"Pujo.......! Kuminta kepadamu demi dewata yang agung lekas bunuh saja padaku agar punah sudah perhitungan kita. Akan tetapi, kaukembalikan puteraku ke kadipaten......" Ia memohon, mukanya masih pucat sekali.
Pujo tersenyum,
tangan kirinya mencengkeram baju dekat pundak, tangan kanannya mencengkeram
keris Banuwilis.
"Keparat!
Sekarang kau ada muka untuk minta-minta? Kau tidak ingat betapa aku hampir gila
mengingat akan kebiadabanmu terhadap isteriku dahulu? Hemmm, seluruh urat
syaraf di tubuhku mendesak agar kucincang tubuhmu sekarang juga dengan keris
ini! Akan tetapi terlampau enak bagimu, Wisangjiwo, terlampau enak dan terlalu
lekas mampus. Kau tunggulah ....... ! Engkau laki-laki perusak wanita,
mengandalkan kedudukan, harta benda dan wajah tampan. Bagaimana kalau
kubuntungkan saja hidungmu? Dan kedua telingamu? Bagaimana kalau kurajang
mukamu sehingga kelak setiap orang wanita yang memandang mukamu, biar
nenek-nenek sekalipun, akan muntah karena jijik dan muak?"
Gelora dendam
membuat Pujo bicara seperti orang tidak waras lagi pikirannya, matanya merah
dan mukanya menjadi buas sehingga Wisangjiwo makin pucat dan ngeri. Biarpun
Wisangjiwo merasa tidak pernah memperkosa isteri Pujo, namun mulailah ia
menyesali perbuatan-perbuatannya yang lalu. Memang banyak sudah ia merusak anak
isteri orang dan inilah agaknya buah daripada perbuatannya, atau hukum karma
daripada semua perbuatannya itu. Ia merasa ngeri karena tahu bahwa dalam
keadaan murka seperti itu bukan tidak mungkin Pujo melaksanakan ancamannya yang
menyeramkan. Ketika keris di tangan Pujo menggigil dan sudah terangkat,
Wisangjiwo meramkan matanya dan ....
"Kakangmas
Pujo ..... !!"
Keris itu
tertahan dan Pujo mencengkeram baju Wisangjiwo makin erat saking kagetnya.
Wisangjiwo juga membuka matanya dan melihat seorang wanita cantik jelita datang
berlari seperti terbang cepatnya. Wisangjiwo terkejut bukan main karena wanita
itu bukan lain adalah Kartikosari! Kartikosari yang lebih cantik menarik
daripada dahulu, akan tetapi Kartikosari dengan sepasang mata yang
bersinar-sinar penuh dendam memandang kepadanya!
"Kakangmas
Pujo, biarlah aku yang membalas jahanam terkutuk ini!" seru Kartikosari
girang ketika ia sudah tiba di tempat itu.
Pujo masih tak
mampu mengeluarkan kata-kata, bahkan kedua kakinya menggigil ketika ia
memandang kepada isterinya, hatinya penuh keharuan, penuh penyesalan, penuh
rindu. Munculnya Kartikosari di saat ia berhasil menangkap musuh besar ini
sungguh-sungguh tak pernah ia sangka. Ia hanya memandang wajah isterinya itu
tanpa berkedip, mukanya pucat dan ketika mendengar permintaan Kartikosari, ia
tidak dapat menjawab, hanya melangkah mundur dan memandang seperti orang mimpi.
Dengan gerakan ringan dan cepat sekali sehingga amat mengherankan hati Pujo
yang maklum bahwa isterinya dahulu tidaklah secepat itu gerakannya, Kartikosari
meloncat ke depan Wisangjiwo yang memandangnya dengan mata terbelalak. Sinar
mata Kartikosari penuh kebencian menyala-nyala dan kedua tangannya bergerak ke
depan.
"Plak-plak-plak-plak!"
Empat kali
tangannya menampar kedua pipi. Wisangjiwo merintih biarpun ia telah sekuat
tenaga menahan sakit. Ternyata kulit pipinya hancur oleh tamparan itu dan penuh
darah saking hebatnya tamparan telapak tangan Kartikosari!
