"Orang tua, menyerahlah kami belenggu!" bentak kepala pengawal, diam-diam merasa sungkan juga harus mengerahkan dua belas orang anak buahnya hanya untuk menangkap seorang kakek kurus tua renta yang bertangan kosong.
"Ha-ha-ha-ha,
apakah kalau kaki tanganku sudah dibelenggu, kalian merasa akan menang?
Majulah, aku melawanmu dengan tangan dan kaki terangkap seperti
dibelenggu!"
Resi Telomoyo
berkata sambil tertawa dan benar saja, ia merangkapkan kedua tangan dan juga kedua
kakinya, berdiri agak membongkok dan matanya yang kecil itu melirik-lirik nakal
seperti mata seekor kera. Tentu saja sikap ini membuat para pengawal menjadi
marah dan juga geli, mengira bahwa kakek ini tentulah seorang yang sudah miring
otaknya atau sudah pikun dan linglung saking tuanya. Karena itu,kepala pasukan
memberi aba-aba,
"Serbu
dan tangkap dia, boleh pukul tapi jangan bunuh!"
Bagaikan
berlomba mencari jasa, dua belas orang pasukan pengawal itu menubruk maju,
pedang dan golok dibalikkan karena mereka hanya ingin menggunakan punggung
senjata yang tidak tajam saja. Sambil tertawa mengejek dan berteriak-teriak,
mereka menyerbu ke depan. Tiba-tiba tubuh kakek itu mencelat ke atas dengan
keadaan tegak dan dari atas ia membalik turun. Benar saja seperti janjinya, ia
tidak pernah melepas kedua tangan dan kakinya yang tetap menjadi satu, akan
tetapi begitu tubuhnya bergerak menyambar-nyambar ke bawah, terdengar
teriakan-teriakan ngeri dan robohlah dua belas orang itu satu demi satu, roboh
karena dihantam siku atau lutut, bahkan ada yang roboh karena gempuran kepala
si kakek yang berambut putih!
Mereka roboh
tumpang-tindih, mengerang-erang dan merintih-rintih tanpa dapat bangun kembali
sedangkan Resi Telomoyo sudah berdiri kembali di tempat tadi,
"Pertempuran"
ini tidak lebih satu menit lamanya!.
"Rrriiiiikkkk.......
ttrrriiikkk.......!!"
Tiada hentinya
bunyi berkeritik yang amat nyaring ini dan kiranya Cekel Aksomolo sudah
melangkah maju dan memutar tasbihnya yang mengeluarkan suara sakti untuk
merobohkan kakek lawan tangguh itu.
Jokowanengpati
terkejut sekali karena tidak mempergunakan alat penutup telinga, maka ia
cepat-cepat mengerahkan ilmu dan ajiannya, mengerahkan tenaga sakti dalam
tubuh, menyalurkan hawa panas tenaga sakti itu ke arah sepanjang telinganya
untuk menolak pengaruh suara mujijat.
Sejenak Resi
Tolomoyo yang diserang langsung oleh suara itu, bergoyang-goyang tubuhnya,
kemudian ia meringkik-ringkik dan menggereng-gereng sambil berloncatan, makin
lama suaranya makin cepat dan nyaring, mengimbangi suara tasbih sehingga
terjadilah "adu suara" yang sama sekali tidak merdu di antara
keduanya, didorong oleh tenaga sakti tingkat tinggi.
Kasihan adalah
nasib sisa dua belas orang yang belum roboh. Begitu mendengar suara berkeritik
dari tasbih Cekel Aksomolo, mereka menggigil. Kali ini Cekel Aksomolo tidak
menggunakan nada suara tinggi halus untuk memecahkan kendangan telinga,
melainkan mempergunakan nada suara keras untuk mengguncang jantung. Dua belas
orang itu menjambak-jambak dada yang terasa sakit dan tak lama kemudian mereka
sudah terjungkal roboh dan berkelojotan seperti cacing yang terkena abu, dan
betapapun mereka menutupi telinga, suara itu tetap menerobos masuk dan
seakan-akan menusuk-nusuk jantung.
