Badai Laut Selatan ; Bagian 029


Bagaimana dengan Cekel Aksomolo? Tiada bedanya! Maklum akan selera kakek itu, Adipati Joyowiseso sengaja memanggil beberapa orang abdi wanita yang cantik-cantik untuk melayani si kakek bandot tua. Karena pelayanan inilah maka tiga orang sakti yang sama "mutunya" ini merasa betah tinggal di kadipaten, menanti datangnya orang-orang sakti lain yang ditunggu-tunggu oleh Adipati Joyosiseso.
Adipati inipun maklum akan perbuatan Ni Durgogini dan Ni Nogogini, akan tetapi karena sepaham sekwalitas, adipati ini dapat memaklumi dan bahkan diam-diam merasa girang bahwa puteranya dan calon mantunya dapat melayani dua orang wanita sakti itu dengan baiknya. Dengan pelayanan-pelayanan memuaskan ini sudah boleh dipastikan bahwa tiga orang sakti itu takkan terlepas dari tangannya, akan merupakan pembantu-pembantu setia dan berguna bagi cita-citanya.

Beberapa hari kemudian berturut-turut datanglah tamu-tamu agung yang diundang dan lama dinanti-nanti itu. Pertama-tama yang datang adalah Ki Warok Gendroyono, seorang kakek berusia enam puluh tahunan yang rambutnya sudah banyak ubannya, namun tubuhnya masih kekar penuh otot-otot, kaki tangannya seperti empat kaki singa, mukanya berkulit hitam terbakar sinar matahari, matanya bersembunyi di balik alis yang panjang, kalau memandang orang melotot seperti orang marah, bicaranya kasar dan apa adanya tanpa tedeng aling-aling, jujur-jujur. Pakaiannya serba hitam dengan celana sebatas lutut, kolornya (ikat pinggangnya) besar sebesai ibu jari kaki, dua kali melilit pinggang tapi ujungnya masih panjang bergantungan di depan, pada ujungnya sekali disimpul besar. Kelihatan lucu kolor itu, akan tetapi jangan main-main dengan benda ini. Semua warok memusatkan ilmunya pada benda yang dapat dipergunakan sebagai senjata atau jimat inilah, dan kolor yang dipakai Ki Warok Gendroyono berwarna kuning dengan belang-belang hitam merah bukanlah kolor sembarang kolor, melainkan kolor sakti yang ampuh dan disebut Ki Bandot. Kabarnya, demikian ampuhnya Ki Bandot ini sehingga sekali saja simpul di ujungnya menghantam lawan, sama hebatnya dengan gigitan seekor ular Bandot yang berbisa!. Ki Warok Gendroyono tidak datang seorang diri, melainkan dengan seorang sahabatnya yang dikenal sebagai yang baurekso (penjaga) Danau Sarangan di lereng Lawu. Karena dari Ponorogo ke Selopenangkep melalui jalan ini, maka Ki Warok Gendroyono singgah di tempat tinggal sabahatnya, bicara tentang undangan Adipati Joyowiseso yang memusuhi Raja Mataram, dan Ki Tejoranu demikian nama sahabatnya itu, menjadi tertarik lalu ikut bersamanya. Ki Tejoranu berusia hampir lima puluh tahun tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat seperti penderita penyakit kuning, matanya sipit dan bicaranya sukar sekali dan pelo (tak dapat menyebut R). Memang dia seorang perantau dari Tiongkok yang sejak mudanya bertapa di Danau Sarangan. Dia ahli silat tangan kosong dan yang amat terkenal adalah permainannya dengan sepasang golok.

