Baik Pujo maupun Joko Wandiro sama sekali tidak tahu bahwa gerakan mereka sejak pagi tadi diawasi terus oleh sepasang mata yang bersinar tajam, sepasang mata milik seorang kakek yang menyembunyikan diri di balik batu karang sambil mengintai. Kakek ini berambut putih, bukan lain adalah Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo!. Setelah Pujo dan Joko Wandiro lenyap memasuki pondok yang tampak dari jauh, kakek ini duduk termenung di atas batu karang. Sejak kemarin ia mengintai dan jelas bahwa puterinya, Kartikosari tidak berada di situ, tiada bersama Pujo. Bocah yang tangkas dan memiliki bakat luar biasa itu, siapakah? Putera Pujo dan Kartikosarikah? Ataukah bocah ini adalah cucu Adipati Joyowiseso yang kabarnya diculik Pujo? Banyak hal-hal aneh didengarnya selama ini. Mula-mula hal aneh didapatinya di pondoknya sendiri, ketika ia pulang ke Sungapan. Pondoknya, Bayuwismo, masih seperti biasa, akan tetapi enam orang cantriknya sudah tidak seperti biasa lagi, Mereka kini telah menjadi tuli semua! Memang seorang di antara mereka, Wistoro adalah seorang yang tuli dan gagu sejak dahulu, akan tetapi lima orang cantriknya kini menjadi tuli semua. Dan betapa heran dan penasaran hatinya ketika ia mendengar bahwa Jokowanengpati dan Cekel Aksomolo sebagai utusan Adipati Selopenangkep, Joyowiseso, membawa pasukan dan mencari-cari dia dan Pujo, juga Kartikosari Bagaimanakah ini? Apakah yang telah terjadi ? Setelah mendengar laporan cantrik-cantriknya yang menangis, Resi Bhargowo menarik napas panjang untuk menekan kemarahan hatinya. Ia menghibur mereka, lalu langsung ia mengajarkan Aji Panca Kartika kepada lima orang cantriknya yang telah menjadi tuli, dan menurunkan Aji Gelap Musti kepada cantrik Wistoro. Ilmu Panca Kartika adalah semacam ilmu silat yang dimainkan oleh lima orang, merupakan barisan yang kokoh kuat sehingga ketulian mereka dapat diganti dengan kerja sama dalam barisan sakti ini. Adapun cantrik Wistoro yang sejak kecilnya tuli gagu, tidaklah merasa rugi seperti kelima orang saudaranya, maka diberi Ilmu Gelap Musti. Setelah memesan mereka berenam agar berlatih dengan tekun sehingga kelak menjadi orang-orang yang tidak mudah menerima penghinaan orang lain. Resi Bhargowo lalu berangkat menyelidiki ke Kadipaten Selopenangkep. Mulailah kakek sakti ini tenggelam ke dalam lautan rahasia yang aneh-aneh, teka-teki yang membuat hatinya menjadi terganggu, penuh penasaran dan pertanyaan, dan selanjutnya membuat ia selalu melakukan perbuatan secara diam-diam dan bersembunyi.
Di Kadipaten
Selopenangkep yang ia selidiki secara diam-diam itu, ia mendapat dengar tentang
penyerbuan Pujo ke kadipaten, tentang usaha Pujo membunuh sang adipati,
kemudian betapa Pujo tertangkap dan dihukum perapat, namun malamnya dapat
melarikan diri, bahkan membawa lari atau menculik Listyokumolo isteri
Wisangjiwo serta puteranya yang baru berusia satu tahun!
