Badai Laut Selatan ; Bagian 018


"saya bersedia menutupi aib yang menimpa keluarga paman. Saya bersedia menanggung dan berkorban demi kebahagiaan diajeng Roro Luhito dan demi kehormatan paman adipati."
Adipati Joyowiseso mengangkat muka, lalu menangkap lengan pemuda itu.
"Kau..... kaumaksudkan......"
"Saya bersedia menikah dengan diajeng Roro Luhito, itulah maksud saya, tentu saja kalau paman menyetujui."
"Menyetujui? Tentu saja! Aduh, anakmas..... ah, anak mantuku yang bagus, yang budiman dan arif bijaksana, alangkah besar budi yang kau limpahkan kepada kami......." Adipati Joyowiseso merangkul leher pemuda itu. Dengan muka tunduk Jokowanengpati menyembunyikan senyumnya, senyum kemenangan!

Pada saat itu terdengar jerit-jerit tangis mengagetkan. Adipati Joyowiseso dan Jokowanengpati melompat keluar dan berlari-larian ke arah suara jeritan. Ternyata yang menangis dan menjerit-jerit itu adalah isteri adipati dan para selir, bahkan para pelayan wanita juga menangis. Dengan suara terputus-putus isteri adipati menyampaikan kepada suaminya bahwa Listyokumolo anak mantu mereka, dan juga Joko Wandiro, telah lenyap dari kamarnya tanpa meninggalkan bekas!.
"Jahanam Pujo! Akan tiba saatnya aku membekuk batang lehermu!" Jokowanengpati berkata dengan nada marah.
Adipati Joyowiseso menjadi lemas dan orang tua itu menjatuhkan dirinya di atas kursi dengan napas terengahengah. Tak lama kemudian, selirnya yang tersayang, yaitu ibu Roro Luhito, datang berlari-lari sambil menangis, tanpa bicara sesuatu karena di situ terdapat banyak orang, selir itu menarik tangan suaminya, diseret diajak ke kamar Roro Luhito. Adipati yang sudah maklum akan aib yang menimpa diri puterinya, hanya mengikuti dengan air mata membasahi pipi, sedangkan kumisnya yang biasanya berdiri garang itu kini menggantung terkulai seperti keadaan hatinya.
Sejak saat itu sampai keesokan harinya, yang bergema dari rumah gedung kadipaten itu hanyalah ratap tangis dan tarikan napas panjang, disusul bentakan-bentakan dan maki-makian marah sang adipati ketika menerima laporan bahwa para pengawal tidak berhasil mendapatkan jejak Pujo.

