Badai Laut Selatan ; Bagian 036


"Engkau siapa ?" bentaknya sambil melompat mundur.
Akan tetapi orang itu tidak menjawab, hanya mengeluarkan suara ketawa lirih. Jokowanengpati marah sekali. Ia tidak dapat menggunakan kedua tangannya karena tangan kirinya ia pakai mendekap patung kencana di dada. Namun biar hanya tangan kanannya yang bergerak, sebetulnya serangan-serangannya tadi hebat bukan main. Mengapa orang aneh ini dapat mengelakkannya demikian mudah?
"Mampuslah!"
Kembali Jokowanengpati menerjangnya, kini ia menambah tenaga pukulannya, bahkan menggunakan aji tendangannya yang hebat. Bagaikan kitiran angin tangan kanannya dan kedua kakinya menerjang ganti-berganti, tidak memberi kesempatan kepada lawan. Namun aneh sekali, orang itu menghadapi semua serangannya dengan tenang dan dapat mengelak pada saat yang tepat.
"Keparat, balaslah! Kau kira aku takut terhadap balasan seranganmu?" Jokowanengpati berteriak ketika melihat betapa lawannya itu hanya mengelak terus sambil kadang-kadang mengeluarkan suara ketawa lirih. Kalau orang ini tidak menyerangnya, mana ia mampu mengenalnya? Dari gerak serangannya, mungkin ia akan dapat menduga siapa gerangan orang di balik topeng ini!
"Hemm, benar-benar tersesat engkau. Sambutlah ini!"
Tiba-tiba orang itu balas menyerang dan alangkah kaget hati Jokowanengpati bahwa orang inipun menyerangnya dengan ilmu yang sama! Orang itu menggunakan serangan dengan ilmu pukulan Jonggring Saloko pula!. Gurunyakah? Empu Bharodokah? Menggigil tubuh Jokowanengpati ketika hatinya menduga demikian, akan tetapi ia cepat menggunakan Bayu Sakti untuk mengelak. Ia memandang lebih teliti. Bukan, bukan gurunya. Biarpun gurunya dapat bersembunyi di balik topeng sehingga ia takkan mengenali mukanya, namun gurunya tidak mungkin dapat merubah bentuk tubuhnya. Dan orang ini bentuknya tidak sama dengan gurunya. Gurunya lebih pendek dan leher gurunya tidak sepanjang itu. Bukan, orang ini bukan gurunya.
Akan tetapi ia tidak dapat berpikir lama-lama karena orang bertopeng itu sudah menerjangnya lagi dengan gerakan yang hebat, Jokowanengpati mengeluh. Orang ini gerakannya tidak kalah cepat olehnya, sedangkan ia sendiri merasa canggung karena tangan kirinya harus memeluk patung kencana. Ketika ia merasa angin pukulan menghantam leher, cepat ia menangkis karena untuk mengelak amat berbahaya.
"Dukkkk!"
Kembali ia terpelanting dan pada saat itu lawan sudah mencengkeram ke arah dadanya. Jokowanengpati membuang diri ke belakang dan gerakan ini membuat sutera kuning pembungkus patung berkibar dan tanpa disengaja terkena cengkeraman orang itu.
"Bretttl"

