"saya bersedia menutupi aib yang menimpa keluarga paman. Saya bersedia menanggung dan berkorban demi kebahagiaan diajeng Roro Luhito dan demi kehormatan paman adipati."
Adipati
Joyowiseso mengangkat muka, lalu menangkap lengan pemuda itu.
"Kau.....
kaumaksudkan......"
"Saya
bersedia menikah dengan diajeng Roro Luhito, itulah maksud saya, tentu saja
kalau paman menyetujui."
"Menyetujui?
Tentu saja! Aduh, anakmas..... ah, anak mantuku yang bagus, yang budiman dan
arif bijaksana, alangkah besar budi yang kau limpahkan kepada kami......."
Adipati Joyowiseso merangkul leher pemuda itu. Dengan muka tunduk
Jokowanengpati menyembunyikan senyumnya, senyum kemenangan!
Pada saat itu
terdengar jerit-jerit tangis mengagetkan. Adipati Joyowiseso dan Jokowanengpati
melompat keluar dan berlari-larian ke arah suara jeritan. Ternyata yang
menangis dan menjerit-jerit itu adalah isteri adipati dan para selir, bahkan
para pelayan wanita juga menangis. Dengan suara terputus-putus isteri adipati
menyampaikan kepada suaminya bahwa Listyokumolo anak mantu mereka, dan juga
Joko Wandiro, telah lenyap dari kamarnya tanpa meninggalkan bekas!.
"Jahanam
Pujo! Akan tiba saatnya aku membekuk batang lehermu!" Jokowanengpati
berkata dengan nada marah.
Adipati
Joyowiseso menjadi lemas dan orang tua itu menjatuhkan dirinya di atas kursi
dengan napas terengahengah. Tak lama kemudian, selirnya yang tersayang, yaitu
ibu Roro Luhito, datang berlari-lari sambil menangis, tanpa bicara sesuatu
karena di situ terdapat banyak orang, selir itu menarik tangan suaminya,
diseret diajak ke kamar Roro Luhito. Adipati yang sudah maklum akan aib yang
menimpa diri puterinya, hanya mengikuti dengan air mata membasahi pipi,
sedangkan kumisnya yang biasanya berdiri garang itu kini menggantung terkulai
seperti keadaan hatinya.
Sejak saat itu
sampai keesokan harinya, yang bergema dari rumah gedung kadipaten itu hanyalah
ratap tangis dan tarikan napas panjang, disusul bentakan-bentakan dan
maki-makian marah sang adipati ketika menerima laporan bahwa para pengawal
tidak berhasil mendapatkan jejak Pujo.
Betapapun
besar gelora dendam mengamuk di hati Pujo, namun ia masih tidak tega untuk
mengganggu anak kecil berusia setahun dalam pondongannya dan masih tidur
nyenyak itu. Anak kecil itu masih tidur ketika ia meletakkannya di sudut guha,
di atas rumput kering. Akan tetapi tidak sehalus itu ia memperlakukan ibunya.
Karena wanita ini adalah isteri Wisangjiwo, maka sebagian dendamnya tertumpah
kepada Listyokumolo yang ia dorong sehingga wanita itu jatuh terpelanting di
atas lantai guha. Dengan muka ketakutan Listyokumolo bangkit dan duduk menahan
tubuh dengan tangannya. Ia sudah dapat mengeluarkan suara lagi sekarang.
Matanya memandang penuh rasa takut dan tubuhnya gemetar, dadanya turun naik, rambutnya
sejak tadi terurai lepas. Pujo berdiri memandang perempuan itu dengan hati
puas. Seorang wanita muda yang cantik, berkulit kuning bersih yang tampak makin
menarik oleh sinar matahari pagi yang menerobos ke dalam guha. Kembennya yang
halus berkembang itu seakan-akan tidak kuasa menahan dan menyembunyikan dada
yang menonjol dan yang bergerak seperti gelombang itu.
