Badai Laut Selatan ; Bagian 059


Maklum bahwa bahaya maut mengancamnya dari kanan kiri, Rukmoseto lalu menggerakkan kedua lengannya, didorongkan ke depan untuk menyambut pukulan yang dilakukan oleh Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Biarpun kedua wanita ini hanya orang-orang wanita dengan tangan yang kecil, namun daya pukulannya tidak kalah hebat dan bahayanya dibandingkan dengan teman-temannya.

Bhagawan Rukmoseto merasa betapa kedua telapak tangannya yang terbuka itu bertemu dengan dua kepalan tangan yang kecil, lunak dan halus. Akan tetapi tubuh Bhagawan Rukmoseto menggigil ketika ia merasa betapa tubuhnya terserang dua tenaga dahsyat yang berlawanan. Yang kanan mengandung hawa dingin melebih air puncak Gunung Mahameru, keluar dari kepalan tangan Ni Nogogini, adapun yang kiri keluar dari tangan Ni Durgogini mengandung hawa panas melebihi kawah Gunung Bromo! Tergetar tubuh Bhagawan Rukmoseto dan tak tertahan lagi ia terdorong mundur sampai empat meter lalu jatuh terduduk, bersila dengan punggung tegak lurus juga kedua orang wanita sakti itu sejenak merasa seakan-akan tangan mereka lumpuh ketika bertemu dengan tangkisan tangan sang bhagawan yang tadi mengerahkan Aji Pethit Nogo. Akan tetapi segera mereka dapat menguasai dirinya dan melancarkan pukulan jarak jauh dengan kepalan tangan mereka. Sang Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo maklum bahwa keadaannya terdesak dan berbahaya karena kelima orang lawannya itu benar-benar merupakan lawan yang tangguh. Juga ia tahu bahwa Jokowanengpati, biarpun masih muda, namun telah mewarisi ilmu kepandaian kakaknya, Sang Empu Bharodo yang sakti mandraguna. Maka ia lalu mengerahkan seluruh ajinya, memusatkan panca indra, menyalurkan seluruh hawa sakti dari pusat ke arah kedua lengannya yang menggetar hebat, lalu ia mendorongkan kedua lengan itu dengan telapak tangan terbuka, jari-jari menegang. Hebat bukan main keadaan Bhagawan Rukmoseto pada saat itu. Aji Pethit Nogo telah ia keluarkan sepenuhnya. Jari-jari kedua tangannya seakan-akan mengeluarkan cahaya dan tenaga mujijat terpancar keluar dari sepuluh jari itu, meluncur ke depan.

Ni Nogogini dan Ni Durgogini terpekik kaget ketika mereka merasa betapa tenaga pukulan jarak jauh yang mereka lancarkan itu tertumbuk dan membalik. Hampir saja mereka celaka, terserang tenaga sendiri yang membalik kalau saja pada saat gawat itu Ki Krendoyakso dan Cekel Aksomolo tidak membantu mereka. Dua orang sakti inipun mengeluarkan aji pukulan jarak jauh, dengan tangan kiri miring di depan dada, tangan kanan diangkat ke atas kepala dan meluncurlah tenaga pukulan mereka ke depan, menyambut cahaya yang keluar dari kedua tangan Bhagawan Rukmoseto.
Ki Warok Gendroyono yang tadi kedodoran celananya, kini sudah dapat membereskan celananya. Ia marah sekali, dan melihat kini pendeta itu bersila dan melayani serangan empat orang lawannya dengan pukulan jarak jauh, ia menjadi tidak sabar. Diputarnya kolor mautnya dan ia meloncat ke depan hendak menghantam kepala kakek yang sedang bersila itu dengan keyakinan sekali pukul akan menghancurkan kepala lawan.
"Ki Warok, hati-hati ......... ! " seru Jokowanengpati memperingatkan.
Namun terlambat. Ki Warok Gendroyono sudah menyerbu ke depan dan mengayun kolornya, akan tetapi sebelum kolor itu dapat menyentuh kepala Bhagawan Rukmoseto, Ki Warok menjerit dan tubuhnya melayang seperti dilontarkan tenaga dahsyat, roboh menimpa batu karang dan pingsanlah gegedug (pentolan) Ponorogo ini!.
Pertandingan adu hawa sakti antara Bhagawan Rukmoseto dan empat orang lawannya berlangsung terus dengan hebatnya. Tubuh bhagawan itu duduk dengan tegak lurus, wajahnya penuh wibawa, kedua lengannya yang dilonjorkan ke depan dengan kedua tangan terbuka itu membayangkan kekuatan gaib yang meluncur ke depan. Kedudukannya kokoh kuat seperti batu karang yang berdiri di sebelah kiri ia duduk bersila. Pada saat itu, segenap hawa sakti di tubuhnya terkumpul ke dalam kedua lengannya, seluruh panca indera dipusatkan, melawan hawa sakti yang keluar dari tangan keempat orang lawannya.

