Kalau dia bekerja di dalam istana, berarti kita selalu akan dapat mengetahui gerak-gerik mereka, pula kalau sudah tiba masanya, bantuan dari dalam merupakan hal yang amat berguna, bahkan tidak dilebih-lebihkan kalau dikatakan merupakan syarat mutlak ke arah tercapainya gerakan kita."
Mata sang
adipati melebar, kemudian ia tertawa bergelak-gelak, lalu merangkul pundak
puteranya.
"Ah, kau
pintar, puteraku! Maafkan ayahmu yang salah sangka! Benar sekali, kau bertugas
di sana mengawasi gerak-gerik mereka tentang usaha kita, kalau-kalau mereka
menaruh curiga. Kemudian kita atur rencana dari sini untuk mengacaukan
pertahanan mereka. Akan tetapi sebelum kau kembali ke sana, kau harus
menghubungi dulu gurumu Ni Durgogini, menyampaikan permintaanku agar mereka
suka membantu gerakan kita ini."
"Baik,
kanjeng rama, akan tetapi....... bagaimana dengan anakku Joko Wandiro? Dan
bagaimana pula dengan adikku Roro Luhito.......?"
"Jangan
kau khawatir, kakangmas. Aku siap untuk mencari Pujo, membawa kembali puteramu
dan sedapat mungkin akan kucari diajeng Roro Luhito."
"Wisangjiwo,
kita berhutang budi banyak sekali kepada anakmas Jokowaneng-pati, calon adik
iparmu ini."
"Adik.....
ipar.....?" Wisangjiwo menoleh kepada Jokowanengpati.
"Dia,.......
dia telah begitu baik untuk bersedia mengawini adikmu Roro Luhito, agar
tertutup noda dan aib......."
"Tidak
hanya demikian, paman adipati, melainkan karena saya merasa kasihan kepada
diajeng Roro Luhito, dan juga..... suka kepadanya......."
"Aduh,
kau benar-benar sahabat sejati!", Wisangjiwo memeluk Jokowanengpati,
kemudian berkata khawatir,
"Akan
tetapi, dimas. Kau bilang sendiri bahwa si laknat Pujo dibantu gurunya.
Bagaimana kau dapat menandingi Resi Bhargowo yang sakti mandraguna?"
Yang ditanya
tersenyum tenang.
"Aku
sendiri tentu belum kuat melawan sang resi, akan tetapi sebelum mencari mereka,
aku akan pergi menemui eyang Cekel Aksomolo di hutan Wredo yang terletak di
lereng Gunung Wilis. Bersama dia, aku tidak takut lagi menghadapi Resi Bhargowo."
Secara singkat
ia lalu menceritakan kehebatan dan kesaktian Cekel Aksomolo yang dipujinya
setinggi langit dan dikatakannya tiada keduanya di dunia ini! Giranglah hati
Wisangjiwo dan ayahnya, dan agak terhiburlah hati mereka oleh malapetaka yang
menimpa keluarga Kadipaten Selopenangkep. Semalam suntuk hari itu mereka tiada
hentinya bercakap-cakap mengatur rencana, karena pada keesokan harinya
Jokowanengpati akan berangkat ke Gunung Wilis sedangkan Wisangjiwo akan pergi
mencari guru dan bibi gurunya.
"Engkau
anak hina! Engkau buah daripada perbuatan jahanam! Hidupmu hanya akan
mencemarkan dunia. Tak layak engkau hidup!!"
Sikap dan
kata-kata yang terlontar dari mulut wanita itu mengerikan. Suaranya nyaring
mengatasi debur ombak memecah di batu karang. Wajahnya yang cantik jelita itu
tidak terurus, tampak bengis. Matanya yang bening dan indah bentuknya itu
menatap liar penuh benci kepada seorang anak bayi perempuan yang telanjang
bulat dan tidur nyenyak dalam pondongannya.
