Wisangjiwo selama sepuluh tahun inipun tidak tinggal diam, melainkan melatih diri dengan tekun. Betapa dahsyatnya pukulan Pujo, sekali miringkan tubuh pukulan itu menyambar lewat dan cepat Wisangjiwo membalas dengan ilmu pukulan Tirto Rudiro karena sejak turun dari kuda tadi, untuk menjaga bahaya ia sudah menggenggam ajimatnya kerang merah sehingga sewaktu-waktu dapat ia pergunakan. Hawa dingin menyambar ke arah lambung Pujo ketika pukulan Tirto Rudiro itu dilakukan lawan dari sebelah kanannya. Pujo yang tadi tak berhasil pukulannya, kini malah terus memutar tubuh ke kiri amat cepatnya sambil melakukan gerakan mendorong dengan lengan tangan kirinya yang mendahului tubuhnya membalik. Tentu saja ia mengerahkan tenaga saktinya dalam tangkisan ini karena maklum bahwa lawannya bukan orang lemah.
"Dukkk!"
Tepat sekali
gerakan Pujo tadi karena tangan kirinya dengan jari-jari terbuka itu menangkis
hantaman kepalan kanan Wisangjiwo. Kesudahannya, Pujo tergetar mundur tiga
langkah, akan tetapi Wisangjiwo terhuyung ke belakang hampir roboh kalau ia
tidak cepat-cepat meloncat untuk mematahkan tenaga benturan yang mendorongnya!
Ketika Pujo hendak mendesak lagi, Wisangjiwo menyetopnya dengan tangan kanan
diangkat dan membentak marah,
"Heh keparat
Pujo. Jangan kira aku takut kepadamu. Kita sama-sama laki-laki gemblengan.
Kalah dan maut dalam pertandingan bukan apa-apa! Akan tetapi kau bicaralah yang
genah (masuk akal)! Jangan membuang fitnah ke kanan kiri seperti orang mabok
saja. Hayo katakan, di mana kau sembunyikan puteraku yang kau culik?"
Senyum
paksaan, senyum masam membayang di wajah yang muram itu.
"Apa yang
kaukehendaki akan terjadi Wisangjiwo. Kau ingin dia mati? Mudah. Ingin melihat
dia menjadi penderita cacat, menjadi anggota para jembel gelandangan atau
menjadi anggota maling dan rampok?"
"Setan
iblis! Kau apakan puteraku? Kaubunuh dia? Jahanam keji, kau telah merusak
kehormatan adikku, isteriku, dan kiranya kau malah telah membunuh puteraku. Di
samping kekejianmu ini kau masih mendakwa aku yang bukan- bukan. Cuh, tak tahu
malu! Laki-laki macam apa kau ini? Hayo, sekarang tidak perlu beradu suara
lagi, biarlah senjata yang menentukan!"
Setelah
berkata demikian Wisangjiwo menggerakkan tangannya dan tampaklah sinar hitam
bergulung-gulung sambil memperdengarkan suara "tar-tar-tar!" Itulah
cambuk sakti Sarpokenoko milik Ni Durgogini yang telah dihadiahkan kepada murid
dan kekasih rupawan ini! Memang bukan cambuk sembarang cambuk. Cambuk pusaka
ampuh yang dimainkan dalam ilmu yang hebat sehingga cambuk itu berubah menjadi
sinar hitam yang bergulung-gulung yang mengeluarkan suara meledak-ledak dan
mengeluarkan asap hitam tipis!
"Wuuut-tar-tar-tar!"
Gulungan sinar
hitam cambuk Sarpokenoko menyambar ganas. Pujo mengenal senjata ampuh. Cepat ia
menggedruk (menendang dengan tumit) tanah sehingga tubuhnya mencelat ke atas
dengan kecepatan luar biasa. Cambuk Sarpokenoko menyambar-nyambar dan
meledak-ledak di bawah kakinya. Akan tetapi sambaran ke tiga menyentuh ujung
tumit kirinya dan Pujo terpaksa membuang diri ke kiri lalu tubuhnya jatuh ke
tanah, terus bergulingan dan meloncat bangun dengan wajah agak pucat. Tumit
kirinya terasa panas sekali.
