Badai Laut Selatan ; Bagian 058


"Baiklah ......... ! , paman Bhagawan Rukmoseto. Hendaklah paman ketahui bahwa kami berenam adalah orang-orang kepercayaan ......... "
"Adipati Joyowiseso di Selopenangkep yang hendak memberontak kepada Kerajaan Medang, bukan?" kembali sang bhagawan memotong sambil tersenyum rnengejek.
Jokowanengpati menggeleng kepalanya.
"Paman keliru dan salah duga. Memang benar kami segolongan dengan paman Adipati Joyowiseso, karena beliaupun menjadi satu golongan dengan kami dalam membela yang benar. Kami semua adalah orang-orang kepercayaan dan bahkan kini bertugas sebagai utusan Gusti Pangeran Anom. Oleh karena itu, saya harap paman jangan memperlihatkan sikap permusuhan, karena apakah paman bermaksud rnemberontak kepada kekuasaan Gusti Pangeran Anom?" Jokowanengpati berhenti sebentar lalu melanjutkan cepat-cepat ketika melihat pendeta itu tersenyum penuh arti,
"Paman, saya tidak membohong. Kalau paman tidak percaya, boleh paman periksa di pantai itu. Kami datang menggunakan perahu gusti pangeran sendiri yang dapat paman lihat dari benderanya di tiang layar. Kami diutus untuk menemui paman dan minta pusaka Mataram dari paman bhagawan."
"Sudah kukatakan bahwa pusaka Mataram tidak berada dalam tanganku. Kalau kalian tidak percaya dan melakukan penggeledahan, silahkan!"
"Uuhh-huh-huh, kalau orang sudah mempunyai niat buruk, tentu ada saja akalnya, akal bulus-las-lus! Dicari juga mana bisa ditemukan kalau sebelumnya sudah disembunyikan?" Cekel Aksomola berkata, ludahnya nyiprat-nyiprat karena marahnya.
"Paman Bhagawan Rukmoseto Mengingat bahwa paman adalah saudara seperguruan bapa guru Empu Bharodo, maka saya masih menggunakan tata susila dan sopan santun. Akan tetapi harap paman ketahui bahwa kami adalah utusan-utusan Gusti Pangeran Anom dan diberi purbowaseso (hak mengambil keputusan dan bertindak)."
"Iyahhh, benar tuhhh! Kami sudah mendapat mandat penuh dari Gusti Pangeran Anom! Berikan saja pusaka itu baik-baik dan kau menyerah jadi tawanan kami, Bhagawan Rukmoseto. Kalau tidak, tempatmu akan menjadi karang abang (lautan api) dan kau akan dijadikan sate gosong (hangus), uh-huh-huh!"

Tiba-tiba berubah sikap Bhagawan Rukmoseto. Kalau tadi ia tenang sabar dan merendah, kini mukanya diangkat, dadanya dibusungkan, tubuhnya tegak dan tangan kirinya bertolak pinggang. Tampak kembali sikap seorang ksatria yang tabah dan takkan undur selangkahpun menghadapi lawan.
"Heh keparat Jokowanengpati! Sabda pendeta hanya ada satu tidak ada dua ! Kalau kukatakan bahwa pusaka Matararn yang hilang tidak ada padaku, maka hal itu memang sebenarnya demikian. Jangan kira bahwa gertakanmu itu menakutkan aku, orang muda berwatak rendah! Bahkan kedatangan kalian, terutama sekali kau dan Cekel Aksornolo, amat melegakan hatiku karena memberi kesempatan kepadaku untuk minta pertanggungan jawab kalian berdua ketika kalian beberapa tahun yang lalu mengganas di Bayuwismo!"
"Pertanggungan jawab apa? Uuhhuh, seperti memarahi cucunya saja, keparat! Kau minta pertanggungan jawab apa?"
"Cekel Aksomolo! Kau mengaku menjadi seorang cekel gemblengan, seorang pertapa, seorang ahli kebatinan, seorang yang sudah sadar akan hidup, akan tetapi sepak terjangmu seperti iblis. jahanam! Mengandalkan kepandaianmu yang terkutuk, engkau telah menyiksa dan menghina para cantrikku. Jelas bahwa engkau yang hendak mencari kesempurnaan batin, telah tersesat ke lembah kejahatan dan kehinaan, engkau diperalat iblis "

