Badai Laut Selatan ; Bagian 041


"Sesungguhnya tidak salah berita itu, gusti. Hamba telah menyerbu Kadipaten Selopenangkep dan mengamuk untuk membalas dendam kepada Raden Wisangjiwo yang telah menghancurkan kebahagiaan hidup hamba. Semata-mata karena permusuhan pribadi hamba dengan Wisangjiwo sajalah yang mendorong hamba membikin huru-hara di Kadipaten Selopenangkep. Bukan sekali-kali dengan maksud memberontak kepada Mataram! "
"Hemm....... hemm......, aneh. Hal ini masih memerlukan bukti dan penyelidikan yang lebih mendalam. Apakah paman Resi Bhargowo berniat memberontak atau tidak, sukar dikatakan pada saat ini. Akan tetapi agar lebih mudah aku melakukan penyelidikan, permusuhan pribadi apakah yang terjadi antara engkau dan Wisangjiwo sehingga engkau menyerbu Kadipaten Selopenangkep?"
Pujo menarik napas panjang. Peristiwa itu telah lama berlalu telah terpendam sebagai rahasia hidupnya. Akan tetapi kini menyangkut urusan yang lebih gawat, disangka dia memberontak. Pula, ki patih ini terkenal sebagai seorang bijaksana dan sakti mandraguna, apa salahnya menceritakan peristiwa itu agar mendapat pengadilan? Sekali lagi ia menarik napas menguatkan batinnya lalu berkata,
"Sudah lama terjadinya, gusti patih. Sepuluh tahun lebih yang lalu, hamba bersama isteri hamba sedang bertapa dalam Guha Siluman. Malam hari itu muncullah Wisangjiwo di guha dan agaknya ia tertarik kepada isteri hamba, lalu bersikap kurang ajar. Kami lalu berkelahi, akan tetapi Wisangjiwo mempergunakan kecurangan dan hamba terpukul pingsan. Dalam keadaan seperti itu, Wisangjiwo lalu....... lalu......." Pujo tak kuasa melanjutkan ceritanya.
"Hemmm......." Narotama meraba jenggotnya dan mengangguk-angguk, keningnya berkerut, ia dapat menduga apa yang terjadi selanjutnya.
"Dia lalu menggagahi isterimu, bukan?"
Pujo mengangguk.
"Bukankah isterimu itu puteri Resi Bhargowo?"
"Betul, gusti patih."

"Lalu ke mana sekarang isterimu?"
"Itulah, gusti. Isteriku lari dan sampai kini hamba tak pernah bertemu dengannya. Kebahagiaan hidup hamba hancur dan karena itulah maka hamba menyerbu ke Selopenangkep untuk membalas dendam kepada Wisangjiwo."
"Hemm, Pujo! Engkau mendendam kepada Wisangjiwo, itu sudahlah pantas. Akan tetapi keluarganya tidak berdosa, tidak tahu-menahu, mengapa engkau mengganggu keluarganya?"
"Karena Wisangjiwo tidak berada di Selopenangkep, hamba menjadi mata gelap......." jawab Pujo menyesal.
"Dan engkau perkosa pula isterinya dan bunuh anaknya?"
"Tidak! Demi para dewata, tidak, gusti! Biarlah Sang Hyang Batara Syiwa mendatangkan hukum seberatnya kepada hamba kalau hamba melakukan kedua hal itu!" Pujo berkata dengan lantang, dan sejenak dua pasang sinar mata bertemu, yang satu penuh selidik, yang kedua menentang berani.
Narotama mengangguk-angguk.
"Di mana engkau tinggal sekarang?"
"Di muara Sungai Lorog, gusti."
"Engkau tahu tentang pusaka Mataram yang hilang?"
"Pusaka? Hilang? Hamba tidak tahu, gusti. Selama peristiwa jahanam yang menimpa diri hamba itu, hamba tidak pernah lagi memasuki dunia ramai."
Kembali Narotama mengangguk-angguk.
"Mari kulihat tempatmu. Betapapun juga sudah menjadi tugasku untuk memeriksa dan membuktikan bahwa engkau benar-benar tidak berniat memberontak dan pula tidak tahu akan pusaka yang hilang."

