Ia memandang ke sekitarnya. Sunyi. Hanya terdengar suara ombak memberisik di pantai. Ia menoleh ke belakang, ke arah pondoknya. Sudah berantakan dan tidak ada pondoknya lagi, hanya tinggal bekas-bekasnya. Ia menarik napas panjang.
"Ya Jagad
Dewa Batara......., terjadilah kiranya segala kehendak Hyang Widi
Wisesa!....... Hamba masih diperkenankan hidup....... untuk apa dan sampai
kapan?"
Ia lalu
bersila, mengheningkan cipta memusatkan pancaindera, setelah hening lalu
diarahkan ciptanya mengumpul dan menghimpun semua hawa murni dalam tubuh,
menyalurkannya ke arah belakang kepala untuk menyembuhkan luka pukulan yang
sepatutnya menghancurkan kepalanya itu. Sampai terasa panas seperti dibakar api
dari dalam, nyeri bukan main!.
Kita
tinggalkan dulu Sang Bhagawan Rukmoseto yang secara ajaib atas kehendak Yang
Maha Kuasa, dapat terlepas dari ancaman maut itu. Mari kita menengok dan
mengikuti perjalanan Pujo bersama Kartikosari dan Roro Luhito. Tiga orang ini
menunggang kuda, pertama-tama mereka mencari kedua orang anak, yaitu Endang
Patibroto dan Joko Wandiro di sekitar daerah pantai selatan. Mereka naik turun
gunung yaitu barisan Gunung Kidul yang membujur dari timur ke barat tiada
berkeputusan. Mereka keluar masuk hutan, ada kalanya harus meninggalkan kuda
untuk menuruni tebing pantai yang amat curam dan yang tidak mungkin dapat
dilakukan seekor kuda. Namun hasilnya sia-sia belaka. Kedua orang anak itu
lenyap tanpa ada jejaknya, seakan-akan lenyap ditelan bumi. Mulai gelisah hati Kartikosari
yang kehilangan puterinya. Juga Pujo mulai merasa khawatir kalau-kalau kedua
orang anak itu tertimpa malapetaka. Ia amat sayang kepada Joko Wandiro, apalagi
setelah kini diketahui bahwa ayah Joko Wandiro sesungguhnya bukanlah musuh
besar yang selama ini didendamnya. Dan tentu saja ia ingin sekali bertemu
dengan Endang Patibroto, anak kandungnya. Untung bahwa di samping mereka
terdapat Roro Luhito yang pandai sekali menghibur mereka. Bahkan kadang-kadang
wanita muda itu bertembang, suaranya merdu sekali, pandai berkelakar, wajahnya
selalu riang dan sikapnya bebas sehingga puteri adipati ini kadang-kadang dapat
menghibur mereka dan membuat suami isteri itu tersenyum.
"Nimas
Sari, kurasa untuk mencari anak kita dan muridku, kita membutuhkan bantuan banyak
orang. Bagaimana kalau kita sekarang pergi ke Bayuwismo? Para cantrik kiranya.
Akan dapat membantu kita. Pula, perlu kita menghadap bapa resi yang tentu amat
sengsara hatinya oleh kepergian kita."
Kedua mata
Kartikosari menjadi basah ketika ia teringat akan ayahnya. Ia mengangguk dan
menjawab,
Agaknya
begitulah sebaiknya, Kakangmas. Kita perlu mohon pengampunan dan petunjuk dari
ayah."
"Akupun
akan pulang ke Selopenangkep. Siapa duga bahwa kita sebenarnya adalah tetangga
dekat! Jangan kalian khawatir, mari ikut aku ke Selopenangkep. Dengan
pengerahan pasukan kadipaten untuk mencari jejak kedua orang anak itu, tentu
akan dapat segera berhasil!"
"Terima
kasih, Diajeng. Akan tetapi biarlah kita pergi dulu ke Bayuwismo menjenguk ayah
seperti yang diusulkan kakangmas Pujo. Kalau perlu kelak, boleh saja kami
menerima bantuanmu itu. Memang lebih banyak yang mencari lebih baik."
