"Engkau siapa ?" bentaknya sambil melompat mundur.
Akan tetapi
orang itu tidak menjawab, hanya mengeluarkan suara ketawa lirih. Jokowanengpati
marah sekali. Ia tidak dapat menggunakan kedua tangannya karena tangan kirinya ia
pakai mendekap patung kencana di dada. Namun biar hanya tangan kanannya yang
bergerak, sebetulnya serangan-serangannya tadi hebat bukan main. Mengapa orang
aneh ini dapat mengelakkannya demikian mudah?
"Mampuslah!"
Kembali
Jokowanengpati menerjangnya, kini ia menambah tenaga pukulannya, bahkan
menggunakan aji tendangannya yang hebat. Bagaikan kitiran angin tangan kanannya
dan kedua kakinya menerjang ganti-berganti, tidak memberi kesempatan kepada
lawan. Namun aneh sekali, orang itu menghadapi semua serangannya dengan tenang
dan dapat mengelak pada saat yang tepat.
"Keparat,
balaslah! Kau kira aku takut terhadap balasan seranganmu?" Jokowanengpati
berteriak ketika melihat betapa lawannya itu hanya mengelak terus sambil
kadang-kadang mengeluarkan suara ketawa lirih. Kalau orang ini tidak
menyerangnya, mana ia mampu mengenalnya? Dari gerak serangannya, mungkin ia
akan dapat menduga siapa gerangan orang di balik topeng ini!
"Hemm,
benar-benar tersesat engkau. Sambutlah ini!"
Tiba-tiba
orang itu balas menyerang dan alangkah kaget hati Jokowanengpati bahwa orang
inipun menyerangnya dengan ilmu yang sama! Orang itu menggunakan serangan
dengan ilmu pukulan Jonggring Saloko pula!. Gurunyakah? Empu Bharodokah?
Menggigil tubuh Jokowanengpati ketika hatinya menduga demikian, akan tetapi ia
cepat menggunakan Bayu Sakti untuk mengelak. Ia memandang lebih teliti. Bukan,
bukan gurunya. Biarpun gurunya dapat bersembunyi di balik topeng sehingga ia
takkan mengenali mukanya, namun gurunya tidak mungkin dapat merubah bentuk tubuhnya.
Dan orang ini bentuknya tidak sama dengan gurunya. Gurunya lebih pendek dan
leher gurunya tidak sepanjang itu. Bukan, orang ini bukan gurunya.
Akan tetapi ia
tidak dapat berpikir lama-lama karena orang bertopeng itu sudah menerjangnya
lagi dengan gerakan yang hebat, Jokowanengpati mengeluh. Orang ini gerakannya
tidak kalah cepat olehnya, sedangkan ia sendiri merasa canggung karena tangan
kirinya harus memeluk patung kencana. Ketika ia merasa angin pukulan menghantam
leher, cepat ia menangkis karena untuk mengelak amat berbahaya.
"Dukkkk!"
Kembali ia
terpelanting dan pada saat itu lawan sudah mencengkeram ke arah dadanya.
Jokowanengpati membuang diri ke belakang dan gerakan ini membuat sutera kuning
pembungkus patung berkibar dan tanpa disengaja terkena cengkeraman orang itu.
"Bretttl"
Sutera kuning
itu terlepas dari patung kencana dan tampaklah kini pusaka keramat itu, sebuah
patung Sri Batara Wishnu, terbuat daripada emas, diukir amat indahnya
seakan-akan patung itu hidup!
"Aahhhhhhh.......!
Pusaka Mataram....?"
Orang
bertopeng itu berseru lirih, sejenak terpesona, kemudian ia menggereng dan
menerjang makin hebat. Jokowanengpti kewalahan. Ia hanya menggunakan tangan
kanan saja untuk melawan, sedangkan dalam hal tenaga dan kecepatan, orang itu
tidak kalah olehnya, maka ia terdesak dan pada saat ia menangkis sebuah
pukulan, tangan orang itu telah berhasil menampar pundaknya.
"Aduhhh.....
!"
