Badai Laut Selatan ; Bagian 044


"Kau berani menempiling aku? Coba! Hayo coba! Dua kali sudah kuhantam engkau, yang ketiga kalinya tentu kau takkan dapat bangun lagi!"
Anak perempuan itu memekik dan menyerang lagi lebih dahsyat daripada tadi. Joko Wandiro yang sudah marah dan penasaran, menangkis dan balas menyerang. Alangkah kaget dan herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gerakan anak perempuan ini sama dengan gerakan-gerakannya!

Sementara itu Kartikosari merupakan lawan yang kuat bagi Cekel Aksomolo. Biarpun kakek itu memiliki tasbih mujijat, namun Kartikosari dapat menghadapinya dengan baik. Kedua tangan wanita ini ampuh sekali, apalagi dibantu dengan tendangan-tendangan kaki yang tak terduga-duga. Setelah serangan-serangannya gagal dan ia mendapat kenyataan bahwa kakek bongkok itu tidaklah selemah yang ia kira semula, Kartikosari mencabut sebatang keris kecil dari pinggangnya dan kini dengan keris di tangan kanan untuk menyerang, tangan kirinya berusaha mencengkeram dan merampas tasbih. Kagetlah Cekel Aksomolo. Tak disangkanya wanita muda yang cantik jelita ini demikian perkasa. Dan ketika ada dua sinar golok menyambar sebagai tanda bahwa Ki Tejoranu sudah maju pula mengeroyoknya, diam-diam Cekel Aksomolo mengeluh. Menghadapi wanita cantik ini saja ia sudah repot dan andaikata dapat menang juga akan makan waktu lama, apalagi sekarang ditambah sepasang golok Ki Tejoranu yang cukup ampuh, bisa-bisa ia mati konyol! Maka ia tiba-tiba membunyikan tasbihnya dan menyerang hebat. Ki Tejoranu yang sudah terluka hebat itu cepat meloncat mundur dan Kartikosari juga kaget dan cepat mundur memasang kuda-kuda. Saat itu dipergunakan oleh Cekel Aksomolo untuk mencelat ke belakang dan melarikan diri. Ki Tejoranu cepat maju dan memberi hormat kepada Kartikosari, berkata kagum,
"Nona yang gagah pelkasa telah menolong saya olang tua yang tiada guna, sungguh melupakan budi besal."
Akan tetapi Kartikosari tidak menjawab karena perhatiannya tertarik oleh gerakan-gerakan di belakangnya. Ketika ia menoleh, ia melihat dua orang anak itu masih saling serang dengan gerakan cepat. Ia tertegun sejenak, kagum menyaksikan gerakan mereka yang jelas sealiran. Akan tetapi iapun dapat melihat bahwa anak perempuan itu yang lebih banyak menyerang, sedangkan anak laki-laki itu lebih banyak mengalah, menangkis dan mengelak.
"Endang! Berhenti, jangan pukul orang!"
Suaranya merdu akan tetapi berpengaruh karena anak perempuan itu meloncat mundur, mencibirkan bibir bawah yang merah kepada Joko Wandiro sambil berkata perlahan,
"Untung kau, ibu melarang, kalau tidak .... hemmm ..... !"
Joko Wandiro mendongkol, akan tetapi lega hatinya karena tidak harus melayani anak perempuan liar dan galak ini. Ia menengok dan memandang wanita itu penuh kagum. Kartikosari sudah menghadapi Ki Tejoranu lagi sambil mengeluarkan pertanyaan halus,
"Kau terluka, paman?"
Ki Tejoranu menoleh ke arah pundak kirinya. Ia tadi sudah merobek baju di sebelah kiri dan tahu bahwa pundaknya terluka biji tasbih yang berbisa sehingga pundaknya memperlihatkan luka menghitam.
"Ah, telkena senjata ganitli yang belbisa. Kakek itu benal jahat."
Kartikosari agak geli hatinya mendengar omongan yang pelo itu, dan ia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang asing.
"Syukur kalau kau dapat mengobatinya sendiri, kalau tidak, saya mempunyai obat widosari (semacam boreh) yang baik untuk memusnahkan bisa."
"Telima kasih. Tidak usah, bisanya tidak amat jahat, tidak sejahat Cekel Aksomolo."
"Ah, dia Cekel Aksomolo? Pantas begitu sakti. Nah, paman, harap kautinggalkan kami dan kuharap kau tidak usah sebut-sebut kehadiranku di sini."
Ki Tejoranu memandang penuh perhatian, lalu mengangguk-angguk.
"Nona telah menolong, saya tidak akan lupa."
Kemudian ia melangkah menghampiri Joko Wandiro dan mengangguk-angguk pula memberi hormat.
"Saudala kecil amat gagah calon ksatlia, kelak kita beltemu lagi. Selamat ... selamat .... !" pergilah kakek itu dengan gerakan cepat sekali.