Teringat akan cantrik-cantriknya yang menjadi tuli oleh perbuatan kejam cekel ini, Bhagawan Rukmoseto menerjang maju dengan terkaman dahsyat, menghantam dengan gerakan Bayu Tantra dan pukulan tangan mengandung Aji Pethit Nogo yang dahsyatnya bukan kepalang itu.
"Syuuuuuutt ......... wuttt ......... !!"
Kalau saja hantaman ini mengenai kepala sang Cekel, betapapun saktinya, tentu akan mendatangkan akibat yang mengerikan. Biarpun Cekel Aksomolo seorang gemblengan yang sakti mandraguna, kebal nora tedas tapak paluning pande sisaning gurindo (tak termakan senjata gemblengan pandai besi dan bekas asahan), namun agaknya ia tidak akan kuat menerima pukulan Aji Pethit Nogo yang dilakukan oleh Sang Bhagawran Rukmoseto! Untung bahwa kakek tua renta ini masih belum kehilangan kewaspadaan mengenal pukulan ampuh dan masih berhasil menyelamatkan dirinya dengan melempar diri terjengkang ke belakang sehingga punggungnya menyentuh tanah, lalu bergulingan jauh sambil memutar tasbih di atas kepalanya. Malang baginya, ketika bergulingan itu, ia tidak melihat bahwa ia menuju ke arah tanah selokan, yaitu tempat mengalirnya air dari belakang pondok sehingga tubuhnya lenyap masuk ke dalam selokan yang kurang lebih setengah meter dalamnya.
"Adoouuh, sial dangkalan awakku ......... ! " la menyumpah-nyumpah sambil melompat bangun. Muka dan sebagian pakaiannya kotor terkena lumpur.
"Ki Warok dan Ki Krendoyakso! Kalian ini benggolan-benggolan besar, tadi dipukul di luar jendela sampai terguling-guling, apakah diam saja tidak berani membalas?"
Dasar Cekel Aksomolo orangnya cerdik dan licik. Persis seperti watak Bhagawan Durna dalam cerita pewayangan Mahabarata. Begitu ia melihat sambaran pukulan Pethit Nogo yang sedemikian dahsyatnya, ia maklum bahwa Bhagawan Rukmoseto merupakan lawan yang amat tangguh. Karena itu ia memancing kemarahan dua orang kawannya itu agar maju lebih dulu sehingga ia nanti dapat maju membantu sehingga keadaannya akan lebih menguntungkan, tidak langsung berhadapan dengan lawan tangguh itu!

Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso keduanya adalah orang-orang kasar tidak pandai menggunakan pikiran dan wawasan, hanya menurutkan hati. Maka mendengar ejekan Cekel Aksomolo, seketika mereka menjadi marah sekali. Ki Krendoyakso lalu melompat dan mengayun senjata penggadanya Wojo Ireng yang besar dan amat berat sambil membentak,
"Rukmoseto, lihat senjataku! Pegah dadamu kalau lengah sedikit saja!" Ia mengayun senjatanya yang mengeluarkan angin bersiutan.
Adapun Ki Warok Gendroyono juga sangat marah, tidak mau kalah dengan kawannya ini. Ia sudah memutar-mutar kolor ajimatnya Ki Bandot sehingga tarepak sinar bergulung-gulung dan memperdengarkan suara seperti kitiran tertiup angin kencang. la maju dan sesumbar,
"Bersiaplah untuk mampus, Rukmoseto! Sedikit kurang cepat, akan remuk kepalamu!"
Memang dahsyat terjangan kedua orang raksasa ini. Penggada Wojo Ireng di tangan Ki Krendroyakso adalah sebuah senjata yang berat, terbentur sedikit saja oleh senjata seberat ini pada dada, benar-benar dapat membuat dada pecah dan patah-patah tulang iganya. Juga senjata di tangan Ki Warok Gendroyono, sungguhpun hanya sehelai kolor (Pengikat celana dalam), namun bukan kolor sembarang kolor! Kolor ajimat yang dinamai Ki Bandot, mempunyai daya ampuh menggiriskan hati karena sabetan kolor ini mampu membikin hancur batu karang yang keras. Apalagi seorang manusia. Tidaklah terlalu berlebihan sumbarnya tadi. Memang kurang cepat sedikit saja mengelak, kepala akan bisa remuk!