Hebat berita
ini, membuat Resi Bhargowo makin gelisah hatinya, makin tak berani
memperlihatkan diri kepada orang lain. Mulailah kakek ini mencari-cari puteri
dan mantunya yang lenyap seperti ditelan bumi itu. Inilah pula sebabnya mengapa
ketika dalam usahanya mencari mereka itu ia berjumpa dengan Jokowanengpati di
hutan lereng Gunung Lawu, kakek ini segera menyembunyikan mukanya di balik
topeng getah karet! Makin terheran pula ketika tanpa disengaja ia berhasil
merampas patung kencana berisi pusaka Brojol Luwuk yang menjadi pusaka keramat
Mataram semenjak jaman dahulu! Pusaka Mataram lenyap dari keraton! Alamat tidak
baik! Keanehan demi keanehan dihadapi oleh kakek ini. Ia mendengar betapa
banyak adipati, di antaranya dan terutama sekali Adipati Joyowiseso di
Kadipaten Selopenangkep, mulai mengumpulkan orang-orang muda dan melatih mereka
sebagai prajurit-prajurit! Bahkan Adipati Joyowiseso mendatangkan orang-orang pandai
seperti Cekel Aksomolo dan sepanjang pendengarannya, pernah datang pula
orang-orang yang dianggap musuh Mataram seperti Ki Warok Gendroyono,
Krendoyakso kepala rampok Begelen dan banyak tokoh-tokoh hitam lagi. Malah
kabarnya Ni Durgogini dan Ni Nogogini juga sering datang ke kadipaten! Inilah
hebat. Tak salah lagi, tentu ada maksud-maksud jahat di Selopenangkep.
Maksud
memberontak! Mendapat kenyataan yang mengejutkan ini, Resi Bhargowo seketika
melupakan urusannya sendiri, dan menunda usahanya mencari puterinya. Ia lalu
berangkat ke Kahuripan (Mataram) untuk melaporkan tentang usaha pemberontakan
ini, juga sekalian bermaksud mengembalikan pusaka Mataram yang secara kebetulan
terjatuh ke dalam tangannya. Akan tetapi, sesampainya di kota raja, kembali ia
terpukul oleh kenyataan-kenyataan yang mengherankan dan mengejutkan. Ia
mendengar bahwa Sang Prabu Airlangga telah mengundurkan diri dari tahta
kerajaan dan hidup sebagai seorang pendeta, berjuluk Sang Resi Gentayu (hal ini
terjadi pada tahun 1.041). Semenjak pengunduran diri Sang Prabu Airlangga
inilah keadaan keraton Kahuripan menjadi medan persaingan dan perebutan
kekuasaan antara para pangeran, keturunan permaisuri pertama yang kini menjadi
pertapa pula berjuluk Sang Kili Suci, dan keturunan permaisuri ke dua Puteri
Sriwijaya.
Biarpun Ki
Patih Kanuruhan (Narotama) masih menjadi pembimbing dan penasehat, namun
pengaruhnya kurang kuat untuk memadamkan api persaingan kekuasaan ini. Bukan
hanya itu saja yang mengejutkan dan mengherankan hati Resi Bhargowo. Juga ia
mendapat kenyataan bahwa putera Adipati Joyowiseso, yaitu Wisangjiwo, oleh ki
patih malah diangkat menjadi seorang senopati muda! Benar-benar ia menjadi
penasaran sekali dan mencurigai ki patih yang dianggapnya kurang bijaksana atau
mungkin ada hubungan dengan mereka yang bermaksud memberontak!
Dengan itikad
baik Resi Bhargowo langsung mengunjungi istana kepatihan untuk menegur ki patih
dan melaporkan semua yang diketahuinya. Akan tetapi apa yang terjadi? Begitu
memasuki kepatihan, ia lalu ditangkap dengan tuduhan pemberontak dan pengacau
Kadipaten Selopenangkep, hendak membunuh seorang adipati. Adipati adalah
ponggawa raja, oleh karena itu menyerangnya berarti pemberontakan! Tanpa diberi
kesempatan membela diri Resi Bhargowo terus saja ditangkap. Timbulkan kemarahan
dan penasaran di hati pertapa yang biasanya tenang dan damai itu. Ia segera
mempergunakan kesaktiannya, melepaskan diri dari sergapan, mengamuk lalu
meninggalkan kota raja dengan hati murung.
