Namun ayahnya yang menggemblengnya sejak kecil telah melatih jari-jari tangan anak ini sehingga jari-jari tangannya sudah dapat ia pergunakan dan ia isi dengan pengerahan tenaga. Biarpun belum mempelajari Aji Pethit Nogo, Joko Wandiro sejak beberapa tahun telah diberi pelajaran tentang letak-letak jalan darah dan otot dalam tubuh sehingga ia tahu bagian mana yang lemah. Begitu tubuhnya miring dan kedua lengan tangan si juling hanya beberapa senti meter menyambar di samping kepala dan pundak, cepat tangan anak ini bergerak pula. Mula-mula jari telunjuk tangan kanannya meluncur dan menusuk jalan darah di pergelangan tangan kiri si juling yang menyambar lewat di atas kepalanya.
"Athooooww!"
Si juling
berteriak kesakitan karena merasa betapa lengan kirinya itu seakan-akan lumpuh
dan sakit sekali. Akan tetapi ia tetap saja melanjutkan cengkeraman tangan
kanannya ke arah pundak Joko Wandiro. Akan tetapi kembali tangan kiri Joko
Wandiro berkelebat, telunjuk dan jari tengah tangan kirinya sudah menusuk ke
arah belakang siku lawan.
"Assshhhh.......!"
Si juling mendesis karena merasa seakan-akan otot lengan kanannya putus! Ia
melangkah mundur, menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir pegal linu
seperti tingkah Dursosono dalam panggung wayang orang!
Empat orang
perampok lain segera maju dan menyerang bertubi-tubi. Namun hal ini sudah
diperhitungkan Joko Wandiro sehingga ia cepat menyelinap di antara hujan
kepalan dan tamparan itu, menyelinap di antara tangan-tangan yang kotor dan
besar, sebesar kepalanya. Begitu cepat gerakan anak ini sehingga
serangan-serangan itu sama sekali tidak pernah dapat mengenainya, paling hebat
hanya menyerempet saja. Iapun berusaha membalas dan beberapa kali kepalan
tangannya yang kecil bertemu lambung dan perut yang gendut lunak. Namun para
perampok itu adalah orang-orang yang tebal kulitnya. Apakah artinya pukulan dan
tendangan kaki Joko Wandiro yang kecil? Mereka mendesak lagi sambil memaki-maki
seperti tingkah laku lima ekor kucing kaku mengejarngejar seekor tikus yang
gesit. Akhirnya Joko Wandiro tertangkap juga ketika dari belakangnya sebuah
lengan yang kurus kering menyambar. Tahu-tahu tengkuknya telah ditampar
jari-jari kecil kering, akan tetapi mengandung tenaga mujijat sehingga anak ini
merasa nanar dan roboh terguling. Si juling segera menubruk dan memeluknya
kuat-kuat. Demikian kuatnya si juling ini menyikap sehingga Joko Wandiro merasa
napasnya sesak.
"Eh.......
eh......., mengapa tidak kaubunuh saja aku? Aha, kau takut kepada kakek tua
renta itu, bukan? Ha-ha-ha, lucunya. Orang-orang tinggi besar dan kuat seperti
kalian berlima ini masa takut kepada seorang kakek yang sudah mau mampus?"
Si juling
marah sekali dan ingin ia sekali gencet membunuh anak ini, juga empat orang
perampok lain mendongkol sekali. Hanya karena ada Cekel Aksomolo maka mereka
tidak berani membunuh anak ini, sekarang diejek oleh Joko Wandiro tentu saja
mereka diam-diam mendongkol pula kepada kakek itu, akan tetapi mereka hanya
berani memandang dengan mata mereka yang besar-besar dan melotot.
"Huhh-huh-huh,
bocah setan, bocah kurang ajar, kau tidak tahu siapa eyangmu ini. Siapakah yang
berani main-main dengan aku? Huuh-huh-huh! Hayo mundur kalian! Dan cari tua
bangkai pelo yang melarikan diri tadi, tangkap dia dan seret ke sini!"