"Mari
kita berangkat," kata Pujo, memandang ke angkasa," matahari sudah
naik tinggi.
“Kalau kita
mempercepat kuda, menjelang senja kita akan sampal di Bayuwismo."
Tiga ekor kuda
meloncat ke depan lalu terdengar derap kaki mereka membalap ke arah barat. Pujo
berada di depan, tegap dan gagah perkasa. Kartikosari di tengah dan Roro Luhito
paling belakang. Rambut kedua orang wanita cantik jelita ini berkibar tertiup
angin. Tepat seperti telah diperhitungkan oleh Pujo, lewat tengah hari
sampailah mereka di Sungapan dan dari jauh sudah nampak pondok Bayuwismo.
Tiba-tiba Kartikosari berseru,
"Kakangmas,
berhenti di sini!"
Pujo menahan
kudanya dan mereka bertiga melompat turun. Tiga ekor kuda yang tubuhnya penuh
keringat dan hidungnya berkembang-kempis terengah-engah itu dilepas.
"Mengapa,
Nimas?"
Dengan terharu
Kartikosari berkata,
"Sudah
terlalu lama kita tidak pulang. Akan terlalu mengagetkan ayah kalau kita datang
berkuda. Kasihan, ayah sudah tua ....." Wanita itu menahan isak, lalu
dengan air mata membasahi pipi ia memandang Pujo, memaksa senyum.
"Hatiku
terlalu gembira ..... melihat pondok itu. ...... . mari kita ke sana,
Kakangmas. Diajeng Luhito, mari ..... "
Dengan wajah
berseri akan tetapi sinar matanya penuh keharuan Kartikosari menggandeng tangan
Pujo dan tangan Roro Luhito. Berangkatlah mereka berjalan kaki melalui pantai
berpasir, membiarkan kuda mereka mencari rumput dan melepaskan lelah.
"Ehhh..
..... apa itu. .... .. ? "
Tiba-tiba Roro
Luhito menudingkan telunjuknya ke depan agak ke atas. Mereka harus melindungi
mata dari sinar matahari yang sudah condong ke barat, karena letak pondok itu
berada di sebelah barat.
"Seperti
..... burung-burung gagak ..... " kata Kartikosari.
"Ahhh
..... apakah yang menggeletak di pasir itu. ..... .?"
Pujo berseru
dan serentak, seperti mendapat komando, ketiga orang itu lalu lari, tidak
bergandeng tangan lagi, melainkan berlari, cepat seperti tiga orang kanak-kanak
bermain-main dan berlumba lari di atas pasir pantai!.
"Duh
Jagad Dewa Batara .... !!"
Pujo berseru
ketika melihat bahwa enam orang cantrik Bayuwismo telah menggeletak
malang-melintang di atas pasir, tak seorangpun di antara mereka masih bernapas.
"Aduh
Gusti....... !!"
Kartikosari
menjerit dan berlutut di samping suaminya, memeriksa enam orang yang sudah
menjadi mayat itu. Keadaan mereka sungguh mengerikan. Tidak tampak luka-luka
yang mengeluarkan darah di tubuh mereka, namun jelas bahwa mereka tewas penuh
penderitaan. Ada yang dengan mata terbelalak, dan wajah mereka masih
membayangkan kengerian dan ketakutan. Roro Luhito berdiri seperti patung,
terbelalak memandang ke arah mayat-mayat itu, tidak tahu harus berkata apa
berbuat apa.
"Ramanda
resi....... !"
Tiba-tiba
Kartikosari yang teringat ayahnya menjerit ngeri dan meloncat lalu lari ke arah
pondok, diikuti oleh Pujo yang wajahnya pucat dan gelisah sekali. Roro Luhito
juga berlari di belakang mereka. Seperti orang gila, Kartikosari memasuki pondok
hampir berbareng dengan Pujo dan di belakang mereka, Roro Luhito juga menyusul
masuk. Pondok itu kosong! Akan tetapi jelas tampak tanda-tanda bahwa orang
telah menggeledah pondok itu dengan kasar. Semua isi pondok jungkir-balik.
