Badai Laut Selatan ; Bagian 061


Ia memandang ke sekitarnya. Sunyi. Hanya terdengar suara ombak memberisik di pantai. Ia menoleh ke belakang, ke arah pondoknya. Sudah berantakan dan tidak ada pondoknya lagi, hanya tinggal bekas-bekasnya. Ia menarik napas panjang.
"Ya Jagad Dewa Batara......., terjadilah kiranya segala kehendak Hyang Widi Wisesa!....... Hamba masih diperkenankan hidup....... untuk apa dan sampai kapan?"
Ia lalu bersila, mengheningkan cipta memusatkan pancaindera, setelah hening lalu diarahkan ciptanya mengumpul dan menghimpun semua hawa murni dalam tubuh, menyalurkannya ke arah belakang kepala untuk menyembuhkan luka pukulan yang sepatutnya menghancurkan kepalanya itu. Sampai terasa panas seperti dibakar api dari dalam, nyeri bukan main!.

Kita tinggalkan dulu Sang Bhagawan Rukmoseto yang secara ajaib atas kehendak Yang Maha Kuasa, dapat terlepas dari ancaman maut itu. Mari kita menengok dan mengikuti perjalanan Pujo bersama Kartikosari dan Roro Luhito. Tiga orang ini menunggang kuda, pertama-tama mereka mencari kedua orang anak, yaitu Endang Patibroto dan Joko Wandiro di sekitar daerah pantai selatan. Mereka naik turun gunung yaitu barisan Gunung Kidul yang membujur dari timur ke barat tiada berkeputusan. Mereka keluar masuk hutan, ada kalanya harus meninggalkan kuda untuk menuruni tebing pantai yang amat curam dan yang tidak mungkin dapat dilakukan seekor kuda. Namun hasilnya sia-sia belaka. Kedua orang anak itu lenyap tanpa ada jejaknya, seakan-akan lenyap ditelan bumi. Mulai gelisah hati Kartikosari yang kehilangan puterinya. Juga Pujo mulai merasa khawatir kalau-kalau kedua orang anak itu tertimpa malapetaka. Ia amat sayang kepada Joko Wandiro, apalagi setelah kini diketahui bahwa ayah Joko Wandiro sesungguhnya bukanlah musuh besar yang selama ini didendamnya. Dan tentu saja ia ingin sekali bertemu dengan Endang Patibroto, anak kandungnya. Untung bahwa di samping mereka terdapat Roro Luhito yang pandai sekali menghibur mereka. Bahkan kadang-kadang wanita muda itu bertembang, suaranya merdu sekali, pandai berkelakar, wajahnya selalu riang dan sikapnya bebas sehingga puteri adipati ini kadang-kadang dapat menghibur mereka dan membuat suami isteri itu tersenyum.
"Nimas Sari, kurasa untuk mencari anak kita dan muridku, kita membutuhkan bantuan banyak orang. Bagaimana kalau kita sekarang pergi ke Bayuwismo? Para cantrik kiranya. Akan dapat membantu kita. Pula, perlu kita menghadap bapa resi yang tentu amat sengsara hatinya oleh kepergian kita."
Kedua mata Kartikosari menjadi basah ketika ia teringat akan ayahnya. Ia mengangguk dan menjawab,
Agaknya begitulah sebaiknya, Kakangmas. Kita perlu mohon pengampunan dan petunjuk dari ayah."
"Akupun akan pulang ke Selopenangkep. Siapa duga bahwa kita sebenarnya adalah tetangga dekat! Jangan kalian khawatir, mari ikut aku ke Selopenangkep. Dengan pengerahan pasukan kadipaten untuk mencari jejak kedua orang anak itu, tentu akan dapat segera berhasil!"
"Terima kasih, Diajeng. Akan tetapi biarlah kita pergi dulu ke Bayuwismo menjenguk ayah seperti yang diusulkan kakangmas Pujo. Kalau perlu kelak, boleh saja kami menerima bantuanmu itu. Memang lebih banyak yang mencari lebih baik."
"Mari kita berangkat," kata Pujo, memandang ke angkasa," matahari sudah naik tinggi.
“Kalau kita mempercepat kuda, menjelang senja kita akan sampal di Bayuwismo."

