Maklum bahwa bahaya maut mengancamnya dari kanan kiri, Rukmoseto lalu menggerakkan kedua lengannya, didorongkan ke depan untuk menyambut pukulan yang dilakukan oleh Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Biarpun kedua wanita ini hanya orang-orang wanita dengan tangan yang kecil, namun daya pukulannya tidak kalah hebat dan bahayanya dibandingkan dengan teman-temannya.
Bhagawan
Rukmoseto merasa betapa kedua telapak tangannya yang terbuka itu bertemu dengan
dua kepalan tangan yang kecil, lunak dan halus. Akan tetapi tubuh Bhagawan
Rukmoseto menggigil ketika ia merasa betapa tubuhnya terserang dua tenaga
dahsyat yang berlawanan. Yang kanan mengandung hawa dingin melebih air puncak
Gunung Mahameru, keluar dari kepalan tangan Ni Nogogini, adapun yang kiri
keluar dari tangan Ni Durgogini mengandung hawa panas melebihi kawah Gunung
Bromo! Tergetar tubuh Bhagawan Rukmoseto dan tak tertahan lagi ia terdorong
mundur sampai empat meter lalu jatuh terduduk, bersila dengan punggung tegak
lurus juga kedua orang wanita sakti itu sejenak merasa seakan-akan tangan
mereka lumpuh ketika bertemu dengan tangkisan tangan sang bhagawan yang tadi
mengerahkan Aji Pethit Nogo. Akan tetapi segera mereka dapat menguasai dirinya
dan melancarkan pukulan jarak jauh dengan kepalan tangan mereka. Sang Bhagawan
Rukmoseto atau Resi Bhargowo maklum bahwa keadaannya terdesak dan berbahaya
karena kelima orang lawannya itu benar-benar merupakan lawan yang tangguh. Juga
ia tahu bahwa Jokowanengpati, biarpun masih muda, namun telah mewarisi ilmu
kepandaian kakaknya, Sang Empu Bharodo yang sakti mandraguna. Maka ia lalu
mengerahkan seluruh ajinya, memusatkan panca indra, menyalurkan seluruh hawa
sakti dari pusat ke arah kedua lengannya yang menggetar hebat, lalu ia
mendorongkan kedua lengan itu dengan telapak tangan terbuka, jari-jari
menegang. Hebat bukan main keadaan Bhagawan Rukmoseto pada saat itu. Aji Pethit
Nogo telah ia keluarkan sepenuhnya. Jari-jari kedua tangannya seakan-akan
mengeluarkan cahaya dan tenaga mujijat terpancar keluar dari sepuluh jari itu,
meluncur ke depan.
Ni Nogogini
dan Ni Durgogini terpekik kaget ketika mereka merasa betapa tenaga pukulan
jarak jauh yang mereka lancarkan itu tertumbuk dan membalik. Hampir saja mereka
celaka, terserang tenaga sendiri yang membalik kalau saja pada saat gawat itu
Ki Krendoyakso dan Cekel Aksomolo tidak membantu mereka. Dua orang sakti inipun
mengeluarkan aji pukulan jarak jauh, dengan tangan kiri miring di depan dada,
tangan kanan diangkat ke atas kepala dan meluncurlah tenaga pukulan mereka ke
depan, menyambut cahaya yang keluar dari kedua tangan Bhagawan Rukmoseto.
Ki Warok
Gendroyono yang tadi kedodoran celananya, kini sudah dapat membereskan
celananya. Ia marah sekali, dan melihat kini pendeta itu bersila dan melayani
serangan empat orang lawannya dengan pukulan jarak jauh, ia menjadi tidak
sabar. Diputarnya kolor mautnya dan ia meloncat ke depan hendak menghantam
kepala kakek yang sedang bersila itu dengan keyakinan sekali pukul akan
menghancurkan kepala lawan.
"Ki Warok,
hati-hati ......... ! " seru Jokowanengpati memperingatkan.