Melihat pondok
itu kosong, Kartikosari agak lapang dadanya. Akan tetapi ia masih merasa tidak
enak, lalu lari keluar dari pintu belakang, diikuti Pujo dan Roro Luhito.
Setelah mencari-cari dan yakin bahwa tidak ada mayat lain di sekeliling pondok,
mereka kembali ke depan pondok. Kartikosari terisak dan merangkul lengan kiri
Pujo yang berdiri tegak dengan muka pucat dan mata melotot memandang ke arah
mayat-mayat yang malang melintang. Roro Luhito berdebar debar jantungnya,
merasa gelisah dan tidak enak hatinya. Siapakah yang melakukan pembunuhan keji
ini? Jangan-jangan pembunuhnya datang dari Kadipaten Selopenangkep! Ia merasa
cemas sekali.
"Kakangmas
Pujo, siapakah kiranya yang begini keji, membunuhi para cantrik yang tidak
berdosa?"
Kartikosari
bertanya, suaranya gemetar. Ia mengenal semua cantrik ini, apalagi cantrik
Wisudo dan cantrik Wistoro yang tua. Kedua orang cantrik ini dahulu seringkali
menggendongnya dan mengajaknya main-main ketika ia masih kecil. Mereka itu
seperti paman-pamannya, atau kakak-kakaknya sendiri. Dan sekarang, mereka semua
menggeletak tak bernyawa di depan kakinya! Pujo menggeleng kepada, lalu
mengepal tinju tangannya.
"Aku
sendiri tak dapat menduga, Nimas. Akan tetapi siapapun juga orangnya, dia itu
tentu memusuhi bapa resi. Mungkin bapa resi tidak berada di pondok, maka
kernarahan orang atau orang-orang itu ditimpakan kepada para cantrik. Keji
benar mereka!"
"Kakangmas
Pujo, bukankah dekat tempat ini terdapat dusun? Tentu di antara penduduk dusun
ada yang melihat, siapa yang baru-baru ini datang ke sini. Kulihat para korban
ini belum terlalu lama tewasnya...."
"Kau
benar!" Pujo berteriak.
"Nimas
Sari, kau bersama jeng Roro tunggu di sini, biar kucari keterangan sebentar ke
dusun!"
Tanpa menanti
jawaban Kartikosari yang masih termangu-mangu itu Pujo lalu melesat cepat dan
lari secepatnya menuju dusun terdekat, yaitu dusun Karang Tumaritis. Seorang
nelayan tua memandangnya dengan mata terbelalak heran. Barulah nelayan ini
merasa yakin bahwa la tidak bermimpi ketika Pujo berseru kepadanya,
"Paman
Kerpu !"
"Eh.......
benarkah ..... Gus Pujo ini.. ..... ?"
"Benar,
Paman."
"Wah,
sewindu lebih engkau pergi, gus. Juga Nini Kartikosari ..... ! malah setahun
kemudian kakang resi pergi pula meninggalkan Sungapan. Aduh, alangkah banyaknya
peristiwa terjadi sejak itu ..... Gus. Perubahan besar terjadi di mana-mana dan
......."
"Maaf,
Paman Kerpu," Pujo memotong.
"Saya
sengaja mencari Paman untuk bertanya, apakah Paman melihat ada orang mendatangi
Bayuwismo tadi?"
"Tadi
....... ? "
"Dalam
hari ini maksud saya, Paman. Adakah Paman melihat orang-orang pergi ke
sana?"
Kakek itu
mengerutkan keningnya dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku
tidak melihatnya, gus. Kalau dahulu memang. Wah, jahat-jahat benar orang-orang
dari Kadipaten Selopenangkep. Pantas saja Sang Hyang Widi sekarang menghukum
mereka."