Kemudian datang pula tamu dari barat, yaitu Ki Krendayakso. Hebat sekali tubuh kakek ini. Usianya kurang lebih empat puluh tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar melampaui ukuran manusia biasa, pantasnya seorang raksasa di jaman pewayangan! Matanya melotot lebar dan bundar, hidungnya besar pesek, mulutnya tak tampak tertutup cambang bauk yang hitam tebal dan kaku seperti kawat bajanya yang besar itu seakan-akan tidak kuat menahan tubuhnya seperti hampir pecah di sana-sini jika tubuhnya bergerak. Di pinggangnya sebelah kanan tergantung sebuah senjata yang mengerikan, yaitu sebuah penggada yang terbuat daripada baja, ujungnya berduri dua di kanan kiri seperti taring singa Inilah dia Ki Krendayakso kepala rampok di Bagelen yang sudah terkenal namanya di mana-mana karena banyak sudah orang dari empat penjuru mengalami gangguan apabila lewat di daerahnya, yaitu hutan Mundingseto. Kedatangan Ki Krendayakso ini diikuti oleh selusin anak buahnya yang kesemuanya tinggi besar, kasar-kasar dan kuat, karena memang mereka semua adalah "orang-orang hutan" yang tidak mengenal tata susila atau sopan santun. Namun Adipati Joyowiseso yang cerdik dan pandai bersiasat itu menerima mereka dengan ramah di taman, bahkan lalu memerintahkan para abdinya menyediakan tempat tersendiri untuk selosin orang anak buah Ki Krendayakso, memberi mereka hidangan-hidangan enak agar mereka tidak merasa bosan menanti kepala mereka yang menjadi tamu agung di kadipaten.

Dengan gembira Adipati Joyowiseso dibantu oleh Wisangjiwo dan Jokowanengpati, mengajak para tamunya ke ruang tamu di mana telah tersedia hidangan hidangan lezat. Maka duduklah mereka mengitari meja yang penuh makanan dan minuman. Adipati Joyowiseso diapit-apit Wisangjiwo dan Jokowanengpati kemudian berturut-turut duduk Ni Durgogini, Ni Nogogini, Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Tejoranu, dan paling ujung Ki Krendayakso. Adipati Joyowiseso menghaturkan terima kasih atas kedatangan para tamu agungnya, kemudian ia menyinggung-nyinggung tentang keadaan Mataram yang kini dikuasai oleh seorang raja keturunan Bali yang kini telah menaklukkan seluruh daerah Mataram lama. Disinggungnya pula bahwa selain rajanya keturunan Bali, juga raja ini tidak menghargai orang jawa sehingga patihnyapun sahabatnya sendiri, seorang dari Bali pula.
"Terus terang saja," Adipati Joyowiseso melanjutkan kata-katanya,
"saya sendiri seorang taklukan dan kini masih menjadi adipati adalah berkat kemurahan Sang Prabu Airlangga. Akan tetapi, hati siapa akan puas menyaksikan keadaan di istana? Biarlah kita terima kenyataan bahwa raja dan patihnya orang-orang Bali, akan tetapi siapa dapat menahan perih hati melihat kenyataan yang pahit tentang nasib sang prameswari puteri mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa? Betapa pedih hati ini memikirkan puteri keturunan raja kita dahulu, yang kini rela mengundurkan diri menjadi pertapa karena mengalah sehingga kedudukannya tergeser dan dirampas oleh seorang puteri bekas musuh lama, puteri dari Sriwijaya!"
Semua orang terdiam, tak ada yang bicara setelah kata-kata Adipati Joyowieso ini berakhir. Hanya Ni Nogogini bekas selir Raja Airlangga, menjebikan bibirnya yang merah, akan tetapi kepalanya diangguk-anggukkan. Masing-masing terlelap dalam lamunan dan kenangan sendiri. Memang semua juga tahu akan keadaan di kerajaan. Tahu bahwa sang prameswari (permaisuri), puteri mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa yang menjadi isteri pertama Prabu Airlangga, kini mengundurkan diri dan menjadi pertapa bertapa dengan julukan Sang Panembaha Kilisuci.

