Jokowanengpati mengejar dengan sebuah lompatan jauh, tangannya mencengkeram dan kini berhasil memegang rambut hitam panjang yang terurai di belakang. Sekali menggentarkan tangan, Mirah kembali terguling Namun ia meronta-ronta, mereka bergumul, Jokowanengpati yang sudah lemas tenaganya itu tidak dapat mempergunakan tenaga sakti, hanya berusaha mencekik leher yang berkulit halus kuning. Mirah meronta, mereka bergulingan.Wanita itu menggunakan giginya menggigit lengan sehingga cekikan Jokowanengpati terlepas. Mirah bangkit dan lari, namun rambutnya masih dalam cengkeraman.
"Aduhhh....
lepaskan.....! Lepaskan..... toloooonggg.....!"
Mirah
meronta-rontah sekuat tenaga. Saking takut dan ngerinya, wanita itu menjadi
kuat sekali, sebaliknya pengaruh racun membuat Jokowanengpati menjadi lemah.
Oleh karena itu Mirah berhasil lari menyeret Jokowanengpati yang tidak juga mau
melepaskan rambut panjang itu.
"Aduh.....!
Lepaskan....... lepaskan......!"
Mirah
berteriak-teriak kalap, meronta-ronta ke kanan kiri, tidak tahu bahwa mereka
berdua bergumul di dekat jurang. Jokowanengpati yang cerdik biarpun sudah
hampir pingsan oleh pengaruh racun, dapat melihat ini, maka ia tertawa
menyeramkan.
"Heh-heh-heh-heh.......
ahhh, aduhhh..... he-he-heh!"
"Lepaskan,
Joko......, aduh, lepaskan..... tolooonggg.....!"
Tiba-tiba
Jokowanengpati menendang kaki Mirah. Mirah terhuyung ke belakang dan.....
tubuhnya menginjak tempat kosong. Jokowanengpati cepat bertiarap mencengkeram
batu karang, namun masih juga belum melepaskan rambut.
"Aaiiiiihhhhh......!!"
Mirah menjerit
dan tahu-tahu tubuhnya sudah tergantung di bibir jurang yang amat curam, hanya
tertahan oleh rambutnya yang masih dicengkeram Jokowanengpati.
"Kakangmas
Joko...... tolonglah aku..... tolonglah aku, naikkan..... lekas..... aduhhh.
to-long....."
"Ha-ha-ha-ha-ha.....
aduhh kau meracuni aku, ya? Ha-haha!" Sambil tertawa-tawa dan
kadang-kadang meringis kesakitan, Jokowanengpati melepaskan rambut yang
dicengkeramnya.
"Yyaaaaaaaaaahhhh.......!"
Lengking
mengerikan bergema di lereng Lawu menjelang senja itu, mengiringkan tubuh
telanjang bulat yang tentu akan hancur dan mawut terbanting di dasar jurang
yang curam. Jokowanengpati terengah-engah, merangkak bangun, terhuyung-huyung
menghampiri patung kencana yang terbungkus sutera kuning berlumur darah.
Diambilnya patung itu, didekapnya erat-erat kemudian ia memaksa diri berjalan
menuruni lereng. Kedua kakinya gemetar, tubuhnya menggigil dan kadang-kadang ia
menekan perutnya sambil menyumpah-nyumpah.
"Jahanam...!
Perempuan laknat...! Aduuuuhhh...., aku harus bertahan... harus bisa mencapai
dusun... harus..., harus.....!"
Kekuatan
badannya memang luar biasa. Berkat gemblengan Empu Bharodo sejak kecil, racun
yang bagi orang lain tentu akan menewaskan seketika itu, masih belum
merobohkannya, ia berjalan terhuyung, kadang-kadang merangkak menuruni lereng
Gunung Lawu. Hari telah gelap ketika ia roboh pingsan di depan pintu pondok
kecil di lereng paling bawah, pondok kecil petani yang terpencil. Ia hanya mampu
mengeluh ketika melihat sinar lampu menerobos celah-celah bilik,
".......
tolong........! " Kemudian tak sadarkan diri.
