Badai Laut Selatan ; Bagian 027


"Orang tua, menyerahlah kami belenggu!" bentak kepala pengawal, diam-diam merasa sungkan juga harus mengerahkan dua belas orang anak buahnya hanya untuk menangkap seorang kakek kurus tua renta yang bertangan kosong.
"Ha-ha-ha-ha, apakah kalau kaki tanganku sudah dibelenggu, kalian merasa akan menang? Majulah, aku melawanmu dengan tangan dan kaki terangkap seperti dibelenggu!"
Resi Telomoyo berkata sambil tertawa dan benar saja, ia merangkapkan kedua tangan dan juga kedua kakinya, berdiri agak membongkok dan matanya yang kecil itu melirik-lirik nakal seperti mata seekor kera. Tentu saja sikap ini membuat para pengawal menjadi marah dan juga geli, mengira bahwa kakek ini tentulah seorang yang sudah miring otaknya atau sudah pikun dan linglung saking tuanya. Karena itu,kepala pasukan memberi aba-aba,
"Serbu dan tangkap dia, boleh pukul tapi jangan bunuh!"

Bagaikan berlomba mencari jasa, dua belas orang pasukan pengawal itu menubruk maju, pedang dan golok dibalikkan karena mereka hanya ingin menggunakan punggung senjata yang tidak tajam saja. Sambil tertawa mengejek dan berteriak-teriak, mereka menyerbu ke depan. Tiba-tiba tubuh kakek itu mencelat ke atas dengan keadaan tegak dan dari atas ia membalik turun. Benar saja seperti janjinya, ia tidak pernah melepas kedua tangan dan kakinya yang tetap menjadi satu, akan tetapi begitu tubuhnya bergerak menyambar-nyambar ke bawah, terdengar teriakan-teriakan ngeri dan robohlah dua belas orang itu satu demi satu, roboh karena dihantam siku atau lutut, bahkan ada yang roboh karena gempuran kepala si kakek yang berambut putih!
Mereka roboh tumpang-tindih, mengerang-erang dan merintih-rintih tanpa dapat bangun kembali sedangkan Resi Telomoyo sudah berdiri kembali di tempat tadi,
"Pertempuran" ini tidak lebih satu menit lamanya!.
"Rrriiiiikkkk....... ttrrriiikkk.......!!"
Tiada hentinya bunyi berkeritik yang amat nyaring ini dan kiranya Cekel Aksomolo sudah melangkah maju dan memutar tasbihnya yang mengeluarkan suara sakti untuk merobohkan kakek lawan tangguh itu.
Jokowanengpati terkejut sekali karena tidak mempergunakan alat penutup telinga, maka ia cepat-cepat mengerahkan ilmu dan ajiannya, mengerahkan tenaga sakti dalam tubuh, menyalurkan hawa panas tenaga sakti itu ke arah sepanjang telinganya untuk menolak pengaruh suara mujijat.