Rambut wanita
itu terurai, panjang sampai ke pangkal pahanya. Pakaian yang menutup tubuhnya
yang muda padat dan berkulit kuning halus bersih itu tak dapat menyembunyikan
lengkung lekuk tubuh seorang wanita yang sudah masak karena hanya sehelai tapih
pinjung (kain yang bagian atasnya dibelit kan menutup dada), membuka telanjang
memperlihatkan bagian atas dada yang bulat membusung, dada seorang wanita yang
baru melahirkan, pundak dan lengan. Juga memperlihatkan kaki dari lutut ke
bawah, kaki yang betisnya gemuk memadi bunting dan mata kaki yang kecil
berlekuk dalam. Sepasang kaki yang kecil itu berdiri di atas batu karang yang
tercapai percikan ombak memecah di pantai.
Wanita itu
adalah Kartikosari! Isteri Pujo yang bernasib malang ini telah melahirkan
seorang anak perempuan, dua pekan yang lalu! Setelah ia berpisah dari Pujo di
Guha Siluman akibat peristiwa di malam jahanam itu, dalam keadaan berkeliaran
di sepanjang pantai Laut Selatan di daerah Baron dan Karangracuk setiap hari
siang dan malam menangisi nasibnya, mengeluh meratapi nama suaminya,
kadang-kadang memaki dan menyumpahi nama Wisangjiwo, atau ada kalanya
tertawa-tawa dan bermain-main dengan ombak yang datang bergulung-gulung,
beberapa bulan kemudian barulah ia sadar akan keadaan dirinya. Sadar bahwa ia
telah mengandung!. Setengah hari Kartikosari menggeletak pingsan di dalam
sebuah guha kecil di pantai Karangracuk yang ia jadikan tempat tinggalnya,
setelah ia ketahui bahwa ia telah mengandung.
Di waktu sadar
dari pingsannya,ia menangis menggerung-gerung, menjambaki rambutnya sendiri
sampai rambut yang hitam halus dan panjang itu awut-awutan, mencakari mukanya
yang cantik jelita sampai kulit yang halus dan kuning kemerahan itu menjadi
merah oleh darah dari pipi yang terluka kuku, lalu menangis lagi bergulingan di
lantai guha seperti anak kecil.
Setelah reda,
ia terisak-isak menyembunyikan muka di balik kedua tangan, berlutut di dalam
guha. Ingin ia membunuh diri. Tak kuat rasanya harus menghadapi penderitaan
yang susul-menyusul, tindih-menindih ini. Namun, ia masih ingin hidup untuk melampiaskan
dendamnya!. Beberapa bulan lamanya Kartikosari mengalami penderitaaan lahir
batin yang amat hebat. Ia makan seadanya, makan apa saja yang bisa ia dapatkan.
Kadang-kadang ia mendaki bukit batu karang di utara, mencari ketela atau
buah-buahan, ada kalanya ia hanya makan ikan laut dibakar. Namun, penderitaan
lahir ini tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan penderitaan batinnya
dengan peristiwa malam jahanam di Guha Siluman, kadang-kadang ia seperti kalap
dan gila, ingin ia merobek perutnya sendiri untuk membuang jauh-jauh bayi yang
mulai bergerak-gerak dalam kandungannya!.
Akan tetapi
ada kalanya hati kecilnya membisikkan harapan bahwa kandungannya itu adalah
darah daging Pujo, suaminya. Kalau menduga begini, ia akan mengelus-elus
perutnya sambil meramkan mata, lalu merintih-rintih membisikkan nama suaminya.
Setelah merasa bahwa kandungannya sudah mendekati kelahiran, Kartikosari
berjalan meninggalkan pantai, mencari orang. Setengah hari ia berjalan dan
barulah ia melihat sebuah dusun kecil di lereng bukit, dusun yang penghuninya
hanya petani-petani miskin di tanah kapur Gunung Kidul, tinggal dalam
gubuk-gubuk kecil kotor dan miskin tak lebih dari tujuh buah gubuk. Namun hal
ini cukup menggirangkan hati Kartikosari. Tubuhnya sudah lelah, hampir ia tak
kuat berjalan tadi kalau saja ia tak melihat gubuk-gubuk itu dari puncak bukit.
