"Betul, bapa, kami khawatir kalau-kalau akan kambuh pula penyakit tamu kami," Wiyanti menyambung.
Wiku Jaladara
tersenyum dan menggeleng kepala.
"Malam
ini terang bulan purnama, saya harus memetik beberapa macam kembang obat yang
hanya mekar di waktu bulan purnama. Tentang orang ini, jangan khawatir,
andaikata ada perubahan sesuatu kepadanya, boleh saja kau menyusulku ke hutan
sebelah barat itu. Sampai besok aku masih akan berada di sana. Nah, selamat
tinggal."
Wiku Jaladara
berjalan keluar dari pondok diantar suami isteri itu yang tiada hentinya
menghaturkan terima kasih. Percakapan itu didengar baik-baik oleh
Jokowanengpati yang sudah setengah sadar. Akan tetapi ia perlu mengaso, perlu
mengumpulkan tenaganya kembali, maka ia segera tidur lagi sampai semalam
suntuk. Ia hanya tahu bahwa dirinya ditolong oleh sepasang suami isteri
penghuni pondok ini, dan oleh seorang wiku tua tukang mencari obat di hutan
barat. Ia hanya ingat samar-samar bahwa pertapa itu setengah tua berkepala
gundul yang dibungkus kain kuning dengan pakaian kuning pula, petani itu masih
muda dan isterinya berkulit kuning bersih dan manis! Pada keesokan harinya,
pagi-pagi sekali Jokowanengpati sudah bangun dari tidurnya. Ia merasa betapa
tubuhnya segar dan sehat, tenaganya sudah pulih kembali. Bukan main girang dan
lega hatinya. Tiba-tiba ia teringat akan patung kencana. Ia cepat menengok dan
melihat benda itu masih berada di atas balai-balai dekat kepalanya. Akan tetapi
bungkusnya, sutera kuning itu sudah terbuka sehingga tampaklah patungnya yang
terbuat daripada emas murni amat indahnya. Berguncang jantung Jokowanengpati.
Sutera itu terbuka, berarti tiga orang itu pasti telah melihatnya. Cepat ia
meraih patung itu dan memeriksanya, lalu membungkusnya kembali. Celaka,
pikirnya, tiga orang itu telah melihatnya! Ini berbahaya sekali. Tak seorangpun
di dunia ini boleh tahu bahwa patung kencana Mataram itu berada di tangannya!
Tiba-tiba
terdengar suara gerakan di luar bilik. Jokowanengpati terkejut dan cepat-cepat
ia lalu meletakkan patungnya kembali dan merebahkan diri telentang di atas
balai-balai sambil meramkan kedua matanya, akan tetapi diam-diam ia mengintai
dari balik bulu matanya yang hitam panjang. Terdengar langkah kaki halus dan
ternyata yang memasuki biliknya adalah seorang wanita yang manis, Wiyanti!
Wiyanti mendekati balai-balai, memandang penuh perhatian dan agak khawatir
karena melihat dada tamunya itu bergelombang, mengira tamunya kumat lagi. Ia
membungkuk dan hati-hati meraba dahi Jokowanengpati dengan tangan kanannya,
sedangkan di tangan kirinya terdapat sepiring nasi encer untuk tamunya yang
sakit. Dari jarak dekat Jokowanengpati melihat wajah manis yang asli sederhana
seperti setangkai mawar gunung segar bermandi halimun itu, melihat belahan dada
lembut ketika Wiyanti membungkuk. Biarpun Jokowanengpati seorang muda yang
memiliki dasar watak mata keranjang dan cabul, tak pernah dapat membiarkan
wanita cantik lewat begitu saja, akan tetapi dalam keadaan biasa, agaknya ia
masih enggan mengganggu wanita yang telah menolong nyawanya itu. Akan tetapi,
keyakinan hatinya bahwa wanita itu telah melihat patung kencana, menggelapkan
semua pikiran sehat dan pada saat itu juga lengan kirinya sudah merangkul leher
yang membungkuk!
"Aaahhhhppp!!"
