"Hua-ha-ha-ha, lucu pertanyaanmu, Sunggono pengecut curang. Memang sejak semula, aku sudah bermaksud membunuh kalian bertiga agar jangan membocorkan rahasia. Kini kau mendahuluiku, ha-ha-ha, bagus sekali, berarti mengurangi dosaku. Berikan pusaka itu!"
"Tidak!
Kau terima pusakaku ini!" Sunggono mendekap bungkusan sutera kuning dengan
tangan kiri depan dada, lalu tangan kanannya menusukkan kerisnya.
Hebat juga
serangannya, cepat sekali dan kuat. Kalau hanya lawan yang kepalang tanggung
saja ilmunya, belum tentu akan mampu menghadapi serangan Sunggono. Akan tetapi
Jokowanengpati menggerakkan tangan, menangkap pergelangan tangan yang memegang
keris dan sekali putar keris itu sudah berpindah tangan!
"Berikan
pusaka itu!" Jokowanengpati membentak dan memandang bengis.
"Tidak......,
tidak.......!" Sunggono melompat mundur, kedua tangannya mendekap
bungkusan sutera kuning.
"Setan!"
Jokowanengpati menggerakkan tangannya dan keris rampasan itu meluncur ke depan
dan..... "cepp!" keris itu menghunjam di bawah tenggorokkan Sunggono.
Darah mengucur keluar melalui gagang keris, bercucuran menimpa bungkusan sutera
kuning, akan tetapi hebatnya, Sunggono tidak roboh.
"Berikan.....!"
Jokowanengpati membentak lagi sambil melangkah maju.
Akan tetapi
Sunggono mengguncang-guncang kepalanya.
"Tidak.....ti....kkk!"
suaranya terhenti seperti lehernya dicekik, mukanya pucat dan matanya melotot.
Keris itu menancap sampai ke gagang, namun ia masih belum roboh.
Jokowanengpati
menyerbu ke depan dan sekali renggut ia berhasil merampas bungkusan sutera
kuning yang sudah berlumur darah. Sambil tersenyum-senyum Jokowanengpati
membuka sutera kuning dan..... matanya silau oleh cahaya yang bersinar ketika
bungkusan dibuka. Di tangannya adalah pusaka yang lenyap dari keratin
Kahuripan, pusaka bertuan, patung kencana Sri Bathara Wisnu yang kini
berlepotan darah, darah Sunggono.
"Kembalikan.......!"
Sunggono
menerjang maju, tangan kirinya mencengkeram baju Jokowanengpati, tangan kanan
meraih hendak merampas patung. Jokowanengpati menggerakkan tangannya menghantam
lengan kanan Sunggono yang terulur ke depan.
"Krekkkk!"
Lengan itu
terkulai karena tulangnya telah terpukul patah. Namun Sunggono seperti orang
gila masih meraih lagi, kini dengan lengan kirinya.
"Kembalikan.....!"
Sekali lagi
Jokowanengpati memukul dengan Aji Siyung Warak.
"Krekkkk!"
Patahlah
tulang lengan kiri Sunggono sehingga kedua lengannya lumpuh tak dapat
digerakkan lagi. Namun dasar orang sudah nekat dan tidak normal lagi
pikirannya, ia masih saja berusaha mendekati Jokowanengpati.
"Bedebah,
mampuslah!" Jokowanengpati menggunakan tangannya mencengkeram dada lawan,
mengerahkan tenaga dan,
"kkraaaaakkkk!"
Robeklah dada
itu karena iganya sempal (patah-patah). Jokowanengpati cepat melompat ke belakang
agar jangan terkena percikan darah yang menyemprot. Tubuh Sunggono
berkelojotan, matanya masih mendelik-delik dan akhirnya diam tak bergerak lagi.
Jokowanengpati menengok, melihat bayangan dua orang berlari-lari. Ia
mengeluarkan dengus mengejek dan tubuhnya berkelebat mengejar. Wiratmo dan
Mirah lari bergandengan tangan, terengah-engah, melalui jalan setapak di
pinggir jurang. Tiba-tiba terdengar bentakan,
"Berhenti!"
Bagaikan
disambar petir keduanya berhenti, seperti berubah menjadi batu, kemudian perlahan
membalikkan tubuh. Ternyata Jokowanengpati telah berdiri di hadapan mereka
sambil tersenyum-senyum, akan tetapi senyum yang bagi mereka berdua amat
menyeramkan. Ketika Wiratmo melihat betapa pandang mata itu melekat kepadanya,
kakinya menggigil dan ia segera menjatuhkan dirinya berlutut sembah di depan
Jokowanengpati sambil meratap-ratap.
"Ampunkan
saya, raden..... saya tidak ikut-ikut..... saya..... saya tidak tahu-menahu
tentang kecurangan dan pengkhianatan paman Sunggono".
Senyum mulut
Jokowanengpati melebar, pandang matanya bersembunyi di balik bulu mata yang
merapat.
"Hemm,
engkau memang seorang yang baik bukan, kakang Wiratmo?"
