Badai Laut Selatan ; Bagian 028


Huh, walaupun pakaianmu pakaian satria, ilmu kepandaianmu ilmu satria, namun matamu mata jalang, kau tentu satria tukmisi satria batuk kelimis (dahi halus, dimaksudkan mata keranjang)!"
"Huh-huh-huh, celaka, tiada hujan tiada angin memaki-maki. Monyet mendem (mabok)! Terima sajalah, raden, hitung-hitung buang sebel (sial)! Dia kakek mabok, kalau dilayani bukankah sama maboknya?" Cekel Aksomolo berkata.
"Wah lagaknya si cekel bongkok! Kau inipun tua-tua tuanya keladi, makin tua? makin menjadi-jadi! Tua-tua kelapa, makin tua makin keras tempurungnya, makin banyak santannya! Kakek tuwek (tua) kurus kering bongkok juling seperti kau ini tentu masih suka mengejar-ngejar wanita ayu!"
Cekel Aksomolo mencak-mencak saking marahnya.
"Heh keparat Resi Telomoyo, mulutmu bobrok asal njeplak (terbuka) saya memaki orang seenak seenak perutnya. Rasakan tasbih keramat ini!"
Dengan amarah meluap-luap Cekel Aksomolo menerjang dengan tasbihnya, juga Jokowanengpati setelah mendapat kenyataan bahwa kakek putih itu tidak dapat diajak berteman, mencabut kerisnya dan ikut pula menerjang maju. Resi Telomoyo kaget sekali. Kalau dikeroyok dua, ia bisa celaka, maka ia lalu mengeluarkan teriak keras seperti seekor kera dan tubuhnya mencelat ke atas, tahu-tahu ia sudah menyambar ranting pohon dan sambil terkekeh-kekeh ia melarikan, diri dengan cara meloncat-loncat di atas pohon.
Akan tetapi sebelum meloncat jauh, ia membuka jubbah bagian bawah dan menyambarlah "air hujan" dari atas menimpa Cekel Aksomolo dan Jokowanengpati!. Kedua orang itu cepat meloncat ke pinggir, akan tetapi tetap saja sebagian lengan mereka terkena air. Ketika itu tercium bau pesing dan tahulah mereka bahwa si kakek gila-gilaan itu sambil melarikan diri telah menyiram mereka dengan air kencing! Benar-benar persis watak nakal seekor monyet.

Jokowaneng-pati merasa geli dan juga mendongkol sekali akan hinaan ini. Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat Cekel Aksomolo menggerak-gerakkan hidung mencium-cium, mukanya menjadi pucat sekali dan bibirnya berkata perlahan,
"Untung tidak kena kepala.......!"
"Kena kepalapun mengapa, eyang? Dapat dicuci!"
"Uuuh-huh-huh, sial dangkalan bertemu monyet tua bangka! Biarpun dapat dicuci, penghinaan ini sekali waktu harus kubalas! Awas dia, kelak kutangkap dan kupaksa ia minum air kencingnya sendiri!!"
Akan tetapi diam-diam Jokowanengpati merasa bersangsi apakah kakek ini akan sanggup melaksanakan ancamannya, mengingat betapa si manusia kera itu benar-benar sakti, dan belum tentu kalah oleh Cekel Aksomolo. Pemuda ini sama sekali tidak mengira bahwa tadi hampir saja pertapa lereng Wilis itu membuka rahasianya sendiri. Seperti banyak ahli-ahli ilmu hitam yang selalu mempunyai pantangan, juga Cekel Aksomolo mempunyai semacam sirikan atau pantangan yang aneh, yaitu kepalanya tidak boleh tersiram air kencing. Ini merupakan pengapesan atau kenaasannya. Makin bersih air kencing itu, makin celakalah dia. Air kencing anak-anak tentu akan membuatnya lumpuh seketika kalau mengenai kepalanya. Biarpun air kencing Resi Telomoyo tidak sebersih air kencing anak-anak, dan hanya mengenal lengannya bukan kepalanya, namun sudah cukup lumayan, membuat kepalanya pening sebentar dan mau muntah!.
Dengan hati penuh kegemasan, Jokowanengpati terpaksa menolong anak buahnya, kemudian rombongan ini melanjutkan perjalanan pulang ke Kadipaten Selopenangkep dengan tubuh lemas. Usaha mencari Pujo tidak berhasil, malah mereka mendapat hinaan dari Resi Telomoyo! Bersungut-sungut Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo memasuki Kadipaten Selopenangkep. Orang-orang sama terheran melihat betapa pasukan yang ketika berangkat dahulu gagah-gagah itu kini pulang dengan pakaian kumal, wajah kesal dan pakaian kusut, bahkan ada yang masih mengerang-erang dan ada pula yang tertelungkup di atas punggung kudanya, terlukai seperti pasukan kalah perang.