Hebat sekali
tamparan itu. Panas rasanya dan diam-diam Jokowanengpati terheran. Terang bukan
gurunya, karena tenaga yang dipergunakan dalam pukulan tadi bukanlah Siyung
Warak, melainkan tenaga lain yang ampuhnya tidak kalah oleh Siyung Warak, yang
membuat dadanya serasa dibakar. Celaka, pikirnya. Musuh ini amat tangguh dan
kalau dilanjutkan sampai ia kalah, tentu patung ini akan terampas.
Patung pusaka
keramat! Pusaka Brojol Luwuk yang berada di dalam patung. Teringat akan ini,
Jokowanengpati lalu melompat jauh ke belakang, memutar-mutar bagian bawah
patung yang segera terbuka dan ketika tangan kanannya merogoh ke dalam patung,
ia mendapatkan sebatang keris yang warnanya abu-abu. Keris ini ujudnya biasa
saja, malah tanpa ganja (dasaran keris) atau ganjanya bersambung dan rata
dengan tubuh kerisnya, eluknya tujuh model Sempana, warnanya abu-abu namun
memancarkan cahaya kehijauan yang luar biasa. Inilah pusaka Brojol Luwuk,
pusaka Mataram yang semenjak jaman dahulu menjadi pusaka dan pujaan Raja-raja
Mataram! Orang bertopeng itu terbelalak memandang pusaka, mundur-mundur seperti
orang ketakutan.
"Brojol
Luwuk............!" serunya kaget.
Melihat ini,
besar hati Jokowanengpati. Kiranya keris inilah pusaka sebenarnya, adapun
patung kencana itu hanyalah wadah (tempat) belaka. Maka agar gerakannya jangan
terhalang, ia melemparkan patung yang sudah kosong itu ke atas rumput, kemudian
dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangan kanan ia menyerbu sambil lari ke
depan.
Keris
menyambar ke depan. Orang bertopeng itu melompat ke pinggir untuk mengelak,
akan tetapi tiba-tiba ia terpelanting. Hebat memang wibawa keris pusaka itu
yang seakan-akan mengeluarkan hawa sakti yang amat panas. Menghadapi wibawa dan
hawa sakti ini saja lawan sudah seakan-akan lumpuh dan hilang kedigdayaannya.
Jokowanengpati girang sekali. Ia menubruk maju dengan kerisnya sambil berseru,
"Mampus
kau!"
Orang itu kembali
mengelak, akan tetapi sekali lagi ia terguling seperti terkena dorongan yang
amat kuat. Jokowanengpati menubruk ke bawah, kerisnya meluncur ke arah dada
lawan. Orang itu mengeluh panjang dan menggulingkan tubuhnya cepat-cepat
menghindar sehingga keris menancap tanah. Seketika tanah itu mengeluarkan suara
mendesis dan mengebulkan asap! Bukan main! Tanah saja seperti tidak kuat
menahan tusukan keris bertuah ini, apalagi kulit daging manusia. Pantas saja
orang bertopeng itu ketakutan dan selalu menghindar. Jokowanengpati makin besar
hatinya. Setelah mencabut keris itu ia mengejar, sumbarnya,
"Hayoh
keluarkan kesaktianmu, keparat ! Jangan lari kau!"
Bagaikan
sebuah ndaru (bintang berekor) keris itu meluncur lagi menuju ulu hati orang
bertopeng. Orang itu mengeluarkan keluhan panjang dan berusaha meloncat tinggi
untuk melarikan diri. Namun hawa sakti keris pusaka Brojol Luwuk agaknya dapat
mengejarnya sehingga dari atas ia terbanting jatuh lagi lalu bergulingan
menjauhkan diri. Jokowanengpati girang sekali, tertawa-tawa mengejek dan
mengejar terus.
"Sadhu-sadhu-sadhu......
Kisanak, terimalah ini.....!"
Wiku Jaladara
telah mengambil patung kencana dan kini ia melemparkan patung itu ke arah orang
bertopeng. Patung kencana itu meluncur dan mengeluarkan sinar cemerlang, lalu
diterima oleh orang bertopeng dengan wajah berseri.
