Karena itulah, maka begitu Pujo berpaling dan memandang, ia sudah dapat menangkap bahwa ada sesuatu terjadi yang menyangkut dirinya. Jantungnya berdebar dan ia cepat-cepat bertanya,
"Kakangmas
Pujo, ada terjadi apakah? Di Selopenangkep....... ??? "
Pujo
mengangguk, dan diam lagi.
"Kakangmas,
kalau terjadi sesuatu, ceritakanlah. Diajeng Roro Luhito bukanlah anak kecil
lagi, tak perlu menyembunyikan sesuatu."
Pujo menarik
napas panjang, kemudian dia berkata,
“Tadi aku
bertemu dengan Paman Krepu "
"Nelayan
tua Karang Turnaritis ahli mengail ikan kerpu itu?" potong Kartikosari.
"Benar,
dialah orangnya. Dari paman Kerpu aku mendapat keterangan bahwa sehari ini tak
tampak orang datang ke tempat ini. Akan tetapi hampir sepuluh tahun yang lalu
memang ada pasukan dari Selopenangkep yang datang ke Bayuwismo dan .......
"
Kembali Pujo
mengerling ke arah Roro Luhito. Betapapun juga, setelah mendengar kisah Roro
Luhito dan setelah meneliti sikap dan watak gadis bangsawan ini selama dalam perjalanan.
Pujo merasa kasihan kepadanya dan tidak ingin menyinggung perasaannya atau
membuatnya berduka.
"Teruskanlah,
Kakangmas Pujo. Tak perlu ragu dan rikuh kepadaku, karena biarpun aku puteri
kadipaten, buktinya aku melarikan diri, minggat dari kadipaten. Berarti aku
bukan puteri kadipaten lagi, melainkan seorang gadis gelandangan!"
Gadis itu
tersenyum, akan tetapi Kartikosari membuang muka karena hatinya tertusuk, tidak
tega melihat wajah ayu yang senyumnya amat pahit membayangkan kehancuran kalbu
itu.
"Menurut
cerita paman Kerpu, enam orang cantrik itu telah dibikin tuli, lebih tepat
lagi, lima orang cantrik karena Paman Cantrik Wistoro memang sudah tuli sejak
dahulu."
"Siapa
yang melakukan hal sekeji itu?" tanya Kartikosari.
"Paman
Kerpu tidak tahu, juga tidak ada orang lain yang tahu. Hanya yang jelas
diketahui bahwa yang melakukan adalah rombongan pasukan dari Selopenangkep.
Kemudian paman Kerpu menceritakan bahwa Kadipaten Selopenangkep telah diambil
alih oleh serombongan pasukan dari kota raja, dan paman Adipati Joyowiseso
kabarnya ditangkap."
Perubahan
satu-satunya yang terjadi pada diri Roro Luhito hanyalah cahaya matanya yang
mendadak menjadi tajam berkilat-kilat seakan-akan mengeluarkan api.
"Kalau
begitu, mungkin yang melakukan pembunuhan adalah orang-orang yang kini berkuasa
di Selopenangkep!" kata Kartikosari.
"Mungkin
sekali dan hal ini baru jelas kalau kita menyelidiki ke sana. Selain itu,
agaknya.. ..... hemmm, perlu kau membantuku, Nimas. Aku harus melihat keadaan
kadipaten itu dan sedapat mungkin menolong ayah diajeng Roro Luhito,
hitung-hitung untuk menebus dosaku dahulu......"
Tiba-tiba Roro
Luhito tak dapat menahan keharuan hatinya lagi. Ia melompat ke depan dan tanpa
ragu-ragu ia memegang tangan Pujo dan tangan Kartikosari, bulu matanya yang
panjang lentik itu basah ketika ia berkata,
"Kakangmas,
Kakangmbok aku amat berterima kasih kepada kalian Aku amat khawatir tentang
keadaan ayah.......! Marilah kita segera!"
Pada saat itu
datanglah berbondong-bondong penduduk Karang Tumaritis dan sekitarnya, dipimpin
oleh Kerpu. Pujo lalu menyerahkan kepada mereka untuk mengurus penguburan enam
orang cantrik itu, kemudian ia bersama Kartikosari dan Roro Luhito segera
meninggalkan temput itu, mendapatkan kuda mereka dan cepat mereka menuju ke Selopenangkep.
Datang perjalanan membelok ke utara ini mereka tidak banyak cakap, dan malam
telah tiba ketika mereka tiba di luar daerah Kadipaten Selopenangkep. Pujo
menghentikan kudanya, memberi isyarat kepada dua orang wanita itu untuk
berhenti dan turun.
"Lebih
baik kita tinggalkan kuda di sini dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.
Kita tidak tahu siapa yang berkuasa di sana, tidak tahu pula apakah mereka itu
akan memusuhi kita, karena itu, penyelidikan harus dilakukan secara
rahasia."
"Malam
hari amatlah tepat untuk melakukan penyelidikan rahasia," kata
Kartikosari.
