Badai Laut Selatan ; Bagian 042


Namun ayahnya yang menggemblengnya sejak kecil telah melatih jari-jari tangan anak ini sehingga jari-jari tangannya sudah dapat ia pergunakan dan ia isi dengan pengerahan tenaga. Biarpun belum mempelajari Aji Pethit Nogo, Joko Wandiro sejak beberapa tahun telah diberi pelajaran tentang letak-letak jalan darah dan otot dalam tubuh sehingga ia tahu bagian mana yang lemah. Begitu tubuhnya miring dan kedua lengan tangan si juling hanya beberapa senti meter menyambar di samping kepala dan pundak, cepat tangan anak ini bergerak pula. Mula-mula jari telunjuk tangan kanannya meluncur dan menusuk jalan darah di pergelangan tangan kiri si juling yang menyambar lewat di atas kepalanya.
"Athooooww!"
Si juling berteriak kesakitan karena merasa betapa lengan kirinya itu seakan-akan lumpuh dan sakit sekali. Akan tetapi ia tetap saja melanjutkan cengkeraman tangan kanannya ke arah pundak Joko Wandiro. Akan tetapi kembali tangan kiri Joko Wandiro berkelebat, telunjuk dan jari tengah tangan kirinya sudah menusuk ke arah belakang siku lawan.
"Assshhhh.......!" Si juling mendesis karena merasa seakan-akan otot lengan kanannya putus! Ia melangkah mundur, menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir pegal linu seperti tingkah Dursosono dalam panggung wayang orang!

Empat orang perampok lain segera maju dan menyerang bertubi-tubi. Namun hal ini sudah diperhitungkan Joko Wandiro sehingga ia cepat menyelinap di antara hujan kepalan dan tamparan itu, menyelinap di antara tangan-tangan yang kotor dan besar, sebesar kepalanya. Begitu cepat gerakan anak ini sehingga serangan-serangan itu sama sekali tidak pernah dapat mengenainya, paling hebat hanya menyerempet saja. Iapun berusaha membalas dan beberapa kali kepalan tangannya yang kecil bertemu lambung dan perut yang gendut lunak. Namun para perampok itu adalah orang-orang yang tebal kulitnya. Apakah artinya pukulan dan tendangan kaki Joko Wandiro yang kecil? Mereka mendesak lagi sambil memaki-maki seperti tingkah laku lima ekor kucing kaku mengejarngejar seekor tikus yang gesit. Akhirnya Joko Wandiro tertangkap juga ketika dari belakangnya sebuah lengan yang kurus kering menyambar. Tahu-tahu tengkuknya telah ditampar jari-jari kecil kering, akan tetapi mengandung tenaga mujijat sehingga anak ini merasa nanar dan roboh terguling. Si juling segera menubruk dan memeluknya kuat-kuat. Demikian kuatnya si juling ini menyikap sehingga Joko Wandiro merasa napasnya sesak.
"Eh....... eh......., mengapa tidak kaubunuh saja aku? Aha, kau takut kepada kakek tua renta itu, bukan? Ha-ha-ha, lucunya. Orang-orang tinggi besar dan kuat seperti kalian berlima ini masa takut kepada seorang kakek yang sudah mau mampus?"
Si juling marah sekali dan ingin ia sekali gencet membunuh anak ini, juga empat orang perampok lain mendongkol sekali. Hanya karena ada Cekel Aksomolo maka mereka tidak berani membunuh anak ini, sekarang diejek oleh Joko Wandiro tentu saja mereka diam-diam mendongkol pula kepada kakek itu, akan tetapi mereka hanya berani memandang dengan mata mereka yang besar-besar dan melotot.
"Huhh-huh-huh, bocah setan, bocah kurang ajar, kau tidak tahu siapa eyangmu ini. Siapakah yang berani main-main dengan aku? Huuh-huh-huh! Hayo mundur kalian! Dan cari tua bangkai pelo yang melarikan diri tadi, tangkap dia dan seret ke sini!"
Lima orang tinggi besar itu mengundurkan diri dan lenyap di antara pohon dan gerumbul dalam usaha mereka mencari jejak Ki Tejoranu. Sementara itu, melihat lima orang tinggi besar pergi dan ia hanya berhadapan dengan kakek tua renta, Joko Wandiro lalu berkata,
"Akupun mau pergi." Maka larilah ia.
"Eeittt....... eittt....... nanti dulu, cah bagus. Kau menggelinding ke sinilah!" Tangan Cekel Aksomolo digerakkan dan..... tubuh Joko Wandiro terguling roboh lalu bergulingan mendekatnya kembali!
Anak itu hanya merasa seakan-akan tubuhnya dirobohkan dan ditiup angin yang kuat sekali. Ketika ia meloncat berdiri, ia telah berada di depan kakek itu kembali yang telah memegang lengannya dengan jari-jari tangan kurus bengkok-bengkok tinggal kulit membungkus tulang. Diam-diam anak ini bergidik ngeri dan maklumlah ia bahwa kakek ini amat sakti, bahkan yang menjatuhkannya dalam pengeroyokan tadipun kakek inilah. Akan tetapi ia tidak memperlihatkan muka takut, berdiri tegak dan memandang kakek itu dengan sepasang matanya yang hitam tajam bersinar-sinar.