Apalagi
setelah kakek rambut putih itu mengeluarkan suara pula yang amat tidak enak
didengar, keadaan mereka makin tersiksa. Adapun dua belas orang pengawal yang
lain tidaklah begitu menderita. Mereka telah terluka parah dan kelemahan tubuh
mereka membuat mereka segera roboh pingsan begitu mendengar suara sakti, Cekel
Aksomolo makin penasaran dan juga marah, apalagi setelah melihat betapa selain
kakek putih itu tidak terpengaruh oleh suara tasbihnya, juga semua pengawal
sudah roboh, bahkan Jokowanengpati dalam keadaan setengah samadhi sehingga takkan
dapat membantunya. Dalam gebrakan pertama ini dia sudah rugi. Karena itu,
dengan gemas ia menghentikan suara tasbihnya dan membentak,
"Kunyuk
tua manusia monyet liar! Siapakah engkau berani main-main di depanku? Apakah
kehendakmu? Apakah kau sudah bosan hidup?"
"Ha-ha-ha,
aku memang bosan hidup, akan tetapi bukan engkau yang menentukan! Apa engkaupun
belum bosan, cantrik tua bangka? Tubuhmu sudah bongkok, pipimu sudah peyot,
kulitmu sudah keriput, akan tetapi matamu masih memancarkan nafsu! Ha-ha-ha,
aku tidak ada waktu untuk melayanimu, yang kuperlukan si Pujo ini!"
Begitu
berhenti ucapannya, secepat kilat menyambar, Resi Telomoyo sudah menggerakkan
tubuhnya berkelebat ke arah Jokowanengpati yang sudah sejak tadi bersiap-siap.
"Aiihhh.......??"
Terkejut sekali
Resi Telomoyo ketika melihat sambarannya tidak berhasil, dapat dielakkan oleh
pemuda itu dengan gerakan yang tangkas sekali. Tidak aneh, karena
Jokowanengpati bukanlah pemuda sembarangan, ia adalah bekas murid terkasih Empu
Bharodo yang sudah menurunkan ilmu meringankan tubuh Bayu Sakti!.
Jokowanengpati memang seorang pemuda yang memiliki watak tinggi hati, tidak mau
kalah dan memandang rendah orang lain.
Terhadap Resi
Telomoyo tentu saja ia tidak mau memandang rendah dan sudah dapat menduga bahwa
kakek seperti kera ini memiliki ilmu kesaktian tinggi, akan tetapi ia belum
puas kalau belum mencobanya sendiri. Pula, dia adalah seorang pemuda cerdik.
Andaikata di sampingnya tidak ada Cekel Aksomolo yang dapat diandalkan untuk
membantu dan menolongnya apabila ia terancam bahaya, agaknya sikapnya terhadap
lawan sakti ini akan lain lagi. Kini, melihat betapa ia mampu mengelak terhadap
terkaman si kakek putih, hatinya menjadi besar dan sambil membalikkan tubuhnya
ia bersiap dengan kuda-kuda yang kokoh kuat. Begitu kakek rambut putih itu
menubruk lagi, ia mengelak ke kiri sambil balas menghantam dengan tangan kanan
ke arah dada, disusul dupakan kaki kiri ke arah lutut kanan lawan. Pukulan
tangan Jokowanengpati amatlah ampuhnya karena ia mempergunakan aji pukulan
Siyung Warak yang mengandung penuh tenaga sakti dan sanggup menghancurkan batu
gunung! Juga pukulan kakinya amat dahsyat, apalagi yang dijadikan sasaran
adalah lutut. Betapapun saktinya seseorang, apabila, sambungan lututnya
terlepas, tentu akan menjadi pincang dan berkurang kegesitannya. Namun, betapa
kagetnya hati Jokowanengpati ketika pukulan tangan kanannya itu bertemu dengan
daging dada yang lunak dan membuat tenaga pukulannya seakan-akan tenggelam ke
dalam air yang tak berdasar, adapun tendangannya yang menyusul itu sama sekali
tidak mengenai sasaran. Cepat ia menarik pukulannya dan melompat ke belakang
dengan muka pucat. Tahulah ia bahwa lawan yang tua ini benar-benar merupakan
tandingan berat yang memiliki tenaga dalam yang sukar diukur tingkatnya!