Lima orang
tinggi besar itu mengundurkan diri dan lenyap di antara pohon dan gerumbul
dalam usaha mereka mencari jejak Ki Tejoranu. Sementara itu, melihat lima orang
tinggi besar pergi dan ia hanya berhadapan dengan kakek tua renta, Joko Wandiro
lalu berkata,
"Akupun
mau pergi." Maka larilah ia.
"Eeittt.......
eittt....... nanti dulu, cah bagus. Kau menggelinding ke sinilah!" Tangan
Cekel Aksomolo digerakkan dan..... tubuh Joko Wandiro terguling roboh lalu
bergulingan mendekatnya kembali!
Anak itu hanya
merasa seakan-akan tubuhnya dirobohkan dan ditiup angin yang kuat sekali.
Ketika ia meloncat berdiri, ia telah berada di depan kakek itu kembali yang
telah memegang lengannya dengan jari-jari tangan kurus bengkok-bengkok tinggal
kulit membungkus tulang. Diam-diam anak ini bergidik ngeri dan maklumlah ia
bahwa kakek ini amat sakti, bahkan yang menjatuhkannya dalam pengeroyokan
tadipun kakek inilah. Akan tetapi ia tidak memperlihatkan muka takut, berdiri
tegak dan memandang kakek itu dengan sepasang matanya yang hitam tajam
bersinar-sinar.
Biarpun
hatinya benci sekali kepada anak ini yang pernah membikin malu kepadanya, namun
diam-diam Cekel Aksomolo menjadi kagum, bocah pilihan, pikirnya dan hatinya
girang sekali. Darah anak ini tentu hebat, dan merupakan obat yang amat kuat
bagi seorang kakek seperti dia. Ia tahu bahwa sekutunya, Ki Krendoyakso,
meyakinkan ilmu yang amat hebat dan untuk itu Ki Krendoyakso memilih bayi-bayi
yang baik dan....... memakan daging minum darahnya!
Anak laki-laki
yang ditawannya ini amat baik dan sebagai seorang ahli Cekel Aksomolo dapat
melihat bahwa kalau anak ini mendapat didikan ilmu, kelak tentu akan menjadi
seorang gemblengan yang luar biasa dan sakti. Oleh karena itu, tulang sumsum
dan darah anak ini tentu merupakan penguat yang amat berguna bagi tubuhnya yang
sudah mulai lapuk karena usia tua.
"Bocah
bagus, siapa namamu?" Cekel Aksomolo mengelus-elus dagu dan pipi Joko
Wandiro, kelihatannya menyayang padahal ia menahan air liurnya.
"Namaku
Joko Wandiro!" jawab anak itu dengan suara tenang dan berani.
Seketika Cekel
Aksomolo melongo, matanya terbelalak dan biji matanya bergerak-gerak ke kanan
kiri membayangkan ketololan, mulutnya ternganga memperlihatkan gusi kebiruan
yang ompong. Sampai lama ia ketap-ketip (terkesima berkedip-kedip), baru ia
dapat berseru,
"Aduh-duh-duh-duhhhh.....
siapa sangka....... ?? Kau kiranya Joko Wandiro? Uhuh - huh - huh,
bertahun-tahun dicari datang-datang mengencingi orang yang ikut mencari-carimu.
Aduh, raden, kau adalah putera Kadipeten Selopenangkep. Kau cucu Adipati
Joyowiseso.....huh-huh-huh!"
"Tidak........!
Kau melantur! Aku bukan anak adipati! Lepaskan aku......"
"Uuuh-huh-huh,
kau memang diculik orang sejak kecil, raden. Kau putera Raden Wisangjiwo......
kau......"
"Bohong!
Kakek tua bangka suka bohong!" Tiba-tiba Joko Wandiro merengngutkan
lengannya terlepas dari pegangan kakek itu dan tangan itu bergerak cepat.
"PlakkkM"
Tepat sekali
pipi kiri Cekel Aksomolo kena ditampar oleh Joko Wandiro, kemudian anak itu
membalikkan tubuh dan melarikan diri. Namun sekali lagi ia terguling roboh oleh
gerak tangan Cekel Aksomolo yang meniupkan angin pukulan hebat.