"Ha-ha-ha,
Pujo. Kepandaian hanya sebegitu akan tetapi berani mati engkau menuduh yang
bukan-bukan kepadaku hanya untuk menutupi perbuatan-perbuatan yang rendah dan
keji. Lebih baik lekas kauberitahu di mana puteraku, mungkin aku masih akan
mempertimbangkan dosamu. Sebagai laki-laki sejati, aku tidak akan meributkan
benar perkara wanita. Kalau kau berkeras hemmmmm, Sarpokenoko akan
merobek-robek tubuhmu!"
Pujo tadi
memang terkejut sekali. Ia tadi meloncat dengan Aji Bayu Tantra, ilmu
meringankan tubuh ajaran Resi Bhargowo yang selama ini telah ia sempurnakan.
Dan menilik gerakannya, Wisangjiwo tidak secepat itu sehingga dapat mengenai
tumitnya dengan cambuk. Maka ia menduga bahwa tentu cambuk hitam itulah yang
hebat, cambuk sakti yang amat ampuh dan ia kini berlaku hati-hati sekali.
"Wisangjiwo
keparat sombong! Baru dapat menjilat tungkakku saja engkau sudah menyombong.
Kaukira aku kalah olehmu? Nah, majulah!"
Pujo
menggerakkan tangan kanan dan sudah mencabut sebatang keris yang mengeluarkan
sinar kehijauan. Inilah keris pusaka yang ia namakan Banuwilis karena sinarnya
yang kehijauan. Keris eluk sembilan yang pamornya seperti ombak Laut Selatan
dengan airnya yang hijau saking dalamnya.
Wisangjiwo
tertawa mengejek, cambuknya melecut keras dan menyambar kepala Pujo. Pujo sudah
siap sedia, sengaja ia tidak mengelak melainkan menangkis dengan kerisnya ke
atas dengan pengerahan tenaga agar cambuk lawannya terbabat putus. Ketika ujung
cambuk bertemu dengan mata keris, dari kedua senjata itu keluar hawa mujijat
yang ampuh dan saling bertentangan. Keris Banuwilis tidak cukup kuat untuk
dapat membabat putus Sarpokenoko, akan tetapi tenaga sakti yang tersalur
melalui keris itu masih lebih kuat daripada tenaga Wisangjiwo sehingga cambuk
itu terpental ke atas dan telapak tangan Wisangjiwo terasa panas dan sakit.
Marahlah senopati muda ini. Ia mengeluarkan gerengan keras dan cepat cambuknya
bergerak menyambar-nyambar, dan diam-diam tangan kirinya sudah melolos keluar
sehelai kain merah dari saku baju. Selama sepuluh tahun ini, selain memperoleh
kemajuan dalam semua ilmu yang telah dimilikinya, juga Wisangjiwo menerima "hadiah"
lain dari Ni Nogogini bibi guru yang menjadi juga kekasihnya, yaitu kain ini
yang mengandung hawa beracun amat berbahaya. Sekali mengebutkan kain ini, bau
yang harum akan tercium lawan dan betapapun tangguhnya lawan, tentu akan roboh
pingsan mencium bau ini. Senjata yang amat curang dan hanya digunakan oleh
laki-laki yang suka mengganggu wanita baik-baik, atau setidaknya oleh orang
yang suka merebut kemenangan dengan jalan apapun juga.
Melihat betapa
gulungan sinar cambuk hitam itu kini menyambar-nyambar membentuk
lingkaran-lingkaran ruwet seperti banyak ular bermain-main, sukar diduga mana
ujungnya yang akan menerjangnya, Pujo berlaku hati-hati sekali. Ia berdiri
tegak memasang kuda-kuda, membiarkan sinar hitam itu bergulung-gulung mengitari
atas kepalanya. Ketika sampai lama gulungan sinar hitam itu tidak menerjangnya,
maklumlah ia bahwa Wisangjiwo memang hendak memancingnya agar ia mempergunakan
kecepatan gerakan mengimbangi gerakan cambuk. Pujo tahu akan hal ini dan tahu
pula bahwa biarpun ia memiliki Bayu Tantra yang membuat ia mampu bergerak
secepat gerakan cambuk, namun mana mungkin ia dapat bertanding kecepatan
melawan sebatang cambuk yang digerakkan tangan? Lama-lama ia tentu akan lelah
dan kalah. Oleh karena itulah, ia diam saja tidak melayani permainan cambuk
lawan. Iapun maklum bahwa biarpun cambuk itu kini bergulung-gulung sinarnya di
atas kepala, namun Wisangjiwo sedang menanti saat baik. Kalau ia terpancing dan
melakukan serangan lebih dulu, tentu Wisangjiwo akan menjatuhkan serangannya
secara tak tersangka-sangka. Di lain fihak, Wisangjiwo mendongkol dan kecewa
sekali, juga kagum. Siasat pertempuran ini ia dapat dari gurunya belum lama
ini.