Ki Krendoyakso, Cekel Aksomolo, Ni Durgogini dan Ni Nogogini adalah empat orang sakti yang telah memiliki kepandaian luar biasa. Dalam hal aji kesaktian dan tenaga murni dalam tubuh, kiranya mereka berempat itu masing-masing telah mencapai tingkat yang tidak banyak selisihnya dengan Bhagawan Rukmoseto. Namun harus diakui bahwa hawa sakti di tubuh mereka tidaklah murni lagi. Mereka itu empat orang yang masih jauh dari pada mampu menguasai diri pribadi dan nafsu. Bahkan seringkali mereka itu dipermainkan dan diperhamba nafsu. Kedua wanita cantik itu dan Cekel Aksomolo seringkali diperhamba nafsu berahi sehingga untuk memusatkan hasrat nafsu ini, mereka rela menghamburkan hawa yang murni hanya untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan badani. Adapun Ki Krendoyakso, berbeda pula caranya mengumbar nafsu setannya. la terjerumus ke dalam ilmu hitam, ilmu iblis yang membuat ia mengambil cara yang menjijikkan dan mengerikan dalam usahanya mengejar kesaktian, di antaranya dengan makan daging dan minum darah bayi! Memang ia berhasil mempertahankan ilmu hitamnya, namun tanpa disadarinya ia kehilangan hawa murni yang timbul dari kemurnian batin, kebersihan pikiran dan perasaan. Ilmu barulah bersih murni apabila dilandasi kebajikan. Sebaliknya ilmu menjadi ilmu hitam apabila diperhamba nafsu-nafsu jasmani. Dalam pertandingan mati-matian itu, barulah terbukti bahwa Bhagawan Rukmoseto yang berbatin bersih kuat itu mampu menahan pengeroyokan empat orang sakti. Mereka berempat bahkan mulai menggigil lengannya, menjadi pucat wajahnya. Padahal Bhagawan Rukmoseto masih duduk bersila tegak lurus, kedua lengannya sama sekali tidak bergoyang, dan dari kedua telapak tangannya seakan-akan keluar cahaya putih yang makin bersinar. Jokowanengpati menyesal ketika melihat betapa Warok Gendroyono roboh oleh kelancangannya sendiri. Alangkah bodohnya, pikir orang muda ini. Sebagai murid seorang sakti seperti Empu Bharodo, tentu saja ia maklum betapa berbahaya menyerang seorang yang sedang mengerahkan hawa murni seperti sang bhagawan itu, dengan pukulan langsung. Dalam keadaan seperti itu, tubuh depan sang bhagawan seakan-akan tertutup oleh aliran tenaga tak tampak yang luar biasa kuatnya.