Sejenak Resi Tolomoyo yang diserang langsung oleh suara itu, bergoyang-goyang tubuhnya, kemudian ia meringkik-ringkik dan menggereng-gereng sambil berloncatan, makin lama suaranya makin cepat dan nyaring, mengimbangi suara tasbih sehingga terjadilah "adu suara" yang sama sekali tidak merdu di antara keduanya, didorong oleh tenaga sakti tingkat tinggi.
Kasihan adalah nasib sisa dua belas orang yang belum roboh. Begitu mendengar suara berkeritik dari tasbih Cekel Aksomolo, mereka menggigil. Kali ini Cekel Aksomolo tidak menggunakan nada suara tinggi halus untuk memecahkan kendangan telinga, melainkan mempergunakan nada suara keras untuk mengguncang jantung. Dua belas orang itu menjambak-jambak dada yang terasa sakit dan tak lama kemudian mereka sudah terjungkal roboh dan berkelojotan seperti cacing yang terkena abu, dan betapapun mereka menutupi telinga, suara itu tetap menerobos masuk dan seakan-akan menusuk-nusuk jantung.
Apalagi setelah kakek rambut putih itu mengeluarkan suara pula yang amat tidak enak didengar, keadaan mereka makin tersiksa. Adapun dua belas orang pengawal yang lain tidaklah begitu menderita. Mereka telah terluka parah dan kelemahan tubuh mereka membuat mereka segera roboh pingsan begitu mendengar suara sakti, Cekel Aksomolo makin penasaran dan juga marah, apalagi setelah melihat betapa selain kakek putih itu tidak terpengaruh oleh suara tasbihnya, juga semua pengawal sudah roboh, bahkan Jokowanengpati dalam keadaan setengah samadhi sehingga takkan dapat membantunya. Dalam gebrakan pertama ini dia sudah rugi. Karena itu, dengan gemas ia menghentikan suara tasbihnya dan membentak,
"Kunyuk tua manusia monyet liar! Siapakah engkau berani main-main di depanku? Apakah kehendakmu? Apakah kau sudah bosan hidup?"
"Ha-ha-ha, aku memang bosan hidup, akan tetapi bukan engkau yang menentukan! Apa engkaupun belum bosan, cantrik tua bangka? Tubuhmu sudah bongkok, pipimu sudah peyot, kulitmu sudah keriput, akan tetapi matamu masih memancarkan nafsu! Ha-ha-ha, aku tidak ada waktu untuk melayanimu, yang kuperlukan si Pujo ini!"
Begitu berhenti ucapannya, secepat kilat menyambar, Resi Telomoyo sudah menggerakkan tubuhnya berkelebat ke arah Jokowanengpati yang sudah sejak tadi bersiap-siap.
"Aiihhh.......??"
Terkejut sekali Resi Telomoyo ketika melihat sambarannya tidak berhasil, dapat dielakkan oleh pemuda itu dengan gerakan yang tangkas sekali. Tidak aneh, karena Jokowanengpati bukanlah pemuda sembarangan, ia adalah bekas murid terkasih Empu Bharodo yang sudah menurunkan ilmu meringankan tubuh Bayu Sakti!. Jokowanengpati memang seorang pemuda yang memiliki watak tinggi hati, tidak mau kalah dan memandang rendah orang lain.

