Badai Laut Selatan ; Bagian 019



Ternyata kemudian oleh Jokowanengpati bahwa Roro Luhito telah oncat (minggat) dari kadipaten tanpa meninggalkan jejak!. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan batin yang diderita Adipati Joyowiseso dan keluarganya ketika mereka menyaksikan keadaan Listyokumolo yang terganggu otaknya itu. Dan semua ini gara-gara perbuatan Pujo, nama yang dikutuk oleh keluarga kadipaten, dibenci dan diancam. Adipati Joyowiseso sendiri sampai hampir gila oleh amarah. Setelah Listyokumolo dipaksa masuk ke dalam kamar oleh ibu mertuanya, Adipati Joyowiseso menghunus kerisnya, mencak-mencak dan berteriak-teriak ke arah pintu kadipaten yang kosong.
"Iblis laknat Pujo! Ke sinilah kamu, mari hadapi aku, Adipati Joyowiseso! Kita bertanding sampai seorang di antara kita mati! Jangan mengganggu wanita, keparat!"
Matanya melotot lebar hampir terlompat keluar dari pelupuknya, sepasang kumis tebal bergerak-gerak, giginya berkerot, tangan yang memegang keris gemetar. Sikap sang adipati benar-benar menyeramkan dan andaikata Pujo ada di depannya, pasti akan diterjangnya mati-matian. Para pengawal hanya menundukkan muka, tidak ada yang berani menentang pandang mata sang adipati.
Hanya Jokowanengpati seorang yang berani mendekati Adipati Joyowiseso. Pemuda inipun merasa terpukul dan agak kecewa mendengar betapa Roro Luhito telah lolos dari kadipaten, padahal sudah pasti dara jelita itu akan terjatuh ke dalam pelukannya. Banyak sudah ia memperoleh wanita, baik gadis maupun janda, baik suka rela maupun paksa, akan tetapi belum pernah hatinya terguncang seperti terhadap puteri adipati ini. Belum pernah Jokowanengpati merindukan seorang wanita untuk kedua kalinya, akan tetapi kali ini, entah mengapa ia ingin selalu mendampingi Roro Luhito, tak ingin berpisah lagi. Hatinya sama sekali tidak peduli melihat kenyataan betapa seluruh keluarga kadipaten terbenam dalam kedukaan akibat perbuatannya, akan tetapi mendengar akan perginya Roro Luhito dari kadipaten, hatinya yang sekeras baja menjadi lunak oleh kekecewaan dan kekhawatiran.
"Paman adipati, harap suka tenang dan bersabar," Jokowanengpati membujuk.
"Mana aku bisa tenang sebelum mencacah isi perut Pujo si jahanam?!?" Adipati Joyowiseso membentak.
"Tenanglah, paman, dan harap suka sarungkan keris paman. Saya berjanji untuk mencari dan mendapatkan kembali diajeng Roro Luhito."
"Bukan hanya Luhito yang menjadikan hatiku berduka."

