Badai Laut Selatan ; Bagian 045


Terutama sepasang mata yang lebar seperti bintang itu. Melihat gadis cilik itu duduknya mendeprok di atas rumput, Joko Wandiro menepuk-nepuk batu hitam di sebelahnya dan berkata,
"Endang, marilah duduk di sini, enak duduk di sini."
Endang Patibroto menggeleng-geleng kepala.
"Di sini lebih enak!"
Wandiro menahan senyum. Anak ini benar-benar keras kepala. Rumput itu agak basah dan kotor, bagaimana enak diduduki?
"Mungkin lebih enak, akan tetapi hati-hati, kalau ada ulat berbulu dan semut api menggigit kakimu!"
Seketika Endang melompat bangun dan menggerak-gerakkan kedua pundaknya karena ngeri dan jijik, lalu berjalan perlahan menghampiri Wandiro, duduk di atas batu.
"Kau bilang tadi ibumu sudah tiada .... ? "
Joko Wandiro mengangguk sunyi, matanya redup dan keningnya agak berkerut. Melihat ini, Endang Patibroto cepat-cepat menyambung,
"Ibuku masih ada, akan tetapi ayahku-pun sudah tiada. Engkau tak beribu, aku tak berbapa, jadi sama nilainya. Kita sama-sama anak yatim."
Joko Wandiro mengangguk-angguk, wajahnya masih muram. Dalam hatinya ia membantah. Kau mana tahu, pikirnya. Kehilangan ibu bukanlah suatu hal yang amat menyakitkan hati, akan tetapi mendengar ibu diperkosa orang!
"Joko, kenapa kau diam saja? Seperti arca!"
Teguran disertai sentuhan pada lengannya ini menyadarkan Joko Wandiro. Ia menoleh dan melihat anak perempuan itu tersenyum. Akibatnya luar biasa sekali. Seketika lenyap semua renungan buruk dan bagaikan terkena aliran aneh wajah Joko Wandiro juga murah cerah, tersenyum dan kemudian keduanya tertawa girang!
"Hayo kita berangkat!"
"Berangkat? Ke mana?"
"Ihh, bagaimana sih engkau ini? Bukankah tadi ibu berpesan agar kita kembali ke pantai, ke pondok kami dan menanti ibu di sana selama sepekan? Marilah!"
Joko Wandiro menggeleng kepala.
"Tidak, aku harus lekas pulang. Ayah akan mencari-cari dan menanti-nantiku."
"Eh, mengapa begitu? Kau dengar tadi. Ibuku sedang pergi mencari ayahmu, tentu ibuku akan memberi tahu bahwa engkau berada di sini bersamaku."
"Mengapa ibumu mencari ayahku?"
"Siapa tahu?" Tiba-tiba gadis cilik itu tertawa geli, matanya yang lebar memancarkan sinar berseri dan ia berkata,
"Siapa tahu, ayahmu dan ibuku itu sahabat-sahabat baik dan ...... eh , kalau saja mereka bersatu"
"Hah ..... ??" Joko Wandiro terbelalak heran dan kaget, tidak segera dapat menangkap maksud kata-kata yang tersendat-sendat itu.
"Ibuku menjadi ibumu, ayahmu menjadi ayahku. Bukankah itu baik sekali? Kau mendapatkan ibu baru, aku mendapatkan ayah baru, dan kita menjadi kakak- beradik!"
Serentak gadis cilik itu menari-nari kegirangan, berjingkrak-jingkrak dan berputaran amatlah lincahnya. Joko Wandiro tertegun dan termenung. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dalam hati ia tidak setuju, akan tetapi menyaksikan kegembiraan gadis cilik ini, ia tidak tega untuk membantahnya.
"Hayo kita berangkat ke pantai!" akhirnya Endang mengajaknya.
Dia menggeleng kepala. "Kurasa lebih baik aku pulang sekarang."
Endang Patibroto cemberut dan membanting-banting kaki kirinya, merajuk.
"Apakah kau tidak mau menemaniku? Kau membiarkan aku sendirian pulang ke pantai yang sunyi dan jauh? Apakah kau tidak suka menjadi kakakku?"
Di dalam suara anak perempuan ini terkandung isak tertahan, terkandung rindu akan kasih sayang saudara yang tak pernah dirasainya, terkandung rasa rindu akan teman bermain yang tak pernah pula dirasainya. Joko Wandiro terharu, apalagi kalau mengingat betapa ibu gadis cilik ini telah menyelamatkannya daripada bahaya maut. Ia mengeraskan hati. Biarlah aku dimarahi ayah kalau perlu. Kasihan dia ini. Ia mengangguk dan berkata tegas,
"Baiklah. Kutemani kau sampai ibumu pulang."
Endang Patibroto bersorak, lalu menyambar tangan Joko Wandiro, ditariknya dan diajaknya lari menuju ke selatan, keluar dari dalam hutan itu. Joko Wandiro hanya tersenyum-senyum dan ia makin tertarik kepada gadis cilik yang amat lincah, galak, mudah marah dan mudah gembira, berwatak aneh ini. Akan tetapi tidak lama kedua orang anak ini berlari-lari sambil tertawa-tawa gembira. Belum juga habis hutan itu mereka tembusi, tiba-tiba mereka berhenti lari dan berdiri terbelalak kaget.

