"Uh-huh-huh, Jagat Dewa Batara! Semoga selalu jaya wijaya bagianku dan apes sial dangkal bagian musuh-musuhku! Uh-huh, aku pernah mendengar bahwa patung kencana itu amat bertuah, siapa mendapatkannya akan menerima wahyu (anugerah dewata) mahkota, berhak menjadi raja tanah Jawa! Aku mendengar pula bahwa di dalam patung kencana itu tersimpan pusaka Brojol Luwuk (keris tanpa ganja berwarna abu-abu), satu-satunya pusaka yang mampu menembus jantung raja yang sudah kehilangan wahyunya! Uh-huh-huh, yang paling perlu sekarang adalah mendapatkan patung kencana itu lebih dulu, baru menggulingkan Raja Bali di Kahuripan. Pusaka keris Brojol Luwuk dalam patung kencana menjadi ajimat sejak Prabu Sanjaya mendirikan Mataram, selalu menjadi patung bertuah selama Kerajaan Mataram berdiri. Ketika dahulu lenyap dari keraton, Mataram runtuh dan hampir terbasmi habis, ditaklukkan oleh Kerajaan Syailendra, setelah pusaka itu didapatkan kembali oleh Sang Rakai Pikatan, Mataram bangkit dan jaya kembali. Pernah hilang pada waktu Kerajaan Medang, baru didapatkan kembali oleh Raja Airlangga dari Bali yang kini disebut Raja Kahuripan. Uh-huh-huh, sekarang lenyap, bukankah itu berarti akan runtuhnya Kahuripan dan bangkitnya kembali Mataram yang dahulu?"
Mendengar ini
semua orang termenung, mereka semua memiliki hati dendam penasaran terhadap
Sang Prabu Airlangga, merasa dirugikan ditambah lagi mengingat bahwa Sang Prabu
Airlangga dan Narotama patihnya adalah orang-orang Bali. Kenyataan bahwa
sesungguhnya Airlangga juga masih seorang keturunan raja-raja Mataram tidak
meredakan kebencian mereka. Sebetulnya, Airlangga yang menjadi mantu Raja
Medang terakhir, yaitu Teguh Dharmawangsa adalah anak kemenakan dari permaisuri
Raja Medang ini. Ibu Airlangga adalah Puteri Mataram yang bernama Mahendradata
yang menikah dengan Pangeran Udayana dari Bali.
"Akan
tetapi kalau harus mencari pusaka yang hilang, sampai kapankah kita dapat
bergerak menghancurkan Kahuripan?" Ni Nogogini berkata tidak puas.
"Mencari
pusaka bukanlah hal yang mudah, apalagi ki patih sendiri juga sedang
mencari-carinya."
Kembali semua
orang meragu, dan akhirnya terdengar suara Jokowanengpati. Pemuda ini memang
cerdik, kata-katanya jelas, buah pikirannya masuk akal dan begitu ia bicara,
perhatian mereka semua tertarik,
"Saya
rasa pendapat Ni Durgogini bahwa kini sudah tiba saatnya adalah benar, juga
pendapat eyang Cekel Aksomolo agar kita mencari pusaka yang hilang lebih dulu
juga benar pula. Kita harus dapat menyatukan pendapat-pendapat benar dan mencari
manfaat dari padanya. Menurut pendapat saya yang muda dan bodoh, marilah kita
mencari pusaka yang hilang itu dengan terpencar. Sementara kita mencari pusaka
yang hilang, kita kerahkan tenaga, kita didik orang-orang di pedusunan menjadi
prajurit untuk memperbesar bala tentara kita, karena betapapun juga, tanpa
pasukan yang besar dan kuat, usaha kita takkan berhasil. Tentang keadaan di
Mataram, tak perlu dikhawatirkan karena kakangmas Wisangjiwo bertugas di sana
sehingga dialah yang wajib mengawasi gerak-gerik di istana Kahuripan sehingga
kita mengetahui semua perubahan dan rahasianya. Kalau pasukan yang kita tempa
sudah cukup kuat dan siap, baru kita bergerak. Syukur kalau pada waktu itu kita
sudah dapat menemukan pusaka yang hilang."
