Badai Laut Selatan ; Bagian 034


Jokowanengpati mengejar dengan sebuah lompatan jauh, tangannya mencengkeram dan kini berhasil memegang rambut hitam panjang yang terurai di belakang. Sekali menggentarkan tangan, Mirah kembali terguling Namun ia meronta-ronta, mereka bergumul, Jokowanengpati yang sudah lemas tenaganya itu tidak dapat mempergunakan tenaga sakti, hanya berusaha mencekik leher yang berkulit halus kuning. Mirah meronta, mereka bergulingan.Wanita itu menggunakan giginya menggigit lengan sehingga cekikan Jokowanengpati terlepas. Mirah bangkit dan lari, namun rambutnya masih dalam cengkeraman.
"Aduhhh.... lepaskan.....! Lepaskan..... toloooonggg.....!"
Mirah meronta-rontah sekuat tenaga. Saking takut dan ngerinya, wanita itu menjadi kuat sekali, sebaliknya pengaruh racun membuat Jokowanengpati menjadi lemah. Oleh karena itu Mirah berhasil lari menyeret Jokowanengpati yang tidak juga mau melepaskan rambut panjang itu.
"Aduh.....! Lepaskan....... lepaskan......!"
Mirah berteriak-teriak kalap, meronta-ronta ke kanan kiri, tidak tahu bahwa mereka berdua bergumul di dekat jurang. Jokowanengpati yang cerdik biarpun sudah hampir pingsan oleh pengaruh racun, dapat melihat ini, maka ia tertawa menyeramkan.
"Heh-heh-heh-heh....... ahhh, aduhhh..... he-he-heh!"
"Lepaskan, Joko......, aduh, lepaskan..... tolooonggg.....!"
Tiba-tiba Jokowanengpati menendang kaki Mirah. Mirah terhuyung ke belakang dan..... tubuhnya menginjak tempat kosong. Jokowanengpati cepat bertiarap mencengkeram batu karang, namun masih juga belum melepaskan rambut.
"Aaiiiiihhhhh......!!"
Mirah menjerit dan tahu-tahu tubuhnya sudah tergantung di bibir jurang yang amat curam, hanya tertahan oleh rambutnya yang masih dicengkeram Jokowanengpati.
"Kakangmas Joko...... tolonglah aku..... tolonglah aku, naikkan..... lekas..... aduhhh. to-long....."
"Ha-ha-ha-ha-ha..... aduhh kau meracuni aku, ya? Ha-haha!" Sambil tertawa-tawa dan kadang-kadang meringis kesakitan, Jokowanengpati melepaskan rambut yang dicengkeramnya.
"Yyaaaaaaaaaahhhh.......!"

Lengking mengerikan bergema di lereng Lawu menjelang senja itu, mengiringkan tubuh telanjang bulat yang tentu akan hancur dan mawut terbanting di dasar jurang yang curam. Jokowanengpati terengah-engah, merangkak bangun, terhuyung-huyung menghampiri patung kencana yang terbungkus sutera kuning berlumur darah. Diambilnya patung itu, didekapnya erat-erat kemudian ia memaksa diri berjalan menuruni lereng. Kedua kakinya gemetar, tubuhnya menggigil dan kadang-kadang ia menekan perutnya sambil menyumpah-nyumpah.
"Jahanam...! Perempuan laknat...! Aduuuuhhh...., aku harus bertahan... harus bisa mencapai dusun... harus..., harus.....!"
Kekuatan badannya memang luar biasa. Berkat gemblengan Empu Bharodo sejak kecil, racun yang bagi orang lain tentu akan menewaskan seketika itu, masih belum merobohkannya, ia berjalan terhuyung, kadang-kadang merangkak menuruni lereng Gunung Lawu. Hari telah gelap ketika ia roboh pingsan di depan pintu pondok kecil di lereng paling bawah, pondok kecil petani yang terpencil. Ia hanya mampu mengeluh ketika melihat sinar lampu menerobos celah-celah bilik,
"....... tolong........! " Kemudian tak sadarkan diri.

Pemilik pondok itu seorang petani berusia tiga puluh tahun yang tinggal di situ bertani bersama isterinya yang hanya dua tiga tahun lebih muda daripadanya. Mereka tinggal bersunyi di lereng ini, hidup bertani sederhana, karena mereka memang tidak mempunyai banyak butuh. Mereka tidak punya anak, dan untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua, tanah di lereng Lawu sudah lebih dari cukup, berlimpah-limpah. Nama petani ini Kismoro dan isterinya Wiyanti.
"Kakang, ada suara orang minta tolong....." Wiyanti bangkit dari atas tikar anyaman daun kelapa.
Suaminya juga bangkit, mendengarkan.
"Aku juga mendengar, akan tetapi kurasa bukan orang. Mana ada orang minta tolong?"
"Kakang, lebih baik kita lihat dulu, siapa tahu....."
Mereka berdiri dan menuju ke pintu pondok, membuka pintu pondok yang sengaja agak diperkuat, bukan takut akan maling atau rampok, melainkan menjaga jangan sampai harimau atau monyet mengganggu selagi mereka tidur.
"Ah, benar! Ada orang di situ.....!"
Kismoro segera menghampiri tubuh laki-laki yang rebah miring.
"Wah, jangan-jangan dia mati..... ah, tidak, masih hidup, agaknya pingsan....."
Dibantu isterinya, Kismoro mengangkat tubuh Jokowanengpati yang masih tetap mendekap bungkusan sutera kuning itu, masuk ke dalam rumah. Ketika berada di dalam dan tersinar cahaya lampu, mereka melihat pakaian serba hitam yang halus serta raut wajah yang tampan, sehingga Kismoro berseru,
"Ah, agaknya ia seorang bangsawan "
"Dia tentu sakit, kakang....."
"Kita tidurkan dia di bilik, biar kita di luar saja. Kita rawat dia seperlunya."

