"Wisangjiwo telah..... membunuh isteriku....."
"Apa......??
Diajeng Kartikosari dibunuh oleh Wisangjiwo? Akan tetapi...... diajeng
Kartikosari bukan seorang wanita lemah, bagaimana dia bisa......."
"Memang
tidak begitu, akan tetapi.....yah, pendeknya isteriku mati karena perbuatan
Wisangjiwo. Aku datang ke sini hendak mencarinya, karena dia tidak ada, maka
aku hendak bunuh ayahnya."
"Aaahh,
mengapa begitu, dimas? Mengapa kau kurang sabar menanti? Carilah kesempatan
yang lebih baik sampai kau dapat bertemu dengan Wisangjiwo. Atau.......
andaikata kau hendak membalas kepada keluarganya, seharusnya isteri dan anaknya
yang kaucari, bukan ayahnya. Harap kau mengerti bahwa sekali Adipati Joyowiseso
terbunuh, maka gagallah usahaku membongkar rahasia pemberontakan ini. Maka
kuminta kepadamu sekarang, jangan kauganggu Adipati Joyowiseso, dan aku akan
membantu kau bebas dari sini, bukan itu saja.......bahkan kubantu kau menculik
isteri dan putera Wisangjiwo!"
Sepasang mata
Pujo bersinar-sinar. Mengapa ia tidak ingat akan isteri dan anak Wisangjiwo.
Isterinya harus ia culik? Inilah pembalasan yang paling tepat. Dan anaknya
sekali. Hah, akan lebih hebat pukulan ini bagi Wisangjiwo, lebih hebat daripada
maut!.
"Baiklah,
kakang, dan terima kasih atas budimu."
"Mari,
dimas, jangan terlambat."
Karena tempat
tahanan itu atas permintaan Jokowanengpati dan atas perintah adipati tidak
terjaga, maka mudah saja bagi dua orang muda yang berkepandaian tinggi ini
untuk melesat keluar. Jokowanengpati yang sudah hafal akan keadaan di dalam
kadipaten, membawa Pujo ke kamar Listyokumolo, isteri Wisangjiwo yang tidur
bersama Joko Wandiro, puteranya yang baru berusia satu tahun.
Sore-sore
Listyokumolo sudah tidur mengeloni puteranya, karena semua peristiwa yang
terjadi di kadipaten benar-benar membuat hatinya merasa tidak enak. Sebagai
seorang anak lurah yang biasa hidup tenteram di dalam dusun dan dianggap
sebagai puteri raja kecil oleh penghuni dusun, Listyokumolo memang tidak begitu
kerasan semenjak ia diperisteri Wisangjiwo, tidak kerasan tinggal di kadipaten.
Apalagi ia dikawin putera adipati itu atas paksaan orang tuanya, dan watak
Wisangjiwo yang suka berfoya-foya dan tidak menghargainya, sering memakinya
sebagai perawan dusun, membuat Listyokumolo makin jauh daripada kebahagiaan
rumah tangga. Hanya puteranya, Joko Wandiro yang merupakan hiburan
satu-satunya.
Tiba-tiba
berkelebat bayangan orang di dalam kamarnya. Listyokumolo terkejut dan mengira
bahwa ia bermimpi. Akan tetapi begitu ia bangkit duduk, lehernya serasa ditekan
keras-keras dari belakang. Ia hendak berteriak, akan tetapi aneh, seakan-akan
ia menjadi gagu karena tidak ada suara keluar dari kerongkongannya. Tubuhnya
seketika menjadi lemas dan ia pingsan ketika melihat bahwa ia berada dalam pelukan
seorang pemuda ganteng yang bukan lain adalah Pujo, orang yang dihukum perapat
sore tadi! Bayangan lain menyambar dari dalam kamar, memondong Joko Wandiro,
lalu Pujo bersama Jokowanengpati bayangan ke dua itu, melompat keluar jendela,
terus keluar dari dalam kadipaten melalui tembok belakang mempergunakan ilmu
kepandaian mereka, pergi tanpa diketahui seorangpun penjaga.