Jokowanengpati mungkin tak setinggi Ki Warok Gendroyono kepandaiannya, akan tetapi sudah pasti ia lebih cerdik. Diam-diam ia mengambil penggada Wesi Ireng milik Ki Krendoyakso yang terletak di atas tanah karena oleh pemiliknya memang dilepaskan agar lebih leluasa ia mengadu tenaga dalam membantu teman-temannya. Kemudian Jokowanengpati menyelinap dan dengan jalan memutar ia mengelilingi tempat itu, muncul keluar dari balik batu karang di sebelah kiri Sang Bhagawan Rukmoseto. Kemudian, setelah memperhitungkan sejenak, ia melompat dengan pengerahan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya mencelat ke depan dengan amat cekatan, penggada Wesi Ireng di tangan kanannya diayun ke bawah, menghantam belakang kepala Sang Bhagawan Rukmoseto, di atas tengkuk, di belakang telinga kanan.
"Prakkkk!!"
Sang Bhagawan Rukmoseto sedang memusatkan seluruh panca indera kepada empat orang lawannya di depan. Perhatiannya tercurah sepenuhnya dan tenaga murninya disalurkan ke depan, tentu saja bagian belakang sama sekali tidak terjaga. Pukulan itu hebat sekali, disertai tenaga seorang muda sakti dan dilakukan dengan senjata Wesi Ireng yang ampuh dan mujijat, mengenai bagian yang amat lemah dan penting. Seketika Sang Bhagawan Rukmoseto terguling dan terjungkal ke depan, rebah telentang tak mampu bergerak lagi, kedua matanya terpejam dan dari telinga, hidung dan ujung bibir menetes darah!.
"Ha-ha-ha! Akhirnya penggadaku yang berjasa!" kata Ki Krendoyakso sambil menerima kembali penggadanya.
“Kalau mau bicara tentang jasa, kita semua berjasa, akan tetapi yang paling besar jasanya adalah si Joko!" kata Durgogini yang memegang tangan kanan Jokowanengpati, tersenyum dan mengerling penuh cumbu rayu dan mendekap tangan itu ditempelkan ke pipinya. Memang sudah bukan rahasia lagi bahwa Jokowanengpati menjadi kekasih tetap iblis betina Girilimut ini.
"Uuuh-huh-huh, kacau ....... kacau......... urusan menjadi rusak berantakan dan kalian masih memperebutkan jasa ? Loleee ......... loleee ......... bagaimana baiknya sekarang? Kita diutus merampas pusaka, sekarang yang kita dapatkan hanya bangkai seorang bhagawan tua bangka yang tak berguna!"
"Si keparat Rukmoseto ini yang keras kepala menggagalkan semua rencana. Belum puas aku kalau belum ......... "
Ki Warok Gepdroyono yang kini sudah bangkit dan masih belum hilang kemarahannya karena tadi roboh, kini melangkah maju sambil memutar kolor maut, ingin melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan tubuh lawan yang sudah tak berdaya itu. Teman-temannya hanya memandang dengan acuh tak acuh.