"Ha-ha-ha,
sebegitu saja kepandaianmu? Lebih baik kau menurut saja kubawa!"
Kembali Resi
Telomoyo menubruk hendak menangkap lawannya yang muda dan gesit, namun kembali
Jokowanengpati dapat mengelak mempergunakan Ilmu Bayu Saktinya. Sambil mengelak
ia tidak mau tinggal diam. Ia maklum akan kekuatan kakek ini, akan tetapi juga
dapat menduga bahwa kakek ini memiliki bagian-bagian tubuh yang tidak kebal,
buktinya tadi tendangan yang diarahkan kepada sambungan lutut, tidak berani
kakek itu menerimanya. Kini Jokowanengpati menyerbu dan mainkan Ilmu Silat
Jonggring Saloko yang ia warisi dari gurunya. Empu Bharodo memang seorang sakti
yang terkenal dengan dua macam ilmunya, yaitu Bayu Sakti sebagai ilmu
meringankan tubuh yang membuat pertapa itu dianggap dapat terbang saking
tingginya ilmunya ini, dan kedua adalah Ilmu Tombak Jonggring Saloko. Ilmu
tombak ini kabarnya belum pernah menemui tanding dan juga ilmu tombak ini
merupakan rahasia yang tidak diturunkan kepada muridnya oleh Empu Bharodo. Akan
tetapi sebagai pecahan ilmu tombak ini diciptakanlah ilmu pukulan tangan
Jonggring Saloko dan ilmu inilah yang ia turunkan kepada muridnya. Karena
Jokowanengpati mempergunakan ilmu pukulan Jonggring Saloko, sebuah ilmu yang
diciptakan oleh Empu Bharodo sendiri, tentu saja amatlah ampuhnya. Apalagi
karena ilmu ini dimainkan dengan dasar Aji Bayu Sakti yang membuat geraknya
menjadi cepat seperti kilat sedangkan ke dalam kedua tangannya ia isi dengan
aji pukulan Siyung Warak, maka pada saat itu pemuda ini benar-benar tak boleh
dipandang ringan!
"Bagus!
Hebat juga!"
Berkali-kali
Resi Telomoyo memuji. Dia benar-benar kagum sekali, dan harus mengaku dalam
hati bahwa belum pernah ia bertemu lawan sekuat ini, apalagi lawan seorang
muda. Kalau saja ia tidak menang kuat ilmu dalamnya dan tidak lebih matang
ajiannya, agaknya sukar untuk menanggulangi sepak terjang setangkas ini. Ah,
pantas saja muridnya, Roro Luhito yang manis, yang mungil dan denok,
tergila-gila kepada pemuda ini. Tidak aneh. Memang pemuda pilihan, pemuda
gemblengan yang patut sekali menjadi suami Roro Luhito muridnya! Aku harus
dapat menangkapnya dan membawanya ke depan Roro Luhito, pikir sang resi. Oleh
karena itu ia tidak mau main-main lebih lama lagi biarpun ingin ia menguji
sampai di mana hebatnya kepandaian pemuda ini. Segera ia mengeluarkan seruan
meringkik, tubuhnya bergoyang-goyang kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari
tangannya terbuka, matanya mendelik mulutnya terbuka menyeringai. Inilah Ilmu
Sosro Satwo (Seribu Binatang) yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali!
Seketika Jokowanengpati meremang tengkuknya karena Aji Sosro Satwo yang
dipergunakan Resi Telomoyo itu memang memancarkan wibawa yang mujijat. Sebelum
pemuda ini dapat menenteramkan hatinya, ia sudah diserbu hebat. Kedua lengan
tangan resi itu seakan-akan telah menjadi puluhan banyaknya dan Jokowanengpati
mendengar suara bermacam binatang liar di sekelilingnya! Ia hanya dapat
mengerahkan Bayu Sakti, mundur-mundur sambil mengelak dan menangkis sedapatnya.
"Werrrr......,
ssyyuuuut.......!"
Sinar hitam
meluncur ke depan menyambar kepala Resi Telomoyo yang cepat melompat mundur
karena hawa sambaran benda bersinar hitam itu luar biasa sekali pengaruhnya.
