Badai Laut Selatan ; Bagian 060


Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso yang mendengar nama ini, terhenyak kaget di tempat masing-masing, tidak berani berkutik. Juga Ni Durgogini dan Ni Nogogini terkejut. Kemudian dengan senyum-senyum memikat kedua orang wanita ini melangkah maju mendekati Dibyo Mamangkoro. Ni Durgogini berkata, suaranya merdu seperti orang bertembang,
"Aduhh, kiranya andika ini sang sakti Dibyo Mamangkoro?" Mata Ni Durgogin memandang penuh kekaguman.
"Sudah bertahun-tahun mendengar nama Senopati Dibyo Mamangkoro yang sakti seperti dewa, banteng Kerajaan Wengker .........!" Ni Nogogini juga berkata, dengan suara yang tidak kalah merdunya.
Akan tetapi ketika mereka berdua sudah tiba dekat, tangan kedua wanita ini menjangkau maju dan hendak meraba kanan kiri lambung yang tak tertutup baju itu. Bukan sembarang meraba, sama sekali bukan dengan maksud membelai karena tangan kedua orang wanita itu mengandung tenaga mujijat yang akan menghancurkan isi perut! Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak, melepaskan tangan Endang Patibroto, dan entah bagaimana, sekali kedua tangannya bergerak, ia telah menangkis uluran tangan kedua wanita itu dan di lain saat Ni Durgogini dan Ni Nogogini sudah berada dalam pondongan kedua lengannya! Dibyo Mamangkoro kelihatan gembira sekali, mengangkat kedua wanita itu sampai muka mereka dekat dengan mukanya, kemudian ia berpaling ke kanan kiri menciumi pipi dua wanita sakti yang ayu, ini.
"Sengok ! Sengok! Sengok! Sengok!" Ciuman hidung ke pipi itu menimbulkan suara nyaring, disusul suara tawanya terbahak,.
"Ha-ha-ha, aku merasa menjadi Yuyukangkang yang mengambungi Kleting Abang dan Kleting Biru. Ha-ha-ha Sengok! Sengok!"
Wajah kedua orang wanita itu menjadi merah padam. Kumis sekepal sebelah itu rambutnya kasar-kasar seperti serat kelapa, dan baunya apak. Akan tetapi mereka berdua tidak berani bergerak lagi. Mereka sudah lama mendengar akan nama Dibyo Mamangkoro yang dikabarkan sakti mandraguna, senopati dari Kerajaan Wengker, tangan kanan Sang Prabu Bokoraja yang seperti iblis di Kerajaan Wengker itu. Raja yang disohorkan amat keji dan menakutkan, paling suka makan daging kanak-kanak, akan tetapi yang mempunyai kesaktian menggemparkan jagad mengguncang langit.
Hanya karena kalah oleh puteranya sendiri sajalah Sang Prabu Boko dapat ditewaskan dan tentu saja semua ini terjadi karena kebesaran Sang Prabu Airlangga yang memancarkan sinar kekuasaan ke seluruh daerah Mataram. Ketika terjadi perang, tidak ada senopati Medang yang dapat menandingi amukan Dibyo Mamangkoro ini. Hanya setelah Ki Patih Narotama sendiri yang cancut taliwondo turun tangan terjun ke medan laga, baru Dibyo Mamangkoro bertemu tanding yang setingkat. Dikabarkan betapa kedua senopati ini bertanding sampai dua hari dua malam. Akhirnya Dibyo Mamangkoro harus mengakui keunggulan Ki Patih Narotama, tidak kuat menandingi kedigdayaannya, lalu melarikan diri, meninggalkan ki patih yang juga menderita luka-luka dalam pertandingan paling dahsyat yang pernah ia alami.