"Menghadapi
lawan tangguh yang sedang marah, biarkanlah ia bingung dengan bayangan cambuk
berputar-putar di atas kepalanya, pancing dia supaya menggunakan kecepatan
gerakan tubuhnya mengimbangi kecepatan gerak cambukmu. Nah,kalau sudah
demikian, mudah saja merobohkannya. Baik dia menyerang dulu atau tidak, kau
boleh gerakkan saputangan merah mengebut mukanya atau menangkis serangannya dan
pada saat itu ujung cambukmu menghantam dari atas memilih sasaran yang
tepat."
Demikian itu
ajaran dari gurunya. Akan tetapi sekarang Pujo diam saja, hanya berdiri
memasang kuda-kuda dan menatap kepadanya penuh kewaspadaan, benar-benar membuat
ia sendiri yang bingung! Akhirnya Wisangjiwo menjadi tidak sabar. Secara
tiba-tiba ia menggerakkan saputangan merahnya dengan tangan kiri, dikebutkan ke
arah muka Pujo lalu menyusul dengan gerakan cambuknya yang siap menghantam
bagian berbahaya sesuai dengan gerakan Pujo apabila mengelak serangan
saputangan merah.
Pujo melihat
bayangan merah saputangan ini, cepat menahan napas, lalu mengerahkan hawa bakti
meniup dari mulutnya, dibarengi tangan kirinya menyampok dari depan. Lima jari
tangannya berkembang menyambut saputangan merah dan .....
"breeittt
....... !!!"
Pecahlah kain
merah itu, pecah dan hangus lalu hancur, tidak kuat senjata mujijat yang
beracun itu bertemu dengan hawa pukulan Pethit Nogo yang dilancarkan tangan
kiri Pujo. Dalam kaget dan marahnya, Wisangjiwo menggerakkan Sarpokenoko yang
melecut dan ujungnya bagaikan paruh elang mematuk ubun-ubun kepala Pujo.
Celakalah Pujo jika serangan ini mengenai sasaran. Tentu ubun-ubun kepalanya
akan pecah. Akan tetapi ketika tadi menghancurkan senjata kain merah lawan,
Pujo sudah siap sedia, sudah dapat menduga bahwa tentu Wisangjiwo akan menyusul
dengan serangan susulan yang menggunakan cambuknya.
Maka giranglah
hatinya melihat lawannya marah dan tidak sabar, karena makin marah dan tidak
sabar keadaan seorang lawan, makin mudah diatasi. Melihat datangnya lecutan
cambuk, ia tidak menangkis dengan kerisnya karena maklum bahwa tangkisan tidak
dapat mengalahkan lawan. Secepat kilat tangan kirinya bergerak ke atas dan di
lain detik, ujung cambuk itu sudah terjepit jari-jari tangan kirinya yang masih
mengerahkan Aji Pethit Nogo.
"Cappp!"
Sekali terjepit, ujung cambuk itu tak mungkin dapat terlepas lagi.
Wisangjiwo
makin kaget, akan tetapi selagi ia berusaha menarik cambuknya, ujung keris Banuwilis
dengan tak tersangka-sangka telah meluncur ke depan dan telah menusuk
pergelangan tangan kanannya. Wisangjiwo berseru kaget, terpaksa mengelak, namun
masih ada ujung keris melukai pangkal ibu jari tangan kanannya. Rasa nyeri
membuat ia terpaksa melepaskan gagang cambuk dan saking marah melihat cambuknya
terampas ia mengirim tendangan kilat sekenanya. Tendangan memang berhasil
mengenai paha kiri Pujo, akan tetapi pada saat itu, lehernya terpukul oleh
tangan kanan Pujo yang sudah membalikkan kerisnya sehingga bukan mata keris
yang menusuk leher, melainkan gagang keris yang keras. Wisangjiwo mengeluh dan
roboh terguling, matanya berkunang-kunang.