Setelah
mengikatkan kuda di bawah sekelompok pohon, mereka lalu melanjutkan perjalanan
dengan hati-hati mendekati tembok rendah yang mengelilingi daerah Kadipaten
Selopenangkep.
"Kakangmas
berdua setelah nanti tiba di kadipaten, harap melakukan penyelidikan dengan
hati-hati. Kurasa paling baik masuk melalui pintu depan dan terang-terangan
menyatakan hendak bertemu dengan pengurus yang baru. Mereka tidak mengenal
kalian berdua, agaknya keadaan kalian berdua tidak akan berbahaya. Akupun tidak
takut untuk masuk berterang, kalau perlu aku akan mengadakan amuk di sana. Akan
tetapi, aku harus memikirkan keselamatan ayah dan keluargaku. Mungkin mereka
masih di tahan di sana, dan sebelum menyelidiki keadaan mereka, lebih baik aku
tidak ikut masuk bersama kalian."
"Habis,
bagaimana kau hendak mencari keluargamu?"
"Aku
mengenal jalan rahasia memasuki kadipaten dari belakang. Aku sudah hapal akan
tempat tinggalku sejak aku lahir di sana. Dan akan lebih leluasalah bergerak
seorang diri."
Pujo
mengangguk-angguk.
"Baiklah,
Diajeng. Kami berdua akan masuk dari depan. Biar kami menarik perhatian mereka
semua sehingga keadaan di sebelah dalam berkurang penjagaannya dan kau dapat
mencari keluargamu dengan leluasa."
Kata-kata Pujo
ini disambung oleh Kartikosari,
"Mudah-mudahan
saja ayahmu sekeluarga dalam selamat, Adikku."
Sepasang mata
Roro Luhito kembali memancarkan sinar berapi seperti tadi. Ia mendengus dan
sambil menggeget (mempertemukan gigi) berkata,
"Semoga
begitu. Kalau tidak kubikin karang abang (lautan api) dan banjir darah di
Kadipaten Selopenangkep!"
Kartikosari
merangkulnya.
"Jangan
khawatir, Diajeng. Musuh besar pribadi kita sama orangnya. Agaknya musuh
keluarga kita juga sama. Kami akan mendampingimu!"
Roro Luhito
meraih dan mengambung pipi Kartikosari.
"Kau
seorang yang amat baik."
Ketika mereka
tiba di depan istana kadipaten, dari luar keadaannya seperti tidak ada
perubahan. Diam-diam hati Roro Luhito terharu melihat tempat tumpah darahnya
ini. Sepuluh tahun lebih la meninggalkan tempat ini dan betapa rindunya akan
tempat ini. Melihat sepasang pohon beringin di depan halaman, pohon sawo di
sebelah kiri dan taman sari di sebelah kanan terus ke belakang, terbayanglah is
betapa ketika masih kecil ia bermain-main di ternpat itu.
"Kami
akan masuk berbareng, Diajeng," bisik Pujo.
Roro Luhito
mengangguk dan menyelinaplah dia ke dalam gelap, menyusuri pagar tembok
kadipaten sebelah kanan. Ia mengenal jalan rahasia dari balik pagar tembok
taman sari. Sementara itu, Pujo menggandeng tangan isterinya dan melangkah
lebar ke arah pintu gerbang depan, di mana terdapat gardu para penjaga. Makin
dekat, terdengarlah suara para penjaga, dan kanan kiri pintu gerbang terdapat
lampu yang apinya bergoyang-goyang tertiup angin.
Waktu itu
belum malam benar dan para penjaga masih berkumpul di gardu karena belum
waktunya meronda. Pujo yang pernah melakukan penyerbuan ke kadipaten ini
sepuluh tahun yang lalu, melihat betapa pakaian para penjaga kini berbeda
dengan dahulu. Pakaian penjaga yang sekarang ini lebih mentereng, juga sebagian
besar adalah orang-orang muda.
Ada tujuh
orang penjaga di situ, sedang bercakap-cakap dan kadang-kadang tertawa. Setelah
dekat jelas terdengar bahwa mereka itu mempercakapkan wanita. Karena percakapan
mereka itu kotor dan cabul, Pujo mempercepat langkahnya dan batuk-batuk.
Berhentilah
percakapan itu seperti yang diharapkan Pujo dan beberapa orang muncul keluar
dari gardu penjagaan. Melihat seorang laki-laki tampan dan seorang wanita cantik
jelita berdiri di pintu gerbang, mereka itu tercengang dan segera menegur,
"Siapakah
kalian dan ada keperluan apakah?"
Tujuh orang
penjaga itu kini sudah keluar semua dan empat belas buah mata yang haus semua
melotot lebar tertuju ke arah tubuh yang denok montok dan wajah yang cantik
jelita itu. Kecantikan wajah dan kehalusan kulit tubuh Kartikosari tampak makin
mempesonakan tertimpa sinar lampu yang kemerah-merahan. Mereka itu selain
terpesona, juga terheran-heran mengapa selama ini mereka tidak pernah bertemu
dengan wanita ayu ini di Kadipaten Selopenangkep.
