Badai Laut Selatan ; Bagian 043


Pada saat itu terdengar lengking tinggi mengerikan, seakan-akan menyambut atau menjawab ucapan Joko Wandiro yang diucapkan keras-keras itu. Cekel Aksomolo sendiri sampai tersentak kaget mendengar suara ini. Tidak ada binatang hutan seperti itu suaranya, juga tak mungkin manusia. Hanya peri dan iblis saja agaknya yang dapat mengeluarkan suara seperti itu, lengking tinggi menusuk jantung. Hati kakek itu tidak enak, segera ia menangkap pergelangan tangan Joko Wandiro.
“Hayo kita pergi dari sini! Biar di Selopenangkep nanti kau membantah kakekmu sendiri......."
"Tidak mau! Tidak sudi! Kakek jahat, lepaskan aku!"
Joko Wandiro meronta-ronta. Namun Cekel Aksomolo tidak memperdulikannya dan menyeretnya untuk cepat-cepat pergi dari hutan itu. Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu seorang kakek sudah berdiri menghadangnya dengan sepasang golok di kedua tangan. Dia ini bukan lain adalah Ki Tejoranu yang segera berkata mengejek,
"Cekel Aksomolo! Seolang tua bangka macam kau memaksa dan menghina anak kecil, akulah lawanmu, tua sama tua!"
Cekel Aksomolo marah bukan main. Tentu saja ia sama sekali tidak takut kalau hanya pertapa Sarangan ini yang muncul.
"Uuhhh-huh, kau pecundang, kau sudah keok (kalah) sekarang berani muncul lagi? Minta mampus? Uuhh, dasar bosan hidup!"
Tiba-tiba kakek ini menggerakkan jari tangannya memencet kedua pundak Joko Wandiro. Anak ini mengeluh perlahan dan roboh terguling, tak dapat bangun lagi karena ia merasa seluruh tubuhnya lumpuh. Ia hanya dapat memandang ke arah dua orang kakek itu yang sudah bertanding. Betapapun hebat permainan sepasang golok di tangan Ki Tejoranu dan betapa mahirnya akan ilmu meringankan tubuh, namun menghadapi Cekel Aksomolo, ia masih kalah tinggi ilmunya.
Cekel Aksomolo mengandalkan kesaktiannya kepada ilmu hitam yang mujijat, tidak seperti Ki Tejoranu yang semata-mata mengandalkan Ilmu silatnya. Biarpun tasbih yang digerakkan itu tidak amat cepat, namun dari tasbih itu keluar segulung sinar hitam yang luar biasa ampuhnya, yang seakan-akan merupakan tangan-tangan iblis menghalau gulungan sinar golok. Sambil memutar tasbih ini Cekel Aksomolo bersumbar,
"Heh Ki Tejoranu manusia berlidah pendek! Kau bertapa dan belajarlah dua windu lagi, baru boleh mencoba kesaktian Cekel Aksomolo,huh-huh-huh! Akan tetapi sekarang sudah terlambat, karena aku tidak akan memberi kesempatan kepadamu untuk belajar lagi.. Terimalah kematianmu!"
Tiba-tiba tangan kiri pertapa di lereng Wilis ini bergerak dan sesosok sinar hitam menyambar ke depan, menyambar sambil mengeluarkan suara mendesing. Inilah senjata rahasia yang amat ampuh dari Cekel Aksomolo, yaitu senjata rahasia ganitri yang sebenarnya biji-biji tasbih. Bukan main ampuhnya senjata rahasia ini, karena biarpun hanya sebutir benda kecil terbuat daripada kayu hitam, namun jika sekali melesat dari tangan sakti dapat mengejar lawan seperti seekor lebah yang berbisa.
Ki Tejoranu terkejut sekali, cepat golok kanannya menyampok benda kecil itu sedangkan golok kirinya masih sibuk melayani untaian tasbih yang menyambar-nyambar dikepalanya.
"Tringgg.......!"
Ganitri yang kecil itu tersampok, akan tetapi tidak runtuh atau terlempar jauh, bahkan berputaran dan menghantam ke arah mukanya! Ki Tejoranu makin kaget, cepat ia meloncat ke belakang, akan tetapi terlambat! Ganitri telah menyambar dan mengenai pundaknya! Begitu mencium darah, senjata rahasia ganitri yang luar biasa ini terbang kembali ke tangan kiri Cekel Aksomolo yang tertawa terkekeh-kekeh melihat Ki Tejoranu roboh terjengkang lalu bergulingan dengan sepasang goloknya masih menyambar-nyambar melindungi tubuh. Diam-diam kakek bongkok ini kagum bukan main. Betapa orang yang sudah terluka dan roboh masih dapat menggunakan sepasang golok melindungi tubuh seperti itu benar-benar membuktikan kemahiran permainan golok yang hebat.
Maklum bahwa luka akibat ganitri yang berbisa akan mendatangkan maut kepada lawannya, Cekel Aksomolo tidak memperdulikan Ki Tejoranu lagi, melainkan membalikkan tubuh hendak membawa pergi Joko Wandiro. Akan tetapi alangkah kaget hatinya, sampai dia berdiri terlongong. Joko Wandiro telah bangun dan berdiri di tempat itu, dan di sebelahnya berdiri seorang wanita muda yang cantiknya bukan kepalang! Seorang wanita muda yang memiliki wajah, kulit, dan bentuk tubuh yang hanya pantas dimiliki seorang bidadari kahyangan! Mata Cekel Aksomolo yang berminyak kalau melihat wanita ayu ini seperti hendak terloncat keluar dari tempatnya. Jantungnya mencak-mencak dalam dada, pandang matanya seperti hendak menelan bulat-bulat dan hatinya berbisik,
"....... wadouhhh, denok montok kinyis-kinyis...." dan seperti seorang mengidam yang melihat mangga, air liurnya menitik turun dari kedua ujung bibirnya!