Jokowanengpati
menghentikan pekik yang keluar dari bibir Wiyanti itu dengan mulutnya. Piring
nasi encer terlepas dan jatuh ke atas tanah Wiyanti meronta-ronta namun sia-sia
belaka. Tak mungkin ia dapat terlepas dari pagutan yang erat itu. Ia teringat
akan tusuk sanggulnya, tangannya meraih ke rambut, dicabutnya penusuk sanggul,
digerakkan tangannya untuk menusukkan senjata darurat ini, namun sambil tertawa
dan tetap menutup mulut dengan mulut itu Jokowanengpati merenggutkan tangan
Wiyanti yang memegang penusuk sanggul. Benda runcing kecil itu terlepas jatuh
di atas balai-balai, sanggulnya terlepas mengurai, menyelimuti mereka berdua.
Kismoro
memasuki pondoknya dengan muka dan kepala masih basah. Baru saja ia kembali
dari anak sungai, tangan kirinya membawa tiga ekor ikan lele hasil mengail di
pagi tadi. Tiba-tiba ia mendengar suara aneh di bilik, seperti orang dicekik
dan napas terengah-engah. Ia kaget sekali, melempar ikannya di sudut lalu lari
memasuki bilik. Tiba-tiba ia berdiri terpaku, mukanya menjadi merah, matanya melotot
dan hampir ia tidak percaya apa yang dilihatnya, Wiyanti, isterinya yang
tercinta, meronta-ronta dan bergumul dengan tamu mereka yang hendak
memperkosanya. Rambut isterinya terurai, kainnya sudah robek semua, namun
isterinya meronta dan melawan sekuat tenaga.
"Keparat........!!"
Kismoro memaki dan melompat maju hendak menolong isterinya.
"Werrr........
ceppp!!"
Tubuh Kismoro
yang baru melompat itu tiba-tiba roboh terguling dan tepat di ulu hatinya
menancap sebuah benda yang bukan lain adalah tusuk sanggul isterinya sendiri!
Kiranya Jokowanengpati yang melihat masuknya Kismoro, telah menggunakan tusuk
sanggul itu untuk mendahului menyerang.
Karena kini
tenaganya sudah pulih semua, sekali sambit saja ia mengirim tusuk sanggul itu
memasuki ulu hati Kismoro yang roboh dan berkelojotan merintih-rintih tanpa
dapat bangkit kembali.
"Aaiiihhhh........!
Kakang.......... Kang Kismoro........! Aduuuhhh........!"
Wiyanti
meronta-ronta sambil menoleh ke arah suaminya, memanggil-manggil dan menangis
menjerit-jerit. Namun dia dan suaminya tinggal di tempat terpencil jauh
tetangga. Jerit tangisnya itu mungkin hanya didengar oleh lutung-lutung dan
monyet.
Tak lama
kemudian jerit tangisnya tak terdengar lagi dan ketika Jokowanengpati melangkah
keluar dari pondok membawa bungkusan patung kencana, lalu berlari cepat seperti
angin meninggalkan tempat itu, di dalam bilik pondok itu tubuh Wiyanti telah
menjadi mayat!
Wanita inipun
menjadi korban kebiadaban Jokowanengpati yang tidak merasa puas kalau hanya
menodainya karena wanita inipun sudah melihat patung kencana, maka sehabis
melakukan pemerkosaan, dengan jari tangannya ia menusuk pelipis wanita ini
sehingga pecah dan tewas seketika. Kismoro masih mampu merangkak menghampiri
balai-balai di mana isterinya menggeletak tak bernyawa. Dengan susah payah ia
berhasil bangkit, memeluki tubuh isterinya dengan penuh kasih sayang dan iba.
Dalam keadaan hampir mati Kismoro tadi melihat betapa isterinya mati-matian
mempertahankan kehormatannya. Ia tidak menyesal, ia kasihan pada isterinya dan
karena terlalu banyak darah membanjir keluar, akhirnya Kismoro menghembuskan
napas terakhir sambil rebah menelungkup memeluk isterinya, badan atas di
balai-balai, badan bawah di atas tanah.