"Manusia
berhati binatang! Anjing busuk hina-dina!" Kartikosari memaki dengan mata
berapi-api.
"Aku akan
merobek dadamu, akan kukeluarkan jantungmu, kuminum darahmu! Akan tetapi lebih
dulu akan kucokel kedua matamu!"
Wisangjiwo
merasa ngeri. Menghadapi wanita ini kiranya lebih mengerikan daripada
menghadapi kemarahan Pujo tadi. Akan tetapi ia membesarkan hatinya dan memaksa
senyum biarpun kedua pipinya merasa nyeri kalau digerakkan, lalu berkata lemah,
"Kalian
pengecut-pengecut boleh melakukan kepadaku apa saja kepada orang yang terikat
tak mampu membalas!"
"Bedebah!
Kau masih berani bicara begitu? Tak ingat akan perbuatanmu sendiri dahulu?
Kaukira aku takut kepadamu jika kau terlepas? Cihh, tak tahu malu! Boleh kau
kulepaskan, biar lebih enak aku menghajarmu!"
Setelah
berkata demikian, Kartikosari merenggut dengan kedua tangannya ke arah tambang
yang mengikat tangan dan dada Wisangjiwo. Hebat sekali kepandaian wanita ini
sekarang, sekali renggut saja tali-tali yang kuat itu putus semua!
Setelah kedua
tangannya bebas, Wisangjiwo cepat melepaskan cambuk Sarpokenoko yang melilit
lehernya. Ia merasa betapa kedua pergelangan tangannya sakit-sakit setelah
terlepas daripada belenggu, dan hampir sukar digerakkan karena darahnya tidak
lancar jalannya. Karena itu, ia lalu memencet-mencet kedua pergelangan
tangannya untuk memperlancar jalan darahnya. Kartikosari berdiri menanti sambil
memandang dengan senyum mengejek, sama sekali tidak takut melihat musuhnya
bebas dan sudah memegang sebatang cambuk. Akan tetapi ketika ia melihat ke arah
jari-jari tangan yang bergerak-gerak memencet-mencet pergelangan tangan itu,
tiba-tiba ia menjadi pucat, menjerit lirih dan tubuhnya terhuyung-huyung hendak
roboh! Pujo kaget sekali dan cepat ia merangkul pundak isterinya agar tidak
sampai jatuh. Mendapatkan kesempatan ini, Wisangjiwo yang tahu bahwa nyawanya
di tepi jurang kematian itu lalu melarikan diri. Pujo menjadi marah dan
melepaskan rangkulannya dan pundak Kartikosari sambil membentak.
"Jahanam
busuk hendak lari ke mana?" Akan tetapi sebelum ia sempat meloncat dan
mengejar, lengannya dipegang Kartikosari yang mencegahnya. Pujo kaget dan
heran, menoleh dan memandang dengan kening berkerut.
"Jangan
kejar dia .... !"
"Mengapa?
Aku harus bunuh dia!"
Kartikosari
menggeleng kepala dan wajah yang ayu itu nampak kecewa.
"Bukan
dia ...... ahhhh, bukan dia ...... "
"Nimas
Sari ...... apa maksudmu?"
Pujo memegang
pundak isterinya dan menatap wajah yang sudah bertahun-tahun ia rindukan ini.
"Bukan
dia orangnya ...... ah, selama bertahun-tahun ini aku menjatuhkan dendam kepada
orang yang sama sekali tidak berdosa, dan agaknya engkau juga, kakangmas Pujo.
Aduh, makin payah penanggungannya kalau begini!"
Kartikosari
merenggutkan tangannya yang dipegang suaminya, dan membanting-banting kakinya
dengan marah. Tergetar hati Pujo menyaksikan ini. Terbayang depan matanya
betapa dahulu isterinya juga membanting-banting kakinya kalau sedang
marah-marah dalam kemanjaan. Akan tetapi sekarang lenyaplah sikap manja itu,
dan kemarahannya benar-benar tidak dibuat-buat.
