"Baiklah ......... ! , paman Bhagawan Rukmoseto. Hendaklah paman ketahui bahwa kami berenam adalah orang-orang kepercayaan ......... "
"Adipati
Joyowiseso di Selopenangkep yang hendak memberontak kepada Kerajaan Medang, bukan?"
kembali sang bhagawan memotong sambil tersenyum rnengejek.
Jokowanengpati
menggeleng kepalanya.
"Paman
keliru dan salah duga. Memang benar kami segolongan dengan paman Adipati
Joyowiseso, karena beliaupun menjadi satu golongan dengan kami dalam membela
yang benar. Kami semua adalah orang-orang kepercayaan dan bahkan kini bertugas
sebagai utusan Gusti Pangeran Anom. Oleh karena itu, saya harap paman jangan
memperlihatkan sikap permusuhan, karena apakah paman bermaksud rnemberontak
kepada kekuasaan Gusti Pangeran Anom?" Jokowanengpati berhenti sebentar
lalu melanjutkan cepat-cepat ketika melihat pendeta itu tersenyum penuh arti,
"Paman,
saya tidak membohong. Kalau paman tidak percaya, boleh paman periksa di pantai
itu. Kami datang menggunakan perahu gusti pangeran sendiri yang dapat paman
lihat dari benderanya di tiang layar. Kami diutus untuk menemui paman dan minta
pusaka Mataram dari paman bhagawan."
"Sudah
kukatakan bahwa pusaka Mataram tidak berada dalam tanganku. Kalau kalian tidak
percaya dan melakukan penggeledahan, silahkan!"
"Uuhh-huh-huh,
kalau orang sudah mempunyai niat buruk, tentu ada saja akalnya, akal
bulus-las-lus! Dicari juga mana bisa ditemukan kalau sebelumnya sudah
disembunyikan?" Cekel Aksomola berkata, ludahnya nyiprat-nyiprat karena
marahnya.
"Paman
Bhagawan Rukmoseto Mengingat bahwa paman adalah saudara seperguruan bapa guru
Empu Bharodo, maka saya masih menggunakan tata susila dan sopan santun. Akan
tetapi harap paman ketahui bahwa kami adalah utusan-utusan Gusti Pangeran Anom
dan diberi purbowaseso (hak mengambil keputusan dan bertindak)."
"Iyahhh,
benar tuhhh! Kami sudah mendapat mandat penuh dari Gusti Pangeran Anom! Berikan
saja pusaka itu baik-baik dan kau menyerah jadi tawanan kami, Bhagawan
Rukmoseto. Kalau tidak, tempatmu akan menjadi karang abang (lautan api) dan kau
akan dijadikan sate gosong (hangus), uh-huh-huh!"
Tiba-tiba
berubah sikap Bhagawan Rukmoseto. Kalau tadi ia tenang sabar dan merendah, kini
mukanya diangkat, dadanya dibusungkan, tubuhnya tegak dan tangan kirinya
bertolak pinggang. Tampak kembali sikap seorang ksatria yang tabah dan takkan
undur selangkahpun menghadapi lawan.
"Heh
keparat Jokowanengpati! Sabda pendeta hanya ada satu tidak ada dua ! Kalau
kukatakan bahwa pusaka Matararn yang hilang tidak ada padaku, maka hal itu
memang sebenarnya demikian. Jangan kira bahwa gertakanmu itu menakutkan aku,
orang muda berwatak rendah! Bahkan kedatangan kalian, terutama sekali kau dan
Cekel Aksornolo, amat melegakan hatiku karena memberi kesempatan kepadaku untuk
minta pertanggungan jawab kalian berdua ketika kalian beberapa tahun yang lalu
mengganas di Bayuwismo!"
"Pertanggungan
jawab apa? Uuhhuh, seperti memarahi cucunya saja, keparat! Kau minta
pertanggungan jawab apa?"