Sunyi setelah Adipati Joyowiseso menghentikan kata-katanya. Kemudian terdengar suara Ki Warok Gendroyono yang keras dan nyaring, dibarengi tangannya yang besar dan berat menggebrak meja,
"Aku tidak tahu tentang urusan dalam istana raja dan aku tidak peduli dia hendak menceraikan semua isterinya atau kawin lagi! Bukan urusanku! Akan tetapi dua tahun yang lalu, karena membunuh tiga puluh orang musuh-musuhku, aku di tangkap oleh ki patih, kemudian dijatuhi hukuman penggal kepala. Ha-ha-ha! Segala macam pedang dan golok kanak-kanak di Mataram mana yang mampu memenggal leherku? Agaknya sang prabu gentar menyaksikan betapa golok dan pedang tidak berhasil menabas atau melukai batang leherku, maka aku dibebaskan. Akan tetapi aku selalu diawasi, dan semua ini merupakan penghinaan yang takkan dapat kulupakan, terutama sekali Ki Patih Kanuruhan!"
"Hi-hi-hik!" Ni Durgogini tertawa sambil memandang Ki Warok Gendroyono.
"Ki Warok Gendroyono, aku pernah mendengar bahwa Rakyana Patih Kanuruhan adalah seorang yang digdaya sekali. Engkau sendiri tadi mengakui telah ditangkap olehnya. Bagaimanakah caramu hendak membalas dendam?"
Mata itu melotot ke arah Ni Nogogini ketika ia menjawab,
"Betul bahwa dahulu aku kalah olehnya, akan tetapi apakah kau kira selama ini aku tinggal diam saja? Tidak, aku sudah memperdalam ilmu, mencari aji yang akan dapat kupakai untuk menandinginya. Lihat saja nanti, apakah ia akan kuat menadahi ke ampuhan Ki Bandot!"
Sambil berkata demikian, tangannya mengelus-elus ujung kolor yang berada di bawah perut di antara kedua pahanya, sehingga gerakan ini tentu saja nampak lucu dan tidak patut!
"Ki Warok benal.......!" kata Ki Tejoranu mengangguk-angguk.
"Bialpun ki patih lihai sekali, tentu ada yang lebih tinggi. Ilmu tidak ada batasnya, makin dikenal makin tinggi. Saya dengal banyak olang lihai di Matalam, kalau tidak sekalang ikut sobat-sobat mencoba kepandaian meleka, untuk apa kita belajal ilmu?"
Biarpun kata-katanya pelo, namun semua yang hadir dapat menangkap artinya dan tahulah mereka bahwa pertapa Danau Sarangan ini adalah seorang petualang yang hanya tertarik akan mengadu ilmu. Akan tetapi Ki Warok Gendroyono yang jujur berkata sambil tertawa,
"Wah, sahabatku Ki Tejoranu! Selain mencari korban kehebatan sepasang golokmu, apakah kelak kau tidak akan menerimanya apabila memperoleh pahala dan disodori kedudukan pangkat? Kalau begitu, biarlah kelak aku yang mewakilimu menerima semua pahala."
"Hayaaaa...... bukan begitu, Ki Walok sobat baik! Kalau kalah saya mati kalau menang sudah patut telima hadiah." Ia tertawa meringis dan sepasang matanya menjadi makin sipit sehingga tinggal merupakan dua garis melintang saja.