Akan tetapi tiba-tiba Ki Warok Gendroyono mengeluarkan seruan marah, juga lima orang temannya memandang dengan mata terbelalak kaget dan tidak percaya ketika melihat apa yang terjadi. Ki Warok Gendroyono telah mengayun kolor mautnya menghantam ke arah kepala tubuh yang sudah menggeletak telentang tak berdaya itu. Akan tetapi sungguh ajaib. Kolornya tak dapat menyentuh kepala sang bhagawan karena tiba-tiba membalik seperti ada yang menangkisnya! Ki Warok Gendroyono tentu raja merasa heran, juga amat penasaran dan marah.
Kalau tadi selagi sang bhagawan masih segar, ia tidak mampu mengalahkannya, hal itu tidaklah terlalu membuat hati penasaran karena memang Sang Bhagawan Rukmoseto amat sakti. Akan tetapi kini pendeta itu sudah mati tentu sedikitnya sudah sekarat atau pingsan. Bagaimana kolor mautnya tidak dapat menyentuh orang yang rebah tak bergerak ini ?. Ki Warok mengeluarkan suara gerengan keras, kolornya diputar-putar sampai mengeluarkan suara angin mendesir, kemudian ia hantamkan ke arah dada Bhagawan Rukmoseto.
"Wettt!"
Kembali kolor itu membalik, bahkan kini lebih keras daripada tadi, karena Ki Warok menggunakan tenaga lebih besar. Saking marah dan penasaran, Ki Warok kembali menghantam, kini mengerahkan seluruh tenaga dan akibatnya ia sendiri terguling roboh. Untung ia tadi cepat menggulingkan tubuh karena kolor itu membalik dengan tenaga demikian dahsyat sehingga kalau ia tidak cepat merobohkan diri, tentu kepalanya sendiri yang dihantam senjatanya! Ia melompat bangun dan mukanya menjadi pucat.
Terdengar gerengan keras ketika Ki Krendoyakso melompat ke depan. la juga merasa penasaran sungguhpun hatinya agak gentar. Kalau tadi ketika Bhagawan Rukmoseto masih segar bugar, bhagawan itu tidak mampu mengalahkan mereka, mana mungkin setelah roboh kini malah lebih digdaya lagi? Ataukah temannya, Ki Warok Gendroyono yang kehilangan kesaktiannya? Barangkali kolornya itu kini tidak ampuh lagi? Karena penasaran ia lalu melompat sambil menggerakkan penggadanya, dipukulkan sekerasnya ke arah kepala Sang Bhagawan Rukmoseto.
"Syuuuutttt!"
Akibatnya, raksasa tinggi besar ini terpekik dan penggadanya membalik, bahkan terlepas dari tangannya ia sendiri terhuyung ke belakang dengan wajah pucat. Jelas ia merasai tadi betapa penggadanya bertemu dengan sesuatu yang mengandung tenaga luar biasa sekali. Hanya dengan susah payah Ki Krendoyakso mampu menahan kakinya dan berdiri terbelalak. Benarkah pertapa yang sudah telentang payah itu masih mempunyai kedigdayaan seperti itu?.
Melihat ini, Cekel Aksomolo, Ni Durgogini dan Ni Nogogini bersiap-siap dan sudah melangkah maju mendekati tubuh Bhagawan Rukmoseto yang sudah tak bergerak-gerak itu. Mereka bersikap waspada dan hati-hati karena siapa tahu, dalam sakratul mautnya, sang bhagawan itu memiliki aji kesaktian mujijat yang dapat mencelakakan lawan. Pada saat itu terdengar suara orang ketawa. Suara itu menggeledek dan bergema di seluruh pulau, mengandung getaran yang mengguncangkan isi dada dan, amat berwibawa.
"Ha-ha-ha-haha!! Tiga ekor anjing tua Bangka berpenyakitan, dua ekor anjing betina, yang denok, dan seekor kirik (anak anjing) licik mengeroyok seorang pertapa. Ramai, lucu dan menyebalkan!"

Semua orang menengok dan tampaklah sorang kakek tinggi besar, dari rambut kepala sampai ke kakinya tampak besar dan kokoh kuat, kulitnya hitam mengkilap, rambutnya sudah penuh uban, terbungkus kain berwarna ungu kehitaman, Jenggotnya tebal sekepal sebelah, matanya terbelalak melotot lebar bundar namun mengeluarkan cahaya yang tajam seperti kilat menyambar-nyambar. Tangan kiri kakek itu menggandeng seorang anak perempuan berusia sebelas tahun. Mereka ini bukan lain adalah Dibyo Mamangkoro dan Endang Patibroto.
"Uuh-huh-huh, selamat bertemu dan terimalah saya, adinda Dibyo Mamangkoro ......... tidak nyana tidak kira, dapat bertemu dengan adinda di tempat ini huh-huh! Angin buruk......... eh, angin baik apa yang meniup adinda senopati datang ke tempat ini ......... ! "
"Huah-ha-ha-ha! Cekel, kau makin lama makin mirip Bhagawan Durno, ha- ha-ha!"

<<< Bagian 058                                                                                   Bagian 060 >>>

No comments:

Post a Comment