Semua yang
hadir di situ mengangguk-angguk setuju. Memang, mengadakan perlawanan terhadap
Raja Airlangga dan patihnya Narotama bukanlah hal yang ringan dan mudah,
karenanya perlu siasat yang matang. Tiba-tiba Jokowanengpati berkata lagi,
"Karena
pusaka patung kencana itu merupakan lambang kejayaan Mataram dan siapa
memilikinya mendapat wahyu mahkota Mataram, sebaiknya kita putuskan bahwa siapa
di antara kita yang mampu mendapatkannya, akan kita angkat sebagai pimpinan
persekutuan ini dan andaikata kelak berhasil, dialah yang akan diangkat menjadi
Raja Mataram!"
Semua orang
kaget, akan tetapi setelah dipikir secara mendalam, membenarkan juga pendapat
ini.
"Uuh-huh-huh,
itu sudah tepat sekali!" kata Cekel Aksomolo.
"Benar
dan adil!" seru Ki Krendayakso.
"Sekarang
juga aku akan mengerahkan anak buahku mencari pusaka!" Ia sudah bangkit
berdiri, kelihatannya tergesa-gesa.
Adipati
Joyowiseso tersenyum dan cepat menahan raksasa ini. Di dalam hatinya ia sudah
khawatir juga akan usul Jokowanengpati yang disetujui semua orang. Bagaimana
kelak akan jadinya andaikata Ki Krendrayakso kepala rampok ini yang mendapatkan
pusakanya?
"Harap
kisanak bersabar dan tidak tergesa-gesa. Semua usul anakmas Jokowanengpati
memang tepat dan semua telah menyetujuinya. Akan tetapi setelah para bijak dan
pandai sudi melangkahkan kaki datang ke Kadipaten Selopenangkep, harap jangan
tergesa-gesa pergi lagi. Selain itu, sudah amat lama saya mendengar akan
kesaktian anda sekalian. Setelah kini ada kesempatan berjumpa, saya mohon
sedikit petunjuk untuk membuka mata saya, dan untuk membesarkan hati menghadapi
usaha kita yang amat besar dan berbahaya ini. Setelah menyaksikan kesaktian
anda semua, agaknya barulah hati saya akan tenteram dan dengan penuh
kepercayaan akan dapat saya kumpulkan tenaga serta saya hubungi para adipati di
empat penjuru."
"Hayaaaa..."
Ki Tejoranu berkata sambil bangkit berdiri.
"Laden
Joko dan sang adipati, semua pintal bicala sekali,. Saya tidak bisa bicala,
cuma bisa mainkan golok..."
Setelah
berkata demikian, tiba-tiba tangannya bergerak dan tampaklah sinar menyilaukan
mata ketika sepasang goloknya sudah dicabut. Sepasang golok itu ia putar-putar
di sekeliling tubuhnya merupakan gulungan dua gulungan sinar putih, yang satu
menyambar ke arah bangku kosong di sebelah kiri, yang satu menyambar pula ke
arah seekor anjing yang sedang sibuk menggigiti tulang di atas lantai. Tidak
terdengar suara apa-apa, dan kedua sinar itu lenyap, Ki Tejoranu menyeringai
sambil memasukkan sepasang senjatanya ke sarung, lalu duduk kembali setelah
mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata,
"Maaf,
siang-to (sepasang golok) yang buluk, tidak baik."
Adipati
Joyowiseso tidak dapat menahan geli hatinya. Ia melihat bangku itu masih
berdiri di tempatnya, anjing itu masih duduk mendeprok, hanya tidak menggigit
tulang lagi, kini menyalak lirih.
"Ha-ha-ha,
Ki Warok Gendroyono, pertunjukan apakah yang diperlihatkan sahabatmu dari
Sarangan tadi? Cukup menyilaukan mata, akan tetapi terlalu singkat waktunya dan
apa gunanya?"
Ki Warok
Gendroyono tertawa terbahak-bahak, lalu berkata,
"Harap
kanjeng adipati periksa yang baik-baik!"