Wanita itu masih muda dan memang hebat. Wajahnya cantik jelita, dihias rambutnya yang panjang terurai ke belakang hitam berombak. Pakaiannya bagian atas hampir tidak dapat menahan lekuk lengkung tubuh yang seperti hendak memberontak dan memecahkan kain penutup karena kepadatannya. Namun, kecantikan dan keindahan bentuk tubuh ini dilindungi sikap yang agung, pandang mata yang tajam angker, tarikan mulut yang membayangkan kekerasan hati, kerut di kening yang menggoreskan derita hidup yang kesemuanya itu membuat ia tampak bercuriga kepada setiap orang yang dihadapinya.
"Pergilah engkau, paman tua dan jangan ganggu anak ini!"
Demikian ucapannya yang ditujukan kepada Cekel Aksomolo. Suaranya merdu akan tetapi nadanya dingin menyeramkan, seakan-akan di balik ucapan itu bersembunyi ancaman maut yang mengerikan. Cekel Aksomolo dapat merasakan ini, akan tetapi tentu saja ia tidak takut. Masa seorang sakti mandraguna seperti dia takut terhadap seorang wanita yang begitu denok ayu?
"Aduuhh, ayu kinyis-kinyis, denok montrok-montrok, di dunia tiada keduanya! Engkau siapa, genduk bocah ayu manis? Waduhhh, mati aku ada wanita kok begini cantik!"
Wanita itu mengerutkan kening, pandang matanya mengeluarkan sinar berapi, lalu terdengar lagi ia bertanya, suaranya masih merdu namun lebih dingin daripada tadi,
"Kakek tua, sekali lagi pergilah! Aku tak akan menangani (menghajar) seorang kakek yang sudah tua renta seperti kau, kecuali kalau terpaksa."
"Heh-heh-huh-huh-huh! Biar tua tuanya kelapa, tuanya kemiri, biar tua lebih berguna daripada yang muda! Bocah denok montrok, aku mau pergi dari sini kalau menggendongmu!"
Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan hampir saja Cekel Aksomolo terjengkang saking kagetnya. Kiranya yang mengeluarkan suara lengking mengerikan tadi adalah wanita ayu ini! Akan tetapi kakek ini tidak diberi kesempatan untuk terheran lebih lama karena pada detik itu wanita tadi telah menerjangnya dengan gerakan kilat dan sebuah tamparan keras menyambar mukanya! Tamparan yang menggunakan telapak tangan, dan hawa pukulannya saja sudah seperti api membara! Kagetlah kakek ini, sama sekali tidak disangkanya wanita seelok ini dapat melakukan pukulan sedahsyat itu. Cepat ia mengelak, kini tangan dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah lambung, hebatnya bukan main.
"Aduhhh, celaka .... !"