Sutera kuning itu terlepas dari patung kencana dan tampaklah kini pusaka keramat itu, sebuah patung Sri Batara Wishnu, terbuat daripada emas, diukir amat indahnya seakan-akan patung itu hidup!
"Aahhhhhhh.......! Pusaka Mataram....?"
Orang bertopeng itu berseru lirih, sejenak terpesona, kemudian ia menggereng dan menerjang makin hebat. Jokowanengpti kewalahan. Ia hanya menggunakan tangan kanan saja untuk melawan, sedangkan dalam hal tenaga dan kecepatan, orang itu tidak kalah olehnya, maka ia terdesak dan pada saat ia menangkis sebuah pukulan, tangan orang itu telah berhasil menampar pundaknya.
"Aduhhh..... !"
Hebat sekali tamparan itu. Panas rasanya dan diam-diam Jokowanengpati terheran. Terang bukan gurunya, karena tenaga yang dipergunakan dalam pukulan tadi bukanlah Siyung Warak, melainkan tenaga lain yang ampuhnya tidak kalah oleh Siyung Warak, yang membuat dadanya serasa dibakar. Celaka, pikirnya. Musuh ini amat tangguh dan kalau dilanjutkan sampai ia kalah, tentu patung ini akan terampas.
Patung pusaka keramat! Pusaka Brojol Luwuk yang berada di dalam patung. Teringat akan ini, Jokowanengpati lalu melompat jauh ke belakang, memutar-mutar bagian bawah patung yang segera terbuka dan ketika tangan kanannya merogoh ke dalam patung, ia mendapatkan sebatang keris yang warnanya abu-abu. Keris ini ujudnya biasa saja, malah tanpa ganja (dasaran keris) atau ganjanya bersambung dan rata dengan tubuh kerisnya, eluknya tujuh model Sempana, warnanya abu-abu namun memancarkan cahaya kehijauan yang luar biasa. Inilah pusaka Brojol Luwuk, pusaka Mataram yang semenjak jaman dahulu menjadi pusaka dan pujaan Raja-raja Mataram! Orang bertopeng itu terbelalak memandang pusaka, mundur-mundur seperti orang ketakutan.
"Brojol Luwuk............!" serunya kaget.
Melihat ini, besar hati Jokowanengpati. Kiranya keris inilah pusaka sebenarnya, adapun patung kencana itu hanyalah wadah (tempat) belaka. Maka agar gerakannya jangan terhalang, ia melemparkan patung yang sudah kosong itu ke atas rumput, kemudian dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangan kanan ia menyerbu sambil lari ke depan.
Keris menyambar ke depan. Orang bertopeng itu melompat ke pinggir untuk mengelak, akan tetapi tiba-tiba ia terpelanting. Hebat memang wibawa keris pusaka itu yang seakan-akan mengeluarkan hawa sakti yang amat panas. Menghadapi wibawa dan hawa sakti ini saja lawan sudah seakan-akan lumpuh dan hilang kedigdayaannya. Jokowanengpati girang sekali. Ia menubruk maju dengan kerisnya sambil berseru,
"Mampus kau!"

Orang itu kembali mengelak, akan tetapi sekali lagi ia terguling seperti terkena dorongan yang amat kuat. Jokowanengpati menubruk ke bawah, kerisnya meluncur ke arah dada lawan. Orang itu mengeluh panjang dan menggulingkan tubuhnya cepat-cepat menghindar sehingga keris menancap tanah. Seketika tanah itu mengeluarkan suara mendesis dan mengebulkan asap! Bukan main! Tanah saja seperti tidak kuat menahan tusukan keris bertuah ini, apalagi kulit daging manusia. Pantas saja orang bertopeng itu ketakutan dan selalu menghindar. Jokowanengpati makin besar hatinya. Setelah mencabut keris itu ia mengejar, sumbarnya,
"Hayoh keluarkan kesaktianmu, keparat ! Jangan lari kau!"
Bagaikan sebuah ndaru (bintang berekor) keris itu meluncur lagi menuju ulu hati orang bertopeng. Orang itu mengeluarkan keluhan panjang dan berusaha meloncat tinggi untuk melarikan diri. Namun hawa sakti keris pusaka Brojol Luwuk agaknya dapat mengejarnya sehingga dari atas ia terbanting jatuh lagi lalu bergulingan menjauhkan diri. Jokowanengpati girang sekali, tertawa-tawa mengejek dan mengejar terus.
"Sadhu-sadhu-sadhu...... Kisanak, terimalah ini.....!"
Wiku Jaladara telah mengambil patung kencana dan kini ia melemparkan patung itu ke arah orang bertopeng. Patung kencana itu meluncur dan mengeluarkan sinar cemerlang, lalu diterima oleh orang bertopeng dengan wajah berseri.
"Terima kasih, sang wiku!"
Pada saat itu Jokowanengpati sudah datang lagi menerjang, keris pusakanya meluncur cepat sekali ke arah perut lawan. Orang bertopeng itu telah membuka bagian bawah patung. Dengan patung kencana di tangan, hawa sakti keris pusaka ampuh itu sama sekali tidak mempengaruhinya seakan-akan menjadi tawar oleh wibawa yang keluar dari patung kencana. Begitu keris pusaka itu menghunjam, orang bertopeng cepat menyambutnya dengan patung kencana yang dipegang dengan kaki di depan.
“Cepppp !”
Tepat sekali keris itu memasuki patung kencana yang memang menjadi wadahnya, tepat dan persis seperti curiga manjing warangka (keris memasuki sarungnya)! Dan pada saat itu, orang bertopeng sudah menggerakkan tangan kirinya menghantam lengan kanan Jokowanengpati. Hebat bukan main hantaman jari-jari tangan kiri ini. Jokowanengpati merasa seakan-akan lengannya hancur, padahal ia telah mengerahkan Aji Siyung Warak. Ia menjerit kesakitan, tangan kanannya merasa lumpuh ketika ia melompat ke belakang.