"Sari
...... apa maksudmu? Kau bilang bahwa bukan Wisangjiwo orangnya? Bukan dia
musuh kita?"
Dalam suara
Pujo terkandung kegetiran dan kepahitan, bahkan terbayang keraguan dan
kecurigaan. Selama sepuluh tahun bertapa ini, perasaan Kartikosari peka sekali
maka cepat ia membalikkan tubuh menoleh, menatap wajah suaminya dengan pandang
mata seakan-akan menembus jantung Pujo.
"Kau kau
masih tak berubah! Kau laki-laki penuh cemburu! Kau menyangka aku sengaja
melindungi dia, bukan? Celaka!"
Merah wajah
Pujo. Ingin ia memukul mukanya sendiri. Memang tak dapat disangkalnya, ada
perasaan dan dugaan demikian itu tadi menyelinap dalam benaknya. Ia menunduk,
lalu tiba- tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan isterinya.
"Nimas
Sari, isteriku jangan kau memandangku seperti itu....... ah, isteriku, kau
tidak tahu betapa hebat kesengsaraanku selama sepuluh tahun ini. Kartikosari,
kau kembalilah kepadaku, nimas. Jangan kautinggalkan aku lagi. Aku percaya
kepadamu, biarlah dewata menghancur leburkan diriku kalau aku tak percaya kepadamu.
Aku cinta padamu, nimas, dan aku tidak sanggup hidup jauh daripadamu. Marilah,
nimas, mari kita bangun kembali rumah tangga kita. ......
"Tidak
...... ! Tidak ...... kakangmas Pujo. Belum tiba saatnya!"
"Nimas
Sari ...... tega benarkah engkau membiarkan aku hidup merana seperti orang gila
tidak kasihankah engkau kepadaku ...... ?"
"Kakangmas
Pujo, coba kau ingat-ingat, alangkah serupa keadaan kita sekarang ini dengan
sepuluh tahun yang lalu di dalam guha, hanya akulah waktu itu yang
memohon-mohon akan tetapi engkau yang membalas dengan penghinaan dan fitnahan
keji ...... "
"Aduh,
nimas ....... ampunkahlah aku. Ketika itu aku gila oleh malapetaka yang menimpa
kita, aku gila dan tetap bersikap tidak adil kepadamu, nimas. Namun kegilaanku
itu telah kutebus dengan penderitaan hidup bertahun-tahun. Kau ampunkanlah aku,
nimas ...... dan marilah kita hidup bersama kembali, membangun cinta kasih kita
yang porak-poranda dilanda badai nimas Sari, aku selamanya tak pernah
kehilangan cinta kasihku kepadamu dan aku tahu bahwa kaupun selalu mencintaiku,
nimas ....... "
Suara Pujo
memelas sekali. Melihat dia berlutut mengembangkan kedua lengan, dengan suara
gemetar dan muka pucat, mata penuh permohonan, mulut seperti orang hendak
menangis, hati siapa yang kuat menahan? Apalagi hati Kartikosari yang memang
mencinta suaminya, serasa ditusuk-tusuk jarum rasa jantungnya. Ingin ia
menjatuhkan diri berlutut, membiarkan dirinya di dalam pelukan suaminya yang
aman sentausa, membiarkan dirinya dibelai dan dicumbu laki-laki yang setiap
malam ia rindukan dan impikan. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya. Ia membuang
muka untuk menyembunyikan air matanya yang bercucuran membasahi pipi, tangan
kirinya ia goyang-goyang perlahan, kemudian berkatalah wanita ini dengan suara
bercampur isak.
"Belum
tiba waktunya, kakangmas. Engkau belum berhasil menghukum orang yang
mendatangkan aib dan sengsara kepada kita, bagaimana kau ada muka untuk
mengajak aku kembali? Kakangmas Pujo, sebelum kulihat dia yang telah merusak
kebahagiaan kita itu menggeletak tak bernyawa di depan kakiku, mana mungkin aku
dapat kembali kepadamu? Tadinya kusangka Wisangjiwo orangnya ah, kiranya bukan
dia...... bukan dia ...!" Suara Kartikosari kecewa sekali dan kini ia
menangis betul-betul.
