"Namaku Endang Patibroto, eyang."
"Ha-ha-ha!
Memang aku patut menjadi eyangmu. Endang Patibroto, cah ayu (anak cantik),
tandangmu (sepak terjangmu) seperti peri lautan saja tadi. Ha-ha-ha! Kau anak
siapa, cah ayu?"
Melihat kakek
ini sikapnya ramah dan lucu, tertawa-tawa dan kasar, timbul keberanian hati
Endang untuk main-main pula. Kakeknya, Bhagawan Rukmoseto sudah berkali-kali
memberi nasehat bahwa pada waktu itu kerajaan sedang kacau-balau, orang-orang
sakti saling bermusuhan sehingga lebih baik tidak memperkenalkan nama
orang-orang tua kepada orang lain agar tidak menemui bencana. Siapa tahu kakek
yang amat sakti dan pandai berjalan di atas air ini juga musuh eyangnya, atau
musuh ibunya. Maka ia menjawab sambil main-main,
"Aku anak
Ratu Laut Kidul, eyang!"
"Hah??
Hua-ha-ha-ha, pantas, pantas! Kau memang pantas menjadi puteri Ratu Laut Kidul
dan lebih patut lagi menjadi murid Dibyo Mamangkoro, ha-ha-ha!"
"Siapakah
itu Dibyo Mamangkoro, eyang?" Belum pernah Endang mendengar seorang
berjuluk Dibyo yang artinya seperti Dewa!
"Ha-ha,
siapa lagi kalau bukan eyangmu ini, cah ayu! Tulang tulangmu amat baik, bentuk
kepalamu pilihan, sukar mencari keduanya di dunia ini. Mau engkau menjadi
muridku, cah ayu?"
Endang
Patibroto memang semenjak kecil suka sekali mempelajari ilmu dan ia yakin bahwa
kakek yang menggendongnya sambil berlari di atas lautan ini sudah pasti
memiliki kesaktian yang melebihi ibunya maupun eyangnya, maka ia senang sekali
dan menjawab tanpa ragu-ragu lagi,
"Aku mau,
eyang! Aku mau!"
"Ha-ha-ha,
bagus! Sepuluh tahun lagi, engkau menjadi orang yang paling sakti di dunia
ini!”
Kakek aneh itu
terus tertawa berkakakan dan pada saat itu ia telah tiba di tepi pantai Pulau
Sempu. Dengan gerakan seperti seekor burung camar raksasa melayang, tubuhnya
melompat ke atas pasir dan ia menurunkan Endang Patibroto. Sekarang tampaklah
oleh anak itu bahwa kaki kakek itu ternyata memakai mancung (kelopak manggar
kelapa) yang bentuknya seperti perahu. Dua buah mancung itu diikatkan di bawah
kaki sehingga kedua kaki kakek itu seakan-akan berdiri di atas perahu-perahu
kecil dan angin laut menggerakkan jubahnya yang dikembangkan di kanan kiri
tubuhnya seperti layar. Sungguh pun angin yang mendorong jubahnya dan kedua
buah kelopak manggar (bungakelapa) itu yang menahan tubuhnya, namun kalau tidak
seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa takkan mungkin dapat melakukan
penyeberangan seperti itu. Dapat berdiri tanpa tenggelam hanya dengan bantuan
mancung kelapa di atas air ini saja sudah membutuhkan aji meringankan tubuh
yang hebat, belum lagi diingat betapa air di laut bergelombang dan bahayanya
ikan-ikan besar yang dapat menyerang kaki! Setelah membuang dua buah mancung
kelapa dari kakinya yang telanjang, kakek itu menggandeng tangan Endang diajak
berjalan ke dalam pulau.
"Mari
nonton keramaian, cah ayu. Mari nonton pertunjukan bagus!" katanya dan
Endang hanya menurut saja karena anak ini merasa yakin bahwa di samping kakek
ini, ia akan aman.