Betapapun besar gelora dendam mengamuk di hati Pujo, namun ia masih tidak tega untuk mengganggu anak kecil berusia setahun dalam pondongannya dan masih tidur nyenyak itu. Anak kecil itu masih tidur ketika ia meletakkannya di sudut guha, di atas rumput kering. Akan tetapi tidak sehalus itu ia memperlakukan ibunya. Karena wanita ini adalah isteri Wisangjiwo, maka sebagian dendamnya tertumpah kepada Listyokumolo yang ia dorong sehingga wanita itu jatuh terpelanting di atas lantai guha. Dengan muka ketakutan Listyokumolo bangkit dan duduk menahan tubuh dengan tangannya. Ia sudah dapat mengeluarkan suara lagi sekarang. Matanya memandang penuh rasa takut dan tubuhnya gemetar, dadanya turun naik, rambutnya sejak tadi terurai lepas. Pujo berdiri memandang perempuan itu dengan hati puas. Seorang wanita muda yang cantik, berkulit kuning bersih yang tampak makin menarik oleh sinar matahari pagi yang menerobos ke dalam guha. Kembennya yang halus berkembang itu seakan-akan tidak kuasa menahan dan menyembunyikan dada yang menonjol dan yang bergerak seperti gelombang itu.
"Mengapa....... mengapa kau membawa aku dan anakku kesini? Kalau hendak kaubunuh kami, mengapa kaubawa kami sejauh ini?" Akhirnya Listyokumolo dapat mengeluarkan kata-kata dengan bibir gemetar.
Pujo tertawa bergelak, menimbulkan rasa ngeri. Wajahnya yang tampan itu membayangkan kekejaman yang mengerikan.
"Ha-ha-ha-ha! Kau mau tahu? Dengarlah, isteri Wisangjiwo. Aku membawamu ke sini untuk menyiksamu, untuk memperkosamu, menghinamu sehingga kau tidak akan mempunyai muka lagi untuk melihat sinar sang suryal Aku akan membiarkanmu hidup dalam genangan aib, dan aku akan menyiksa lalu membunuh anakmu, anak Wisangjiwo!"
Terbelalak mata yang bening itu, lalu merintih dan menoleh kepada anaknya yang masih tidur pulas di atas rumput kering di sudut guha. Ia mengeluarkan jerit tertahan, bangkit dan hendak menubruk anaknya, akan tetapi sekali menggerakkan kakinya, Pujo menendangnya roboh kembali ke atas tanah, di mana ia menangis terisak-isak.
"Mengapa kaulakukan ini kepada kami? Mengapa? Apa dosaku? Apa dosa anakku?"
"Dosamu karena kau adalah isteri Wisangjiwo, dan dia adalah anaknya. Kalian harus menebus dosa yang dilakukan Wisangjiwo!"
"Dosa?.Dosa apakah?" Wajah yang cantik itu menjadi pucat sekali.
"Hah! Si bedebah Wisangjiwo telah memperkosa isteriku di sini! Ya, di tempat kau sekarang rebah! Di situ! Di depan mataku! Aku harus membalas, memperlakukan engkau seperti yang telah ia lakukan terhadap isteriku!"
Naik sedu-sedan di kerongkongan wanita itu ketika ia bangkit dan duduk. Di antara isaknya ia berkata,
"Aku tahu, suamiku memang seorang yang tidak baik. Tak kusangka ia sampai hati melakukan perbuatan laknat dan terkutuk itu. Keji! Keji sekali! Kau hendak membalas perbuatannya atas diriku? Baik, lakukanlah sesuka hatimu, asal engkau suka mengampunkan anakku yang tidak berdosa. Lakukanlah, aku telah siap dan takkan mengeluh. Akan tetapi....... kau....... ampunkanlah anakku, jangan kau ganggu Joko Wandiro anakku.......!"
"Ha-ha-ha-ha! Akan kuperhina engkau, seperti suamimu menghina isteriku. Beginilah yang ia lakukan kepada isteriku!"
Tangan Pujo meraih dan "reeetttt!" robeklah pakaian penutup tubuh yang padat.
"Tidak perlu engkau menggunakan kekerasan. Tanpa kekerasan akupun akan menurut, takkan melawanmu. Mungkin engkau tidak sejahat Wisangjiwo. Sudah terlalu lama aku menderita batin karena menjadi isterinya, isteri paksaan. Kau bernama Pujo, bukan? Nah, aku siap menanti pernyataan kasihmu, tanpa perlawanan, dengan rela, untuk penebus nyawa anakku dan untuk penebus dosa suamiku." Sambil berkata demikian, Listyokumolo mengembangkan kedua tangannya yang bulat, siap menanti pelukan.

