"Auggghhhh!" Si muka pucat berteriak kesakitan karena cengkeraman itu tepat mengenai mukanya. Celakanya jari tangan yang kecil itu ada yang memasuki lubang hidungnya sehingga ketika Joko Wandiro mencengkeram dan menarik, sebagian hidung si muka pucat menjadi semplok (pecah) dan darah mengucur keluar. Lebih sialan lagi baginya, kawannya yang melihat Joko Wandiro jongkok di atas pundak si muka pucat, cepat mengayun goloknya membacok. Joko Wandiro secepat burung terbang telah melompat turun dari pundak si muka pucat itulah yang menjadi makanan golok. Si muka pucat mengeluh lirih dan roboh terkulai seperti kain basah. Tiga orang perampok yang lain menjadi makin marah dan mengamuk dengan golok mereka diobat-abitkan. Terpaksa Joko Wandiro dan Endang Patibroto hanya menggunakan kegesitan tubuh mengelak ke sana sini. Pada saat itu tampak bayangan orang berkelebat seperti kilat menyambar-nyambar cepatnya dan berturut-turut tiga orang perampok itu berjatuhan, golok mereka terlempar. Sebelum kedua orang anak itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu mereka telah dikempit seorang kakek tua yang membawa mereka lari secepat terbang!
Betapapun
mereka berdua berusaha meronta dan melepaskan diri, sia-sia belaka dan saking
cepatnya si kakek ini "terbang", Joko Wandiro dan Endang Patilbroto
merasa ngeri dan akhirnya mereka hanya meramkan mata dan menerima nasib!
"Hamba
merasa heran sekali mengapa paduka dikeroyok oleh tokoh-tokoh itu," Pujo
berkata ketika Ki Patih Narotama sudah tiba di pondoknya, di muara Sungai
Lorog. Narotama menarik naipas panjang.
"Pujo,
engkau adalah murid Resi Bhargowo yang memiliki kesaktian. Sungguh mengecewakan
sekali engkau sebagai seorang satria terlalu tenggelam dalam dendam dan urusan
pribadi sehingga sama sekali tidak tahu akan keadaan di kerajaan. Ahhh, bukan
baru tadi saja orang-orang itu berusaha membunuhku, sudah sering sekali. Bahkan
beberapa orang tumenggung dan senopati yang setia kepada sri baginda, telah
dibunuh orang. Sungguh menyedihkan sekali, semenjak Gusti Prabu Airlangga
mengundurkan diri, terjadi perebutan pengaruh dan kekuasaan di kerajaan. Aku
hanya seorang patih bagaimana dapat mengurusi nafsu para pangeran?"
Narotama menarik napas panjang dan kelihatan berduka sekali.
"Perebutan
kekuasaan?" Pujo yang selama bertahun-tahun mengasingkan diri, sama sekali
tidak tahu akan hal ini.
Ki Patih
Narotama mengangguk-angguk,
"Engkau
tentu sudah tahu bahwa sri baginda mempunyai dua orang permaisuri, yang pertama
adalah Puteri Mataram, sedangkan yang ke dua adalah Puteri Sriwijaya. Nah, kini
terjadilah perebutan pengaruh antara kedua pangeran dari dua permaisuri itu.
Atau lebih tepat lagi, pangeran muda, putera permaisuri ke dua berdarah
Sriwijaya itu berusaha secara sembunyi-sembunyi untuk meruntuhkan kekuasaan dan
pengaruh kakak tirinya, pangeran tua putera permaisuri pertama. Pangeran muda
ini banyak sekali pengikutnya, di antaranya para senopati yang membenci Sang
Prabu Airlangga karena telah ditaklukkan. Kau tahu, orang-orang seperti Cekel
Aksomolo, Warok Gendroyono dan kepala rampok Ki Krendoyakso yang mengeroyokku
tadipun adalah kaki tangan pangeran muda."
"Kalau
memang mereka itu jahat dan bermaksud merebut kekuasaan, mengapa tidak
dilaporkan saja kepada gusti prabu?"
Narotama
menggeleng-geleng kepala.
