Pujo sama sekali tidak pernah mimpi bahwa tak jauh dari situ, di tengah hutan, Kartikosari juga menangis sambil memeluk batang pohon. Kartikosari menciumi tangannya yang tadi terpegang Pujo sambil berbisik,
"Kakangmas
Pujo kasihan kau...... begitu kurus dan pucat...... tapi cinta kasihmu belum
bersih daripada cemburu, kangmas.......sehingga tak berani aku bercerita
tentang Endang... hu-hu-hukk...... kangmas, bilakah kita dapat berkumpul
kembali..?"
Sampai lama
wanita ini menangis, memeluki batang pohon dan bersambat menyebut-nyebut nama
suaminya, kemudian baru ia pergi dengan cepat sekali. Hatinya pepat karena kini
musuh besarnya menjadi teka-teki setelah ternyata bahwa Wisangjiwo tidak
buntung kelingkingnya. Ia menduga-duga akan tetapi tetap saja tidak dapat
menerka siapa gerangan laki-laki yang telah melakukan perbuatan biadab atas
dirinya di malam jahanam dalam guha sepuluh tahun yang lalu itu.
Kenyataan
bahwa kakek tua renta yang rambut dan cambangnya sudah putih semua itu
memondong mereka dengan sikap hati-hati, yang wajahnya membayangkan keramahan
dan larinya secepat terbang, membuat Joko Wandiro dan Endang Patibroto akhirnya
tidak meronta-ronta lagi dan mandah saja dibawa lari. Baik Endang Patibroto
maupun Joko Wandiro adalah anak-anak yang cerdik dan mereka dapat menduga bahwa
kakek ini tentulah bukan orang yang mempunyai niat buruk terhadap mereka. Joko
Wandiro pernah mendapat pesan ayahnya bahwa kelak kalau ayahnya
meninggalkannya, dia akan disuruh tinggal bersama seorang resi yang sakti
mandraguna, yaitu kakek gurunya sendiri yang kata ayahnya bernama Resi Bhargowo
dan tinggal di tepi Laut Selatan sebelah barat. Kalau kakek gurunya itu seperti
kakek ini saktinya, alangkah senang hatinya.
"Kek,
kami akan kaubawa ke mana, kek?" Akhirnya Joko Wandiro tak dapat menahan
lagi hatinya dan bertanya.
Kakek itu
tertawa tanpa memperlambat larinya.
"Kubawa
ke tempat tinggalku."
"Tetapi
ayah akan mencari-cariku, kek! Dia kan kebingungan tidak tahu ke mana aku kau
bawa pergi," kata pula Joko Wandiro.
"Heh-heh-heh,
biarlah, kelak juga kau akan bertemu kembali dengan ayahmu."
Kakek itu lari
makin cepat lagi sehingga suara angin bertiup keras di telinga kedua orang anak
itu.
"Kakek,
kalau ibuku tahu kau menculikku, tentu kau akan dibunuh!" tiba-tiba Endang
Patibroto berkata, suaranya nyaring, penuh ancaman.
"Ha-ha-ha,
ibumu takkan berani membunuh aku, angger!"
Endang
Patibroto mengerutkan keningnya. Ia seorang anak yang keras hati dan tidak mau
kalah. Ia menganggap ibunya seorang yang paling sakti di dunia ini, masa tidak
berani menghadapi kakek ini? Karena ibunya kalah tua barangkali?
"Kalau
ibu tidak berani, aku juga punya kakek yang sakti, kau tentu akan
dicekik!" katanya mendongkol.
Namun kakek
itu malah makin keras tertawa dan tidak menjawab. Sementara itu, diam-diam Joko
Wandiro memperhatikan gerak kaki kakek yang menggendongnya dan ia amatlah
kagum. Kedua kaki kakek itu benar-benar seperti tidak menyentuh bumi, tidak ada
suaranya namun amatlah cepat larinya, dan amat tinggi loncatannya.
"Kek, kau
hebat sekali. Akan tetapi belum tentu kakek akan dapat menangkan kakekku!"
kata Joko Wandiro.