Adipati Joyowiseso menarik napas panjang dan kembali duduk di atas kursi, Jokowanengpati duduk menghadapinya. Dengan gerak tangannya adipati itu menyuruh semua orang mundur agar ia dapat bicara berdua dengan pemuda yang menjadi harapannya. Setelah semua orang pergi ia berkata,
"Anakmas Jokowanengpati, engkaulah satu-satunya orang yang kupercaya dan kepadamulah kutumpahkan harapanku. Anakmas tahu, Joko Wandiro adalah cucuku satu-satunya, cucu laki-laki. Dia terculik oleh si keparat Pujo. Ah, ke mana perginya anak kurang ajar Wisangjiwo? Dia ngelayap (keluyuran) tak tentu rimbanyal Kalau dia berada di rumah, dengan bantuanmu tentu akan cukup kuat mencegah terjadinya malapetaka ini."
"Kurasa percuma, paman. Kalau hanya Pujo seorang, sayapun cukup kuat untuk menghadapinya. Akan tetapi karena paman Resi Bhargowo ikut campur tangan, saya kira biarpun ada kangmas Wisangjiwo di sini, kita takkan kuat melawannya."
"Hehhh....... kalau begitu, bagaimana baiknya?"
"Harap paman tenang. Saya kira si laknat Pujo tidak akan membunuh Joko Wandiro. Tentu niatnya menculik kakang mbok Listyokumolo hanya untuk....... hemm, si keparat jahanam! Tentu hanya untuk menggagahinya seperti yang telah ia lakukan, setan!"
Jokowanengpati sengaja mengucapkan kata-kata fitnah ini sungguhpun sebagai seorang laki-laki yang sudah berpengalaman ia dapat menduga bahwa Pujo tidak melakukan perkosaan terhadap isteri Wisangjiwo. Ia sengaja mengemukakan hal ini untuk menambah api sakit hati pada Adipati Joyowiseso. Dan memang usahanya ini berhasil baik karena muka si adipati menjadi merah sekali, tangan kanannya mengepal dan meninju meja.
"Kalau kudapatkan dia, akan kuhancurkan kepalanya dengan tanganku sendiri!" desis adipati itu.
"Kakangmbok Listyokumolo sudah pulang dengan selamat biarpun tercemar dan terganggu batinnya. Adapun Joko Wandiro yang terculik, saya rasa Pujo tidak akan membunuhnya. Andaikata ada niat jahat itu di hatinya, mengapa tidak ia bunuh di sini atau di dalam guha? Tentu ada maksud tersembunyi dan Joko Wandiro masih selamat. Akan tetapi untuk menghadapi Pujo, terutama sekali Resi Bhargowo yang sakti mandraguna itu, tidak ada jalan lain kecuali melaporkan mereka sebagai pemberontak-pemberontak ke Mataram. Hanya para Empu di Mataram yang agaknya akan sanggup menghadapi dan menangkap Resi Bhargowo."

Adipati Joyowiseso mengangguk-angguk akan tetapi keningnya berkerut. Minta bantuan ke Mataram? Sungguh berlawanan dengan rencananya, rencana rahasia di dalam hati yang selama ini ia pendam, yang sudah hampir ia matangkan dengan beberapa orang tokoh di utara dan barat, yang sudah mulai dipersiapkan, yaitu rencana memberontak terhadap Mataram! Akan tetapi, Jokowanengpati adalah murid Empu Bharodo seorang tokoh Mataram, tentu seorang yang berpihak Mataram. Bagaimana ia dapat mengutarakan rahasia hatinya?.
"Urusan ini biarpun amat besar bagi kami sekeluarga, namun tetap merupakan urusan pribadi yang tentu tidak ada artinya bagi Mataram. Agaknya belum tentu mendapat perhatian sang prabu di Mataram," katanya.
"Kalau kita laporkan bahwa Pujo dan Resi Bhargowo mempunyai niat memberontak, tentu akan mendapat perhatian besar," bantah Jokowanengpati.
"Akan tetapi, lebih baik aku minta bantuan beberapa orang sahabat yang kiranya cukup tangguh untuk menghadapi Resi Bhargowo. Guru Wisangjiwo, Ni Durgogini amat sakti, sungguhpun dia merupakan seorang pertapa aneh yang tidak mau mencampuri urusan dunia, namun apabila Wisangjiwo yang minta, kiraku Ni Durgogini akan mau turun tangan. Di sampingnya masih ada Ni Nogogini yang terkenal sebagai wanita sakti di Laut Selatan. Juga, apabila aku mengundang warok Gendroyono, tentu ia akan suka membantu."
Jokowanengpati tersenyum lebar.
"Kiranya paman adipati mempunyai sahabat-sahabat yang demikian sakti. Nama besar ketiga orang tokoh itu tentu saja pernah saya dengar. Agaknya paman ragu-ragu untuk minta bantuan Mataram. Apakah hal ini ada hubungannya dengan ucapan Pujo ketika hendak dihukum perapat?"
Berubah wajah Adipati Joyowiseso. Ia menatap wajah tamunya dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Apa maksud anakmas? Ucapan yang mana?"
"Ucapan bahwa penaklukan paman adipati terhadap Mataram hanya pada lahirnya saja, sedangkan pada batinnya menentang."