"Gusti prabu
sudah lima tahun ini mengundurkan diri dan bertapa. Bagaima mungkin diganggu
dengan hal-hal seperti itu? Beliau sudah menyerahkan kepadaku akan
tetapi....... persaingan antara pangeran-pangeran putera sang prabu sendiri,
bagaimana mengatasinya? Sayang....... pusaka keraton yang hilang belum juga
dapat diketemukan kembali. Inilah agaknya yang menjadi sebab malapetaka ini.
Kalau pusaka itu tak dapat diketemukan kembali, berarti kerajaan kehilangan
cahaya dan wahyunya, dan tentu akan terjadi malapetaka yang akan menghancurkan
kerajaan!" Narotama menarik napas panjang lagi, wajahnya muram.
"Apalagi
kalau para satrianya, seperti engkau ini, hanya tenggelam ke dalam dendam
pribadi, tidak peduli lagi akan kewajiban sebagai seorang satria!"
"Ampunkan
hamba, gusti patih. Hamba berjanji bahwa jika saya sudah dapat melakukan
pembalasan atas diri Wisangjiwo, hamba akan menyerahkan jiwa raga untuk membela
kerajaan."
"Hemm,
begitukah? Kalau begitu kau boleh segera mulai. Tentang Wisangjiwo, mudah saja.
Dia terhitung orang kepercayaan pangeran muda, akan tetapi karena aku yang
memasukkannya menjadi pengawal sehingga kini ia menjadi senopati muda, maka aku
dapat mengatur agar ia datang ke tempat ini dan kau dapat berhadapan empat mata
dengannya. Akan tetapi, jangan engkau menjadi buta oleh dendam pribadi engkau
harus dapat membantuku melakukan penyelidikan. Kalau tidak salah, para pembantu
pangeran muda itu sebagian besar dikumpulkan oleh Adipati Joyowiseso ayah
Wisangjiwo. Nah, kau cobalah untuk memaksanya mengaku, peran apakah yang
dilakukan ayahnya dan oleh dia sendiri."
"Sendika
dawuh paduka, gusti!" jawab Pujo dengan hati girang.
Memang ia
dahulu sudah menduga di dalam hatinya, Adipati Joyowiseso dan puteranya itu
tidak tunduk benar-benar kepada Mataram, maka dalam keadaan Kerajaan sedang
kacau di mana dua orang pangeran saling berebut kekuasaan, tentu memberi
kesempatan kepada orang-orang yang tidak setia untuk mainkan perannya.
Ki Patih
Narotama lalu pergi meninggalkan muara Sungai Lorog, dan beberapa hari kemudian,
benar saja Pujo dari tempat sembunyinya melihat seorang laki-laki gagah perkasa
naik kuda besar hilir mudik di sekitar muara. Siapa lagi orang itu kalau bukan
Wisangjiwo! Senopati muda ini menerima perintah dari ki patih sendiri untuk
menyelidiki muara Sungai Lorog yang menurut ki patih, mungkin menjadi tempat
disembunyikannya pusaka kerajaan yang hilang dan masih dicari-cari oleh semua
tokoh di empat penjuru. Seperti para tokoh lainnya, Wisangjiwo tentu saja ingin
sekali bisa menemukan dan merampas pusaka itu karena kedua pangeran diam-diam
saling memperebutkan pusaka dan mengutus orang-orang kepercayaan untuk
mencarinya. Hal ini tidaklah aneh kalau terdapat kepercayaan bahwa siapa yang
memiliki patung pusaka, dialah yang mendapat wahyu untuk menjadi raja! ,
Seperti telah
sedikit disinggung Ki Patih Narotama ketika berceritera kepada Pujo, memang
terjadi perebutan pengaruh dan kekuasaan di istana. Semestinya, putera yang
pertama atau pangeran tua yang sepatutnya menjadi pangeran mahkota. Hal ini
sudah lajim karena sebagai putera tertua, tentu saja pangeran tua yang menjadi
calon raja. Sang Prabu Airlangga juga tidak melanggar kelajiman ini dan sebelum
beliau mengundurkan diri untuk menjadi pertapa, kekuasaan sementara ia serahkan
kepada pangeran tua, diembani oleh Ki Patih Narotama yang oleh Sang Prabu
Airlangga dianggap sebagai wakil beliau pribadi. Hal ini menimbulkan iri dalam
hati pangeran muda dan ibunya, maka mulailah mereka berusaha untuk mengenyahkan
setidaknya mengurangi pengaruh dan kekuasaan pangeran tua. Dengan menggunakan
barang-barang berharga seperti emas dan permata, pangeran muda ini mengumpulkan
orang-orang pandai dan menjanjikan kedudukan-kedudukan mulia, mengadakan
persekutuan dengan mereka yang memang memusuhi Prabu Airlangga dan menanti kesempatan
untuk memberontak. Di antara cara-cara yang digunakan pangeran muda untuk
mengurangi kekuasaan kakak tirinya adalah mempergunakan orang-orang pandai
membunuhi tumenggung-tumenggung dan senopati-senopati yang setia kepada Prabu
Airlangga dan karenanya mereka taat akan perintah dan bersetia pula kepada
pangeran tua.
