Pada saat itu terdengar lengking tinggi mengerikan, seakan-akan menyambut atau menjawab ucapan Joko Wandiro yang diucapkan keras-keras itu. Cekel Aksomolo sendiri sampai tersentak kaget mendengar suara ini. Tidak ada binatang hutan seperti itu suaranya, juga tak mungkin manusia. Hanya peri dan iblis saja agaknya yang dapat mengeluarkan suara seperti itu, lengking tinggi menusuk jantung. Hati kakek itu tidak enak, segera ia menangkap pergelangan tangan Joko Wandiro.
“Hayo kita
pergi dari sini! Biar di Selopenangkep nanti kau membantah kakekmu
sendiri......."
"Tidak
mau! Tidak sudi! Kakek jahat, lepaskan aku!"
Joko Wandiro
meronta-ronta. Namun Cekel Aksomolo tidak memperdulikannya dan menyeretnya
untuk cepat-cepat pergi dari hutan itu. Tiba-tiba tampak bayangan orang
berkelebat dan tahu-tahu seorang kakek sudah berdiri menghadangnya dengan
sepasang golok di kedua tangan. Dia ini bukan lain adalah Ki Tejoranu yang
segera berkata mengejek,
"Cekel
Aksomolo! Seolang tua bangka macam kau memaksa dan menghina anak kecil, akulah
lawanmu, tua sama tua!"
Cekel Aksomolo
marah bukan main. Tentu saja ia sama sekali tidak takut kalau hanya pertapa
Sarangan ini yang muncul.
"Uuhhh-huh,
kau pecundang, kau sudah keok (kalah) sekarang berani muncul lagi? Minta
mampus? Uuhh, dasar bosan hidup!"
Tiba-tiba
kakek ini menggerakkan jari tangannya memencet kedua pundak Joko Wandiro. Anak
ini mengeluh perlahan dan roboh terguling, tak dapat bangun lagi karena ia
merasa seluruh tubuhnya lumpuh. Ia hanya dapat memandang ke arah dua orang
kakek itu yang sudah bertanding. Betapapun hebat permainan sepasang golok di
tangan Ki Tejoranu dan betapa mahirnya akan ilmu meringankan tubuh, namun
menghadapi Cekel Aksomolo, ia masih kalah tinggi ilmunya.
Cekel Aksomolo
mengandalkan kesaktiannya kepada ilmu hitam yang mujijat, tidak seperti Ki
Tejoranu yang semata-mata mengandalkan Ilmu silatnya. Biarpun tasbih yang
digerakkan itu tidak amat cepat, namun dari tasbih itu keluar segulung sinar
hitam yang luar biasa ampuhnya, yang seakan-akan merupakan tangan-tangan iblis
menghalau gulungan sinar golok. Sambil memutar tasbih ini Cekel Aksomolo
bersumbar,
"Heh Ki
Tejoranu manusia berlidah pendek! Kau bertapa dan belajarlah dua windu lagi,
baru boleh mencoba kesaktian Cekel Aksomolo,huh-huh-huh! Akan tetapi sekarang
sudah terlambat, karena aku tidak akan memberi kesempatan kepadamu untuk
belajar lagi.. Terimalah kematianmu!"
Tiba-tiba
tangan kiri pertapa di lereng Wilis ini bergerak dan sesosok sinar hitam
menyambar ke depan, menyambar sambil mengeluarkan suara mendesing. Inilah
senjata rahasia yang amat ampuh dari Cekel Aksomolo, yaitu senjata rahasia
ganitri yang sebenarnya biji-biji tasbih. Bukan main ampuhnya senjata rahasia
ini, karena biarpun hanya sebutir benda kecil terbuat daripada kayu hitam,
namun jika sekali melesat dari tangan sakti dapat mengejar lawan seperti seekor
lebah yang berbisa.
Ki Tejoranu
terkejut sekali, cepat golok kanannya menyampok benda kecil itu sedangkan golok
kirinya masih sibuk melayani untaian tasbih yang menyambar-nyambar dikepalanya.
"Tringgg.......!"