Sibuklah dua orang suami isteri ini. Mereka membaringkan tubuh Jokowanengpati di atas balai-balai bambu, satu-satunya perabot pondok mereka. Dengan hati-hati Kismoro lalu mengambil bungkusan sutera kuning itu agar Jokowanengpati dapat berbaring lebih enak, kemudian ia meletakkan bungkusan itu di sudut balai-balai.
"Lekas kau masak air panas, biar kucuci muka dan dadanya, wah, dia benar-benar sakit, lihat dia mengerang-erang dan tubuhnya penuh peluh. Setelah masak air, kau menganyam janur untuk tikar, kita tidur di luar bilik saja."
Tanpa membantah isteri setia ini cepat melakukan perintah suaminya, hatinya agak tenang karena mengira bahwa yang mereka tolong tentulah seorang bangsawan tinggi. Mungkin seorang pangeran, pikirnya, atau setidaknya tentu putera tumenggung! Orang muda yang begini tampan dan pakaiannya begitu halus, membawa bungkusan sutera kuning pula, tentulah seorang keluarga keraton! Ketika Kismoro mencuci muka dan dada, Jokowanengpati siuman dari pingsannya. Pikirannya yang cerdik segera membuat ia sadar bahwa ia telah ditolong oleh penduduk dusun, penghuni pondok itu mungkin. Hatinya agak lega, dan dia berbisik lemah,
"Kisanak, tolonglah..... aku terkena racun....."
Setelah berkata demikian, ia bangkit duduk bersila dan mengerahkan segala kekuatan batin dan tenaga saktinya untuk melawan hawa beracun yang mengeram dalam perutnya. Ia maklum bahwa dengan jalan ini ia akan dapat bertahan, akan dapat mencegah hawa beracun itu merusak isi perutnya sampai datang obat penolong. Kalau ia banyak bicara, hal itu akan membuat keadaannya makin berbahaya. Kalau saja ia tadi tidak mempergunakan terlalu banyak tenaga berkejaran dengan Mirah, tentu keadaannya tidak separah ini. Kismoro terbelalak kaget, melihat laki-laki tampan itu duduk seperti samadhi, ia tidak berani mengganggu dan cepat-cepat ia menyelinap keluar bilik menemui isterinya.
"Wah, celaka, Wiyanti, dia..... dia bilang terkena racun....."
"Hee? Terkena racun ? Apanya?"
"Dia tidak terluka, tentu ada racun termakan olehnya. Ah, aku harus cepat mencari obat pemunah racun."
"Daun dan akar Widoro Upas.....?"
"Apa saja yang dapat melawan racun. Ada dua tiga macam daun yang kutahu dapat melawan racun. Eh, kalau nanti dia minta minum, kau beri minum air dawegan (kelapa muda), pilih yang hijau "
"Ihh, kau sendiri mau ke mana?" tanya isterinya, agak ngeri karena ingat bahwa tamu mereka itu sakit berat, terkena racun. Siapa tahu akan mati selagi suaminya pergi ?
"Aku harus mencari obat pemunah."
"Jangan sekarang. Malam-malam begini mau ke hutan? Bagaimana kalau muncul macan atau kau dikeroyok lutung?"
"Tapi dia perlu ditolong....."
"Kakang, memang sudah semestinya dia ditolong. Akan tetapi kalau membahayakan keselamatanmu sendiri, aku tidak rela. Bagaimana kalau kau tertimpa bencana di hutan, dimakan harimau atau dikeroyok lutung? Kau celaka, diapun tidak tertolong, tinggal aku sendiri yang kebingungan setengah mati. Tidak, tidak boleh kau pergi, besok pagi-pagi saja."
"Tapi dia....."
Wiyanti merangkul suaminya.
"Kakang, kalau kau memaksa pergi, boleh, akan tetapi aku ikut. Biar mati kalau bersamamu tidak mengapa."

