"Sesungguhnya tidak salah berita itu, gusti. Hamba telah menyerbu Kadipaten Selopenangkep dan mengamuk untuk membalas dendam kepada Raden Wisangjiwo yang telah menghancurkan kebahagiaan hidup hamba. Semata-mata karena permusuhan pribadi hamba dengan Wisangjiwo sajalah yang mendorong hamba membikin huru-hara di Kadipaten Selopenangkep. Bukan sekali-kali dengan maksud memberontak kepada Mataram! "
"Hemm.......
hemm......, aneh. Hal ini masih memerlukan bukti dan penyelidikan yang lebih
mendalam. Apakah paman Resi Bhargowo berniat memberontak atau tidak, sukar
dikatakan pada saat ini. Akan tetapi agar lebih mudah aku melakukan
penyelidikan, permusuhan pribadi apakah yang terjadi antara engkau dan
Wisangjiwo sehingga engkau menyerbu Kadipaten Selopenangkep?"
Pujo menarik
napas panjang. Peristiwa itu telah lama berlalu telah terpendam sebagai rahasia
hidupnya. Akan tetapi kini menyangkut urusan yang lebih gawat, disangka dia
memberontak. Pula, ki patih ini terkenal sebagai seorang bijaksana dan sakti
mandraguna, apa salahnya menceritakan peristiwa itu agar mendapat pengadilan?
Sekali lagi ia menarik napas menguatkan batinnya lalu berkata,
"Sudah
lama terjadinya, gusti patih. Sepuluh tahun lebih yang lalu, hamba bersama
isteri hamba sedang bertapa dalam Guha Siluman. Malam hari itu muncullah
Wisangjiwo di guha dan agaknya ia tertarik kepada isteri hamba, lalu bersikap
kurang ajar. Kami lalu berkelahi, akan tetapi Wisangjiwo mempergunakan
kecurangan dan hamba terpukul pingsan. Dalam keadaan seperti itu, Wisangjiwo
lalu....... lalu......." Pujo tak kuasa melanjutkan ceritanya.
"Hemmm......."
Narotama meraba jenggotnya dan mengangguk-angguk, keningnya berkerut, ia dapat
menduga apa yang terjadi selanjutnya.
"Dia lalu
menggagahi isterimu, bukan?"
Pujo
mengangguk.
"Bukankah
isterimu itu puteri Resi Bhargowo?"
"Betul,
gusti patih."
"Lalu ke
mana sekarang isterimu?"
"Itulah,
gusti. Isteriku lari dan sampai kini hamba tak pernah bertemu dengannya.
Kebahagiaan hidup hamba hancur dan karena itulah maka hamba menyerbu ke
Selopenangkep untuk membalas dendam kepada Wisangjiwo."
"Hemm,
Pujo! Engkau mendendam kepada Wisangjiwo, itu sudahlah pantas. Akan tetapi
keluarganya tidak berdosa, tidak tahu-menahu, mengapa engkau mengganggu
keluarganya?"
"Karena
Wisangjiwo tidak berada di Selopenangkep, hamba menjadi mata gelap......."
jawab Pujo menyesal.
"Dan
engkau perkosa pula isterinya dan bunuh anaknya?"
"Tidak!
Demi para dewata, tidak, gusti! Biarlah Sang Hyang Batara Syiwa mendatangkan
hukum seberatnya kepada hamba kalau hamba melakukan kedua hal itu!" Pujo
berkata dengan lantang, dan sejenak dua pasang sinar mata bertemu, yang satu
penuh selidik, yang kedua menentang berani.
Narotama
mengangguk-angguk.
"Di mana
engkau tinggal sekarang?"
"Di muara
Sungai Lorog, gusti."
"Engkau
tahu tentang pusaka Mataram yang hilang?"
"Pusaka?
Hilang? Hamba tidak tahu, gusti. Selama peristiwa jahanam yang menimpa diri
hamba itu, hamba tidak pernah lagi memasuki dunia ramai."
Kembali
Narotama mengangguk-angguk.