Ternyata Cekel Aksomolo yang sudah maju. Kakek pertapa Gunung Wilis ini
berkata,
"Mundurlah,
raden. Biarlah aku yang maju. Hayo, kunyuk tua manusia kera., majulah. Akulah
lawanmu, tua sama tua! Huh-huh!"
Resi Telomoyo
sudah menjadi marah sekali, akan tetapi iapun merasa heran. Mengapa ada seorang
cantrik yang agaknya lebih sakti daripada Pujo? Ia merasa direndahkan kalau
hanya dilawan oleh seorang cantrik saja. Maka sambil menggeram keras ia
menerjang maju dengan pukulan Kapi Dibyo. Kedua tangannya menghantam dengan
hawa pukulan jarak jauh yang cukup merobohkan lawan dari jarah jauh tanpa
menyentuh orangnya. Akan tetapi Cekel Aksomolo tertawa dan menyambut lawan
dengan hantaman tasbihnya yang ampuh. Resi Telomoyo tidak berani menerima
hantaman tasbih ini, tasbih yang mengarah lehernya dari kiri, cepat tubuhnya
miring ke arah kiri, menyelinap di antara sinar hitam tasbih, akan tetapi
melanjutkan pukulan tangan kirinya menebak (memukul dengan telapak tangan) dada
lawan. Cekel Aksomolo tentu saja tidak mau mengambil resiko pukulan yang
ampuhnya bukan main ini, yang mendatangkan hawa panas, maka ia juga mendorong
dengan telapak tangan kanannya memapaki tangan lawan.
"Dukkk!!"
Untuk kedua
kalinya dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara dan akibatnya hebat.
Tubuh Resi Telomoyo terlempar ke belakang, terjengkang dan berjungkir balik
beberapa kali dengan amat tangkasnya. Akan tetapi Cekel Aksomolo juga terdorong
ke belakang, terhuyung-huyung hampir roboh. Keduanya terpental sampai lima
meter ke belakang dan kini berhadapan dengan mata terbelalak kagum dan kaget.
"Uuh-huh-huh,
kiranya bukan sembarang orang! Eh, kunyuk tua, sebelum mampus di tangan Cekel
Aksomolo, mengakulah, siapa gerangan engkau ini dan apakah engkau tadi terlalu
banyak minum arak maka tiada hujan tiada angina mengamuk seperti kera
mabok?"
Tercengang
Resi Telomoyo mendengar nama ini. Ia menggaruk-garuk belakang telinganya lalu
terkekeh.
"Wah-wah,
kiranya bukan cekel sembarang cekel, bukan cantrik sembarang cantrik! Kusangka
cantrik bujang Resi Bhargowo, siapa tahu ternyata Cekel Aksomolo si cantrik
iblis! Heh, cekel bongkok, aku adalah Resi Telomoyo! Mengapa engkau melindungi
si Pujo ini yang hendak kubawa untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya ?
Hayo, benar-benarkah kau hendak mengadu kesaktian, menguji ampuhnya mantera
tebalnya aji?"
Kini giliran
Cekel Aksomolo yang kaget. Belum pernah ia bertemu memang, baru kali ini, namun
nama Resi Telomoyo sudah pernah ia dengar, dan menyaksikan akibat benturan
tenaga sakti tadi, ia maklum bahwa manusia seperti monyet ini sama sekali tak
boleh dipandang ringan. Sementara itu, Jokowanengpati ketika mendengar bahwa
kakek itu adalah Resi Telomoyo yang kabarnya sakti mandraguna seperti Sang
Hanoman di jaman Ramayana, juga menjadi terkejut. Pemuda cerdik ini memang
sedang berusaha mengumpulkan sekutu yang pandai-pandai, maka cepat ia berkata,
"Mohon
paman Resi Telomoyo sudi mengampunkan saya. Saya sama sekali bukanlah Pujo yang
paman cari. Saya bernama Jokowanengpati, murid Empu Bharodo."
Resi Telomoyo
tertegun, kecewa dan mendongkol.
"Mengapa
tidak dari tadi mengaku? Empu Bharodo saudara seperguruan Resi Bhargowo? Kalau
begitu engkau sama busuknya dengan Pujo ! Tampak pada kilatan matamu.
No comments:
Post a Comment