Badai Laut Selatan ; Bagian 033


"Hua-ha-ha-ha, lucu pertanyaanmu, Sunggono pengecut curang. Memang sejak semula, aku sudah bermaksud membunuh kalian bertiga agar jangan membocorkan rahasia. Kini kau mendahuluiku, ha-ha-ha, bagus sekali, berarti mengurangi dosaku. Berikan pusaka itu!"
"Tidak! Kau terima pusakaku ini!" Sunggono mendekap bungkusan sutera kuning dengan tangan kiri depan dada, lalu tangan kanannya menusukkan kerisnya.
Hebat juga serangannya, cepat sekali dan kuat. Kalau hanya lawan yang kepalang tanggung saja ilmunya, belum tentu akan mampu menghadapi serangan Sunggono. Akan tetapi Jokowanengpati menggerakkan tangan, menangkap pergelangan tangan yang memegang keris dan sekali putar keris itu sudah berpindah tangan!
"Berikan pusaka itu!" Jokowanengpati membentak dan memandang bengis.
"Tidak......, tidak.......!" Sunggono melompat mundur, kedua tangannya mendekap bungkusan sutera kuning.
"Setan!" Jokowanengpati menggerakkan tangannya dan keris rampasan itu meluncur ke depan dan..... "cepp!" keris itu menghunjam di bawah tenggorokkan Sunggono. Darah mengucur keluar melalui gagang keris, bercucuran menimpa bungkusan sutera kuning, akan tetapi hebatnya, Sunggono tidak roboh.
"Berikan.....!" Jokowanengpati membentak lagi sambil melangkah maju.
Akan tetapi Sunggono mengguncang-guncang kepalanya.
"Tidak.....ti....kkk!" suaranya terhenti seperti lehernya dicekik, mukanya pucat dan matanya melotot. Keris itu menancap sampai ke gagang, namun ia masih belum roboh.

Jokowanengpati menyerbu ke depan dan sekali renggut ia berhasil merampas bungkusan sutera kuning yang sudah berlumur darah. Sambil tersenyum-senyum Jokowanengpati membuka sutera kuning dan..... matanya silau oleh cahaya yang bersinar ketika bungkusan dibuka. Di tangannya adalah pusaka yang lenyap dari keratin Kahuripan, pusaka bertuan, patung kencana Sri Bathara Wisnu yang kini berlepotan darah, darah Sunggono.
"Kembalikan.......!"
Sunggono menerjang maju, tangan kirinya mencengkeram baju Jokowanengpati, tangan kanan meraih hendak merampas patung. Jokowanengpati menggerakkan tangannya menghantam lengan kanan Sunggono yang terulur ke depan.
"Krekkkk!"
Lengan itu terkulai karena tulangnya telah terpukul patah. Namun Sunggono seperti orang gila masih meraih lagi, kini dengan lengan kirinya.
"Kembalikan.....!"
Sekali lagi Jokowanengpati memukul dengan Aji Siyung Warak.
"Krekkkk!"
Patahlah tulang lengan kiri Sunggono sehingga kedua lengannya lumpuh tak dapat digerakkan lagi. Namun dasar orang sudah nekat dan tidak normal lagi pikirannya, ia masih saja berusaha mendekati Jokowanengpati.
"Bedebah, mampuslah!" Jokowanengpati menggunakan tangannya mencengkeram dada lawan, mengerahkan tenaga dan,
"kkraaaaakkkk!"
Robeklah dada itu karena iganya sempal (patah-patah). Jokowanengpati cepat melompat ke belakang agar jangan terkena percikan darah yang menyemprot. Tubuh Sunggono berkelojotan, matanya masih mendelik-delik dan akhirnya diam tak bergerak lagi. Jokowanengpati menengok, melihat bayangan dua orang berlari-lari. Ia mengeluarkan dengus mengejek dan tubuhnya berkelebat mengejar. Wiratmo dan Mirah lari bergandengan tangan, terengah-engah, melalui jalan setapak di pinggir jurang. Tiba-tiba terdengar bentakan,
"Berhenti!"
Bagaikan disambar petir keduanya berhenti, seperti berubah menjadi batu, kemudian perlahan membalikkan tubuh. Ternyata Jokowanengpati telah berdiri di hadapan mereka sambil tersenyum-senyum, akan tetapi senyum yang bagi mereka berdua amat menyeramkan. Ketika Wiratmo melihat betapa pandang mata itu melekat kepadanya, kakinya menggigil dan ia segera menjatuhkan dirinya berlutut sembah di depan Jokowanengpati sambil meratap-ratap.
"Ampunkan saya, raden..... saya tidak ikut-ikut..... saya..... saya tidak tahu-menahu tentang kecurangan dan pengkhianatan paman Sunggono".
Senyum mulut Jokowanengpati melebar, pandang matanya bersembunyi di balik bulu mata yang merapat.
"Hemm, engkau memang seorang yang baik bukan, kakang Wiratmo?"
Seakan berhenti jalan darah di tubuh Wiratmo, Ucapan itu biarpun terdengar manis, namun sikap dan cara mengucapkannya mengandung ejekan dan ancaman yang mengerikan. Ia menyembah.
"Raden jokowanengpati....., biarpun saya bukan seorang baik..... namun..... saya setia terhadap raden.....dan....."
"Dan engkau main gila dengan Mirah, bukan? Engkau tahu bahwa Mirah adalah milikku, akan tetapi kau lahap, kau rakus, engkau berani mencuri dan mencicipi dari piringku selama aku tidak ada! Engkau berjina dengan Mirah, dan masih kau bilang bahwa engkau setia kepadaku? Heh? Hayo bicaralah!"
Tubuh Wiratmo menggigil, mukanya pucat dan ia tidak mampu bicara, hanya menyembah-nyembah minta ampun.
"Desss!!"