Serentak Adipati Joyowiseso bangkit berdiri, tangan kanannya meraba gagang kerisnya dan mulutnya sudah siap meneriaki pengawal.
"Itu bohong! Apakah anakmas lebih percaya pada mulut seorang jahat seperti Pujo?!" Sepasang mata adipati itu seakan-akan hendak menembus dan menjenguk isi hati Jokowanengpati.
Pemuda itu tenang-tenang saja bahkan tersenyum melihat sikap sang adipati. Kini ia mengangguk dan berkata,
"Aku percaya akan apa yang diucapkan Pujo itu dan aku amat girang karenanya."
Adipati Joyowiseso terkejut bukan main, akan tetapi ekor kalimat itu membuatnya terheran.
"Apa..... apa maksud anakmas.......??"
"Harap paman adipati suka menyarungkan kembali keris itu dan marilah duduk dengan tenang. Saya bukanlah musuh paman, dan terutama sekali dalam hal menghadapi Mataram kita berada di satu pihak. Saya sendiripun ingin sekali melihat jatuhnya Mataram, paman adipati "
Namun, Adipati Joyowiseso bukanlah seorang yang bodoh dan sembrono. Ia cukup maklum akan bahayanya percakapan seperti ini, apalagi mengingat bahwa pemuda di depannya adalah murid Empu Bharodo yang menjadi tokoh di Mataram, ia tidak mau mempercaya keterangan aneh ini begitu saja. Setelah duduk ia lalu berkata,
"Harap anakmas jangan berkelakar. Saya adalah seorang adipati di Selopenangkep yang menerima anugerah gusti prabu di Mataram menjadi penguasa di sini, sedangkan anakmas adalah seorang senopati (panglima) muda yang telah berjasa dalam perang. Bagaimana anakmas dapat bercakap-cakap dengan saya tentang hal-hal yang tidak semestinya itu?"
Senyum di bibir Jokowanengpati melebar.
"Paman adipati, harap paman jangan khawatir, karena kita sehaluan. Terus terang saja saya mengaku di depan paman, bahwa saya sendiri merasa sakit hati kepada Mataran dan mencari kesempatan untuk membalas dendam. Saya benci kepada Sang Prabu Airlangga dan Sang Patih Narotama yang pilih kasih dan tidak pandai menghargai jasa orang!"
Adipati Joyowiseso makin kaget dan heran.
"Anakmas, mengapa bisa berkata demikian? Gusti prabu terkenal bijaksana, mulia, dan waspada. Sedangkan Gusti Rakyana Patih Kanuruhan (Narotama) adalah seorang yang sakti mandraguna, setia dan adil!"
"Saya harap pamanda adipati tidak berpura-pura lagi. Sayapun sudah berterus terang. Seperti paman ketahui, dalam perang yang terakhir, saya ikut berjuang membela Mataram, apalagi dalam usaha menundukkan raja-raja muda di pantai utara. Akan tetapi, setelah perang berakhir dan semua pejuang menerima pahala, saya seorang dilupakan oleh sang prabu. Bahkan ketika saya mengadukan hal ini kepada guru saya, Empu Bharodo malah memarahi dan mengusir saya. Saya tahu, hal itu adalah gara-gara sang patih yang memang menaruh iri hati kepada saya. Oleh karena itu, sebelum berhasil meruntuhkan Mataram dan melihat Patih Kanuruhan serta sang prabu terjungkal dari tahta, belum puas hati saya!"