Akan tetapi, ada hiburan bagi Jokowangpati dan Cekel Aksomolo dalam kegemasan mereka, yaitu bahwa Kadipaten Selopenangkep sudah kedatangan tamu-tamu agung. Selain Wisangjiwo yang datang bersama dua orang wanita sakti yang bukan lain adalah Ni Durgogini, dan Ni Nogogini, juga kedatangan beberapa orang sakti lain yang akan memperkuat persekutuan mereka diharapkan datang dalam beberapa hari, yaitu di antaranya Ki Warok Gendroyono dari Ponorogo dan Ki Krendoyakso dari Bagelen!.
Secara singkat Jokowanengpati menceritakan usaha mereka mencari Pujo dan Resi Bhargowo tidak berhasil, sebaliknya di tengah jalan bertemu dengan Resi Telomoyo dan terjadilah perselisihan yang mengakibatkan terlukanya para pengawal.
"Manusia kera yang tua itu benar-benar menjemukan sekali," Jokowanengpati mengakhiri ceritanya.
"Tanpa alasan dia mencari keributan dengan kami. Tentu saja para prajurit bukan lawannya. Kami berdua sudah turun tangan dan tentu dia akan mampus kalau saja tidak lekas-lekas lari mempergunakan kegesitannya seperti monyet, meloncat-loncat ke atas pohon sukar dikejar."
"Uuh-huh-huh, lain kali tidak kuberi ampun si monyet tua dari Telomoyo!" Cekel Aksomolo ikut bicara.
"Aku pernah mendengar tentang Resi Telomoyo manusia monyet, kukira hanya dongeng belaka, kiranya benar-benar ada,"
Ni Nogogini ikut bicara dan matanya mengerling ke arah Wisangjiwo. Akan tetapi Ni Durgogini agaknya tidak memperhatikan cerita itu. Ia sedang kesima memandangi wajah Jokowanengpati yang ganteng dan matanya menyinarkan api gairah.
Kemudian Adipati Joyowiseso memperkenalkan kedua wanita sakti itu kepada Cekel Aksomolo dan Jokowanengpati.
"Waduh-waduh..,..,, sudah terlalu lama mendengar nama andika berdua yang hebat menjulang ke angkasa! Siapa sangka kedua nini yang sakti mandraguna jug amat cantik jelita seperti bidadari-bidadari kahyangan! Uh-huh-huh!" CekelAksomolo memuji.