Di depan mereka menghadang lima orang laki-laki tinggi besar yang semua membawa golok di tangan, dengan sikap mengancam memandang mereka berdua. Mereka itu adalah lima orang perampok yang tiga hari yang lalu bersama Cekel Aksomolo. Mereka mengejar dan mencari jejak Ki Tejoranu yang menuju ke hutan ini, maka sampailah mereka ke dalam hutan ini. Sungguh tak mereka sangka bahwa yang mereka temukan bukanlah Ki Tejoranu yang mereka cari-cari, melainkan Joko Wandiro bocah yang pernah membuat mereka kalang-kabut. Tentu saja dapat dibayangkan kemarahan mereka melihat anak ini. Terutama sekali perampok bermata juling yang pernah jatuh bangun oleh Joko Wandiro. Kemarahannya memuncak dan hatinya girang bukan main melihat bocah ini sekarang berada di depannya.
"Hoh-hoh-hoh, keketulan sekali! Kelinci muda mendekati mulut harimau kelaparan! Hayo, anak setan, kau akan lari ke mana sekarang?" bentaknya, goloknya siap membacok.
"Uwah, Ki roko, cincang saja tubuhnya si bocah iblis!" seru perampok baju hitam di belakangnya.
"Hayo, kita bunuh dia, akan tetapi bocah ayu itu jangan dibunuh! Kuncup bunga yang belum mekar itu sayang kalau dibunuh, ha-ha-hah!" kata perampok ke tiga yang wajahnya pucat.
Melihat lagak para perampok yang tertawa-tawa dan air ludah mereka menyemprot-nyemprot itu, Endang Patibroto ketakutan. Benar ia seorang anak yang sejak kecil menerima gemblengan ibunya di pantai Laut Selatan, akan tetapi belum pernah ia bertemu dengan orang-orang yang begini buas dan berwajah menyeramkan. Para petani yang pernah ia temui berwajah sabar dan manis budi, tidak seperti binatang buas sikapnya. Rasa takut membuat ia cepat bersembunyi di belakang Joko Wandiro dan telapak tangannya dingin ketika ia memegang lengan temannya. Juga Joko Wandiro merasa terkejut, gelisah. Ia sendiri tidak takut menghadapi lima orang buas itu, akan tetapi sekarang ia bersama Endang Patibroto yang harus ia lindungi. Keringat dingin menitik turun dari dahinya ketika bocah pemberani ini mendorong temannya supaya mundur sambil membentak.
"Kalian berlima mau apakah? Di antara kalian dan aku tidak ada urusan apa-apa, apa kesalahanku sehingga kalian mengancam hendak membunuhku?"
"Ho-ho-ho-ha-ha-ha! Kau ketakutan sekarang, anak setan?"
Si juling tertawa mengejek dan mengangkat goloknya menakut-nakuti. Joko Wandiro siap waspada, memasang kuda-kuda dan menjawab,
"Aku tidak takut karena aku tidak bersalah apa-apa. Orang yang berbuat salah, dialah yang akan ketakutan selama hidupnya!" Ia meniru wejangan ayahnya.
"Huah-ha-ha, bocah sombong, bocah setan. Kematian sudah di depan mata, lekas kau berlutut minta ampun di depan kakiku!" Si juling mengancam lagi.
"Kalau aku bersalah, tanpa kaupaksa aku suka minta ampun. Akan tetapi apakah kesalahanku?"
"Kau berani membantah? Minta kucincang kepalamu?"

Golok itu diangkat tinggi-tinggi, mulutnya menyeringai lebar memperlihatkan gigi yang besar-besar dan kuning, matanya makin menjuling lagi sehingga seakan menjadi satu di pinggir hidung. Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan sesosok bayangan berkelebat dari belakang tubuh Joko Wandiro. Bayangan itu menubruk ke depan dan ......
"cesssss .. ! " sebuah cundrik (keris kecil) menancap di perut perampok mata juling itu. Cepat gerakan Endang Patibroto ini dan sama sekali tidak pernah tersangka oleh perampok mata juling, bahkan tidak tersangka oleh Joko Wandiro yang menjadi kaget sekali. Cepat pula Endang Patibroto mencelat ke belakang mencabut cundriknya dan "currrrr!!" darah merah muncrat-muncrat dari perut yang gendut.
" ....... apa ..... ? Aduhh ..... wah ...... !"
Si mata juling mendekap perutnya dengan tangan kiri, matanya sejenak terbelalak mengawasi darahnya yang mengucur melalui celah-celah jari tangannya, kemudian ia terbelalak memandang gadis cilik yang berdiri di samping Joko Wandiro dengan cundrik di tangan, cundrik yang merah ujungnya karena darah! Kini Endang Patibroto sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan sepasang matanya yang lebar itu nampak beringas dan liar.
"Endang ...... kau ........ kenapa kau lakukan itu ....... ?"
Joko Wandiro bertanya gagap. Dia sendiri juga seorang anak gemblengan, akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia melukai orang sampai darah bercucuran dari perutnya seperti itu, maka iapun merasa ngeri. Akan tetapi Endang Patibroto menjawab tegas,
"Dia mau membunuhmu, si keparat! Biar kubunuh mereka semua!"
Jawaban ini selain mengagetkan Joko Wandiro, juga membuat para perampok itu marah sekali. Bahkan perampok muka pucat yang tadi tertarik oleh kecantikan wajah gadis cilik ini, sekarang menjadi marah sekali.
"Bunuh mereka! Bunuh kedua setan cilik ini!"