Kartikosari membalikkan tubuh memandang Joko Wandiro yang juga memandangnya dengan matanya yang tajam.
"Eh, bocah, siapa namamu dan mengapa kau bertanding melawan anakku? Kau tadi tahu betapa aku telah menolongmu, mengapa kau membalas pertolongan orang dengan cara demikian?"
Joko Wandiro menundukkan mukanya, tak kuasa menentang kilatan sinar mata wanita itu, lalu menguatkan hati karena merasa tidak bersalah, memandang lagi dan menjawab,
"Bibi yang baik, nama saya Joko Wandiro. Saya sama sekali tidak mengajak berkelahi boc .. eh, adik ini, melainkan saya hanya membela diri karena diserang kalang-kabut. Selain itu, tadi saya tidak tahu bahwa dia.... dia anak bibi. Maafkan, bibi."
Senang hati Kartikosari melihat anak tampan dan bertubuh tegap ini bicara secara jujur dan pandai membawa diri pula. Ia mengangguk-angguk dan berkata,
"Gerakanmu bertanding tadi, dari siapa kau belajar?"
Kartikosari setengah menduga bahwa anak ini kalau bukan murid Pujo tentulah murid ayahnya, Resi Bhargowo. Akan tetapi alangkah herannya ketika ia mendengar jawaban yang tegas,
"Dari ayah saya."
"Ayahmu.......? Siapakah nama ayahmu?"
"Namanya Pujo."
Berdegup jantung dalam dada Kartikosari. Lalu ia melirik ke arah puterinya, membanding-bandingkan. Anak laki -laki ini jelas lebih tua daripada anaknya. Akan tetapi ia masih belum puas.
"Berapa usiamu sekarang?"
"Kata ayah usia saya dua belas tahun, bibi."
"Hemm, kalau begitu tak mungkin Pujo beristeri lagi dan mempunyai anak ini," pikir Kartikosari agak lega.
Akan tetapi mengapa Pujo bisa memiliki putera yang lebih tua daripada anaknya?
"Siapakah ibumu?"
Joko Wandiro menggigit bibir, menekan perasaannya yang sakit, lalu menggeleng kepala.
"Saya saya tidak tahu, bibi, mungkin sudah tidak ada di dunia ini ..... "
"Oohhhh ...... di mana dia sekarang ? "
"Siapa, bibi?"
"Pujo itu, di mana dia?"
"Ayah?"
"Hemm, ya. Di mana dia?"
"Bibi mengenal ayah?" Joko Wandiro girang.
"Mengenal Pujo?" Kartikosari mengulang pertanyaan ini.
Bibirnya tersenyum akan tetapi hatinya serasa diremas-remas. Dia mengenal Pujo? Sungguh pertanyaan yang menggelikan, tapi juga menyedihkan.
"Tentu saja. Di mana dia sekarang?"
"Ayah sejak dahulu tinggal di muara Sungai Lorog, bibi."

Mendengar ini Kartikosari serentak timbul niat di hatinya untuk menjumpai suaminya. Sudah lama sekali ia merindukan suaminya yang tercinta. Sekarangpun ia baru saja meninggalkan Karangracuk di pantai selatan untuk melakukan balas dendam, untuk mencari Wisangjiwo dan mencari suaminya. Ia menyimpan dendamnya sampai sepuluh tahun adalah karena ia ingin memperdalam ilmunya dan di samping itu, iapun tidak dapat meninggalkan Endang Patibroto yang masih kecil. Kini anaknya sudah berusia sepuluh tahun, sudah cukup besar dan kuat diajak melakukan perjalanan jauh. Siapa kira, suaminya itu berada di muara Sungai Lorog, di pantai Laut Selatan pula yang tidak berapa jauhnya dari tempat tinggalnya sendiri. Apalagi kalau melakukan perjalanan dari Karangracuk terus menyusuri sepanjang pantai Laut Selatan menuju ke timur, dengan ilmu lari cepat agaknya dalam waktu dua hari saja paling lama tentu akan sampai!.
"Endang, kau kembalilah ke pantai bersama anak ini. Ibumu akan pergi selama sepekan. Kalian berdua tunggu kembaliku di pantai dan jangan berkelahi lagi!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat lenyaplah Kartikosari dari depan kedua anak itu. Joko Wandiro masih termenung karena kagum melihat gerakan yang luar biasa cepatnya itu dan ia kaget ketika tiba-tiba punggungnya disodok siku dari belakang. Ia menoleh dan ternyata yang menyikunya adalah anak perempuan tadi! Anak itu memandangnya, penuh tantangan.
"Mau apa kau?" Ia menegur marah.
Anak perempuan itu menjelajahi tubuhnya dari kaki ke kepala dengan pandang mata menilai, lalu berkata,
"Sekarang ibuku telah pergi. Hayo kita lanjutkan adu tebalnya kulit kerasnya tulang!"

