Huh, walaupun pakaianmu pakaian satria, ilmu kepandaianmu ilmu satria, namun matamu mata jalang, kau tentu satria tukmisi satria batuk kelimis (dahi halus, dimaksudkan mata keranjang)!"
"Huh-huh-huh,
celaka, tiada hujan tiada angin memaki-maki. Monyet mendem (mabok)! Terima
sajalah, raden, hitung-hitung buang sebel (sial)! Dia kakek mabok, kalau
dilayani bukankah sama maboknya?" Cekel Aksomolo berkata.
"Wah
lagaknya si cekel bongkok! Kau inipun tua-tua tuanya keladi, makin tua? makin
menjadi-jadi! Tua-tua kelapa, makin tua makin keras tempurungnya, makin banyak
santannya! Kakek tuwek (tua) kurus kering bongkok juling seperti kau ini tentu
masih suka mengejar-ngejar wanita ayu!"
Cekel Aksomolo
mencak-mencak saking marahnya.
"Heh
keparat Resi Telomoyo, mulutmu bobrok asal njeplak (terbuka) saya memaki orang
seenak seenak perutnya. Rasakan tasbih keramat ini!"
Dengan amarah
meluap-luap Cekel Aksomolo menerjang dengan tasbihnya, juga Jokowanengpati
setelah mendapat kenyataan bahwa kakek putih itu tidak dapat diajak berteman,
mencabut kerisnya dan ikut pula menerjang maju. Resi Telomoyo kaget sekali.
Kalau dikeroyok dua, ia bisa celaka, maka ia lalu mengeluarkan teriak keras
seperti seekor kera dan tubuhnya mencelat ke atas, tahu-tahu ia sudah menyambar
ranting pohon dan sambil terkekeh-kekeh ia melarikan, diri dengan cara
meloncat-loncat di atas pohon.
Akan tetapi
sebelum meloncat jauh, ia membuka jubbah bagian bawah dan menyambarlah
"air hujan" dari atas menimpa Cekel Aksomolo dan Jokowanengpati!.
Kedua orang itu cepat meloncat ke pinggir, akan tetapi tetap saja sebagian
lengan mereka terkena air. Ketika itu tercium bau pesing dan tahulah mereka
bahwa si kakek gila-gilaan itu sambil melarikan diri telah menyiram mereka
dengan air kencing! Benar-benar persis watak nakal seekor monyet.
Jokowaneng-pati
merasa geli dan juga mendongkol sekali akan hinaan ini. Akan tetapi alangkah
herannya ketika ia melihat Cekel Aksomolo menggerak-gerakkan hidung
mencium-cium, mukanya menjadi pucat sekali dan bibirnya berkata perlahan,
"Untung
tidak kena kepala.......!"
"Kena
kepalapun mengapa, eyang? Dapat dicuci!"
"Uuuh-huh-huh,
sial dangkalan bertemu monyet tua bangka! Biarpun dapat dicuci, penghinaan ini
sekali waktu harus kubalas! Awas dia, kelak kutangkap dan kupaksa ia minum air
kencingnya sendiri!!"
Akan tetapi
diam-diam Jokowanengpati merasa bersangsi apakah kakek ini akan sanggup
melaksanakan ancamannya, mengingat betapa si manusia kera itu benar-benar
sakti, dan belum tentu kalah oleh Cekel Aksomolo. Pemuda ini sama sekali tidak
mengira bahwa tadi hampir saja pertapa lereng Wilis itu membuka rahasianya
sendiri. Seperti banyak ahli-ahli ilmu hitam yang selalu mempunyai pantangan,
juga Cekel Aksomolo mempunyai semacam sirikan atau pantangan yang aneh, yaitu
kepalanya tidak boleh tersiram air kencing. Ini merupakan pengapesan atau
kenaasannya. Makin bersih air kencing itu, makin celakalah dia. Air kencing
anak-anak tentu akan membuatnya lumpuh seketika kalau mengenai kepalanya.