"Nah, di
sini saja kita berpisah, dimas. Untung dia pingsan sehingga tidak sempat
mengenaliku. Nah, kaubawa dia dan puteranya ini. Setelah mereka ini menjadi
tawananmu, tak mungkin Wisangjiwo tidak akan pergi mencarimu."
"Terima
kasih, kakang Jokowanengpati. Kau benar-benar seorang yang berhati mulia. Aku
tidak akan melupakan kebaikan hatimu," jawab Pujo sambil menerima anak
kecil yang masih tidur pulas karena aji sirep yang dikenakan Jokowanengpati
kepadanya.
Sambil
memondong Joko Wandiro dan memanggul tubuh Listyokumolo, Pujo berlari cepat di
tengah malam buta, meninggalkan Selopenangkep. Adapun Jokowanengpati setelah
berpisah dengan Pujo, menggunakan ilmunya Bayusakti, tubuhnya berkelebat cepat
sekali seperti terbang, kembali ke kadipaten. Wajahnya yang tampan itu
tersenyum-senyum, kadang-kadang, ia tertawa sendiri dengan hati girang. Ia
merasa yakin sekarang bahwa Pujo tetap menyangka Wisangjiwo yang memperkosa
isterinya di dalam guha, tepat seperti rencananya. Biarkanlah mereka
bermusuhan, pikirnya. Memang mudah kalau ia membantu adipati dan membunuh Pujo,
akan tetapi di sudut hati kecilnya, pemuda ini merasa jerih terhadap paman gurunya,
Resi Bhargowo. Ia tidak mau menempatkan dirinya menjadi musuh Resi Bhargowo,
dan memang lebih aman baginya begini. Dia yang makan nangkanya, Wisangjiwo yang
berlepotan getahnya! Ha-ha-ha, dengan penculikan anak dan isteri Wisangjiwo,
permusuhan mereka akan makin mendalam dan dia akan berada makin jauh dari
lingkaran permusuhan, aman dan selamat. Sayang, Kartikosari yang cantik jelita
itu telah meninggal dunia. Wanita yang sukar dicari bandingnya di dunia ini,
cantik bagai dewi kahyangan, harum bagai bunga mawar yang sedang mekar.
"Sayang
kau telah mati......." bisiknya! "tapi sudah meninggalkan
kenang-kenangan manis, hemmm....." Ia meraba tangan kirinya yang telah
kehilangan sebuah jari kelingking, tangan kiri yang hanya berjari empat buah
saja, lalu tersenyum dan mempercepat larinya, melompati tembok belakang
kadipaten dan menyelinap di dalam gelap bagaikan setan.
Senyum iblis
yang menghias mukanya yang tampan itu masih membayang, matanya berkilat-kilat
ketika ia mengintai dari jendela sebuah kamar. Kamar Roro Luhito! Pelita kecil
di kamar dara itu masih menyala dan Roro Luhito duduk melamun di atas
pembaringannya, rambutnya kusut wajahnya lesu, diam tak bergerak seperti sebuah
patung. Pintu kamarnya terketuk dari luar, perlahan, namun cukup membuat dara
yang sedang melamun itu terkejut.
"Luhito
anakku sayang, sudah tidurkah engkau?"
Roro Luhito
menarik napas lega, turun dari pembaringan dan dengan langkah malas menghampiri
pintu dan membukanya. Ibunya masuk, memandang puterinya sejenak lalu
merangkulnya penuh kasih sayang.
"Luhito
sayang, mengapa kau belum berganti pakaian, kelihatan lesu dan tidak makan
malam. Sakitkah kau, angger?"
"Tidak
apa-apa, bunda. Aku hanya merasa aras-arasen (malas) dan ingin mengaso, lain
tidak."
"Ah,
kalau begitu bunda takkan lama mengganggu, nak." Ia menarik tangan Roro
Luhito, diajak duduk di atas pembaringan.
