Terutama sepasang mata yang lebar seperti bintang itu. Melihat gadis cilik itu duduknya mendeprok di atas rumput, Joko Wandiro menepuk-nepuk batu hitam di sebelahnya dan berkata,
"Endang,
marilah duduk di sini, enak duduk di sini."
Endang
Patibroto menggeleng-geleng kepala.
"Di sini
lebih enak!"
Wandiro
menahan senyum. Anak ini benar-benar keras kepala. Rumput itu agak basah dan
kotor, bagaimana enak diduduki?
"Mungkin
lebih enak, akan tetapi hati-hati, kalau ada ulat berbulu dan semut api
menggigit kakimu!"
Seketika
Endang melompat bangun dan menggerak-gerakkan kedua pundaknya karena ngeri dan
jijik, lalu berjalan perlahan menghampiri Wandiro, duduk di atas batu.
"Kau
bilang tadi ibumu sudah tiada .... ? "
Joko Wandiro
mengangguk sunyi, matanya redup dan keningnya agak berkerut. Melihat ini,
Endang Patibroto cepat-cepat menyambung,
"Ibuku
masih ada, akan tetapi ayahku-pun sudah tiada. Engkau tak beribu, aku tak
berbapa, jadi sama nilainya. Kita sama-sama anak yatim."
Joko Wandiro
mengangguk-angguk, wajahnya masih muram. Dalam hatinya ia membantah. Kau mana
tahu, pikirnya. Kehilangan ibu bukanlah suatu hal yang amat menyakitkan hati,
akan tetapi mendengar ibu diperkosa orang!
"Joko,
kenapa kau diam saja? Seperti arca!"
Teguran
disertai sentuhan pada lengannya ini menyadarkan Joko Wandiro. Ia menoleh dan
melihat anak perempuan itu tersenyum. Akibatnya luar biasa sekali. Seketika
lenyap semua renungan buruk dan bagaikan terkena aliran aneh wajah Joko Wandiro
juga murah cerah, tersenyum dan kemudian keduanya tertawa girang!
"Hayo
kita berangkat!"
"Berangkat?
Ke mana?"
"Ihh,
bagaimana sih engkau ini? Bukankah tadi ibu berpesan agar kita kembali ke
pantai, ke pondok kami dan menanti ibu di sana selama sepekan? Marilah!"
Joko Wandiro menggeleng
kepala.
"Tidak,
aku harus lekas pulang. Ayah akan mencari-cari dan menanti-nantiku."
"Eh,
mengapa begitu? Kau dengar tadi. Ibuku sedang pergi mencari ayahmu, tentu ibuku
akan memberi tahu bahwa engkau berada di sini bersamaku."
"Mengapa
ibumu mencari ayahku?"
"Siapa
tahu?" Tiba-tiba gadis cilik itu tertawa geli, matanya yang lebar
memancarkan sinar berseri dan ia berkata,
"Siapa
tahu, ayahmu dan ibuku itu sahabat-sahabat baik dan ...... eh , kalau saja
mereka bersatu"
"Hah
..... ??" Joko Wandiro terbelalak heran dan kaget, tidak segera dapat
menangkap maksud kata-kata yang tersendat-sendat itu.
"Ibuku
menjadi ibumu, ayahmu menjadi ayahku. Bukankah itu baik sekali? Kau mendapatkan
ibu baru, aku mendapatkan ayah baru, dan kita menjadi kakak- beradik!"
Serentak gadis
cilik itu menari-nari kegirangan, berjingkrak-jingkrak dan berputaran amatlah
lincahnya. Joko Wandiro tertegun dan termenung. Ia menggeleng-gelengkan
kepalanya, dalam hati ia tidak setuju, akan tetapi menyaksikan kegembiraan
gadis cilik ini, ia tidak tega untuk membantahnya.
"Hayo
kita berangkat ke pantai!" akhirnya Endang mengajaknya.
Dia menggeleng
kepala. "Kurasa lebih baik aku pulang sekarang."