Kedua orang itu lalu meninggalkan hutan, jalan berdampingan sambil bercakap-cakap. Setelah mereka pergi jauh, barulah Joko Wandiro berani turun dari atas pohon. Tubuhnya masih gemetar. Ia tadi telah mendengarkan semua percakapan itu dan jantungnya serasa ditusuk-tusuk. Ibunya telah digagahi! Ibunya telah diperkosa Wisangjiwo! Keparat! Teringat akan nasib ibunya, Joko Wandiro menjatuhkan diri di bawah pohon dan sejenak ia duduk termenung. Tidak menangis akan tetapi kedua matanya mengalirkan air mata yang menetes-netes sepanjang kedua pipinya. Ayahnya melarangnya menangis. Seorang laki-laki tidak layak meruntuhkan air mata, kata ayahnya. Diapun tidak sudi menangis. Dalam tiga hari ini ayahnya hendak pergi mencari Wisangjiwo, dan dia ditinggal, disuruh tinggal bersama penduduk pedukuhan. Tidak puas hati Joko Wandiro, akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak ayahnya. Lalu ia teringat akan tugasnya, disuruh mencari kuda tunggangan yang baik. Teringat akan ini, ia lalu melanjutkan perjalanan, berlari meninggalkan hutan itu menuju ke pedukuhan. Di hutan terakhir di luar dukuh itu terdapat sebuah belik (danau kecil) yang airnya jernih sekali. Timbul keinginan hatinya untuk mandi karena tubuhnya terasa panas setelah berlari-larian tadi. Ditanggalkannya semua pakaiannya dan segera ia meloncat ke dalam air yang jernih dan dingin dan berenang ke sana ke mari. Lenyaplah semua kesedihannya karena teringat ibunya tadi. Segar rasa tubuhnya, dan ia cepat-cepat naik ke darat mengenakan pakaiannya lagi. Pada saat itulah ia mendengar suara berkeritik yang menyakitkan telinga. Teringat ia akan cantrik tua renta bertasbih yang dibencinya. Agaknya terjadi pertempuran lagi, pikirnya. Dengan hati berdebar tegang ia berindap-indap menuju ke arah suara dan mengintai dari balik pohon. Benar saja dugaannya. Cekel Aksomolo bertanding, disaksikan oleh lima orang perampok tinggi besar. Siapakah yang menjadi lawannya? Bukan lain adalah Ki Tejoranu, si ahli sepasang golok!
"Uuh-huh-huh, kau orang tidak setia kawan! Kau percuma saja menjadi sekutu! Pura-pura suci dan gagah, tidak mau menyerang Narotama. Orang macam kau ini kalau tidak dibasmi, kelak tentu akan mencelakakan belaka, huh-huhhuh!"
Cekel Aksomolo mengobat-abitkan tasbihnya yang mengeluarkan bunyi berkeritik aneh. Ki Tejoranu tidak menjawab karena orang ini benar-benar terdesak oleh tasbih yang mengeluarkan hawa mujijat itu. Biarpun sepasang goloknya bergerak cepat, namun semangatnya seakan-akan terbetot dan dipengaruhi suara tasbih dan suara Cekel Aksomolo. Makin kacaulah permainan goloknya dan tiba-tiba terdengar suara
"rrrrrkkkkk!" nyaring sekali dan....... tubuh Ki Tejoranu terguling, seluruh tubuhnya lemah seakan-akan semua ototnya dilolosi dari tubuh.
Inilah pengaruh tasbih sakti yang ampuhnya mengerikan itu! Cekel Aksomolo terkekeh dan menghampiri dengan sikap mengancam,
"Hua-hah-hah, mampus kau sekarang!"
Tasbihnya menghantam ke arah kepala. Biarpun Ki Tejoranu sudah lemas tubuhnya, namun ia memiliki ilmu kepandaian tinggi. Di saat sinar tasbih menyambar, ia masih mampu menggulingkan tubuhnya mengelak.
"Bresss!"