Maklumlah pemuda ini bahwa tak mungkin ia akan menang kalau melanjutkan pertandingan, maka dengan mulut memekik penuh kecewa dan sesal ia lalu meloncat dan lari sambil mengerahkan Aji Bayu Saktinya. Sebentar saja ia lenyap dari dalam hutan itu.
"Jagad Dewa Batara....... ! " orang bertopeng itu mengeluh sambil memandang patung kencana.
"Berbahaya sekali..... ! "
Kemudian ia menoleh ke arah Wiku Jaladara yang masih berdiri di bawah pohon, menghampiri dan menjura penuh hormat.
"Terima kasih atas bantuan sang wiku."
Wiku Jaladara balas menghormat sambil menyembah depan dada, lalu berkata dengan halus,
“Sabhe satta avera hontu, sadhu-sadhu-sadhu (Semoga semua mahluk hidup damai)!"
Orang bertopeng itu tersenyum, menghela napas panjang dan berkata sebagai jawaban,
"Kalau semua orang di dunia ini seperti anda, sang wiku yang bijaksana, kiranya perdamaian akan menyelimuti jagad. Akan tetapi selama orang-orang macam orang muda tadi masih berkeliaran di dunia, bagaimana kita dapat mengharapkan perdamaian?"
Selanjutnya orang bertopeng itu menjura lagi lalu pergi dari situ sambil mulutnya berkemak-kemik membaca mentera dan doa, meninggalkan Wiku Jaladara yang juga tiada hentinya berdoa sambil melanjutkan memetik daun dan bunga obat.
Setelah keluar dari dalam hutan, orang bertopeng itu lalu melucuti topengnya yang merupakan selembar getah kering pohon karet. Maka tampaklah kini wajah yang berwibawa dari seorang pertapa yang rambutnya sudah putih semua, yang bukan lain adalah Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo!.

