Adakah jalan
yang lebih sempurna daripada mengadu domba mereka satu kepada yang lain?
Biarlah mereka saling hantam, karena kalau mereka saling hantam, berarti akan
melemahkan kedudukan mereka sehingga mudah bagi kita mencari kesempatan baik.
Sebaliknya kalau mereka tidak diadu domba, kita akan harus menghadapi mereka
bersama, tentu amat berat. Mengertikah paman adipati akan maksud saya?"
Wajah Adipati
Joyowiseso berseri-seri dan ia memandang kagum kepada wajah yang tampan itu.
"Aku
mengerti, anakmas. Memang tepat dan betul sekali rencanamu itu."
Dua orang
sekutu ini bercakap-cakap dan mengatur siasat untuk melaksanakan niat
pemberontakan mereka. Karena maklum betapa besar dan kuatnya bala tentara
Mataram, maka dengan cerdik Jokowanengpati mengajukan siasat untuk melemahkan
Mataram lebih dahulu dengan cara mengadu domba dan memecah-belah, kalau perlu
menundukkan atau membunuh para tokohnya yang berkepandaian tinggi dengan dalih
urusan pribadi. Karena hanya dengan cara mengalahkan, menundukkan, atau
membunuh tokoh-tokoh sakti pembela Mataram sajalah kerajaan itu dapat
dilemahkan dan mudah dipukul kelak kalau saatnya yang baik tiba. Makin lama
mereka bercakap-cakap, makin tertarik dan kagumlah hati Adipati Joyowiseso akan
kecakapan pemuda ini yang bukan hanya memiliki kesaktian hebat, juga ternyata
memiliki kecerdikan dan siasat serta tipu muslihat yang amat berguna bagi
pemberontakannya. Setiap hari mereka bercakap-cakap dan berunding sambil
menantikan pulangnya Raden Wisanghjiwo. Setengah bulan kemudian datanglah Raden
Wisangjiwo. Wajahnya berseri-seri ketika ia memasuki pendopo kadipaten dan
melompat turun dari kudanya yang besar, yang segera disambut oleh para penjaga
dan pelayan. Akan tetapi kegembiraannya segera lenyap seperti kabut disapu
panas ketika ia bertemu ayahnya di ruang dalam. Ayahnya tengah duduk semeja
dengan Jokowanengpati, dan melihat kedatangannya, ayahnya itu bangkit berdiri
dengan mata melotot dan mulut melontarkan teguran keras.
"Bocah
durhaka! Kau telah keluyuran ke mana saja? Mengapa masih ingat akan pulang?
Kalau kau sudah tidak membutuhkan orang serumah ini, mengapa kau masih mau
pulang?"
Merah wajah
Wisangjiwo. Dimarahi ayahnya yang galak bukan apa-apa baginya, akan tetapi kali
ini ia dimarahi di depan Jokowanengpati yang hanya seorang kenalan, berarti
seorang tamu atau orang luar.
"Kanjeng
rama (ayah), saya baru pulang dari kota raja......."
"Hemm,
kau keluyuran ke sana mau apa? Enak ya bersenang-senang di kota raja sedangkan
di rumah tertimpa malapetaka hebat!"
"Malapetaka?
Apakah yang terjadi?"
"Pujo si
pengecut datang mengamuk, ayahmu ini hamper terbunuh olehnya, kemudian anak
isterimu diculiknya, isterimu sudah didapatkan kembali akan tetapi anakmu
sampai sekarang lenyap. Adikmu Roro Luhito minggat. Semua itu terjadi dan kau
berfoya-foya di kota raja!"
Muka yang
tadinya berseri itu kini menjadi pucat. Tanpa menjawab lagi Wisangjiwo melompat
lari menuju ke kamarnya untuk mendapatkan isterinya. Di situ ia disambut tangis
ibunya dan para selir ayahnya. Listyokumolo, istrinya, rebah telentang dengan
mata tak bergerak-gerak, bahkan ketika mata melirik ke arahnya, seakan-akan
tidak mengenalnya lagi.
Bagi
Wisangjiwo, Listyokumolo adalah seorang wanita cantik, seorang di antara
wanita-wanita cantik yang lain yang menjadi kekasihnya. Bagi dia, isteri, selir
maupun kekasih diluar, semua wanita bagaikan barang permainan yang
menyenangkan, dan yang bertugas semata-mata sebagai pemuas nafsu, pelipur hati,
pelepas dahaga. Lain tidak! Oleh karena wataknya inilah maka Listyokumolo
merasai penderitaan batin setelah menjadi isteri putera adipati ini, dan oleh
karena watak ini pula maka Wisangjiwo tidak menaruh perhatian akan nasib yang
menimpa diri isterinya. Yang membuat ia gelisah adalah tentang puteranya.
"Nimas Listyokumolo!"
Ia cepat-cepat menegur sambil memegang tangan isterinya, tidak mempedulikan
para ibunya yang berada di situ,
"Di mana
adanya Joko Wandiro anakku??"
