Bagaimana dengan Cekel Aksomolo? Tiada bedanya! Maklum akan selera kakek itu, Adipati Joyowiseso sengaja memanggil beberapa orang abdi wanita yang cantik-cantik untuk melayani si kakek bandot tua. Karena pelayanan inilah maka tiga orang sakti yang sama "mutunya" ini merasa betah tinggal di kadipaten, menanti datangnya orang-orang sakti lain yang ditunggu-tunggu oleh Adipati Joyosiseso.
Adipati inipun
maklum akan perbuatan Ni Durgogini dan Ni Nogogini, akan tetapi karena sepaham
sekwalitas, adipati ini dapat memaklumi dan bahkan diam-diam merasa girang
bahwa puteranya dan calon mantunya dapat melayani dua orang wanita sakti itu
dengan baiknya. Dengan pelayanan-pelayanan memuaskan ini sudah boleh dipastikan
bahwa tiga orang sakti itu takkan terlepas dari tangannya, akan merupakan
pembantu-pembantu setia dan berguna bagi cita-citanya.
Beberapa hari
kemudian berturut-turut datanglah tamu-tamu agung yang diundang dan lama
dinanti-nanti itu. Pertama-tama yang datang adalah Ki Warok Gendroyono, seorang
kakek berusia enam puluh tahunan yang rambutnya sudah banyak ubannya, namun
tubuhnya masih kekar penuh otot-otot, kaki tangannya seperti empat kaki singa,
mukanya berkulit hitam terbakar sinar matahari, matanya bersembunyi di balik alis
yang panjang, kalau memandang orang melotot seperti orang marah, bicaranya
kasar dan apa adanya tanpa tedeng aling-aling, jujur-jujur. Pakaiannya serba
hitam dengan celana sebatas lutut, kolornya (ikat pinggangnya) besar sebesai
ibu jari kaki, dua kali melilit pinggang tapi ujungnya masih panjang
bergantungan di depan, pada ujungnya sekali disimpul besar. Kelihatan lucu
kolor itu, akan tetapi jangan main-main dengan benda ini. Semua warok
memusatkan ilmunya pada benda yang dapat dipergunakan sebagai senjata atau
jimat inilah, dan kolor yang dipakai Ki Warok Gendroyono berwarna kuning dengan
belang-belang hitam merah bukanlah kolor sembarang kolor, melainkan kolor sakti
yang ampuh dan disebut Ki Bandot. Kabarnya, demikian ampuhnya Ki Bandot ini
sehingga sekali saja simpul di ujungnya menghantam lawan, sama hebatnya dengan
gigitan seekor ular Bandot yang berbisa!. Ki Warok Gendroyono tidak datang
seorang diri, melainkan dengan seorang sahabatnya yang dikenal sebagai yang
baurekso (penjaga) Danau Sarangan di lereng Lawu. Karena dari Ponorogo ke
Selopenangkep melalui jalan ini, maka Ki Warok Gendroyono singgah di tempat
tinggal sabahatnya, bicara tentang undangan Adipati Joyowiseso yang memusuhi
Raja Mataram, dan Ki Tejoranu demikian nama sahabatnya itu, menjadi tertarik
lalu ikut bersamanya. Ki Tejoranu berusia hampir lima puluh tahun tubuhnya
tinggi kurus dan mukanya pucat seperti penderita penyakit kuning, matanya sipit
dan bicaranya sukar sekali dan pelo (tak dapat menyebut R). Memang dia seorang
perantau dari Tiongkok yang sejak mudanya bertapa di Danau Sarangan. Dia ahli
silat tangan kosong dan yang amat terkenal adalah permainannya dengan sepasang
golok.
Kemudian
datang pula tamu dari barat, yaitu Ki Krendayakso. Hebat sekali tubuh kakek
ini. Usianya kurang lebih empat puluh tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar
melampaui ukuran manusia biasa, pantasnya seorang raksasa di jaman pewayangan!