"Mengapa.......
mengapa kau membawa aku dan anakku kesini? Kalau hendak kaubunuh kami, mengapa
kaubawa kami sejauh ini?" Akhirnya Listyokumolo dapat mengeluarkan
kata-kata dengan bibir gemetar.
Pujo tertawa
bergelak, menimbulkan rasa ngeri. Wajahnya yang tampan itu membayangkan
kekejaman yang mengerikan.
"Ha-ha-ha-ha!
Kau mau tahu? Dengarlah, isteri Wisangjiwo. Aku membawamu ke sini untuk menyiksamu,
untuk memperkosamu, menghinamu sehingga kau tidak akan mempunyai muka lagi
untuk melihat sinar sang suryal Aku akan membiarkanmu hidup dalam genangan aib,
dan aku akan menyiksa lalu membunuh anakmu, anak Wisangjiwo!"
Terbelalak
mata yang bening itu, lalu merintih dan menoleh kepada anaknya yang masih tidur
pulas di atas rumput kering di sudut guha. Ia mengeluarkan jerit tertahan,
bangkit dan hendak menubruk anaknya, akan tetapi sekali menggerakkan kakinya,
Pujo menendangnya roboh kembali ke atas tanah, di mana ia menangis
terisak-isak.
"Mengapa
kaulakukan ini kepada kami? Mengapa? Apa dosaku? Apa dosa anakku?"
"Dosamu
karena kau adalah isteri Wisangjiwo, dan dia adalah anaknya. Kalian harus
menebus dosa yang dilakukan Wisangjiwo!"
"Dosa?.Dosa
apakah?" Wajah yang cantik itu menjadi pucat sekali.
"Hah! Si
bedebah Wisangjiwo telah memperkosa isteriku di sini! Ya, di tempat kau
sekarang rebah! Di situ! Di depan mataku! Aku harus membalas, memperlakukan
engkau seperti yang telah ia lakukan terhadap isteriku!"
Naik
sedu-sedan di kerongkongan wanita itu ketika ia bangkit dan duduk. Di antara
isaknya ia berkata,
"Aku
tahu, suamiku memang seorang yang tidak baik. Tak kusangka ia sampai hati
melakukan perbuatan laknat dan terkutuk itu. Keji! Keji sekali! Kau hendak
membalas perbuatannya atas diriku? Baik, lakukanlah sesuka hatimu, asal engkau
suka mengampunkan anakku yang tidak berdosa. Lakukanlah, aku telah siap dan
takkan mengeluh. Akan tetapi....... kau....... ampunkanlah anakku, jangan kau
ganggu Joko Wandiro anakku.......!"
"Ha-ha-ha-ha!
Akan kuperhina engkau, seperti suamimu menghina isteriku. Beginilah yang ia
lakukan kepada isteriku!"
Tangan Pujo
meraih dan "reeetttt!" robeklah pakaian penutup tubuh yang padat.
"Tidak
perlu engkau menggunakan kekerasan. Tanpa kekerasan akupun akan menurut, takkan
melawanmu. Mungkin engkau tidak sejahat Wisangjiwo. Sudah terlalu lama aku
menderita batin karena menjadi isterinya, isteri paksaan. Kau bernama Pujo,
bukan? Nah, aku siap menanti pernyataan kasihmu, tanpa perlawanan, dengan rela,
untuk penebus nyawa anakku dan untuk penebus dosa suamiku." Sambil berkata
demikian, Listyokumolo mengembangkan kedua tangannya yang bulat, siap menanti
pelukan.
Mendadak wajah
Pujo menjadi pucat sekali. Ia mengeluarkan suara gerengan seperti harimau
terluka dan tangannya melayang, menampar pipi Listyokumolo sehingga wanita ini
kembali terpelanting dan menangis terisak-isak.
“Perempuan
rendah! Perempuan tak tahu malu! Engkau menghadapi ancaman perkosaan dengan
senyum di bibir dan gairah di mata? Engkau rela dan senang?"
"Hu-huk.......
apa lagi yang dapat kulakukan? Aku tidak berdaya......."
"Keparat!