Cekel Aksomolo adalah seorang sakti tentu saja dalam keadaan bahaya ini ia tidak kehilangan akal. Tahu bahwa tusukan itu biarpun hanya dilakukan dengan jari-jari tangan yang halus meruncing lunak, namun dapat menembus kulit lambungnya, dan bahwa tusukan itu tak dapat lagi ia elakkan, si kakek cepat menggerakkan tasbihnya, menghantam ke arah kepala wanita itu untuk mengajak sampyuh (mati bersama)!
"Kakek jahat!" Wanita itu berseru, tangan kirinya menangkis lengan kanan lawan yang membawa tasbih dan karena itu maka tusukannya tadi melambat sehingga Cekel Aksomolo mendapat kesempatan untuk menangkis pula dengan tangan kiri sambil miringkan tubuh. Dua pasang tangan saling bertemu dan akibatnya, wanita itu terhuyung ke belakang, akan tetapi juga Cekel Aksomolo hampir terguling.
Wanita itu agaknya penasaran dan marah, tanpa mengeluarkan kata-kata ia sudah menerjang maju lagi, gerakannya cepat bukan main, kedua tangannya mengeluarkan angin panas! Cekel Aksomolo yang kecelik mengira dia itu wanita ayu yang lemah dan mudah dijadikan korban, terpaksa menggunakan tasbih melawan. Yang lebih mengherankan hatinya adalah betapa suara tasbihnya seakan-akan tidak mempan terhadap wanita ini. Ia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa wanita cantik yang ia hadapi ini adalah Kartikosari, isteri Pujo. Kartikosari kini bukanlah Kartikosari sepuluh tahun yang lalu. Ia sudah melatih diri di tepi laut, jika sedang melatih tenaga sakti, deru badai mengamuk sekalipun tidak menggoyahkan pertahanan batinnya. Apalagi kini suara tasbih yang biarpun mengandung suara mujijat, namun bukan apa-apa jika dibandingkan dengan suara mujijat yang dibawa oleh ombak dan badai! Pada saat Kartikosari menerjang dan terlibat dalam pertandingan seru dengan Cekel Aksomolo, Joko Wandiro berdiri terbelalak kagum. Sudah banyak ia melihat laki-laki sakti, jagoan-jagoan yang pandai. Akan tetapi baru kali ini ia menyaksikan seorang wanita berkelahi dengan cara yang demikian mengagumkan. Apalagi ketika ia mengenal gerakan-gerakan ayahnya, ia makin terpesona. Tadi ketika Cekel Aksomolo bertanding melawan Ki Tejoranu, tahu-tahu wanita ini muncul dan sekali mengurut pundaknya, ia dapat bangun. Akan tetapi sebelum Joko Wandiro sempat bertanya, Cekel Aksomolo yang telah merobohkan Ki Tejoranu telah menghadapi penolongnya. Kini mereka berdua bertanding hebat, Joko Wandiro memandang kagum akan tetapi juga khawatir karena ia maklum betapa kakek bongkok itu benar-benar berbahaya dan sakti.