"Aduhhh,
mati aku .... !"
Ia mengeluh
dan sebuah tendangan keras yang mengenai pangkal telinganya membuat ia tak
dapat mengeluh lagi dan tidak ingat apa-apa. Akan tetapi Wisangjiwo tidak mati,
atau setidaknya belum mati ketika ia siuman kembali. Ia sadar dan mendapatkan
dirinya berdiri bersandarkan batang pohon dalam keadaan terikat erat-erat pada
batang pohon dengan kedua lengannya ditelikung ke belakang. Bahkan bagian
lehernyapun dikalungi tambang yang ternyata adalah cambuknya sendiri, cambuk
Sarpokenoko! Ketika berusaha meronta, ia merasa sakit-sakit pada lengannya dan
lehernya makin tercekik, maka ia tidak lagi meronta dan memandang kepada
musuhnya yang berdiri di depannya, memandangnya sambil tersenyum-senyurn,
senyum iblis!
"Pujo,
aku sudah kalah. Kenapa engkau tidak membunuhku saja? Untuk apa mesti
mengikatku di sini?"
"Untuk
apa? Terlalu enak kalau kau dibunuh begitu saja!"
"Hemm,
Pujo, begitu bencikah engkau kepadaku? Memang aku pernah mengganggumu ketika
kau dan isterimu bertapa di Guha Siluman, akan tetapi pembalasanmu sungguh
keterlaluan. Aku hanya merobohkan kau dan isterimu, karena hatiku panas disebabkan
engkau dahulu tidak ikut mempertahankan Selopenangkep dari serbuan balatentara
Mataram. Akan tetapi, hanya sampai di situ saja perbuatanku. Setelah engkau dan
isterimu roboh karena .... hemm, terus terang saja, karena akalku, aku lalu
pergi meninggalkan guha. Akan tetapi pembalasanmu sungguh berlebihan. Kau
menyebu Selopenangkep, membunuh banyak pengawal bahkan hampir membunuh ayahku,
kemudian kau memperkosa Roro Luhito adikku, menculik kemudian memperkosa
isteriku, dan membawa pergi puteraku! Dan kau masih belum puas dengan
perbuatan-perbuatan keji itu! Pujo, apakah kau sudah menjadi gila, ataukah kau
berubah menjadi iblis?"
Tentu saja
makin panas dan marah hati Pujo mendengar ini. Ia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha!
Tiada manusia di dunia ini yang suka mengakui akan kesalahannya! Apalagi
manusia macam engkau, Wisangjiwo! Karena banyaknya manusia macam engkau inilah
maka dunia ini menjadi makin kotor dan makin keruh, karena itu sebaiknya orang
macam engkau ini dibasmi habis! Memang semula aku hendak memperkosa isterimu di
guha, hendak kulakukan persis seperti yang kaulakukan terhadap isteriku. Sayang
aku bukan manusia macam engkau sehingga aku tak sanggup melakukan hal itu.
Ocehanmu tentang memperkosa isterimu dan adikmu boleh saja kaukeluarkan, akan
tetapi aku sama sekali tidak melakukan hal itu. Andaikata ada orang lain
melakukan hal itu, sudah menjadi bagianmu, karena hukum karma takkan melepaskan
korbannya. Tentang anakmu, haha-ha! Kau tunggu saja, aku sengaja mendidik dia
untuk membunuhmu, Wisangjiwo!"
Wisangjiwo
terpekik ngeri, mukanya pucat. Maklum ia apa yang akan dilakukan Pujo. Agaknya
puteranya itu dipelihara dan dididik Pujo dan ditanamkan dalam jiwa anaknya itu
bahwa dia adalah musuh anaknya sendiri, dan setelah sekarang ia menjadi
tawanan, agaknya Pujo menanti datangnya anak itu untuk turun tangan
membunuhnya! Inilah sebabnya mengapa ia diikat erat-erat pada pohon agar supaya
tidak dapat melawan jika anak itu turun tangan. Tadinya ia merasa heran mengapa
dia yang sudah kalah masih harus diikat, padahal kalau Pujo hendak membunuhnya,
adalah amat mudah.
No comments:
Post a Comment