"Aku
hanya ingin bertanya kepadamu. Bagaimana kaulihat Raden Jokowanengpati? Dia
tampan dan gagah, sakti mandraguna pula, bukan?"
Tak seujung
rambutpun dara itu mengenang Jokowanengpati, akan tetapi untuk menghindarkan
percakapan lebih panjang, ia hanya mengangguk tanpa menjawab. Ibunya salah
sangka, mengira puterinya malu-malu, maka sambil memegang tangannya ia berkata,
"Kami,
ayahmu dan aku, sudah setuju sekali kalau dia bias menjadi mantu kami,
sayang."
"Apa.....??"
Roro Luhito benar-benar terkejut dan memandang ibunya dengan mata terbelalak.
"Apa.....
apakah dia datang untuk meminang.....?"
Ibunya
menggeleng kepala, tersenyum dan bangkit berdiri.
"Belum
lagi, nak. Akan tetapi tak lama lagi tentu dia akan meminangmu. Nah, kau
legakanlah hatimu dan mengasolah. Akan tetapi, biarpun tidak berani mandi, kau
harus tukar pakaian."
Setelah
mencium ubun-ubun anaknya, ibu yang bergembira itu keluar dari kamar,
menutupkan daun pintu lambat-lambat. Roro Luhito masih termenung, kemudian
cepat-cepat ia mengunci daun pintu, lari lagi ke atas pembaringan dan duduk
termenung seperti tadi. Berkali-kali ia menarik napas panjang, kemudian dengan
gerakan malas ia menanggalkan pakaian untuk ditukar dengan yang baru. Tentu
saja ia sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi, semua gerakannya diintai oleh
sepasang mata yang bersinar-sinar penuh nafsu! Mata Jokowanengpati!. Baru saja
Roro Luhito meniup padam pelita menjelang tengah malam dan naik ke pembaringan,
jendela itu terbuka dari luar dan sesosok bayangan dengan sigap melompat masuk,
menutup daun jendela lagi dan menghampiri pembaringan.
Roro Luhito
terkejut, bergerak hendak loncat turun dari pembaringan, akan tetap sebuah
lengan yang kuat merangkul lehernya, dan lain tangan menutup mulutnya dengan
gerakan halus, kemudian terdengar bisikan perlahan sekali,
"Luhito,
aku Pujo....... aku tahu..... kau suka kepadaku seperti aku
mencintamu......."
Gemetar
seluruh tubuh Roro Luhito. Memang tak dapat ia sangkal lagi, ia telah jatuh
hati kepada Pujo, orang muda yang amat perkasa dan gagah, yang sekaligus telah
menarik rasa iba dan cintanya. Akan tetapi ia tadi masih menyedihkan nasib
pemuda itu, mengapa kini tahu-tahu muncul dalam kamarnya? Betapapun ia tertarik
kepada pemuda itu, sama sekali ia tidak mengharapkan akan terjadi hal yang
begini memalukan. Maka ia meronta, hendak melawan tanpa berteriak karena tak
mau ia mencelakai orang muda itu. Namun, orang muda itu luar biasa kuatnya,
terlampau kuat untuknya. Ketika orang muda yang menggagahinya itu kemudian
melompat keluar dari jendela dengan kesebatan yang luar biasa, Roro Luhito
menangis di atas pembaringan. Mendadak ia terkejut mendengar suara di atas
genteng, suara teriakan yang amat nyaring.
"Tangkap
penjahat! Siap semua.....! Kepung...... tangkap Pujo yang melarikan
diri.......!!"
Itulah suara
Jokowanengpati. Menggigil tubuh Roro Luhito. Tak kuasa ia turun dari atas
pembaringan. Ketika ia menangis tadi, cinta kasihnya terhadap Pujo bercampur
rasa benci dan marah. Akan tetapi kini mendengar teriakan Jokowanengpati, tanpa
ia sadari timbul rasa cemas dalam hatinya, cemas dan kuatir akan keselamatan
Pujo yang selain telah merampas kasihnya, juga merampasi kehormatannya dan
sekaligus menimbulkan benci dan marah dalam hatinya. Ributlah kini di luar
kamar. Suara banyak kaki berlari-lari, bahkan terdengar pula suara ayahnya
bertanya-tanya. Kembali terdengar Jokowanengpati berseru,
"Tadi
kulihat dia melompat keluar dari jendela kamar diajeng Roro Luhito. Entah apa
yang diperbuatnya! Aku kuatir........"