Pemilik pondok
itu seorang petani berusia tiga puluh tahun yang tinggal di situ bertani
bersama isterinya yang hanya dua tiga tahun lebih muda daripadanya. Mereka
tinggal bersunyi di lereng ini, hidup bertani sederhana, karena mereka memang
tidak mempunyai banyak butuh. Mereka tidak punya anak, dan untuk mencukupi
kebutuhan mereka berdua, tanah di lereng Lawu sudah lebih dari cukup, berlimpah-limpah.
Nama petani ini Kismoro dan isterinya Wiyanti.
"Kakang,
ada suara orang minta tolong....." Wiyanti bangkit dari atas tikar anyaman
daun kelapa.
Suaminya juga
bangkit, mendengarkan.
"Aku juga
mendengar, akan tetapi kurasa bukan orang. Mana ada orang minta tolong?"
"Kakang,
lebih baik kita lihat dulu, siapa tahu....."
Mereka berdiri
dan menuju ke pintu pondok, membuka pintu pondok yang sengaja agak diperkuat,
bukan takut akan maling atau rampok, melainkan menjaga jangan sampai harimau
atau monyet mengganggu selagi mereka tidur.
"Ah,
benar! Ada orang di situ.....!"
Kismoro segera
menghampiri tubuh laki-laki yang rebah miring.
"Wah,
jangan-jangan dia mati..... ah, tidak, masih hidup, agaknya pingsan....."
Dibantu
isterinya, Kismoro mengangkat tubuh Jokowanengpati yang masih tetap mendekap
bungkusan sutera kuning itu, masuk ke dalam rumah. Ketika berada di dalam dan
tersinar cahaya lampu, mereka melihat pakaian serba hitam yang halus serta raut
wajah yang tampan, sehingga Kismoro berseru,
"Ah, agaknya
ia seorang bangsawan "
"Dia
tentu sakit, kakang....."
"Kita
tidurkan dia di bilik, biar kita di luar saja. Kita rawat dia seperlunya."
Sibuklah dua
orang suami isteri ini. Mereka membaringkan tubuh Jokowanengpati di atas
balai-balai bambu, satu-satunya perabot pondok mereka. Dengan hati-hati Kismoro
lalu mengambil bungkusan sutera kuning itu agar Jokowanengpati dapat berbaring
lebih enak, kemudian ia meletakkan bungkusan itu di sudut balai-balai.
"Lekas
kau masak air panas, biar kucuci muka dan dadanya, wah, dia benar-benar sakit,
lihat dia mengerang-erang dan tubuhnya penuh peluh. Setelah masak air, kau
menganyam janur untuk tikar, kita tidur di luar bilik saja."
Tanpa
membantah isteri setia ini cepat melakukan perintah suaminya, hatinya agak
tenang karena mengira bahwa yang mereka tolong tentulah seorang bangsawan
tinggi. Mungkin seorang pangeran, pikirnya, atau setidaknya tentu putera
tumenggung! Orang muda yang begini tampan dan pakaiannya begitu halus, membawa
bungkusan sutera kuning pula, tentulah seorang keluarga keraton! Ketika Kismoro
mencuci muka dan dada, Jokowanengpati siuman dari pingsannya. Pikirannya yang
cerdik segera membuat ia sadar bahwa ia telah ditolong oleh penduduk dusun,
penghuni pondok itu mungkin. Hatinya agak lega, dan dia berbisik lemah,
"Kisanak,
tolonglah..... aku terkena racun....."
Setelah
berkata demikian, ia bangkit duduk bersila dan mengerahkan segala kekuatan
batin dan tenaga saktinya untuk melawan hawa beracun yang mengeram dalam
perutnya. Ia maklum bahwa dengan jalan ini ia akan dapat bertahan, akan dapat
mencegah hawa beracun itu merusak isi perutnya sampai datang obat penolong.