Matanya melotot lebar dan bundar, hidungnya besar pesek, mulutnya tak tampak
tertutup cambang bauk yang hitam tebal dan kaku seperti kawat bajanya yang
besar itu seakan-akan tidak kuat menahan tubuhnya seperti hampir pecah di
sana-sini jika tubuhnya bergerak. Di pinggangnya sebelah kanan tergantung
sebuah senjata yang mengerikan, yaitu sebuah penggada yang terbuat daripada
baja, ujungnya berduri dua di kanan kiri seperti taring singa Inilah dia Ki
Krendayakso kepala rampok di Bagelen yang sudah terkenal namanya di mana-mana
karena banyak sudah orang dari empat penjuru mengalami gangguan apabila lewat
di daerahnya, yaitu hutan Mundingseto. Kedatangan Ki Krendayakso ini diikuti
oleh selusin anak buahnya yang kesemuanya tinggi besar, kasar-kasar dan kuat,
karena memang mereka semua adalah "orang-orang hutan" yang tidak
mengenal tata susila atau sopan santun. Namun Adipati Joyowiseso yang cerdik
dan pandai bersiasat itu menerima mereka dengan ramah di taman, bahkan lalu
memerintahkan para abdinya menyediakan tempat tersendiri untuk selosin orang
anak buah Ki Krendayakso, memberi mereka hidangan-hidangan enak agar mereka tidak
merasa bosan menanti kepala mereka yang menjadi tamu agung di kadipaten.
Dengan gembira
Adipati Joyowiseso dibantu oleh Wisangjiwo dan Jokowanengpati, mengajak para
tamunya ke ruang tamu di mana telah tersedia hidangan hidangan lezat. Maka
duduklah mereka mengitari meja yang penuh makanan dan minuman. Adipati
Joyowiseso diapit-apit Wisangjiwo dan Jokowanengpati kemudian berturut-turut
duduk Ni Durgogini, Ni Nogogini, Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki
Tejoranu, dan paling ujung Ki Krendayakso. Adipati Joyowiseso menghaturkan
terima kasih atas kedatangan para tamu agungnya, kemudian ia
menyinggung-nyinggung tentang keadaan Mataram yang kini dikuasai oleh seorang
raja keturunan Bali yang kini telah menaklukkan seluruh daerah Mataram lama.
Disinggungnya pula bahwa selain rajanya keturunan Bali, juga raja ini tidak
menghargai orang jawa sehingga patihnyapun sahabatnya sendiri, seorang dari
Bali pula.
"Terus
terang saja," Adipati Joyowiseso melanjutkan kata-katanya,
"saya
sendiri seorang taklukan dan kini masih menjadi adipati adalah berkat kemurahan
Sang Prabu Airlangga. Akan tetapi, hati siapa akan puas menyaksikan keadaan di
istana? Biarlah kita terima kenyataan bahwa raja dan patihnya orang-orang Bali,
akan tetapi siapa dapat menahan perih hati melihat kenyataan yang pahit tentang
nasib sang prameswari puteri mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa? Betapa pedih
hati ini memikirkan puteri keturunan raja kita dahulu, yang kini rela
mengundurkan diri menjadi pertapa karena mengalah sehingga kedudukannya tergeser
dan dirampas oleh seorang puteri bekas musuh lama, puteri dari Sriwijaya!"
Semua orang
terdiam, tak ada yang bicara setelah kata-kata Adipati Joyowieso ini berakhir.
Hanya Ni Nogogini bekas selir Raja Airlangga, menjebikan bibirnya yang merah,
akan tetapi kepalanya diangguk-anggukkan. Masing-masing terlelap dalam lamunan
dan kenangan sendiri. Memang semua juga tahu akan keadaan di kerajaan. Tahu
bahwa sang prameswari (permaisuri), puteri mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa
yang menjadi isteri pertama Prabu Airlangga, kini mengundurkan diri dan menjadi
pertapa bertapa dengan julukan Sang Panembaha Kilisuci.