"Apa?
Bagaimana dia bisa lari? Anakmas,. bukankah kau yang berjanji akan... "
"Nanti
saja kuceritakan semua, paman. Lebih baik sekarang paman memeriksa kamar
diajeng Roro Luhito, saya kuatir sekali......."
Daun pintu itu
terpentang ketika Adipati Joyowiseso melompat masuk. Jokowanengpati dan para
pengawal tidak ada yang berani memasuki kamar puteri adipati itu. Adipati
Joyowiseso menyalakan pelita, memandang ke arah pembaringan dan.....matanya
terbelalak lebar, kumisnya bergerak-gerak, giginya berkerot saking marahnya.
Sekali pandang saja kepada puterinya yang menangis terisak-isak di atas
pembaringan, rambutnya yang terurai lepas dan kusut, pakaiannya yang tidak
karuan lagi, ia dapat memaklumi persoalannya.
"Luhito!
Dia....... dia ke sini tadi....?" Ia masih bertanya ragu.
Roro Luhito
masih gemetar semua tubuhnya. Tak dapat pula ia menyangkal, maka sambil
menutupi mukanya ia hanya dapat mengangguk. Serasa ditusuk keris dada Adipati
Joyowiseso. Ia melompat keluar lagi dari kamar anaknya dan berteriak-teriak,
"Kejar!!
Kejar dan tangkap si jahanam Pujo. Siapa yang dapat menangkapnya akan kuberi
hadiah besar. Kejar!!"
Ributlah
keadaan di kadipaten, seribut malam kemarin. Semua pengawal mencari-cari ke
seluruh tempat dalam kadipaten. Kamar-kamar dimasuki, kamar mandi dan kakus tak
terkecuali, bahkan ada yang sudah mengejar keluar kadipaten, seperti mengejar
bayangan setan karena mereka tidak tahu ke mana perginya orang yang dikejar.
Sementara itu, Jokowanengpati mendekati Adipati Joyowiseso.
"Paman
adipati, kulihat Pujo sudah lari keluar kadipaten. Sukar
menangkapnya......."
"Anakmas
Jokowanengpati! Apa yang kau ucapkan ini? Kau sendiri yang menjaga dia,
bagaimana dia bisa lari dan mengapa pula setelah kau melihat dia keluar dari
kamar Luhito, tidak kau tangkap dia?"
"Tenanglah,
paman, marilah kita masuk dan bicara di dalam."
Mereka masuk
dan setelah tidak ada orang lain mendengar, Jokowanengpati berkata,
"Saya
merasa menyesal sekali, akan tetapi apa dayaku menghadapi paman Resi
Bhargowo?"
"Resi
Bhargowo? Kaumaksudkan.....?"
"Paman
Resi Bhargowo sendiri yang datang menolong Pujo, paman. Saya sudah mencegah dan
terjadi pertandingan mati-matian antara saya dan paman resi, akan tetapi saya
kalah dan terpukul pingsan. Ketika saya siuman kembali, saya melihat bayangan
Pujo keluar dari kamar diajeng Luhito, akan tetapi tenaga saya belum pulih dan
pula, dengan adanya paman Resi Bhargowo, saya merasa tidak berdaya sama sekali.
Baik kita laporkan saja ke Mataran dengan tuduhan paman Resi Bhargowo dan Pujo
telah memberontak......."
"Tapi......
tapi..... aduh, anakku Luhito"
"Paman
adipati, saya dapat menduga apa yang telah dilakukan bocah keparat itu. Akan
tetapi saya....." sampai di sini suara Jokowanengpati tergetar penuh keharuan,
No comments:
Post a Comment