Semenjak kehancuran Kerajaan Wengker, orang tidak mendengar lagi tentang Dibyo Mamangkoro. Namun namanya masih menjadi buah percakapan mereka yang suka akan ilmu kesaktian, karena selain Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narotama, agaknya sukar mencari tokoh yang sanggup menandingi Dibyo Mamangkoro. Siapa sangka, secara aneh dan tiba-tiba sekali Dibyo Mamangkoro muncul di Pulau Sempu pada saat yang demikian gawat dan pentingnya, di saat para utusan Pangeran Anom hendak merampas pusaka Mataram yang hilang. Timbul kekhawatiran di hati Ni Durgogini dan Ni Nogogini tadi bahwa orang yang tersohor ini hendak merampas pusaka pula. Mereka sudah mendengar nama besar Dibyo Mamangkoro, akan tetapi belum pernah berjumpa dan belum pernah menyaksikan kedigdayaannya. Oleh karena itulah tadi mereka mencoba-coba dan hasilnya benar-benar amat memalukan mereka. Dengan mudah akan tetapi aneh sekali mereka ditangkap, dipondong dan diambungi!. Mereka sebagai orang-orang sakti maklum bahwa tingkat kepandaian kakek aneh ini lebih tinggi daripada tingkat mereka, maklum pula bahwa kalau mereka menyerang lagi, mungkin mereka akan mengalami hal yang lebih hebat. Maka mereka diam saja, diambungi juga tidak berani berkutik!.
Melihat betapa kakek yang menjadi gurunya itu mengambungi dua orang wanita cantik sehingga terdengar suara ngak-ngok-ngak-ngok, Endang Patibroto merasa muak. Muak akan perbuatan kakek itu. Biarpun ia masih kecil, baru berusia sebelas tahun, namun naluri kewanitaannya tersentuh oleh perbuatan yang melanggar susila ini. la kecewa dan marah, karena betapapun juga, kakek itu sudah menjadi gurunya. Melihat perbuatan gurunya ini, diam-diam ia ikut merasa malu. Tanpa disadarinya ia mencela,
"Ihhh, menjijikkan dan memalukan ....... !"
Sambil tertawa-tawa, Dibyo Mamangkoro menoleh ke arah Endang Patibroto, kemudian ia menggerakkan kedua lengannya dan tubuh Ni Durgogini dan Ni Nogogini terlempar ke depan sampai tujuh delapan meter jauhnya.
"Hua-ha-ha-ha, pergilah, Nini. Keringat kalian mulai tak sedap, dan muridku muak melihat permainan kita. Juga kulihat kirik licik itu melotot matanya, hatinya penuh iri dan cemburu. He, kirik licik, apakah engkau kekasih kedua orang siluman betina itu?"

Ucapan itu ditujukan kepada Jokowanengpati yang sejak tadi memang sudah marah sekali. Melihat betapa kakek yang baru datang dan amat sombong ini menghina Ni Durgogini, ia tak dapat menahan kemarahannya. Ia tidak mengenal dan belum pernah mendengar nama Dibyo Mamangkoro. la dapat menduga bahwa kakek ini tentu sakti, akan tetapi karena di situ terdapat teman-temannya yang kesemuanya adalah orang-orang berilmu tinggi, hatinya menjadi besar dan sambil mengeluarkan seruan keras tubuh Jokowanengpati melompat ke depan dengan Aji Bayu Sakti, tangannya bergerak melancarkan pukulan Siyung Warak.
"Joko, jangan.......!!"
Ni Durgogini menjerit penuh kekhawatiran, namun terlambat karena tubuh Jokowanengpati sudah melayang ke arah Dibyo Mamangkoro. Hebat serangan itu, dahsyat bukan main. Biarpun masih muda, Jokowanengpati adalah murid Empu Bharodo, bahkan bekas murid yang terkasih. Di samping ini, iapun menerima banyak petunjuk dari Ni Durgogini yang menariknya sebagai kekasih. Gerakannya cepat laksana burung srikatan dan pukulannya antep seperti terjangan seekor badak. Dibyo Mamangkoro yang berdiri sambil merangkul pundak muridnya dengan tangan kiri, tidak mengelak melihat serangan ini, hanya tersenyum dan berkata,
"Muridku, kau saksikan baik-baik gerakanku!"
Ketika tubuh Jokowanengpati dan terjangannya tiba, Dibyo Mamangkoro hanya mengangkat lengan kanannya yang besar, tangannya digerakkan secara aneh dan hebat kesudahannya! Jari-jari tangan kanan itu selain berhasil menangkis pukulan kedua tangan Jokowanengpati, juga sempat menyentil kedua tulang pundak Jokowanengpati sehingga terlepas sambungan kedua tulang pundaknya, kemudian tangan itu masih dapat menerkam bahu di bagian dada lalu melontarkan tubuh itu ke atas!.
Jokowanengpati mengeluarkan teriakan ngeri dan matanya terbelalak saking heran dan kaget bercampur takutnya. Tubuhnya tak tertahankan lagi melayang ke atas berputaran, kadang-kadang kepala di atas kadang-kadang di bawah, terus melayang ke atas dan akhirnya temangsang (tertahan) di puncak pohon randu alas yang tumbuh di dekat tempat itu! Cepat-cepat ia merangkul cabang-cabang pohon dengan kedua tangan dan kakinya, karena kedua tangannya tidak bertenaga lagi, lumpuh setelah sambungan tulang pundaknya terlepas.