"Mari kulihat
tempatmu. Betapapun juga sudah menjadi tugasku untuk memeriksa dan membuktikan
bahwa engkau benar-benar tidak berniat memberontak dan pula tidak tahu akan
pusaka yang hilang."
Kedua orang
itu lalu meninggalkan hutan, jalan berdampingan sambil bercakap-cakap. Setelah
mereka pergi jauh, barulah Joko Wandiro berani turun dari atas pohon. Tubuhnya
masih gemetar. Ia tadi telah mendengarkan semua percakapan itu dan jantungnya
serasa ditusuk-tusuk. Ibunya telah digagahi! Ibunya telah diperkosa Wisangjiwo!
Keparat! Teringat akan nasib ibunya, Joko Wandiro menjatuhkan diri di bawah
pohon dan sejenak ia duduk termenung. Tidak menangis akan tetapi kedua matanya
mengalirkan air mata yang menetes-netes sepanjang kedua pipinya. Ayahnya
melarangnya menangis. Seorang laki-laki tidak layak meruntuhkan air mata, kata
ayahnya. Diapun tidak sudi menangis. Dalam tiga hari ini ayahnya hendak pergi
mencari Wisangjiwo, dan dia ditinggal, disuruh tinggal bersama penduduk
pedukuhan. Tidak puas hati Joko Wandiro, akan tetapi ia tidak berani membantah
kehendak ayahnya. Lalu ia teringat akan tugasnya, disuruh mencari kuda
tunggangan yang baik. Teringat akan ini, ia lalu melanjutkan perjalanan,
berlari meninggalkan hutan itu menuju ke pedukuhan. Di hutan terakhir di luar
dukuh itu terdapat sebuah belik (danau kecil) yang airnya jernih sekali. Timbul
keinginan hatinya untuk mandi karena tubuhnya terasa panas setelah
berlari-larian tadi. Ditanggalkannya semua pakaiannya dan segera ia meloncat ke
dalam air yang jernih dan dingin dan berenang ke sana ke mari. Lenyaplah semua
kesedihannya karena teringat ibunya tadi. Segar rasa tubuhnya, dan ia
cepat-cepat naik ke darat mengenakan pakaiannya lagi. Pada saat itulah ia
mendengar suara berkeritik yang menyakitkan telinga. Teringat ia akan cantrik
tua renta bertasbih yang dibencinya. Agaknya terjadi pertempuran lagi,
pikirnya. Dengan hati berdebar tegang ia berindap-indap menuju ke arah suara
dan mengintai dari balik pohon. Benar saja dugaannya. Cekel Aksomolo
bertanding, disaksikan oleh lima orang perampok tinggi besar. Siapakah yang
menjadi lawannya? Bukan lain adalah Ki Tejoranu, si ahli sepasang golok!
"Uuh-huh-huh,
kau orang tidak setia kawan! Kau percuma saja menjadi sekutu! Pura-pura suci
dan gagah, tidak mau menyerang Narotama. Orang macam kau ini kalau tidak
dibasmi, kelak tentu akan mencelakakan belaka, huh-huhhuh!"
Cekel Aksomolo
mengobat-abitkan tasbihnya yang mengeluarkan bunyi berkeritik aneh. Ki Tejoranu
tidak menjawab karena orang ini benar-benar terdesak oleh tasbih yang mengeluarkan
hawa mujijat itu. Biarpun sepasang goloknya bergerak cepat, namun semangatnya
seakan-akan terbetot dan dipengaruhi suara tasbih dan suara Cekel Aksomolo.
Makin kacaulah permainan goloknya dan tiba-tiba terdengar suara
"rrrrrkkkkk!"
nyaring sekali dan....... tubuh Ki Tejoranu terguling, seluruh tubuhnya lemah
seakan-akan semua ototnya dilolosi dari tubuh.
Inilah
pengaruh tasbih sakti yang ampuhnya mengerikan itu! Cekel Aksomolo terkekeh dan
menghampiri dengan sikap mengancam,
"Hua-hah-hah,
mampus kau sekarang!"
