"Kau berani menempiling aku? Coba! Hayo coba! Dua kali sudah kuhantam engkau, yang ketiga kalinya tentu kau takkan dapat bangun lagi!"
Anak perempuan
itu memekik dan menyerang lagi lebih dahsyat daripada tadi. Joko Wandiro yang
sudah marah dan penasaran, menangkis dan balas menyerang. Alangkah kaget dan
herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gerakan anak perempuan ini sama
dengan gerakan-gerakannya!
Sementara itu
Kartikosari merupakan lawan yang kuat bagi Cekel Aksomolo. Biarpun kakek itu
memiliki tasbih mujijat, namun Kartikosari dapat menghadapinya dengan baik.
Kedua tangan wanita ini ampuh sekali, apalagi dibantu dengan
tendangan-tendangan kaki yang tak terduga-duga. Setelah serangan-serangannya
gagal dan ia mendapat kenyataan bahwa kakek bongkok itu tidaklah selemah yang
ia kira semula, Kartikosari mencabut sebatang keris kecil dari pinggangnya dan
kini dengan keris di tangan kanan untuk menyerang, tangan kirinya berusaha
mencengkeram dan merampas tasbih. Kagetlah Cekel Aksomolo. Tak disangkanya
wanita muda yang cantik jelita ini demikian perkasa. Dan ketika ada dua sinar
golok menyambar sebagai tanda bahwa Ki Tejoranu sudah maju pula mengeroyoknya,
diam-diam Cekel Aksomolo mengeluh. Menghadapi wanita cantik ini saja ia sudah
repot dan andaikata dapat menang juga akan makan waktu lama, apalagi sekarang
ditambah sepasang golok Ki Tejoranu yang cukup ampuh, bisa-bisa ia mati konyol!
Maka ia tiba-tiba membunyikan tasbihnya dan menyerang hebat. Ki Tejoranu yang
sudah terluka hebat itu cepat meloncat mundur dan Kartikosari juga kaget dan
cepat mundur memasang kuda-kuda. Saat itu dipergunakan oleh Cekel Aksomolo
untuk mencelat ke belakang dan melarikan diri. Ki Tejoranu cepat maju dan
memberi hormat kepada Kartikosari, berkata kagum,
"Nona
yang gagah pelkasa telah menolong saya olang tua yang tiada guna, sungguh
melupakan budi besal."
Akan tetapi
Kartikosari tidak menjawab karena perhatiannya tertarik oleh gerakan-gerakan di
belakangnya. Ketika ia menoleh, ia melihat dua orang anak itu masih saling
serang dengan gerakan cepat. Ia tertegun sejenak, kagum menyaksikan gerakan
mereka yang jelas sealiran. Akan tetapi iapun dapat melihat bahwa anak
perempuan itu yang lebih banyak menyerang, sedangkan anak laki-laki itu lebih
banyak mengalah, menangkis dan mengelak.
"Endang!
Berhenti, jangan pukul orang!"
Suaranya merdu
akan tetapi berpengaruh karena anak perempuan itu meloncat mundur, mencibirkan
bibir bawah yang merah kepada Joko Wandiro sambil berkata perlahan,
"Untung
kau, ibu melarang, kalau tidak .... hemmm ..... !"
Joko Wandiro
mendongkol, akan tetapi lega hatinya karena tidak harus melayani anak perempuan
liar dan galak ini. Ia menengok dan memandang wanita itu penuh kagum.
Kartikosari sudah menghadapi Ki Tejoranu lagi sambil mengeluarkan pertanyaan
halus,
"Kau
terluka, paman?"
Ki Tejoranu
menoleh ke arah pundak kirinya. Ia tadi sudah merobek baju di sebelah kiri dan
tahu bahwa pundaknya terluka biji tasbih yang berbisa sehingga pundaknya
memperlihatkan luka menghitam.
"Ah, telkena
senjata ganitli yang belbisa. Kakek itu benal jahat."
Kartikosari
agak geli hatinya mendengar omongan yang pelo itu, dan ia dapat menduga bahwa
kakek ini tentulah seorang asing.
"Syukur
kalau kau dapat mengobatinya sendiri, kalau tidak, saya mempunyai obat widosari
(semacam boreh) yang baik untuk memusnahkan bisa."
"Telima
kasih. Tidak usah, bisanya tidak amat jahat, tidak sejahat Cekel
Aksomolo."
"Ah, dia
Cekel Aksomolo? Pantas begitu sakti. Nah, paman, harap kautinggalkan kami dan
kuharap kau tidak usah sebut-sebut kehadiranku di sini."
Ki Tejoranu
memandang penuh perhatian, lalu mengangguk-angguk.
"Nona
telah menolong, saya tidak akan lupa."
Kemudian ia
melangkah menghampiri Joko Wandiro dan mengangguk-angguk pula memberi hormat.
"Saudala
kecil amat gagah calon ksatlia, kelak kita beltemu lagi. Selamat ... selamat
.... !" pergilah kakek itu dengan gerakan cepat sekali.
Kartikosari
membalikkan tubuh memandang Joko Wandiro yang juga memandangnya dengan matanya
yang tajam.