"Cekel
Aksomolo! Kau mengaku menjadi seorang cekel gemblengan, seorang pertapa,
seorang ahli kebatinan, seorang yang sudah sadar akan hidup, akan tetapi sepak
terjangmu seperti iblis. jahanam! Mengandalkan kepandaianmu yang terkutuk,
engkau telah menyiksa dan menghina para cantrikku. Jelas bahwa engkau yang
hendak mencari kesempurnaan batin, telah tersesat ke lembah kejahatan dan
kehinaan, engkau diperalat iblis "
Teringat akan
cantrik-cantriknya yang menjadi tuli oleh perbuatan kejam cekel ini, Bhagawan
Rukmoseto menerjang maju dengan terkaman dahsyat, menghantam dengan gerakan
Bayu Tantra dan pukulan tangan mengandung Aji Pethit Nogo yang dahsyatnya bukan
kepalang itu.
"Syuuuuuutt
......... wuttt ......... !!"
Kalau saja
hantaman ini mengenai kepala sang Cekel, betapapun saktinya, tentu akan mendatangkan
akibat yang mengerikan. Biarpun Cekel Aksomolo seorang gemblengan yang sakti
mandraguna, kebal nora tedas tapak paluning pande sisaning gurindo (tak
termakan senjata gemblengan pandai besi dan bekas asahan), namun agaknya ia
tidak akan kuat menerima pukulan Aji Pethit Nogo yang dilakukan oleh Sang
Bhagawran Rukmoseto! Untung bahwa kakek tua renta ini masih belum kehilangan
kewaspadaan mengenal pukulan ampuh dan masih berhasil menyelamatkan dirinya
dengan melempar diri terjengkang ke belakang sehingga punggungnya menyentuh
tanah, lalu bergulingan jauh sambil memutar tasbih di atas kepalanya. Malang
baginya, ketika bergulingan itu, ia tidak melihat bahwa ia menuju ke arah tanah
selokan, yaitu tempat mengalirnya air dari belakang pondok sehingga tubuhnya
lenyap masuk ke dalam selokan yang kurang lebih setengah meter dalamnya.
"Adoouuh,
sial dangkalan awakku ......... ! " la menyumpah-nyumpah sambil melompat
bangun. Muka dan sebagian pakaiannya kotor terkena lumpur.
"Ki Warok
dan Ki Krendoyakso! Kalian ini benggolan-benggolan besar, tadi dipukul di luar
jendela sampai terguling-guling, apakah diam saja tidak berani membalas?"
Dasar Cekel
Aksomolo orangnya cerdik dan licik. Persis seperti watak Bhagawan Durna dalam
cerita pewayangan Mahabarata. Begitu ia melihat sambaran pukulan Pethit Nogo
yang sedemikian dahsyatnya, ia maklum bahwa Bhagawan Rukmoseto merupakan lawan
yang amat tangguh. Karena itu ia memancing kemarahan dua orang kawannya itu
agar maju lebih dulu sehingga ia nanti dapat maju membantu sehingga keadaannya
akan lebih menguntungkan, tidak langsung berhadapan dengan lawan tangguh itu!
Ki Warok
Gendroyono dan Ki Krendoyakso keduanya adalah orang-orang kasar tidak pandai
menggunakan pikiran dan wawasan, hanya menurutkan hati. Maka mendengar ejekan Cekel
Aksomolo, seketika mereka menjadi marah sekali. Ki Krendoyakso lalu melompat
dan mengayun senjata penggadanya Wojo Ireng yang besar dan amat berat sambil
membentak,
"Rukmoseto,
lihat senjataku! Pegah dadamu kalau lengah sedikit saja!" Ia mengayun senjatanya
yang mengeluarkan angin bersiutan.
Adapun Ki
Warok Gendroyono juga sangat marah, tidak mau kalah dengan kawannya ini. Ia
sudah memutar-mutar kolor ajimatnya Ki Bandot sehingga tarepak sinar
bergulung-gulung dan memperdengarkan suara seperti kitiran tertiup angin
kencang. la maju dan sesumbar,
"Bersiaplah
untuk mampus, Rukmoseto! Sedikit kurang cepat, akan remuk kepalamu!"
