamun itu terkejut.
"Luhito anakku sayang, sudah tidurkah engkau?"
Roro Luhito menarik napas lega, turun dari pembaringan dan dengan langkah malas menghampiri pintu dan membukanya. Ibunya masuk, memandang puterinya sejenak lalu merangkulnya penuh kasih sayang.
"Luhito sayang, mengapa kau belum berganti pakaian, kelihatan lesu dan tidak makan malam. Sakitkah kau, angger?"
"Tidak apa-apa, bunda. Aku hanya merasa aras-arasen (malas) dan ingin mengaso, lain tidak."
"Ah, kalau begitu bunda takkan lama mengganggu, nak." Ia menarik tangan Roro Luhito, diajak duduk di atas pembaringan.
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Bagaimana kaulihat Raden Jokowanengpati? Dia tampan dan gagah, sakti mandraguna pula, bukan?"
Tak seujung rambutpun dara itu mengenang Jokowanengpati, akan tetapi untuk menghindarkan percakapan lebih panjang, ia hanya mengangguk tanpa menjawab. Ibunya salah sangka, mengira puterinya malu-malu, maka sambil memegang tangannya ia berkata,
"Kami, ayahmu dan aku, sudah setuju sekali kalau dia bias menjadi mantu kami, sayang."
"Apa.....??" Roro Luhito benar-benar terkejut dan memandang ibunya dengan mata terbelalak.
"Apa..... apakah dia datang untuk meminang.....?"
Ibunya menggeleng kepala, tersenyum dan bangkit berdiri.
"Belum lagi, nak. Akan tetapi tak lama lagi tentu dia akan meminangmu. Nah, kau legakanlah hatimu dan mengasolah. Akan tetapi, biarpun tidak berani mandi, kau harus tukar pakaian."

Setelah mencium ubun-ubun anaknya, ibu yang bergembira itu keluar dari kamar, menutupkan daun pintu lambat-lambat. Roro Luhito masih termenung, kemudian cepat-cepat ia mengunci daun pintu, lari lagi ke atas pembaringan dan duduk termenung seperti tadi. Berkali-kali ia menarik napas panjang, kemudian dengan gerakan malas ia menanggalkan pakaian untuk ditukar dengan yang baru. Tentu saja ia sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi, semua gerakannya diintai oleh sepasang mata yang bersinar-sinar penuh nafsu! Mata Jokowanengpati!. Baru saja Roro Luhito meniup padam pelita menjelang tengah malam dan naik ke pembaringan, jendela itu terbuka dari luar dan sesosok bayangan dengan sigap melompat masuk, menutup daun jendela lagi dan menghampiri pembaringan.
Roro Luhito terkejut, bergerak hendak loncat turun dari pembaringan, akan tetap sebuah lengan yang kuat merangkul lehernya, dan lain tangan menutup mulutnya dengan gerakan halus, kemudian terdengar bisikan perlahan sekali,
"Luhito, aku Pujo....... aku tahu..... kau suka kepadaku seperti aku mencintamu......."
Gemetar seluruh tubuh Roro Luhito. Memang tak dapat ia sangkal lagi, ia telah jatuh hati kepada Pujo, orang muda yang amat perkasa dan gagah, yang sekaligus telah menarik rasa iba dan cintanya. Akan tetapi ia tadi masih menyedihkan nasib pemuda itu, mengapa kini tahu-tahu muncul dalam kamarnya? Betapapun ia tertarik kepada pemuda itu, sama sekali ia tidak mengharapkan akan terjadi hal yang begini memalukan. Maka ia meronta, hendak melawan tanpa berteriak karena tak mau ia mencelakai orang muda itu. Namun, orang muda itu luar biasa kuatnya, terlampau kuat untuknya. Ketika orang muda yang menggagahinya itu kemudian melompat keluar dari jendela dengan kesebatan yang luar biasa, Roro Luhito menangis di atas pembaringan. Mendadak ia terkejut mendengar suara di atas genteng, suara teriakan yang amat nyaring.
"Tangkap penjahat! Siap semua.....! Kepung...... tangkap Pujo yang melarikan diri.......!!"
Itulah suara Jokowanengpati. Menggigil tubuh Roro Luhito. Tak kuasa ia turun dari atas pembaringan. Ketika ia menangis tadi, cinta kasihnya terhadap Pujo bercampur rasa benci dan marah. Akan tetapi kini mendengar teriakan Jokowanengpati, tanpa ia sadari timbul rasa cemas dalam hatinya, cemas dan kuatir akan keselamatan Pujo yang selain telah merampas kasihnya, juga merampasi kehormatannya dan sekaligus menimbulkan benci dan marah dalam hatinya. Ributlah kini di luar kamar. Suara banyak kaki berlari-lari, bahkan terdengar pula suara ayahnya bertanya-tanya. Kembali terdengar Jokowanengpati berseru,
"Tadi kulihat dia melompat keluar dari jendela kamar diajeng Roro Luhito. Entah apa yang diperbuatnya! Aku kuatir........"
"Apa? Bagaimana dia bisa lari? Anakmas,. bukankah kau yang berjanji akan... "
"Nanti saja kuceritakan semua, paman. Lebih baik sekarang paman memeriksa kamar diajeng Roro Luhito, saya kuatir sekali......."