"Apa yang
terjadi ketika itu, Paman?" Pujo tertarik. Mungkin kejadian dahulu ada
hubungannya dengan kejadian sekarang.
"Terjadinya
sudah lama sekali. Setahun lebih setelah kau dan isterimu pergi, atau tidak
lama setelah kakang resi pergi tanpa pamit. Serombongan orang-orang dari
Kadipaten Selopenangkep datang dan ....... ah, benar kejam sekali. Lima orang
cantrik di Byuwismo dibikin tuli semua!"
"Dibikin
tuli?"
"Ya,
entah bagaimana. Tahu-tahu mereka itu tuli semua. Akhir-akhir ini aku jarang
mengunjungi pondok Bayuwismo. Habis, enam orang cantrik sana menjadi tuli
semua, sukar diajak bicara. Akan tetapi sekarang datang hukuman Kadipaten
Selopenangkep. Kabarnya Adipati Joyowiseso ditangkap, dan kadipaten diambil
alih serombongan pasukan dari kota raja. Entah bagaimana duduknya perkara. Kami
orang-orang kecil mana berani banyak bertanya?"
"Terima
kasih, Paman. Saya harus pergi sekarang juga. Peristiwa hebat terjadi di
Bayuwisrno. Keenam paman cantrik di sana telah terbunuh hari ini."
"Mereka
terbunuh ....... ? Siapa....... siapa.......? "
"Entah
siapa pembunuhnya. Justeru saya sedang melakukan penyelidikan."
"Kalau
begitu, biar kukerahkan kawan-kawan untuk membantu di sana, mengurus mereka
....... "
Kakek itu
menjadi pucat dan segera ia berteriak-teriak sambil lari memasuki dusun. Pujo
mengangkat pundaknya, lalu ia menggunakan ilmu lari cepat kembali ke Bayuwismo
di mana kedua orang wanita itu menanti dengan penuh harapan.
"Bagaimana,
Kakangmas? Berhasilkan? Siapakah yang melakukan ini?" Kartikosari tidak
sabar lagi, menyambut suarninya dengan hujan pertanyaan.
"Tidak
ada orang yang melihat orang datang ke sini, Nimas. Akan tetapi ....... "
Pujo berpaling
ke arah Roro Luhito dan menahan kata-katanya. Selama ini, Pujo tidak pernah
terlepas dari perhatian puteri Adipati Selopenangkep ini. Belum pernah
sedetikpun juga Roro Luhito dapat melenyapkan rasa cinta kasihnya terhadap Pujo
yang selama bertahun-tahun ia tahan-tahan. Selama bertahun-tahun ketika ia
menjadi murid Resi Telomoyo, ia selalu merindukan Pujo dan seringkali di waktu
tidur ia bermimpi tentang laki-laki yang menjadi pujaan hatinya. Biarpun Ia
tahu bahwa ia telah salah duga, dan bersama dengan terbukanya rahasia itu maka
harapannya untuk menjadi isteri Pujo tersapu habis seperti asap tipis tersapu
angin, namun tak pernah hatinya dapat ia yakinkan bahwasanya mencinta Pujo
merupakan hal yang sia-sia belaka. Perasaannya tetap saja lekat kepada
laki-laki itu dan setiap gerak-gerik Pujo tak pernah terlepas daripada
perhatiannya, sungguhpun tentu saja ia tidak berani memperlihatkan secara
berterang.
Ia tidak
cemburu kepada Kartikosari karena sejak dahulupun ia maklum bahwa Kartikosari
adalah isteri Pujo. Ia hanya merasa diam-diam iri dan perasaannya seringkali
hancur, namun tangisnya hanya ia kubur di dalam lubuk hatinya, tak pernah ia
biarkan keluar, bahkan ia tutup-tutupi dengan sikap riang gembira! Hanya di
waktu malamlah, apabila mereka bertiga sudah tertidur, ia berani membiarkan air
matanya bercucuran, menangis tanpa suara!.
No comments:
Post a Comment