Batu dan tanah muncrat berhamburan karena hantaman tasbih menggantikan kepala Ki Tejoranu yang sudah berhasil bergulingan menjauhkan diri.
"Uuh-huh-huh, punya aji trenggiling agaknya! Hayo, ajar dia! Bacok dia, cacah-cacah jadikan abon (daging halus)!"
Cekel Aksomolo memerintah lima orang perampok yang berada di situ. Dia sendiri ogah kalau harus mengejar-ngejar lawan yang biarpun sudah tak dapat melawan namun masih mampu bergulingan cepat itu. Dia malas untuk bermain kucing-kucingan. Lima orang perampok tinggi besar itu mencabut golok dan ramailah mereka mengejar dan membacok. Namun Ki Tejoranu memang hebat. Tubuhnya bergulingan dan mencelat-celat seperti seekor kucing kepanasan. Namun, karena tenaganya sudah hampir habis akibat pengaruh tasbih mujijat, beberapa bacokan mengenai paha dan pangkal lengannya. Ia tidak mengeluh, hanya tertawa mengejek dan tidak menyerah, bahkan kini pengaruh tasbih makin menipis dan ia dapat berusaha membalas dengan tendangan-tendangan dari bawah.
Wandiro adalah seorang anak yang memiliki dasar pemberani dan juga gagah. Menyaksikan betapa seorang yang sudah kalah kini dikeroyok dan disiksa, membayangkan betapa ia akan menyaksikan penyembelihan yang kejam sekali, ia tidak dapat menahan gejolak hatinya dan ia melompat keluar sambil memaki-maki,
"Orang-orang tidak tahu malu! Mengeroyok seorang yang sudah terluka dan tidak pandai melawan, sungguh tak tahu malu!" Ia berdiri dengan tubuh tegak, kedua tangannya bertolak pinggang, matanya berkilat-kilat marah.
Lima orang perampok itu terkejut dan marah, apalagi ketika menengok dan melihat bahwa yang memaki mereka hanyalah seorang laki-laki berusia satu dua belas tahun, kemarahan mereka memuncak. Serentak mereka menerjang untuk membunuh Joko Wandiro. Namun anak itu bukanlah sembarang anak yang mudah dibunuh begitu saja. Melihat datangnya golok yang bersinar-sinar membacok ke arahnya, sigap ia meloncat ke belakang, lalu memasang kuda-kuda dan matanya tajam memandang ke depan, siap untuk melawan mati-matian seperti yang diajarkan ayahnya.
"Uuuh-huh-huh................., jangan bunuh dia„ Tangkap hidup-hidup anak kadal ini!" Cekel Aksomolo berkata ketika mengenal anak yang telah mengencinginya dalam pertandingan mengeroyok Rakyana Patih Kanuruhan.
"Tangkap hidup-hidup, serahkan padaku, akan kuminum darahnya setetes demi setetes! Uh-huh-huh!"
Para perampok merasa heran mengapa kakek itu demikian membenci anak ini, akan tetapi mereka tidak berani membantah.
"Wah, celaka, si keparat menghilang!" Tiba-tiba seorang di antara mereka berteriak ketika teringat kepada Ki Tejoranu dan menengok, ternyata orang itu telah lenyap.
"Uuuuuh, biarkan saja, dia tidak ada artinya. Anak ini lebih penting, tangkap dia, jangan sampai hamburkan darahnya, akan kuhisap semua sampai habis!"