Seakan
berhenti jalan darah di tubuh Wiratmo, Ucapan itu biarpun terdengar manis,
namun sikap dan cara mengucapkannya mengandung ejekan dan ancaman yang
mengerikan. Ia menyembah.
"Raden
jokowanengpati....., biarpun saya bukan seorang baik..... namun..... saya setia
terhadap raden.....dan....."
"Dan
engkau main gila dengan Mirah, bukan? Engkau tahu bahwa Mirah adalah milikku, akan
tetapi kau lahap, kau rakus, engkau berani mencuri dan mencicipi dari piringku
selama aku tidak ada! Engkau berjina dengan Mirah, dan masih kau bilang bahwa
engkau setia kepadaku? Heh? Hayo bicaralah!"
Tubuh Wiratmo
menggigil, mukanya pucat dan ia tidak mampu bicara, hanya menyembah-nyembah
minta ampun.
"Desss!!"
Sebuah
tendangan mengenai dagunya. Tubuh Wiratmo seperti disambar petir, terlempar dan
terbanting pada karang di belakangnya. Mulutnya berdarah ketika ia
merangkak-rangkak bangun akan tetapi kembali kaki Jokowanengpati bergerak
menendang.
"Blukkk!"
Dadanya
menjadi sasaran. Tendangan kilat itu amat kuat dan kini tubuh Wiratmo
terbanting hebat, kepalanya bercucuran darah dari luka di bagian belakang,
napasnya terengah-engah karena tendangan itu seakan-akan telah merampas semua
napasnya.
"Am.....
ampun.....!" Akan tetapi Jokowanengpati sudah maju lagi dan setiap kali
tubuh Wiratmo hendak bangkit, sebuah tendangan merobohkannya kembali.
Mirah menutupi
muka dengan kedua tangan, tubuhnya menggigil dan ia tak dapat menahan kengerian
hatinya menyaksikan Wiratmo disiksa seperti itu.
"Kakangmas
Joko......, sudahlah, kangmas..... ahhh, kasihanilah...!!! "
"Dessss!"
Kali ini
tangan kiri Jokowanengpati menghantam, tepat mengenai puingan (pelipis) kepala
Wiratmo.
"Aduuhh
mati aku.....!"
Tubuh Wiratmo
bergulingan, berkelojotan di atas tanah dan rintihan yang keluar dari mulutnya
bukan seperti suara manusia lagi. Darah keluar dari mulut, hidung, telinga dan
matanya! Pukulan tadi menggunakan Aji Siyung Warak, ampuhnya nggegirisi
(mengerikan).
"Kakangmas
Joko......! "
Mirah menangis
terisak-isak menutupi muka, akan tetapi telinganya mendengar rintihan itu
seakan-akan meremas-remas jantungnya, maka ia tersedu dan membalikkan tubuhnya
agar tidak melihat Wiratmo sambil menggunakan kedua tangan menutupi telinga
agar tidak mendengar lagi rintihan itu.
"Kau.....
hendak membelanya? Kau mencintanya?"
Jokowanengpati
bertanya, suaranya dingin menyeramkan.
"Tidak.....!
Oh, tidak.....! Kakangmas, setahun lebih kakangmas tidak datang..... saya
kesepian, kangmas...... dan dia..... dia baik sekali kepada ku"
"Cuhh!"
Jokowanengpati meludah ke arah Mirah.
"Perempuan
hina!"
Tubuh Wiratmo
masih dapat merangkak lagi, akan tetapi sekali lagi tangan kiri Jokowanengpati
menampar kepala dan..... pecahlah kepala Wiratmo. Dari kepala yang pecah keluar
otak bercampur darah, tubuhnya terkulai tak bergerak lagi.
"Hemm,
giliranmu sekarang.....!"
Pemuda yang
kini memperlihatkan watak aslinya yang sering disembunyikan di belakang sikap
halus karena cerdiknya itu menghampiri Mirah. Mirah terkejut, lupa akan
kengeriannya tadi dan cepat ia melangkah mundur, wajahnya pucat matanya
terbelalak.
"Jangan,
kakangmas.....! Sungguh mati saya tidak mencinta dia..... cinta saya hanya
kepadamu, kangmas. Lupakah kakangmas betapa saya telah berkorban untukmu?
Siapakah yang membantu kakangmas membawa lari pusaka itu dari keraton?
Kakangmas Joko, kasihanilah saya....."
Jokowanengpati
melihat mata yang bening terbelalak, mulut yang merah itu setengah terbuka,
agak berkurang marahnya. Apalagi ia teringat bahwa wanita ini memang amat
mencinta dan setia kepadanya. Tentang permainannya dengan Wiratmo, hal itu
sudah biasa karena Mirah memang ia tinggalkan sampai setahun lebih.
"Hemmm,
baiklah. Mengingat perhubungan kita dan jasamu, biarlah kuampunkan kau,
Mirah."
"Kakangmas
Jo ko......., terima kasih.......!"
Mirah girang
sekali dan maju menubruk kaki Jokowanengpati sambil berlutut. Akan tetapi
sekali pemuda itu menggerakkan tangan, ia telah menyambak Mirah, menariknya
berdiri, mendekapnya dan mencium bibirnya penuh nafsu. Mirah menjerit lirih dan
ketika Jokowanengpati melepaskan ciumannya, bibir wanita itu bercucuran darah!