Namun
terlambat. Ki Warok Gendroyono sudah menyerbu ke depan dan mengayun kolornya,
akan tetapi sebelum kolor itu dapat menyentuh kepala Bhagawan Rukmoseto, Ki
Warok menjerit dan tubuhnya melayang seperti dilontarkan tenaga dahsyat, roboh
menimpa batu karang dan pingsanlah gegedug (pentolan) Ponorogo ini!.
Pertandingan
adu hawa sakti antara Bhagawan Rukmoseto dan empat orang lawannya berlangsung
terus dengan hebatnya. Tubuh bhagawan itu duduk dengan tegak lurus, wajahnya
penuh wibawa, kedua lengannya yang dilonjorkan ke depan dengan kedua tangan
terbuka itu membayangkan kekuatan gaib yang meluncur ke depan. Kedudukannya
kokoh kuat seperti batu karang yang berdiri di sebelah kiri ia duduk bersila.
Pada saat itu, segenap hawa sakti di tubuhnya terkumpul ke dalam kedua
lengannya, seluruh panca indera dipusatkan, melawan hawa sakti yang keluar dari
tangan keempat orang lawannya.
Ki
Krendoyakso, Cekel Aksomolo, Ni Durgogini dan Ni Nogogini adalah empat orang
sakti yang telah memiliki kepandaian luar biasa. Dalam hal aji kesaktian dan
tenaga murni dalam tubuh, kiranya mereka berempat itu masing-masing telah
mencapai tingkat yang tidak banyak selisihnya dengan Bhagawan Rukmoseto. Namun
harus diakui bahwa hawa sakti di tubuh mereka tidaklah murni lagi. Mereka itu
empat orang yang masih jauh dari pada mampu menguasai diri pribadi dan nafsu.
Bahkan seringkali mereka itu dipermainkan dan diperhamba nafsu. Kedua wanita
cantik itu dan Cekel Aksomolo seringkali diperhamba nafsu berahi sehingga untuk
memusatkan hasrat nafsu ini, mereka rela menghamburkan hawa yang murni hanya
untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan badani. Adapun Ki Krendoyakso, berbeda
pula caranya mengumbar nafsu setannya. la terjerumus ke dalam ilmu hitam, ilmu
iblis yang membuat ia mengambil cara yang menjijikkan dan mengerikan dalam
usahanya mengejar kesaktian, di antaranya dengan makan daging dan minum darah
bayi! Memang ia berhasil mempertahankan ilmu hitamnya, namun tanpa disadarinya
ia kehilangan hawa murni yang timbul dari kemurnian batin, kebersihan pikiran
dan perasaan. Ilmu barulah bersih murni apabila dilandasi kebajikan. Sebaliknya
ilmu menjadi ilmu hitam apabila diperhamba nafsu-nafsu jasmani. Dalam
pertandingan mati-matian itu, barulah terbukti bahwa Bhagawan Rukmoseto yang
berbatin bersih kuat itu mampu menahan pengeroyokan empat orang sakti. Mereka
berempat bahkan mulai menggigil lengannya, menjadi pucat wajahnya. Padahal
Bhagawan Rukmoseto masih duduk bersila tegak lurus, kedua lengannya sama sekali
tidak bergoyang, dan dari kedua telapak tangannya seakan-akan keluar cahaya
putih yang makin bersinar. Jokowanengpati menyesal ketika melihat betapa Warok
Gendroyono roboh oleh kelancangannya sendiri. Alangkah bodohnya, pikir orang muda
ini. Sebagai murid seorang sakti seperti Empu Bharodo, tentu saja ia maklum
betapa berbahaya menyerang seorang yang sedang mengerahkan hawa murni seperti
sang bhagawan itu, dengan pukulan langsung. Dalam keadaan seperti itu, tubuh
depan sang bhagawan seakan-akan tertutup oleh aliran tenaga tak tampak yang
luar biasa kuatnya.
Jokowanengpati
mungkin tak setinggi Ki Warok Gendroyono kepandaiannya, akan tetapi sudah pasti
ia lebih cerdik. Diam-diam ia mengambil penggada Wesi Ireng milik Ki
Krendoyakso yang terletak di atas tanah karena oleh pemiliknya memang
dilepaskan agar lebih leluasa ia mengadu tenaga dalam membantu teman-temannya.