Mendengar ini, Adipati Selopenangkep itu tidak merasa ragu-ragu lagi. Ia memegang lengan tangan. Jokowanengpati dan berkata girang,
"Ah, siapa kira, kita bersatu haluan, anakmas! Akan tetapi, agaknya sakit hati dan cita-cita kita ini hanya akan tetap tinggal menjadi penyakit di dalam hati. Satu-satunya harapanku tadinya adalah Kerajaan Sriwijaya yang menjadi musuh lama Mataram. Akan tetapi setelah Sang Prabu Airlangga memperisteri puteri dari Kerajaan Sriwijaya, lenyaplah harapanku. Di antara kedua kerajaan itu telah ada ikatan keluarga, maka tidak mungkin kita mengharapkan. Kerajaan Sriwijaya lagi."
"Memang wawasan pamanda adipati benar. Akan tetapi, masih banyak jalan menuju ke terlaksananya cita-cita kita. Bukan hanya Kerajaan Sriwijaya yang menjadi musuh Mataram. Para raja muda di pantai utara, para adipati yang ditundukkan dengan kekerasan oleh Mataram, tidak semua di antara mereka takluk dengan tulus ikhlas, tepat seperti kata-kata orang cerdik pandai, bahwa orang ditundukkan oleh perang, hanya tunduk karena kalah, tunduk pura-pura yang tidak dapat dipercaya. Nah, kalau kita mengadakan sekutu dengan mereka, keadaan kita akan cukup kuat, paman adipati."
Adipati Joyowiseso tertawa gembira dan menepuk-nepuk bahu pemuda itu.
"Ah, alangkah senang hatiku menemukan seorang sekutu seperti anakmas yang luas pengetahuan lebar pandangan dan tinggi ilmu kesaktian. Ternyata cocok sekali pendapat kita. Akupun sudah mengadakan hubungan dengan banyak tokoh penting, anakmas, di antaranya seperti telah kusebutkan tadi adalah Warok Gendroyono dari Ponorogo yang pernah menerima hukuman dari Mataram sehingga mengandung dendam, dan selain guru puteraku sendiri Ni Durgogini dan Ni Nogogini adiknya, masih ada lagi seorang tokoh yang siap menjadi tulang punggung, yaitu Ki Krendroyakso di Bagelen!"
"Wah, hebat! Ki Krendoyakso raja sekalian bajak begal dan maling dengan anak buahnya yang ribuan orang banyaknya! Bagus sekali, paman. Semua pembantu itu dapat ditambah dengan banyak senopati dan raja muda taklukan Mataram yang ingin memberontak, dan untuk memperlengkap deretan orang sakti yang membantu, saya dapat mengajukan seorang sakti mandraguna yang tak seorangpun mengenal nama aslinya, hanya dikenal dengan nama julukan Cekel Aksomolo (Cantrik Bertasbih) yang bertapa di hutan Wredo di lereng Gunung Wilis."
Adipati Joyowiseso merasa girang bukan main. Diperintahkannya para pelayan untuk mengeluarkan minuman keras dan makanan, dijamunya pemuda itu dengan keakraban baru karena pemuda ini selain penolong dan calon mantu, juga merupakan seorang sekutu yang boleh diandalkan. Agak terhiburlah hatinya yang tadi penuh amarah dan duka oleh malapetaka yang menimpa keluarganya.
"Nah, kau mengerti sekarang mengapa aku merasa ragu untuk minta bantuan Mataram dalam menghadapi Pujo, anakmas."
"Paman adipati, saya rasa paman keliru dalam hal ini. Kita harus mengerti bahwa Pujo dan Resi Bhargowo adalah orang-orang yang setia kepada Mataram. Buktinya dahulu ketika paman melawan barisan Mataram, orang-orang Sungapan itu tidak mau membantu, kan? Dan memang tidak aneh karena Resi Bhargowo adalah adik seperguruan guru saya, Empu Bharodo. Jadi terang bahwa mereka guru dan murid adalah orang Mataram. Kita bercita-cita membalas dan memukul Mataram, juga mempunyai dendam terhadap Pujo dan gurunya.

<<< Bagian 018                                                                                    Bagian 020 >>>

No comments:

Post a Comment