Ni Durgogini cepat-cepat lari ke pohon itu, melompat ke atas dan dengan cekatan ia menolong dan menurunkan tubuh Jokowanengpati. Lega hatihya ketika orang muda itu duduk di atas tanah dan diperiksanya, ternyata hanya kedua pundak lepas sambungan tulangnya, tidak ada luka lain. Dengan mudah saja ia dapat menyambungkan kembali tulang pundak dengan ramuan obat yang selalu dibawanya dalam kemben (ikat pinggang), yaitu obat-obat untuk menyembuhkan luka-luka, keracunan, dan patah tulang. Dengan penuh kasih sayang Ni Durgogini mengurut-urut dan memijat-mijat pundak sambii menaruhkan obat.
"Hua-ha-ha-ha! Aku mendengar Gusti Pangeran Anom mempunyai banyak pembantu yang sakti. Kiranya hanya orang-orang macam ini! Hayo, siapa hendak mencoba lagi? Hayoh! Mumpung Dibyo Mamangkoro sedang gembira!"
"Huh-huh-huh, bagaimana ini ...........? Sial dangkalan benar, mencari perkara! Mencari penyakit! Ouhh, Adinda Senopati Dibyo Mamangkoro! Sudahlah sudah, siapa yang tidak tahu akan kesaktianmu? Sudahlah, kau ampunkan orang-orang muda yang tidak mengenal tingginya gunung dalamnya lautan! Kami adalah utusan Gusti Pangeran Anom, diutus menghukum si pemberontak Bhagawan Rukmoseto, sama sekali tidak diutus memusuhimu!"
"Pertapa bungkuk gudang penyakit, Kakang Cekel Aksomolo! Mulutmu sejak dahulu tetap bau, tak pernah berubah, tukang bohong tukang fitnah! Siapa tidak tahu kalian datang ke sini mencari pusaka Mataram yang hilang? Siapa tidak tahu engkau merobohkan Bhagawan Rukmoseto dengan keroyokan yang memalukan? Pergilah kalian semua, sebelum aku paksa kalian mengeroyokku!"
Sebetulnya, kalau saja enam orang itu maju bersama mengeroyoknya belum tentu mereka akan kalah oleh Dibyo Mamangkoro. Betapapun saktinya Dibyo Mamangkoro, namun menghadapi pengeroyokan enam orang yang memang sakti itu, agaknya ia takkan dapat menang secara mudah. Akan tetapi, sikap Dibyo Mamangkoro yang tabah dan memandang rendah ini, apalagi sepak terjangnya tadi, sudah menyempitkan nyali mereka. Apalagi, jelas bahwa di dalam pondok tidak terdapat pusaka Mataram dan agaknya kalau dipikir-pikir, orang seperti Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo ini tidak mungkin mau bicara bohong. Agaknya memang patung pusaka Mataram itu tidak berada di pulau ini. Untuk apa melibatkan diri dalam permusuhan dengan seorang digdaya seperti Dibyo Mamangkoro ini kalau sekiranya pusaka tidak berada di situ?.
"Uuh-huh, baiklah....... baiklah...... ! kami pergi. Memang tugas kami sudah selesai. Mari kawan-kawan, kita kembali ke perahu. Uuhhh, sialan!"