"Ini
untuk hukumanmu, lain kali kalau aku mendapatkan engkau bermain gila dengan
laki-laki lain, lehermu kupatahkan!"
Mirah hanya
menunduk sambil mengusap darah yang terus mengucur dari bibirnya yang tergigit
pecah. Mendadak Jokowanengpati berteriak keras dan muka pemuda itu seketika
menjadi pucat sekali, tangan kiri mendekap patung kencana tangan kanan menekan
perutnya.
"Aduh.....,
celaka.......! Aduhhhh.....!"
Ia
terhuyung-huyung, meramkan mata dan mulutnya menggeget (menggigit keras-keras)
gigi sampai mengeluarkan bunyi. Dahinya penuh peluh dan tubuhnya menggigil.
Ketika ia membelalakkan matanya yang tiba-tiba menjadi merah itu, ia melihat
Mirah sudah lari menjauhkan diri, sejauh sepuluh meter lebih.
Wanita itu
berdiri dan memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan mulut yang bibir
bawahnya berdarah itu membayangkan senyum.
"Kau.....!
Kau.....!"
Jokowanengpati
melompat, akan tetapi begitu bergerak, ia roboh terguling di atas tanah,
mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Hebat sekali rasa nyeri yang
menyiksanya. Perutnya terasa terbakar dan ditusuk-tusuk sebelah dalam.
Sebagai
seorang berilmu tinggi ia maklum bahwa ia telah menjadi korban racun. Tidak
mungkin ia terkena racun kecuali melalui masakan Mirah tadi. Ia mengerahkan
tenaga untuk bangkit kembali, akan tetapi rasa nyeri membuat ia terguling lagi
dan kini patung kencana dalam bungkusan sutera kuning yang berlumur darah itu
terlepas dari pegangannya. Ia seperti lupa kepada patung itu karena kedua
tangannya meremas-remas perutnya yang sakit bukan main. Mirah melangkah maju,
wajahnya berseri, matanya liar dan mulut yang masih ada darahnya di bibir bawah
itu tertawa.
"Hi-hi-hik!
Jokowanengpati rasakan kau sekarang! Manusia keji, manusia tak kenal budi.
Rasakan kau sekarang! "
Sedetik
Jokowanengpati melupakan rasa nyeri di perutnya. Ia terbelalak dan memandang
Mirah dengan mata mendelik.
"Perempuan
hina! Kau meracuni aku! Daun..... daun kates (pepaya) itu..... rasa pahit itu
untuk menyembunyikan rasa racun....., kau..... kau..... siluman betina.....
kubunuh engkau.....!"
Ia melompat
lagi, akan tetapi untuk ketiga kalinya ia terguling. Tubuhnya bergulingan dan
berkelonjotan menjauhi patung kencana. Mirah tertawa lagi, lari maju dan
mengambil patung kencana, didekapnya di dadanya.
"Heh-heh-hi-hik!
Enakkan rasanya, Jokowanengpati? Rasakanlah pembalasan tangan Mirah."
Setelah berkata demikian, Mirah lalu lari membawa patung kencana.
"Mirah.....!!"
Bagaikan ada kekuatan gaib yang mendorongnya, Jokowanengpati melompat dan lari
mengejar.
Ia berhasil
mencengkeram dari belakang, akan tetapi karena kegesitannya berkurang banyak,
ia hanya berhasil mencengkeram kemben berkembang. Namun tangannya masih hebat
karena sekali merenggut, kemben itu terlepas dan Mirah jatuh terguling. Patung
kencana terlepas dari pegangannya. Bukan main kagetnya wanita ini, apalagi
setelah melihat tubuh Jokowanengpati merangkak menghampirinya.
"Heh-heh-heh.,
aduhhh....., heh-heh, hendak lari ke mana kau Mirah ? Heh-heh.....
aduhhh....."
Sambil tertawa
dan meringis-ringis kesakitan Jokowanengpati merangkak maju, kedua tangannya
seperti cakar setan hendak meraih Mirah. Mukanya penuh peluh, matanya merah,
napasnya terengah-engah dan mulutnya mengeluarkan busa. Wajah yang biasanya
ganteng tampan itu kini seperti muka iblis mengerikan.
"Aaiiiihhhh!"
Mirah menjerit ketakutan, merangkak bangun dan hendak lari. Akan tetapi tangan
Jokowanengpati yang menjangkau berhasil mencengkeram ujung kainnya. Mirah lari
dan meronta, Jokowanengpati bertahan.
"Reeeeetttt!!"
Kain itu
koyak-koyak dan terlepas dari tubuh Mirah. Wanita itu memekik ngeri dan
tubuhnya yang kini bertelanjang bulat itu terguling lagi. Jokowanengpati dengan
napas terengah-engah menubruk, namun Mirah saking takutnya mendapatkan
kegesitan luar biasa, sudah berhasil melompat berdiri lagi dan hendak lari.
Jokowanengpati juga melompat berdiri, tangannya meraih namun meleset dan Mirah
lari ke depan.
No comments:
Post a Comment