Endang
Patibroto cemberut dan membanting-banting kaki kirinya, merajuk.
"Apakah
kau tidak mau menemaniku? Kau membiarkan aku sendirian pulang ke pantai yang
sunyi dan jauh? Apakah kau tidak suka menjadi kakakku?"
Di dalam suara
anak perempuan ini terkandung isak tertahan, terkandung rindu akan kasih sayang
saudara yang tak pernah dirasainya, terkandung rasa rindu akan teman bermain
yang tak pernah pula dirasainya. Joko Wandiro terharu, apalagi kalau mengingat
betapa ibu gadis cilik ini telah menyelamatkannya daripada bahaya maut. Ia
mengeraskan hati. Biarlah aku dimarahi ayah kalau perlu. Kasihan dia ini. Ia
mengangguk dan berkata tegas,
"Baiklah.
Kutemani kau sampai ibumu pulang."
Endang
Patibroto bersorak, lalu menyambar tangan Joko Wandiro, ditariknya dan
diajaknya lari menuju ke selatan, keluar dari dalam hutan itu. Joko Wandiro
hanya tersenyum-senyum dan ia makin tertarik kepada gadis cilik yang amat
lincah, galak, mudah marah dan mudah gembira, berwatak aneh ini. Akan tetapi
tidak lama kedua orang anak ini berlari-lari sambil tertawa-tawa gembira. Belum
juga habis hutan itu mereka tembusi, tiba-tiba mereka berhenti lari dan berdiri
terbelalak kaget.
Di depan
mereka menghadang lima orang laki-laki tinggi besar yang semua membawa golok di
tangan, dengan sikap mengancam memandang mereka berdua. Mereka itu adalah lima
orang perampok yang tiga hari yang lalu bersama Cekel Aksomolo. Mereka mengejar
dan mencari jejak Ki Tejoranu yang menuju ke hutan ini, maka sampailah mereka
ke dalam hutan ini. Sungguh tak mereka sangka bahwa yang mereka temukan
bukanlah Ki Tejoranu yang mereka cari-cari, melainkan Joko Wandiro bocah yang
pernah membuat mereka kalang-kabut. Tentu saja dapat dibayangkan kemarahan
mereka melihat anak ini. Terutama sekali perampok bermata juling yang pernah
jatuh bangun oleh Joko Wandiro. Kemarahannya memuncak dan hatinya girang bukan main
melihat bocah ini sekarang berada di depannya.
"Hoh-hoh-hoh,
keketulan sekali! Kelinci muda mendekati mulut harimau kelaparan! Hayo, anak
setan, kau akan lari ke mana sekarang?" bentaknya, goloknya siap membacok.
"Uwah, Ki
roko, cincang saja tubuhnya si bocah iblis!" seru perampok baju hitam di
belakangnya.
"Hayo,
kita bunuh dia, akan tetapi bocah ayu itu jangan dibunuh! Kuncup bunga yang
belum mekar itu sayang kalau dibunuh, ha-ha-hah!" kata perampok ke tiga
yang wajahnya pucat.
Melihat lagak
para perampok yang tertawa-tawa dan air ludah mereka menyemprot-nyemprot itu,
Endang Patibroto ketakutan. Benar ia seorang anak yang sejak kecil menerima
gemblengan ibunya di pantai Laut Selatan, akan tetapi belum pernah ia bertemu
dengan orang-orang yang begini buas dan berwajah menyeramkan. Para petani yang
pernah ia temui berwajah sabar dan manis budi, tidak seperti binatang buas
sikapnya. Rasa takut membuat ia cepat bersembunyi di belakang Joko Wandiro dan
telapak tangannya dingin ketika ia memegang lengan temannya. Juga Joko Wandiro
merasa terkejut, gelisah. Ia sendiri tidak takut menghadapi lima orang buas
itu, akan tetapi sekarang ia bersama Endang Patibroto yang harus ia lindungi.
