Badai Laut Selatan ; Bagian 030


"Uh-huh-huh, Jagat Dewa Batara! Semoga selalu jaya wijaya bagianku dan apes sial dangkal bagian musuh-musuhku! Uh-huh, aku pernah mendengar bahwa patung kencana itu amat bertuah, siapa mendapatkannya akan menerima wahyu (anugerah dewata) mahkota, berhak menjadi raja tanah Jawa! Aku mendengar pula bahwa di dalam patung kencana itu tersimpan pusaka Brojol Luwuk (keris tanpa ganja berwarna abu-abu), satu-satunya pusaka yang mampu menembus jantung raja yang sudah kehilangan wahyunya! Uh-huh-huh, yang paling perlu sekarang adalah mendapatkan patung kencana itu lebih dulu, baru menggulingkan Raja Bali di Kahuripan. Pusaka keris Brojol Luwuk dalam patung kencana menjadi ajimat sejak Prabu Sanjaya mendirikan Mataram, selalu menjadi patung bertuah selama Kerajaan Mataram berdiri. Ketika dahulu lenyap dari keraton, Mataram runtuh dan hampir terbasmi habis, ditaklukkan oleh Kerajaan Syailendra, setelah pusaka itu didapatkan kembali oleh Sang Rakai Pikatan, Mataram bangkit dan jaya kembali. Pernah hilang pada waktu Kerajaan Medang, baru didapatkan kembali oleh Raja Airlangga dari Bali yang kini disebut Raja Kahuripan. Uh-huh-huh, sekarang lenyap, bukankah itu berarti akan runtuhnya Kahuripan dan bangkitnya kembali Mataram yang dahulu?"
Mendengar ini semua orang termenung, mereka semua memiliki hati dendam penasaran terhadap Sang Prabu Airlangga, merasa dirugikan ditambah lagi mengingat bahwa Sang Prabu Airlangga dan Narotama patihnya adalah orang-orang Bali. Kenyataan bahwa sesungguhnya Airlangga juga masih seorang keturunan raja-raja Mataram tidak meredakan kebencian mereka. Sebetulnya, Airlangga yang menjadi mantu Raja Medang terakhir, yaitu Teguh Dharmawangsa adalah anak kemenakan dari permaisuri Raja Medang ini. Ibu Airlangga adalah Puteri Mataram yang bernama Mahendradata yang menikah dengan Pangeran Udayana dari Bali.
"Akan tetapi kalau harus mencari pusaka yang hilang, sampai kapankah kita dapat bergerak menghancurkan Kahuripan?" Ni Nogogini berkata tidak puas.
"Mencari pusaka bukanlah hal yang mudah, apalagi ki patih sendiri juga sedang mencari-carinya."

