Badai Laut Selatan ; Bagian 047


Wisangjiwo selama sepuluh tahun inipun tidak tinggal diam, melainkan melatih diri dengan tekun. Betapa dahsyatnya pukulan Pujo, sekali miringkan tubuh pukulan itu menyambar lewat dan cepat Wisangjiwo membalas dengan ilmu pukulan Tirto Rudiro karena sejak turun dari kuda tadi, untuk menjaga bahaya ia sudah menggenggam ajimatnya kerang merah sehingga sewaktu-waktu dapat ia pergunakan. Hawa dingin menyambar ke arah lambung Pujo ketika pukulan Tirto Rudiro itu dilakukan lawan dari sebelah kanannya. Pujo yang tadi tak berhasil pukulannya, kini malah terus memutar tubuh ke kiri amat cepatnya sambil melakukan gerakan mendorong dengan lengan tangan kirinya yang mendahului tubuhnya membalik. Tentu saja ia mengerahkan tenaga saktinya dalam tangkisan ini karena maklum bahwa lawannya bukan orang lemah.
"Dukkk!"
Tepat sekali gerakan Pujo tadi karena tangan kirinya dengan jari-jari terbuka itu menangkis hantaman kepalan kanan Wisangjiwo. Kesudahannya, Pujo tergetar mundur tiga langkah, akan tetapi Wisangjiwo terhuyung ke belakang hampir roboh kalau ia tidak cepat-cepat meloncat untuk mematahkan tenaga benturan yang mendorongnya! Ketika Pujo hendak mendesak lagi, Wisangjiwo menyetopnya dengan tangan kanan diangkat dan membentak marah,
"Heh keparat Pujo. Jangan kira aku takut kepadamu. Kita sama-sama laki-laki gemblengan. Kalah dan maut dalam pertandingan bukan apa-apa! Akan tetapi kau bicaralah yang genah (masuk akal)! Jangan membuang fitnah ke kanan kiri seperti orang mabok saja. Hayo katakan, di mana kau sembunyikan puteraku yang kau culik?"
Senyum paksaan, senyum masam membayang di wajah yang muram itu.
"Apa yang kaukehendaki akan terjadi Wisangjiwo. Kau ingin dia mati? Mudah. Ingin melihat dia menjadi penderita cacat, menjadi anggota para jembel gelandangan atau menjadi anggota maling dan rampok?"
"Setan iblis! Kau apakan puteraku? Kaubunuh dia? Jahanam keji, kau telah merusak kehormatan adikku, isteriku, dan kiranya kau malah telah membunuh puteraku. Di samping kekejianmu ini kau masih mendakwa aku yang bukan- bukan. Cuh, tak tahu malu! Laki-laki macam apa kau ini? Hayo, sekarang tidak perlu beradu suara lagi, biarlah senjata yang menentukan!"