Biarpun hatinya benci sekali kepada anak ini yang pernah membikin malu kepadanya, namun diam-diam Cekel Aksomolo menjadi kagum, bocah pilihan, pikirnya dan hatinya girang sekali. Darah anak ini tentu hebat, dan merupakan obat yang amat kuat bagi seorang kakek seperti dia. Ia tahu bahwa sekutunya, Ki Krendoyakso, meyakinkan ilmu yang amat hebat dan untuk itu Ki Krendoyakso memilih bayi-bayi yang baik dan....... memakan daging minum darahnya!
Anak laki-laki yang ditawannya ini amat baik dan sebagai seorang ahli Cekel Aksomolo dapat melihat bahwa kalau anak ini mendapat didikan ilmu, kelak tentu akan menjadi seorang gemblengan yang luar biasa dan sakti. Oleh karena itu, tulang sumsum dan darah anak ini tentu merupakan penguat yang amat berguna bagi tubuhnya yang sudah mulai lapuk karena usia tua.
"Bocah bagus, siapa namamu?" Cekel Aksomolo mengelus-elus dagu dan pipi Joko Wandiro, kelihatannya menyayang padahal ia menahan air liurnya.
"Namaku Joko Wandiro!" jawab anak itu dengan suara tenang dan berani.
Seketika Cekel Aksomolo melongo, matanya terbelalak dan biji matanya bergerak-gerak ke kanan kiri membayangkan ketololan, mulutnya ternganga memperlihatkan gusi kebiruan yang ompong. Sampai lama ia ketap-ketip (terkesima berkedip-kedip), baru ia dapat berseru,
"Aduh-duh-duh-duhhhh..... siapa sangka....... ?? Kau kiranya Joko Wandiro? Uhuh - huh - huh, bertahun-tahun dicari datang-datang mengencingi orang yang ikut mencari-carimu. Aduh, raden, kau adalah putera Kadipeten Selopenangkep. Kau cucu Adipati Joyowiseso.....huh-huh-huh!"
"Tidak........! Kau melantur! Aku bukan anak adipati! Lepaskan aku......"
"Uuuh-huh-huh, kau memang diculik orang sejak kecil, raden. Kau putera Raden Wisangjiwo...... kau......"
"Bohong! Kakek tua bangka suka bohong!" Tiba-tiba Joko Wandiro merengngutkan lengannya terlepas dari pegangan kakek itu dan tangan itu bergerak cepat.
"PlakkkM"
Tepat sekali pipi kiri Cekel Aksomolo kena ditampar oleh Joko Wandiro, kemudian anak itu membalikkan tubuh dan melarikan diri. Namun sekali lagi ia terguling roboh oleh gerak tangan Cekel Aksomolo yang meniupkan angin pukulan hebat.
"Wuh-huh-huh, sial dangkalan aku! Tak jadi minum darah bersih dan menghisap sumsum murni, malah mendapat tamparan. Uuuh, anak baik, mau tidak-mau kau harus ikut dengan eyangmu, menghadap kakekmu sang adipati! Huuhhuh, setidaknya aku berjasa besar mendapatkan kembali Joko Wandiro.......!"

