Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso yang mendengar nama ini, terhenyak kaget di tempat masing-masing, tidak berani berkutik. Juga Ni Durgogini dan Ni Nogogini terkejut. Kemudian dengan senyum-senyum memikat kedua orang wanita ini melangkah maju mendekati Dibyo Mamangkoro. Ni Durgogini berkata, suaranya merdu seperti orang bertembang,
"Aduhh,
kiranya andika ini sang sakti Dibyo Mamangkoro?" Mata Ni Durgogin
memandang penuh kekaguman.
"Sudah
bertahun-tahun mendengar nama Senopati Dibyo Mamangkoro yang sakti seperti
dewa, banteng Kerajaan Wengker .........!" Ni Nogogini juga berkata,
dengan suara yang tidak kalah merdunya.
Akan tetapi
ketika mereka berdua sudah tiba dekat, tangan kedua wanita ini menjangkau maju
dan hendak meraba kanan kiri lambung yang tak tertutup baju itu. Bukan
sembarang meraba, sama sekali bukan dengan maksud membelai karena tangan kedua
orang wanita itu mengandung tenaga mujijat yang akan menghancurkan isi perut!
Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak, melepaskan tangan Endang Patibroto, dan
entah bagaimana, sekali kedua tangannya bergerak, ia telah menangkis uluran
tangan kedua wanita itu dan di lain saat Ni Durgogini dan Ni Nogogini sudah
berada dalam pondongan kedua lengannya! Dibyo Mamangkoro kelihatan gembira
sekali, mengangkat kedua wanita itu sampai muka mereka dekat dengan mukanya,
kemudian ia berpaling ke kanan kiri menciumi pipi dua wanita sakti yang ayu,
ini.
"Sengok !
Sengok! Sengok! Sengok!" Ciuman hidung ke pipi itu menimbulkan suara
nyaring, disusul suara tawanya terbahak,.
"Ha-ha-ha,
aku merasa menjadi Yuyukangkang yang mengambungi Kleting Abang dan Kleting
Biru. Ha-ha-ha Sengok! Sengok!"
Wajah kedua
orang wanita itu menjadi merah padam. Kumis sekepal sebelah itu rambutnya
kasar-kasar seperti serat kelapa, dan baunya apak. Akan tetapi mereka berdua
tidak berani bergerak lagi. Mereka sudah lama mendengar akan nama Dibyo
Mamangkoro yang dikabarkan sakti mandraguna, senopati dari Kerajaan Wengker,
tangan kanan Sang Prabu Bokoraja yang seperti iblis di Kerajaan Wengker itu.
Raja yang disohorkan amat keji dan menakutkan, paling suka makan daging
kanak-kanak, akan tetapi yang mempunyai kesaktian menggemparkan jagad
mengguncang langit.
Hanya karena
kalah oleh puteranya sendiri sajalah Sang Prabu Boko dapat ditewaskan dan tentu
saja semua ini terjadi karena kebesaran Sang Prabu Airlangga yang memancarkan
sinar kekuasaan ke seluruh daerah Mataram. Ketika terjadi perang, tidak ada
senopati Medang yang dapat menandingi amukan Dibyo Mamangkoro ini. Hanya setelah
Ki Patih Narotama sendiri yang cancut taliwondo turun tangan terjun ke medan
laga, baru Dibyo Mamangkoro bertemu tanding yang setingkat. Dikabarkan betapa
kedua senopati ini bertanding sampai dua hari dua malam. Akhirnya Dibyo
Mamangkoro harus mengakui keunggulan Ki Patih Narotama, tidak kuat menandingi
kedigdayaannya, lalu melarikan diri, meninggalkan ki patih yang juga menderita
luka-luka dalam pertandingan paling dahsyat yang pernah ia alami.
