Badai Laut Selatan ; Bagian 020



Adakah jalan yang lebih sempurna daripada mengadu domba mereka satu kepada yang lain? Biarlah mereka saling hantam, karena kalau mereka saling hantam, berarti akan melemahkan kedudukan mereka sehingga mudah bagi kita mencari kesempatan baik. Sebaliknya kalau mereka tidak diadu domba, kita akan harus menghadapi mereka bersama, tentu amat berat. Mengertikah paman adipati akan maksud saya?"
Wajah Adipati Joyowiseso berseri-seri dan ia memandang kagum kepada wajah yang tampan itu.
"Aku mengerti, anakmas. Memang tepat dan betul sekali rencanamu itu."

Dua orang sekutu ini bercakap-cakap dan mengatur siasat untuk melaksanakan niat pemberontakan mereka. Karena maklum betapa besar dan kuatnya bala tentara Mataram, maka dengan cerdik Jokowanengpati mengajukan siasat untuk melemahkan Mataram lebih dahulu dengan cara mengadu domba dan memecah-belah, kalau perlu menundukkan atau membunuh para tokohnya yang berkepandaian tinggi dengan dalih urusan pribadi. Karena hanya dengan cara mengalahkan, menundukkan, atau membunuh tokoh-tokoh sakti pembela Mataram sajalah kerajaan itu dapat dilemahkan dan mudah dipukul kelak kalau saatnya yang baik tiba. Makin lama mereka bercakap-cakap, makin tertarik dan kagumlah hati Adipati Joyowiseso akan kecakapan pemuda ini yang bukan hanya memiliki kesaktian hebat, juga ternyata memiliki kecerdikan dan siasat serta tipu muslihat yang amat berguna bagi pemberontakannya. Setiap hari mereka bercakap-cakap dan berunding sambil menantikan pulangnya Raden Wisanghjiwo. Setengah bulan kemudian datanglah Raden Wisangjiwo. Wajahnya berseri-seri ketika ia memasuki pendopo kadipaten dan melompat turun dari kudanya yang besar, yang segera disambut oleh para penjaga dan pelayan. Akan tetapi kegembiraannya segera lenyap seperti kabut disapu panas ketika ia bertemu ayahnya di ruang dalam. Ayahnya tengah duduk semeja dengan Jokowanengpati, dan melihat kedatangannya, ayahnya itu bangkit berdiri dengan mata melotot dan mulut melontarkan teguran keras.
"Bocah durhaka! Kau telah keluyuran ke mana saja? Mengapa masih ingat akan pulang? Kalau kau sudah tidak membutuhkan orang serumah ini, mengapa kau masih mau pulang?"
Merah wajah Wisangjiwo. Dimarahi ayahnya yang galak bukan apa-apa baginya, akan tetapi kali ini ia dimarahi di depan Jokowanengpati yang hanya seorang kenalan, berarti seorang tamu atau orang luar.
"Kanjeng rama (ayah), saya baru pulang dari kota raja......."
"Hemm, kau keluyuran ke sana mau apa? Enak ya bersenang-senang di kota raja sedangkan di rumah tertimpa malapetaka hebat!"
"Malapetaka? Apakah yang terjadi?"
"Pujo si pengecut datang mengamuk, ayahmu ini hamper terbunuh olehnya, kemudian anak isterimu diculiknya, isterimu sudah didapatkan kembali akan tetapi anakmu sampai sekarang lenyap. Adikmu Roro Luhito minggat. Semua itu terjadi dan kau berfoya-foya di kota raja!"
Muka yang tadinya berseri itu kini menjadi pucat. Tanpa menjawab lagi Wisangjiwo melompat lari menuju ke kamarnya untuk mendapatkan isterinya. Di situ ia disambut tangis ibunya dan para selir ayahnya. Listyokumolo, istrinya, rebah telentang dengan mata tak bergerak-gerak, bahkan ketika mata melirik ke arahnya, seakan-akan tidak mengenalnya lagi.

Bagi Wisangjiwo, Listyokumolo adalah seorang wanita cantik, seorang di antara wanita-wanita cantik yang lain yang menjadi kekasihnya. Bagi dia, isteri, selir maupun kekasih diluar, semua wanita bagaikan barang permainan yang menyenangkan, dan yang bertugas semata-mata sebagai pemuas nafsu, pelipur hati, pelepas dahaga. Lain tidak! Oleh karena wataknya inilah maka Listyokumolo merasai penderitaan batin setelah menjadi isteri putera adipati ini, dan oleh karena watak ini pula maka Wisangjiwo tidak menaruh perhatian akan nasib yang menimpa diri isterinya. Yang membuat ia gelisah adalah tentang puteranya.
"Nimas Listyokumolo!" Ia cepat-cepat menegur sambil memegang tangan isterinya, tidak mempedulikan para ibunya yang berada di situ,
"Di mana adanya Joko Wandiro anakku??"
Karena tangannya dipegang erat-erat dan diguncang-guncang, Listyokumolo menjadi terkejut. Ia menoleh, memandang aneh lalu menangis sambil berteriak-teriak,
"Kembalikan anakku.............! Kembalikan dan jangan ganggu anakku...., kau boleh perbuat sesukamu atas diriku, aku menyerahkan seluruh ragaku kepadamu..... tapi jangan ganggu Wandiro.....!! " Lalu menangis menggerung-gerung di atas pembaringan.
"Listyokumolo, di mana Joko Wandiro? Di mana dia?" Wisangjiwo mengguncang-guncang tubuh isterirya, namun jawaban Listyokumolo selalu sama.
Akhirnya ibunya datang memegang pundaknya dan berkata lembut,
"Tiada gunanya kau membentak-bentak anakku. Isterimu mengalami pukulan batin dan yang selalu diucapkan hanya itu-itu juga. Lebih baik kau lekas berunding dengan ayahmu dan cepat-cepat mencari sampai dapat puteramu Joko Wandiro."