Memang dahsyat
terjangan kedua orang raksasa ini. Penggada Wojo Ireng di tangan Ki
Krendroyakso adalah sebuah senjata yang berat, terbentur sedikit saja oleh
senjata seberat ini pada dada, benar-benar dapat membuat dada pecah dan
patah-patah tulang iganya. Juga senjata di tangan Ki Warok Gendroyono,
sungguhpun hanya sehelai kolor (Pengikat celana dalam), namun bukan kolor
sembarang kolor! Kolor ajimat yang dinamai Ki Bandot, mempunyai daya ampuh
menggiriskan hati karena sabetan kolor ini mampu membikin hancur batu karang
yang keras. Apalagi seorang manusia. Tidaklah terlalu berlebihan sumbarnya
tadi. Memang kurang cepat sedikit saja mengelak, kepala akan bisa remuk!
Akan tetapi
Bhagawan Rukmoseto adalah seorang sakti yang memiliki Aji Bayu Tantra, yang
membuat tubuhnya dapat bergerak cepat sekali, berkelebat laksana bayu (angin).
Bahkan ilmunya ini memungkinkan sang bhagawan berkelebat dengan tubuh ringan
seperti sehelai daun kering, dapat bergerak menyelinap di antara hantaman
penggada raksasa dan kolor maut! Bahkan kecepatan gerakannya membuat Bhagawan
Rukmoseto begitu berkelebat mengelak lalu balas menyerang dengan pukulan Pethit
Nogo, kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya yang ampuh itu
menampar ke arah kepala Ki Warok Gendroyono dan dada Ki Krendoyakso.
Jangan
dipandang remeh tamparan jari tangan kedua telapak tangan Bhagawan Rukmoseto
ini. Itulah Aji Pethit Nogo (Ekor Naga) yang ampuhnya menggila, agaknya sama
ampuhnya dengan ajl pukulan Bajra Musti ditangan Raden Gatutkaca dalam cerita
pewayangan. Untung bahwa Ki Warok dan kepala rampok Bagelen itupun bukan
manusia-manusia lumrah! Betapapun cepat dan
dahsyatnya
datangnya kedua tamparan tangan Bhagawan Rukmoseto, mereka masih dapat melompat
ke belakang sambil menyambut tangan kanan kiri lawan itu dengan senjata mereka.
Luar biasa hebatnya akibat pertemuan kedua tangan dengan kedua senjata itu.
Daun-daun di atas pohon terdekat rontok berhamburan. Burung-burung terbang
bercuitan, kaget dan takut. Tanah terasa guncang seperti terjadi gempa bumi!
Ki Warok
Gendroyono terhuyung-huyung mundur dengan tangan kanan menggigil dan kolor
mautnya lemas. Ki Krendoyakso terpelanting pula ke belakang dan hampir saja
penggada Wojo Ireng mencium tengkoraknya sendiri. Namun Bhagawan Rukmoseto juga
terkena akibat benturan dahsyat seperti benturan ombak Segoro Kidul menghantam
karang itu. Kakek inipun terpental dan terhuyung ke belakang, mukanya agak
pucat namun kedua lengannya tidak terluka. Betapa sakti kakek ini dapat diukur
dari benturan kedua tangan melawan dua senjata yang ampuh itu. Kesempatan
selagi Bhagawan Rukmoseto terhuyung ini dipergunakan oleh Cekel Aksomolo. Kakek
tua renta yang cerdik ini segera maklum bahwa keadaan lawan itu sedang amat
buruk, maka secepat kilat ia mengeluarkan pekik kemenangan sambil melompat dan
menerjang dengan tasbihnya diputar di atas kepala lalu ditimpakan ke atas
kepala lawan. Mendengar suara berkeretik aneh dan merasai sambaran angin
pukulan dahsyat yang mengandung pengaruh mujijat seakan-akan urat syarafnya
tersentuh getaran aneh, Bhagawan Rukmoseto terkëjut. Ia maklum bahwa kakek tua
renta ini benar-benar amat sakti, dan senjata tasbihnya itu ampuhnya menggila.
Maka ia tidak berani menerima dengan tangannya, bahkan lalu menggulingkan tubuh
ke kiri terus mengayun, kaki berjungkir balik dengan gerakan indah sekali.
"Ho-ho-ho-ho,
jangan lari. Belum busik (lecet) kulitmu sudah mau lari? Cih, tak
bermalu!" Cekel Aksomolo mengejek dan menyombong sambi mengejar.