Pada saat itu, ia merasa ada angin bertiup di belakangnya dan disusul napas terengah seorang manusia. Joko Wandiro cepat membalikkan tubuhnya, siap menghadapi serangan lawan. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat seorang anak perempuan sebaya dengannya, hanya satu dua tahun lebih muda, anak yang berwajah seperti bulan dan bermata seperti bintang, berdiri dengan napas terengah-engah memandang pertempuran. Agaknya anak ini telah berlari jauh dan cepat maka sampai terengah-engah napasnya. Melihat anak ini memandang pertempuran dengan mata terbelalak, Joko Wandiro menyangka dia ketakutan dan ngeri, maka katanya,
"Kau siapa? Anak kecil tidak boleh di sini, berbahaya. Tidak kaulihat ada orang bertempur? Pergilah!"
Tangannya bergerak mendorong ke arah pundak untuk menakut-nakuti dan menyuruh anak itu pergi, akan tetapi hanya dengan gerakan miringkan tubuh, dorongannya tidak mengenai sasaran dan anak perempuan itu kini memandangnya dengan mata marah dan mulut cemberut.
"Lagaknya seperti orang tua saja! Apakah kau juga bukan anak kecil? Tentu kau anak monyet itu!"
Dan tiba-tiba sekali, benar-benar di luar dugaan Joko Wandiro, anak perempuan itu telah menerjang dan menghantam dadanya dengan kepalan tangannya yang kecil. Serangan ini amat cepat dan juga sama sekali tidak disangka-sangka, maka Joko Wandiro tidak sempat mengelak lagi.
"Bukk!"
Joko Wandiro roboh terjengkang, mengelus dadanya yang terpukul karena merasa sakit. Benar-benar ia heran luar biasa bagaimana ada seorang anak perempuan memiliki pukulan yang begini ampuh, cukup kuat sehingga ia sesak bernapas. Gerakannya cepat sekali dan melihat cara anak ini memukul, jelas bahwa anak ini memiliki ilmu berkelahi yang sama sekali tidak rendah! Melihat Joko Wandiro hanya jatuh terduduk saja oleh pukulannya tadi, anak perempuan itu marah-marah,
"Kau masih belum rebah mampus?" teriaknya dan kini dengan gerakan yang benar-benar dahsyat dan cepat dia telah menendang ke arah muka Joko Wandiro yang masih terheran-heran. Akan tetapi kali ini Joko Wandiro tidak berani berlaku lengah. Cepat ia mengelak dan meloncat bangun.
"Wah, kau ini bocah setan begini galak dan keji!"

Joko Wandiro berseru karena anak itu sudah menerjangnya lagi kalang-kabut. Sebuah pukulan secara aneh sekali telah bersarang di perutnya membuat ia terhuyung ke belakang. Hebat dan cepat gerakan anak perempuan itu. Kalau ia tadi menangkis lalu membalas tentu ia akan dapat mendahului, akan tetapi karena Joko Wandiro tidak mau menyerang anak perempuan, maka ia lagi-lagi terkena pukulan. Perutnya menjadi mulas dan ia mulai marah.
"Kau ini bukan bocah perempuan, kau seperti kucing mabok!" katanya dan menangkis kuat-kuat, bahkan balas menampar ke arah pipi anak itu. Anak itu mengelak sambil meloncat mundur, kedua pipinya yang tadi terkena tamparan itu menjadi merah sekali,
"Apa kau bilang?" Telunjuknya yang kecil menuding ke arah hidung Joko Wandiro, seperti hendak menusuk lubang hidungnya.
"Aku kucing? Kalau begitu kau monyet! Kau celeng goteng! Kau kirik (anak anjing) bungkik!"
"Wah-wah, galak dan tukang maki. Kau ini bocah manakah sih begini kurang ajar? Hayo pergi, kalau tidak tentu kutempiling kau!" Joko Wandiro marah, melangkah maju dan mengancam dengan kedua tangan terkepal.

<<< Bagian 042                                                                                   Bagian 044 >>>

No comments:

Post a Comment