Pondok itu masih tetap sunyi. Asap tipis mengepul dari jendela kanan kiri pondok dan dari pintu yang terbuka. Asap berbau harum dupa cendana di dalam pondok itu, di atas dipan bambu, Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo tampak duduk bersila dengan kedua lengan di depan dada, duduk diam dalam keadaan bersamadhi. Tenang dan hening. Enam orang utusan Pangeran Muda sudah tiba di situ dan mereka kini mengurung pondok dari enam jurusan berdiri dengan sikap siap. Melihat pondok yang sunyi dan asap tipis harum yang mengepul dari pintu dan jendela, enam orang itu bersikap hati-hati sekali. Mereka cukup maklum bahwa Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo bukan lawan yang boleh dipandang ringan. Resi Bhargowo adalah adik seperguruan Empu Bharodo yang terkenal sakti. Berbeda dengan Empu Bharodo yang sudah memuncak ilmu batinnya sehingga kakek ini tidak suka mencampuri urusan duniawi dan sudah memiliki kesabaran yang tiada batasnya berdasarkan kasih yang tulus ikhlas kepada segala isi dunia, Resi Bhargowo ini masih belum mampu membebaskan diri daripada ikatan duniawi karena resi ini mempunyai puteri. Pula, sang resi masih suka olah kesaktian, biarpun sudah menjadi pendeta, namun masih berwatak satria, tidak suka membiarkan hal yang dianggapnya tidak adil. Jokowanengpati sendiri telah memberitahukan kepada lima orang tokoh yang menjadi sekutunya bahwa ilmu kesaktian Resi Bhargowo amatlah hebat dan sekali-kali tidak boleh dipandang rendah. Inilah sebabnya mengapa kini keenam orang itu tidak berani segera menyerbu masuk ke dalam pondok sunyi, melainkan hanya mengurung dan menanti kesempatan baik. Ni Durgogini dan Ni Nogogini yang menjaga di belakang pondok, diam-diam merasa tidak sabar menyaksikam teman-temannya yang sikapnya seperti ragu-ragu dan takut-takut ini. Akan tetapi karema mereka berduapun hanya merupakan pembantu-pembantu, mereka menahan diri. Mereka juga bukan orang sembarangan, kalau sekali bertindak terburu nafsu dan sembrono sehingga tergelincir, tentu akan memperoleh nama buruk dan rnalu. Maka merekapun hanya bersikap diam dan siap-siap untuk turun tangan apabila keadaan menghendaki. Seperti biasa di dalam rombongan ini, Cekel Aksomololah yang dianggap sebagai pelopor atau pimpinan. Pertama karena Cekel Aksomolo merupakan tokoh yang paling tua di antara mereka. Kedua karena apabila diadakan perbandingan kiranya kakek tua renta seperti Durna inilah yang paling sakti mandraguna. Di samping itu, karena pandainya, kakek ini sudah memperoleh kepercayaan Sang Pangeran Muda sehingga usaha penggerebegan atas diri Resi Bhargowo inipun oleh sang pangeran ditugaskan kepada Cekel Aksomolo.
"Uuhh-huh-huh!
Resi Bhargowo Kau yang sudah gentur bertapa, yang katanya sudah sidik paningal,
waspada dan mengenal sebelum dan sesudah takdir, apakah kini menjadi buta atau
pura-pura tidak tahu akan kedatangan kami?" Tiba-tiba Cekel Aksomolo yang
berdiri di depan pintu berkata, suaranya penuh ejekan.
Jokowanengpati
berdiri tak jauh di sebelah kirinya, memandang ke arah pintu penuh perhatian.
Hening saja dari dalam pondok. Tiada jawaban.
"Resi
Bhargowo ......... ! Kami masih mempergunakan sopan santun para tamu, tidak
sudi menyerbu seperti perampok! Akan tetapi kalau kau tidak tahu sopan santun
seorang tuan rumah, terpaksa ......." kata lagi Cekel Aksomolo yang tidak
melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu dari dalam pondok terdengar suara
orang. Suara itu ringan dan lemah, seakan-akan mengambang atau melayang keluar
terbawa asap tipis yang harum,
"Tidak
ada Resi Bhargowo di sini, yang ada Bhagawan Rukmoseto ......... !”