Mendadak wajah Pujo menjadi pucat sekali. Ia mengeluarkan suara gerengan seperti harimau terluka dan tangannya melayang, menampar pipi Listyokumolo sehingga wanita ini kembali terpelanting dan menangis terisak-isak.
“Perempuan rendah! Perempuan tak tahu malu! Engkau menghadapi ancaman perkosaan dengan senyum di bibir dan gairah di mata? Engkau rela dan senang?"
"Hu-huk....... apa lagi yang dapat kulakukan? Aku tidak berdaya......."
"Keparat! Di mana kesetiaanmu terhadap suami? Sekeji engkau inikah semua wanita di jagad ini? Begitu mendapat kesempatan, tanpa malu-malu akan menghianati suaminya, menerima perjinaan dengan hati senang ? Beginikah.......?"
Suara Pujo menjadi parau dan hampir menangis. Pujo bukanlah seorang yang mempunyai watak kejam dan mata keranjang. Wanita yang cantik di depannya ini, yang memiliki tubuh menggairahkan, yang hampir telanjang, sama sekali tidak dapat menggerakkan nafsu berahinya, tidak mendatangkan gairah di hatinya, ia melalukan kekejaman itu terdorong nafsu dendam semata.
Andaikata Listyokumolo melakukan perlawanan, belum tentu ia akan melanjutkan niatnya menggagahi wanita ini. Akan tetapi sikap Listyokumolo yang menyerah, bahkan ada sinar mata gairah penuh pengharapan itu, membuat ia menjadi muak dan seakan-akan jantungnya ditembus keris. Ia teringat akan isterinya. Agaknya begini pula sikap isterinya ketika digagahi Wisangjiwo. Menyerah! Dengan alasan tidak berdaya, namun di sudut hatinya mengalami kesenangan, kepuasan dan kegembiraan seperti perempuan ini! Ia muak! Muak dan marah sekali, makin sakit hati terhadap peristiwa nista di dalam guha ini di malam gelap itu.
"Pujo, terserah hendak kauapakan diriku, aku menurut. Asal jangan engkau ganggu anakku. Malah aku siap sedia ikut denganmu, ke manapun kaubawa. Aku bersedia melayanimu selamanya, biar aku tidak kembali ke kadipaten. Kau kehilangan isterimu karena Wisangjiwo? Nah, ambillah aku sebagai gantinya dan peliharalah anakku......."
"Tutup mulut!" Pujo membentak dan kini matanya beralih kepada anak itu.

Joko Wandiro yang sudah berusia setahun itu agaknya kaget oleh suara ribut-ribut dan bangun, lalu duduk. Ia menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan.
"Ibu.......!" Ia berseru girang ketika melihat ibunya berada di situ.
"Joko....... anakku.......!" Listyokumolo hendak menghampiri anaknya, akan tetapi Pujo menghardik,
"Mundur! Jangan sentuh dia!"
"Pujo...... ampuni dia...... ah, jangan kauganggu dia, Pujo.....!"
"Perempuan rendah! Akan kuapakan dia tak perlu kau ribut-ribut!"
"Jangan.......! Pujo, kau lihatlah aku. Lihat, aku siap melakukan semua perintahmu. Kau ambillah aku, aku akan melayanimu dengan senang hati, aku akan mentaati semua perintahmu, memenuhi semua keinginanmu. Pujo, lihatlah, aku cukup cantik, aku dapat membahagiakan hidupmu!"
Seperti seorang gila Listyokumolo merenggut sisa pakaiannya, lalu menghampiri Pujo dan hendak memeluknya. Lenyap semua gairah pada sinar mata Listyokumolo. Kini apa yang ia lakukan adalah dorongan hasrat ingin menyelamatkan anaknya semata. Pengorbanan seorang ibu untuk anaknya, apapun juga akan ia lakukan untuk keselamatan anaknya. Berbeda dengan tadi karena perasaan suci itu dikotori hasrat hati melayani Pujo yang memang tampan dan sebagian pula untuk membalas suaminya yang sudah terlalu banyak menyakiti hatinya.