"Kakek
guruku amat sakti."
"Kakek
gurumu? Siapa dia?"
"Kakek
guruku adalah guru ayahku bernama Resi Bhargowo!"
"Wah,
bohong! Kau tidak tahu malu!" Tiba-tiba Endang Patibroto berteriak marah.
"Eh, eh,
mengapa kau marah-marah dan memaki orang?" Joko Wandiro menegur.
"Kau tak
tahu malu! Resi Bhargowo adalah kakekku! Ayah ibuku adalah murid Resi Bhargowo
yang tinggal di Bayuwismo. Bagaimana kau berani mengaku-aku sebagai kakek
gurumu? Cih, tak bermalu!"
"Kau yang
tak tahu malu. Ayahku adalah murid terkasih Resi Bhargowo!"
"Bohong!"
"Kau yang
bohong!"
"Kek,
turunkan aku. Biar kuhajar mulutnya yang lancang!" Endang Patibroto
marah-marah.
"Boleh
kaucoba!" tantang Joko Wandiro.
Kakek itu
tertawa, akan tetapi keningnya berkerut dan ia menggeleng-geleng kepalanya. Ia
berhenti berlari, menurunkan Endang Patibroto dan memegang muka yang ayu itu
dalam kedua tangannya, memandangi penuh perhatian, kemudian berkata,
"Kau
memang anaknya, tak salah lagi. Cah ayu, kau adalah cucuku. Ibumu, Kartikosari,
adalah puteri tunggalku."
Endang
Patibroto yang sedang marah kepada Joko Wandiro itu kini terbelalak memandang
kakek itu. Wajah kakek yang menyeramkan dan menimbulkan rasa takut inikah
kakeknya?
"Siapakah
engkau, kek?"
"Aku
Bhagawan Rukmoseto, cucuku."
"Ah,
kalau begitu kau tak mungkin kakekku! Kakekku bernama Resi Bhargowo!"
"Ha-ha-ha,
memang sepuluh tahun yang lalu namaku Resi Bhargowo, akan tetapi sekarang
julukanku Bhagawan Rukmoseto. Lihatlah, rambutku sudah putih semua. Cucuku yang
manis, namamu siapakah?"
"Namaku
Endang Patibroto."
Diam-diam
kakek itu terkejut. Mengapa Kartikosari menamakan puterinya demikian? Rahasia
apakah yang telah terjadi sehingga puterinya itu berpisah dari suaminya?
Kemudian ia berpaling kepada Joko Wandiro dan memandang tajam. Bocah inipun
sejak tadi mendengarkan dengan mata terbelalak. Tiada hentinya ia memperhatikan
kakek ini dan menjadi ragu-ragu. Jadi kakek inikah guru ayahnya? Melihat Joko
Wandiro, Bhagawan Rukmoseto juga kagum. Anak ini bukan anak sembarangan dan
sudah sepatutnya kalau menjadi cucu muridnya pula. Akan tetapi mengapa anak ini
mengaku sebagai putera Pujo? Sering ia melihat dari jauh betapa seperti Endang
Patibroto dilatih Kartikosari, anak laki-laki ini digembleng oleh Pujo secara
hebat.
"Anak
baik, sekarang tiba giliranmu. Kau anak siapa?"
"Ayahku
Pujo dan menurut ayah guru ayah bernama Resi Bhargowo " Ia meragu.
Bhagawan
Rukmoseto tersenyum.
"Memang
tidak keliru. Ayahmu itu muridku, angger. Akulah kakek gurumu."
Mendengar ini,
serta-merta joko Wandiro menjatuhkan diri berlutut dan menyembah. Makin girang
hati kakek itu dan ia mengelus-elus kepala Joko Wandiro.
"Siapakah
namamu, nak?"
"Namaku
Joko Wandiro, eyang."
"Ayahmu bernama
Pujo. Dan ibumu? Siapakah ibumu?"
Joko Wandiro
hanya menggeleng kepala.
