Ternyata
kemudian oleh Jokowanengpati bahwa Roro Luhito telah oncat (minggat) dari
kadipaten tanpa meninggalkan jejak!. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan
batin yang diderita Adipati Joyowiseso dan keluarganya ketika mereka
menyaksikan keadaan Listyokumolo yang terganggu otaknya itu. Dan semua ini
gara-gara perbuatan Pujo, nama yang dikutuk oleh keluarga kadipaten, dibenci
dan diancam. Adipati Joyowiseso sendiri sampai hampir gila oleh amarah. Setelah
Listyokumolo dipaksa masuk ke dalam kamar oleh ibu mertuanya, Adipati
Joyowiseso menghunus kerisnya, mencak-mencak dan berteriak-teriak ke arah pintu
kadipaten yang kosong.
"Iblis
laknat Pujo! Ke sinilah kamu, mari hadapi aku, Adipati Joyowiseso! Kita
bertanding sampai seorang di antara kita mati! Jangan mengganggu wanita,
keparat!"
Matanya
melotot lebar hampir terlompat keluar dari pelupuknya, sepasang kumis tebal
bergerak-gerak, giginya berkerot, tangan yang memegang keris gemetar. Sikap
sang adipati benar-benar menyeramkan dan andaikata Pujo ada di depannya, pasti
akan diterjangnya mati-matian. Para pengawal hanya menundukkan muka, tidak ada
yang berani menentang pandang mata sang adipati.
Hanya
Jokowanengpati seorang yang berani mendekati Adipati Joyowiseso. Pemuda inipun
merasa terpukul dan agak kecewa mendengar betapa Roro Luhito telah lolos dari
kadipaten, padahal sudah pasti dara jelita itu akan terjatuh ke dalam
pelukannya. Banyak sudah ia memperoleh wanita, baik gadis maupun janda, baik
suka rela maupun paksa, akan tetapi belum pernah hatinya terguncang seperti
terhadap puteri adipati ini. Belum pernah Jokowanengpati merindukan seorang
wanita untuk kedua kalinya, akan tetapi kali ini, entah mengapa ia ingin selalu
mendampingi Roro Luhito, tak ingin berpisah lagi. Hatinya sama sekali tidak
peduli melihat kenyataan betapa seluruh keluarga kadipaten terbenam dalam
kedukaan akibat perbuatannya, akan tetapi mendengar akan perginya Roro Luhito
dari kadipaten, hatinya yang sekeras baja menjadi lunak oleh kekecewaan dan
kekhawatiran.
"Paman
adipati, harap suka tenang dan bersabar," Jokowanengpati membujuk.
"Mana aku
bisa tenang sebelum mencacah isi perut Pujo si jahanam?!?" Adipati
Joyowiseso membentak.
"Tenanglah,
paman, dan harap suka sarungkan keris paman. Saya berjanji untuk mencari dan
mendapatkan kembali diajeng Roro Luhito."
"Bukan
hanya Luhito yang menjadikan hatiku berduka."
Adipati
Joyowiseso menarik napas panjang dan kembali duduk di atas kursi,
Jokowanengpati duduk menghadapinya. Dengan gerak tangannya adipati itu menyuruh
semua orang mundur agar ia dapat bicara berdua dengan pemuda yang menjadi
harapannya. Setelah semua orang pergi ia berkata,
"Anakmas
Jokowanengpati, engkaulah satu-satunya orang yang kupercaya dan kepadamulah
kutumpahkan harapanku. Anakmas tahu, Joko Wandiro adalah cucuku satu-satunya,
cucu laki-laki. Dia terculik oleh si keparat Pujo. Ah, ke mana perginya anak
kurang ajar Wisangjiwo? Dia ngelayap (keluyuran) tak tentu rimbanyal Kalau dia
berada di rumah, dengan bantuanmu tentu akan cukup kuat mencegah terjadinya
malapetaka ini."
"Kurasa
percuma, paman. Kalau hanya Pujo seorang, sayapun cukup kuat untuk
menghadapinya. Akan tetapi karena paman Resi Bhargowo ikut campur tangan, saya
kira biarpun ada kangmas Wisangjiwo di sini, kita takkan kuat melawannya."