Sang waktu melewat dengan pesatnya atau merayap dengan lambatnya tanpa dipengaruhi oleh apapun yang terjadi di dunia ini. Semua tunduk kepada waktu. Semua melapuk dan rusak digerogoti waktu. Tiada kekuasaan di dunia dapat mempercepat atau memperlambat jalannya waktu. Manusia hanya dapat menyumpahi kelambatannya kalau sedang tergesa-gesa, atau menyesali kecepatannya kalau sudah tua.
Sepuluh tahun lebih telah lewat sejak Pujo membawa lari Joko Wandiro dari tangan ibunya, ketika Pujo menculik isteri dan putera Wisangjiwo ke Guha Siluman. Kini Joko Wandiro sudah berusia dua belas tahun, seorang anak laki-laki yang berwajah tampan bertubuh kuat dan pada wajahnya terbayang kekerasan hati, sungguhpun kekerasan pada tarikan dagunya ini dilembutkan sinar matanya yang tajam dan bibirnya yang sering tersenyum ramah. Joko Wandiro adalah seorang anak yang periang, nakal jenaka. Seringkali ia bermain-main dengan anak-anak nelayan yang kadang-kadang datang ke pantai tempat ia dan ayahnya tinggal, pantai yang sunyi sekali jauh dari perkampungan nelayan. Apabila anak-anak nelayan itu bermain-main di daerah sunyi ini, terdengar suara Joko Wandiro ikut bersorak-sorak gembira. Akan tetapi apabila ia sedang berlatih dengan ayahnya, tampaklah kesungguhan hatinya.
Pada suatu pagi, Joko Wandiro telah berlatih dengan Pujo yang selama ini telah menjadi "ayahnya". Dan memang sesungguhnyalah Pujo menyayangi anak ini seperti anaknya sendiri, makin besar anak itu, makin besar pula rasa sayangnya sehingga ia seakan-akan telah lupa bahwa anak itu adalah keturunan musuh besarnya. Lupa bahwa ia membesarkan dan mendidik anak ini dengan tujuan menyiksa hati Wisangjiwo, dan sengaja hendak mengadu anak ini dengan Wisangjiwo kelak. Kini ia menganggap Joko Wandiro sebagai putera atau murid sendiri yang dididik dengan tekun.

Di dekat muara Kali Lorog, di sepanjang pantai Laut Selatan yang banyak teluknya, di sanalah mereka berdua ini tinggal. Pada pagi hari itu, seperti biasa, Joko Wandiro telah berdiri di atas batu karang yang menonjol di permukaan laut. Di depannya, Pujo juga berdiri di atas batu karang lain yang jaraknya antara dua meter dari batu karang pertama. Kemudian Pujo bergerak perlahan, menggerakkan kaki tangan seperti orang menari, yang diikuti pula oleh Joko Wandiro. Kadang-kadang terdengar teriakan Pujo yang mengiringi pukulan-pukulan tertentu, diturut pula oleh Joko Wandiro dengan teriakan nyaring dan tinggi. Terus menerus mereka berlatih sampai keringat membasahi seluruh tubuh Joko Wandiro, sampai matahari naik tinggi dan sampai ombak air laut yang tadinya tenang itu mulai mengganas dan menyerbu batu karang yang mereka jadikan tempat berlatih! Makin ganas ombak, makin cepat pula gerakan Pujo dan Joko Wandiro. Ternyata hantaman ombak ke lambung batu karang yang membuat air muncrat ke atas menyerang kedua orang itu, dipergunakan oleh Pujo untuk latihan kegesitan karena mereka itu menganggap seolah-olah percikan air itu merupakan pukulan dan serangan lawan! Kalau lidah ombak yang memukul itu tak dapat dielakkan lagi, mereka menggunakan kekuatan tubuh untuk melawannya, dan tubuh mereka seolah-olah batu karang, kokoh kuat tidak bergeming oleh hantaman ombak memecah. Namun makin lama Joko Wandiro makin menderita karena tubuhnya belumlah sekuat Pujo. Pujo melihat ini, melihat betapa Joko Wandiro mulai terhuyung setiap kali lidah ombak datang melecut. Ia tersenyum dan berkata nyaring mengatasi debur, suara Ombak,
"Cukup anakku!"
Tubuh Pujo melompat ke atas batu karang puteranya, lalu sekali sambar ia telah mengempit pinggang Joko Wandiro, kemudian dibawanya tubuh anak itu meloncat ke batu karang di pinggir. Mereka kini berjalan kaki sambil menghapus air laut dan peluh dari muka dan leher, menuju ke pondok yang menjadi tempat tinggal mereka, di bawah sekelompok pohon nyiur.

<<< Bagian 035                                                                                    Bagian 037 >>>

No comments:

Post a Comment