Diam-diam Wisangjiwo merasa khawatir sekali kalau-kalau gurunya dan bibi gurunya akan menjadi marah. Akan tetapi ternyata tidak. Malah gurunya tersenyum manis sekali sambil mengerling ke arah Jokowanengpati dan berkata,
"Paman Cekel Aksomolo terlalu memuji. Dan orang muda ini yang bernama Jokowanengpati? Pernah aku mendengar dari muridku Wisangjiwo bahwa kau adalah murid Empu Bharodo, betulkah, raden?"
Suaranya manis sekali, seperti orang bertembang, sehingga Jokowanengpati yang ditanya sejenak tertegun ia tak dapat menjawab, terpesona. Bukan main kakangmas Wisangjiwo, pikirnya, punya guru begini ayu, begini denok, menggiurkan!
"Dimas Joko, kau ditanya guruku!" Wisangjiwo menegur geli, maklum betapa tamunya itu terpesona dan ada rasa bangga di hatinya.
"Oh..... ah....., betul, bibi! Tetapi hanya bekas murid..... sekarang bukan muridnya lagi. Kami berselisih faham. Bapa Empu terlalu membela sri baginda sedangkan saya menentang kekuasaan orang Bali....."
Ni Durgogini dan Ni Nogogini saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata mendengar ucapan ini, hanya cuping hidung mereka bergerak sedikit. Tidak ada orang lain yang lebih dekat dengan sepasang orang Bali yang kini menjadi raja dan patih Mataram, daripada mereka. Ni Durgogini dahulu adalah selir kinasih ki patih sedangkan Ni Nogogini selir kinasih (terkasih) sang prabu! Akan tetapi merekapun mengandung dendam terhadap raja dan patih karena mereka telah diusir!.

Adipati Joyowiseso lalu cepat-cepat mempersilahkan mereka duduk di ruangan dalam dan memerintahkan para abdi (pelayan) untuk mengeluarkan hidangan yang memang telah disediakan. Suasana di kadipaten dalam pesta-pora untuk menghormat tamu-tamu agung dan didatangkanlah penari-penari dan penyanyi-penyanyi pilihan untuk menghibur mereka. Kamar-kamar terbaik dibersihkan dan dipersiapkan untuk para tamu. Melihat betapa Ni Durgogini tertarik kepada Jokowanengpati, diam-diam Ni Nogogini girang hatinya. Terbukalah kesempatan baginya untuk mendekati Wisangjiwo yang amat lama ia rindukan itu. Di lain fihak, Wisangjiwo juga bisa menangkap arti kerling mata bibi gurunya yang semenjak setahun yang lalu di pantai Laut Selatan, tak pernah ia jumpai pula. Isteri Wisangjiwo, Listyokumolo yang bernasib malang, oleh putera adipati itu sudah lama dipulangkan kembali kepada ayahnya, seorang lurah dusun di sebelah timur Gunung Lawu. Semenjak itu, Wisangjiwo merasa lebih bebas, sekarangpun karena di situ tidak ada isterinya, kedatangan Ni Durgogini dan Ni Nogogini benar-benar merupakan anugerah bagi kehausan nafsunya. Lirik dan senyum manis Ni Nogogini penuh arti dan memberi janji-janji banyak yang muluk-muluk. Karena di situ ada gurunya, tentu saja Wisangjiwo tidak berani banyak tingkah, dan ia hanya dapat menanti. Kalau tidak ada gerakan dari bibi gurunya sendiri, mana berani ia main-main? Ia hanya dapat menanti dan akan menanti sampai malam nanti. Harapan dan dugaan Wisangjiwo memang tidak meleset. Menjelang tengah malam, pesta dibubarkan dan para tamu dipersilahkan beristirahat di kamar masing-masing. Suasana menjadi sunyi sekali dan dalam kesunyian itulah Wisangjiwo menanti.