Tiga ekor kuda meloncat ke depan lalu terdengar derap kaki mereka membalap ke arah barat. Pujo berada di depan, tegap dan gagah perkasa. Kartikosari di tengah dan Roro Luhito paling belakang. Rambut kedua orang wanita cantik jelita ini berkibar tertiup angin. Tepat seperti telah diperhitungkan oleh Pujo, lewat tengah hari sampailah mereka di Sungapan dan dari jauh sudah nampak pondok Bayuwismo. Tiba-tiba Kartikosari berseru,
"Kakangmas, berhenti di sini!"
Pujo menahan kudanya dan mereka bertiga melompat turun. Tiga ekor kuda yang tubuhnya penuh keringat dan hidungnya berkembang-kempis terengah-engah itu dilepas.
"Mengapa, Nimas?"
Dengan terharu Kartikosari berkata,
"Sudah terlalu lama kita tidak pulang. Akan terlalu mengagetkan ayah kalau kita datang berkuda. Kasihan, ayah sudah tua ....." Wanita itu menahan isak, lalu dengan air mata membasahi pipi ia memandang Pujo, memaksa senyum.
"Hatiku terlalu gembira ..... melihat pondok itu. ...... . mari kita ke sana, Kakangmas. Diajeng Luhito, mari ..... "
Dengan wajah berseri akan tetapi sinar matanya penuh keharuan Kartikosari menggandeng tangan Pujo dan tangan Roro Luhito. Berangkatlah mereka berjalan kaki melalui pantai berpasir, membiarkan kuda mereka mencari rumput dan melepaskan lelah.
"Ehhh.. ..... apa itu. .... .. ? "
Tiba-tiba Roro Luhito menudingkan telunjuknya ke depan agak ke atas. Mereka harus melindungi mata dari sinar matahari yang sudah condong ke barat, karena letak pondok itu berada di sebelah barat.
"Seperti ..... burung-burung gagak ..... " kata Kartikosari.
"Ahhh ..... apakah yang menggeletak di pasir itu. ..... .?"
Pujo berseru dan serentak, seperti mendapat komando, ketiga orang itu lalu lari, tidak bergandeng tangan lagi, melainkan berlari, cepat seperti tiga orang kanak-kanak bermain-main dan berlumba lari di atas pasir pantai!.
"Duh Jagad Dewa Batara .... !!"
Pujo berseru ketika melihat bahwa enam orang cantrik Bayuwismo telah menggeletak malang-melintang di atas pasir, tak seorangpun di antara mereka masih bernapas.
"Aduh Gusti....... !!"