Ganitri yang
kecil itu tersampok, akan tetapi tidak runtuh atau terlempar jauh, bahkan
berputaran dan menghantam ke arah mukanya! Ki Tejoranu makin kaget, cepat ia
meloncat ke belakang, akan tetapi terlambat! Ganitri telah menyambar dan
mengenai pundaknya! Begitu mencium darah, senjata rahasia ganitri yang luar
biasa ini terbang kembali ke tangan kiri Cekel Aksomolo yang tertawa
terkekeh-kekeh melihat Ki Tejoranu roboh terjengkang lalu bergulingan dengan
sepasang goloknya masih menyambar-nyambar melindungi tubuh. Diam-diam kakek
bongkok ini kagum bukan main. Betapa orang yang sudah terluka dan roboh masih
dapat menggunakan sepasang golok melindungi tubuh seperti itu benar-benar
membuktikan kemahiran permainan golok yang hebat.
Maklum bahwa
luka akibat ganitri yang berbisa akan mendatangkan maut kepada lawannya, Cekel
Aksomolo tidak memperdulikan Ki Tejoranu lagi, melainkan membalikkan tubuh
hendak membawa pergi Joko Wandiro. Akan tetapi alangkah kaget hatinya, sampai
dia berdiri terlongong. Joko Wandiro telah bangun dan berdiri di tempat itu,
dan di sebelahnya berdiri seorang wanita muda yang cantiknya bukan kepalang!
Seorang wanita muda yang memiliki wajah, kulit, dan bentuk tubuh yang hanya pantas
dimiliki seorang bidadari kahyangan! Mata Cekel Aksomolo yang berminyak kalau
melihat wanita ayu ini seperti hendak terloncat keluar dari tempatnya.
Jantungnya mencak-mencak dalam dada, pandang matanya seperti hendak menelan
bulat-bulat dan hatinya berbisik,
".......
wadouhhh, denok montok kinyis-kinyis...." dan seperti seorang mengidam
yang melihat mangga, air liurnya menitik turun dari kedua ujung bibirnya!
Wanita itu
masih muda dan memang hebat. Wajahnya cantik jelita, dihias rambutnya yang
panjang terurai ke belakang hitam berombak. Pakaiannya bagian atas hampir tidak
dapat menahan lekuk lengkung tubuh yang seperti hendak memberontak dan
memecahkan kain penutup karena kepadatannya. Namun, kecantikan dan keindahan
bentuk tubuh ini dilindungi sikap yang agung, pandang mata yang tajam angker,
tarikan mulut yang membayangkan kekerasan hati, kerut di kening yang
menggoreskan derita hidup yang kesemuanya itu membuat ia tampak bercuriga
kepada setiap orang yang dihadapinya.
"Pergilah
engkau, paman tua dan jangan ganggu anak ini!"
Demikian
ucapannya yang ditujukan kepada Cekel Aksomolo. Suaranya merdu akan tetapi
nadanya dingin menyeramkan, seakan-akan di balik ucapan itu bersembunyi ancaman
maut yang mengerikan. Cekel Aksomolo dapat merasakan ini, akan tetapi tentu
saja ia tidak takut. Masa seorang sakti mandraguna seperti dia takut terhadap
seorang wanita yang begitu denok ayu?
"Aduuhh,
ayu kinyis-kinyis, denok montrok-montrok, di dunia tiada keduanya! Engkau
siapa, genduk bocah ayu manis? Waduhhh, mati aku ada wanita kok begini
cantik!"
Wanita itu
mengerutkan kening, pandang matanya mengeluarkan sinar berapi, lalu terdengar
lagi ia bertanya, suaranya masih merdu namun lebih dingin daripada tadi,
"Kakek
tua, sekali lagi pergilah! Aku tak akan menangani (menghajar) seorang kakek
yang sudah tua renta seperti kau, kecuali kalau terpaksa."
"Heh-heh-huh-huh-huh!
Biar tua tuanya kelapa, tuanya kemiri, biar tua lebih berguna daripada yang
muda! Bocah denok montrok, aku mau pergi dari sini kalau menggendongmu!"