Semenjak
kehancuran Kerajaan Wengker, orang tidak mendengar lagi tentang Dibyo
Mamangkoro. Namun namanya masih menjadi buah percakapan mereka yang suka akan
ilmu kesaktian, karena selain Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narotama,
agaknya sukar mencari tokoh yang sanggup menandingi Dibyo Mamangkoro. Siapa
sangka, secara aneh dan tiba-tiba sekali Dibyo Mamangkoro muncul di Pulau Sempu
pada saat yang demikian gawat dan pentingnya, di saat para utusan Pangeran Anom
hendak merampas pusaka Mataram yang hilang. Timbul kekhawatiran di hati Ni
Durgogini dan Ni Nogogini tadi bahwa orang yang tersohor ini hendak merampas
pusaka pula. Mereka sudah mendengar nama besar Dibyo Mamangkoro, akan tetapi
belum pernah berjumpa dan belum pernah menyaksikan kedigdayaannya. Oleh karena
itulah tadi mereka mencoba-coba dan hasilnya benar-benar amat memalukan mereka.
Dengan mudah akan tetapi aneh sekali mereka ditangkap, dipondong dan
diambungi!. Mereka sebagai orang-orang sakti maklum bahwa tingkat kepandaian
kakek aneh ini lebih tinggi daripada tingkat mereka, maklum pula bahwa kalau mereka
menyerang lagi, mungkin mereka akan mengalami hal yang lebih hebat. Maka mereka
diam saja, diambungi juga tidak berani berkutik!.
Melihat betapa
kakek yang menjadi gurunya itu mengambungi dua orang wanita cantik sehingga
terdengar suara ngak-ngok-ngak-ngok, Endang Patibroto merasa muak. Muak akan
perbuatan kakek itu. Biarpun ia masih kecil, baru berusia sebelas tahun, namun
naluri kewanitaannya tersentuh oleh perbuatan yang melanggar susila ini. la
kecewa dan marah, karena betapapun juga, kakek itu sudah menjadi gurunya.
Melihat perbuatan gurunya ini, diam-diam ia ikut merasa malu. Tanpa disadarinya
ia mencela,
"Ihhh,
menjijikkan dan memalukan ....... !"
Sambil
tertawa-tawa, Dibyo Mamangkoro menoleh ke arah Endang Patibroto, kemudian ia
menggerakkan kedua lengannya dan tubuh Ni Durgogini dan Ni Nogogini terlempar
ke depan sampai tujuh delapan meter jauhnya.
"Hua-ha-ha-ha,
pergilah, Nini. Keringat kalian mulai tak sedap, dan muridku muak melihat
permainan kita. Juga kulihat kirik licik itu melotot matanya, hatinya penuh iri
dan cemburu. He, kirik licik, apakah engkau kekasih kedua orang siluman betina
itu?"
Ucapan itu
ditujukan kepada Jokowanengpati yang sejak tadi memang sudah marah sekali.
Melihat betapa kakek yang baru datang dan amat sombong ini menghina Ni
Durgogini, ia tak dapat menahan kemarahannya. Ia tidak mengenal dan belum
pernah mendengar nama Dibyo Mamangkoro. la dapat menduga bahwa kakek ini tentu
sakti, akan tetapi karena di situ terdapat teman-temannya yang kesemuanya
adalah orang-orang berilmu tinggi, hatinya menjadi besar dan sambil
mengeluarkan seruan keras tubuh Jokowanengpati melompat ke depan dengan Aji
Bayu Sakti, tangannya bergerak melancarkan pukulan Siyung Warak.
"Joko,
jangan.......!!"
Ni Durgogini
menjerit penuh kekhawatiran, namun terlambat karena tubuh Jokowanengpati sudah
melayang ke arah Dibyo Mamangkoro. Hebat serangan itu, dahsyat bukan main.
Biarpun masih muda, Jokowanengpati adalah murid Empu Bharodo, bahkan bekas
murid yang terkasih. Di samping ini, iapun menerima banyak petunjuk dari Ni
Durgogini yang menariknya sebagai kekasih. Gerakannya cepat laksana burung
srikatan dan pukulannya antep seperti terjangan seekor badak. Dibyo Mamangkoro
yang berdiri sambil merangkul pundak muridnya dengan tangan kiri, tidak
mengelak melihat serangan ini, hanya tersenyum dan berkata,
"Muridku,
kau saksikan baik-baik gerakanku!"
Ketika tubuh
Jokowanengpati dan terjangannya tiba, Dibyo Mamangkoro hanya mengangkat lengan
kanannya yang besar, tangannya digerakkan secara aneh dan hebat kesudahannya!