Jokowanengpati
lari cepat menuju ke barat. Diapun seorang manusia, maka diapun masih
diperingatkan hati nurani sendiri yang mencelanya atas pembunuhan yang ia
lakukan terhadap suami isteri yang telah menolong nyawanya. Ia harus mengakui
bahwa hanya berkat pertolongan kedua suami isteri itulah maka ia masih dapat bernapas
hari ini. Kalau malam kemarin tidak ada Kismoro dan Wiyanti yang menolongnya,
tentu ia sudah mati konyol!.
"Mereka
harus mati!" bantahnya sambil lari terus.
"Juga
wiku itu harus mati. Siapa suruh mereka bertiga melihat patung kencana? Kalau
mereka bertiga tidak kubunuh, aku sendiri akan terancam hidupku!"
Demikianlah bantahan hati Jokowa-nengpati terhadap teguran hati nuraninya.
Ia menganggap
bahwa perbuatannya itu benar. Benar karena ia anggap bahwa tiga orang itu kalau
dibiarkan hidup, dapat merupakan bahaya baginya! Dan demikian pula pandangan
orang-orang sesat tentang kebenaran sehingga di dunia ini bermunculan kebenaran
seperti jamur di musim hujan. Kebenaran yang timbul karena sifat egoism (mement
ingkan diri pribadi). Asal menguntungkan diri pribadi maka benarlah, yang
merugikan diri pribadi tentu saja tidak benar! Maka timbullah macam-macam
kebenaran. Memukuli dan menyiksa orang lain? Benar, karena orang lain itu
jahat, katanya. Mencuri milik orang lain? Benar pula, karena untuk memberi
makan anak isteri, katanya. Bermacam-macamlah alasan untuk membenarkan diri.
Kebenaran setan dan iblis. Kebenaran palsu. Inilah sebabnya manusia harus tetap
eling (ingat) dan waspodo (waspada). Ingat akan kekuasaan dan kebesaran Tuhan
sehingga kita benar-benar tunduk dan taat, kemudian waspada terhadap tindakan
sendiri, agar jangan sampai kita terjebak oleh iblis dan setan yang pandai
menyulap kepalsuan-kepalsuan menjadi semacam kebenaran!
Jokowanengpati
yang merasa diri benar itu mempergunakan ilmunya berlari cepat sekali menuju ke
hutan sebelah barat. Begitu memasuki hutan ini, hidungnya mencium sedapnya daun
dan bunga. Matahari pagi mulai menyinari taman alam ini, menciptakan
pemandangan yang indah. Hutan ini penuh dengan tetumbuhan beraneka warna.
Pantas saja tempat ini menjadi gudang tanaman berkhasiat. Terdengar suara orang
bersenandung. Ketika Jokowanengpati berjalan mendekat ke arah suara, tampaklah
olehnya seorang laki-laki setengah tua berjubah kuning sedang memilih daun
dengan hati-hati sambil membaca doa yang suaranya seperti orang bersenandung.
Daun-daun itu dikumpulkan dalam sebuah keranjang bambu dan agaknya wiku itu
tidak tahu bahwa Jokowanengpati telah datang mendekat. Setelah Jokowanengpati
mendehem (batuk kecil) barulah ia menengok, memandang penuh perhatian dan
tampak tercengang.
"Pamankah
yang mengobati saya dari keracunan?" Jokowanengpati bertanya untuk mencari
kepastian.
Wiku Jaladara
memandang ke arah bungkusan kain kuning, lalu mengangguk dan tersenyum.
“Daun-daun
inilah yang mengobatimu, orang muda, dan kekuasaan Yang Maha Mulia jualah yang
menentukan, saya hanya alat dan perantara belaka........"
Tiba-tiba Wiku
Jaladara terkejut bukan main karena pada saat itu, orang muda yang disangkanya
mencarinya hanya untuk menghaturkan terima kasih itu telah menerjangnya dengan
pukulan hebat dan gerakan cepat laksana kilat menyambar. Memang Jokowanengpati
telah menyerangnya dengan gerakan Bayu Sakti dan pukulan Jonggring Saloko. Ia
hendak berhasil dengan sekali pukul, karena betapapun juga tidak enak hatinya
harus membunuh pertapa ini.