"Terima
kasih, sang wiku!"
Pada saat itu
Jokowanengpati sudah datang lagi menerjang, keris pusakanya meluncur cepat
sekali ke arah perut lawan. Orang bertopeng itu telah membuka bagian bawah
patung. Dengan patung kencana di tangan, hawa sakti keris pusaka ampuh itu sama
sekali tidak mempengaruhinya seakan-akan menjadi tawar oleh wibawa yang keluar
dari patung kencana. Begitu keris pusaka itu menghunjam, orang bertopeng cepat
menyambutnya dengan patung kencana yang dipegang dengan kaki di depan.
“Cepppp !”
Tepat sekali
keris itu memasuki patung kencana yang memang menjadi wadahnya, tepat dan
persis seperti curiga manjing warangka (keris memasuki sarungnya)! Dan pada
saat itu, orang bertopeng sudah menggerakkan tangan kirinya menghantam lengan
kanan Jokowanengpati. Hebat bukan main hantaman jari-jari tangan kiri ini.
Jokowanengpati merasa seakan-akan lengannya hancur, padahal ia telah
mengerahkan Aji Siyung Warak. Ia menjerit kesakitan, tangan kanannya merasa
lumpuh ketika ia melompat ke belakang.
Maklumlah
pemuda ini bahwa tak mungkin ia akan menang kalau melanjutkan pertandingan,
maka dengan mulut memekik penuh kecewa dan sesal ia lalu meloncat dan lari
sambil mengerahkan Aji Bayu Saktinya. Sebentar saja ia lenyap dari dalam hutan
itu.
"Jagad
Dewa Batara....... ! " orang bertopeng itu mengeluh sambil memandang
patung kencana.
"Berbahaya
sekali..... ! "
Kemudian ia
menoleh ke arah Wiku Jaladara yang masih berdiri di bawah pohon, menghampiri
dan menjura penuh hormat.
"Terima
kasih atas bantuan sang wiku."
Wiku Jaladara
balas menghormat sambil menyembah depan dada, lalu berkata dengan halus,
“Sabhe satta
avera hontu, sadhu-sadhu-sadhu (Semoga semua mahluk hidup damai)!"
Orang
bertopeng itu tersenyum, menghela napas panjang dan berkata sebagai jawaban,
"Kalau
semua orang di dunia ini seperti anda, sang wiku yang bijaksana, kiranya
perdamaian akan menyelimuti jagad. Akan tetapi selama orang-orang macam orang
muda tadi masih berkeliaran di dunia, bagaimana kita dapat mengharapkan
perdamaian?"
Selanjutnya
orang bertopeng itu menjura lagi lalu pergi dari situ sambil mulutnya
berkemak-kemik membaca mentera dan doa, meninggalkan Wiku Jaladara yang juga
tiada hentinya berdoa sambil melanjutkan memetik daun dan bunga obat.
Setelah keluar
dari dalam hutan, orang bertopeng itu lalu melucuti topengnya yang merupakan
selembar getah kering pohon karet. Maka tampaklah kini wajah yang berwibawa
dari seorang pertapa yang rambutnya sudah putih semua, yang bukan lain adalah
Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo!.
Sang waktu
melewat dengan pesatnya atau merayap dengan lambatnya tanpa dipengaruhi oleh
apapun yang terjadi di dunia ini. Semua tunduk kepada waktu. Semua melapuk dan
rusak digerogoti waktu. Tiada kekuasaan di dunia dapat mempercepat atau
memperlambat jalannya waktu. Manusia hanya dapat menyumpahi kelambatannya kalau
sedang tergesa-gesa, atau menyesali kecepatannya kalau sudah tua.