Kakek itu menyambar tubuh Joko Wandiro yang masih rebah, lalu berjalan amat cepat seperti terbang meninggalkan tempat itu sambil mengempit tubuh Joko Wandiro yang tak dapat meronta sama sekali. Berhari-hari Cekel Aksomolo melakukan perjalanan menuju ke Kadipaten Selopenangkep, hanya berhenti untuk mengaso di waktu malam dan makan. Joko Wandiro mulai merasa gelisah, sungguhpun ia tidak mau memperlihatkannya sama sekali di depan kakek yang bernama Cekel Aksomolo itu. Beberapa kali di waktu kakek itu tidur mendengkur, ia berusaha melarikan diri. Namun, belum jauh ia lari, ia terjungkal dan bergulingan kembali ke dekat kakek itu yang tertawa-tawa dan selalu bersombong,
"Tak mungkin kau dapat melarikan diri kalau Cekel Aksomolo yang sakti mandraguna tidak menghendakinya, raden. Kau menurut sajalah kuhaturkan ke hadapan eyangmu adipati dan kelak aku akan suka sekali menjadi gurumu, hehheh-heh!"
Semenjak kecil Joko Wandiro belajar ilmu dari ayahnya, oleh karena itu ia amat suka akan ilmu kesaktian. Ia tahu bahwa kakek tua yang buruk rupa ini amat sakti dan ia tentu akan senang sekali menjadi muridnya kalau saja si kakek tidak begini jahat. Kakek ini jahat, dan tukang pembohong, atau mungkin juga gila mengatakan bahwa dia putera Wisangjiwo! Mana ada yang lebih gila dari ini? Justeru Wisangjiwo musuh besarnya, telah menghina ibunya, Wisangjiwo yang membuat dia tidak beribu dan tidak pernah melihat bagaimana wajah ibunya. Wisangjiwo musuh yang sekali waktu harus ia bunuh. Akan tetapi kakek ini mengatakan dia putera Wisangjiwo dan cucu adipati Selopenangkep? Gila! Betapapun saktinya, ia tidak sudi menjadi murid Cekel Aksomolo dan selalu berusaha untuk melarikan diri.
Tiga hari kemudian Cekel Aksomolo mengajaknya beristirahat di dalam sebuah hutan jati. Kadipaten Selopenangkep tidak jauh lagi. Dengan ilmu lari cepatnya yang hebat, besok pagi akan sampai. Saking lelahnya Cekel Aksomolo melepaskan Joko Wandiro, lalu bersandar pohon dan sebentar kemudian bunyi dengkurnya keluar masuk bibirnya yang kering.