Kartikosari menjerit dan berlutut di samping suaminya, memeriksa enam orang yang sudah menjadi mayat itu. Keadaan mereka sungguh mengerikan. Tidak tampak luka-luka yang mengeluarkan darah di tubuh mereka, namun jelas bahwa mereka tewas penuh penderitaan. Ada yang dengan mata terbelalak, dan wajah mereka masih membayangkan kengerian dan ketakutan. Roro Luhito berdiri seperti patung, terbelalak memandang ke arah mayat-mayat itu, tidak tahu harus berkata apa berbuat apa.
"Ramanda resi....... !"
Tiba-tiba Kartikosari yang teringat ayahnya menjerit ngeri dan meloncat lalu lari ke arah pondok, diikuti oleh Pujo yang wajahnya pucat dan gelisah sekali. Roro Luhito juga berlari di belakang mereka. Seperti orang gila, Kartikosari memasuki pondok hampir berbareng dengan Pujo dan di belakang mereka, Roro Luhito juga menyusul masuk. Pondok itu kosong! Akan tetapi jelas tampak tanda-tanda bahwa orang telah menggeledah pondok itu dengan kasar. Semua isi pondok jungkir-balik.
Melihat pondok itu kosong, Kartikosari agak lapang dadanya. Akan tetapi ia masih merasa tidak enak, lalu lari keluar dari pintu belakang, diikuti Pujo dan Roro Luhito. Setelah mencari-cari dan yakin bahwa tidak ada mayat lain di sekeliling pondok, mereka kembali ke depan pondok. Kartikosari terisak dan merangkul lengan kiri Pujo yang berdiri tegak dengan muka pucat dan mata melotot memandang ke arah mayat-mayat yang malang melintang. Roro Luhito berdebar debar jantungnya, merasa gelisah dan tidak enak hatinya. Siapakah yang melakukan pembunuhan keji ini? Jangan-jangan pembunuhnya datang dari Kadipaten Selopenangkep! Ia merasa cemas sekali.
"Kakangmas Pujo, siapakah kiranya yang begini keji, membunuhi para cantrik yang tidak berdosa?"

Kartikosari bertanya, suaranya gemetar. Ia mengenal semua cantrik ini, apalagi cantrik Wisudo dan cantrik Wistoro yang tua. Kedua orang cantrik ini dahulu seringkali menggendongnya dan mengajaknya main-main ketika ia masih kecil. Mereka itu seperti paman-pamannya, atau kakak-kakaknya sendiri. Dan sekarang, mereka semua menggeletak tak bernyawa di depan kakinya! Pujo menggeleng kepada, lalu mengepal tinju tangannya.
"Aku sendiri tak dapat menduga, Nimas. Akan tetapi siapapun juga orangnya, dia itu tentu memusuhi bapa resi. Mungkin bapa resi tidak berada di pondok, maka kernarahan orang atau orang-orang itu ditimpakan kepada para cantrik. Keji benar mereka!"
"Kakangmas Pujo, bukankah dekat tempat ini terdapat dusun? Tentu di antara penduduk dusun ada yang melihat, siapa yang baru-baru ini datang ke sini. Kulihat para korban ini belum terlalu lama tewasnya...."
"Kau benar!" Pujo berteriak.
"Nimas Sari, kau bersama jeng Roro tunggu di sini, biar kucari keterangan sebentar ke dusun!"
Tanpa menanti jawaban Kartikosari yang masih termangu-mangu itu Pujo lalu melesat cepat dan lari secepatnya menuju dusun terdekat, yaitu dusun Karang Tumaritis. Seorang nelayan tua memandangnya dengan mata terbelalak heran. Barulah nelayan ini merasa yakin bahwa la tidak bermimpi ketika Pujo berseru kepadanya,
"Paman Kerpu !"
"Eh....... benarkah ..... Gus Pujo ini.. ..... ?"
"Benar, Paman."
"Wah, sewindu lebih engkau pergi, gus. Juga Nini Kartikosari ..... ! malah setahun kemudian kakang resi pergi pula meninggalkan Sungapan. Aduh, alangkah banyaknya peristiwa terjadi sejak itu ..... Gus. Perubahan besar terjadi di mana-mana dan ......."
"Maaf, Paman Kerpu," Pujo memotong.
"Saya sengaja mencari Paman untuk bertanya, apakah Paman melihat ada orang mendatangi Bayuwismo tadi?"
"Tadi ....... ? "
"Dalam hari ini maksud saya, Paman. Adakah Paman melihat orang-orang pergi ke sana?"
Kakek itu mengerutkan keningnya dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku tidak melihatnya, gus. Kalau dahulu memang. Wah, jahat-jahat benar orang-orang dari Kadipaten Selopenangkep. Pantas saja Sang Hyang Widi sekarang menghukum mereka."
"Apa yang terjadi ketika itu, Paman?" Pujo tertarik. Mungkin kejadian dahulu ada hubungannya dengan kejadian sekarang.
"Terjadinya sudah lama sekali. Setahun lebih setelah kau dan isterimu pergi, atau tidak lama setelah kakang resi pergi tanpa pamit. Serombongan orang-orang dari Kadipaten Selopenangkep datang dan ....... ah, benar kejam sekali. Lima orang cantrik di Byuwismo dibikin tuli semua!"
"Dibikin tuli?"
"Ya, entah bagaimana. Tahu-tahu mereka itu tuli semua. Akhir-akhir ini aku jarang mengunjungi pondok Bayuwismo. Habis, enam orang cantrik sana menjadi tuli semua, sukar diajak bicara. Akan tetapi sekarang datang hukuman Kadipaten Selopenangkep. Kabarnya Adipati Joyowiseso ditangkap, dan kadipaten diambil alih serombongan pasukan dari kota raja. Entah bagaimana duduknya perkara. Kami orang-orang kecil mana berani banyak bertanya?"
"Terima kasih, Paman. Saya harus pergi sekarang juga. Peristiwa hebat terjadi di Bayuwisrno. Keenam paman cantrik di sana telah terbunuh hari ini."
"Mereka terbunuh ....... ? Siapa....... siapa.......? "
"Entah siapa pembunuhnya. Justeru saya sedang melakukan penyelidikan."
"Kalau begitu, biar kukerahkan kawan-kawan untuk membantu di sana, mengurus mereka ....... "