"Eh,
bocah, siapa namamu dan mengapa kau bertanding melawan anakku? Kau tadi tahu
betapa aku telah menolongmu, mengapa kau membalas pertolongan orang dengan cara
demikian?"
Joko Wandiro
menundukkan mukanya, tak kuasa menentang kilatan sinar mata wanita itu, lalu
menguatkan hati karena merasa tidak bersalah, memandang lagi dan menjawab,
"Bibi
yang baik, nama saya Joko Wandiro. Saya sama sekali tidak mengajak berkelahi
boc .. eh, adik ini, melainkan saya hanya membela diri karena diserang
kalang-kabut. Selain itu, tadi saya tidak tahu bahwa dia.... dia anak bibi.
Maafkan, bibi."
Senang hati
Kartikosari melihat anak tampan dan bertubuh tegap ini bicara secara jujur dan
pandai membawa diri pula. Ia mengangguk-angguk dan berkata,
"Gerakanmu
bertanding tadi, dari siapa kau belajar?"
Kartikosari
setengah menduga bahwa anak ini kalau bukan murid Pujo tentulah murid ayahnya,
Resi Bhargowo. Akan tetapi alangkah herannya ketika ia mendengar jawaban yang
tegas,
"Dari
ayah saya."
"Ayahmu.......?
Siapakah nama ayahmu?"
"Namanya
Pujo."
Berdegup jantung
dalam dada Kartikosari. Lalu ia melirik ke arah puterinya,
membanding-bandingkan. Anak laki -laki ini jelas lebih tua daripada anaknya.
Akan tetapi ia masih belum puas.
"Berapa
usiamu sekarang?"
"Kata
ayah usia saya dua belas tahun, bibi."
"Hemm,
kalau begitu tak mungkin Pujo beristeri lagi dan mempunyai anak ini,"
pikir Kartikosari agak lega.
Akan tetapi
mengapa Pujo bisa memiliki putera yang lebih tua daripada anaknya?
"Siapakah
ibumu?"
Joko Wandiro
menggigit bibir, menekan perasaannya yang sakit, lalu menggeleng kepala.
"Saya
saya tidak tahu, bibi, mungkin sudah tidak ada di dunia ini ..... "
"Oohhhh
...... di mana dia sekarang ? "
"Siapa,
bibi?"
"Pujo
itu, di mana dia?"
"Ayah?"
"Hemm,
ya. Di mana dia?"
"Bibi
mengenal ayah?" Joko Wandiro girang.
"Mengenal
Pujo?" Kartikosari mengulang pertanyaan ini.
Bibirnya
tersenyum akan tetapi hatinya serasa diremas-remas. Dia mengenal Pujo? Sungguh
pertanyaan yang menggelikan, tapi juga menyedihkan.
"Tentu
saja. Di mana dia sekarang?"
"Ayah
sejak dahulu tinggal di muara Sungai Lorog, bibi."
Mendengar ini
Kartikosari serentak timbul niat di hatinya untuk menjumpai suaminya. Sudah
lama sekali ia merindukan suaminya yang tercinta. Sekarangpun ia baru saja
meninggalkan Karangracuk di pantai selatan untuk melakukan balas dendam, untuk
mencari Wisangjiwo dan mencari suaminya. Ia menyimpan dendamnya sampai sepuluh
tahun adalah karena ia ingin memperdalam ilmunya dan di samping itu, iapun
tidak dapat meninggalkan Endang Patibroto yang masih kecil. Kini anaknya sudah
berusia sepuluh tahun, sudah cukup besar dan kuat diajak melakukan perjalanan
jauh. Siapa kira, suaminya itu berada di muara Sungai Lorog, di pantai Laut
Selatan pula yang tidak berapa jauhnya dari tempat tinggalnya sendiri. Apalagi
kalau melakukan perjalanan dari Karangracuk terus menyusuri sepanjang pantai
Laut Selatan menuju ke timur, dengan ilmu lari cepat agaknya dalam waktu dua
hari saja paling lama tentu akan sampai!.
"Endang,
kau kembalilah ke pantai bersama anak ini. Ibumu akan pergi selama sepekan.
Kalian berdua tunggu kembaliku di pantai dan jangan berkelahi lagi!"
Setelah
berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah Kartikosari dari depan kedua anak
itu. Joko Wandiro masih termenung karena kagum melihat gerakan yang luar biasa
cepatnya itu dan ia kaget ketika tiba-tiba punggungnya disodok siku dari
belakang. Ia menoleh dan ternyata yang menyikunya adalah anak perempuan tadi!
Anak itu memandangnya, penuh tantangan.
"Mau apa
kau?" Ia menegur marah.
Anak perempuan
itu menjelajahi tubuhnya dari kaki ke kepala dengan pandang mata menilai, lalu
berkata,
"Sekarang
ibuku telah pergi. Hayo kita lanjutkan adu tebalnya kulit kerasnya
tulang!"