Sebuah tendangan mengenai dagunya. Tubuh Wiratmo seperti disambar petir, terlempar dan terbanting pada karang di belakangnya. Mulutnya berdarah ketika ia merangkak-rangkak bangun akan tetapi kembali kaki Jokowanengpati bergerak menendang.
"Blukkk!"
Dadanya menjadi sasaran. Tendangan kilat itu amat kuat dan kini tubuh Wiratmo terbanting hebat, kepalanya bercucuran darah dari luka di bagian belakang, napasnya terengah-engah karena tendangan itu seakan-akan telah merampas semua napasnya.
"Am..... ampun.....!" Akan tetapi Jokowanengpati sudah maju lagi dan setiap kali tubuh Wiratmo hendak bangkit, sebuah tendangan merobohkannya kembali.
Mirah menutupi muka dengan kedua tangan, tubuhnya menggigil dan ia tak dapat menahan kengerian hatinya menyaksikan Wiratmo disiksa seperti itu.
"Kakangmas Joko......, sudahlah, kangmas..... ahhh, kasihanilah...!!! "
"Dessss!"
Kali ini tangan kiri Jokowanengpati menghantam, tepat mengenai puingan (pelipis) kepala Wiratmo.
"Aduuhh mati aku.....!"
Tubuh Wiratmo bergulingan, berkelojotan di atas tanah dan rintihan yang keluar dari mulutnya bukan seperti suara manusia lagi. Darah keluar dari mulut, hidung, telinga dan matanya! Pukulan tadi menggunakan Aji Siyung Warak, ampuhnya nggegirisi (mengerikan).
"Kakangmas Joko......! "
Mirah menangis terisak-isak menutupi muka, akan tetapi telinganya mendengar rintihan itu seakan-akan meremas-remas jantungnya, maka ia tersedu dan membalikkan tubuhnya agar tidak melihat Wiratmo sambil menggunakan kedua tangan menutupi telinga agar tidak mendengar lagi rintihan itu.
"Kau..... hendak membelanya? Kau mencintanya?"
Jokowanengpati bertanya, suaranya dingin menyeramkan.
"Tidak.....! Oh, tidak.....! Kakangmas, setahun lebih kakangmas tidak datang..... saya kesepian, kangmas...... dan dia..... dia baik sekali kepada ku"
"Cuhh!" Jokowanengpati meludah ke arah Mirah.
"Perempuan hina!"
Tubuh Wiratmo masih dapat merangkak lagi, akan tetapi sekali lagi tangan kiri Jokowanengpati menampar kepala dan..... pecahlah kepala Wiratmo. Dari kepala yang pecah keluar otak bercampur darah, tubuhnya terkulai tak bergerak lagi.
"Hemm, giliranmu sekarang.....!"
Pemuda yang kini memperlihatkan watak aslinya yang sering disembunyikan di belakang sikap halus karena cerdiknya itu menghampiri Mirah. Mirah terkejut, lupa akan kengeriannya tadi dan cepat ia melangkah mundur, wajahnya pucat matanya terbelalak.
"Jangan, kakangmas.....! Sungguh mati saya tidak mencinta dia..... cinta saya hanya kepadamu, kangmas. Lupakah kakangmas betapa saya telah berkorban untukmu? Siapakah yang membantu kakangmas membawa lari pusaka itu dari keraton? Kakangmas Joko, kasihanilah saya....."
Jokowanengpati melihat mata yang bening terbelalak, mulut yang merah itu setengah terbuka, agak berkurang marahnya. Apalagi ia teringat bahwa wanita ini memang amat mencinta dan setia kepadanya. Tentang permainannya dengan Wiratmo, hal itu sudah biasa karena Mirah memang ia tinggalkan sampai setahun lebih.
"Hemmm, baiklah. Mengingat perhubungan kita dan jasamu, biarlah kuampunkan kau, Mirah."
"Kakangmas Jo ko......., terima kasih.......!"