Biarpun air kencing Resi Telomoyo tidak sebersih air kencing anak-anak, dan
hanya mengenal lengannya bukan kepalanya, namun sudah cukup lumayan, membuat
kepalanya pening sebentar dan mau muntah!.
Dengan hati
penuh kegemasan, Jokowanengpati terpaksa menolong anak buahnya, kemudian
rombongan ini melanjutkan perjalanan pulang ke Kadipaten Selopenangkep dengan
tubuh lemas. Usaha mencari Pujo tidak berhasil, malah mereka mendapat hinaan
dari Resi Telomoyo! Bersungut-sungut Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo memasuki
Kadipaten Selopenangkep. Orang-orang sama terheran melihat betapa pasukan yang
ketika berangkat dahulu gagah-gagah itu kini pulang dengan pakaian kumal, wajah
kesal dan pakaian kusut, bahkan ada yang masih mengerang-erang dan ada pula
yang tertelungkup di atas punggung kudanya, terlukai seperti pasukan kalah
perang.
Akan tetapi,
ada hiburan bagi Jokowangpati dan Cekel Aksomolo dalam kegemasan mereka, yaitu
bahwa Kadipaten Selopenangkep sudah kedatangan tamu-tamu agung. Selain
Wisangjiwo yang datang bersama dua orang wanita sakti yang bukan lain adalah Ni
Durgogini, dan Ni Nogogini, juga kedatangan beberapa orang sakti lain yang akan
memperkuat persekutuan mereka diharapkan datang dalam beberapa hari, yaitu di
antaranya Ki Warok Gendroyono dari Ponorogo dan Ki Krendoyakso dari Bagelen!.
Secara singkat
Jokowanengpati menceritakan usaha mereka mencari Pujo dan Resi Bhargowo tidak
berhasil, sebaliknya di tengah jalan bertemu dengan Resi Telomoyo dan
terjadilah perselisihan yang mengakibatkan terlukanya para pengawal.
"Manusia kera
yang tua itu benar-benar menjemukan sekali," Jokowanengpati mengakhiri
ceritanya.
"Tanpa
alasan dia mencari keributan dengan kami. Tentu saja para prajurit bukan
lawannya. Kami berdua sudah turun tangan dan tentu dia akan mampus kalau saja
tidak lekas-lekas lari mempergunakan kegesitannya seperti monyet,
meloncat-loncat ke atas pohon sukar dikejar."
"Uuh-huh-huh,
lain kali tidak kuberi ampun si monyet tua dari Telomoyo!" Cekel Aksomolo
ikut bicara.
"Aku
pernah mendengar tentang Resi Telomoyo manusia monyet, kukira hanya dongeng
belaka, kiranya benar-benar ada,"
Ni Nogogini
ikut bicara dan matanya mengerling ke arah Wisangjiwo. Akan tetapi Ni Durgogini
agaknya tidak memperhatikan cerita itu. Ia sedang kesima memandangi wajah
Jokowanengpati yang ganteng dan matanya menyinarkan api gairah.
Kemudian
Adipati Joyowiseso memperkenalkan kedua wanita sakti itu kepada Cekel Aksomolo
dan Jokowanengpati.
"Waduh-waduh..,..,,
sudah terlalu lama mendengar nama andika berdua yang hebat menjulang ke
angkasa! Siapa sangka kedua nini yang sakti mandraguna jug amat cantik jelita
seperti bidadari-bidadari kahyangan! Uh-huh-huh!" CekelAksomolo memuji.
Diam-diam
Wisangjiwo merasa khawatir sekali kalau-kalau gurunya dan bibi gurunya akan
menjadi marah. Akan tetapi ternyata tidak. Malah gurunya tersenyum manis sekali
sambil mengerling ke arah Jokowanengpati dan berkata,
"Paman
Cekel Aksomolo terlalu memuji. Dan orang muda ini yang bernama Jokowanengpati?
Pernah aku mendengar dari muridku Wisangjiwo bahwa kau adalah murid Empu
Bharodo, betulkah, raden?"