Mau tak mau
Joko Wandiro tersenyum. Anak perempuan ini memang luar biasa sekali dan ia
tidak bisa mengharapkan lain dari anak seorang wanita sakti seperti tadi. Anak
ini agaknya dimanja dan tak pernah mau kalah, pikirnya. Ia maklum bahwa kalau
ia bersungguh-sungguh, biarpun tidak mudah namun ia pasti akan dapat menangkan
anak perempuan ini. Akan tetapi anak ini adalah anak wanita cantik tadi yang
telah menolong nyawanya, bagaimana ia dapat menjadi lawan? Kalau sampai
kesalahan pukul, bukankah ibunya akan marah kalau pulang nanti? Dan pula, ia
tidak tega untuk memukul kulit yang kelihatannya halus tipis itu.
"Eh,
ditantang berkelahi kok malah mesam-mesem (senyum-senyum)! Hayo, kalau kau
memang laki-laki gagah. Kalau bisa kalahkan Endang Patibroto barulah kau
benar-benar perkasa!"
Anak perempuan
itu berdiri memasang kuda-kuda, menggerak-gerakkan kedua tangannya yang
jari-jarinya dibuka seperti kuku burung elang. Terdengar bunyi angina perlahan
bercuitan dari jari-jari ini dan diam-diam Joko Wandiro terkejut. Itulah ilmu
pukulan yang luar biasa ampuhnya! Mengapa tadi anak itu tidak mengeluarkan ilmu
pukulan ini? Dia merasa ragu-ragu apakah akan mampu menghadapi tangan yang
telah memiliki tenaga sakti seperti itu. Tentu saja ia tidak tahu bahwa karena
tidak mau kalah, Endang Patibroto ini sengaja memperlihatkan ilmu simpanan yang
ia pelajari dari ibunya. Ilmu ini adalah ciptaan ibunya sendiri yang mengambil
inti gerakan burung-burung walet dan elang laut. Ibunya telah mengancamnya agar
jangan menggunakan ilmu ini karena selain belum sempurna dipelajari, juga ilmu
ini hanya boleh digunakan kalau keadaan betul-betul mendesak. Kini ibunya tidak
ada maka timbul keberaniannya untuk memamerkan di depan Joko Wandiro!
"Sudahlah,
aku terima kalah. Ibumu begitu baik menolongku, mengapa engkau begini
galak?"
Setelah
berkata demikian, Joko Wandiro membalikkan tubuhnya lalu duduk di atas sebuah
batu hitam besar di bawah pohon asem. Di dekat kakinya banyak terdapat
buah-buah asem yang rontok, buahnya sudah matang. Dipilihnya beberapa biji dan
dikupasnya perlahan, lalu dimakannya daging asem yang matang berwarna merah
kehitaman itu. Rasanya masam-masam manis. Rasa masam membuat kedua pelupuk
matanya bergetar dan melihat ini, Endang Patibroto tak dapat menahan lagi air
liurnya. Menyaksikan orang makan yang asam-masam memang bisa membikin mulut
kemecer (mengeluarkan liur)! Joko Wandiro melihat betapa anak perempuan itu
beberapa kali menelan ludah, tersenyum dan memilih beberapa buah asem matang,
mengangsurkannya kepada Endang Patibroto.
"Enak
yang kemampo (setengah matang) begini!"
Endang
Patibroto masih memasang kuda-kuda. Melihat betapa orang yang ditantangnya
tidak menyambut tantangannya malah menawarkan buah asem kemampo ia tertegun.
Selama ini tidak banyak ia bergaul dengan orang lain. Ibunya melarangnya. Buah
asempun belum pernah ia memakannya, kecuali buah asem yang dipergunakan ibunya
membumbui ikan, itupun dimakan sebagai bumbu. Sikap dan senyum Joko Wandiro
membuat ia kehilangan semangat bertempur, dan akhirnya ia menerima pemberian
itu, duduk agak menjauhi dan mulai makan buah asem. Memang enak masam-masam
manis. Akan tetapi rasa masam membuat kedua matanya kiyer-kiyer (tergetar
setengah terpejam).
"lihhh,
kecut sekali !" katanya.
Joko Wandiro
tertawa karena lucu sekali melihat anak itu terkiyer-kiyer seperti itu. Endang
Patibroto juga tertawa dan lenyaplah semua sisa rasa permusuhan dari dalam dada
Endang.
"Namamu
siapa?" tanya Endang sambil mengelamuti buah asem, matanya ketap-ketip
menatap wajah Joko, mata yang seperti bintang.
"Namaku
Joko Wandiro, dan kau?"
"Endang
Patibroto "
"Wah,
namamu bagus, terutama Patibroto itu...... "
"Dan
namamu buruk, lebih-lebih Wandiro itu!"
Keduanya
terdiam, hanya saling pandang. Karena keduanya sejak kecil jarang bergaul
dengan anak-anak berbeda kelamin, pernah melihatpun dalam kelompok banyak, maka
kini mereka saling berhadapan merupakan pengalaman pertama dan keduanya merasa
seakan-akan menghadapi sesuatu yang aneh dan membutuhkan perhatian.
Setelah kini
Endang Patibroto tidak marah lagi, wajahnya tampak manis dan menyenangkan
sekali bagi Joko Wandiro.
No comments:
Post a Comment