Tasbihnya
menghantam ke arah kepala. Biarpun Ki Tejoranu sudah lemas tubuhnya, namun ia
memiliki ilmu kepandaian tinggi. Di saat sinar tasbih menyambar, ia masih mampu
menggulingkan tubuhnya mengelak.
"Bresss!"
Batu dan tanah
muncrat berhamburan karena hantaman tasbih menggantikan kepala Ki Tejoranu yang
sudah berhasil bergulingan menjauhkan diri.
"Uuh-huh-huh,
punya aji trenggiling agaknya! Hayo, ajar dia! Bacok dia, cacah-cacah jadikan
abon (daging halus)!"
Cekel Aksomolo
memerintah lima orang perampok yang berada di situ. Dia sendiri ogah kalau
harus mengejar-ngejar lawan yang biarpun sudah tak dapat melawan namun masih
mampu bergulingan cepat itu. Dia malas untuk bermain kucing-kucingan. Lima
orang perampok tinggi besar itu mencabut golok dan ramailah mereka mengejar dan
membacok. Namun Ki Tejoranu memang hebat. Tubuhnya bergulingan dan
mencelat-celat seperti seekor kucing kepanasan. Namun, karena tenaganya sudah
hampir habis akibat pengaruh tasbih mujijat, beberapa bacokan mengenai paha dan
pangkal lengannya. Ia tidak mengeluh, hanya tertawa mengejek dan tidak
menyerah, bahkan kini pengaruh tasbih makin menipis dan ia dapat berusaha
membalas dengan tendangan-tendangan dari bawah.
Wandiro adalah
seorang anak yang memiliki dasar pemberani dan juga gagah. Menyaksikan betapa
seorang yang sudah kalah kini dikeroyok dan disiksa, membayangkan betapa ia
akan menyaksikan penyembelihan yang kejam sekali, ia tidak dapat menahan
gejolak hatinya dan ia melompat keluar sambil memaki-maki,
"Orang-orang
tidak tahu malu! Mengeroyok seorang yang sudah terluka dan tidak pandai
melawan, sungguh tak tahu malu!" Ia berdiri dengan tubuh tegak, kedua
tangannya bertolak pinggang, matanya berkilat-kilat marah.
Lima orang
perampok itu terkejut dan marah, apalagi ketika menengok dan melihat bahwa yang
memaki mereka hanyalah seorang laki-laki berusia satu dua belas tahun,
kemarahan mereka memuncak. Serentak mereka menerjang untuk membunuh Joko
Wandiro. Namun anak itu bukanlah sembarang anak yang mudah dibunuh begitu saja.
Melihat datangnya golok yang bersinar-sinar membacok ke arahnya, sigap ia
meloncat ke belakang, lalu memasang kuda-kuda dan matanya tajam memandang ke
depan, siap untuk melawan mati-matian seperti yang diajarkan ayahnya.
"Uuuh-huh-huh.................,
jangan bunuh dia„ Tangkap hidup-hidup anak kadal ini!" Cekel Aksomolo
berkata ketika mengenal anak yang telah mengencinginya dalam pertandingan
mengeroyok Rakyana Patih Kanuruhan.
"Tangkap
hidup-hidup, serahkan padaku, akan kuminum darahnya setetes demi setetes!
Uh-huh-huh!"
Para perampok
merasa heran mengapa kakek itu demikian membenci anak ini, akan tetapi mereka
tidak berani membantah.
"Wah,
celaka, si keparat menghilang!" Tiba-tiba seorang di antara mereka
berteriak ketika teringat kepada Ki Tejoranu dan menengok, ternyata orang itu
telah lenyap.
"Uuuuuh,
biarkan saja, dia tidak ada artinya. Anak ini lebih penting, tangkap dia,
jangan sampai hamburkan darahnya, akan kuhisap semua sampai habis!"
Cekel Aksomolo
berseru lagi. Dia amat benci kepada anak ini, yang telah melakukan sirikan atau
pantangannya, dan dia baru akan puas kalau dapat menghisap habis darah anak
ini, selain untuk membalas dendam kemarahannya, juga ia tahu bahwa anak ini
bukan anak biasa dan darahnya tentu akan menguatkan tubuhnya. Lima orang
perampok segera menyimpan goloknya dan seorang di antara mereka yang memandang
rendah seorang anak kecil, segera maju menubruk. Kedua tangannya dikembangkan,
jari-jari tangannya terbuka seperti seekor harimau menubruk kelinci.