Suaranya manis
sekali, seperti orang bertembang, sehingga Jokowanengpati yang ditanya sejenak
tertegun ia tak dapat menjawab, terpesona. Bukan main kakangmas Wisangjiwo,
pikirnya, punya guru begini ayu, begini denok, menggiurkan!
"Dimas
Joko, kau ditanya guruku!" Wisangjiwo menegur geli, maklum betapa tamunya
itu terpesona dan ada rasa bangga di hatinya.
"Oh.....
ah....., betul, bibi! Tetapi hanya bekas murid..... sekarang bukan muridnya
lagi. Kami berselisih faham. Bapa Empu terlalu membela sri baginda sedangkan
saya menentang kekuasaan orang Bali....."
Ni Durgogini
dan Ni Nogogini saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata mendengar ucapan
ini, hanya cuping hidung mereka bergerak sedikit. Tidak ada orang lain yang
lebih dekat dengan sepasang orang Bali yang kini menjadi raja dan patih
Mataram, daripada mereka. Ni Durgogini dahulu adalah selir kinasih ki patih
sedangkan Ni Nogogini selir kinasih (terkasih) sang prabu! Akan tetapi
merekapun mengandung dendam terhadap raja dan patih karena mereka telah
diusir!.
Adipati
Joyowiseso lalu cepat-cepat mempersilahkan mereka duduk di ruangan dalam dan
memerintahkan para abdi (pelayan) untuk mengeluarkan hidangan yang memang telah
disediakan. Suasana di kadipaten dalam pesta-pora untuk menghormat tamu-tamu
agung dan didatangkanlah penari-penari dan penyanyi-penyanyi pilihan untuk
menghibur mereka. Kamar-kamar terbaik dibersihkan dan dipersiapkan untuk para
tamu. Melihat betapa Ni Durgogini tertarik kepada Jokowanengpati, diam-diam Ni
Nogogini girang hatinya. Terbukalah kesempatan baginya untuk mendekati
Wisangjiwo yang amat lama ia rindukan itu. Di lain fihak, Wisangjiwo juga bisa
menangkap arti kerling mata bibi gurunya yang semenjak setahun yang lalu di
pantai Laut Selatan, tak pernah ia jumpai pula. Isteri Wisangjiwo, Listyokumolo
yang bernasib malang, oleh putera adipati itu sudah lama dipulangkan kembali
kepada ayahnya, seorang lurah dusun di sebelah timur Gunung Lawu. Semenjak itu,
Wisangjiwo merasa lebih bebas, sekarangpun karena di situ tidak ada isterinya,
kedatangan Ni Durgogini dan Ni Nogogini benar-benar merupakan anugerah bagi
kehausan nafsunya. Lirik dan senyum manis Ni Nogogini penuh arti dan memberi
janji-janji banyak yang muluk-muluk. Karena di situ ada gurunya, tentu saja Wisangjiwo
tidak berani banyak tingkah, dan ia hanya dapat menanti. Kalau tidak ada
gerakan dari bibi gurunya sendiri, mana berani ia main-main? Ia hanya dapat
menanti dan akan menanti sampai malam nanti. Harapan dan dugaan Wisangjiwo
memang tidak meleset. Menjelang tengah malam, pesta dibubarkan dan para tamu
dipersilahkan beristirahat di kamar masing-masing. Suasana menjadi sunyi sekali
dan dalam kesunyian itulah Wisangjiwo menanti.
Menanti untuk
waktu sebentar saja karena tak lama kemudian jendela kamarnya terbuka dari luar
dan bagaikan sehelai selendang sutera halus dan ringannya, melayanglah tubuh Ni
Nogogini memasuki kamarnya! Rindu dendam mereka sudah ditahan-tahan selama
setahun, maka tanpa bicara lagi Wisangjiwo bangkit dan mengembangkan kedua
lengannya menyambut dengan penuh kegembiraan dan berdekap ciumlah kedua insan
budak hawa nafsu itu.
"Bibi,"
Wisangjiwo berbisik perlahan ketika mendapat kesempatan,
"ni guru
berada di sini, aku..... takut....."
Ni Nogogini
tertawa lirih.
"Takut?