"Tidak
tahu, eyang. Ayah tidak pernah menceritakan tentang ibu,"
Si kakek
mengelus-elus jenggotnya lalu berpaling kepada Endang Patibroto.
"Dan kau,
angger. Siapakah nama ayahmu?"
Gadis cilik
itu menggeleng kepala keras-keras.
"Tidak
tahu!"
Berkerut
kening yang sudah putih itu.
"Ah,
cucu-cucuku, mari kita lanjutkan perjalanan. Kalian ikut bersamaku mempelajari
ilmu. Dunia sedang kacau-balau, permusuhan terjadi di mana-mana, perebutan
kekuasaan membuat orang saling bunuh, iblis dan setan merajalela, lebih baik
kalian belajar ilmu bersama kakek di tempat sunyi. Hayo!"
Tanpa menanti
jawaban kedua orang anak itu, Bhagawan Rukmoseto sudah menyambar tubuh mereka
lagi dan di lain saat ia sudah berlari secepat terbang meninggalkan tempat itu,
menuju ke timur. Bhagawan Rukmoseto tinggal di Pulau Sempu yang sunyi. Untuk
menyeberang ke pulau kosong itu ia menggunakan sebuah perahu yang
disembunyikannya di dalam semak-semak di tepi Laut Selatan.
Baik Joko
Wandiro maupun Endang Patibroto tadinya merasa tidak senang karena merasa
dipaksa dan diculik oleh orang tua yang mengaku menjadi kakek mereka itu, akan
tetapi setelah kakek itu memastikan bahwa ayah Joko Wandiro dan ibu Endang
Patibroto kelak pasti akan datang ke situ, mereka berdua merasa terhibur. Hanya
anehnya, di antara kedua orang anak itu seakan-akan terdapat rasa saling iri,
seakan-akan mereka bersaing dan tidak mau saling mengalah sehingga diam-diam
kakek pertapa itu merasa prihatin sekali, juga terheran-heran. Apalagi ketika
ia mencoba tingkat mereka, ia mendapat kenyataan bahwa tingkat mereka itu tidak
banyak selisihnya dan memang tidak salah lagi, ilmu yang mereka pelajari adalah
ilmu daripadanya, yaitu Bayu Tantra dan pukulan Gelap Musti. Maka mulailah ia
menggembleng keduanya dengan ilmu-ilmu yang tinggi, karena kakek yang waspada
ini maklum bahwa kedua orang cucunya ini akan hidup dalam jaman yang kacau dan
penuh dengan perang. Juga dalam mempelajari ilmu yang diturunkan kakek itu,
kedua orang anak ini selalu berlomba dan bersaing. Namun sifat ini sesungguhnya
malah membuat mereka cepat sekali maju. Sifat tidak mau kalah dan ingin
mengatasi yang lain inilah justeru membuat mereka tekun sekali berlatih dan
kemajuan yang mereka peroleh luar biasa sekali. Kurang lebih setahun kemudian
semenjak mereka tinggal bersama Bhagawan Rukmoseto, pada suatu senja kakek itu
tampak datang mendayung perahu ke pulau itu dengan wajah penuh kerut-merut dan
sinar mata sayu. Begitu ia melompat ke atas pulau, ia segera memanggil kedua
orang cucunya dan masuklah mereka bertiga ke dalam pondok kecil yang menjadi
tempat tinggal mereka. Dua orang anak itu bersila, bersujut di depan kakek ini
dengan hati berdebar. Melihat wajah yang biasanya berseri dan ramah itu kini
kelihatan marah dan gelisah, dua orang anak ini dapat menduga pasti telah
terjadi hal yang hebat.
"Cucu-cucuku,
aku telah bertemu dengan orang tua kalian dan mereka telah kuberi tahu bahwa
kalian berada bersamaku."
Endang
Patibroto bersorak girang.
"Eyang,
kenapa ibu tidak diajak ke sini?"
"Sstttt
..... !" Joko Wandiro mencela.