"Wuh-huh-huh,
sial dangkalan aku! Tak jadi minum darah bersih dan menghisap sumsum murni,
malah mendapat tamparan. Uuuh, anak baik, mau tidak-mau kau harus ikut dengan
eyangmu, menghadap kakekmu sang adipati! Huuhhuh, setidaknya aku berjasa besar
mendapatkan kembali Joko Wandiro.......!"
Kakek itu
menyambar tubuh Joko Wandiro yang masih rebah, lalu berjalan amat cepat seperti
terbang meninggalkan tempat itu sambil mengempit tubuh Joko Wandiro yang tak
dapat meronta sama sekali. Berhari-hari Cekel Aksomolo melakukan perjalanan
menuju ke Kadipaten Selopenangkep, hanya berhenti untuk mengaso di waktu malam
dan makan. Joko Wandiro mulai merasa gelisah, sungguhpun ia tidak mau
memperlihatkannya sama sekali di depan kakek yang bernama Cekel Aksomolo itu.
Beberapa kali di waktu kakek itu tidur mendengkur, ia berusaha melarikan diri.
Namun, belum jauh ia lari, ia terjungkal dan bergulingan kembali ke dekat kakek
itu yang tertawa-tawa dan selalu bersombong,
"Tak
mungkin kau dapat melarikan diri kalau Cekel Aksomolo yang sakti mandraguna
tidak menghendakinya, raden. Kau menurut sajalah kuhaturkan ke hadapan eyangmu
adipati dan kelak aku akan suka sekali menjadi gurumu, hehheh-heh!"
Semenjak kecil
Joko Wandiro belajar ilmu dari ayahnya, oleh karena itu ia amat suka akan ilmu
kesaktian. Ia tahu bahwa kakek tua yang buruk rupa ini amat sakti dan ia tentu
akan senang sekali menjadi muridnya kalau saja si kakek tidak begini jahat.
Kakek ini jahat, dan tukang pembohong, atau mungkin juga gila mengatakan bahwa
dia putera Wisangjiwo! Mana ada yang lebih gila dari ini? Justeru Wisangjiwo
musuh besarnya, telah menghina ibunya, Wisangjiwo yang membuat dia tidak beribu
dan tidak pernah melihat bagaimana wajah ibunya. Wisangjiwo musuh yang sekali
waktu harus ia bunuh. Akan tetapi kakek ini mengatakan dia putera Wisangjiwo
dan cucu adipati Selopenangkep? Gila! Betapapun saktinya, ia tidak sudi menjadi
murid Cekel Aksomolo dan selalu berusaha untuk melarikan diri.
Tiga hari
kemudian Cekel Aksomolo mengajaknya beristirahat di dalam sebuah hutan jati.
Kadipaten Selopenangkep tidak jauh lagi. Dengan ilmu lari cepatnya yang hebat,
besok pagi akan sampai. Saking lelahnya Cekel Aksomolo melepaskan Joko Wandiro,
lalu bersandar pohon dan sebentar kemudian bunyi dengkurnya keluar masuk
bibirnya yang kering.
Joko Wandiro
juga merasa amat lelah, dan lapar. Sejak kemarin ia tidak mau makan karena
makanan kakek itu jorok (kotor) sekali, kadang-kadang kalau membunuh binatang
lalu dimakan mentah-mentah begitu saja! Kini melihat kakek itu tidur
mendengkur, ia mencari akal untuk dapat melepaskan diri. Tak pernah ia
menyia-nyiakan kesempatan untuk lari. Akan tetapi sudah beberapa kali, biarpun
kakek itu kelihatannya tidur nyenyak, apabila ia lari, selalu ia tertangkap
kembali oleh kakek yang kelihatan pulas itu. Maka kali ini ia tidak mau lari
lagi, dan memutar otak mencari akal.
"Kalau
aku lari, dia tentu tahu seperti biasa," pikirnya.
"Kalau
bisa kubunuh dia....... tapi dia sakti, mana mungkin kubunuh dia.......?"
Joko Wandiro duduk bertopang dagu, matanya kadang-kadang melirik kakek yang
tidur itu penuh perhatian, mencari akal.