Sementara itu,
di tengah Pulau Sempu terjadi pula hal-hal luar biasa. Ketika Endang Patibroto
dan Joko Wandiro berlari pergi setelah menerima bagian pusaka Mataram untuk
melakukan perintahnya menyembunyikan pusaka masing-masing, Bhagawan Rukmoseto
atau Resi Bhargowo duduk bersila di depan pondoknya, bersila di atas batu hitam
bundar sambil mengheningkan cipta. Sebagai seorang berilmu dan seorang pertapa,
perasaan kakek ini sudah peka dan halus sekali sehingga getaran-getaran aneh
yang terasa olehnya di saat itu seperti membisikkan kepadanya bahwa ia menghadapi
hal-hal yang hebat. Namun dengan tenang ia sengaja bersila di depan pondoknya,
menanti datangnya hal-hal itu sambil mempertebal penyerahan diri kepada Hyang
Murbeng Dumadi. Tak lama kemudian tubuh Bhagawan Rukmoseto tampak menggigil dan
menggetar. Beberapa lama tubuhnya gemetar keras, akhirnya tenang kembali dan ia
menarik napas panjang sambil membuka mata, menengadah ke langit sambil
mengeluh,
"Ya Jagad
Dewa Batara.......! Terserah kehendak Hyang Widdhi, hamba tidak kuasa
apa-apa!" Kakek yang awas paninggal ini seperti telah mendapat sasmito
dari alam gaib bahwa yang akan datang menimpanya bukanlah hal yang biasa! Dan
ia menyerah, rnenyerah bulat-bulat kepada kehendak Tuhan.
Bhagawan
Rukmoseto turun dari atas batu, lalu memasuki pondoknya, membiarkan pintu
pondok terbuka. Tidak lama kemudian, dari pondok yang sunyi itu keluarlah asap
tipis yang harum. Juga dari dua buah lubang jendela di kanan kiri pondok, asap
tipis itu keluar perlahan membawa ganda harum dupa cendana. Makin sunyi keadaan
sekeliling tempat itu. Tiada suara lain kecuali debur ombak memecah di pantai
pasir. Sebuah perahu layar besar mendekati pantai Sempu dari selatan. Kemudian
berlompatan keluar enam bayangan orang dengan gerakan yang luar biasa. Perahu
itu tidak menempel di darat, masih beberapa meter jauhnya, namun enam orang itu
dapat melompat ke darat dengan gerakan ringan. Hal ini menandakan bahwa mereka
bukanlah orang sembarangan. Ketika enam orang itu melompat ke darat, di atas
perahu layar masih terdapat banyak anak buah perahu yang terdiri dari
orang-orang tinggi besar, berpakaian seragam dan dipimpin oleh seorang yang
berpakaian senopati kerajaan.
Bendera di
tiang layar membuktikan bahwa perahu ini bukanlah perahu pedagang atau nelayan,
melainkan perahu milik seorang pembesar tinggi , Hal ini memang benar karena
sesungguhnya perahu layar itu milik Pangeran Muda, putera Sang Prabu
Airlangga!. Enam orang itu adalah tokoh-tokoh yang sudah kita kenal baik.
Mereka bukan lain adalah Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso,
Ni Nogogini, Ni Durgogini, dan Jokowanengpati!. Seperti kita ketahui, mereka
ini adalah orang-orang yang bersekutu dengan Adipati Joyowiseso di Kadipaten
Selopenangkep. Sudah jelas bahwa adipati ini berniat memberontak terhadap
Kahuripan, namun karena maklum akan hebatnya kekuasaan kerajaan itu maka usaha
pembrontakan mereka hanya terbatas pada membuat kekacauan-kekacauan belaka.
Kemudian terjadilah perebutan kekuasaan di Kahuripan setelah Sang Prabu
Airlangga mengundurkan diri dari istana untuk bertapa menjadi pendeta.
Kesempatan baik ini dipergunakanlah oleh para pemberontak ini untuk memilih
sekutu dan tak lama kemudian mereka ini telah diterima menjadi kaki tangan atau
sekutu Pangeran Muda! Telah kita ketahui bahwa sesungguhnya yang menjadi pencuri
pusaka keraton yang hilang, yaitu patung kencana Batara Whisnu, bukan lain
adalah Jokowanengpati sendiri. Akan tetapi kemudian di lereng Gunung Lawu,
Jokowanengpati kehilangan pusaka itu yang terampas oleh seorang kakek berkedok.