Ia tadi telah mengerahkan segenap sisa tenaganya untuk berjalan ke arah dusun,
dan setibanya di depan pintu gubuk pertama, matanya berkunang-kunang, perutnya
sakit sekali dan ia terguling roboh pingsan di atas tanah. Betapa ia ditolong
beramai-ramai oleh penghuni dusun yang setengah telanjang karena miskin itu, ia
tidak tahu. Betapa ia meronta-ronta, merintih-rintih dan bergulat dengan maut,
iapun tidak tahu. Sejak roboh pingsan sampai melahirkan, Kartikosari dalam
keadaan tidak sadar. Ketika ia sadar dengan tubuh lemas, ia telah berada di
atas balai-balai bambu yang ditilami tikar anyaman dari daun kelapa, dan di
dekatnya rebah seorang bayi yang masih merah, bayi perempuan telanjang bulat,
gemuk dan berkulit putih bersih berambut hitam tebal, hanya tertutup sehelai
popok (kain) kumal dan kotor!.
Ia tidak
pernah menjawab hujan pertanyaan para penghuni dusun itu yang bicara penuh
hormat kepadanya, yang menganggapnya seorang puteri bangsawan yang sesat jalan
atau diculik perampok, bahkan ada beberapa orang yang berbisik mengira ia bukan
manusia, melainkan seorang peri (setan perempuan) atau penghuni Laut Selatan!
Ia tidak mau menjawab, akan tetapi bukan tidak berterima kasih. Dengan taat ia
minum jamu-jamu pahit yang disediakan seorang nenek kurus, makan daging kelapa
hijau atau bubur jagung yang disuguhkan orang, dan menerima pelayanan dan
rawatan mereka selama dua pekan dengan senyum bersyukur.
Dan pada
keesokan harinya setelah lewat dua pekan, penghuni dusun itu dengan heran dan
kaget hanya mendapatkan sepasang gelang emas di atas balai-balai, sedangkan
wanita cantik tapi agaknya gagu karena tak pernah bicara itu lenyap tak
meninggalkan jejak, lenyap bersama bayinya yang cantik dan mungil bertubuh
montok! Tentu saja kini mereka makin percaya kepada dia yang pernah membisikkan
bahwa wanita ayu itu tentulah seorang peri atau seorang puteri dari istana Ratu
Roro Kidul di dasar Laut Selatan! Kalau manusia biasa, tak mungkin dapat pergi
bersama bayinya tanpa ada yang tahu sama sekali, tidak meninggalkan jejak!.
Kartikosari
tentu saja dapat pergi tanpa diketahui dengan mudah, mengandalkan ilmunya. Ia
kembali ke Karangracuk dan berdiri di atas batu karang memaki-maki anak dalam pondongannya,
kemudian matanya menjadi beringas ketika ia memandang ke arah gelombang Laut
Selatan yang makin menggelora.
"Anak
hina-dina! Kau tak patut hidup!" jeritnya dengan suara terpecah dalam
tangis, lalu ia.. ... melemparkan anak itu jauh-jauh ke tengah laut yang
bergelombang! Tanpa melihat lagi ia membalikkan tubuh, meloncat turun dari atas
batu karang lalu berlarian sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan,
kemudian menjatuhkan diri bergulingan di atas pasir sambil menangis.
Jantungnya
terasa ditusuk-tusuk dan timbul rasa ngeri di hatinya untuk menoleh ke arah
laut yang telah menelan bocah yang dilahirkannya dua pekan yang lalu. Suara
ombak yang menderu itu masuk memenuhi telinganya, dan kini berubah menjadi
suara tangis anak bayinya! Tangis yang amat nyaring sehingga ia tak kuasa
menahan lagi, lalu menutupkan kedua tangannya kepada telinga. Namun, betapa
keras ia menutupi telinganya, suara tangis itu masih terdengar terus, bahkan
makin lama makin nyaring..
"Diam.......!!