Isteri adipati itu mengakhiri kata-katanya, dengan isak ditahan. Wisangjiwo menjadi lemas dan keluar dari kamar itu tanpa menoleh kepada isteri-nya lagi. Ia menuju ke ruangan tengah dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi di depan ayahnya, lalu menarik napas panjang.
"Kanjeng rama, apakah yang telah terjadi selama saya pergi? Dan saya lihat adimas Jokowanengpati hadir di sini, sudah lamakah, dimas?"
Jokowanengpati memandang tajam dan bibirnya sudah berkomat-kamit hendak menjawab, akan tetapi didahului Adipati Joyowiseso,
"Jika tidak ada anakmas Jokowanengpati, ramamu sudah menjadi jenazah sekarang!" Adipati Joyowiseso lalu menceritakan semua peristiwa yang menimpa keluarga kadipaten. Kemudian ia memandang puteranya dengan tajam sambil bertanya,
"Wisangjiwo, sebetulnya apakah yang terjadi antara engkau dan Pujo? Mengapa ia memusuhimu seperti itu?"
Sampai lama Wisangjiwo tidak dapat menjawab. Ia menjadi marah sekali. Mendengar betapa adik perempuannya diperkosa sehingga mungkin saking malu adiknya itu sampai lolos minggat dari kadipaten, mendengar betapa isterinya diculik dan menurut dugaan ayahnya juga diperkosa, hatinya menjadi panas. Tentang isterinya dirusak kehormatannya, ia dapat mencari lain wanita. Akan tetapi penghinaan itu sendiri yang membuat hatinya panas, apalagi penghinaan yang ditimpakan atas diri adiknya. Semua ini masih ditambah lagi dengan diculiknya Joko Wandiro, puteranya, benar-benar membuat dadanya bergolak dan sukar bagi orang muda ini untuk mengeluarkan suara menjawab pertanyaan ayahnya.
"Si keparat Pujo!" desisnya di antara dua baris gigi yang dirapatkan, kedua tangannya mengepal
"Akan kuhancurkan engkau!"
Adipati Joyowiseso tak sabar lagi.
"Wisangjiwo, simpan dulu kemarahanmu, tiada gunanya sekarang, sudah terlambat. Permusuhan apakah yang timbul antara engkau dan Pujo?"
Wisangjiwo menarik napas panjang.
"Sayang sekali, kanjeng rama, tidak kupadamkan saja api hidupnya pada waktu itu, padahal dia sudah berada di tangan saya, kalau saya mau membunuhnya tinggal mengayun tangan saja. Ah, mengapa saya bertindak kepalang tanggung waktu itu?"
"Hayo tuturkan, jangan putar-putar macam itu!" Ayahnya menegur kesal.
"Secara kebetulan sekali saya pergi ke Guha Siluman pada senja hari itu dan bertemu dengan Pujo dan isterinya yang bertapa di dalam guha dalam keadaan aneh sekali, yaitu mereka bertapa berhadapan bertelanjang bulat! Saya menegurnya dan kami bertanding. Isterinya, Kartikosari puteri Resi Bhargowo membantu suaminya. Untung sekali saya dapat mendahului mereka sehingga saya dapat memukul mereka pingsan!"
Adipati Joyowiseso mengerutkan keningnya. Tentu saja ia dapat mengenal watak dan kesukaan puteranya yang tidak jauh bedanya dengan kesukaannya sendiri!
"Hemm, aku mendengar bahwa puteri Resi Bhargowo itu cantik. Kau lalu mengganggu isteri Pujo, bukan?"
Akan tetapi Wisangjiwo menarik napas panjang dan menggeleng kepala.
"Kalau saya tahu bahwa si laknat itu akan melakukan perbuatan keji di sini, tidak saja isterinya akan saya perhina, bahkan mereka tentu akan kubunuh lebih dulu! Tidak, kanjeng rama, sungguhpun saya amat terpesona oleh kecantikan Kartikosari dalam keadaan menggairahkan seperti itu, namun saya....... saya tidak mengganggunya. Saya masih ingat akan Resi Bhargowo yang sakti dan tidak ingin bermusuh dengannya. Maka setelah mereka roboh, saya lalu pergi dari guha itu meninggalkan mereka."
Jokowanengpati mendengarkan penuh perhatian. Terbayang olehnya semua peristiwa itu.
"Kangmas Wisangjiwo. Maafkan pertanyaanku ini. Benar-benarkan kau tidak menggagahi Kartikosari yang cantik jelita? Melihat sepak terjang Pujo, agaknya ia amat sakit hati kepadamu dan agaknya masuk akal dendamnya itu kalau kau telah memperkosa isterinya."
"Tidak, dimas Jokowanengpati, demi para dewata yang menjadi saksi, aku tidak..... eh, dimas, kelingking kirimu itu mengapa.......??"