Di mana kesetiaanmu terhadap suami? Sekeji engkau inikah semua wanita di jagad
ini? Begitu mendapat kesempatan, tanpa malu-malu akan menghianati suaminya,
menerima perjinaan dengan hati senang ? Beginikah.......?"
Suara Pujo
menjadi parau dan hampir menangis. Pujo bukanlah seorang yang mempunyai watak
kejam dan mata keranjang. Wanita yang cantik di depannya ini, yang memiliki
tubuh menggairahkan, yang hampir telanjang, sama sekali tidak dapat
menggerakkan nafsu berahinya, tidak mendatangkan gairah di hatinya, ia
melalukan kekejaman itu terdorong nafsu dendam semata.
Andaikata
Listyokumolo melakukan perlawanan, belum tentu ia akan melanjutkan niatnya
menggagahi wanita ini. Akan tetapi sikap Listyokumolo yang menyerah, bahkan ada
sinar mata gairah penuh pengharapan itu, membuat ia menjadi muak dan
seakan-akan jantungnya ditembus keris. Ia teringat akan isterinya. Agaknya
begini pula sikap isterinya ketika digagahi Wisangjiwo. Menyerah! Dengan alasan
tidak berdaya, namun di sudut hatinya mengalami kesenangan, kepuasan dan
kegembiraan seperti perempuan ini! Ia muak! Muak dan marah sekali, makin sakit
hati terhadap peristiwa nista di dalam guha ini di malam gelap itu.
"Pujo,
terserah hendak kauapakan diriku, aku menurut. Asal jangan engkau ganggu
anakku. Malah aku siap sedia ikut denganmu, ke manapun kaubawa. Aku bersedia
melayanimu selamanya, biar aku tidak kembali ke kadipaten. Kau kehilangan
isterimu karena Wisangjiwo? Nah, ambillah aku sebagai gantinya dan peliharalah
anakku......."
"Tutup
mulut!" Pujo membentak dan kini matanya beralih kepada anak itu.
Joko Wandiro
yang sudah berusia setahun itu agaknya kaget oleh suara ribut-ribut dan bangun,
lalu duduk. Ia menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan.
"Ibu.......!"
Ia berseru girang ketika melihat ibunya berada di situ.
"Joko.......
anakku.......!" Listyokumolo hendak menghampiri anaknya, akan tetapi Pujo
menghardik,
"Mundur!
Jangan sentuh dia!"
"Pujo......
ampuni dia...... ah, jangan kauganggu dia, Pujo.....!"
"Perempuan
rendah! Akan kuapakan dia tak perlu kau ribut-ribut!"
"Jangan.......!
Pujo, kau lihatlah aku. Lihat, aku siap melakukan semua perintahmu. Kau
ambillah aku, aku akan melayanimu dengan senang hati, aku akan mentaati semua
perintahmu, memenuhi semua keinginanmu. Pujo, lihatlah, aku cukup cantik, aku
dapat membahagiakan hidupmu!"
Seperti
seorang gila Listyokumolo merenggut sisa pakaiannya, lalu menghampiri Pujo dan
hendak memeluknya. Lenyap semua gairah pada sinar mata Listyokumolo. Kini apa
yang ia lakukan adalah dorongan hasrat ingin menyelamatkan anaknya semata.
Pengorbanan seorang ibu untuk anaknya, apapun juga akan ia lakukan untuk
keselamatan anaknya. Berbeda dengan tadi karena perasaan suci itu dikotori
hasrat hati melayani Pujo yang memang tampan dan sebagian pula untuk membalas
suaminya yang sudah terlalu banyak menyakiti hatinya.
Sekarang semua
tindakannya bebas daripada segala macam nafsu, semata-mata untuk memindah kan
perhatian dan keinginan Pujo dari anaknya, agar anaknya terbebas daripada maut
yang sudah mengancam. Pujo sengaja diam saja. Bibirnya tersenyum mengejek
ketika menyaksikan betapa wanita cantik itu mendekapnya, membelainya dan
berusaha menarik perhatiannya. Makin muak perutnya. Bukan muak terhadap wanita
ini, melainkan terhadap isterinya!.