Kini Adipati Joyowiseso menoleh ke arah kepala rampok dari Bagelen yang duduk di ujung meja dan tiada hentinya menggerogoti paha ayam sambil mendorong dari tenggorokan ke perut dengan arak ketan.
"Semua saudara sudah menyatakan pendapatnya, bolehkah kami mendengarkan pendapatmu tentang Mataram, kisanak?"
Menghadapi seorang perampok besar yang kasar dan liar ini, tidak ada sebutan lain yang lebih tepat. Ki Krendroyakso sendiri menyebut ki sanak (saudara) kepada siapapun yang ia jumpai!. Ki Krendroyakso mencuci mulut dan tenggorokannya dengan arak lebih dulu sebelum menjawab, matanya melotot lebar dan cambang bauknya bergerak gerak.
"Heemmmmm, kalau kalian mau menggempur Mataram, aku dan anak buahku siap setiap saat! Kami pernah digempur oleh pasukan Mataram, banyak anak buahku tewas. Raja Mataram yang sekarang adalah musuhku!" Setelah berkata demikian, kembali ia menyambar daging kambing dan melahapnya tanpa mempedulikan orang lain.
"Uuh-huh-huh, demi segala jin dan setan iblis peri gadungan, siluman banaspati tetekan! Bagus, bagus..... semua telah menyatakan kebencian dan permusuhan terhadap si Raja Bali. Huh-huh tapi bagaimana pelaksanaannya? Mataram memiliki panglima-panglima dan senopati senopati yang sakti mandraguna! Apakah tenaga kita mencukupi? Uh-huh-huh kalau sampai gagal, kita semua tidak urung akan binasa.......!"
"Bruuuukkkk!" Ki Warok Gendroyono menggebrak meja sampai tergetar dan piring-piring berloncatan.
"Paman Cekel Aksomolo apakah takut?"
"Uh-huh-huh, sialan awakku, disangka takut. Bukan takut, Ki Warok, akan tetapi kita harus mengatur siasat, harus mengukur tenaga sendiri dan membandingkannya dengan tenaga calon lawan..... "
"Paman Cekel Aksomolo berkata benar!" Tiba-tiba terdengar suara halus suara Ni Nogogini.
"Memang harus berhati-hati dan sekali bertindak ceroboh selain usaha gagal juga kita akan binasa. Benar apa yang dikatakan mbok ayu Ni Durgogini tadi. Baru Narotama Patih Kanuruhan itu saja kedigdayaannya sudah menggiriskan, apalagi kalau kita ingat akan Sang Prabu Airlangga sendiri yang sakti mandraguna! Seakan-akan Sang Batara Wisnu sendiri yang menjelma. Dalam kedigdayaannya, biarpun sang prabu ini saudara seperguruan ki patih, namun ilmunya jauh melampauinya! Karena itulah, selain kita harus berhati-hati, juga harus dapat melihat keadaan dan pandai memilih waktu."
"Sekaranglah waktunya!" tiba-tiba Ni Durgogini berkata.
"Kalau mau memilih yang paling tepat, sekarang inilah!"
"Mbok-ayu, apa maksudmu?" Ni Nogogini bertanya, sedangkan yang lain-lain juga menengok memandang wajah ayu kemayu dan mata yang kocak bening itu. Bibir yang merah basah tanpa dubang (air kapur sirih) itu merekah membayangkan kilatan gigi yang putih.
"Kalian semua belum tahu bahwa pada saat ini Kerajaan Mataram kehilangan sebuah pusaka yang selama ratusan tahun menjadi lambang kejayaan Mataram, Patung kencana Sri Batara Wishnu telah lenyap dari keraton!"

Semua orang menyambut berita ini dengan kaget. Terdengar suara ah-ah-oh-oh dan semua mata memandang wajah ayu Ni Durgogini, bukan karena kagum oleh kecantikan melainkan oleh rasa ingin tahu yang besar. Wanita itu mengangguk-angguk.
"Pusaka keramat itu lenyap tak meninggalkan bekas. Sang prabu gelisah, bahkan mengutus ki patih sendiri untuk turun tangan keluar dari istana pergi mencari patung kencana yang hilang. Nah, pada saat pusaka keramat lenyap dan Kerajaan Mataram menyuram, apalagi ki patih tidak berada di keraton, bukankah saat ini adalah saat terbaik?"

<<< Bagian 028                                                                                   Bagian 030 >>>

No comments:

Post a Comment