Kalau ia banyak bicara, hal itu akan membuat keadaannya makin berbahaya. Kalau
saja ia tadi tidak mempergunakan terlalu banyak tenaga berkejaran dengan Mirah,
tentu keadaannya tidak separah ini. Kismoro terbelalak kaget, melihat laki-laki
tampan itu duduk seperti samadhi, ia tidak berani mengganggu dan cepat-cepat ia
menyelinap keluar bilik menemui isterinya.
"Wah,
celaka, Wiyanti, dia..... dia bilang terkena racun....."
"Hee?
Terkena racun ? Apanya?"
"Dia
tidak terluka, tentu ada racun termakan olehnya. Ah, aku harus cepat mencari
obat pemunah racun."
"Daun dan
akar Widoro Upas.....?"
"Apa saja
yang dapat melawan racun. Ada dua tiga macam daun yang kutahu dapat melawan
racun. Eh, kalau nanti dia minta minum, kau beri minum air dawegan (kelapa
muda), pilih yang hijau "
"Ihh, kau
sendiri mau ke mana?" tanya isterinya, agak ngeri karena ingat bahwa tamu
mereka itu sakit berat, terkena racun. Siapa tahu akan mati selagi suaminya
pergi ?
"Aku
harus mencari obat pemunah."
"Jangan
sekarang. Malam-malam begini mau ke hutan? Bagaimana kalau muncul macan atau
kau dikeroyok lutung?"
"Tapi dia
perlu ditolong....."
"Kakang,
memang sudah semestinya dia ditolong. Akan tetapi kalau membahayakan
keselamatanmu sendiri, aku tidak rela. Bagaimana kalau kau tertimpa bencana di
hutan, dimakan harimau atau dikeroyok lutung? Kau celaka, diapun tidak
tertolong, tinggal aku sendiri yang kebingungan setengah mati. Tidak, tidak
boleh kau pergi, besok pagi-pagi saja."
"Tapi
dia....."
Wiyanti
merangkul suaminya.
"Kakang,
kalau kau memaksa pergi, boleh, akan tetapi aku ikut. Biar mati kalau bersamamu
tidak mengapa."
Akhirnya si
suami mengalah, apalagi ketika ia melihat betapa tamunya itu masih duduk
bersamadhi dan agaknya tenang, tidak terdengar mengeluh lagi, ia merasa lega
dan menunda niatnya mencari daun obat. Semalam ini suami isteri ini tidak dapat
tidur pulas. Bukan karena tidur di atas tanah bertilam tikar daun kelapa, hal
ini sudah biasa bagi mereka, akan tetapi mereka hanya rebah-rebahan saja dan
tak dapat tidur karena mereka memikirkan tamu mereka. Sebentar-sebentar Kismoro
bangkit dan menjenguk ke dalam bilik. Heran ia melihat tamunya yang muda dan
tampan itu masih saja duduk bersila.
"Ah, dia
tentu seorang satria," bisiknya dekat telinga isterinya,
"agaknya
semalam suntuk ia akan bersamadhi. Alangkah kuatnya ia bertapa."
"Tidak
seperti engkau, setiap malam tidur melingkar seperti ular kekenyangan!"
bisik isterinya.
"Wah,
wah! Kau ingin mempunyai suami satria, begitukah?" Suaminya mencela.
"Satria
mana sudi dengan aku? Pula, aku lebih senang punya suami engkau daripada segala
macam satria. Menjemukan benar, kerjanya hanya duduk bersila!"
Percakapan itu
dilakukan sambil berbisik-bisik agar jangan mengganggu tamu mereka. Siapa kira,
biarpun dalam samadi mengerahkan tenaga dalam melawan racun, percakapan
bisik-bisik ini tidak pernah terlepas dari telinga Jokowanengpati!.