Kakek itu menjadi pucat dan segera ia berteriak-teriak sambil lari memasuki dusun. Pujo mengangkat pundaknya, lalu ia menggunakan ilmu lari cepat kembali ke Bayuwismo di mana kedua orang wanita itu menanti dengan penuh harapan.
"Bagaimana, Kakangmas? Berhasilkan? Siapakah yang melakukan ini?" Kartikosari tidak sabar lagi, menyambut suarninya dengan hujan pertanyaan.
"Tidak ada orang yang melihat orang datang ke sini, Nimas. Akan tetapi ....... "
Pujo berpaling ke arah Roro Luhito dan menahan kata-katanya. Selama ini, Pujo tidak pernah terlepas dari perhatian puteri Adipati Selopenangkep ini. Belum pernah sedetikpun juga Roro Luhito dapat melenyapkan rasa cinta kasihnya terhadap Pujo yang selama bertahun-tahun ia tahan-tahan. Selama bertahun-tahun ketika ia menjadi murid Resi Telomoyo, ia selalu merindukan Pujo dan seringkali di waktu tidur ia bermimpi tentang laki-laki yang menjadi pujaan hatinya. Biarpun Ia tahu bahwa ia telah salah duga, dan bersama dengan terbukanya rahasia itu maka harapannya untuk menjadi isteri Pujo tersapu habis seperti asap tipis tersapu angin, namun tak pernah hatinya dapat ia yakinkan bahwasanya mencinta Pujo merupakan hal yang sia-sia belaka. Perasaannya tetap saja lekat kepada laki-laki itu dan setiap gerak-gerik Pujo tak pernah terlepas daripada perhatiannya, sungguhpun tentu saja ia tidak berani memperlihatkan secara berterang.
Ia tidak cemburu kepada Kartikosari karena sejak dahulupun ia maklum bahwa Kartikosari adalah isteri Pujo. Ia hanya merasa diam-diam iri dan perasaannya seringkali hancur, namun tangisnya hanya ia kubur di dalam lubuk hatinya, tak pernah ia biarkan keluar, bahkan ia tutup-tutupi dengan sikap riang gembira! Hanya di waktu malamlah, apabila mereka bertiga sudah tertidur, ia berani membiarkan air matanya bercucuran, menangis tanpa suara!.

<<< Bagian 060                                                                                   Bagian 062 >>>

No comments:

Post a Comment