Jokowanengpati yang amat cerdik itu akhirnya dapat menduga dari gerakan-gerakan
kakek berkedok tadi yang tidak banyak bedanya dengan gerakannya sendiri, bahwa
kakek berkedok itu tentulah Resi Bhargowo! Maklum bahwa dia sendiri, seorang
diri, takkan mungkin dapat menangkan Resi Bhargowo atau merampas kembali patung
pusaka, maka ia lalu memberitahukan semua sekutunya bahwa ia telah melihat
paman gurunya itu membawa patung pusaka akan tetapi tidak berani merampasnya.
Berita ini menggemparkan para tokoh yang menjadi sekutunya dan mulailah mereka
mencari tempat sembunyi Resi Bhargowo. Namun sia-sia belaka. Sampai, tiba
saatnya ia menjadi kaki tangan Pangeran Muda, usaha mereka mencari Resi
Bhargowo tetap nihil. Akan tetap setelah mereka menjadi kaki tangan Pangeran
Muda, usaha mereka mencari Resi Bhargowo diperhebat, mata-mata disebar luas,
bahkan pulau-pulau kosong mereka selidiki. Akhirnya mata-mata mereka mengirim
berita bahwa di Pulau Sempu tinggal seorang kakek yang bertapa seorang diri
yang diduga adalah Resi Bhargowo yang mereka cari-cari. Mendengar berita ini,
segera mereka melaporkan kepada Pangeran Muda yang amat ingin mendapatkan
pusaka yang hilang karena pusaka itu dapat menjadi lambang pegangan seorang
raja! Diperintahnya tokoh-tokoh sakti itu untuk menyerbu Pulau Sempu, dan untuk
keperluan penyeberangan dipergunakan perahu layar milik Pangeran Muda sendiri!.
Sebelum perahu layar besar itu menyeberang, lebih dulu mereka mengirim dua
orang mata-mata menyeberang dengan perahu kecil. Namun sungguh sial nasib dua
orang mata-mata itu karena mereka kebetulan bertemu dengan Endang Patibroto dan
tewas oleh anak perempuan itu. Demikianlah, enam orang sakti yang kini bekerja
sebagai anak buah atau kaki tangan Pangeran Muda itu kini berjalan memasuki
pulau, menuju ke pondok yang sunyi.
Sementara itu,
di sebelah barat Pulau Sempu, sebuah perahu hitam kecil bergerak mendekati
pantai. Seorang laki-laki tua tinggi kurus melompat dengan sigapnya ke pantai,
memegangi ujung perahunya dan sekali sendal (tarik tiba-tiba) perahunya
terlempar ke pantai. Kemudian ia berindap-indap memasuki pulau, matanya
memandang ke kanan kiri seperti sikap seorang maling. Tangan kanannya
meraba-raba gagang golok yang tergantung di pinggang, agaknya siap menghadapi
bahaya setiap saat. la tidak berani berjalan di tempat terbuka, melainkan lari
dari batu ke batu, dari pohon ke pohon sambil bersembunyi. Siapakah kakek ini?