Tiba-tiba
wanita itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan hampir saja Cekel Aksomolo
terjengkang saking kagetnya. Kiranya yang mengeluarkan suara lengking
mengerikan tadi adalah wanita ayu ini! Akan tetapi kakek ini tidak diberi
kesempatan untuk terheran lebih lama karena pada detik itu wanita tadi telah
menerjangnya dengan gerakan kilat dan sebuah tamparan keras menyambar mukanya!
Tamparan yang menggunakan telapak tangan, dan hawa pukulannya saja sudah
seperti api membara! Kagetlah kakek ini, sama sekali tidak disangkanya wanita
seelok ini dapat melakukan pukulan sedahsyat itu. Cepat ia mengelak, kini
tangan dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah lambung, hebatnya bukan main.
"Aduhhh,
celaka .... !"
Cekel Aksomolo
adalah seorang sakti tentu saja dalam keadaan bahaya ini ia tidak kehilangan
akal. Tahu bahwa tusukan itu biarpun hanya dilakukan dengan jari-jari tangan
yang halus meruncing lunak, namun dapat menembus kulit lambungnya, dan bahwa
tusukan itu tak dapat lagi ia elakkan, si kakek cepat menggerakkan tasbihnya,
menghantam ke arah kepala wanita itu untuk mengajak sampyuh (mati bersama)!
"Kakek
jahat!" Wanita itu berseru, tangan kirinya menangkis lengan kanan lawan
yang membawa tasbih dan karena itu maka tusukannya tadi melambat sehingga Cekel
Aksomolo mendapat kesempatan untuk menangkis pula dengan tangan kiri sambil
miringkan tubuh. Dua pasang tangan saling bertemu dan akibatnya, wanita itu
terhuyung ke belakang, akan tetapi juga Cekel Aksomolo hampir terguling.
Wanita itu
agaknya penasaran dan marah, tanpa mengeluarkan kata-kata ia sudah menerjang
maju lagi, gerakannya cepat bukan main, kedua tangannya mengeluarkan angin
panas! Cekel Aksomolo yang kecelik mengira dia itu wanita ayu yang lemah dan
mudah dijadikan korban, terpaksa menggunakan tasbih melawan. Yang lebih
mengherankan hatinya adalah betapa suara tasbihnya seakan-akan tidak mempan
terhadap wanita ini. Ia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa wanita cantik yang
ia hadapi ini adalah Kartikosari, isteri Pujo. Kartikosari kini bukanlah Kartikosari
sepuluh tahun yang lalu. Ia sudah melatih diri di tepi laut, jika sedang
melatih tenaga sakti, deru badai mengamuk sekalipun tidak menggoyahkan
pertahanan batinnya. Apalagi kini suara tasbih yang biarpun mengandung suara
mujijat, namun bukan apa-apa jika dibandingkan dengan suara mujijat yang dibawa
oleh ombak dan badai! Pada saat Kartikosari menerjang dan terlibat dalam
pertandingan seru dengan Cekel Aksomolo, Joko Wandiro berdiri terbelalak kagum.
Sudah banyak ia melihat laki-laki sakti, jagoan-jagoan yang pandai. Akan tetapi
baru kali ini ia menyaksikan seorang wanita berkelahi dengan cara yang demikian
mengagumkan. Apalagi ketika ia mengenal gerakan-gerakan ayahnya, ia makin
terpesona. Tadi ketika Cekel Aksomolo bertanding melawan Ki Tejoranu, tahu-tahu
wanita ini muncul dan sekali mengurut pundaknya, ia dapat bangun. Akan tetapi
sebelum Joko Wandiro sempat bertanya, Cekel Aksomolo yang telah merobohkan Ki
Tejoranu telah menghadapi penolongnya. Kini mereka berdua bertanding hebat,
Joko Wandiro memandang kagum akan tetapi juga khawatir karena ia maklum betapa
kakek bongkok itu benar-benar berbahaya dan sakti.