Akan tetapi Bhagawan Rukmoseto adalah seorang sakti yang memiliki Aji Bayu Tantra, yang membuat tubuhnya dapat bergerak cepat sekali, berkelebat laksana bayu (angin). Bahkan ilmunya ini memungkinkan sang bhagawan berkelebat dengan tubuh ringan seperti sehelai daun kering, dapat bergerak menyelinap di antara hantaman penggada raksasa dan kolor maut! Bahkan kecepatan gerakannya membuat Bhagawan Rukmoseto begitu berkelebat mengelak lalu balas menyerang dengan pukulan Pethit Nogo, kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya yang ampuh itu menampar ke arah kepala Ki Warok Gendroyono dan dada Ki Krendoyakso.
Jangan dipandang remeh tamparan jari tangan kedua telapak tangan Bhagawan Rukmoseto ini. Itulah Aji Pethit Nogo (Ekor Naga) yang ampuhnya menggila, agaknya sama ampuhnya dengan ajl pukulan Bajra Musti ditangan Raden Gatutkaca dalam cerita pewayangan. Untung bahwa Ki Warok dan kepala rampok Bagelen itupun bukan manusia-manusia lumrah! Betapapun cepat dan
dahsyatnya datangnya kedua tamparan tangan Bhagawan Rukmoseto, mereka masih dapat melompat ke belakang sambil menyambut tangan kanan kiri lawan itu dengan senjata mereka. Luar biasa hebatnya akibat pertemuan kedua tangan dengan kedua senjata itu. Daun-daun di atas pohon terdekat rontok berhamburan. Burung-burung terbang bercuitan, kaget dan takut. Tanah terasa guncang seperti terjadi gempa bumi!