Akhirnya si suami mengalah, apalagi ketika ia melihat betapa tamunya itu masih duduk bersamadhi dan agaknya tenang, tidak terdengar mengeluh lagi, ia merasa lega dan menunda niatnya mencari daun obat. Semalam ini suami isteri ini tidak dapat tidur pulas. Bukan karena tidur di atas tanah bertilam tikar daun kelapa, hal ini sudah biasa bagi mereka, akan tetapi mereka hanya rebah-rebahan saja dan tak dapat tidur karena mereka memikirkan tamu mereka. Sebentar-sebentar Kismoro bangkit dan menjenguk ke dalam bilik. Heran ia melihat tamunya yang muda dan tampan itu masih saja duduk bersila.
"Ah, dia tentu seorang satria," bisiknya dekat telinga isterinya,
"agaknya semalam suntuk ia akan bersamadhi. Alangkah kuatnya ia bertapa."
"Tidak seperti engkau, setiap malam tidur melingkar seperti ular kekenyangan!" bisik isterinya.
"Wah, wah! Kau ingin mempunyai suami satria, begitukah?" Suaminya mencela.
"Satria mana sudi dengan aku? Pula, aku lebih senang punya suami engkau daripada segala macam satria. Menjemukan benar, kerjanya hanya duduk bersila!"
Percakapan itu dilakukan sambil berbisik-bisik agar jangan mengganggu tamu mereka. Siapa kira, biarpun dalam samadi mengerahkan tenaga dalam melawan racun, percakapan bisik-bisik ini tidak pernah terlepas dari telinga Jokowanengpati!.
Kismoro lega hatinya lalu merangkul isterinya. Mereka dapat tidur pulas sejenak dan telah bangun lagi ketika menjelang pagi ramai terdengar suara kokok ayam hutan dan kicau burung diseling cecowetnya kera dan lutung. Sambil membawa arit, berangkatlah Kismoro ke hutan mencari daun-daun penawar racun. Tak lama kemudian ia sudah kembali bersama seorang kakek setengah tua berjubah kuning. Kepalanya yang dicukur gundul tertutup kain berwarna kuning pula. Melihat kepalanya yang tak berambut, mudah diduga bahwa dia adalah seorang penganut Agama Budha, seorang wiku yang bertapa di gunung-gunung, wajahnya tenang dan sinar matanya lembut. Memang dia adalah seorang pertapa, seorang pendeta Agama Budha yang berasal dari barat, dari daerah Sriwijaya. Dia sampai di lereng Lawu dalam usahanya mencari dan mengumpulkan daun-daun dan akar-akar obat karena Wiku Jaladara ini adalah seorang ahli pengobatan. Secara tidak disengaja ia bertemu dengan Kismoro yang sedang mencari daun penawar racun. Terjadilah tanya jawab dan mendengar bahwa Kismoro sedang berusaha mencarikan obat bagi seorang yang menjadi korban racun. Wiku Jaladara segera menawarkan bantuannya. Tentu saja penawaran ini diterima dengan girang oleh Kismoro dan segera ia mengajak sang pertapa pulang ke pondoknya setelah mereka mengumpulkan daun-daun obat menurut petunjuk sang wiku. Atas pandang mata penuh pertanyaan dari isterinya, Kismoro segera berkata,
"Isteriku, inilah bapa Wiku Jaladara yang berkenan hendak menolong tamu kita."
"Wah, syukurlah..... syukurlah.....aku sudah khawatir sekali, kang. Tamu kita sejak pagi tadi merintih saja....."

Sang pertapa lalu diantar masuk ke dalam bilik. Benar saja laporan Wiyanti, setibanya di dalam bilik, mereka melihat Jokowanengpati rebah telentang dan merintih perlahan. Wiku Jaladara menghampiri dan memandang penuh perhatian, kemudian meraba lengan dan dahinya lalu mengangguk-angguk.
"Dia teracun perutnya. Aneh dia masih dapat bertahan. Eh, nini, lekas kau godok daun-daun ini sampai mendidih, biarkan airnya menguap tinggal setengahnya. Airnya beri tiga batok."
Wiyanti cepat melaksanakan permintaan pertapa ini. Sehari itu sang wiku berdiam di dalam pondok dan Jokowanengpati diberi minum jamu sampai enam kali, dilayani penuh perhatian oleh Wiyanti dan Kismoro. Menjelang senja, Jokowanengpati muntahkan darah hitam dan setelah itu ia dapat tidur nyenyak, napasnya teratur dan tenang, tubuhnya tidak panas lagi. Dalam keadaan masih belum sadar ia disuapi nasi encer dan sayur asam oleh Wiyanti atas petunjuk Wiku Jaladara. Banyak sekali makannya pemuda itu sehingga Wiyanti dan suaminya tersenyum geli, juga girang karena ini merupakan tanda bahwa si tamu telah sembuh. Menjelang senja hari itu, untuk terakhir kalinya Wiku Jaladara datang ke bilik memeriksa keadaan Jokowanengpati yang masih tidur nyenyak. Ia meraba dahi dan dada, lalu menarik napas lega dan berkata kepada suami isteri yang berada di dalam bilik pula.
"Ia sudah sembuh, hanya tinggal istirahat dan dalam beberapa hari tentu sehat kembali. Saya akan pergi sekarang."
"Ah, bapa wiku yang mulia. Kami harap bapa sudi bermalam di sini," kata Kismoro menahan.

<<< Bagian 033                                                                                    Bagian 035 >>>

No comments:

Post a Comment