Pergilah enam orang itu bersungut-sungut meninggalkan tempat itu, kembali ke pantai di mana perahu besar telah menanti mereka. Setelah enam orang itu pergi, Dibyo Mamangkoro melangkah lebar ke pondok, kakinya menendang-nendang apa saja yang menghalang di depannya. Bangku, meja, pedupaan dan lain-lain. Matanya mencari-cari. Bahkan ketika kakinya diayun dan tangannya digerakkan, sisa pondok kecil itu terbang jauh ke belakang. Endang Patibroto mendekati tubuh kakeknya yang terlentang di atas tanah. Melihat kakek itu tak bergerak-gerak dari hidung, telinga dan ujung bibir keluar darah, matanya terpejam, Endang Patibroto kaget dan berduka sekali. Ia mengira bahwa kakeknya tentu sudah tewas. Diam-diam ia menggigit giginya dan dalam hati ia mencatat wajah enam orang tadi. Akan tetapi ia tidak mau berlutut mendekati tubuh kakeknya, Endang Patibroto seorang anak yang luar biasa cerdiknya. la maklum bahwa kakek sakti yang menjadi gurunya itu bukanlah sahabat baik kakeknya, karena itu tidak perlu ia menceritakan hubungannya dengan kakek yang menggeletak mati di situ. Di samping kecerdikannya yang luar biasa, juga anak perempuan ini memiliki dasar hati yang keras, nyali yang tabah dan dengan mudah ia dapat menekan perasaan hatinya. Sungguhpun hatinya seperti diremas melihat keadaan kakeknya, namun pada wajahnya yang agak pucat itu tidak terdapat tanda sesuatu!. la menoleh ke arah Dibyo Mamangkoro yang masih mengamuk dan menendang-nendang sisa pondok, jelas mencari-cari.
"Kau mencari apakah, Eyang?" tanyanya, padahal di dalam hatinya anak ini dapat menduga bahwa gurunya itu tentu mencari patung kencana, patung pusaka Mataram yang menjadi bagian Joko Wandiro. Tanpa disadarnya, ia meraba gagang keris pusaka Brojol Luwuk yang terselip di pinggangnya, tertutup baju.
"Huh! Mencari apa? Mencari pusaka Mataram yang kabarnya hilang. Aku belum pernah melihatnya, Kabarnya pusaka Mataram itu berbentuk patung kencana berujut Sang Hyang Whisnu. Monyet-monyet tadipun datang untuk mencari benda itu. Agaknya memang tidak berada di tempat ini,"
"Patung kencana saja untuk apa sih, Eyang? Mari kita pergi saja dari sini. Aku tidak senang di sini!"

Endang Patibroto menggandeng tangan gurunya dan menarik-nariknya pergi dari situ. Dibyo Mamangkoro tertawa-tawa, akan tetapi tidak membantah dan membiarkan dirinya ditarik-tarik. Dia tidak tahu betapa perbuatan Endang Patibroto ini ada sebabnya, yaitu ketika anak itu tadi melihat tubuh kakeknya bergerak-gerak perlahan. Setelah tiba di pantai, mereka melihat perahu layar besar itu sudah berlayar jauh, Dibyo Mamangkoro lalu menggendong muridnya, dan menyeberang ke darat dengan cara seperti tadi, yaitu dengan "menunggang" mancung kelapa. Memang betul apa yang dilihat oleh Endang Patibroto dan yang diduganya tadi. Tubuh Sang Bhagawan Rukmoseto yang disangka orang telah tewas itu, bergerak-gerak perlahan. Mula-mula kedua kakinya, lalu kedua tangannya, kemudian terdengar ia mengeluh perlahan, membuka matanya dan dengan gerakan lemah dan lambat ia berusaha bangkit. Namun ia roboh kembali sehingga dagu dan pipinya menumbuk tanah. Agaknya ini bahkan membuat ia sadar. Ia mengeluh, mengejap-ngejapkan matanya, lalu berhasil bangkit dan duduk.

<<< Bagian 059                                                                                    Bagian 061 >>>

No comments:

Post a Comment