Enam orang itu
saling pandang. Memang selama ini, usaha mereka mencari Resi Bhargowo sia-sia
belaka. Tidak pernah terdengar berita tentang resi ini seakan-akan Resi
Bhargowo sudah lenyap ditelan bumi. Dan sebagai gantinya, muncul seorang tokoh
pertapa yang memakai julukan Bhagawan Rukmoseto. Akan tetapi menurut para
penyelidik yang sudah memata-matai pulau ini dan sang pertapa, yang bernama
Bhagawan Rukmoseto itu bukan lain adalah Resi Bhargowo juga yang kini rambutnya
sudah putih semua!
"Uuuh-huh-huh!
Kami yang salah panggil kalau begitu. Baiklah, Sang Bhagawan Rukmoseto! Orang
yang sudah berjuluk bhagawan tentu tidak buta sehingga dapat melihat kedatangan
tamu-tamu utusan Sang Pangeran Anom!"
Hening pula
sejenak. Jantung enam orang yang mengurung pondok itu menegang dalam penantian
jawaban. Apalagi ketika tiba-tiba secara aneh sekali, asap tipis yang tadinya
mengepul keluar dari kedua jendela dan pintu depan, kini tidak tampak sama
sekali. Mereka makin waspada dan diam-diam mereka telah meraba senjata
masing-masing untuk menjaga kalau-kalau orang yang mereka kurung rnenerjang
keluar.
"Hong
Wilaheng Nirmala Sadya Rahayu Widodo ......... !"
Terdengar
suara dari dalam, itulah mantera yang biasa diucapkan para pendeta untuk
menjauhkan bahaya dan menenangkan batin yang hanya mengandung kebaikan, jauh
dari pada nafsu buruk. Kemudian puja-puji itu jawaban yang ramah, akan tetapi
mengandung tantangan,
"Cekel
Aksomolo dan sahabat-sahabat, pintu pondokku tak pernah tertutup. Masuklah
siapa yang mempunyai keperluan berlandaskan itikad baik. Yang datang bermaksud
buruk, sebaiknya jangan menggangguku dan pergi saja dari Pulau Sempu ini karena
aku Bhagawan Rukmoseto bukankah orang yang suka mencari permusuhan!"
Ucapan ini
merupakan undangan dan sekaligus juga tantangan. Tentu saja keenam orang itu
tidak seorangpun datang dengan maksud hati baik, karena bukankah mereka datang
sebagai utusan Pangeran Anom yang menyuruh mereka merampas kembali Pusaka
Mataram, baik secara halus maupun kasar? Kini mereka saling pandang, karena
mereka yang menjaga di pinggir dan belakang rumah kini menempatkan diri
sedemikian rupa sehingga mereka dapat saling lihat.
Nampak
keraguan di dalam pandang mata masing-masing. Jokowanengpati melihat keraguan
para jagoannya ini, diam-diam menjadi tak senang dan mendongkol. Orang-orang
tua ini kalau di luaran bicaranya seperti guntur menyambar-nyambar, mengangkat
diri sendiri sampai setinggi langit, akan tetapi sekali menghadapi urusan
penting, menjadi ragu-ragu dan seperti saling dorong agar orang lain yang lebih
dulu bergerak rnenempuh bahaya! Diapun amat cerdik, maka dengan bisik-bisik ia
berkata,
"Eyang
Cekel, biarlah saya yang akan bicara karena dia masih paman guru saya. Saya
akan memasuki pintu itu, akan tetapi saya minta bantuan Ki Warok dan paman
Krendoyakso agar masuk dari kedua jendela pada saat itu sehingga keselamatanku
terjaga."