Banyaklah
sudah para tumenggung yang tewas tentu saja dengan dalih permusuhan pribadi.
Bahkan Ki Patih Narotama sendiri sudah sering dihadang di tengah jalan dan
dikeroyok. Hanya berkat kesaktiannya, selama itu ki patih masih dapat
menyelamatkan diri. Dan karena adanya Ki Patih Narotama inilah pangeran muda
masih belum berani terang-terangan berusaha merebut kekuasaan, apalagi Sang
Prabu Airlangga sendiri masih hidup, biarpun sudah menjadi pertapa dan tidak
mau mencampuri urusan duniawi. Wisangjiwo adalah seorang pemuda yang cerdik. Ia
tahu ke mana angin bertiup, sebentar saja bertugas di dalam keraton, tahulah ia
akan persaingan ini dan tahulah ia fihak mana yang harus ia bantu. Karena ia
dan ayahnya memang bermaksud memberontak, maka segera ia mendekati pangeran
muda dan mengambil hati pangeran ini. Maka dalam waktu singkat saja Wisangjiwo
ditarik oleh pangeran muda dan menjadi senopatinya, bahkan menjadi orang
kepercayaannya. Melalui Wisangjiwo inilah pangeran muda dapat berkenalan dan
menarik bantuan tokoh-tokoh yang memang sudah lama dihimpun oleh ayah
Wisangjiwo, yaitu Adipati Joyowiseso.
Tentu saja
begitu mendengar dari ki patih bahwa ada kemungkinan patung pusaka
disembunyikan di muara Sungai Lorog, Wisangjiwo menjadi girang sekali dan
tergesa-tega berangkat naik kuda ke daerah itu. la tidak heran mengapa ki patih
justru menyuruh dia, karena hal ini baginya tidak aneh. Bukankah ia selalu
bersikap hormat dan baik terhadap ki patih? Bukankah ki patih ini bekas kekasih
gurunya, Ni Durgogini? Hal ini baru ia ketahui setelah ia bekerja di istana.
Dan bukankah Ki Patih Narotama yang membantunya mendapatkan kedudukan di
istana? Tanpa curiga sedikitpun, Wisangjiwo berangkat naik kuda. Kalau benar-benar
ia dapat menemukan patung pusaka, hemmm .... ia masih ragu-ragu apakah akan
diserahkannya pusaka itu kepada pangeran muda. Bagaimana nanti sajalah,
pikirnya dan dengan hati gembira ia mempercepat larinya kuda.