Hi-hi-hik! Kau mau tahu apakah yang saat ini sedang dilakukan oleh orang yang
kautakuti itu ? Mari...... kau ikut aku sebentar dan kau akan melihat apakah
kau perlu takut atau tidak kepada mbok-ayu Durgogini!"
Tak sempat
Wisangjiwo membantah karena ia sudah dipeluk dan dibawa keluar kamarnya seperti
seorang anak kecil saja. Ternyata Ni Nogogini membawanya ke kamar
Jokowanengpati dan wanita sakti itu tanpa mengeluarkan suara membawanya
mendekat jendela. Pada saat itu terdengarlah bisik-bisik di dalam kamar
diseling suara ketawa lirih, suara gurunya!
"Cah
bagus (anak tampan)....... , kenapa tanganmu ini kehilangan
kelingkingnya.......?" Suara Ni Durgogini lirih, merdu, dan manja. Hafal
benar Wisangjiwo akan suara ini, suara gurunya kalau sedang bercinta!
".....
eh, ini.....? Digigit..... ular....." jawab Jokowanengpati dengan suara
tersendat-sendat.
"Ihhh,
ular apa?"
".....
anu ular kuning berlidah merah "
"Hemmm,
dengan ular saja kau kalah sampai kehilangan kelingking? Aku tukang
mempermainkan ular. Ular apa saja! Segala macam racun ular tidak akan mempan
terhadapku!"
"Ah,
tentu saja. Bibi seorang sakti mandraguna, ratu gunung dan hutan, tentu segala
binatang si hutan takluk kepadamu....."
"Kau
ingin belajar aji menaklukkan ular?"
"Tentu
saja, kalau bibi sudi mengajarku....."
"Hi-hik,
kita lihat saja. Kalau kau cukup manis dan pandai menyenangkan hatiku,
mungkin....."
Wisangjiwo
mengirik tangan Ni Nogogini yang tersenyum lebar dan sekali melompat Ni
Nogogini sudah meninggalkan jendela sambil mengempit pinggang orang muda itu dalam
gulungan lengan kirinya. Beberapa detik kemudian mereka sudah kembali ke dalam
kamar Wisangjiwo, dilemparkannya pemuda itu di atas pembaringan dan
ditubruknya. Mereka bergumul di situ sambil tertawa-tawa. Setelah mendapat
kenyataan bahwa gurunya sendiri bermain gila dengan Jokowanengpati, Wisangjiwo
dapat melayani kehendak bibi gurunya dengan gembira dan tidak ragu-ragu lagi.
Ia tidak marah kepada Jokowanengpati karena maklum bahwa tidak ada laki-laki
yang dapat menolak kehendak gurunya itu. Hanya ia merasai heran mengapa
Jokowanengpati membohong tentang kelingkingnya yang putus, Bukankah dahulu
bercerita bahwa jari kelingking kirinya putus karena bacokan senjata ketika ia
dikeroyok gerombolan! perampok? Mengapa pula sekarang mengatakan digigit ular?
Yang mana yang benar?. Akan tetapi sepak terjang Ni Nogogini yang ganas dan
liar membuat ia segera lupa akan Jokowanengpati, lupa akan segala, tenggelam
dalam lautan nafsu. Memuakkan memang bagi mereka yang bersusila! Mengerikan
bagi mereka yang tahu membedakan perbuatan baik dan buruk, bagi mereka yang
belum bejat ahlaknya. Di Kadipaten Selopenangkep, di malam hari itu, terjadilah
perbuatan mesum dan hina oleh dua pasang manusia yang tenggelam dalam
perjinaan, menikmati perbuatan maksiat, tak sadar bahwa mereka menjadi hamba
hawa nafsu dan berenang di tempat kotor. Tiada ubahnya binatang-binatang kerbau
yang bergelimang dalam lumpur, menikmati air lumpur kotor yang menempel di
tubuh. Setiap ada kesempatan, siang maupun malam, kedua orang wanita sakti itu
tentu akan menyeret kedua orang muda untuk memuaskan kehausan mereka yang tak
kunjung padam.
No comments:
Post a Comment