Joko Wandiro juga merasa amat lelah, dan lapar. Sejak kemarin ia tidak mau makan karena makanan kakek itu jorok (kotor) sekali, kadang-kadang kalau membunuh binatang lalu dimakan mentah-mentah begitu saja! Kini melihat kakek itu tidur mendengkur, ia mencari akal untuk dapat melepaskan diri. Tak pernah ia menyia-nyiakan kesempatan untuk lari. Akan tetapi sudah beberapa kali, biarpun kakek itu kelihatannya tidur nyenyak, apabila ia lari, selalu ia tertangkap kembali oleh kakek yang kelihatan pulas itu. Maka kali ini ia tidak mau lari lagi, dan memutar otak mencari akal.
"Kalau aku lari, dia tentu tahu seperti biasa," pikirnya.
"Kalau bisa kubunuh dia....... tapi dia sakti, mana mungkin kubunuh dia.......?" Joko Wandiro duduk bertopang dagu, matanya kadang-kadang melirik kakek yang tidur itu penuh perhatian, mencari akal.
Kemudian ia mengenangkan betapa kakek sakti ini dalam pertandingan melawan kakek sakti yang disembah ayahnya dan disebut Rakyana Patih oleh ayahnya. Hebat pula senjata tasbih yang mengeluarkan bunyi mujijat. Joko Wandiro melirik tasbih itu yang selalu tergantung pada lengan kiri Cekel Aksomolo. Apakah di tasbih itu terletak kesaktiannya? Teringat ia betapa bunyi tasbih itu membuatnya pening, menggigil kedinginan sehingga ia terkencing-kencing. Teringat pula ia betapa karena tak tertahankan lagi, ia kencing dari atas pohon dan sengaja ia mengencingi kakek ini. Joko Wandiro tersenyum geli, akan tetapi segera ia teringat betapa setelah tersiram kencingnya, kakek ini terhuyung-huyung, terbatuk-batuk, kemudian merangkak keluar dari medan pertandingan seperti orang yang kehabisan tenaga. Joko Wandiro kini berdiri, matanya menatap tajam kepada kakek yang masih mengorok itu. Itukah agaknya pengapesannya? Air kencing?. Joko Wandiro seorang anak yang cerdik dan berani. Ia toh sudah berada dalam tawanan kakek ini. Apapun akan jadinya terserah di tangan kakek ini. Mengapa tidak berusaha untuk keselamatannya sendiri? Menggantungkan nasib, menyerah kepada kakek atau kepada lawan, bukanlah laku seorang gagah. Dengan hati-hati Joko Wandiro mengingsut-ingsut perlahan, menggerakkan pantatnya memutari kakek itu sampai akhirnya ia tiba di belakang batang pohon yang disandari Cekel Aksomolo. Kemudian ia bangkit berdiri dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, memaksa diri mendorong keinginan kencing, lalu membuka celananya membuang air kecil, mengarahkan air kencingnya menyiram kepala Cekel Aksomolo yang masih mendengkur!
"Wajoowwww! Bocah setan! Cindil anak tikus!"
Cekel Aksomolo melompat cepat sehingga tidak terkena air kencing. Saking kagetnya Joko Wandiro seketika berhenti kencingnya dan menutup kembali celananya, berdiri memandang kakek. itu dengan mata terbelalak kaget. Cekel Aksomolo menangkap pergelangan tangannya, menguncang-guncang tubuh anak itu dan bertanya,
"Siapa memberitahumu akan rahasiaku? Siapa? Hayo bilang, siapa yang membocorkan rahasiaku!"
"Rahasia pengapesanmu? Semua orangpun tahu! Yang membocorkan adalah ayahku, kau mau apa?” Joko Wandiro yang sudah nekat karena tidak melihat jalan lain untuk membebaskan diri, kini sengaja menggunakan nama ayahnya untuk menakut-nakuti kakek menyebabalkan ini.
Cekel Aksomolo berjingkrak-jingkrak marah.
"Apa? Ayahmu? Raden Wisangjiwo mana tahu akan rahasiaku?"
"Raden Wisangjiwo boleh mampus di neraka jahanaml" Joko Wandiro menyumpah marah.
"Ayahku bernama Pujo, seorang gagah perkasa, jagoan, sakti mandraguna yang bertapa di muara Sungai Lorog! "
Kini Cekel Aksomolo yang melengak heran sampai mulutnya terbuka lebar-lebar. Saking kaget dan herannya mendengar ini, ia sampai lupa akan kemarahannya. Baru sesaat ia berkata,
"Uuuhh-huh, demi setan wewe tetekan! Kau anak Pujo? Laeeee , laeee, bagaimana ini ? Kau putera Wisangjiwo dan Pujo....... si keparat itu, dialah orangnya yang menculikmu dari Kadipaten Selopenangkep!"
"Bohong! Bohong.......! Kau kakek busuk, kakek jahat! Pujo adalah ayahku! Wisangjiwo boleh mampus, Kadipaten Selopenangkep boleh hancur-lebur, siapa peduli? Ayahku bernama Pujo, seorang ksatria sejati!"

<<< Bagian 041                                                                                    Bagian 043 >>>

No comments:

Post a Comment