Sekarang semua tindakannya bebas daripada segala macam nafsu, semata-mata untuk memindah kan perhatian dan keinginan Pujo dari anaknya, agar anaknya terbebas daripada maut yang sudah mengancam. Pujo sengaja diam saja. Bibirnya tersenyum mengejek ketika menyaksikan betapa wanita cantik itu mendekapnya, membelainya dan berusaha menarik perhatiannya. Makin muak perutnya. Bukan muak terhadap wanita ini, melainkan terhadap isterinya!.
Pandang matanya seakan-akan sudah kabur. Wajah Listyokumolo sudah berubah menjadi wajah isterinya! Dengan perasaan gemas ia menjambak rambut yang hitam halus dan panjang itu, lalu mendorong tubuh wanita itu sampai terguling. Ia meludah ke arah Listyokumolo, kemudian kembali melirik Joko Wandiro yang mulai menangis. Tak dapat ia membalas dengan cara begini, pikirnya. Tak mungkin ia melakukan perbuatan keji dan rendah itu terhadap wanita ini, sungguhpun semata hanya untuk menyakitkan hati Wisangjiwo. Ada jalan lain! Anak itu! Tentu akan hancur sekali hati Wisangjiwo kalau puteranya hilang. Lebih hebat lagi, ia akan mendidik bocah ini menjadi seorang gemblengan, kemudian ia akan menggoreskan dalam batin anak itu bahwasanya Wisangjiwo adalah musuh besar yang harus dilawannya dan dibunuhnya! Ha-ha, alangkah manis pembalasan dendam itu! Tiba-tiba Pujo melompat menyambar tubuh Joko Wandiro, memondongnya dan membawanya lari keluar guha.
"Jangan.......! Anakku....... aahhh.....! "
Listyokumolo terguling roboh lagi oleh tendangan Pujo ketika ibu ini berusaha menghadang. Ketika ia bangkit kembali dan lari keluar guha, Pujo dan puteranya sudah lenyap tak tampak lagi bayangannya. Hanya masih terdengar tangis anaknya dari jauh, dari balik batu karang akan tetapi hanya sebentar, lalu sunyi. Hanya debur ombak menghantam karang yang terdengar, menelan suara jerit tangis Listyokumolo yang kemudian menggeletak pingsan di dalam Guha Siluman.
Angin laut bertiup keras, ombakpun makin mengganas, seakan-akan ombak dan angin ikut pula murka dan berduka menyaksikan polah-tingkah manusia yang ditakdirkan menjadi mahkluk termulia di antara segala mahkluk di dalam dunia ini. Di bawah ombak yang mengganas, ikan besar menelan ikan kecil, dan yang kecil menelan yang lebih kecil lagi. Menelan bulat-bulat. Ikan menelan ikan lain karena desakan kebutuhan hidup, karena lapar dan karena sudah semestinya. Manusia melakukan kejahatan terhadap sesamanya untuk menuruti nafsu!.

Lewat tengah hari, sepasukan pengawal yang dipimpin Jokowanengpati menuruni gunung karang yang amat curam itu menuju ke Guha Siluman. Memang disengaja oleh Jokowanengpati yang dapat menduga ke mana perginya Pujo dengan ibu dan anak yang diculiknya. Sengaja ia memperlambat pengejaran sehingga baru setelah lewat tengah hari mereka tiba di pantai karang depan Guha Siluman. Dan di antara batu karang itulah mereka mendapatkan Listyokumolo, dengan pakaian setengah telanjang, menjerit-jerit dan menangis memanggil-manggil nama Joko Wandiro. Tidak tampak adanya Pujo dan Joko Wandiro. Ketika wanita itu ditegur, Listyokumolo menjadi ketakutan dan hendak melarikan diri sambil menjerit-jerit. Terpaksa para pengawal menggunakan kekerasan menangkapnya dan dengan paksa membawanya naik untuk pulang kembali ke Selopenangkep. Listyokumolo terguncang batinnya dan ia menjadi setengah gila!.
Ketika pasukan pengawal yang dipimpin Jokowanengpati tiba di Kadipaten Selopenangkep membawa Listyokumolo yang kadang-kadang menjerit-jerit dan meronta-ronta, kadang-kadang tertawa dan berlagak dengan genitnya itu, suasana kadipaten sedang diliputi kabut kedukaan.

<<< Bagian 017                                                                                     Bagian 019 >>>

No comments:

Post a Comment