"Bruuuukkk!
Uuhghh.......!" perampok ini merangkak bangun kembali dengan napas
terengah-engah sesak karena tadi ia menubruk angin, bahkan menubruk tanah yang
keras sehingga dadanya terasa ampeg. Kiranya ketika ia menubruk, Joko Wandiro
sudah bergerak cepat sekali menyelinap ke bawah ketiak kanan, tidak lupa ia
mengaitkan kakinya ke kaki lawan yang sedang condong menubruk ke depan sehingga
tanpa dapat dicegah lagi perampok itu jatuh tertelungkup menubruk tanah!
Perampok itu
marah dan bangkit lagi, kini bersama empat orang kawannya mereka mengurung Joko
Wandiro. Anak ini maklum bahwa ia dalam bahaya, namun sedikitpun ia tidak
gentar. Ia menggerakkan kedua kakinya perlahan, mengatur sikap dan kuda-kuda,
matanya mengerling-ngerling tajam ke arah lima orang pengurungnya, menanti
gerakan mereka. Ia sudah sering berlatih dengan ayahnya menghindarkan serangan
ombak yang memercik pecah, maka ia dapat bergerak gesit. Hanya diam-diam ia
mengharapkan lima orang ini tidak akan menerjang dalam detik yang bersamaan,
maka untuk itu ia sengaja memancing dan mendekatkan diri dengan orang yang tadi
mencium tanah. Anak ini memang cerdik sekali. Ia tahu bahwa perampok yang telah
terbanting tadi tentu lebih bernafsu untuk menerkamnya daripada empat yang
lain. Oleh karena inilah ia sengaja mendekat kepada perampok yang matanya agak
juling ini, bahkan ia berkata mengejek.
"Bagaimana?
Ampeg (sesak) tidak pulung hatimu, pak de?"
Tentu saja
perampok juling ini menjadi luar biasa marahnya, darahnya bergolak naik ke muka
sehingga sukar baginya untuk mengeluarkan kata-kata makian yang terlontar dari
dalam hati yang panas. Hanya ludah-ludah yang menyemprot dan mulutnya membuih,
hidungnya yang pesek itu bergerak-gerak, cuping hidungnya kembang kempis
seperti hidung kuda ketakutan. Akhirnya keluar juga suaranya bersama air ludah.
"Bocah
kumentus (sombong), bocah nyelelek, gembedig urakan! Ooohhh, kalau tidak
dilarang Ki Cekel, ingin kujuwing juwing (robek) mulutmu!"
Sambil berkata
demikian ia menubruk dan tangan kirinya menempiling (menampar) kepala, tangan
kanannya mencengkeram ke arah pundak untuk menangkap anak ini seperti yang
diperintahkan Cekel Aksomolo.
Girang hati
Joko Wandiro. Pancingannya berhasil dan dengan pendahuluan oleh si juling ini
berarti ia tidak akan menghadapi serangan serentak dari lima orang itu. Kalau
mereka menyerang bertubi-tubi saja ia sama sekali tidak khawatir. Cepat ia
mengerahkan Aji Bayu Tantra yang biarpun belum ia kuasai sepenuhnya, namun
cukup membuat tubuhnya dapat bergerak jauh lebih cepat daripada gerakan lawan.
Dengan gerakan yang amat cepat ini mudah saja baginya untuk menggeser kaki
mengatur langkah mengelak daripada terjangan si juling. Aji Pethit Nogo adalah
aji pukulan yang luar biasa ampuhnya, pukulan yang mempergunakan jari-jari
tangan, sepuluh buah banyaknya dan semuanya dipergunakan. Tidaklah mudah untuk
menguasai aji yang mujijat ini, maka Joko Wandiro yang baru berusia dua belas
tahun belum pula mewarisi aji ini.
No comments:
Post a Comment