Pada saat itu,
ia merasa ada angin bertiup di belakangnya dan disusul napas terengah seorang
manusia. Joko Wandiro cepat membalikkan tubuhnya, siap menghadapi serangan
lawan. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat seorang anak
perempuan sebaya dengannya, hanya satu dua tahun lebih muda, anak yang berwajah
seperti bulan dan bermata seperti bintang, berdiri dengan napas terengah-engah
memandang pertempuran. Agaknya anak ini telah berlari jauh dan cepat maka
sampai terengah-engah napasnya. Melihat anak ini memandang pertempuran dengan
mata terbelalak, Joko Wandiro menyangka dia ketakutan dan ngeri, maka katanya,
"Kau
siapa? Anak kecil tidak boleh di sini, berbahaya. Tidak kaulihat ada orang
bertempur? Pergilah!"
Tangannya
bergerak mendorong ke arah pundak untuk menakut-nakuti dan menyuruh anak itu
pergi, akan tetapi hanya dengan gerakan miringkan tubuh, dorongannya tidak
mengenai sasaran dan anak perempuan itu kini memandangnya dengan mata marah dan
mulut cemberut.
"Lagaknya
seperti orang tua saja! Apakah kau juga bukan anak kecil? Tentu kau anak monyet
itu!"
Dan tiba-tiba
sekali, benar-benar di luar dugaan Joko Wandiro, anak perempuan itu telah
menerjang dan menghantam dadanya dengan kepalan tangannya yang kecil. Serangan
ini amat cepat dan juga sama sekali tidak disangka-sangka, maka Joko Wandiro
tidak sempat mengelak lagi.
"Bukk!"
Joko Wandiro
roboh terjengkang, mengelus dadanya yang terpukul karena merasa sakit.
Benar-benar ia heran luar biasa bagaimana ada seorang anak perempuan memiliki
pukulan yang begini ampuh, cukup kuat sehingga ia sesak bernapas. Gerakannya
cepat sekali dan melihat cara anak ini memukul, jelas bahwa anak ini memiliki
ilmu berkelahi yang sama sekali tidak rendah! Melihat Joko Wandiro hanya jatuh
terduduk saja oleh pukulannya tadi, anak perempuan itu marah-marah,
"Kau
masih belum rebah mampus?" teriaknya dan kini dengan gerakan yang
benar-benar dahsyat dan cepat dia telah menendang ke arah muka Joko Wandiro
yang masih terheran-heran. Akan tetapi kali ini Joko Wandiro tidak berani
berlaku lengah. Cepat ia mengelak dan meloncat bangun.
"Wah, kau
ini bocah setan begini galak dan keji!"
Joko Wandiro
berseru karena anak itu sudah menerjangnya lagi kalang-kabut. Sebuah pukulan
secara aneh sekali telah bersarang di perutnya membuat ia terhuyung ke
belakang. Hebat dan cepat gerakan anak perempuan itu. Kalau ia tadi menangkis
lalu membalas tentu ia akan dapat mendahului, akan tetapi karena Joko Wandiro
tidak mau menyerang anak perempuan, maka ia lagi-lagi terkena pukulan. Perutnya
menjadi mulas dan ia mulai marah.
"Kau ini
bukan bocah perempuan, kau seperti kucing mabok!" katanya dan menangkis
kuat-kuat, bahkan balas menampar ke arah pipi anak itu. Anak itu mengelak
sambil meloncat mundur, kedua pipinya yang tadi terkena tamparan itu menjadi
merah sekali,
"Apa kau
bilang?" Telunjuknya yang kecil menuding ke arah hidung Joko Wandiro,
seperti hendak menusuk lubang hidungnya.
"Aku
kucing? Kalau begitu kau monyet! Kau celeng goteng! Kau kirik (anak anjing)
bungkik!"
"Wah-wah,
galak dan tukang maki. Kau ini bocah manakah sih begini kurang ajar? Hayo
pergi, kalau tidak tentu kutempiling kau!" Joko Wandiro marah, melangkah
maju dan mengancam dengan kedua tangan terkepal.
No comments:
Post a Comment