Badai Laut Selatan ; Bagian 062


Karena itulah, maka begitu Pujo berpaling dan memandang, ia sudah dapat menangkap bahwa ada sesuatu terjadi yang menyangkut dirinya. Jantungnya berdebar dan ia cepat-cepat bertanya,
"Kakangmas Pujo, ada terjadi apakah? Di Selopenangkep....... ??? "
Pujo mengangguk, dan diam lagi.
"Kakangmas, kalau terjadi sesuatu, ceritakanlah. Diajeng Roro Luhito bukanlah anak kecil lagi, tak perlu menyembunyikan sesuatu."
Pujo menarik napas panjang, kemudian dia berkata,
“Tadi aku bertemu dengan Paman Krepu "
"Nelayan tua Karang Turnaritis ahli mengail ikan kerpu itu?" potong Kartikosari.
"Benar, dialah orangnya. Dari paman Kerpu aku mendapat keterangan bahwa sehari ini tak tampak orang datang ke tempat ini. Akan tetapi hampir sepuluh tahun yang lalu memang ada pasukan dari Selopenangkep yang datang ke Bayuwismo dan ....... "
Kembali Pujo mengerling ke arah Roro Luhito. Betapapun juga, setelah mendengar kisah Roro Luhito dan setelah meneliti sikap dan watak gadis bangsawan ini selama dalam perjalanan. Pujo merasa kasihan kepadanya dan tidak ingin menyinggung perasaannya atau membuatnya berduka.
"Teruskanlah, Kakangmas Pujo. Tak perlu ragu dan rikuh kepadaku, karena biarpun aku puteri kadipaten, buktinya aku melarikan diri, minggat dari kadipaten. Berarti aku bukan puteri kadipaten lagi, melainkan seorang gadis gelandangan!"

Gadis itu tersenyum, akan tetapi Kartikosari membuang muka karena hatinya tertusuk, tidak tega melihat wajah ayu yang senyumnya amat pahit membayangkan kehancuran kalbu itu.
"Menurut cerita paman Kerpu, enam orang cantrik itu telah dibikin tuli, lebih tepat lagi, lima orang cantrik karena Paman Cantrik Wistoro memang sudah tuli sejak dahulu."
"Siapa yang melakukan hal sekeji itu?" tanya Kartikosari.
"Paman Kerpu tidak tahu, juga tidak ada orang lain yang tahu. Hanya yang jelas diketahui bahwa yang melakukan adalah rombongan pasukan dari Selopenangkep. Kemudian paman Kerpu menceritakan bahwa Kadipaten Selopenangkep telah diambil alih oleh serombongan pasukan dari kota raja, dan paman Adipati Joyowiseso kabarnya ditangkap."
Perubahan satu-satunya yang terjadi pada diri Roro Luhito hanyalah cahaya matanya yang mendadak menjadi tajam berkilat-kilat seakan-akan mengeluarkan api.
"Kalau begitu, mungkin yang melakukan pembunuhan adalah orang-orang yang kini berkuasa di Selopenangkep!" kata Kartikosari.
"Mungkin sekali dan hal ini baru jelas kalau kita menyelidiki ke sana. Selain itu, agaknya.. ..... hemmm, perlu kau membantuku, Nimas. Aku harus melihat keadaan kadipaten itu dan sedapat mungkin menolong ayah diajeng Roro Luhito, hitung-hitung untuk menebus dosaku dahulu......"
Tiba-tiba Roro Luhito tak dapat menahan keharuan hatinya lagi. Ia melompat ke depan dan tanpa ragu-ragu ia memegang tangan Pujo dan tangan Kartikosari, bulu matanya yang panjang lentik itu basah ketika ia berkata,
"Kakangmas, Kakangmbok aku amat berterima kasih kepada kalian Aku amat khawatir tentang keadaan ayah.......! Marilah kita segera!"