Sepuluh tahun
lebih telah lewat sejak Pujo membawa lari Joko Wandiro dari tangan ibunya,
ketika Pujo menculik isteri dan putera Wisangjiwo ke Guha Siluman. Kini Joko
Wandiro sudah berusia dua belas tahun, seorang anak laki-laki yang berwajah
tampan bertubuh kuat dan pada wajahnya terbayang kekerasan hati, sungguhpun
kekerasan pada tarikan dagunya ini dilembutkan sinar matanya yang tajam dan
bibirnya yang sering tersenyum ramah. Joko Wandiro adalah seorang anak yang
periang, nakal jenaka. Seringkali ia bermain-main dengan anak-anak nelayan yang
kadang-kadang datang ke pantai tempat ia dan ayahnya tinggal, pantai yang sunyi
sekali jauh dari perkampungan nelayan. Apabila anak-anak nelayan itu
bermain-main di daerah sunyi ini, terdengar suara Joko Wandiro ikut
bersorak-sorak gembira. Akan tetapi apabila ia sedang berlatih dengan ayahnya,
tampaklah kesungguhan hatinya.
Pada suatu
pagi, Joko Wandiro telah berlatih dengan Pujo yang selama ini telah menjadi
"ayahnya". Dan memang sesungguhnyalah Pujo menyayangi anak ini
seperti anaknya sendiri, makin besar anak itu, makin besar pula rasa sayangnya sehingga
ia seakan-akan telah lupa bahwa anak itu adalah keturunan musuh besarnya. Lupa
bahwa ia membesarkan dan mendidik anak ini dengan tujuan menyiksa hati
Wisangjiwo, dan sengaja hendak mengadu anak ini dengan Wisangjiwo kelak. Kini
ia menganggap Joko Wandiro sebagai putera atau murid sendiri yang dididik
dengan tekun.
Di dekat muara
Kali Lorog, di sepanjang pantai Laut Selatan yang banyak teluknya, di sanalah
mereka berdua ini tinggal. Pada pagi hari itu, seperti biasa, Joko Wandiro
telah berdiri di atas batu karang yang menonjol di permukaan laut. Di depannya,
Pujo juga berdiri di atas batu karang lain yang jaraknya antara dua meter dari
batu karang pertama. Kemudian Pujo bergerak perlahan, menggerakkan kaki tangan
seperti orang menari, yang diikuti pula oleh Joko Wandiro. Kadang-kadang
terdengar teriakan Pujo yang mengiringi pukulan-pukulan tertentu, diturut pula
oleh Joko Wandiro dengan teriakan nyaring dan tinggi. Terus menerus mereka
berlatih sampai keringat membasahi seluruh tubuh Joko Wandiro, sampai matahari
naik tinggi dan sampai ombak air laut yang tadinya tenang itu mulai mengganas
dan menyerbu batu karang yang mereka jadikan tempat berlatih! Makin ganas
ombak, makin cepat pula gerakan Pujo dan Joko Wandiro. Ternyata hantaman ombak
ke lambung batu karang yang membuat air muncrat ke atas menyerang kedua orang
itu, dipergunakan oleh Pujo untuk latihan kegesitan karena mereka itu
menganggap seolah-olah percikan air itu merupakan pukulan dan serangan lawan!
Kalau lidah ombak yang memukul itu tak dapat dielakkan lagi, mereka menggunakan
kekuatan tubuh untuk melawannya, dan tubuh mereka seolah-olah batu karang,
kokoh kuat tidak bergeming oleh hantaman ombak memecah. Namun makin lama Joko
Wandiro makin menderita karena tubuhnya belumlah sekuat Pujo. Pujo melihat ini,
melihat betapa Joko Wandiro mulai terhuyung setiap kali lidah ombak datang
melecut. Ia tersenyum dan berkata nyaring mengatasi debur, suara Ombak,
"Cukup
anakku!"
Tubuh Pujo
melompat ke atas batu karang puteranya, lalu sekali sambar ia telah mengempit
pinggang Joko Wandiro, kemudian dibawanya tubuh anak itu meloncat ke batu
karang di pinggir. Mereka kini berjalan kaki sambil menghapus air laut dan
peluh dari muka dan leher, menuju ke pondok yang menjadi tempat tinggal mereka,
di bawah sekelompok pohon nyiur.
No comments:
Post a Comment