Karena
Bhagawan Rukmoseto melompat ke dekat Ki Krendroyakso yang sudah dapat menguasai
dirinya lagi, tanpa berkata apa-apa kepala rampok Bagelen ini sudah mengayun
penggadanya, sekuat tenaga ia menghantam kepala lawan. Dari arah lain, Ki Warok
Gendroyono juga sudah mengayun kolor mautnya menghantam ke arah lambung!
Memuncak kemarahan Bhagawan Rukmoseto. Ia mengeluarkan pekik yang aneh,
jari-jari tangannya bergetar-getar mengeluarkan tenaga sakti yang dahsyat
sekali ketika ia gerakkan. Dibarengi benturan keras tangan kirinya menyambut
penggada Wesi Ireng.
"Desss!!"
Ki Krendoyakso
terpekik kesakitan. Hampir saja ia melepaskan penggadanya. Ia dapat bertahan
dan penggada itu tidak sampai terlepas, namun ia melompat ke belakang dan
tangan kanannya sengkleh (lumpuh) sementara, penggadanya diseret karena tidak
kuat lagi mengangkatnya. Tulang tangan kanannya serasa remuk-remuk karena tadi
dihantam oleh hawa sakti Pethit Nogo yang menjalar dari penggada sampai tangan
dan lengannya! Pada saat itu, beberapa detik kemudian, kolor di tangan Ki Warok
Gendroyono tiba, mengancam lambung. Namun Bhagawan Rukmoseto yang sudah marah
itu menyambut dengan tangan kanannya, juga sambil memekik keras.
"Desss!"
Ki Warok
Gendroyono mendelik matanya, mukanya pucat ketika tubuhnya terpental melayang
ke belakang seperti layang-layang putus talinya. Pertemuan kolor mautnya dengan
tangan sakti itu membuat perutnya serasa dihimpit gunung, membuat ia sukar
bernapas. Hawa sakti yang menerobos melalui kolor ke perutnya benar-benar hebat
bukan main sehingga untuk melepaskan diri dari bahaya, ia cepat-cepat membuka
kolornya dan hampir saja celananya terlepas kalau ia tidak cepat-cepat teringat
dan memegangi celananya sambil terengah-engah!
Biarpun ia
sudah berhasil mengundurkan dua orang lawan, namun harus diakui diam-diam oleh
Bhagawan Rukmoseto bahwa dua kali tangkisan tadi telah membuat dadanya terasa
sesak dan kedua tangannya agak nyeri. Celakanya, sebelum ia sempat bernapas,
tasbih Cekel Aksomolo yang mengeluarkan suara tidak sedap itu sudah menyambar
lagi, mengarah kepalanya dengan gerak melingkar-lingkar aneh dan sukar
dielakkan. Sudah kepalang, pikir sang bahagawan, biar kucoba tenaga kakek
menjemukan ini.
"Mundur
......... ! " teriak Bhagawan Rukmoseto sambil menangkis tasbih itu dengan
kedua tangannya, mengerahkan seluruh tenaganya sambil menahan napas.
"Plakkk!!"
Tidak begitu
keras pertemuan antara tasbih dan dua telapak tangan itu, namun kehebatannya
melebihi adu tenaga dengan kolor dan penggada tadi. Bhagawan Rukmoseto seperti
terdorong mundur yang memaksa kakinya melangkah ke belakang, dadanya makin
sesak dan pusarnya panas sekali. Juga Cekel Aksomolo terpelanting ke belakang,
jatuh terduduk sambil memegangi tasbih di atas kepala, napasnya ngos-ngosan
seperti lokomotip mogok dan matanya merem melek seperti orang terheran-heran!.
Baru saja
Bhagawan Rukmometo dapat menguasai keseimbangan tubuhnya, dari depan berkelebat
dua sosok tubuh yang ramping dan tercium olehnya bau harum sedap yang menusuk
hidung, disusul suara tertawa terkekeh dari kiri dan suara mengejek dari kanan,
suara merdu wanita,
"Rukmoseto,
kau mampus di tangan kami!"
No comments:
Post a Comment