Pusaka Mataram
tidak dikembalikan, dan mulai saat itulah Resi Bhargowo menjadi pemurung dan
pemarah. Hatinya yang tadinya tenang tenteram itu diombang-ambingkan kekecewaan
dan penasaran. Ia bertekad untuk menyimpan pusaka ampuh itu, tidak hendak
mengembalikannya kepada Mataram! Dan karena maklum bahwa semua orang pandai
tentu berlomba untuk mendapatkan pusaka itu, maka ia tidak mau mempergunakan
nama Resi Bhargowo lagi, namanya ia ubah menjadi Bhagawan Rukmoseto dan ia
menjelajahi hutan-hutan dan gunung, pasisir-pasisir dan teluk, melanjutkan
usahanya dahulu, mencari puteri dan mantunya. Demikianlah, setelah sepuluh
tahun lebih tak pernah mendengar tentang puteri dan mantunya, pada hari itu ia
dapat menemukan Pujo di muara Sungai Lorog di pantai Laut Selatan. Akan tetapi
oleh karena tidak tampak Kartikosari di tempat itu, ia tidak mau menemui Pujo,
bahkan lalu meninggalkan tempat itu untuk mencari puterinya, Kartikosari! Ia
dapat menduga bahwa tentu Kartikosari belum mati, seperti Pujo, karena kalau
hal ini terjadi, sudah tentu Pujo akan memberi laporan kepadanya di Sungapan.
Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, yang memisahkan Pujo dari Kartikosari,
dan bahwa kedua orang itu sengaja hendak menyembunyikan kejadian itu
daripadanya, sengaja tidak memberi tahu dan bahkan masing-masing pergi
mengasingkan diri!
Bahwasanya
Pujo menyerbu Selopenangkep, tentu ada sangkut-pautnya dengan perpisahan mereka
itu. Sementara itu Pujo yang sama sekali tidak pernah mimpi bahwa tadi ia
diintai oleh guru atau ayah mertuanya, di dalam pondok makan ubi bakar bersama
Joko Wandiro. Sejenak ia memandang anak yang makan dengan lahap itu. Anak yang
ganteng, berbakat, dan menyenangkan, pikirnya. Sayang, dia putera Wisangjiwo!
Teringat ini, tiba-tiba Pujo tersedak. Ubi bakar memang makanan yang seret.
Cepat-cepat ia menyambar kendi dan menuangkan air kendi ke dalam mulut untuk
mendorong ubi yang mencekik tenggorokan.
"Ada
apakah, ayah?" tanya Joko Wandiro, memandang heran kepada wajah ayahnya
yang menjadi merah dan pandang matanya berbeda dari biasanya. Pula, ayahnya
yang biasanya tenang sekali itu, mengapa pagi ini sampai tersedak ketika makan
ubi ? Pujo menatap wajah muridnya yang diaku sebagai puteranya, lalu menghela
napas panjang dan berkata,
"Wandiro,
masih ingatkah engkau akan nama musuh besar ayahmu?"
Joko Wandiro
mengangguk.
"Sampai
mati takkan kulupakan nama itu, ayah. Dia Raden Wisangjiwo yang telah membunuh
ibuku."
"Betul
sekali, anakku. Dia seorang raden, putera Adipati Selopenangkep."
"Apakah
dia sakti, ayah?" Joko Wandiro bertanya penuh perhatian.
"Dia
cukup sakti karena dia murid Ni Durgogini seorang manusia siluman yang
menguasai pegunungan sepanjang pantai Laut Selatan. Selain sakti, iapun sangat
curang dan licik, maka engkau harus selalu berhati-hati apabila kelak bertemu
dengannya, Wandiro. Dia pandai menggunakan segala macam akal dan tenung (ilmu
hitam)."
Keterangan ini
diberikan oleh Pujo dengan sejujurnya. Masih menyesal hatinya kalau teringat
peristiwa di dalam guha itu. Dalam pertandingan melawan Wisangjiwo, ia sudah
memperoleh kemenangan, akan tetapi ia kurang hati-hati dan tidak mengira bahwa
lawan yang sudah kalah itu amat curang sehingga ia lengah dan terkena pukulan
dahsyat dari belakang.
"Ayah
begini kuat dan sakti. Apakah ayah kalah olehnya?"
"Tidak,
Wandiro. Ayahmu tidak kalah oleh Wisangjiwo. Biar ada lima orang Wisangjiwo,
agaknya aku takkan undur selangkah!" jawab Pujo dengan suara gemas dan
penasaran.
"Kalau
begitu, mengapa ayah tidak lekas-lekas mencarinya dan membalaskan kematian
ibu?"
Sejenak Pujo
memandang wajah anak itu penuh selidik, kemudian ia merangkul dan mengusap-usap
kepalanya.