"Kalau
begitu, siapakah, nimas? Kau sungguh membikin hatiku bingung. Bukan sekali-kali
aku menyangka engkau melindunginya, ohhh, sama sekali tidak. Akan tetapi,
ketika itu, bukankah Wisangjiwo si keparat yang bertempur dengan kita? Bukankah
tidak ada orang lain terdapat di dalam guha di malam jahanam itu? Maka betapa
aku takkan heran dan bingung mendengar kau memastikan bahwa bukan dia orangnya
yang menjadi musuh besar kita?"
Kartikosari
menghapus air matanya. Kini wajahnya menjadi beringas kembali, penuh kemarahan.
"Bukan
dia memang! Kakangmas Pujo, kau tidak tahu dan karena pada waktu itu engkau
seperti gila karena cemburu, maka aku tidak sempat memberi tahu. Sekarang
ketahuilah bahwa biarpun pada waktu itu aku tidak berdaya karena terluka, namun
aku masih berhasil mendatangkan cacad kepada si laknat terkutuk. Aku telah
berhasil menggigit sampai putus sebagian daripada kelingking tangan
kirinya." Ia meraba-raba ke dalam kembennya, mengeluarkan sebuah benda
kecil dan melemparkannya kepada Pujo yang masih berlutut di atas tanah.
"Inilah
dia kelingking itu. Musuh kita sekarang tidak mempunyai jari kelingking pada
tangan kirinya! Dan kulihat Wisangjiwo tadi masih lengkap jari tangannya, oleh
karena itu tanpa ragu kukatakan bahwa bukan dia si jahanam malam itu! Nah,
kakangmas, aku girang melihat engkau masih hidup dan selamat serta sehat.
Biarlah kita berpisah sekarang dan baru kita mungkin berkumpul lagi kalau sudah
berhasil aku melihat musuh kita menggeletak tanpa nyawa di depan kakiku.
Selamat tinggal, kangmas ...... !"
Kartikosari
memandang suaminya penuh kasih sayang yang mesra untuk beberapa lamanya,
kemudian ia membalikkan diri sambil terisak dan lari dengan cepat sekali
meninggalkan Pujo. Pujo hanya membisikkan nama isterinya, mukanya pucat dan
matanya tertuju kepada benda kecil di depannya, sepotong jari kelingking yang
sudah kering. Pikirannya berputar-putar membuatnya nanar dan pening. Terang
bukan Wisangjiwo kalau begitu. Akan tetapi mengapa? Bagaimana? Siapa gerangan?
Dan dia sudah membalas kepada keluarga Wisangjiwo! Dia sudah menculik Joko
Wandiro. Ah, dia sudah bertindak terlalu jauh. Jadi Wisangjiwo tidak berdosa?
Siapakah dia yang melakukan perbuatan biadab di malam jahanam itu. Orang tanpa
kelingking kiri? Tiba-tiba Pujo meloncat berdiri, serasa pernah ia melihat
orang yang tak berkelingking kiri. Akan tetapi lupa lagi ia di mana, dan lupa
pula bilamana dan siapa. Ia membungkuk, mengambil benda mengerikan itu lalu
menyimpannya dalam saku. Ketika ia memandang ke depan, bayangan Kartikosari
telah lenyap. Betapapun juga, agak terhibur hatinya bahwa isterinya masih
hidup, isterinya masih cantik jelita dan ia tahu dari pandang mata isterinya
bahwa Kartikosari masih mencintanya, bahwa isterinya itu menanti sampai musuh
besar mereka itu terbalas, baru suka kembali kepadanya. Wajah Pujo mulai tampak
berseri, tidak seperti biasanya muram-suram. Kini ada titik api menerangi
wajahnya, titik api harapan yang membuat hidupnya berarti. Dengan girang ia
lalu berlutut dan menelungkup di atas tanah di tempat Kartikosari tadi berdiri.
Dibelai-belainya rumput hijau yang masih rebah terinjak kaki isterinya,
diciuminya rumput itu penuh rindu sambil berbisik-bisik,
"Sari
...... Sari "
No comments:
Post a Comment