Kismoro lega
hatinya lalu merangkul isterinya. Mereka dapat tidur pulas sejenak dan telah
bangun lagi ketika menjelang pagi ramai terdengar suara kokok ayam hutan dan
kicau burung diseling cecowetnya kera dan lutung. Sambil membawa arit,
berangkatlah Kismoro ke hutan mencari daun-daun penawar racun. Tak lama
kemudian ia sudah kembali bersama seorang kakek setengah tua berjubah kuning.
Kepalanya yang dicukur gundul tertutup kain berwarna kuning pula. Melihat
kepalanya yang tak berambut, mudah diduga bahwa dia adalah seorang penganut
Agama Budha, seorang wiku yang bertapa di gunung-gunung, wajahnya tenang dan
sinar matanya lembut. Memang dia adalah seorang pertapa, seorang pendeta Agama
Budha yang berasal dari barat, dari daerah Sriwijaya. Dia sampai di lereng Lawu
dalam usahanya mencari dan mengumpulkan daun-daun dan akar-akar obat karena
Wiku Jaladara ini adalah seorang ahli pengobatan. Secara tidak disengaja ia
bertemu dengan Kismoro yang sedang mencari daun penawar racun. Terjadilah tanya
jawab dan mendengar bahwa Kismoro sedang berusaha mencarikan obat bagi seorang
yang menjadi korban racun. Wiku Jaladara segera menawarkan bantuannya. Tentu
saja penawaran ini diterima dengan girang oleh Kismoro dan segera ia mengajak
sang pertapa pulang ke pondoknya setelah mereka mengumpulkan daun-daun obat
menurut petunjuk sang wiku. Atas pandang mata penuh pertanyaan dari isterinya,
Kismoro segera berkata,
"Isteriku,
inilah bapa Wiku Jaladara yang berkenan hendak menolong tamu kita."
"Wah,
syukurlah..... syukurlah.....aku sudah khawatir sekali, kang. Tamu kita sejak
pagi tadi merintih saja....."
Sang pertapa
lalu diantar masuk ke dalam bilik. Benar saja laporan Wiyanti, setibanya di
dalam bilik, mereka melihat Jokowanengpati rebah telentang dan merintih
perlahan. Wiku Jaladara menghampiri dan memandang penuh perhatian, kemudian
meraba lengan dan dahinya lalu mengangguk-angguk.
"Dia
teracun perutnya. Aneh dia masih dapat bertahan. Eh, nini, lekas kau godok
daun-daun ini sampai mendidih, biarkan airnya menguap tinggal setengahnya.
Airnya beri tiga batok."
Wiyanti cepat
melaksanakan permintaan pertapa ini. Sehari itu sang wiku berdiam di dalam
pondok dan Jokowanengpati diberi minum jamu sampai enam kali, dilayani penuh
perhatian oleh Wiyanti dan Kismoro. Menjelang senja, Jokowanengpati muntahkan
darah hitam dan setelah itu ia dapat tidur nyenyak, napasnya teratur dan
tenang, tubuhnya tidak panas lagi. Dalam keadaan masih belum sadar ia disuapi
nasi encer dan sayur asam oleh Wiyanti atas petunjuk Wiku Jaladara. Banyak
sekali makannya pemuda itu sehingga Wiyanti dan suaminya tersenyum geli, juga
girang karena ini merupakan tanda bahwa si tamu telah sembuh. Menjelang senja
hari itu, untuk terakhir kalinya Wiku Jaladara datang ke bilik memeriksa
keadaan Jokowanengpati yang masih tidur nyenyak. Ia meraba dahi dan dada, lalu
menarik napas lega dan berkata kepada suami isteri yang berada di dalam bilik
pula.
"Ia sudah
sembuh, hanya tinggal istirahat dan dalam beberapa hari tentu sehat kembali.
Saya akan pergi sekarang."
"Ah, bapa
wiku yang mulia. Kami harap bapa sudi bermalam di sini," kata Kismoro
menahan.
No comments:
Post a Comment