Gadis cilik
itu menjebi kepadanya dan mengernyitkan hidung mengejek. Sejenak keduanya
saling melotot. Bhagawan Rukmoseto menarik napas panjang.
"Cucu-cucuku,
kalian ini biarpun bukan saudara sekandung, akan tetapi terhitung saudara
seperguruan. Mengapa tidak bisa akur dan selalu bercekcok saja?"
"Dia yang
selalu mulai dulu, eyang," kata Joko Wandiro.
"Ah,
tidak, eyang. Dia itu anak laki- laki tidak pernah mau mengalah."
"Aaahhh
!"
"Aahhhhh
!"
Kembali
keduanya saling pandang melotot. Bhagawan Rukmoseto tersenyum. Kakek ini memang
telah menjumpai Pujo dan juga telah menjumpai puterinya. Mereka telah mengaku
terus terang apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, maka ia tahu bahwa Joko
Wandiro sesungguhnya adalah putera Wisangjiwo, sedangkan Endang Patibroto
puteri Pujo dan Kartikosari. Akan tetapi bukan hal ini yang membuat kakek itu
pulang dengan wajah keruh. Melainkan apa yang ia lihat dan dengar tentang
keadaan di Kerajaan Kahuripan. Permusuhan menjadi-jadi di antara Pangeran Tua
dan Pangeran Muda. Kini permusuhan dan persaingan terjadi secara
terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi lagi seperti dulu. Bentrokan antara
jagoan-jagoan mereka setiap hari terjadi. Para ponggawa terpecah dua, memihak
pilihan masing-masing. Juga para adipati di luar kerajaan mulai terpecah-pecah
bahkan sudah mulai saling serang sendiri. Perang saudara yang hebat sudah
membayang, takkan mungkin dapat dicegah lagi. Bunuh-membunuh mulai terjadi. Kedua
pihak saling menarik bala bantuan, orang-orang sakti dan para pertapa yang
biasanya bersembunyi di gunung-gunung dan pekerjaannya hanya mengejar ilmu
kebatinan dan bertapa memujikan selamat dan sejahtera bagi dunia dan isinya,
kini mulai turun gunung, keluar dari tempat sembunyi masing-masing untuk ikut
berlomba memperebutkan kedudukan Kebajikan menyuram, kekuasaan iblis dan setan
menonjol.
Dan kini, di
depan matanya sendiri, dua orang anak kecil yang masih bersih pikiran dan
hatinya, agaknya tidak terluput pula dari pengaruh hawa jahat yang merajalela
menguasai dunia. Ia lalu menggerakkan tangannya, merangkul kedua orang anak itu
di kanan kiri.
"Endang
Patibroto, kau adalah cucuku. Ibumu itu puteri tunggalku. Oleh karena itu
engkau harus taat kepadaku. Dan kau, Joko Wandiro, biarpun bukan keluarga,
namun sama saja. Kau cucu muridku dan akupun sayang kepadamu. Kalian ini ada
hubungan keluarga seperguruan, oleh karena itu sama sekali tidak boleh
bermusuhan. Kelak kalian harus bantu-membantu tidak boleh berselisih dan
bermusuhan. Ketahuilah, dunia sedang kacau dan tenaga kalian kelak amatlah
dibutuhkan untuk membantu para dewata memulihkan ketentraman. Kini orang-orang
jahat yang memiliki kesaktian luar biasa sedang merajalela, oleh karena itu
kalian harus tekun belajar di sini. Marilah, cucu-cucuku, mari ikut denganku.
Ada semacam rahasia yang harus sekarang juga kuberitahukan kalian sebelum
terlambat. Mari kalian ikut denganku."
Keluarlah
mereka bertiga dari dalam pondok. Hari telah senja dan matahari telah
bersembunyi di langit barat, hanya tinggal cahaya layung (merah kekuningan)
yang masih menerangi sebagian permukaan bumi bagian barat. Bhagawan Rukmoseto
menggandeng tangan Endang Patibroto di kiri sedangkan Joko Wandiro berada di
kanannya.
No comments:
Post a Comment