Sunyi setelah
Adipati Joyowiseso menghentikan kata-katanya. Kemudian terdengar suara Ki Warok
Gendroyono yang keras dan nyaring, dibarengi tangannya yang besar dan berat
menggebrak meja,
"Aku
tidak tahu tentang urusan dalam istana raja dan aku tidak peduli dia hendak
menceraikan semua isterinya atau kawin lagi! Bukan urusanku! Akan tetapi dua
tahun yang lalu, karena membunuh tiga puluh orang musuh-musuhku, aku di tangkap
oleh ki patih, kemudian dijatuhi hukuman penggal kepala. Ha-ha-ha! Segala macam
pedang dan golok kanak-kanak di Mataram mana yang mampu memenggal leherku?
Agaknya sang prabu gentar menyaksikan betapa golok dan pedang tidak berhasil
menabas atau melukai batang leherku, maka aku dibebaskan. Akan tetapi aku
selalu diawasi, dan semua ini merupakan penghinaan yang takkan dapat kulupakan,
terutama sekali Ki Patih Kanuruhan!"
"Hi-hi-hik!"
Ni Durgogini tertawa sambil memandang Ki Warok Gendroyono.
"Ki Warok
Gendroyono, aku pernah mendengar bahwa Rakyana Patih Kanuruhan adalah seorang
yang digdaya sekali. Engkau sendiri tadi mengakui telah ditangkap olehnya.
Bagaimanakah caramu hendak membalas dendam?"
Mata itu
melotot ke arah Ni Nogogini ketika ia menjawab,
"Betul
bahwa dahulu aku kalah olehnya, akan tetapi apakah kau kira selama ini aku
tinggal diam saja? Tidak, aku sudah memperdalam ilmu, mencari aji yang akan
dapat kupakai untuk menandinginya. Lihat saja nanti, apakah ia akan kuat
menadahi ke ampuhan Ki Bandot!"
Sambil berkata
demikian, tangannya mengelus-elus ujung kolor yang berada di bawah perut di
antara kedua pahanya, sehingga gerakan ini tentu saja nampak lucu dan tidak
patut!
"Ki Warok
benal.......!" kata Ki Tejoranu mengangguk-angguk.
"Bialpun
ki patih lihai sekali, tentu ada yang lebih tinggi. Ilmu tidak ada batasnya,
makin dikenal makin tinggi. Saya dengal banyak olang lihai di Matalam, kalau
tidak sekalang ikut sobat-sobat mencoba kepandaian meleka, untuk apa kita
belajal ilmu?"
Biarpun kata-katanya
pelo, namun semua yang hadir dapat menangkap artinya dan tahulah mereka bahwa
pertapa Danau Sarangan ini adalah seorang petualang yang hanya tertarik akan
mengadu ilmu. Akan tetapi Ki Warok Gendroyono yang jujur berkata sambil
tertawa,
"Wah,
sahabatku Ki Tejoranu! Selain mencari korban kehebatan sepasang golokmu, apakah
kelak kau tidak akan menerimanya apabila memperoleh pahala dan disodori
kedudukan pangkat? Kalau begitu, biarlah kelak aku yang mewakilimu menerima
semua pahala."
"Hayaaaa......
bukan begitu, Ki Walok sobat baik! Kalau kalah saya mati kalau menang sudah
patut telima hadiah." Ia tertawa meringis dan sepasang matanya menjadi
makin sipit sehingga tinggal merupakan dua garis melintang saja.
Kini Adipati
Joyowiseso menoleh ke arah kepala rampok dari Bagelen yang duduk di ujung meja
dan tiada hentinya menggerogoti paha ayam sambil mendorong dari tenggorokan ke
perut dengan arak ketan.
"Semua
saudara sudah menyatakan pendapatnya, bolehkah kami mendengarkan pendapatmu
tentang Mataram, kisanak?"