Melihat gerak-geriknya yang cekatan dan sepasang golok yang tergantung di
pinggang, ia mudah dikenal. Bukan lain adalah Ki Tejoranu, kakek pertapa di Danau
Sarangan, ahli bermain golok. Seperti telah kita ketahui, tadinya Ki Tejoranu
juga termasuk anggauta persekutuan pemberontak, karena ia terbawa oleh Ki Warok
Gendroyono yang menjadi sahabatnya. Akan tetapi kakek asing ini lebih terdorong
oleh watak petualangannya sebagai seorang ahli silat daripada dorongan ambisi
kedudukan. Oleh karena itu, dalam pertandingan melawan Ki Patih Narotama, ia
tidak mau melakukan pengeroyokan sehingga ia dianggap pengkhianat dan semenjak
itu ia malah dimusuhi dan terpaksa menjauhkan diri dari persekutuan yang
membantu Adipati Joyowiseso. Telah lama Ki Tejoranu melakukan perantauan
setelah ia sembuh dari lukanya karena senjata rahasia ganitri yang dilepas oleh
Cekel Aksomolo. Kakek ini merantau dalam usahanya mencari Joko Wandiro yang
dianggap telah melepas budi dan menolong nyawanya ketika ia hampir tewas oleh
Cekel Aksomolo. Usahanya mencari Joko Wandiro inilah yang membuat ia sampai di
pantai Laut Selatan dan tanpa disengaja ia melihat rombongan Cekel Aksomolo
yang menyeberang ke pulau dengan sebuah perahu layar besar. La menjadi curiga,
lalu diam-diam dari pantai lain ia menggunakan perahu menyeberang pula ke Pulau
Sempu. Ketika Ki Tejoranu mengindap-indap dan matanya memandang ke kanan kiri,
tiba-tiba di sebelah kanan, agak jauh dari situ, ia melihat tubuh seorang anak
laki-laki menggeletak di atas tanah. Ki Tejoranu kembali memandang ke
sekeliling. Sunyi tidak tampak bayangan seorangpun manusia, tidak terdengar
suara apa-apa. Cepat ia melompat dan lari ke arah tubuh yang menggeletak
seperti mayat.
"Hayaaaa.......!!"
la berseru
kaget ketika melihat bahwa tubuh yang menggeletak seperti mayat itu adalah Joko
Wandiro yang selama ini ia cari-cari. Cepat ia menjatuhkan diri berlutut dan
memeriksa. Kagetnya bukan main melihat bangkai ular yang lehernya hampir putus
dan masih tergigit oleh mulut anak itu. Bangkai ular yang sudah kering dan
habis darahnya!
Hatinya agak
lega ketika memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa Joko Wandiro masih bernapas
dan jantungnya masih berdetik. Cepat ia membuang bangkai ular, memondong tubuh
itu dan membawanya lari ke pantai . Tiba-tiba Ki Tejoranu dengan gerakan
bagaikan seekor bajing melompat telah lenyap di balik semak-semak sambil
membawa tubuh Joko Wandiro. la bersembunyi di balik semak-semak, matanya yang
sipit mengintai dari balik daun dan tiba-tiba mukanya menjadi pucat, matanya
yang sipit terbelalak dan mulutnya melongo. Apa yang dilihatnya benar-benar
kaget dan terheran-heran, melongo saking kagumnya. Biarpun dia sendiri adalah
seorang berilmu yang sudah menyeberangi lautan berpekan-pekan jauh dan lamanya,
sudah banyak mengalami hal-hal luar biasa, banyak pula menghadapi orang sakti,
namun baru sekarang ia melihat orang dapat meluncur seperti terbang di atas
lautan! La melihat seorang kakek tinggi besar bermuka menyeramkan memondong
seorang anak perempuan, dan kakek ini mengembangkan kainnya di kanan kiri
tubuhnya seperti layar sedangkan kedua kakinya berdiri di atas air dan meluncur
ke depan dengan cepatnya!.
"Bukan
main ........ ! "
Ki Tejoranu
menggeleng-geleng kepala. Sukar dipercaya apa yang dilihatnya ini. Betapapun
saktinya, bagaimana ada orang dapat meluncur di atas ombak lautan? ia maklum
bahwa kalau sampai tampak oleh orang sakti itu, tentu ia akan celaka dan tidak
akan dapat menolong Joko Wandiro yang pingsan. Maka ia cepat-cepat menyelinap
dan melihat kakek itu kini meluncur membelakanginya, ia cepat memondong tubuh
Joko Wandiro dan membawanya lari ke pantai di mana perahunya berada.
Cepat ia
meluncurkan perahu ke air dan membawa anak yang masih pingsan itu menyeberang
ke arah daratan. Ketika ia menengok, ia melihat kakek sakti tadi sudah berjalan
di atas pasir sambil menggandeng si anak perempuan. Kembali Ki Tejoranu
menggeleng-geleng kepalanya penuh kekaguman.
No comments:
Post a Comment