Cekel Aksomolo berseru lagi. Dia amat benci kepada anak ini, yang telah melakukan sirikan atau pantangannya, dan dia baru akan puas kalau dapat menghisap habis darah anak ini, selain untuk membalas dendam kemarahannya, juga ia tahu bahwa anak ini bukan anak biasa dan darahnya tentu akan menguatkan tubuhnya. Lima orang perampok segera menyimpan goloknya dan seorang di antara mereka yang memandang rendah seorang anak kecil, segera maju menubruk. Kedua tangannya dikembangkan, jari-jari tangannya terbuka seperti seekor harimau menubruk kelinci.
"Bruuuukkk! Uuhghh.......!" perampok ini merangkak bangun kembali dengan napas terengah-engah sesak karena tadi ia menubruk angin, bahkan menubruk tanah yang keras sehingga dadanya terasa ampeg. Kiranya ketika ia menubruk, Joko Wandiro sudah bergerak cepat sekali menyelinap ke bawah ketiak kanan, tidak lupa ia mengaitkan kakinya ke kaki lawan yang sedang condong menubruk ke depan sehingga tanpa dapat dicegah lagi perampok itu jatuh tertelungkup menubruk tanah!
Perampok itu marah dan bangkit lagi, kini bersama empat orang kawannya mereka mengurung Joko Wandiro. Anak ini maklum bahwa ia dalam bahaya, namun sedikitpun ia tidak gentar. Ia menggerakkan kedua kakinya perlahan, mengatur sikap dan kuda-kuda, matanya mengerling-ngerling tajam ke arah lima orang pengurungnya, menanti gerakan mereka. Ia sudah sering berlatih dengan ayahnya menghindarkan serangan ombak yang memercik pecah, maka ia dapat bergerak gesit. Hanya diam-diam ia mengharapkan lima orang ini tidak akan menerjang dalam detik yang bersamaan, maka untuk itu ia sengaja memancing dan mendekatkan diri dengan orang yang tadi mencium tanah. Anak ini memang cerdik sekali. Ia tahu bahwa perampok yang telah terbanting tadi tentu lebih bernafsu untuk menerkamnya daripada empat yang lain. Oleh karena inilah ia sengaja mendekat kepada perampok yang matanya agak juling ini, bahkan ia berkata mengejek.
"Bagaimana? Ampeg (sesak) tidak pulung hatimu, pak de?"
Tentu saja perampok juling ini menjadi luar biasa marahnya, darahnya bergolak naik ke muka sehingga sukar baginya untuk mengeluarkan kata-kata makian yang terlontar dari dalam hati yang panas. Hanya ludah-ludah yang menyemprot dan mulutnya membuih, hidungnya yang pesek itu bergerak-gerak, cuping hidungnya kembang kempis seperti hidung kuda ketakutan. Akhirnya keluar juga suaranya bersama air ludah.
"Bocah kumentus (sombong), bocah nyelelek, gembedig urakan! Ooohhh, kalau tidak dilarang Ki Cekel, ingin kujuwing juwing (robek) mulutmu!"
Sambil berkata demikian ia menubruk dan tangan kirinya menempiling (menampar) kepala, tangan kanannya mencengkeram ke arah pundak untuk menangkap anak ini seperti yang diperintahkan Cekel Aksomolo.

Girang hati Joko Wandiro. Pancingannya berhasil dan dengan pendahuluan oleh si juling ini berarti ia tidak akan menghadapi serangan serentak dari lima orang itu. Kalau mereka menyerang bertubi-tubi saja ia sama sekali tidak khawatir. Cepat ia mengerahkan Aji Bayu Tantra yang biarpun belum ia kuasai sepenuhnya, namun cukup membuat tubuhnya dapat bergerak jauh lebih cepat daripada gerakan lawan. Dengan gerakan yang amat cepat ini mudah saja baginya untuk menggeser kaki mengatur langkah mengelak daripada terjangan si juling. Aji Pethit Nogo adalah aji pukulan yang luar biasa ampuhnya, pukulan yang mempergunakan jari-jari tangan, sepuluh buah banyaknya dan semuanya dipergunakan. Tidaklah mudah untuk menguasai aji yang mujijat ini, maka Joko Wandiro yang baru berusia dua belas tahun belum pula mewarisi aji ini.

<<< Bagian 040                                                                                   Bagian 042 >>>

No comments:

Post a Comment