Karena
tangannya dipegang erat-erat dan diguncang-guncang, Listyokumolo menjadi
terkejut. Ia menoleh, memandang aneh lalu menangis sambil berteriak-teriak,
"Kembalikan
anakku.............! Kembalikan dan jangan ganggu anakku...., kau boleh perbuat
sesukamu atas diriku, aku menyerahkan seluruh ragaku kepadamu..... tapi jangan
ganggu Wandiro.....!! " Lalu menangis menggerung-gerung di atas
pembaringan.
"Listyokumolo,
di mana Joko Wandiro? Di mana dia?" Wisangjiwo mengguncang-guncang tubuh
isterirya, namun jawaban Listyokumolo selalu sama.
Akhirnya
ibunya datang memegang pundaknya dan berkata lembut,
"Tiada
gunanya kau membentak-bentak anakku. Isterimu mengalami pukulan batin dan yang
selalu diucapkan hanya itu-itu juga. Lebih baik kau lekas berunding dengan
ayahmu dan cepat-cepat mencari sampai dapat puteramu Joko Wandiro."
Isteri adipati
itu mengakhiri kata-katanya, dengan isak ditahan. Wisangjiwo menjadi lemas dan
keluar dari kamar itu tanpa menoleh kepada isteri-nya lagi. Ia menuju ke
ruangan tengah dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi di depan ayahnya, lalu
menarik napas panjang.
"Kanjeng
rama, apakah yang telah terjadi selama saya pergi? Dan saya lihat adimas
Jokowanengpati hadir di sini, sudah lamakah, dimas?"
Jokowanengpati
memandang tajam dan bibirnya sudah berkomat-kamit hendak menjawab, akan tetapi
didahului Adipati Joyowiseso,
"Jika
tidak ada anakmas Jokowanengpati, ramamu sudah menjadi jenazah sekarang!"
Adipati Joyowiseso lalu menceritakan semua peristiwa yang menimpa keluarga
kadipaten. Kemudian ia memandang puteranya dengan tajam sambil bertanya,
"Wisangjiwo,
sebetulnya apakah yang terjadi antara engkau dan Pujo? Mengapa ia memusuhimu
seperti itu?"
Sampai lama
Wisangjiwo tidak dapat menjawab. Ia menjadi marah sekali. Mendengar betapa adik
perempuannya diperkosa sehingga mungkin saking malu adiknya itu sampai lolos
minggat dari kadipaten, mendengar betapa isterinya diculik dan menurut dugaan
ayahnya juga diperkosa, hatinya menjadi panas. Tentang isterinya dirusak
kehormatannya, ia dapat mencari lain wanita. Akan tetapi penghinaan itu sendiri
yang membuat hatinya panas, apalagi penghinaan yang ditimpakan atas diri
adiknya. Semua ini masih ditambah lagi dengan diculiknya Joko Wandiro,
puteranya, benar-benar membuat dadanya bergolak dan sukar bagi orang muda ini
untuk mengeluarkan suara menjawab pertanyaan ayahnya.
"Si
keparat Pujo!" desisnya di antara dua baris gigi yang dirapatkan, kedua
tangannya mengepal
"Akan
kuhancurkan engkau!"
Adipati
Joyowiseso tak sabar lagi.
"Wisangjiwo,
simpan dulu kemarahanmu, tiada gunanya sekarang, sudah terlambat. Permusuhan
apakah yang timbul antara engkau dan Pujo?"
Wisangjiwo
menarik napas panjang.
"Sayang
sekali, kanjeng rama, tidak kupadamkan saja api hidupnya pada waktu itu,
padahal dia sudah berada di tangan saya, kalau saya mau membunuhnya tinggal
mengayun tangan saja. Ah, mengapa saya bertindak kepalang tanggung waktu
itu?"
"Hayo
tuturkan, jangan putar-putar macam itu!" Ayahnya menegur kesal.
"Secara
kebetulan sekali saya pergi ke Guha Siluman pada senja hari itu dan bertemu
dengan Pujo dan isterinya yang bertapa di dalam guha dalam keadaan aneh sekali,
yaitu mereka bertapa berhadapan bertelanjang bulat! Saya menegurnya dan kami
bertanding. Isterinya, Kartikosari puteri Resi Bhargowo membantu suaminya.
Untung sekali saya dapat mendahului mereka sehingga saya dapat memukul mereka
pingsan!"
Adipati
Joyowiseso mengerutkan keningnya. Tentu saja ia dapat mengenal watak dan
kesukaan puteranya yang tidak jauh bedanya dengan kesukaannya sendiri!
"Hemm,
aku mendengar bahwa puteri Resi Bhargowo itu cantik. Kau lalu mengganggu isteri
Pujo, bukan?"
Akan tetapi
Wisangjiwo menarik napas panjang dan menggeleng kepala.
"Kalau
saya tahu bahwa si laknat itu akan melakukan perbuatan keji di sini, tidak saja
isterinya akan saya perhina, bahkan mereka tentu akan kubunuh lebih dulu!
Tidak, kanjeng rama, sungguhpun saya amat terpesona oleh kecantikan Kartikosari
dalam keadaan menggairahkan seperti itu, namun saya....... saya tidak
mengganggunya. Saya masih ingat akan Resi Bhargowo yang sakti dan tidak ingin
bermusuh dengannya. Maka setelah mereka roboh, saya lalu pergi dari guha itu
meninggalkan mereka."