Setelah berkata demikian Wisangjiwo menggerakkan tangannya dan tampaklah sinar hitam bergulung-gulung sambil memperdengarkan suara "tar-tar-tar!" Itulah cambuk sakti Sarpokenoko milik Ni Durgogini yang telah dihadiahkan kepada murid dan kekasih rupawan ini! Memang bukan cambuk sembarang cambuk. Cambuk pusaka ampuh yang dimainkan dalam ilmu yang hebat sehingga cambuk itu berubah menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung yang mengeluarkan suara meledak-ledak dan mengeluarkan asap hitam tipis!
"Wuuut-tar-tar-tar!"
Gulungan sinar hitam cambuk Sarpokenoko menyambar ganas. Pujo mengenal senjata ampuh. Cepat ia menggedruk (menendang dengan tumit) tanah sehingga tubuhnya mencelat ke atas dengan kecepatan luar biasa. Cambuk Sarpokenoko menyambar-nyambar dan meledak-ledak di bawah kakinya. Akan tetapi sambaran ke tiga menyentuh ujung tumit kirinya dan Pujo terpaksa membuang diri ke kiri lalu tubuhnya jatuh ke tanah, terus bergulingan dan meloncat bangun dengan wajah agak pucat. Tumit kirinya terasa panas sekali.
"Ha-ha-ha, Pujo. Kepandaian hanya sebegitu akan tetapi berani mati engkau menuduh yang bukan-bukan kepadaku hanya untuk menutupi perbuatan-perbuatan yang rendah dan keji. Lebih baik lekas kauberitahu di mana puteraku, mungkin aku masih akan mempertimbangkan dosamu. Sebagai laki-laki sejati, aku tidak akan meributkan benar perkara wanita. Kalau kau berkeras hemmmmm, Sarpokenoko akan merobek-robek tubuhmu!"
Pujo tadi memang terkejut sekali. Ia tadi meloncat dengan Aji Bayu Tantra, ilmu meringankan tubuh ajaran Resi Bhargowo yang selama ini telah ia sempurnakan. Dan menilik gerakannya, Wisangjiwo tidak secepat itu sehingga dapat mengenai tumitnya dengan cambuk. Maka ia menduga bahwa tentu cambuk hitam itulah yang hebat, cambuk sakti yang amat ampuh dan ia kini berlaku hati-hati sekali.
"Wisangjiwo keparat sombong! Baru dapat menjilat tungkakku saja engkau sudah menyombong. Kaukira aku kalah olehmu? Nah, majulah!"
Pujo menggerakkan tangan kanan dan sudah mencabut sebatang keris yang mengeluarkan sinar kehijauan. Inilah keris pusaka yang ia namakan Banuwilis karena sinarnya yang kehijauan. Keris eluk sembilan yang pamornya seperti ombak Laut Selatan dengan airnya yang hijau saking dalamnya.