"Hehhh.......
kalau begitu, bagaimana baiknya?"
"Harap
paman tenang. Saya kira si laknat Pujo tidak akan membunuh Joko Wandiro. Tentu
niatnya menculik kakang mbok Listyokumolo hanya untuk....... hemm, si keparat
jahanam! Tentu hanya untuk menggagahinya seperti yang telah ia lakukan,
setan!"
Jokowanengpati
sengaja mengucapkan kata-kata fitnah ini sungguhpun sebagai seorang laki-laki
yang sudah berpengalaman ia dapat menduga bahwa Pujo tidak melakukan perkosaan
terhadap isteri Wisangjiwo. Ia sengaja mengemukakan hal ini untuk menambah api
sakit hati pada Adipati Joyowiseso. Dan memang usahanya ini berhasil baik
karena muka si adipati menjadi merah sekali, tangan kanannya mengepal dan
meninju meja.
"Kalau
kudapatkan dia, akan kuhancurkan kepalanya dengan tanganku sendiri!" desis
adipati itu.
"Kakangmbok
Listyokumolo sudah pulang dengan selamat biarpun tercemar dan terganggu
batinnya. Adapun Joko Wandiro yang terculik, saya rasa Pujo tidak akan
membunuhnya. Andaikata ada niat jahat itu di hatinya, mengapa tidak ia bunuh di
sini atau di dalam guha? Tentu ada maksud tersembunyi dan Joko Wandiro masih
selamat. Akan tetapi untuk menghadapi Pujo, terutama sekali Resi Bhargowo yang
sakti mandraguna itu, tidak ada jalan lain kecuali melaporkan mereka sebagai
pemberontak-pemberontak ke Mataram. Hanya para Empu di Mataram yang agaknya
akan sanggup menghadapi dan menangkap Resi Bhargowo."
Adipati
Joyowiseso mengangguk-angguk akan tetapi keningnya berkerut. Minta bantuan ke
Mataram? Sungguh berlawanan dengan rencananya, rencana rahasia di dalam hati
yang selama ini ia pendam, yang sudah hampir ia matangkan dengan beberapa orang
tokoh di utara dan barat, yang sudah mulai dipersiapkan, yaitu rencana
memberontak terhadap Mataram! Akan tetapi, Jokowanengpati adalah murid Empu
Bharodo seorang tokoh Mataram, tentu seorang yang berpihak Mataram. Bagaimana
ia dapat mengutarakan rahasia hatinya?.
"Urusan
ini biarpun amat besar bagi kami sekeluarga, namun tetap merupakan urusan
pribadi yang tentu tidak ada artinya bagi Mataram. Agaknya belum tentu mendapat
perhatian sang prabu di Mataram," katanya.
"Kalau
kita laporkan bahwa Pujo dan Resi Bhargowo mempunyai niat memberontak, tentu
akan mendapat perhatian besar," bantah Jokowanengpati.
"Akan
tetapi, lebih baik aku minta bantuan beberapa orang sahabat yang kiranya cukup
tangguh untuk menghadapi Resi Bhargowo. Guru Wisangjiwo, Ni Durgogini amat
sakti, sungguhpun dia merupakan seorang pertapa aneh yang tidak mau mencampuri
urusan dunia, namun apabila Wisangjiwo yang minta, kiraku Ni Durgogini akan mau
turun tangan. Di sampingnya masih ada Ni Nogogini yang terkenal sebagai wanita
sakti di Laut Selatan. Juga, apabila aku mengundang warok Gendroyono, tentu ia
akan suka membantu."
Jokowanengpati
tersenyum lebar.
"Kiranya
paman adipati mempunyai sahabat-sahabat yang demikian sakti. Nama besar ketiga
orang tokoh itu tentu saja pernah saya dengar. Agaknya paman ragu-ragu untuk
minta bantuan Mataram. Apakah hal ini ada hubungannya dengan ucapan Pujo ketika
hendak dihukum perapat?"