Setelah
berkata demikian, Ki Warok Gendroyono menyentuh bangku di sebelah kiri,
mendorongnya sedikit dan..... bangku itu ternyata telah terbelah menjadi tiga,
agaknya saking tajam dan cepatnya gerakan golok, biarpun sudah terbelah bangku
itu masih kelihatan utuh dan tidak roboh! Kemudian Ki Warok Gendroyono
membentak dan mengusir anjing hitam yang masih duduk mendeprok. Anjing yang
mengeluarkan bunyi lirih itu meloncat dan....... kepalanya menggelinding,
lehernya yang telah sapat (terbabat putus) itu mengucurkan darah!
Kagetlah
Adipati Joyowiseso dan para tamu. Hebat sekali Ki Tejoranu yang kurus pucat
itu. Melihat orangnya yang kurus pucat, mendengar suaranya yang pelo dan tidak
karuan, benar-benar orang akan memandang rendah. Akan tetapi melihat
kenyataannya sekarang, benar-benar sepasang goloknya itu mengerikan sekali.
Lawan akan dapat tewas terbabat golok tanpa terasa! Melihat semua orang terdiam
dan memandang Ki Tejoranu dengan pandang mata yang berbeda daripada tadi, penuh
kagum dan heran, Ki Warok Gendroyono tertawa lagi keras-keras. Kemudian ia
berkata,
"Kanjeng
Adipati Joyowiseso menghendaki kita memperlihatkan kepandaian. Setelah kita
menjadi sahabat, pula setelah kita disambut dengan manis, kenyang makan minum,
sudah sepantasnya kita memenuhi kehendaknya itu."
Sambil
tertawa-tawa Ki Warok Gendroyono menanggalkan bajunya sehingga tampak bahunya
yang bidang, dadanya yang menonjol dengan bulu tebal di tengah, kemudian ia
berkata kepada para penjaga yang menjaga pintu ruangan itu setelah memanggil
mereka.
"Hayo
kalian gunakan tombak dan golok kalian untuk membacoki tubuhku ini, boleh pilih
bagian yang paling lunak!"
Tiga orang
penjaga itu memandang bingung.Tentu saja mereka tidak berani melakukan hal ini,
maklum bahwa kakek ini adalah seorang di antara tamu agung yang dijamu oleh
adipati. Akan tetapi tiba-tiba Sang Adipati Joyowiseso sendiri berkata,
"Lakukan
apa yang diperintahkan Ki Warok!"
Kini
mengertilah tiga orang penjaga itu bahwa tamu itu hendak mendemonstrasikan
kepandaiannya. Gembiralah hati mereka dan ketiganya lalu menggunakan tombak
mereka menusuk, ada yang memilih perut, ada yang menusuk ulu hati dan orang
ketiga malah menusuk tenggorokan! Akan tetapi Ki Warok adalah seorang yang
kebal, tan tedas tapak paluning pande (tidak mempan senjata buatan pandai
besi)! Begitu mata tombak menyentuh kulit, terdengar suara
"krek-krekkrek" dan tiga orang itu terbanting jatuh karena leher
tombak mereka patah-patah!
"Ha-ha-ha!
Hayo pergunakan keris dan golok kalian!" Ki Warok tertawa sambil
mengelus-elus jenggot dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya bertolak
pinggang.
Tiga orang
penjaga itu merayap bangun dengan muka merah. Kemudian mereka bertiga lalu
mencabut keris dan golok, menyerang lagi, menusuk dan membacok sekenanya.
Bahkan ada yang menusuk muka, membacok kepala, pendeknya mereka menghujani
tubuh Ki Warok dengan senjata mereka. Namun sia-sia, serangan itu semua tidak
ada artinya bagi orang sakti ini dan begitu ia mengerahkan tenaga, keris-keris
menjadi patah dan golok-golok rompal semua! Tiga orang penjaga itu mengundurkan
diri dengan muka pucat.
"Wah,
hebat sekali! Ki Warok Gendroyono benar-benar seorang sakti mandraguna!"
kata Adipati Joyowiseso girang dan kagum. Ki Warok hanya tersenyum dan
mengenakan kembali bajunya.