Wisangjiwo tertawa mengejek, cambuknya melecut keras dan menyambar kepala Pujo. Pujo sudah siap sedia, sengaja ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan kerisnya ke atas dengan pengerahan tenaga agar cambuk lawannya terbabat putus. Ketika ujung cambuk bertemu dengan mata keris, dari kedua senjata itu keluar hawa mujijat yang ampuh dan saling bertentangan. Keris Banuwilis tidak cukup kuat untuk dapat membabat putus Sarpokenoko, akan tetapi tenaga sakti yang tersalur melalui keris itu masih lebih kuat daripada tenaga Wisangjiwo sehingga cambuk itu terpental ke atas dan telapak tangan Wisangjiwo terasa panas dan sakit. Marahlah senopati muda ini. Ia mengeluarkan gerengan keras dan cepat cambuknya bergerak menyambar-nyambar, dan diam-diam tangan kirinya sudah melolos keluar sehelai kain merah dari saku baju. Selama sepuluh tahun ini, selain memperoleh kemajuan dalam semua ilmu yang telah dimilikinya, juga Wisangjiwo menerima "hadiah" lain dari Ni Nogogini bibi guru yang menjadi juga kekasihnya, yaitu kain ini yang mengandung hawa beracun amat berbahaya. Sekali mengebutkan kain ini, bau yang harum akan tercium lawan dan betapapun tangguhnya lawan, tentu akan roboh pingsan mencium bau ini. Senjata yang amat curang dan hanya digunakan oleh laki-laki yang suka mengganggu wanita baik-baik, atau setidaknya oleh orang yang suka merebut kemenangan dengan jalan apapun juga.
Melihat betapa gulungan sinar cambuk hitam itu kini menyambar-nyambar membentuk lingkaran-lingkaran ruwet seperti banyak ular bermain-main, sukar diduga mana ujungnya yang akan menerjangnya, Pujo berlaku hati-hati sekali. Ia berdiri tegak memasang kuda-kuda, membiarkan sinar hitam itu bergulung-gulung mengitari atas kepalanya. Ketika sampai lama gulungan sinar hitam itu tidak menerjangnya, maklumlah ia bahwa Wisangjiwo memang hendak memancingnya agar ia mempergunakan kecepatan gerakan mengimbangi gerakan cambuk. Pujo tahu akan hal ini dan tahu pula bahwa biarpun ia memiliki Bayu Tantra yang membuat ia mampu bergerak secepat gerakan cambuk, namun mana mungkin ia dapat bertanding kecepatan melawan sebatang cambuk yang digerakkan tangan? Lama-lama ia tentu akan lelah dan kalah. Oleh karena itulah, ia diam saja tidak melayani permainan cambuk lawan. Iapun maklum bahwa biarpun cambuk itu kini bergulung-gulung sinarnya di atas kepala, namun Wisangjiwo sedang menanti saat baik. Kalau ia terpancing dan melakukan serangan lebih dulu, tentu Wisangjiwo akan menjatuhkan serangannya secara tak tersangka-sangka. Di lain fihak, Wisangjiwo mendongkol dan kecewa sekali, juga kagum. Siasat pertempuran ini ia dapat dari gurunya belum lama ini.
"Menghadapi lawan tangguh yang sedang marah, biarkanlah ia bingung dengan bayangan cambuk berputar-putar di atas kepalanya, pancing dia supaya menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya mengimbangi kecepatan gerak cambukmu. Nah,kalau sudah demikian, mudah saja merobohkannya. Baik dia menyerang dulu atau tidak, kau boleh gerakkan saputangan merah mengebut mukanya atau menangkis serangannya dan pada saat itu ujung cambukmu menghantam dari atas memilih sasaran yang tepat."
Demikian itu ajaran dari gurunya. Akan tetapi sekarang Pujo diam saja, hanya berdiri memasang kuda-kuda dan menatap kepadanya penuh kewaspadaan, benar-benar membuat ia sendiri yang bingung! Akhirnya Wisangjiwo menjadi tidak sabar. Secara tiba-tiba ia menggerakkan saputangan merahnya dengan tangan kiri, dikebutkan ke arah muka Pujo lalu menyusul dengan gerakan cambuknya yang siap menghantam bagian berbahaya sesuai dengan gerakan Pujo apabila mengelak serangan saputangan merah.
Pujo melihat bayangan merah saputangan ini, cepat menahan napas, lalu mengerahkan hawa bakti meniup dari mulutnya, dibarengi tangan kirinya menyampok dari depan. Lima jari tangannya berkembang menyambut saputangan merah dan .....
"breeittt ....... !!!"
Pecahlah kain merah itu, pecah dan hangus lalu hancur, tidak kuat senjata mujijat yang beracun itu bertemu dengan hawa pukulan Pethit Nogo yang dilancarkan tangan kiri Pujo. Dalam kaget dan marahnya, Wisangjiwo menggerakkan Sarpokenoko yang melecut dan ujungnya bagaikan paruh elang mematuk ubun-ubun kepala Pujo. Celakalah Pujo jika serangan ini mengenai sasaran. Tentu ubun-ubun kepalanya akan pecah. Akan tetapi ketika tadi menghancurkan senjata kain merah lawan, Pujo sudah siap sedia, sudah dapat menduga bahwa tentu Wisangjiwo akan menyusul dengan serangan susulan yang menggunakan cambuknya.