Jokowanengpati
mendengarkan penuh perhatian. Terbayang olehnya semua peristiwa itu.
"Kangmas
Wisangjiwo. Maafkan pertanyaanku ini. Benar-benarkan kau tidak menggagahi
Kartikosari yang cantik jelita? Melihat sepak terjang Pujo, agaknya ia amat
sakit hati kepadamu dan agaknya masuk akal dendamnya itu kalau kau telah
memperkosa isterinya."
"Tidak,
dimas Jokowanengpati, demi para dewata yang menjadi saksi, aku tidak..... eh,
dimas, kelingking kirimu itu mengapa.......??"
Bukan main
kagetnya hati Jokowanengpati. Pikirannya sedang berpusat pada peristiwa itu dan
kelingkingnya justru buntung setengahnya dalam peristiwa itu, maka pertanyaan
yang tak tersangka-sangka itu bagaikan serangan kilat yang membuat wajahnya
menjadi pucat. Kalau saja bukan dia yang ditanya serentak seperti itu, tentu
akan menjadi panik dan gugup. Namun Jokowanengpati adalah seorang yang amat
cerdik. Dalam keadaan terpepet itu ia masih sempat mengerjakan otaknya dan
jawabannya tenang cepat tanpa ragu,
"Ooohhh,
inikah? Sebelum aku datang berkunjung ke sini, aku bertemu dengan gerombolan
pengacau di tepi Kali Solo. Aku berhasil membasmi mereka dan membunuh
kepalanya, akan tetapi kepala gerombolan itu lumayan kepandaiannya sehingga
dalam pengeroyokan itu jari kelingkingku ini terkena bacokan golok dan putus.
Akan tetapi tidak apa-apa, kangmas."
"Untung
hanya jari kelingking, anak-mas," Joyowiseso ikut bicara,
"kalau
ibu jari yang terkena bisa celaka karena ibu jari merupakan bagian paling
penting dari tangan." Kemudian sambungnya sambil memandang puteranya,
"Lanjutkan
ceritamu, mengapa selama ini kau pergi!"
"Karena
pertempuran itu, saya khawatir akan menghadapi kemarahan Resi Bhargowo, maka
saya langsung pergi menghadap guru saya Ni Durgogini di Girilimut. Akan tetapi
di sana saya bertemu dengan paman Patih Kanuruhan... "
"Rakyana
Patih Kanuruhan di sana??" Jokowanengpati berseru kaget.
"Ada
apakah beliau berada di sana?" Mendengar nama patih yang sakti itu,
diam-diam Jokowanengpati merasa gentar.
"Agaknya
beliau dahulu sahabat baik guruku, dimas, dan sengaja datang berkunjung
sungguhpun beliau berkata secara kebetulan saja. Entah, aku tidak tahu
sebabnya. Akan tetapi pertemuan itu membawa keuntungan bagiku karena aku
sekarang mendapatkan kedudukan baik di kota raja berkat perantaraan
beliau."
Wisangjiwo
lalu menceritakan semua pengalamannya, bahkan ia menceritakan bagaimana ia
dicoba kepandaiannya oleh patih sakti itu, kemudian ia berangkat ke kota raja,
diterima baik dan ditetapkan menjadi perajurit pilihan calon pengawal istana!.
Mendengar ini
Adipati Joyowiseso menggebrak meja dengan alis berdiri.
"Bodoh!
Bodoh sekali! Bagaimana kau malah menjadi calon pengawal Raja Mataram??"
Wisangjiwo
membelalakkan mata, melirik ke arah Jokowanengpati dan berseru kepada ayahnya,
nadanya mencela,
"Kangjeng
rama.......!!!"
Adipati
Joyowiseso maklum akan teguran puteranya, maka ia lalu menepuk bahu
Jokowanengpati yang tersenyum-senyum saja itu sambil berkata,
"Anakmas
Jokowanengpati juga memusuhi Raja Bali, mendukung cita-citaku. Apakah engkau
puteraku sendiri malah ingin menjadi gedibal (hamba rendah) orang Bali?"
Orang-orang
yang pada waktu itu membenci Raja Airlangga, memakinya sebagai raja atau orang
Bali, dan memang sesungguhnya Airlangga adalah seorang putera Bali, sungguhpun
darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah raja Bali yang masih ada pertalian
darah pula dengan Raja Mataram. Wajah Wisangjiwo menjadi terang mendengar
keterangan ayannya bahwa Jokowanengpati telah menjadi sekutu ayahnya.
"Bagus!"
Ia memegang lengan Jokowanengpati.
"Aku
senang sekali mendengar hal ini, dimasl Ayah, memang saya sengaja mengusahakan
agar dapat menjadi pengawal istana, karena kalau hal itu terjadi, bahkan akan
banyak menolong usaha terlaksananya cita-cita kita."
"Eh, apa
maksudmu?"
"Paman
adipati, saya mendukung rencana kakangmas Wisangjiwo.
No comments:
Post a Comment