Keringat dingin menitik turun dari dahinya ketika bocah pemberani ini mendorong
temannya supaya mundur sambil membentak.
"Kalian
berlima mau apakah? Di antara kalian dan aku tidak ada urusan apa-apa, apa
kesalahanku sehingga kalian mengancam hendak membunuhku?"
"Ho-ho-ho-ha-ha-ha!
Kau ketakutan sekarang, anak setan?"
Si juling
tertawa mengejek dan mengangkat goloknya menakut-nakuti. Joko Wandiro siap
waspada, memasang kuda-kuda dan menjawab,
"Aku
tidak takut karena aku tidak bersalah apa-apa. Orang yang berbuat salah, dialah
yang akan ketakutan selama hidupnya!" Ia meniru wejangan ayahnya.
"Huah-ha-ha,
bocah sombong, bocah setan. Kematian sudah di depan mata, lekas kau berlutut
minta ampun di depan kakiku!" Si juling mengancam lagi.
"Kalau
aku bersalah, tanpa kaupaksa aku suka minta ampun. Akan tetapi apakah
kesalahanku?"
"Kau
berani membantah? Minta kucincang kepalamu?"
Golok itu
diangkat tinggi-tinggi, mulutnya menyeringai lebar memperlihatkan gigi yang
besar-besar dan kuning, matanya makin menjuling lagi sehingga seakan menjadi
satu di pinggir hidung. Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan sesosok bayangan
berkelebat dari belakang tubuh Joko Wandiro. Bayangan itu menubruk ke depan dan
......
"cesssss
.. ! " sebuah cundrik (keris kecil) menancap di perut perampok mata juling
itu. Cepat gerakan Endang Patibroto ini dan sama sekali tidak pernah tersangka
oleh perampok mata juling, bahkan tidak tersangka oleh Joko Wandiro yang
menjadi kaget sekali. Cepat pula Endang Patibroto mencelat ke belakang mencabut
cundriknya dan "currrrr!!" darah merah muncrat-muncrat dari perut
yang gendut.
" .......
apa ..... ? Aduhh ..... wah ...... !"
Si mata juling
mendekap perutnya dengan tangan kiri, matanya sejenak terbelalak mengawasi
darahnya yang mengucur melalui celah-celah jari tangannya, kemudian ia
terbelalak memandang gadis cilik yang berdiri di samping Joko Wandiro dengan
cundrik di tangan, cundrik yang merah ujungnya karena darah! Kini Endang
Patibroto sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan sepasang matanya yang lebar
itu nampak beringas dan liar.
"Endang
...... kau ........ kenapa kau lakukan itu ....... ?"
Joko Wandiro
bertanya gagap. Dia sendiri juga seorang anak gemblengan, akan tetapi selama
hidupnya belum pernah ia melukai orang sampai darah bercucuran dari perutnya
seperti itu, maka iapun merasa ngeri. Akan tetapi Endang Patibroto menjawab
tegas,
"Dia mau
membunuhmu, si keparat! Biar kubunuh mereka semua!"
Jawaban ini
selain mengagetkan Joko Wandiro, juga membuat para perampok itu marah sekali.
Bahkan perampok muka pucat yang tadi tertarik oleh kecantikan wajah gadis cilik
ini, sekarang menjadi marah sekali.
"Bunuh
mereka! Bunuh kedua setan cilik ini!"
Si mata juling
yang lebih dulu mengamuk. Goloknya menyambar dan kini yang ia terjang bukannya
Joko Wandiro, melainkan Endang Patibroto yang telah melukai perutnya. Namun
gadis cilik yang masih kanak-kanak, baru berusia sepuluh tahun itu memiliki
gerakan yang amat gesit sehingga bacokan golok si juling meluncur mengenai
tanah. Ia terengah-engeh, mendengus-dengus dan mencari-cari. Ternyata anak
perempuan itu sudah meloncat dua meter jauhnya di sebelah kiri. Ia menggereng
dan menerjang lagi, kini goloknya ia obat-abitkan sekuat tenaga sehingga
merupakan gulungan sinar yang menghalang anak itu meloncat.