Ki Warok Gendroyono terhuyung-huyung mundur dengan tangan kanan menggigil dan kolor mautnya lemas. Ki Krendoyakso terpelanting pula ke belakang dan hampir saja penggada Wojo Ireng mencium tengkoraknya sendiri. Namun Bhagawan Rukmoseto juga terkena akibat benturan dahsyat seperti benturan ombak Segoro Kidul menghantam karang itu. Kakek inipun terpental dan terhuyung ke belakang, mukanya agak pucat namun kedua lengannya tidak terluka. Betapa sakti kakek ini dapat diukur dari benturan kedua tangan melawan dua senjata yang ampuh itu. Kesempatan selagi Bhagawan Rukmoseto terhuyung ini dipergunakan oleh Cekel Aksomolo. Kakek tua renta yang cerdik ini segera maklum bahwa keadaan lawan itu sedang amat buruk, maka secepat kilat ia mengeluarkan pekik kemenangan sambil melompat dan menerjang dengan tasbihnya diputar di atas kepala lalu ditimpakan ke atas kepala lawan. Mendengar suara berkeretik aneh dan merasai sambaran angin pukulan dahsyat yang mengandung pengaruh mujijat seakan-akan urat syarafnya tersentuh getaran aneh, Bhagawan Rukmoseto terkëjut. Ia maklum bahwa kakek tua renta ini benar-benar amat sakti, dan senjata tasbihnya itu ampuhnya menggila. Maka ia tidak berani menerima dengan tangannya, bahkan lalu menggulingkan tubuh ke kiri terus mengayun, kaki berjungkir balik dengan gerakan indah sekali.
"Ho-ho-ho-ho, jangan lari. Belum busik (lecet) kulitmu sudah mau lari? Cih, tak bermalu!" Cekel Aksomolo mengejek dan menyombong sambi mengejar.
Karena Bhagawan Rukmoseto melompat ke dekat Ki Krendroyakso yang sudah dapat menguasai dirinya lagi, tanpa berkata apa-apa kepala rampok Bagelen ini sudah mengayun penggadanya, sekuat tenaga ia menghantam kepala lawan. Dari arah lain, Ki Warok Gendroyono juga sudah mengayun kolor mautnya menghantam ke arah lambung! Memuncak kemarahan Bhagawan Rukmoseto. Ia mengeluarkan pekik yang aneh, jari-jari tangannya bergetar-getar mengeluarkan tenaga sakti yang dahsyat sekali ketika ia gerakkan. Dibarengi benturan keras tangan kirinya menyambut penggada Wesi Ireng.
"Desss!!"
Ki Krendoyakso terpekik kesakitan. Hampir saja ia melepaskan penggadanya. Ia dapat bertahan dan penggada itu tidak sampai terlepas, namun ia melompat ke belakang dan tangan kanannya sengkleh (lumpuh) sementara, penggadanya diseret karena tidak kuat lagi mengangkatnya. Tulang tangan kanannya serasa remuk-remuk karena tadi dihantam oleh hawa sakti Pethit Nogo yang menjalar dari penggada sampai tangan dan lengannya! Pada saat itu, beberapa detik kemudian, kolor di tangan Ki Warok Gendroyono tiba, mengancam lambung. Namun Bhagawan Rukmoseto yang sudah marah itu menyambut dengan tangan kanannya, juga sambil memekik keras.
"Desss!"
Ki Warok Gendroyono mendelik matanya, mukanya pucat ketika tubuhnya terpental melayang ke belakang seperti layang-layang putus talinya. Pertemuan kolor mautnya dengan tangan sakti itu membuat perutnya serasa dihimpit gunung, membuat ia sukar bernapas. Hawa sakti yang menerobos melalui kolor ke perutnya benar-benar hebat bukan main sehingga untuk melepaskan diri dari bahaya, ia cepat-cepat membuka kolornya dan hampir saja celananya terlepas kalau ia tidak cepat-cepat teringat dan memegangi celananya sambil terengah-engah!

Biarpun ia sudah berhasil mengundurkan dua orang lawan, namun harus diakui diam-diam oleh Bhagawan Rukmoseto bahwa dua kali tangkisan tadi telah membuat dadanya terasa sesak dan kedua tangannya agak nyeri. Celakanya, sebelum ia sempat bernapas, tasbih Cekel Aksomolo yang mengeluarkan suara tidak sedap itu sudah menyambar lagi, mengarah kepalanya dengan gerak melingkar-lingkar aneh dan sukar dielakkan. Sudah kepalang, pikir sang bahagawan, biar kucoba tenaga kakek menjemukan ini.
"Mundur ......... ! " teriak Bhagawan Rukmoseto sambil menangkis tasbih itu dengan kedua tangannya, mengerahkan seluruh tenaganya sambil menahan napas.
"Plakkk!!"
Tidak begitu keras pertemuan antara tasbih dan dua telapak tangan itu, namun kehebatannya melebihi adu tenaga dengan kolor dan penggada tadi. Bhagawan Rukmoseto seperti terdorong mundur yang memaksa kakinya melangkah ke belakang, dadanya makin sesak dan pusarnya panas sekali. Juga Cekel Aksomolo terpelanting ke belakang, jatuh terduduk sambil memegangi tasbih di atas kepala, napasnya ngos-ngosan seperti lokomotip mogok dan matanya merem melek seperti orang terheran-heran!.
Baru saja Bhagawan Rukmometo dapat menguasai keseimbangan tubuhnya, dari depan berkelebat dua sosok tubuh yang ramping dan tercium olehnya bau harum sedap yang menusuk hidung, disusul suara tertawa terkekeh dari kiri dan suara mengejek dari kanan, suara merdu wanita,
"Rukmoseto, kau mampus di tangan kami!"

<<< Bagian 057                                                                                    Bagian 059 >>>

No comments:

Post a Comment