Si mata juling yang lebih dulu mengamuk. Goloknya menyambar dan kini yang ia terjang bukannya Joko Wandiro, melainkan Endang Patibroto yang telah melukai perutnya. Namun gadis cilik yang masih kanak-kanak, baru berusia sepuluh tahun itu memiliki gerakan yang amat gesit sehingga bacokan golok si juling meluncur mengenai tanah. Ia terengah-engeh, mendengus-dengus dan mencari-cari. Ternyata anak perempuan itu sudah meloncat dua meter jauhnya di sebelah kiri. Ia menggereng dan menerjang lagi, kini goloknya ia obat-abitkan sekuat tenaga sehingga merupakan gulungan sinar yang menghalang anak itu meloncat.
Endang Patibroto sejak kecil belajar ilmu silat, akan tetapi ia masih belum ada pengalaman sama sekali, maka melihat golok itu berkelebat ke kanan kiri, ia menjadi bingung. Sambil melangkah maju ia nekat menangkis dengan cundriknya.
"Cringgg.. !" Cundrik itu terlepas dari tangannya, meluncur dan menancap ke atas tanah, tiga meter jauhnya.
"Heh-heh-heh, kucincang kepalamu, bocah keparat!" Si mata juling marah sekali, akan tetapi tiba-tiba tubuh Endang Patibroto sudah berkelebat ke depan, kemudian menggerakkan kedua tangannya seperti cakar burung. Dua tangannya dengan jari-jari mencengkeram persis kaki burung elang itu membuat gerakan ke arah lengan besar si mata juling yang memegang golok, kemudian mencengkeram, yang kiri bergerak mundur yang kanan maju.
"Kreeeeekkkkk!"
Si mata juling berteriak keras sekali, goloknya terlepas dan lengan kanannya itu robek berikut kulit dan dagingnya! Demikian hebatnya ilmu simpanan yang diajarkan oleh Kartikosari kepada puterinya itu. Baru anak kecil berusia sepuluh tahun saja dengan ilmu ini sudah dapat merobek kulit, daging, dan baju lengan seorang yang kuat seperti perampok mata juling! Sejenak perampok itu terbelalak, meringis kesakitan, lalu terhuyung-huyung mundur dengan muka ketakutan. Siapa yang takkan ngeri menghadapi bocah perempuan demikian kecilnya akan tetapi yang telah merobek perut dan lengannya? Apalagi darah yang terlalu banyak keluar membuat kepalanya pening dan pandang matanya berkunang. Akhirnya roboh terjerembab di bawah pohon.

Adapun empat orang perampok lain kini sudah menghujani Joko Wandiro dengan bacokan-bacokan golok. Mereka penasaran sekali karena sebegitu lama belum juga mereka mampu menyentuh anak itu dengan golok mereka. Memang mengagumkan sekali gerakan Joko Wandiro. Anak ini cerdik sekali dan maklum bahwa empat orang lawannya kuat-kuat pula memegang senjata tajam, ia tidak mau melawan dengan kekerasan, melainkan cepat menggunakan Aji Bayu Tantra, yaitu ilmu meringankan tubuh sambil berloncatan ke sana ke mari, mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara kilatan dan sambaran golok.
"Jangan takut, Joko, kubantu!" tiba- tiba terdengar teriakan Endang Patibroto yang sudah tidak punya lawan lagi. Gadis cilik ini berlari hendak mengambil cundriknya, akan tetapi melihat itu, dua orang perampok meninggalkan Joko Wandiro dan menerjang si gadis cilik. Sabetan pertama pada kepalanya dapat dielakkan oleh Endang Patibroto yang cepat membungkuk untuk mengambil cundriknya. Dalam keadaan membungkuk inilah perampok ke dua sudah menggerakkan golok hendak membacoknya!
"Endang, awas ...... !"
Saking khawatirnya melihat bahaya mengancam Endang, Joko Wandiro melesat meninggalkan kedua orang pengeroyoknya dan karena lompatannya ini dilakukan sambil mengerahkan Bayu Tantra, tubuhnya melayang dan tahu-tahu telah berada di atas tengkuk si muka pucat yang hendak membacok Endang. Dalam keadaan seperti itu, Joko Wandiro tidak ingat untuk menggunakan ilmu silat lagi, ia segera mencengkeram ke depan sambil berjongkok di atas tengkuk dan pundak dan begitu jari tangannya bertemu benda lunak di depan, terus ia mencengkeram dan menarik.

<<< Bagian 044                                                                                   Bagian 046 >>>

No comments:

Post a Comment