"Kami
hendak menghadap Sang Adipati!" jawab Pujo singkat, sedangkan Kartikosari
membuang muka karena tidak dapat menahan kemarahan dan malunya melihat betapa
tujuh orang penjaga itu memandangnya dengan mata lahap seakan dengan Pandang
mata itu mereka hendak menelanjanginya bulat-bulat!
"Menghadap
Sang Adipati?" Si penanya menyeringai dan bermain mata dengan
teman-temannya.
"Eh,
masih keluarga Adipati Joyowiseso?" tanya orang ke dua.
"Dari
mana kalian datang?" orang ketiga bertanya pula.
"Kami
bukan keluarga Adipati Joyowiseso dan kami datang dari Sungapan."
"Dusun
Bayuwismo?" kata seorang.
"Murid
Resi Bhargowo ....... ?" seru yang ke dua.
Pujo tak dapat
mengendalikan kemarahannya lagi.
"Betul,
dan lekas beritahukan adipati atau yang menjadi penguasa di Kadipaten
Selopenangkep bahwa kami berdua hendak bertemu!"
Tujuh orang
itu kelihatan tegang dan tangan mereka otomatis meraba senjata. Ada yang
mencabut golok, ada yang meraba gagang pedang dan ada pula yang menyambar
tombak.
"Tangkap
dial"
"Biar
kutangkap yang wanita, ha-ha!"
Bermacam-macam
teriakan mereka. Akan tetapi suara ejekan dan ketawa mereka segera disusul
teriakan kaget dan kesakitan, mencelatnya senjata dan robohnya tubuh dua orang.
Kartikosari sudah menerjang maju dan dua kali tangannya bergerak, dua orang
tadi sudah roboh. Pujo juga sudah bergerak karena melihat para penjaga itu
mulai menggerakkan senjatanya. Iapun merobohkan dua orang dengan sekali
bergerak.
Melihat ini,
tiga orang lain menjadi gentar, namun mereka masih berteriak-teriak sambil
mengayun-ayunkan senjata dari tempat agak jauh, takut mendekati suami isteri
yang sakti itu.
"Ada apa
ribut-ribut ini?" Tiba-tiba terdengar suara keras menegur.
"Raden
Mas ..... mereka itu ....... "
Akan tetapi
penjaga itu terpelanting roboh ketika orang yang muncul itu melihat Pujo dan
Kartikosari lalu bergerak maju sambil mendorong penjaga itu dengan tangan
kirinya ke samping.
"Adimas
Pujo ....... ! " Orang itu berseru sambil melangkah maju mendekat.
Pujo
mengerutkan alisnya sedangkan Kartikosari dengan kaget memegang tangan kiri
suaminya. Suami isteri ini menatap tajam wajah orang yang baru muncul, kemudian
otomatis mereka memandang ke arah tangan kiri orang itu.
"Hemmm....,
Kakang Jokowanengpati. Sejak dahulu itu engkau masih di sini.......?"
Sambil berkata
demikian, Pujo menggunakan tangannya menowel lengan isterinya sebagai isyarat
dan Kartikosari dapat menduga bahwa Pujo sedang menjalankan siasat halus.
Memang sebelum yakin benar, tak baik bertindak sembrono. Tak boleh kali ini
mereka salah lagi seperti ketika suaminya menangkap Wisangjiwo. Akan tetapi
Jokowanengpati tidak menjawab pertanyaan ini karena dia sedang memandang kepada
Kartikosari dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, seakan-akan ia melihat
munculnya setan di siang hari.
"Dia ini
Kartikosari, isteriku, apakah kau lupa?" Pujo memancing.
" .......
dia ....... eh ....... bukankah kau dulu bilang bahwa Diajeng Kartikosari sudah
....... mati? dimas Pujo, apa yang terjadi? Dahulu kau bilang bahwa Diajeng
Kartikosari sudah mati terbunuh oleh Wisangjiwo ....... !"
Pujo tersenyum
kecil.
"Tadinya
memang kami sangka begitu akan tetapi ternyata tidak demikian. Kakang
Jokowanengpati, apa yang telah terjadi dengan kelingking kirimu?"
Dapat dibayangkan
betapa kagetnya hati Jokowanengpati mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini
kemudian melihat betapa sinar mata sepasang suami isteri itu memandangnya
bagaikan ujung dua buah pedang yang tajam runcing menodong ulu hatinya! Namun
Jokowanengpati tetap cerdik sekali bahkan sekarang lebih berpengalaman dan
lebih licin. Betapapun kaget hatinya, wajahnya tidak membayangkan kekagetan
ini, bahkan ia dapat memaksa wajahnya itu memperlihatkan keheranan dan
kesungguhan. Padahal di hatinya ia mengerti bahwa agaknya suami isteri ini
sudah mengerti atau setidaknya sudah menduga akan rahasianya, sepuluh tahun
yang lalu di dalam Guha Siluman yang gelap.
No comments:
Post a Comment