Kemudian Jokowanengpati menyelinap dan dengan jalan memutar ia mengelilingi
tempat itu, muncul keluar dari balik batu karang di sebelah kiri Sang Bhagawan
Rukmoseto. Kemudian, setelah memperhitungkan sejenak, ia melompat dengan
pengerahan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya mencelat ke depan dengan amat
cekatan, penggada Wesi Ireng di tangan kanannya diayun ke bawah, menghantam belakang
kepala Sang Bhagawan Rukmoseto, di atas tengkuk, di belakang telinga kanan.
"Prakkkk!!"
Sang Bhagawan
Rukmoseto sedang memusatkan seluruh panca indera kepada empat orang lawannya di
depan. Perhatiannya tercurah sepenuhnya dan tenaga murninya disalurkan ke
depan, tentu saja bagian belakang sama sekali tidak terjaga. Pukulan itu hebat
sekali, disertai tenaga seorang muda sakti dan dilakukan dengan senjata Wesi
Ireng yang ampuh dan mujijat, mengenai bagian yang amat lemah dan penting.
Seketika Sang Bhagawan Rukmoseto terguling dan terjungkal ke depan, rebah
telentang tak mampu bergerak lagi, kedua matanya terpejam dan dari telinga,
hidung dan ujung bibir menetes darah!.
"Ha-ha-ha!
Akhirnya penggadaku yang berjasa!" kata Ki Krendoyakso sambil menerima kembali
penggadanya.
“Kalau mau
bicara tentang jasa, kita semua berjasa, akan tetapi yang paling besar jasanya
adalah si Joko!" kata Durgogini yang memegang tangan kanan Jokowanengpati,
tersenyum dan mengerling penuh cumbu rayu dan mendekap tangan itu ditempelkan
ke pipinya. Memang sudah bukan rahasia lagi bahwa Jokowanengpati menjadi
kekasih tetap iblis betina Girilimut ini.
"Uuuh-huh-huh,
kacau ....... kacau......... urusan menjadi rusak berantakan dan kalian masih
memperebutkan jasa ? Loleee ......... loleee ......... bagaimana baiknya
sekarang? Kita diutus merampas pusaka, sekarang yang kita dapatkan hanya
bangkai seorang bhagawan tua bangka yang tak berguna!"
"Si
keparat Rukmoseto ini yang keras kepala menggagalkan semua rencana. Belum puas
aku kalau belum ......... "
Ki Warok
Gepdroyono yang kini sudah bangkit dan masih belum hilang kemarahannya karena
tadi roboh, kini melangkah maju sambil memutar kolor maut, ingin melampiaskan
kemarahannya dengan menghancurkan tubuh lawan yang sudah tak berdaya itu. Teman-temannya
hanya memandang dengan acuh tak acuh.
Akan tetapi
tiba-tiba Ki Warok Gendroyono mengeluarkan seruan marah, juga lima orang
temannya memandang dengan mata terbelalak kaget dan tidak percaya ketika
melihat apa yang terjadi. Ki Warok Gendroyono telah mengayun kolor mautnya
menghantam ke arah kepala tubuh yang sudah menggeletak telentang tak berdaya
itu. Akan tetapi sungguh ajaib. Kolornya tak dapat menyentuh kepala sang
bhagawan karena tiba-tiba membalik seperti ada yang menangkisnya! Ki Warok Gendroyono
tentu raja merasa heran, juga amat penasaran dan marah.
Kalau tadi
selagi sang bhagawan masih segar, ia tidak mampu mengalahkannya, hal itu
tidaklah terlalu membuat hati penasaran karena memang Sang Bhagawan Rukmoseto
amat sakti. Akan tetapi kini pendeta itu sudah mati tentu sedikitnya sudah
sekarat atau pingsan. Bagaimana kolor mautnya tidak dapat menyentuh orang yang
rebah tak bergerak ini ?. Ki Warok mengeluarkan suara gerengan keras, kolornya
diputar-putar sampai mengeluarkan suara angin mendesir, kemudian ia hantamkan
ke arah dada Bhagawan Rukmoseto.