Maka giranglah hatinya melihat lawannya marah dan tidak sabar, karena makin marah dan tidak sabar keadaan seorang lawan, makin mudah diatasi. Melihat datangnya lecutan cambuk, ia tidak menangkis dengan kerisnya karena maklum bahwa tangkisan tidak dapat mengalahkan lawan. Secepat kilat tangan kirinya bergerak ke atas dan di lain detik, ujung cambuk itu sudah terjepit jari-jari tangan kirinya yang masih mengerahkan Aji Pethit Nogo.
"Cappp!" Sekali terjepit, ujung cambuk itu tak mungkin dapat terlepas lagi.
Wisangjiwo makin kaget, akan tetapi selagi ia berusaha menarik cambuknya, ujung keris Banuwilis dengan tak tersangka-sangka telah meluncur ke depan dan telah menusuk pergelangan tangan kanannya. Wisangjiwo berseru kaget, terpaksa mengelak, namun masih ada ujung keris melukai pangkal ibu jari tangan kanannya. Rasa nyeri membuat ia terpaksa melepaskan gagang cambuk dan saking marah melihat cambuknya terampas ia mengirim tendangan kilat sekenanya. Tendangan memang berhasil mengenai paha kiri Pujo, akan tetapi pada saat itu, lehernya terpukul oleh tangan kanan Pujo yang sudah membalikkan kerisnya sehingga bukan mata keris yang menusuk leher, melainkan gagang keris yang keras. Wisangjiwo mengeluh dan roboh terguling, matanya berkunang-kunang.
"Aduhhh, mati aku .... !"
Ia mengeluh dan sebuah tendangan keras yang mengenai pangkal telinganya membuat ia tak dapat mengeluh lagi dan tidak ingat apa-apa. Akan tetapi Wisangjiwo tidak mati, atau setidaknya belum mati ketika ia siuman kembali. Ia sadar dan mendapatkan dirinya berdiri bersandarkan batang pohon dalam keadaan terikat erat-erat pada batang pohon dengan kedua lengannya ditelikung ke belakang. Bahkan bagian lehernyapun dikalungi tambang yang ternyata adalah cambuknya sendiri, cambuk Sarpokenoko! Ketika berusaha meronta, ia merasa sakit-sakit pada lengannya dan lehernya makin tercekik, maka ia tidak lagi meronta dan memandang kepada musuhnya yang berdiri di depannya, memandangnya sambil tersenyum-senyurn, senyum iblis!
"Pujo, aku sudah kalah. Kenapa engkau tidak membunuhku saja? Untuk apa mesti mengikatku di sini?"
"Untuk apa? Terlalu enak kalau kau dibunuh begitu saja!"
"Hemm, Pujo, begitu bencikah engkau kepadaku? Memang aku pernah mengganggumu ketika kau dan isterimu bertapa di Guha Siluman, akan tetapi pembalasanmu sungguh keterlaluan. Aku hanya merobohkan kau dan isterimu, karena hatiku panas disebabkan engkau dahulu tidak ikut mempertahankan Selopenangkep dari serbuan balatentara Mataram. Akan tetapi, hanya sampai di situ saja perbuatanku. Setelah engkau dan isterimu roboh karena .... hemm, terus terang saja, karena akalku, aku lalu pergi meninggalkan guha. Akan tetapi pembalasanmu sungguh berlebihan. Kau menyebu Selopenangkep, membunuh banyak pengawal bahkan hampir membunuh ayahku, kemudian kau memperkosa Roro Luhito adikku, menculik kemudian memperkosa isteriku, dan membawa pergi puteraku! Dan kau masih belum puas dengan perbuatan-perbuatan keji itu! Pujo, apakah kau sudah menjadi gila, ataukah kau berubah menjadi iblis?"
Tentu saja makin panas dan marah hati Pujo mendengar ini. Ia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha! Tiada manusia di dunia ini yang suka mengakui akan kesalahannya! Apalagi manusia macam engkau, Wisangjiwo! Karena banyaknya manusia macam engkau inilah maka dunia ini menjadi makin kotor dan makin keruh, karena itu sebaiknya orang macam engkau ini dibasmi habis! Memang semula aku hendak memperkosa isterimu di guha, hendak kulakukan persis seperti yang kaulakukan terhadap isteriku. Sayang aku bukan manusia macam engkau sehingga aku tak sanggup melakukan hal itu. Ocehanmu tentang memperkosa isterimu dan adikmu boleh saja kaukeluarkan, akan tetapi aku sama sekali tidak melakukan hal itu. Andaikata ada orang lain melakukan hal itu, sudah menjadi bagianmu, karena hukum karma takkan melepaskan korbannya. Tentang anakmu, haha-ha! Kau tunggu saja, aku sengaja mendidik dia untuk membunuhmu, Wisangjiwo!"

Wisangjiwo terpekik ngeri, mukanya pucat. Maklum ia apa yang akan dilakukan Pujo. Agaknya puteranya itu dipelihara dan dididik Pujo dan ditanamkan dalam jiwa anaknya itu bahwa dia adalah musuh anaknya sendiri, dan setelah sekarang ia menjadi tawanan, agaknya Pujo menanti datangnya anak itu untuk turun tangan membunuhnya! Inilah sebabnya mengapa ia diikat erat-erat pada pohon agar supaya tidak dapat melawan jika anak itu turun tangan. Tadinya ia merasa heran mengapa dia yang sudah kalah masih harus diikat, padahal kalau Pujo hendak membunuhnya, adalah amat mudah.

<<< Bagian 046                                                                                   Bagian 048 >>>

No comments:

Post a Comment