Pandang
matanya seakan-akan sudah kabur. Wajah Listyokumolo sudah berubah menjadi wajah
isterinya! Dengan perasaan gemas ia menjambak rambut yang hitam halus dan panjang
itu, lalu mendorong tubuh wanita itu sampai terguling. Ia meludah ke arah
Listyokumolo, kemudian kembali melirik Joko Wandiro yang mulai menangis. Tak
dapat ia membalas dengan cara begini, pikirnya. Tak mungkin ia melakukan
perbuatan keji dan rendah itu terhadap wanita ini, sungguhpun semata hanya
untuk menyakitkan hati Wisangjiwo. Ada jalan lain! Anak itu! Tentu akan hancur
sekali hati Wisangjiwo kalau puteranya hilang. Lebih hebat lagi, ia akan
mendidik bocah ini menjadi seorang gemblengan, kemudian ia akan menggoreskan
dalam batin anak itu bahwasanya Wisangjiwo adalah musuh besar yang harus
dilawannya dan dibunuhnya! Ha-ha, alangkah manis pembalasan dendam itu!
Tiba-tiba Pujo melompat menyambar tubuh Joko Wandiro, memondongnya dan
membawanya lari keluar guha.
"Jangan.......!
Anakku....... aahhh.....! "
Listyokumolo
terguling roboh lagi oleh tendangan Pujo ketika ibu ini berusaha menghadang.
Ketika ia bangkit kembali dan lari keluar guha, Pujo dan puteranya sudah lenyap
tak tampak lagi bayangannya. Hanya masih terdengar tangis anaknya dari jauh,
dari balik batu karang akan tetapi hanya sebentar, lalu sunyi. Hanya debur
ombak menghantam karang yang terdengar, menelan suara jerit tangis Listyokumolo
yang kemudian menggeletak pingsan di dalam Guha Siluman.
Angin laut
bertiup keras, ombakpun makin mengganas, seakan-akan ombak dan angin ikut pula
murka dan berduka menyaksikan polah-tingkah manusia yang ditakdirkan menjadi
mahkluk termulia di antara segala mahkluk di dalam dunia ini. Di bawah ombak
yang mengganas, ikan besar menelan ikan kecil, dan yang kecil menelan yang
lebih kecil lagi. Menelan bulat-bulat. Ikan menelan ikan lain karena desakan
kebutuhan hidup, karena lapar dan karena sudah semestinya. Manusia melakukan
kejahatan terhadap sesamanya untuk menuruti nafsu!.
Lewat tengah
hari, sepasukan pengawal yang dipimpin Jokowanengpati menuruni gunung karang
yang amat curam itu menuju ke Guha Siluman. Memang disengaja oleh
Jokowanengpati yang dapat menduga ke mana perginya Pujo dengan ibu dan anak
yang diculiknya. Sengaja ia memperlambat pengejaran sehingga baru setelah lewat
tengah hari mereka tiba di pantai karang depan Guha Siluman. Dan di antara batu
karang itulah mereka mendapatkan Listyokumolo, dengan pakaian setengah
telanjang, menjerit-jerit dan menangis memanggil-manggil nama Joko Wandiro.
Tidak tampak adanya Pujo dan Joko Wandiro. Ketika wanita itu ditegur,
Listyokumolo menjadi ketakutan dan hendak melarikan diri sambil menjerit-jerit.
Terpaksa para pengawal menggunakan kekerasan menangkapnya dan dengan paksa
membawanya naik untuk pulang kembali ke Selopenangkep. Listyokumolo terguncang
batinnya dan ia menjadi setengah gila!.
Ketika pasukan
pengawal yang dipimpin Jokowanengpati tiba di Kadipaten Selopenangkep membawa
Listyokumolo yang kadang-kadang menjerit-jerit dan meronta-ronta, kadang-kadang
tertawa dan berlagak dengan genitnya itu, suasana kadipaten sedang diliputi
kabut kedukaan.
No comments:
Post a Comment