Endang
Patibroto sejak kecil belajar ilmu silat, akan tetapi ia masih belum ada
pengalaman sama sekali, maka melihat golok itu berkelebat ke kanan kiri, ia
menjadi bingung. Sambil melangkah maju ia nekat menangkis dengan cundriknya.
"Cringgg..
!" Cundrik itu terlepas dari tangannya, meluncur dan menancap ke atas
tanah, tiga meter jauhnya.
"Heh-heh-heh,
kucincang kepalamu, bocah keparat!" Si mata juling marah sekali, akan
tetapi tiba-tiba tubuh Endang Patibroto sudah berkelebat ke depan, kemudian
menggerakkan kedua tangannya seperti cakar burung. Dua tangannya dengan
jari-jari mencengkeram persis kaki burung elang itu membuat gerakan ke arah
lengan besar si mata juling yang memegang golok, kemudian mencengkeram, yang
kiri bergerak mundur yang kanan maju.
"Kreeeeekkkkk!"
Si mata juling
berteriak keras sekali, goloknya terlepas dan lengan kanannya itu robek berikut
kulit dan dagingnya! Demikian hebatnya ilmu simpanan yang diajarkan oleh
Kartikosari kepada puterinya itu. Baru anak kecil berusia sepuluh tahun saja
dengan ilmu ini sudah dapat merobek kulit, daging, dan baju lengan seorang yang
kuat seperti perampok mata juling! Sejenak perampok itu terbelalak, meringis
kesakitan, lalu terhuyung-huyung mundur dengan muka ketakutan. Siapa yang
takkan ngeri menghadapi bocah perempuan demikian kecilnya akan tetapi yang
telah merobek perut dan lengannya? Apalagi darah yang terlalu banyak keluar
membuat kepalanya pening dan pandang matanya berkunang. Akhirnya roboh
terjerembab di bawah pohon.
Adapun empat
orang perampok lain kini sudah menghujani Joko Wandiro dengan bacokan-bacokan
golok. Mereka penasaran sekali karena sebegitu lama belum juga mereka mampu
menyentuh anak itu dengan golok mereka. Memang mengagumkan sekali gerakan Joko
Wandiro. Anak ini cerdik sekali dan maklum bahwa empat orang lawannya kuat-kuat
pula memegang senjata tajam, ia tidak mau melawan dengan kekerasan, melainkan
cepat menggunakan Aji Bayu Tantra, yaitu ilmu meringankan tubuh sambil
berloncatan ke sana ke mari, mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara
kilatan dan sambaran golok.
"Jangan
takut, Joko, kubantu!" tiba- tiba terdengar teriakan Endang Patibroto yang
sudah tidak punya lawan lagi. Gadis cilik ini berlari hendak mengambil
cundriknya, akan tetapi melihat itu, dua orang perampok meninggalkan Joko
Wandiro dan menerjang si gadis cilik. Sabetan pertama pada kepalanya dapat
dielakkan oleh Endang Patibroto yang cepat membungkuk untuk mengambil
cundriknya. Dalam keadaan membungkuk inilah perampok ke dua sudah menggerakkan
golok hendak membacoknya!
"Endang,
awas ...... !"
Saking
khawatirnya melihat bahaya mengancam Endang, Joko Wandiro melesat meninggalkan
kedua orang pengeroyoknya dan karena lompatannya ini dilakukan sambil
mengerahkan Bayu Tantra, tubuhnya melayang dan tahu-tahu telah berada di atas
tengkuk si muka pucat yang hendak membacok Endang. Dalam keadaan seperti itu,
Joko Wandiro tidak ingat untuk menggunakan ilmu silat lagi, ia segera
mencengkeram ke depan sambil berjongkok di atas tengkuk dan pundak dan begitu
jari tangannya bertemu benda lunak di depan, terus ia mencengkeram dan menarik.
No comments:
Post a Comment