Di balik
batang pohon, Pujo yang mengintai kedatangan Wisangjiwo, menjadi tegang seluruh
tubuhnya. Melihat musuh besarnya ini, terbayanglah semua peristiwa sepuluh
tahun yang lalu, peristiwa malam jahanam di dalam Guha Siluman. Kedua tangan
Pujo dikepalkan erat-erat, matanya menjadi merah beringas, gigi atas dan bawah
bertemu ketat menimbulkan bunyi berkerotan, jantungnya berdegup seakan hendak
pecah, napasnya mendesis keluar di antara gigi yang merapat. Ketika kuda yang
ditunggangi Wisangjiwo lewat, Pujo cepat-cepat lari membayangi sambil
bersembunyi dari pohon ke pohon. Akhirnya, di dekat muara di mana air Sungai
Lorog yang kemerahan memasuki laut yang airnya kebiruan, Wisangjiwo melompat
turun dari atas kudanya. Ia tidak mengikat kuda ini pada pohon, tanda bahwa
kuda itu jinak dan baik. Kemudian Wisangjiwo melangkah ke kanan menyusuri
pinggir muara, matanya memandang ke empat penjuru. Bagaimana di tempat yang
sunyi ini disembunyikan patung pusaka? Apakah Ki Patih Narotama sengaja
berbohong dan mempermainkannya? Akan tetapi hatinya berdebar ketika ia melihat
sebuah pondok kecil di sudut sana, dekat hutan. Hemm, agaknya pondok itu ada
penghuninya dan penghuni pondok itu agaknya yang tahu akan pusaka yang
disembunyikan. Dengan langkah lebar Wisangjiwo berjalan menuju ke pondok. Akan
tetapi tiba-tiba dari balik sebatang pohon meloncat keluar seorang laki-laki
yang menghadapinya dengan muka beringas dan mata merah.
"Pujo
...... ??!?"
Wisangjiwo
berseru kaget sekali. Kaget dan heran, karena sungguh ia sama sekali tidak
pernah menyangka akan bertemu dengan Pujo di tempat ini. Akan tetapi ia sama
sekali tidak takut. Dahulu ia pernah kalah oleh Pujo di dalam guha itu, akan
tetapi lain dulu lain sekarang. Ia telah memperdalam ilmunya. Pula, ia malah
girang bertemu dengan musuh besarnya, yang telah mem- perkosa isterinya dan
adiknya, dan telah menculik puteranya.
Pujo tertawa
menyeramkan, tawa mengandung dendam, benci, dan juga girang. Bertahun-tahun ia
menanti datangnya saat ini dengan penuh ketekunan. Belum pernah sedetikpun api
dendam yang menyala di dalam hatinya itu padam. Bahkan mengecilpun tidak kalau
tak dapat dikatakan makin membesar.
"Wisangjiwo
jahanam pengecut! Akhirnya kita berhadapan empat mata di tempat sunyi ini.
Agaknya Dewa Keadilan sengaja mempertemukan kita agar semua perhitungan yang
lalu dapat dibereskan sekarang juga. Wisangjiwo, sepuluh tahun lebih yang telah
lalu, engkau melakukan perbuatan keji dan biadab. Kau merobohkan aku dengan
serangan pengecut dan curang, kemudian engkau melakukan perbuatan biadab
terhadap isteriku. Nah, sekarang bersiaplah untuk menebus dosamu dengan
nyawa!"
Wisangjiwo
bertolak pinggang dan tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha-ha!
Benar-benar engkau pria yang sama sekali tidak jantan! Engkau memutarbalikkan
fakta dan pandai melontarkan fitnah hanya untuk mencarikan dalih penutup
perbuatan-perbuatanmu yang biadab. Ha-ha- ha!"
Pujo
mengerutkan keningnya.
"Apa
maksud kata-katamu yang busuk ini? Kau berani menyangkal bahwa malam itu kau
tidak datang ke Guha Siluman, memukul roboh aku secara curang kemudian engkau
memperkosa isteriku yang telah terluka dan tak berdaya?"
Wisangjiwo
menggeleng kepala cepat-cepat.
"Datang
ke guha dan bertanding denganmu sampai isterimu dan engkau roboh, itu memang
betul. Akan tetapi setelah itu aku pergi ke luar guha, sama sekali tidak memperkosa"
"Bohong
...... !!"
Saking
marahnya Pujo sudah menerjang maju, memukul dahsyat sekali karena ia telah
mempergunakan Aji Gelap Musti dalam keadaan dendam dan penuh kebencian.
No comments:
Post a Comment