Cekel Aksomolo
mengangguk-angguk, lalu melambaikan tangan memanggil Ki Warok Gendroyono dan Ki
Krendoyakso. Dua orang manusia raksasa itu datang mendekat. Cekel Aksomolo
bisik-bisik dan mereka berdua mengangguk-angguk, lalu keduanya melangkah lebar
mendekati jendela, Ki Warok Gendroyono di jendela timur, sedangkan Ki
Krendroyakso di jendela barat. Jokowanengpati lalu melangkah maju mendekati
pintu yang terbuka itu sambil berseru,
"Paman,
paman resi! Inilah saya, murid keponakan paman, saya Jokowanengpati murid bapa
guru Empu Bharodo!"
"Murid
murtad! Pencuri hina!"
Suara dari
dalam ini terdengar marah dan penuh wibawa sehingga Jokowanengpati mundur dua
langkah. Mukanya berubah menjadi merah sekali. Akan tetapi dia cerdik. Melihat
betapa Ki Warok Gendroyono sudah memegang jimat kolor pusaka di dekat jendela
timur sedangkan Ki Krendoyakso juga sudah memegang senjata pusakanya penggada
Wojo Ireng, hatinya menjadi tabah dan ia melangkah maju lagi.
"Paman
resi, perkenankan saya masuk bertemu dengan paman. Ada urusan penting hendak
saya bicarakan dengan paman, urusan pusaka Mataram ......... ! "
Semua orang
menanti dengan hati tegang, hendak mendengar bagaimana jawaban orang di dalam.
Mereka datang untuk pusaka itu, dan di dalam hati orang tokoh besar itu, sukar
diduga bagaimana sikap mereka dan apa yang akan terjadi kalau pusaka Mataram
yang dirindukan semua tokoh itu benar-benar berada di situ dan sudah berhasil mereka
dapatkan! Akan tetapi tidak ada jawaban dan keadaan sunyi sekali. Selagi
Jokowanengpati hendak mengulang kata-katanya atas desakan Cekel Aksomolo yang
menggerak-gerakkan mulutnya seperti mencium terasi, terdengarlah suara helaan
napas panjang dari dalam disambung kata-kata,
"Pusaka
Mataram tidak ada di sini, harap kalian pergi jangan menggangguku"
Berubah wajah
enam orang itu, berubah marah. Jokowanengpati marah dan penasaran, maka katanya
keras,
"Paman,
harap jangan membohong! Saya tahu, pusaka Mataram berada di tangan paman!"
Sambil berkata demikian ia memberi isyarat kepada dua orang kawan yang menjaga
di jendela, lalu memasuki lubang pintu yang terbuka itu.
"Pergilah
......... ! " Terdengar bentakan dari dalam.
Jokowanengpati
terkejut sekali karena tidak ada orang yang menyerangnya, melainkan segumpal
asap putih yang tahu-tahu mendorongnya dari depan dengan kekuatan yang luar
biasa! Ia mengerahkan tenaga untuk melawan, namun sia-sia. Tubuhnya terlempar
dan terjengkang, terbanting jatuh di luar pintu, diikuti asap putih yang
mengepul keluar pintu. Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso sudah menyerbu
masuk, melompat ke dalam jendela yang terbuka. Akan tetapi mereka inipun
disambut gumpalan asap putih yang amat kuat. Selagi tubuh mereka masih melompat
di udara, gumpalan asap putih menyambut mereka dan mendorong mereka keluar lagi
dari jendela, terbanting ke atas tanah sehingga tubuh mereka bergulingan!
Sejenak mereka
semua tercengang. Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso bukanlah orang-orang
lemah. Biarpun mereka tadi terbanting oleh gumpalan asap yang mengandung
kekuatan luar biasa, namun mereka serentak sudah bangkit lagi dan menjadi
marah. Tadi mereka dapat dirobohkan karena tidak menyangka-nyangka sehingga
mereka menjadi korban serangan dari dalam. Itulah pukulan jarak jauh yang
dilontarkan oleh Bhagawan Rukmoseto dari tempat ia duduk bersila. Karena di
depannya mengepul asap kayu cendana, maka asap itu terbawa oleh pukulannya
sehingga merupakan "senjata" yang aneh.