Kembali semua orang meragu, dan akhirnya terdengar suara Jokowanengpati. Pemuda ini memang cerdik, kata-katanya jelas, buah pikirannya masuk akal dan begitu ia bicara, perhatian mereka semua tertarik,
"Saya rasa pendapat Ni Durgogini bahwa kini sudah tiba saatnya adalah benar, juga pendapat eyang Cekel Aksomolo agar kita mencari pusaka yang hilang lebih dulu juga benar pula. Kita harus dapat menyatukan pendapat-pendapat benar dan mencari manfaat dari padanya. Menurut pendapat saya yang muda dan bodoh, marilah kita mencari pusaka yang hilang itu dengan terpencar. Sementara kita mencari pusaka yang hilang, kita kerahkan tenaga, kita didik orang-orang di pedusunan menjadi prajurit untuk memperbesar bala tentara kita, karena betapapun juga, tanpa pasukan yang besar dan kuat, usaha kita takkan berhasil. Tentang keadaan di Mataram, tak perlu dikhawatirkan karena kakangmas Wisangjiwo bertugas di sana sehingga dialah yang wajib mengawasi gerak-gerik di istana Kahuripan sehingga kita mengetahui semua perubahan dan rahasianya. Kalau pasukan yang kita tempa sudah cukup kuat dan siap, baru kita bergerak. Syukur kalau pada waktu itu kita sudah dapat menemukan pusaka yang hilang."
Semua yang hadir di situ mengangguk-angguk setuju. Memang, mengadakan perlawanan terhadap Raja Airlangga dan patihnya Narotama bukanlah hal yang ringan dan mudah, karenanya perlu siasat yang matang. Tiba-tiba Jokowanengpati berkata lagi,
"Karena pusaka patung kencana itu merupakan lambang kejayaan Mataram dan siapa memilikinya mendapat wahyu mahkota Mataram, sebaiknya kita putuskan bahwa siapa di antara kita yang mampu mendapatkannya, akan kita angkat sebagai pimpinan persekutuan ini dan andaikata kelak berhasil, dialah yang akan diangkat menjadi Raja Mataram!"
Semua orang kaget, akan tetapi setelah dipikir secara mendalam, membenarkan juga pendapat ini.
"Uuh-huh-huh, itu sudah tepat sekali!" kata Cekel Aksomolo.
"Benar dan adil!" seru Ki Krendayakso.
"Sekarang juga aku akan mengerahkan anak buahku mencari pusaka!" Ia sudah bangkit berdiri, kelihatannya tergesa-gesa.
Adipati Joyowiseso tersenyum dan cepat menahan raksasa ini. Di dalam hatinya ia sudah khawatir juga akan usul Jokowanengpati yang disetujui semua orang. Bagaimana kelak akan jadinya andaikata Ki Krendrayakso kepala rampok ini yang mendapatkan pusakanya?
"Harap kisanak bersabar dan tidak tergesa-gesa. Semua usul anakmas Jokowanengpati memang tepat dan semua telah menyetujuinya. Akan tetapi setelah para bijak dan pandai sudi melangkahkan kaki datang ke Kadipaten Selopenangkep, harap jangan tergesa-gesa pergi lagi. Selain itu, sudah amat lama saya mendengar akan kesaktian anda sekalian. Setelah kini ada kesempatan berjumpa, saya mohon sedikit petunjuk untuk membuka mata saya, dan untuk membesarkan hati menghadapi usaha kita yang amat besar dan berbahaya ini. Setelah menyaksikan kesaktian anda semua, agaknya barulah hati saya akan tenteram dan dengan penuh kepercayaan akan dapat saya kumpulkan tenaga serta saya hubungi para adipati di empat penjuru."
"Hayaaaa..." Ki Tejoranu berkata sambil bangkit berdiri.
"Laden Joko dan sang adipati, semua pintal bicala sekali,. Saya tidak bisa bicala, cuma bisa mainkan golok..."
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tangannya bergerak dan tampaklah sinar menyilaukan mata ketika sepasang goloknya sudah dicabut. Sepasang golok itu ia putar-putar di sekeliling tubuhnya merupakan gulungan dua gulungan sinar putih, yang satu menyambar ke arah bangku kosong di sebelah kiri, yang satu menyambar pula ke arah seekor anjing yang sedang sibuk menggigiti tulang di atas lantai. Tidak terdengar suara apa-apa, dan kedua sinar itu lenyap, Ki Tejoranu menyeringai sambil memasukkan sepasang senjatanya ke sarung, lalu duduk kembali setelah mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata,
"Maaf, siang-to (sepasang golok) yang buluk, tidak baik."