Jari-jari tangan kanan itu selain berhasil menangkis pukulan kedua tangan
Jokowanengpati, juga sempat menyentil kedua tulang pundak Jokowanengpati
sehingga terlepas sambungan kedua tulang pundaknya, kemudian tangan itu masih
dapat menerkam bahu di bagian dada lalu melontarkan tubuh itu ke atas!.
Jokowanengpati
mengeluarkan teriakan ngeri dan matanya terbelalak saking heran dan kaget
bercampur takutnya. Tubuhnya tak tertahankan lagi melayang ke atas berputaran,
kadang-kadang kepala di atas kadang-kadang di bawah, terus melayang ke atas dan
akhirnya temangsang (tertahan) di puncak pohon randu alas yang tumbuh di dekat
tempat itu! Cepat-cepat ia merangkul cabang-cabang pohon dengan kedua tangan
dan kakinya, karena kedua tangannya tidak bertenaga lagi, lumpuh setelah
sambungan tulang pundaknya terlepas.
Ni Durgogini
cepat-cepat lari ke pohon itu, melompat ke atas dan dengan cekatan ia menolong
dan menurunkan tubuh Jokowanengpati. Lega hatihya ketika orang muda itu duduk
di atas tanah dan diperiksanya, ternyata hanya kedua pundak lepas sambungan
tulangnya, tidak ada luka lain. Dengan mudah saja ia dapat menyambungkan
kembali tulang pundak dengan ramuan obat yang selalu dibawanya dalam kemben
(ikat pinggang), yaitu obat-obat untuk menyembuhkan luka-luka, keracunan, dan
patah tulang. Dengan penuh kasih sayang Ni Durgogini mengurut-urut dan
memijat-mijat pundak sambii menaruhkan obat.
"Hua-ha-ha-ha!
Aku mendengar Gusti Pangeran Anom mempunyai banyak pembantu yang sakti. Kiranya
hanya orang-orang macam ini! Hayo, siapa hendak mencoba lagi? Hayoh! Mumpung
Dibyo Mamangkoro sedang gembira!"
"Huh-huh-huh,
bagaimana ini ...........? Sial dangkalan benar, mencari perkara! Mencari
penyakit! Ouhh, Adinda Senopati Dibyo Mamangkoro! Sudahlah sudah, siapa yang
tidak tahu akan kesaktianmu? Sudahlah, kau ampunkan orang-orang muda yang tidak
mengenal tingginya gunung dalamnya lautan! Kami adalah utusan Gusti Pangeran
Anom, diutus menghukum si pemberontak Bhagawan Rukmoseto, sama sekali tidak
diutus memusuhimu!"
"Pertapa
bungkuk gudang penyakit, Kakang Cekel Aksomolo! Mulutmu sejak dahulu tetap bau,
tak pernah berubah, tukang bohong tukang fitnah! Siapa tidak tahu kalian datang
ke sini mencari pusaka Mataram yang hilang? Siapa tidak tahu engkau merobohkan
Bhagawan Rukmoseto dengan keroyokan yang memalukan? Pergilah kalian semua,
sebelum aku paksa kalian mengeroyokku!"
Sebetulnya,
kalau saja enam orang itu maju bersama mengeroyoknya belum tentu mereka akan
kalah oleh Dibyo Mamangkoro. Betapapun saktinya Dibyo Mamangkoro, namun menghadapi
pengeroyokan enam orang yang memang sakti itu, agaknya ia takkan dapat menang
secara mudah. Akan tetapi, sikap Dibyo Mamangkoro yang tabah dan memandang
rendah ini, apalagi sepak terjangnya tadi, sudah menyempitkan nyali mereka.
Apalagi, jelas bahwa di dalam pondok tidak terdapat pusaka Mataram dan agaknya
kalau dipikir-pikir, orang seperti Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo ini
tidak mungkin mau bicara bohong. Agaknya memang patung pusaka Mataram itu tidak
berada di pulau ini. Untuk apa melibatkan diri dalam permusuhan dengan seorang
digdaya seperti Dibyo Mamangkoro ini kalau sekiranya pusaka tidak berada di
situ?.
"Uuh-huh,
baiklah....... baiklah...... ! kami pergi. Memang tugas kami sudah selesai.