"Rukmoseto
keparat!" bentak Ki Krendoyakso sambil menggosok-gosok kedua telapak
tangannya dan tak lama kemudian dari telapak kedua tangannya itu mengepul asap
hitam. Inilah sebuah di antara aji ilmu hitamnya yang disebut Kukus Langking
(Asap Hitam)!
"Bhagawan
pengecut, menyerang tanpa peringatan!" Ki Warok Gendroyono juga memaki
marah sambil melolos kolor jimat Ki Bandot dan memutar-mutarnya sehingga
terdengar suara angin menderu dan tampak sinar bergulung-gulung dahsyat!
"Gendroyono
dan Krendoyakso, aku tidak mencari permusuhan dan aku tidak membawa pusaka
Mataram yang kalian cari-cari. Sekali lagi kuperingatkan, pergilah dan jangan
menggangguku, Namun kalau kalian memaksa, jangan kira aku takut melayani
kalian. Majulah semua bersama, aku tidak akan mundur setapak!"
Suara Bhagawan
Rukmoseto terdengar mengambang di antara asap putih harum.
"Babo-babo
si keparat! Sumbarmu seperti akan meruntuhkan puncak Mahameru, Rukmoseto. Akan
tetapi kenyataannya engkau bersembunyi di dalam pondok seperti seorang
perempuan!"
Setelah
berkata demikian, Ki Warok Gendroyono lalu menghantamkan kolor ajimat Ki Bandot
ke arah jendela. Terdengar suara keras dan jendela itu berikut seluruh dinding
sebelah timur ambruk ke dalam! Tampaklah kini dari dinding bambu yang runtuh
itu keadaan di dalam pondok di mana seorang kakek berambut putih berkumis tebal
dan bersikap tenang berwibawa tengah duduk bersila menghadapi pedupan yang
mengeluarkan asap putih. Pada saat itu Ki Krendoyakso juga sudah menggerakkan
Wojo Ireng, senjata penggada yang menyeramkan itu dan kembali terdengar suara
keras ketika dinding sebelah barat ambruk pula!
"Huuh-huh-uh,
tidak ada artinya kau melawan kami, Rukmoseto! Lebih baik serahkan pusaka
Mataram kepada kami dan kau menurut saja kami belenggu dan jadikan tawanan. Kau
sudah tua, apakah tidak mencari jalan terang, Rukmoseto. Uhh-huh-huh!"
Cekel Aksomolo berkata mengejek.
Bhagawan
Rukmoseto masih duduk bersila dan menundukkan mukanya, menanti sampai dupa
cendana itu habis dimakan api. Asap putih makin menipis dan akhirnya lenyap
sehingga wajah kakek pertapa ini sekarang nampak jelas, tidak tertutup asap
tipis seperti tadi. Ia mengangkat mukanya memandang ke depan, lalu bangkit
berdiri dengan tenang melangkah keluar dari pondok. Sikapnya yang tenang
membuat para lawannya berhati-hati dan tidak berani bertindak sembrono.
"Kalian
ini orang-orang apa! Punya ilmu dan kedudukan hanya untuk mengumbar nafsu
angkara, untuk bersikap adigang-adigung-adiguna, mengandalkan kepandaian untuk
menindas, mempergunakan wewenang untuk mencari menang. Sudah kukatakan bahwa
pusaka Mataram tiada padaku, masih banyak lagak mau apakah?"
Suara Bhagawan
Rukmoseto tegas dan tandas, matanya mengeluarkan sinar berkilat. Ketika sinar
matanya menusuk. Jokowanengpati, orang muda itu meremang bulu tengkuknya dan ia
cepat berkata,
"Paman
Resi Bhargowo "
"Tidak
ada lagi Resi Bhargowo, yang ada Bhagawan Rukmoseto!" bentak pertapa itu
tegas.
No comments:
Post a Comment