Adipati Joyowiseso tidak dapat menahan geli hatinya. Ia melihat bangku itu masih berdiri di tempatnya, anjing itu masih duduk mendeprok, hanya tidak menggigit tulang lagi, kini menyalak lirih.
"Ha-ha-ha, Ki Warok Gendroyono, pertunjukan apakah yang diperlihatkan sahabatmu dari Sarangan tadi? Cukup menyilaukan mata, akan tetapi terlalu singkat waktunya dan apa gunanya?"
Ki Warok Gendroyono tertawa terbahak-bahak, lalu berkata,
"Harap kanjeng adipati periksa yang baik-baik!"
Setelah berkata demikian, Ki Warok Gendroyono menyentuh bangku di sebelah kiri, mendorongnya sedikit dan..... bangku itu ternyata telah terbelah menjadi tiga, agaknya saking tajam dan cepatnya gerakan golok, biarpun sudah terbelah bangku itu masih kelihatan utuh dan tidak roboh! Kemudian Ki Warok Gendroyono membentak dan mengusir anjing hitam yang masih duduk mendeprok. Anjing yang mengeluarkan bunyi lirih itu meloncat dan....... kepalanya menggelinding, lehernya yang telah sapat (terbabat putus) itu mengucurkan darah!
Kagetlah Adipati Joyowiseso dan para tamu. Hebat sekali Ki Tejoranu yang kurus pucat itu. Melihat orangnya yang kurus pucat, mendengar suaranya yang pelo dan tidak karuan, benar-benar orang akan memandang rendah. Akan tetapi melihat kenyataannya sekarang, benar-benar sepasang goloknya itu mengerikan sekali. Lawan akan dapat tewas terbabat golok tanpa terasa! Melihat semua orang terdiam dan memandang Ki Tejoranu dengan pandang mata yang berbeda daripada tadi, penuh kagum dan heran, Ki Warok Gendroyono tertawa lagi keras-keras. Kemudian ia berkata,
"Kanjeng Adipati Joyowiseso menghendaki kita memperlihatkan kepandaian. Setelah kita menjadi sahabat, pula setelah kita disambut dengan manis, kenyang makan minum, sudah sepantasnya kita memenuhi kehendaknya itu."

Sambil tertawa-tawa Ki Warok Gendroyono menanggalkan bajunya sehingga tampak bahunya yang bidang, dadanya yang menonjol dengan bulu tebal di tengah, kemudian ia berkata kepada para penjaga yang menjaga pintu ruangan itu setelah memanggil mereka.
"Hayo kalian gunakan tombak dan golok kalian untuk membacoki tubuhku ini, boleh pilih bagian yang paling lunak!"
Tiga orang penjaga itu memandang bingung.Tentu saja mereka tidak berani melakukan hal ini, maklum bahwa kakek ini adalah seorang di antara tamu agung yang dijamu oleh adipati. Akan tetapi tiba-tiba Sang Adipati Joyowiseso sendiri berkata,
"Lakukan apa yang diperintahkan Ki Warok!"
Kini mengertilah tiga orang penjaga itu bahwa tamu itu hendak mendemonstrasikan kepandaiannya. Gembiralah hati mereka dan ketiganya lalu menggunakan tombak mereka menusuk, ada yang memilih perut, ada yang menusuk ulu hati dan orang ketiga malah menusuk tenggorokan! Akan tetapi Ki Warok adalah seorang yang kebal, tan tedas tapak paluning pande (tidak mempan senjata buatan pandai besi)! Begitu mata tombak menyentuh kulit, terdengar suara "krek-krekkrek" dan tiga orang itu terbanting jatuh karena leher tombak mereka patah-patah!
"Ha-ha-ha! Hayo pergunakan keris dan golok kalian!" Ki Warok tertawa sambil mengelus-elus jenggot dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya bertolak pinggang.
Tiga orang penjaga itu merayap bangun dengan muka merah. Kemudian mereka bertiga lalu mencabut keris dan golok, menyerang lagi, menusuk dan membacok sekenanya. Bahkan ada yang menusuk muka, membacok kepala, pendeknya mereka menghujani tubuh Ki Warok dengan senjata mereka. Namun sia-sia, serangan itu semua tidak ada artinya bagi orang sakti ini dan begitu ia mengerahkan tenaga, keris-keris menjadi patah dan golok-golok rompal semua! Tiga orang penjaga itu mengundurkan diri dengan muka pucat.
"Wah, hebat sekali! Ki Warok Gendroyono benar-benar seorang sakti mandraguna!" kata Adipati Joyowiseso girang dan kagum. Ki Warok hanya tersenyum dan mengenakan kembali bajunya.