Kepandaian
seperti itu saja apa sih anehnya, ia pikir. Belum lagi ia memperlihatkan
keampuhan Ki Bandot! Akan tetapi kolor pusaka ini hanya boleh dipergunakan di
waktu menghadapi lawan tangguh, sama sekali tidak boleh dibuat main-main.
Melihat orang-orang sudah mulai memperlihatkan kepandaian, Ki Krendoyakso yang
baru berusia empat puluh tahun itu menjadi panas perutnya. Dia adalah seorang
kepala rampok yang terperosok ke dalam peryakinan ilmu hitam, seorang ahli
racun, akan tetapi selain kepandaian yang menyeramkan ini iapun terkenal
seorang yang amat kuat. Kini ia celingukan memandang ke kanan kiri, kemudian
keluar jendela. Ruangan tamu di belakang ini menembus sebuah taman yang tampak
dari jendela yang terbuka lebar. Segera ia bangkit dan berkata,
"Aku yang
bodoh dan kasar hanya dapat bermain-main dengan pohon di luar itu."
Tanpa menanti
jawaban ia melangkah lebar, keluar dari pintu dekat jendela lalu menghampiri
pohon dalam taman. Semua orang menoleh dan menonton melalui jendela. Begitu
dekat dengan pohon, Ki Krendayakso memasang kuda-kuda, berseru keras dan lengan
kanannya yang panjang besar itu meluncur ke depan, dengan jari-jari terbuka ia
menusukkan jari-jari tangannya kepada batang pohon. Bagaikan lima batang pisau
runcing, kelima jari tangan kanan itu menancap ke dalam pohon, lalu dicabutnya
kembali. Semua orang termasuk Adipati Joyowiseso memandang rendah pertunjukan
ini. Apa sih sukarnya ini? Asal orang mempelajari sedikit ilmu saja, tentu
mampu menusukkan tangannya ke dalam batang pohon! Mengapa raksasa yang terkenal
ini hanya mampu melakukan hal yang serendah ini? Akan tetapi baru saja Adipati
Joyowiseso berpikir demikian, tiba-tiba Jokowanengpati berseru,
"Lihat
daun-daun itu, bukan main!"
Adipati Joyowiseso
memandang dan mukanya menjadi pucat membayangkan kengerian. Daun-daun di atas
pohon itu menjadi layu secara mendadak dan kini mulai rontok berhamburan dengan
warna berubah kuning! Ternyata tangan yang menusuk batang pohon tadi telah
menyalurkan hawa beracun yang sedemikian hebatnya sehingga mampu meracuni semua
daun di atas pohon yang besar. Bukan main! Pohon saja tidak mampu menahan,
apalagi kalau tubuh orang yang terkena tusukan jari-jari tangan itu! Ki
Krendayakso tidak hanya berhenti sampai di situ. Tiba-tiba ia berseru keras,
tubuhnya menyerbu ke depan dan dengan keras sekali bahu dan kepalanya menabrak
batang pohon. Terdengar suara hiruk-pikuk dan..... batang pohon yang sudah tak
berdaun lagi itu tumbang! Ki Krendayakso tersenyum lalu berjalan kembali ke
ruangan tamu dengan lenggang seenaknya dan langkah lebar-lebar, disambut
pujian-pujian Adipati Joyowiseso dan tamu-tamu lainnya.
"Tiga
orang saudara yang sakti telah memberi pertunjukan," kata Adipati
Joyowiseso.
"Biarpun
saya sudah menyaksikan kesaktian paman Cekel Aksomolo, akan tetapi untuk
mempererat perkenalan dengan yang lain, ada baiknya apabila paman sudi memberi
sedikit pertunjukan untuk meramaikan pertemuan ini."
Cekel Aksomolo
tertawa terkekeh.
"Ahh, aku
seorang yang tidak punya nama. Karena aku hanya mengandalkan kepada aksomolo
(tasbih), maka tanpa aksomolo aku bukan apa-apa. Biarlah tasbihku memberi
sedikit pertunjukan, kalau kurang memuaskan harap jangan ditertawakan."
No comments:
Post a Comment