"Aaahhh......,
bagaimanakah ini........ ?"
Wiku Jaladara
cepat mengelak ke samping, akan tetapi biarpun pukulan itu sendiri tidak
mengenainya, namun hawa pukulan yang maha dahsyat membuat tubuh sang wiku
terguling. Ketika Wiku Jaladara terhuyung hendak bangun, Jokowanengpati telah
menerjangnya lagi tanpa memberinya kesempatan, kini menggunakan pukulan Siyung
Warak dan mengarah kepala agar sekali pukul beres.
"Wuuuuuttt........
dukkkk!"
Bukan Wiku
Jaladara yang pecah kepalanya, bahkan tubuhnya masih tidak apa-apa, robohpun
tidak, sebaliknya Jokowanengpati yang terpelanting dan cepat pemuda ini
melompat bangun lagi sambil memandang dengan mata terbelalak. Pukulannya tadi
ada yang menangkis dan kini orang yang menangkisnya, yang telah menolong Wiku
Jaladara, telah berdiri di depannya. Seorang laki-laki yang berwajah aneh
sekali! Kulit mukanya kuning berkeriput, brocal-brocel (tidak rata) seakan-akan
kulit itu bekas digerogoti semut, hidungnya hampir lenyap hanya tampak lubangnya,
matanya tidak berbulu akan tetapi sinarnya tajam menembus jantung, mukanya yang
buruk itu tidak berambut, akan tetapi rambut kepalanya yang putih menunjukkan
bahwa laki-laki ini adalah seorang kakek tua.
Jokowanengpati
memandang tajam dan tahulah ia bahwa orang berwajah mengerikan ini sebenarnya
memakai topeng yang terbuat daripada getah pohon karet, maka ia menjadi
penasaran dan membentak marah,
"Heh
keparat, siapakah engkau berani mencampuri urusan kami?"
Akan tetapi si
buruk rupa itu tidak menjawab bahkan tidak memperdulikan-nya, melainkan
menghadapi Wiku Jaladara dan bertanya,
"Sang
wiku yang baik, apakah sebabnya orang muda ini menyerang anda?"
Wiku Jaladara
merangkap kedua tangan di depan dada, menjawab dengan tenang,
"Saya
sendiri tidak tahu mengapa, kisanak, kemarin saya membawakan daun obat dan
berhasil mengusir racun dari dalam perutnya, pagi ini dia datang mencari saya
dan tahu-tahu telah menyerang saya tanpa sebab. Semoga dia diterangi cahaya
kebenaran Sang Hyang Adhi Buddha, Sadhu!" Wiku Jaladara mengucapkan
puja-puji.
Jokowanengpati
menjadi panas sekali hatinya. Ia tidak tahu siapa si buruk rupa ini, akan
tetapi melihat betapa tadi dapat menangkis pukulannya dengan tenaga sedemikian
kuatnya, ia dapat menduga bahwa orang ini merupakan lawan yang cukup tangguh.
Oleh karena itu, tanpa menanti orang itu menyerangnya dengan pukulan maupun
kata-kata, ia telah mendahului membentak,
"Orang
lancang dan usil! Terimalah pukulanku ini!"
Ia menerjang
dengan ganas, menggunakan kegesitan tubuhnya, mengerahkan Bayu Sakti dan
menyerang sambil mainkan Aji Jonggring Saloko.
"Hemmm,
bocah tersesat !"
Orang
bertopeng itu berkata perlahan, tubuhnya bergerak cepat pula dan dengan mudah
menghindarkan pukulan Jokowanengpati yang bertubi-tubi. Lebih sepuluh kali
Jokowanengpati memukul dengan tangan kanannya, menggunakan ilmu pukulan
Jonggring Saloko, akan tetapi orang itu selalu mengelak dengan gesitnya. Mulai
kaget dan heranlah hati Jokowanengpati.
No comments:
Post a Comment