Kemudian ia
mengenangkan betapa kakek sakti ini dalam pertandingan melawan kakek sakti yang
disembah ayahnya dan disebut Rakyana Patih oleh ayahnya. Hebat pula senjata
tasbih yang mengeluarkan bunyi mujijat. Joko Wandiro melirik tasbih itu yang
selalu tergantung pada lengan kiri Cekel Aksomolo. Apakah di tasbih itu
terletak kesaktiannya? Teringat ia betapa bunyi tasbih itu membuatnya pening,
menggigil kedinginan sehingga ia terkencing-kencing. Teringat pula ia betapa
karena tak tertahankan lagi, ia kencing dari atas pohon dan sengaja ia
mengencingi kakek ini. Joko Wandiro tersenyum geli, akan tetapi segera ia
teringat betapa setelah tersiram kencingnya, kakek ini terhuyung-huyung,
terbatuk-batuk, kemudian merangkak keluar dari medan pertandingan seperti orang
yang kehabisan tenaga. Joko Wandiro kini berdiri, matanya menatap tajam kepada
kakek yang masih mengorok itu. Itukah agaknya pengapesannya? Air kencing?. Joko
Wandiro seorang anak yang cerdik dan berani. Ia toh sudah berada dalam tawanan
kakek ini. Apapun akan jadinya terserah di tangan kakek ini. Mengapa tidak berusaha
untuk keselamatannya sendiri? Menggantungkan nasib, menyerah kepada kakek atau
kepada lawan, bukanlah laku seorang gagah. Dengan hati-hati Joko Wandiro
mengingsut-ingsut perlahan, menggerakkan pantatnya memutari kakek itu sampai
akhirnya ia tiba di belakang batang pohon yang disandari Cekel Aksomolo.
Kemudian ia bangkit berdiri dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, memaksa
diri mendorong keinginan kencing, lalu membuka celananya membuang air kecil,
mengarahkan air kencingnya menyiram kepala Cekel Aksomolo yang masih
mendengkur!
"Wajoowwww!
Bocah setan! Cindil anak tikus!"
Cekel Aksomolo
melompat cepat sehingga tidak terkena air kencing. Saking kagetnya Joko Wandiro
seketika berhenti kencingnya dan menutup kembali celananya, berdiri memandang
kakek. itu dengan mata terbelalak kaget. Cekel Aksomolo menangkap pergelangan
tangannya, menguncang-guncang tubuh anak itu dan bertanya,
"Siapa
memberitahumu akan rahasiaku? Siapa? Hayo bilang, siapa yang membocorkan
rahasiaku!"
"Rahasia
pengapesanmu? Semua orangpun tahu! Yang membocorkan adalah ayahku, kau mau
apa?” Joko Wandiro yang sudah nekat karena tidak melihat jalan lain untuk
membebaskan diri, kini sengaja menggunakan nama ayahnya untuk menakut-nakuti
kakek menyebabalkan ini.
Cekel Aksomolo
berjingkrak-jingkrak marah.
"Apa?
Ayahmu? Raden Wisangjiwo mana tahu akan rahasiaku?"
"Raden
Wisangjiwo boleh mampus di neraka jahanaml" Joko Wandiro menyumpah marah.
"Ayahku
bernama Pujo, seorang gagah perkasa, jagoan, sakti mandraguna yang bertapa di
muara Sungai Lorog! "
Kini Cekel
Aksomolo yang melengak heran sampai mulutnya terbuka lebar-lebar. Saking kaget
dan herannya mendengar ini, ia sampai lupa akan kemarahannya. Baru sesaat ia
berkata,
"Uuuhh-huh,
demi setan wewe tetekan! Kau anak Pujo? Laeeee , laeee, bagaimana ini ? Kau
putera Wisangjiwo dan Pujo....... si keparat itu, dialah orangnya yang
menculikmu dari Kadipaten Selopenangkep!"
"Bohong!
Bohong.......! Kau kakek busuk, kakek jahat! Pujo adalah ayahku! Wisangjiwo
boleh mampus, Kadipaten Selopenangkep boleh hancur-lebur, siapa peduli? Ayahku
bernama Pujo, seorang ksatria sejati!"
No comments:
Post a Comment