Bukan main kagetnya hati Jokowanengpati. Pikirannya sedang berpusat pada peristiwa itu dan kelingkingnya justru buntung setengahnya dalam peristiwa itu, maka pertanyaan yang tak tersangka-sangka itu bagaikan serangan kilat yang membuat wajahnya menjadi pucat. Kalau saja bukan dia yang ditanya serentak seperti itu, tentu akan menjadi panik dan gugup. Namun Jokowanengpati adalah seorang yang amat cerdik. Dalam keadaan terpepet itu ia masih sempat mengerjakan otaknya dan jawabannya tenang cepat tanpa ragu,
"Ooohhh, inikah? Sebelum aku datang berkunjung ke sini, aku bertemu dengan gerombolan pengacau di tepi Kali Solo. Aku berhasil membasmi mereka dan membunuh kepalanya, akan tetapi kepala gerombolan itu lumayan kepandaiannya sehingga dalam pengeroyokan itu jari kelingkingku ini terkena bacokan golok dan putus. Akan tetapi tidak apa-apa, kangmas."
"Untung hanya jari kelingking, anak-mas," Joyowiseso ikut bicara,
"kalau ibu jari yang terkena bisa celaka karena ibu jari merupakan bagian paling penting dari tangan." Kemudian sambungnya sambil memandang puteranya,
"Lanjutkan ceritamu, mengapa selama ini kau pergi!"
"Karena pertempuran itu, saya khawatir akan menghadapi kemarahan Resi Bhargowo, maka saya langsung pergi menghadap guru saya Ni Durgogini di Girilimut. Akan tetapi di sana saya bertemu dengan paman Patih Kanuruhan... "
"Rakyana Patih Kanuruhan di sana??" Jokowanengpati berseru kaget.
"Ada apakah beliau berada di sana?" Mendengar nama patih yang sakti itu, diam-diam Jokowanengpati merasa gentar.
"Agaknya beliau dahulu sahabat baik guruku, dimas, dan sengaja datang berkunjung sungguhpun beliau berkata secara kebetulan saja. Entah, aku tidak tahu sebabnya. Akan tetapi pertemuan itu membawa keuntungan bagiku karena aku sekarang mendapatkan kedudukan baik di kota raja berkat perantaraan beliau."
Wisangjiwo lalu menceritakan semua pengalamannya, bahkan ia menceritakan bagaimana ia dicoba kepandaiannya oleh patih sakti itu, kemudian ia berangkat ke kota raja, diterima baik dan ditetapkan menjadi perajurit pilihan calon pengawal istana!.

Mendengar ini Adipati Joyowiseso menggebrak meja dengan alis berdiri.
"Bodoh! Bodoh sekali! Bagaimana kau malah menjadi calon pengawal Raja Mataram??"
Wisangjiwo membelalakkan mata, melirik ke arah Jokowanengpati dan berseru kepada ayahnya, nadanya mencela,
"Kangjeng rama.......!!!"
Adipati Joyowiseso maklum akan teguran puteranya, maka ia lalu menepuk bahu Jokowanengpati yang tersenyum-senyum saja itu sambil berkata,
"Anakmas Jokowanengpati juga memusuhi Raja Bali, mendukung cita-citaku. Apakah engkau puteraku sendiri malah ingin menjadi gedibal (hamba rendah) orang Bali?"
Orang-orang yang pada waktu itu membenci Raja Airlangga, memakinya sebagai raja atau orang Bali, dan memang sesungguhnya Airlangga adalah seorang putera Bali, sungguhpun darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah raja Bali yang masih ada pertalian darah pula dengan Raja Mataram. Wajah Wisangjiwo menjadi terang mendengar keterangan ayannya bahwa Jokowanengpati telah menjadi sekutu ayahnya.
"Bagus!" Ia memegang lengan Jokowanengpati.
"Aku senang sekali mendengar hal ini, dimasl Ayah, memang saya sengaja mengusahakan agar dapat menjadi pengawal istana, karena kalau hal itu terjadi, bahkan akan banyak menolong usaha terlaksananya cita-cita kita."
"Eh, apa maksudmu?"
"Paman adipati, saya mendukung rencana kakangmas Wisangjiwo.

<<< Bagian 019                                                                                     Bagian 021 >>>

No comments:

Post a Comment