Terhadap Resi Telomoyo tentu saja ia tidak mau memandang rendah dan sudah dapat menduga bahwa kakek seperti kera ini memiliki ilmu kesaktian tinggi, akan tetapi ia belum puas kalau belum mencobanya sendiri. Pula, dia adalah seorang pemuda cerdik. Andaikata di sampingnya tidak ada Cekel Aksomolo yang dapat diandalkan untuk membantu dan menolongnya apabila ia terancam bahaya, agaknya sikapnya terhadap lawan sakti ini akan lain lagi. Kini, melihat betapa ia mampu mengelak terhadap terkaman si kakek putih, hatinya menjadi besar dan sambil membalikkan tubuhnya ia bersiap dengan kuda-kuda yang kokoh kuat. Begitu kakek rambut putih itu menubruk lagi, ia mengelak ke kiri sambil balas menghantam dengan tangan kanan ke arah dada, disusul dupakan kaki kiri ke arah lutut kanan lawan. Pukulan tangan Jokowanengpati amatlah ampuhnya karena ia mempergunakan aji pukulan Siyung Warak yang mengandung penuh tenaga sakti dan sanggup menghancurkan batu gunung! Juga pukulan kakinya amat dahsyat, apalagi yang dijadikan sasaran adalah lutut. Betapapun saktinya seseorang, apabila, sambungan lututnya terlepas, tentu akan menjadi pincang dan berkurang kegesitannya. Namun, betapa kagetnya hati Jokowanengpati ketika pukulan tangan kanannya itu bertemu dengan daging dada yang lunak dan membuat tenaga pukulannya seakan-akan tenggelam ke dalam air yang tak berdasar, adapun tendangannya yang menyusul itu sama sekali tidak mengenai sasaran. Cepat ia menarik pukulannya dan melompat ke belakang dengan muka pucat. Tahulah ia bahwa lawan yang tua ini benar-benar merupakan tandingan berat yang memiliki tenaga dalam yang sukar diukur tingkatnya!
"Ha-ha-ha, sebegitu saja kepandaianmu? Lebih baik kau menurut saja kubawa!"
Kembali Resi Telomoyo menubruk hendak menangkap lawannya yang muda dan gesit, namun kembali Jokowanengpati dapat mengelak mempergunakan Ilmu Bayu Saktinya. Sambil mengelak ia tidak mau tinggal diam. Ia maklum akan kekuatan kakek ini, akan tetapi juga dapat menduga bahwa kakek ini memiliki bagian-bagian tubuh yang tidak kebal, buktinya tadi tendangan yang diarahkan kepada sambungan lutut, tidak berani kakek itu menerimanya. Kini Jokowanengpati menyerbu dan mainkan Ilmu Silat Jonggring Saloko yang ia warisi dari gurunya. Empu Bharodo memang seorang sakti yang terkenal dengan dua macam ilmunya, yaitu Bayu Sakti sebagai ilmu meringankan tubuh yang membuat pertapa itu dianggap dapat terbang saking tingginya ilmunya ini, dan kedua adalah Ilmu Tombak Jonggring Saloko. Ilmu tombak ini kabarnya belum pernah menemui tanding dan juga ilmu tombak ini merupakan rahasia yang tidak diturunkan kepada muridnya oleh Empu Bharodo. Akan tetapi sebagai pecahan ilmu tombak ini diciptakanlah ilmu pukulan tangan Jonggring Saloko dan ilmu inilah yang ia turunkan kepada muridnya. Karena Jokowanengpati mempergunakan ilmu pukulan Jonggring Saloko, sebuah ilmu yang diciptakan oleh Empu Bharodo sendiri, tentu saja amatlah ampuhnya. Apalagi karena ilmu ini dimainkan dengan dasar Aji Bayu Sakti yang membuat geraknya menjadi cepat seperti kilat sedangkan ke dalam kedua tangannya ia isi dengan aji pukulan Siyung Warak, maka pada saat itu pemuda ini benar-benar tak boleh dipandang ringan!
"Bagus! Hebat juga!"
Berkali-kali Resi Telomoyo memuji. Dia benar-benar kagum sekali, dan harus mengaku dalam hati bahwa belum pernah ia bertemu lawan sekuat ini, apalagi lawan seorang muda. Kalau saja ia tidak menang kuat ilmu dalamnya dan tidak lebih matang ajiannya, agaknya sukar untuk menanggulangi sepak terjang setangkas ini. Ah, pantas saja muridnya, Roro Luhito yang manis, yang mungil dan denok, tergila-gila kepada pemuda ini. Tidak aneh. Memang pemuda pilihan, pemuda gemblengan yang patut sekali menjadi suami Roro Luhito muridnya! Aku harus dapat menangkapnya dan membawanya ke depan Roro Luhito, pikir sang resi. Oleh karena itu ia tidak mau main-main lebih lama lagi biarpun ingin ia menguji sampai di mana hebatnya kepandaian pemuda ini. Segera ia mengeluarkan seruan meringkik, tubuhnya bergoyang-goyang kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya terbuka, matanya mendelik mulutnya terbuka menyeringai. Inilah Ilmu Sosro Satwo (Seribu Binatang) yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali! Seketika Jokowanengpati meremang tengkuknya karena Aji Sosro Satwo yang dipergunakan Resi Telomoyo itu memang memancarkan wibawa yang mujijat. Sebelum pemuda ini dapat menenteramkan hatinya, ia sudah diserbu hebat. Kedua lengan tangan resi itu seakan-akan telah menjadi puluhan banyaknya dan Jokowanengpati mendengar suara bermacam binatang liar di sekelilingnya! Ia hanya dapat mengerahkan Bayu Sakti, mundur-mundur sambil mengelak dan menangkis sedapatnya.
"Werrrr......, ssyyuuuut.......!"