Daun pintu itu terpentang ketika Adipati Joyowiseso melompat masuk. Jokowanengpati dan para pengawal tidak ada yang berani memasuki kamar puteri adipati itu. Adipati Joyowiseso menyalakan pelita, memandang ke arah pembaringan dan.....matanya terbelalak lebar, kumisnya bergerak-gerak, giginya berkerot saking marahnya. Sekali pandang saja kepada puterinya yang menangis terisak-isak di atas pembaringan, rambutnya yang terurai lepas dan kusut, pakaiannya yang tidak karuan lagi, ia dapat memaklumi persoalannya.
"Luhito! Dia....... dia ke sini tadi....?" Ia masih bertanya ragu.
Roro Luhito masih gemetar semua tubuhnya. Tak dapat pula ia menyangkal, maka sambil menutupi mukanya ia hanya dapat mengangguk. Serasa ditusuk keris dada Adipati Joyowiseso. Ia melompat keluar lagi dari kamar anaknya dan berteriak-teriak,
"Kejar!! Kejar dan tangkap si jahanam Pujo. Siapa yang dapat menangkapnya akan kuberi hadiah besar. Kejar!!"
Ributlah keadaan di kadipaten, seribut malam kemarin. Semua pengawal mencari-cari ke seluruh tempat dalam kadipaten. Kamar-kamar dimasuki, kamar mandi dan kakus tak terkecuali, bahkan ada yang sudah mengejar keluar kadipaten, seperti mengejar bayangan setan karena mereka tidak tahu ke mana perginya orang yang dikejar. Sementara itu, Jokowanengpati mendekati Adipati Joyowiseso.
"Paman adipati, kulihat Pujo sudah lari keluar kadipaten. Sukar menangkapnya......."
"Anakmas Jokowanengpati! Apa yang kau ucapkan ini? Kau sendiri yang menjaga dia, bagaimana dia bisa lari dan mengapa pula setelah kau melihat dia keluar dari kamar Luhito, tidak kau tangkap dia?"
"Tenanglah, paman, marilah kita masuk dan bicara di dalam."
Mereka masuk dan setelah tidak ada orang lain mendengar, Jokowanengpati berkata,
"Saya merasa menyesal sekali, akan tetapi apa dayaku menghadapi paman Resi Bhargowo?"
"Resi Bhargowo? Kaumaksudkan.....?"
"Paman Resi Bhargowo sendiri yang datang menolong Pujo, paman. Saya sudah mencegah dan terjadi pertandingan mati-matian antara saya dan paman resi, akan tetapi saya kalah dan terpukul pingsan. Ketika saya siuman kembali, saya melihat bayangan Pujo keluar dari kamar diajeng Luhito, akan tetapi tenaga saya belum pulih dan pula, dengan adanya paman Resi Bhargowo, saya merasa tidak berdaya sama sekali. Baik kita laporkan saja ke Mataran dengan tuduhan paman Resi Bhargowo dan Pujo telah memberontak......."
"Tapi...... tapi..... aduh, anakku Luhito"
"Paman adipati, saya dapat menduga apa yang telah dilakukan bocah keparat itu. Akan tetapi saya....." sampai di sini suara Jokowanengpati tergetar penuh keharuan,

<<< Bagian 016                                                                                     Bagian 018 >>>

No comments:

Post a Comment