Berubah wajah
Adipati Joyowiseso. Ia menatap wajah tamunya dengan pandang mata tajam penuh
selidik.
"Apa
maksud anakmas? Ucapan yang mana?"
"Ucapan
bahwa penaklukan paman adipati terhadap Mataram hanya pada lahirnya saja,
sedangkan pada batinnya menentang."
Serentak
Adipati Joyowiseso bangkit berdiri, tangan kanannya meraba gagang kerisnya dan
mulutnya sudah siap meneriaki pengawal.
"Itu
bohong! Apakah anakmas lebih percaya pada mulut seorang jahat seperti
Pujo?!" Sepasang mata adipati itu seakan-akan hendak menembus dan
menjenguk isi hati Jokowanengpati.
Pemuda itu
tenang-tenang saja bahkan tersenyum melihat sikap sang adipati. Kini ia
mengangguk dan berkata,
"Aku
percaya akan apa yang diucapkan Pujo itu dan aku amat girang karenanya."
Adipati
Joyowiseso terkejut bukan main, akan tetapi ekor kalimat itu membuatnya
terheran.
"Apa.....
apa maksud anakmas.......??"
"Harap
paman adipati suka menyarungkan kembali keris itu dan marilah duduk dengan
tenang. Saya bukanlah musuh paman, dan terutama sekali dalam hal menghadapi
Mataram kita berada di satu pihak. Saya sendiripun ingin sekali melihat
jatuhnya Mataram, paman adipati "
Namun, Adipati
Joyowiseso bukanlah seorang yang bodoh dan sembrono. Ia cukup maklum akan
bahayanya percakapan seperti ini, apalagi mengingat bahwa pemuda di depannya
adalah murid Empu Bharodo yang menjadi tokoh di Mataram, ia tidak mau
mempercaya keterangan aneh ini begitu saja. Setelah duduk ia lalu berkata,
"Harap
anakmas jangan berkelakar. Saya adalah seorang adipati di Selopenangkep yang
menerima anugerah gusti prabu di Mataram menjadi penguasa di sini, sedangkan
anakmas adalah seorang senopati (panglima) muda yang telah berjasa dalam
perang. Bagaimana anakmas dapat bercakap-cakap dengan saya tentang hal-hal yang
tidak semestinya itu?"
Senyum di
bibir Jokowanengpati melebar.
"Paman
adipati, harap paman jangan khawatir, karena kita sehaluan. Terus terang saja
saya mengaku di depan paman, bahwa saya sendiri merasa sakit hati kepada
Mataran dan mencari kesempatan untuk membalas dendam. Saya benci kepada Sang
Prabu Airlangga dan Sang Patih Narotama yang pilih kasih dan tidak pandai
menghargai jasa orang!"
Adipati
Joyowiseso makin kaget dan heran.
"Anakmas,
mengapa bisa berkata demikian? Gusti prabu terkenal bijaksana, mulia, dan
waspada. Sedangkan Gusti Rakyana Patih Kanuruhan (Narotama) adalah seorang yang
sakti mandraguna, setia dan adil!"
"Saya
harap pamanda adipati tidak berpura-pura lagi. Sayapun sudah berterus terang.
Seperti paman ketahui, dalam perang yang terakhir, saya ikut berjuang membela
Mataram, apalagi dalam usaha menundukkan raja-raja muda di pantai utara. Akan
tetapi, setelah perang berakhir dan semua pejuang menerima pahala, saya seorang
dilupakan oleh sang prabu. Bahkan ketika saya mengadukan hal ini kepada guru
saya, Empu Bharodo malah memarahi dan mengusir saya. Saya tahu, hal itu adalah
gara-gara sang patih yang memang menaruh iri hati kepada saya. Oleh karena itu,
sebelum berhasil meruntuhkan Mataram dan melihat Patih Kanuruhan serta sang
prabu terjungkal dari tahta, belum puas hati saya!"