"Wettt!"
Kembali kolor
itu membalik, bahkan kini lebih keras daripada tadi, karena Ki Warok
menggunakan tenaga lebih besar. Saking marah dan penasaran, Ki Warok kembali
menghantam, kini mengerahkan seluruh tenaga dan akibatnya ia sendiri terguling
roboh. Untung ia tadi cepat menggulingkan tubuh karena kolor itu membalik
dengan tenaga demikian dahsyat sehingga kalau ia tidak cepat merobohkan diri,
tentu kepalanya sendiri yang dihantam senjatanya! Ia melompat bangun dan
mukanya menjadi pucat.
Terdengar
gerengan keras ketika Ki Krendoyakso melompat ke depan. la juga merasa
penasaran sungguhpun hatinya agak gentar. Kalau tadi ketika Bhagawan Rukmoseto
masih segar bugar, bhagawan itu tidak mampu mengalahkan mereka, mana mungkin
setelah roboh kini malah lebih digdaya lagi? Ataukah temannya, Ki Warok
Gendroyono yang kehilangan kesaktiannya? Barangkali kolornya itu kini tidak
ampuh lagi? Karena penasaran ia lalu melompat sambil menggerakkan penggadanya,
dipukulkan sekerasnya ke arah kepala Sang Bhagawan Rukmoseto.
"Syuuuutttt!"
Akibatnya,
raksasa tinggi besar ini terpekik dan penggadanya membalik, bahkan terlepas
dari tangannya ia sendiri terhuyung ke belakang dengan wajah pucat. Jelas ia
merasai tadi betapa penggadanya bertemu dengan sesuatu yang mengandung tenaga
luar biasa sekali. Hanya dengan susah payah Ki Krendoyakso mampu menahan
kakinya dan berdiri terbelalak. Benarkah pertapa yang sudah telentang payah itu
masih mempunyai kedigdayaan seperti itu?.
Melihat ini,
Cekel Aksomolo, Ni Durgogini dan Ni Nogogini bersiap-siap dan sudah melangkah
maju mendekati tubuh Bhagawan Rukmoseto yang sudah tak bergerak-gerak itu.
Mereka bersikap waspada dan hati-hati karena siapa tahu, dalam sakratul
mautnya, sang bhagawan itu memiliki aji kesaktian mujijat yang dapat
mencelakakan lawan. Pada saat itu terdengar suara orang ketawa. Suara itu
menggeledek dan bergema di seluruh pulau, mengandung getaran yang
mengguncangkan isi dada dan, amat berwibawa.
"Ha-ha-ha-haha!!
Tiga ekor anjing tua Bangka berpenyakitan, dua ekor anjing betina, yang denok,
dan seekor kirik (anak anjing) licik mengeroyok seorang pertapa. Ramai, lucu
dan menyebalkan!"
Semua orang
menengok dan tampaklah sorang kakek tinggi besar, dari rambut kepala sampai ke
kakinya tampak besar dan kokoh kuat, kulitnya hitam mengkilap, rambutnya sudah
penuh uban, terbungkus kain berwarna ungu kehitaman, Jenggotnya tebal sekepal
sebelah, matanya terbelalak melotot lebar bundar namun mengeluarkan cahaya yang
tajam seperti kilat menyambar-nyambar. Tangan kiri kakek itu menggandeng
seorang anak perempuan berusia sebelas tahun. Mereka ini bukan lain adalah
Dibyo Mamangkoro dan Endang Patibroto.
"Uuh-huh-huh,
selamat bertemu dan terimalah saya, adinda Dibyo Mamangkoro ......... tidak
nyana tidak kira, dapat bertemu dengan adinda di tempat ini huh-huh! Angin
buruk......... eh, angin baik apa yang meniup adinda senopati datang ke tempat
ini ......... ! "
"Huah-ha-ha-ha!
Cekel, kau makin lama makin mirip Bhagawan Durno, ha- ha-ha!"
No comments:
Post a Comment