Menanti untuk waktu sebentar saja karena tak lama kemudian jendela kamarnya terbuka dari luar dan bagaikan sehelai selendang sutera halus dan ringannya, melayanglah tubuh Ni Nogogini memasuki kamarnya! Rindu dendam mereka sudah ditahan-tahan selama setahun, maka tanpa bicara lagi Wisangjiwo bangkit dan mengembangkan kedua lengannya menyambut dengan penuh kegembiraan dan berdekap ciumlah kedua insan budak hawa nafsu itu.
"Bibi," Wisangjiwo berbisik perlahan ketika mendapat kesempatan,
"ni guru berada di sini, aku..... takut....."
Ni Nogogini tertawa lirih.
"Takut? Hi-hi-hik! Kau mau tahu apakah yang saat ini sedang dilakukan oleh orang yang kautakuti itu ? Mari...... kau ikut aku sebentar dan kau akan melihat apakah kau perlu takut atau tidak kepada mbok-ayu Durgogini!"
Tak sempat Wisangjiwo membantah karena ia sudah dipeluk dan dibawa keluar kamarnya seperti seorang anak kecil saja. Ternyata Ni Nogogini membawanya ke kamar Jokowanengpati dan wanita sakti itu tanpa mengeluarkan suara membawanya mendekat jendela. Pada saat itu terdengarlah bisik-bisik di dalam kamar diseling suara ketawa lirih, suara gurunya!
"Cah bagus (anak tampan)....... , kenapa tanganmu ini kehilangan kelingkingnya.......?" Suara Ni Durgogini lirih, merdu, dan manja. Hafal benar Wisangjiwo akan suara ini, suara gurunya kalau sedang bercinta!
"..... eh, ini.....? Digigit..... ular....." jawab Jokowanengpati dengan suara tersendat-sendat.
"Ihhh, ular apa?"
"..... anu ular kuning berlidah merah "
"Hemmm, dengan ular saja kau kalah sampai kehilangan kelingking? Aku tukang mempermainkan ular. Ular apa saja! Segala macam racun ular tidak akan mempan terhadapku!"
"Ah, tentu saja. Bibi seorang sakti mandraguna, ratu gunung dan hutan, tentu segala binatang si hutan takluk kepadamu....."
"Kau ingin belajar aji menaklukkan ular?"
"Tentu saja, kalau bibi sudi mengajarku....."
"Hi-hik, kita lihat saja. Kalau kau cukup manis dan pandai menyenangkan hatiku, mungkin....."

Wisangjiwo mengirik tangan Ni Nogogini yang tersenyum lebar dan sekali melompat Ni Nogogini sudah meninggalkan jendela sambil mengempit pinggang orang muda itu dalam gulungan lengan kirinya. Beberapa detik kemudian mereka sudah kembali ke dalam kamar Wisangjiwo, dilemparkannya pemuda itu di atas pembaringan dan ditubruknya. Mereka bergumul di situ sambil tertawa-tawa. Setelah mendapat kenyataan bahwa gurunya sendiri bermain gila dengan Jokowanengpati, Wisangjiwo dapat melayani kehendak bibi gurunya dengan gembira dan tidak ragu-ragu lagi. Ia tidak marah kepada Jokowanengpati karena maklum bahwa tidak ada laki-laki yang dapat menolak kehendak gurunya itu. Hanya ia merasai heran mengapa Jokowanengpati membohong tentang kelingkingnya yang putus, Bukankah dahulu bercerita bahwa jari kelingking kirinya putus karena bacokan senjata ketika ia dikeroyok gerombolan! perampok? Mengapa pula sekarang mengatakan digigit ular? Yang mana yang benar?. Akan tetapi sepak terjang Ni Nogogini yang ganas dan liar membuat ia segera lupa akan Jokowanengpati, lupa akan segala, tenggelam dalam lautan nafsu. Memuakkan memang bagi mereka yang bersusila! Mengerikan bagi mereka yang tahu membedakan perbuatan baik dan buruk, bagi mereka yang belum bejat ahlaknya. Di Kadipaten Selopenangkep, di malam hari itu, terjadilah perbuatan mesum dan hina oleh dua pasang manusia yang tenggelam dalam perjinaan, menikmati perbuatan maksiat, tak sadar bahwa mereka menjadi hamba hawa nafsu dan berenang di tempat kotor. Tiada ubahnya binatang-binatang kerbau yang bergelimang dalam lumpur, menikmati air lumpur kotor yang menempel di tubuh. Setiap ada kesempatan, siang maupun malam, kedua orang wanita sakti itu tentu akan menyeret kedua orang muda untuk memuaskan kehausan mereka yang tak kunjung padam.

<<< Bagian 027                                                                                    Bagian 029 >>>

No comments:

Post a Comment