Mendengar ini,
Adipati Selopenangkep itu tidak merasa ragu-ragu lagi. Ia memegang lengan
tangan. Jokowanengpati dan berkata girang,
"Ah,
siapa kira, kita bersatu haluan, anakmas! Akan tetapi, agaknya sakit hati dan
cita-cita kita ini hanya akan tetap tinggal menjadi penyakit di dalam hati.
Satu-satunya harapanku tadinya adalah Kerajaan Sriwijaya yang menjadi musuh
lama Mataram. Akan tetapi setelah Sang Prabu Airlangga memperisteri puteri dari
Kerajaan Sriwijaya, lenyaplah harapanku. Di antara kedua kerajaan itu telah ada
ikatan keluarga, maka tidak mungkin kita mengharapkan. Kerajaan Sriwijaya
lagi."
"Memang
wawasan pamanda adipati benar. Akan tetapi, masih banyak jalan menuju ke
terlaksananya cita-cita kita. Bukan hanya Kerajaan Sriwijaya yang menjadi musuh
Mataram. Para raja muda di pantai utara, para adipati yang ditundukkan dengan
kekerasan oleh Mataram, tidak semua di antara mereka takluk dengan tulus
ikhlas, tepat seperti kata-kata orang cerdik pandai, bahwa orang ditundukkan
oleh perang, hanya tunduk karena kalah, tunduk pura-pura yang tidak dapat
dipercaya. Nah, kalau kita mengadakan sekutu dengan mereka, keadaan kita akan
cukup kuat, paman adipati."
Adipati
Joyowiseso tertawa gembira dan menepuk-nepuk bahu pemuda itu.
"Ah,
alangkah senang hatiku menemukan seorang sekutu seperti anakmas yang luas
pengetahuan lebar pandangan dan tinggi ilmu kesaktian. Ternyata cocok sekali
pendapat kita. Akupun sudah mengadakan hubungan dengan banyak tokoh penting,
anakmas, di antaranya seperti telah kusebutkan tadi adalah Warok Gendroyono
dari Ponorogo yang pernah menerima hukuman dari Mataram sehingga mengandung
dendam, dan selain guru puteraku sendiri Ni Durgogini dan Ni Nogogini adiknya,
masih ada lagi seorang tokoh yang siap menjadi tulang punggung, yaitu Ki
Krendroyakso di Bagelen!"
"Wah,
hebat! Ki Krendoyakso raja sekalian bajak begal dan maling dengan anak buahnya
yang ribuan orang banyaknya! Bagus sekali, paman. Semua pembantu itu dapat
ditambah dengan banyak senopati dan raja muda taklukan Mataram yang ingin
memberontak, dan untuk memperlengkap deretan orang sakti yang membantu, saya
dapat mengajukan seorang sakti mandraguna yang tak seorangpun mengenal nama
aslinya, hanya dikenal dengan nama julukan Cekel Aksomolo (Cantrik Bertasbih)
yang bertapa di hutan Wredo di lereng Gunung Wilis."
Adipati
Joyowiseso merasa girang bukan main. Diperintahkannya para pelayan untuk
mengeluarkan minuman keras dan makanan, dijamunya pemuda itu dengan keakraban
baru karena pemuda ini selain penolong dan calon mantu, juga merupakan seorang
sekutu yang boleh diandalkan. Agak terhiburlah hatinya yang tadi penuh amarah
dan duka oleh malapetaka yang menimpa keluarganya.
"Nah, kau
mengerti sekarang mengapa aku merasa ragu untuk minta bantuan Mataram dalam
menghadapi Pujo, anakmas."
"Paman
adipati, saya rasa paman keliru dalam hal ini. Kita harus mengerti bahwa Pujo
dan Resi Bhargowo adalah orang-orang yang setia kepada Mataram. Buktinya dahulu
ketika paman melawan barisan Mataram, orang-orang Sungapan itu tidak mau
membantu, kan? Dan memang tidak aneh karena Resi Bhargowo adalah adik
seperguruan guru saya, Empu Bharodo. Jadi terang bahwa mereka guru dan murid
adalah orang Mataram. Kita bercita-cita membalas dan memukul Mataram, juga
mempunyai dendam terhadap Pujo dan gurunya.
No comments:
Post a Comment