Mari kawan-kawan, kita kembali ke perahu. Uuhhh, sialan!"
Pergilah enam
orang itu bersungut-sungut meninggalkan tempat itu, kembali ke pantai di mana
perahu besar telah menanti mereka. Setelah enam orang itu pergi, Dibyo
Mamangkoro melangkah lebar ke pondok, kakinya menendang-nendang apa saja yang
menghalang di depannya. Bangku, meja, pedupaan dan lain-lain. Matanya
mencari-cari. Bahkan ketika kakinya diayun dan tangannya digerakkan, sisa
pondok kecil itu terbang jauh ke belakang. Endang Patibroto mendekati tubuh
kakeknya yang terlentang di atas tanah. Melihat kakek itu tak bergerak-gerak
dari hidung, telinga dan ujung bibir keluar darah, matanya terpejam, Endang
Patibroto kaget dan berduka sekali. Ia mengira bahwa kakeknya tentu sudah
tewas. Diam-diam ia menggigit giginya dan dalam hati ia mencatat wajah enam
orang tadi. Akan tetapi ia tidak mau berlutut mendekati tubuh kakeknya, Endang
Patibroto seorang anak yang luar biasa cerdiknya. la maklum bahwa kakek sakti
yang menjadi gurunya itu bukanlah sahabat baik kakeknya, karena itu tidak perlu
ia menceritakan hubungannya dengan kakek yang menggeletak mati di situ. Di
samping kecerdikannya yang luar biasa, juga anak perempuan ini memiliki dasar
hati yang keras, nyali yang tabah dan dengan mudah ia dapat menekan perasaan
hatinya. Sungguhpun hatinya seperti diremas melihat keadaan kakeknya, namun
pada wajahnya yang agak pucat itu tidak terdapat tanda sesuatu!. la menoleh ke
arah Dibyo Mamangkoro yang masih mengamuk dan menendang-nendang sisa pondok,
jelas mencari-cari.
"Kau
mencari apakah, Eyang?" tanyanya, padahal di dalam hatinya anak ini dapat
menduga bahwa gurunya itu tentu mencari patung kencana, patung pusaka Mataram
yang menjadi bagian Joko Wandiro. Tanpa disadarnya, ia meraba gagang keris
pusaka Brojol Luwuk yang terselip di pinggangnya, tertutup baju.
"Huh!
Mencari apa? Mencari pusaka Mataram yang kabarnya hilang. Aku belum pernah
melihatnya, Kabarnya pusaka Mataram itu berbentuk patung kencana berujut Sang
Hyang Whisnu. Monyet-monyet tadipun datang untuk mencari benda itu. Agaknya
memang tidak berada di tempat ini,"
"Patung
kencana saja untuk apa sih, Eyang? Mari kita pergi saja dari sini. Aku tidak
senang di sini!"
Endang
Patibroto menggandeng tangan gurunya dan menarik-nariknya pergi dari situ.
Dibyo Mamangkoro tertawa-tawa, akan tetapi tidak membantah dan membiarkan
dirinya ditarik-tarik. Dia tidak tahu betapa perbuatan Endang Patibroto ini ada
sebabnya, yaitu ketika anak itu tadi melihat tubuh kakeknya bergerak-gerak
perlahan. Setelah tiba di pantai, mereka melihat perahu layar besar itu sudah
berlayar jauh, Dibyo Mamangkoro lalu menggendong muridnya, dan menyeberang ke
darat dengan cara seperti tadi, yaitu dengan "menunggang" mancung
kelapa. Memang betul apa yang dilihat oleh Endang Patibroto dan yang diduganya
tadi. Tubuh Sang Bhagawan Rukmoseto yang disangka orang telah tewas itu,
bergerak-gerak perlahan. Mula-mula kedua kakinya, lalu kedua tangannya,
kemudian terdengar ia mengeluh perlahan, membuka matanya dan dengan gerakan
lemah dan lambat ia berusaha bangkit. Namun ia roboh kembali sehingga dagu dan
pipinya menumbuk tanah. Agaknya ini bahkan membuat ia sadar. Ia mengeluh,
mengejap-ngejapkan matanya, lalu berhasil bangkit dan duduk.
No comments:
Post a Comment