Mau tak mau Joko Wandiro tersenyum. Anak perempuan ini memang luar biasa sekali dan ia tidak bisa mengharapkan lain dari anak seorang wanita sakti seperti tadi. Anak ini agaknya dimanja dan tak pernah mau kalah, pikirnya. Ia maklum bahwa kalau ia bersungguh-sungguh, biarpun tidak mudah namun ia pasti akan dapat menangkan anak perempuan ini. Akan tetapi anak ini adalah anak wanita cantik tadi yang telah menolong nyawanya, bagaimana ia dapat menjadi lawan? Kalau sampai kesalahan pukul, bukankah ibunya akan marah kalau pulang nanti? Dan pula, ia tidak tega untuk memukul kulit yang kelihatannya halus tipis itu.
"Eh, ditantang berkelahi kok malah mesam-mesem (senyum-senyum)! Hayo, kalau kau memang laki-laki gagah. Kalau bisa kalahkan Endang Patibroto barulah kau benar-benar perkasa!"
Anak perempuan itu berdiri memasang kuda-kuda, menggerak-gerakkan kedua tangannya yang jari-jarinya dibuka seperti kuku burung elang. Terdengar bunyi angina perlahan bercuitan dari jari-jari ini dan diam-diam Joko Wandiro terkejut. Itulah ilmu pukulan yang luar biasa ampuhnya! Mengapa tadi anak itu tidak mengeluarkan ilmu pukulan ini? Dia merasa ragu-ragu apakah akan mampu menghadapi tangan yang telah memiliki tenaga sakti seperti itu. Tentu saja ia tidak tahu bahwa karena tidak mau kalah, Endang Patibroto ini sengaja memperlihatkan ilmu simpanan yang ia pelajari dari ibunya. Ilmu ini adalah ciptaan ibunya sendiri yang mengambil inti gerakan burung-burung walet dan elang laut. Ibunya telah mengancamnya agar jangan menggunakan ilmu ini karena selain belum sempurna dipelajari, juga ilmu ini hanya boleh digunakan kalau keadaan betul-betul mendesak. Kini ibunya tidak ada maka timbul keberaniannya untuk memamerkan di depan Joko Wandiro!
"Sudahlah, aku terima kalah. Ibumu begitu baik menolongku, mengapa engkau begini galak?"

Setelah berkata demikian, Joko Wandiro membalikkan tubuhnya lalu duduk di atas sebuah batu hitam besar di bawah pohon asem. Di dekat kakinya banyak terdapat buah-buah asem yang rontok, buahnya sudah matang. Dipilihnya beberapa biji dan dikupasnya perlahan, lalu dimakannya daging asem yang matang berwarna merah kehitaman itu. Rasanya masam-masam manis. Rasa masam membuat kedua pelupuk matanya bergetar dan melihat ini, Endang Patibroto tak dapat menahan lagi air liurnya. Menyaksikan orang makan yang asam-masam memang bisa membikin mulut kemecer (mengeluarkan liur)! Joko Wandiro melihat betapa anak perempuan itu beberapa kali menelan ludah, tersenyum dan memilih beberapa buah asem matang, mengangsurkannya kepada Endang Patibroto.
"Enak yang kemampo (setengah matang) begini!"
Endang Patibroto masih memasang kuda-kuda. Melihat betapa orang yang ditantangnya tidak menyambut tantangannya malah menawarkan buah asem kemampo ia tertegun. Selama ini tidak banyak ia bergaul dengan orang lain. Ibunya melarangnya. Buah asempun belum pernah ia memakannya, kecuali buah asem yang dipergunakan ibunya membumbui ikan, itupun dimakan sebagai bumbu. Sikap dan senyum Joko Wandiro membuat ia kehilangan semangat bertempur, dan akhirnya ia menerima pemberian itu, duduk agak menjauhi dan mulai makan buah asem. Memang enak masam-masam manis. Akan tetapi rasa masam membuat kedua matanya kiyer-kiyer (tergetar setengah terpejam).
"lihhh, kecut sekali !" katanya.
Joko Wandiro tertawa karena lucu sekali melihat anak itu terkiyer-kiyer seperti itu. Endang Patibroto juga tertawa dan lenyaplah semua sisa rasa permusuhan dari dalam dada Endang.
"Namamu siapa?" tanya Endang sambil mengelamuti buah asem, matanya ketap-ketip menatap wajah Joko, mata yang seperti bintang.
"Namaku Joko Wandiro, dan kau?"
"Endang Patibroto "
"Wah, namamu bagus, terutama Patibroto itu...... "
"Dan namamu buruk, lebih-lebih Wandiro itu!"

Keduanya terdiam, hanya saling pandang. Karena keduanya sejak kecil jarang bergaul dengan anak-anak berbeda kelamin, pernah melihatpun dalam kelompok banyak, maka kini mereka saling berhadapan merupakan pengalaman pertama dan keduanya merasa seakan-akan menghadapi sesuatu yang aneh dan membutuhkan perhatian.
Setelah kini Endang Patibroto tidak marah lagi, wajahnya tampak manis dan menyenangkan sekali bagi Joko Wandiro.

<<< Bagian 043                                                                                    Bagian 045 >>>

No comments:

Post a Comment