Sinar hitam meluncur ke depan menyambar kepala Resi Telomoyo yang cepat melompat mundur karena hawa sambaran benda bersinar hitam itu luar biasa sekali pengaruhnya. Ternyata Cekel Aksomolo yang sudah maju. Kakek pertapa Gunung Wilis ini berkata,
"Mundurlah, raden. Biarlah aku yang maju. Hayo, kunyuk tua manusia kera., majulah. Akulah lawanmu, tua sama tua! Huh-huh!"
Resi Telomoyo sudah menjadi marah sekali, akan tetapi iapun merasa heran. Mengapa ada seorang cantrik yang agaknya lebih sakti daripada Pujo? Ia merasa direndahkan kalau hanya dilawan oleh seorang cantrik saja. Maka sambil menggeram keras ia menerjang maju dengan pukulan Kapi Dibyo. Kedua tangannya menghantam dengan hawa pukulan jarak jauh yang cukup merobohkan lawan dari jarah jauh tanpa menyentuh orangnya. Akan tetapi Cekel Aksomolo tertawa dan menyambut lawan dengan hantaman tasbihnya yang ampuh. Resi Telomoyo tidak berani menerima hantaman tasbih ini, tasbih yang mengarah lehernya dari kiri, cepat tubuhnya miring ke arah kiri, menyelinap di antara sinar hitam tasbih, akan tetapi melanjutkan pukulan tangan kirinya menebak (memukul dengan telapak tangan) dada lawan. Cekel Aksomolo tentu saja tidak mau mengambil resiko pukulan yang ampuhnya bukan main ini, yang mendatangkan hawa panas, maka ia juga mendorong dengan telapak tangan kanannya memapaki tangan lawan.
"Dukkk!!"
Untuk kedua kalinya dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara dan akibatnya hebat. Tubuh Resi Telomoyo terlempar ke belakang, terjengkang dan berjungkir balik beberapa kali dengan amat tangkasnya. Akan tetapi Cekel Aksomolo juga terdorong ke belakang, terhuyung-huyung hampir roboh. Keduanya terpental sampai lima meter ke belakang dan kini berhadapan dengan mata terbelalak kagum dan kaget.
"Uuh-huh-huh, kiranya bukan sembarang orang! Eh, kunyuk tua, sebelum mampus di tangan Cekel Aksomolo, mengakulah, siapa gerangan engkau ini dan apakah engkau tadi terlalu banyak minum arak maka tiada hujan tiada angina mengamuk seperti kera mabok?"
Tercengang Resi Telomoyo mendengar nama ini. Ia menggaruk-garuk belakang telinganya lalu terkekeh.
"Wah-wah, kiranya bukan cekel sembarang cekel, bukan cantrik sembarang cantrik! Kusangka cantrik bujang Resi Bhargowo, siapa tahu ternyata Cekel Aksomolo si cantrik iblis! Heh, cekel bongkok, aku adalah Resi Telomoyo! Mengapa engkau melindungi si Pujo ini yang hendak kubawa untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya ? Hayo, benar-benarkah kau hendak mengadu kesaktian, menguji ampuhnya mantera tebalnya aji?"
Kini giliran Cekel Aksomolo yang kaget. Belum pernah ia bertemu memang, baru kali ini, namun nama Resi Telomoyo sudah pernah ia dengar, dan menyaksikan akibat benturan tenaga sakti tadi, ia maklum bahwa manusia seperti monyet ini sama sekali tak boleh dipandang ringan. Sementara itu, Jokowanengpati ketika mendengar bahwa kakek itu adalah Resi Telomoyo yang kabarnya sakti mandraguna seperti Sang Hanoman di jaman Ramayana, juga menjadi terkejut. Pemuda cerdik ini memang sedang berusaha mengumpulkan sekutu yang pandai-pandai, maka cepat ia berkata,
"Mohon paman Resi Telomoyo sudi mengampunkan saya. Saya sama sekali bukanlah Pujo yang paman cari. Saya bernama Jokowanengpati, murid Empu Bharodo."

Resi Telomoyo tertegun, kecewa dan mendongkol.
"Mengapa tidak dari tadi mengaku? Empu Bharodo saudara seperguruan Resi Bhargowo? Kalau begitu engkau sama busuknya dengan Pujo ! Tampak pada kilatan matamu.

<<< Bagian 026                                                                                   Bagian 028 >>>

No comments:

Post a Comment