Kepandaian seperti itu saja apa sih anehnya, ia pikir. Belum lagi ia memperlihatkan keampuhan Ki Bandot! Akan tetapi kolor pusaka ini hanya boleh dipergunakan di waktu menghadapi lawan tangguh, sama sekali tidak boleh dibuat main-main. Melihat orang-orang sudah mulai memperlihatkan kepandaian, Ki Krendoyakso yang baru berusia empat puluh tahun itu menjadi panas perutnya. Dia adalah seorang kepala rampok yang terperosok ke dalam peryakinan ilmu hitam, seorang ahli racun, akan tetapi selain kepandaian yang menyeramkan ini iapun terkenal seorang yang amat kuat. Kini ia celingukan memandang ke kanan kiri, kemudian keluar jendela. Ruangan tamu di belakang ini menembus sebuah taman yang tampak dari jendela yang terbuka lebar. Segera ia bangkit dan berkata,
"Aku yang bodoh dan kasar hanya dapat bermain-main dengan pohon di luar itu."
Tanpa menanti jawaban ia melangkah lebar, keluar dari pintu dekat jendela lalu menghampiri pohon dalam taman. Semua orang menoleh dan menonton melalui jendela. Begitu dekat dengan pohon, Ki Krendayakso memasang kuda-kuda, berseru keras dan lengan kanannya yang panjang besar itu meluncur ke depan, dengan jari-jari terbuka ia menusukkan jari-jari tangannya kepada batang pohon. Bagaikan lima batang pisau runcing, kelima jari tangan kanan itu menancap ke dalam pohon, lalu dicabutnya kembali. Semua orang termasuk Adipati Joyowiseso memandang rendah pertunjukan ini. Apa sih sukarnya ini? Asal orang mempelajari sedikit ilmu saja, tentu mampu menusukkan tangannya ke dalam batang pohon! Mengapa raksasa yang terkenal ini hanya mampu melakukan hal yang serendah ini? Akan tetapi baru saja Adipati Joyowiseso berpikir demikian, tiba-tiba Jokowanengpati berseru,
"Lihat daun-daun itu, bukan main!"
Adipati Joyowiseso memandang dan mukanya menjadi pucat membayangkan kengerian. Daun-daun di atas pohon itu menjadi layu secara mendadak dan kini mulai rontok berhamburan dengan warna berubah kuning! Ternyata tangan yang menusuk batang pohon tadi telah menyalurkan hawa beracun yang sedemikian hebatnya sehingga mampu meracuni semua daun di atas pohon yang besar. Bukan main! Pohon saja tidak mampu menahan, apalagi kalau tubuh orang yang terkena tusukan jari-jari tangan itu! Ki Krendayakso tidak hanya berhenti sampai di situ. Tiba-tiba ia berseru keras, tubuhnya menyerbu ke depan dan dengan keras sekali bahu dan kepalanya menabrak batang pohon. Terdengar suara hiruk-pikuk dan..... batang pohon yang sudah tak berdaun lagi itu tumbang! Ki Krendayakso tersenyum lalu berjalan kembali ke ruangan tamu dengan lenggang seenaknya dan langkah lebar-lebar, disambut pujian-pujian Adipati Joyowiseso dan tamu-tamu lainnya.
"Tiga orang saudara yang sakti telah memberi pertunjukan," kata Adipati Joyowiseso.
"Biarpun saya sudah menyaksikan kesaktian paman Cekel Aksomolo, akan tetapi untuk mempererat perkenalan dengan yang lain, ada baiknya apabila paman sudi memberi sedikit pertunjukan untuk meramaikan pertemuan ini."
Cekel Aksomolo tertawa terkekeh.
"Ahh, aku seorang yang tidak punya nama. Karena aku hanya mengandalkan kepada aksomolo (tasbih), maka tanpa aksomolo aku bukan apa-apa. Biarlah tasbihku memberi sedikit pertunjukan, kalau kurang memuaskan harap jangan ditertawakan."

<<< Bagian 029                                                                                    Bagian 031 >>>

No comments:

Post a Comment