Pada saat itu datanglah berbondong-bondong penduduk Karang Tumaritis dan sekitarnya, dipimpin oleh Kerpu. Pujo lalu menyerahkan kepada mereka untuk mengurus penguburan enam orang cantrik itu, kemudian ia bersama Kartikosari dan Roro Luhito segera meninggalkan temput itu, mendapatkan kuda mereka dan cepat mereka menuju ke Selopenangkep. Datang perjalanan membelok ke utara ini mereka tidak banyak cakap, dan malam telah tiba ketika mereka tiba di luar daerah Kadipaten Selopenangkep. Pujo menghentikan kudanya, memberi isyarat kepada dua orang wanita itu untuk berhenti dan turun.
"Lebih baik kita tinggalkan kuda di sini dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Kita tidak tahu siapa yang berkuasa di sana, tidak tahu pula apakah mereka itu akan memusuhi kita, karena itu, penyelidikan harus dilakukan secara rahasia."
"Malam hari amatlah tepat untuk melakukan penyelidikan rahasia," kata Kartikosari.
Setelah mengikatkan kuda di bawah sekelompok pohon, mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan hati-hati mendekati tembok rendah yang mengelilingi daerah Kadipaten Selopenangkep.
"Kakangmas berdua setelah nanti tiba di kadipaten, harap melakukan penyelidikan dengan hati-hati. Kurasa paling baik masuk melalui pintu depan dan terang-terangan menyatakan hendak bertemu dengan pengurus yang baru. Mereka tidak mengenal kalian berdua, agaknya keadaan kalian berdua tidak akan berbahaya. Akupun tidak takut untuk masuk berterang, kalau perlu aku akan mengadakan amuk di sana. Akan tetapi, aku harus memikirkan keselamatan ayah dan keluargaku. Mungkin mereka masih di tahan di sana, dan sebelum menyelidiki keadaan mereka, lebih baik aku tidak ikut masuk bersama kalian."
"Habis, bagaimana kau hendak mencari keluargamu?"
"Aku mengenal jalan rahasia memasuki kadipaten dari belakang. Aku sudah hapal akan tempat tinggalku sejak aku lahir di sana. Dan akan lebih leluasalah bergerak seorang diri."
Pujo mengangguk-angguk.
"Baiklah, Diajeng. Kami berdua akan masuk dari depan. Biar kami menarik perhatian mereka semua sehingga keadaan di sebelah dalam berkurang penjagaannya dan kau dapat mencari keluargamu dengan leluasa."
Kata-kata Pujo ini disambung oleh Kartikosari,
"Mudah-mudahan saja ayahmu sekeluarga dalam selamat, Adikku."
Sepasang mata Roro Luhito kembali memancarkan sinar berapi seperti tadi. Ia mendengus dan sambil menggeget (mempertemukan gigi) berkata,
"Semoga begitu. Kalau tidak kubikin karang abang (lautan api) dan banjir darah di Kadipaten Selopenangkep!"
Kartikosari merangkulnya.
"Jangan khawatir, Diajeng. Musuh besar pribadi kita sama orangnya. Agaknya musuh keluarga kita juga sama. Kami akan mendampingimu!"
Roro Luhito meraih dan mengambung pipi Kartikosari.
"Kau seorang yang amat baik."

Ketika mereka tiba di depan istana kadipaten, dari luar keadaannya seperti tidak ada perubahan. Diam-diam hati Roro Luhito terharu melihat tempat tumpah darahnya ini. Sepuluh tahun lebih la meninggalkan tempat ini dan betapa rindunya akan tempat ini. Melihat sepasang pohon beringin di depan halaman, pohon sawo di sebelah kiri dan taman sari di sebelah kanan terus ke belakang, terbayanglah is betapa ketika masih kecil ia bermain-main di ternpat itu.
"Kami akan masuk berbareng, Diajeng," bisik Pujo.
Roro Luhito mengangguk dan menyelinaplah dia ke dalam gelap, menyusuri pagar tembok kadipaten sebelah kanan. Ia mengenal jalan rahasia dari balik pagar tembok taman sari. Sementara itu, Pujo menggandeng tangan isterinya dan melangkah lebar ke arah pintu gerbang depan, di mana terdapat gardu para penjaga. Makin dekat, terdengarlah suara para penjaga, dan kanan kiri pintu gerbang terdapat lampu yang apinya bergoyang-goyang tertiup angin.
Waktu itu belum malam benar dan para penjaga masih berkumpul di gardu karena belum waktunya meronda. Pujo yang pernah melakukan penyerbuan ke kadipaten ini sepuluh tahun yang lalu, melihat betapa pakaian para penjaga kini berbeda dengan dahulu. Pakaian penjaga yang sekarang ini lebih mentereng, juga sebagian besar adalah orang-orang muda.
Ada tujuh orang penjaga di situ, sedang bercakap-cakap dan kadang-kadang tertawa. Setelah dekat jelas terdengar bahwa mereka itu mempercakapkan wanita. Karena percakapan mereka itu kotor dan cabul, Pujo mempercepat langkahnya dan batuk-batuk.
Berhentilah percakapan itu seperti yang diharapkan Pujo dan beberapa orang muncul keluar dari gardu penjagaan. Melihat seorang laki-laki tampan dan seorang wanita cantik jelita berdiri di pintu gerbang, mereka itu tercengang dan segera menegur,
"Siapakah kalian dan ada keperluan apakah?"