Menghadapi
seorang perampok besar yang kasar dan liar ini, tidak ada sebutan lain yang
lebih tepat. Ki Krendroyakso sendiri menyebut ki sanak (saudara) kepada
siapapun yang ia jumpai!. Ki Krendroyakso mencuci mulut dan tenggorokannya
dengan arak lebih dulu sebelum menjawab, matanya melotot lebar dan cambang
bauknya bergerak gerak.
"Heemmmmm,
kalau kalian mau menggempur Mataram, aku dan anak buahku siap setiap saat! Kami
pernah digempur oleh pasukan Mataram, banyak anak buahku tewas. Raja Mataram yang
sekarang adalah musuhku!" Setelah berkata demikian, kembali ia menyambar
daging kambing dan melahapnya tanpa mempedulikan orang lain.
"Uuh-huh-huh,
demi segala jin dan setan iblis peri gadungan, siluman banaspati tetekan!
Bagus, bagus..... semua telah menyatakan kebencian dan permusuhan terhadap si
Raja Bali. Huh-huh tapi bagaimana pelaksanaannya? Mataram memiliki
panglima-panglima dan senopati senopati yang sakti mandraguna! Apakah tenaga
kita mencukupi? Uh-huh-huh kalau sampai gagal, kita semua tidak urung akan
binasa.......!"
"Bruuuukkkk!"
Ki Warok Gendroyono menggebrak meja sampai tergetar dan piring-piring
berloncatan.
"Paman
Cekel Aksomolo apakah takut?"
"Uh-huh-huh,
sialan awakku, disangka takut. Bukan takut, Ki Warok, akan tetapi kita harus
mengatur siasat, harus mengukur tenaga sendiri dan membandingkannya dengan
tenaga calon lawan..... "
"Paman
Cekel Aksomolo berkata benar!" Tiba-tiba terdengar suara halus suara Ni
Nogogini.
"Memang
harus berhati-hati dan sekali bertindak ceroboh selain usaha gagal juga kita
akan binasa. Benar apa yang dikatakan mbok ayu Ni Durgogini tadi. Baru Narotama
Patih Kanuruhan itu saja kedigdayaannya sudah menggiriskan, apalagi kalau kita
ingat akan Sang Prabu Airlangga sendiri yang sakti mandraguna! Seakan-akan Sang
Batara Wisnu sendiri yang menjelma. Dalam kedigdayaannya, biarpun sang prabu
ini saudara seperguruan ki patih, namun ilmunya jauh melampauinya! Karena
itulah, selain kita harus berhati-hati, juga harus dapat melihat keadaan dan
pandai memilih waktu."
"Sekaranglah
waktunya!" tiba-tiba Ni Durgogini berkata.
"Kalau
mau memilih yang paling tepat, sekarang inilah!"
"Mbok-ayu,
apa maksudmu?" Ni Nogogini bertanya, sedangkan yang lain-lain juga
menengok memandang wajah ayu kemayu dan mata yang kocak bening itu. Bibir yang
merah basah tanpa dubang (air kapur sirih) itu merekah membayangkan kilatan
gigi yang putih.
"Kalian
semua belum tahu bahwa pada saat ini Kerajaan Mataram kehilangan sebuah pusaka
yang selama ratusan tahun menjadi lambang kejayaan Mataram, Patung kencana Sri
Batara Wishnu telah lenyap dari keraton!"
Semua orang
menyambut berita ini dengan kaget. Terdengar suara ah-ah-oh-oh dan semua mata
memandang wajah ayu Ni Durgogini, bukan karena kagum oleh kecantikan melainkan
oleh rasa ingin tahu yang besar. Wanita itu mengangguk-angguk.
"Pusaka
keramat itu lenyap tak meninggalkan bekas. Sang prabu gelisah, bahkan mengutus
ki patih sendiri untuk turun tangan keluar dari istana pergi mencari patung
kencana yang hilang. Nah, pada saat pusaka keramat lenyap dan Kerajaan Mataram
menyuram, apalagi ki patih tidak berada di keraton, bukankah saat ini adalah
saat terbaik?"
No comments:
Post a Comment