"Tidak
begitu mudah, anakku. Sudah kukatakan tadi selain sakti, Wisangjiwo amatlah
cerdik dan curang. Dia telah berhasil memperoleh kedudukan tinggi di kerajaan,
menjadi seorang senopati dan di kerajaan terdapat banyak sekali orang sakti.
Akan tetapi aku tidak takut. Aku terlambat sampai sekarang untuk membalasnya
adalah karena engkau, anakku."
"Karena
aku?"
"Ya,
benar. Dahulu engkau masih kecil, bagaimana aku tega meninggalkanmu untuk
mencari dan membalas musuh besar? Aku perlu memelihara dan mendidikmu. Nah,
sekaranglah tiba saatnya bagiku untuk pergi mencari musuh besar kita itu.
Engkau sudah besar, sudah boleh kutinggalkan sendiri......."
"Tidak,
ayah! Aku akan ikut! Mari kita pergi berdua mencari musuh, aku sama sekali
tidak takut."
Pujo
tersenyum. Tidak sia-sia ia mendidik anak ini sejak kecil. Selain tubuhnya kuat
bakatnya baik, juga nyalinya besar.
"Tidak
boleh, Wandiro. Pekerjaan ini amatlah berbahaya. Sudah kukatakan tadi,
Wisangjiwo tidak berbahaya ilmunya, melainkan berbahaya sekali kelicikannya.
Sekali ini ayahmu pergi mencarinya untuk mengadu nyawa. Dia atau aku yang mati.
Kalau dia yang mati dan aku selamat, aku akan kembali ke sini dalam waktu
seratus hari. Akan tetapi kalau dalam waktu seratus hari aku tidak pulang,
berarti akulah yang tewas....."
"Ayah!
Aku akan turut dan membantu ayah membunuh si laknat Wisangjiwo itu!"
Pujo
menggeleng kepala.
"Kepandaianmu
belum cukup, usiamu belum cukup, Kalau kau ikut kemudian kaupun tewas
bersamaku....."
"Tidak
apa, ayah. Aku tidak takut, biar mati asal bersama ayah dan untuk membela
ibu......."
"Ah, anak
baik, sikapmu ini baik sekali. Akan tetapi tidak tepat. Kalau aku gagal
membalas dan kita mati berdua, lalu siapa kelak yang akan membalaskan kematian
ibumu? Akulah yang berangkat sendiri, syukur kalau berhasil. Andaikata gagal
dan aku tewas, masih ada engkau yang kelak akan melanjutkah perjuangan kita ini.
Dengarlah baik-baik, Wandiro. Tiga hari lagi adalah hari Respati dan aku akan
berangkat pada hari itu mencari Wisangjiwo. Kau tinggal di sini atau kalau
kesepian boleh kau tinggal bersama para nelayan di sana, dan tunggu aku sampai
seratus hari. Kalau sampai seratus hari aku tidak pulang.... "
"Kau akan
pulang Kau takkan kalah, ayah!" potong Joko Wandiro penuh semangat,
matanya yang hitam itu berkilat-kilat.
"Kuharapkan
demikian. Akan tetapi kalau sampai seratus hari aku tidak pulang, kau carilah
kakek gurumu."
"Kakek
guru..... ? Dia guru ayah........?"
"Benar,
Wandiro. Kakek gurumu itu adalah Resi Bhargowo, seorang pertapa sakti
mandraguna yang bertempat tinggal di Bayuwismo, di Sungapan pantai Laut
Selatan. Kalau dari sini kau melakukan perjalanan terus menyusuri sepanjang
pantai menuju ke barat, akhirnya kau akan tiba di Sungapan itu. Nah, setelah
bertemu eyangmu Resi Bhargowo, kaukatakan bahwa kau anak dan muridku,
selanjutnya mohon petunjuknya dan ceritakan bahwa kau bercita-cita membalas
dendam kepada Wisangjiwo yang telah membunuh ibumu dan membunuh ayahmu
pula."
"Ayah......."
Joko Wandiro kaget.
Pujo
tersenyum.
"Anak
bodoh. Kalau dalam seratus hari aku tidak pulang, bukankah itu berarti aku
telah kalah dan tewas?"
No comments:
Post a Comment