Jahanan! Diamlah.....!! " Ia menjerit-jerit bergulingan di pantai seperti
disiksa, akhirnya suara jeritannya menjadi keluh dan rintih mengerang-erang per
lahan.
".....
diamlah....., diamlah, nak..... diamlah....." dan ia menangis
tersedu-sedu.
Setelah mereda
gelora hatinya, ia memberanikan diri menoleh ke arah laut. Laut masih
mengganas, ombaknya besar-besar seakan-akan menjadi marah kepadanya. Ombak laut
seperti terbakar, merah tersinar matahari yang hamper tenggelam di langit
barat. Ombak merah menggelora, bergulung-gulung panjang seperti naga raksasa
mengamuk.
Tiba-tiba ia
tersentak kaget dan meloncat berdiri. Matanya dilebar-lebarkan memandang kepada
sebuah benda yang tergolek di tepi pantai, diatas pasir. Ikankah? Ikan mati?
Agaknya ikan mati, terdampar oleh ombak ke pantai. Putih berkilat seperti perut
ikan, tak bergerak-gerak. Kartikosari bergidik, meremang bulu tengkuknya.
Bentuk ikan itu! Aneh sekali! Hitam-hitam di ujungnya. Ekor? Terlalu besar. Dan
mulutnya! Mengapa terpecah menjadi dua? Mulut? Mirip kaki. Kaki bayinya!. Benda
itu bergerak-gerak, lalu terpecah suara tangis yang melengking. Meremang
seluruh tubuh Kartikosari, bulu di tubuhnya berdiri satu-satu. Tangis bayi!
Tangis anaknya!.
"Anakku.......!!!"
Kartikosari menjerit dan berlari cepat sekali seperti terbang ke arah benda
putih itu. Ditubruknya bayi yang menangis terkekal-kekal itu, sambil berlutut
di atas pasir ia mendekap bayi telanjang bulat itu ke dadanya, ditangisinya
sambil terengah-engah, diciuminya, didekap lagi ke dada dan air matanya
membanjir, mencuci pasir yang lekat-lekat pada tubuh bayi.
"Aduh,
anakku....., anakku.......! Kau kembali......? Kau...... kau anak
Pujo.........? Anakku.......! Ampuni ibumu, nak.....ampun.......!"
Ia tidak
perdulikan lidah ombak menjilat-jilat kaki dan lututnya, seperti lidah anjing
jinak menjilat-jilat kaki majikannya, rnohcn perhatian dan belas kasihan.
Direnggutnya kain penutup dadanya sehingga tampak kedua buah dadanya yang
montok dan penuh air susu, yang seakan-akan hendak pecah karena kulit yang
tipis halus itu tak dapat menampung air susu yang terlalu penuh, dimasukkannya
ujung buah dada yang merah itu ke mulut bayinya yang menangis keras.
Seketika
terhentilah tangis bayi. Tanpa diajari oleh siapapun, manusia kecil itu lantas
menghisap air susu dari dada ibunya, menghisap keras-keras dan terpancarlah air
kehidupan itu menerjang tenggorokan yang kecil. Bayi itu tersedak dan
terbatuk-batuk. Kartikosari melepas buah dadanya dari mulut bayinya, mulutnya
berkata halus,
"Pissss.......!
Pissss.......!" Sambil menebak-nebak dada sendiri perlahan.
Setelah
anaknya tidak terbatuk-batuk lagi, kembali ia menyusui anaknya, sambil tertawa
gembira dan air matanya menitik turun ketika ia berkata,
"Cah
ayu....., perlahan-lahan saja menyusu, nak......, ibumu tidak marah lagi.......
oh, tidak akan marah lagi....."
Dengan air
mata mengalir di kedua pipinya, Kartikosari membelai-belai kepala anaknya
dengan pipi, merasai betapa halus rambut anaknya tergeser di pipi. Ombak agak
besar kini mencapai lutut dan pinggangnya. Kartikosari cepat berdiri agar
anaknya tidak terkena air.
No comments:
Post a Comment