Mirah girang sekali dan maju menubruk kaki Jokowanengpati sambil berlutut. Akan tetapi sekali pemuda itu menggerakkan tangan, ia telah menyambak Mirah, menariknya berdiri, mendekapnya dan mencium bibirnya penuh nafsu. Mirah menjerit lirih dan ketika Jokowanengpati melepaskan ciumannya, bibir wanita itu bercucuran darah!
"Ini untuk hukumanmu, lain kali kalau aku mendapatkan engkau bermain gila dengan laki-laki lain, lehermu kupatahkan!"
Mirah hanya menunduk sambil mengusap darah yang terus mengucur dari bibirnya yang tergigit pecah. Mendadak Jokowanengpati berteriak keras dan muka pemuda itu seketika menjadi pucat sekali, tangan kiri mendekap patung kencana tangan kanan menekan perutnya.
"Aduh....., celaka.......! Aduhhhh.....!"
Ia terhuyung-huyung, meramkan mata dan mulutnya menggeget (menggigit keras-keras) gigi sampai mengeluarkan bunyi. Dahinya penuh peluh dan tubuhnya menggigil. Ketika ia membelalakkan matanya yang tiba-tiba menjadi merah itu, ia melihat Mirah sudah lari menjauhkan diri, sejauh sepuluh meter lebih.
Wanita itu berdiri dan memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan mulut yang bibir bawahnya berdarah itu membayangkan senyum.
"Kau.....! Kau.....!"
Jokowanengpati melompat, akan tetapi begitu bergerak, ia roboh terguling di atas tanah, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Hebat sekali rasa nyeri yang menyiksanya. Perutnya terasa terbakar dan ditusuk-tusuk sebelah dalam.
Sebagai seorang berilmu tinggi ia maklum bahwa ia telah menjadi korban racun. Tidak mungkin ia terkena racun kecuali melalui masakan Mirah tadi. Ia mengerahkan tenaga untuk bangkit kembali, akan tetapi rasa nyeri membuat ia terguling lagi dan kini patung kencana dalam bungkusan sutera kuning yang berlumur darah itu terlepas dari pegangannya. Ia seperti lupa kepada patung itu karena kedua tangannya meremas-remas perutnya yang sakit bukan main. Mirah melangkah maju, wajahnya berseri, matanya liar dan mulut yang masih ada darahnya di bibir bawah itu tertawa.
"Hi-hi-hik! Jokowanengpati rasakan kau sekarang! Manusia keji, manusia tak kenal budi. Rasakan kau sekarang! "
Sedetik Jokowanengpati melupakan rasa nyeri di perutnya. Ia terbelalak dan memandang Mirah dengan mata mendelik.
"Perempuan hina! Kau meracuni aku! Daun..... daun kates (pepaya) itu..... rasa pahit itu untuk menyembunyikan rasa racun....., kau..... kau..... siluman betina..... kubunuh engkau.....!"

Ia melompat lagi, akan tetapi untuk ketiga kalinya ia terguling. Tubuhnya bergulingan dan berkelonjotan menjauhi patung kencana. Mirah tertawa lagi, lari maju dan mengambil patung kencana, didekapnya di dadanya.
"Heh-heh-hi-hik! Enakkan rasanya, Jokowanengpati? Rasakanlah pembalasan tangan Mirah." Setelah berkata demikian, Mirah lalu lari membawa patung kencana.
"Mirah.....!!" Bagaikan ada kekuatan gaib yang mendorongnya, Jokowanengpati melompat dan lari mengejar.
Ia berhasil mencengkeram dari belakang, akan tetapi karena kegesitannya berkurang banyak, ia hanya berhasil mencengkeram kemben berkembang. Namun tangannya masih hebat karena sekali merenggut, kemben itu terlepas dan Mirah jatuh terguling. Patung kencana terlepas dari pegangannya. Bukan main kagetnya wanita ini, apalagi setelah melihat tubuh Jokowanengpati merangkak menghampirinya.
"Heh-heh-heh., aduhhh....., heh-heh, hendak lari ke mana kau Mirah ? Heh-heh..... aduhhh....."
Sambil tertawa dan meringis-ringis kesakitan Jokowanengpati merangkak maju, kedua tangannya seperti cakar setan hendak meraih Mirah. Mukanya penuh peluh, matanya merah, napasnya terengah-engah dan mulutnya mengeluarkan busa. Wajah yang biasanya ganteng tampan itu kini seperti muka iblis mengerikan.
"Aaiiiihhhh!" Mirah menjerit ketakutan, merangkak bangun dan hendak lari. Akan tetapi tangan Jokowanengpati yang menjangkau berhasil mencengkeram ujung kainnya. Mirah lari dan meronta, Jokowanengpati bertahan.
"Reeeeetttt!!"
Kain itu koyak-koyak dan terlepas dari tubuh Mirah. Wanita itu memekik ngeri dan tubuhnya yang kini bertelanjang bulat itu terguling lagi. Jokowanengpati dengan napas terengah-engah menubruk, namun Mirah saking takutnya mendapatkan kegesitan luar biasa, sudah berhasil melompat berdiri lagi dan hendak lari. Jokowanengpati juga melompat berdiri, tangannya meraih namun meleset dan Mirah lari ke depan.

<<< Bagian 032                                                                                    Bagian 034 >>>

No comments:

Post a Comment