Tujuh orang penjaga itu kini sudah keluar semua dan empat belas buah mata yang haus semua melotot lebar tertuju ke arah tubuh yang denok montok dan wajah yang cantik jelita itu. Kecantikan wajah dan kehalusan kulit tubuh Kartikosari tampak makin mempesonakan tertimpa sinar lampu yang kemerah-merahan. Mereka itu selain terpesona, juga terheran-heran mengapa selama ini mereka tidak pernah bertemu dengan wanita ayu ini di Kadipaten Selopenangkep.
"Kami hendak menghadap Sang Adipati!" jawab Pujo singkat, sedangkan Kartikosari membuang muka karena tidak dapat menahan kemarahan dan malunya melihat betapa tujuh orang penjaga itu memandangnya dengan mata lahap seakan dengan Pandang mata itu mereka hendak menelanjanginya bulat-bulat!
"Menghadap Sang Adipati?" Si penanya menyeringai dan bermain mata dengan teman-temannya.
"Eh, masih keluarga Adipati Joyowiseso?" tanya orang ke dua.
"Dari mana kalian datang?" orang ketiga bertanya pula.
"Kami bukan keluarga Adipati Joyowiseso dan kami datang dari Sungapan."
"Dusun Bayuwismo?" kata seorang.
"Murid Resi Bhargowo ....... ?" seru yang ke dua.
Pujo tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi.
"Betul, dan lekas beritahukan adipati atau yang menjadi penguasa di Kadipaten Selopenangkep bahwa kami berdua hendak bertemu!"
Tujuh orang itu kelihatan tegang dan tangan mereka otomatis meraba senjata. Ada yang mencabut golok, ada yang meraba gagang pedang dan ada pula yang menyambar tombak.
"Tangkap dial"
"Biar kutangkap yang wanita, ha-ha!"
Bermacam-macam teriakan mereka. Akan tetapi suara ejekan dan ketawa mereka segera disusul teriakan kaget dan kesakitan, mencelatnya senjata dan robohnya tubuh dua orang. Kartikosari sudah menerjang maju dan dua kali tangannya bergerak, dua orang tadi sudah roboh. Pujo juga sudah bergerak karena melihat para penjaga itu mulai menggerakkan senjatanya. Iapun merobohkan dua orang dengan sekali bergerak.

Melihat ini, tiga orang lain menjadi gentar, namun mereka masih berteriak-teriak sambil mengayun-ayunkan senjata dari tempat agak jauh, takut mendekati suami isteri yang sakti itu.
"Ada apa ribut-ribut ini?" Tiba-tiba terdengar suara keras menegur.
"Raden Mas ..... mereka itu ....... "
Akan tetapi penjaga itu terpelanting roboh ketika orang yang muncul itu melihat Pujo dan Kartikosari lalu bergerak maju sambil mendorong penjaga itu dengan tangan kirinya ke samping.
"Adimas Pujo ....... ! " Orang itu berseru sambil melangkah maju mendekat.
Pujo mengerutkan alisnya sedangkan Kartikosari dengan kaget memegang tangan kiri suaminya. Suami isteri ini menatap tajam wajah orang yang baru muncul, kemudian otomatis mereka memandang ke arah tangan kiri orang itu.
"Hemmm...., Kakang Jokowanengpati. Sejak dahulu itu engkau masih di sini.......?"
Sambil berkata demikian, Pujo menggunakan tangannya menowel lengan isterinya sebagai isyarat dan Kartikosari dapat menduga bahwa Pujo sedang menjalankan siasat halus. Memang sebelum yakin benar, tak baik bertindak sembrono. Tak boleh kali ini mereka salah lagi seperti ketika suaminya menangkap Wisangjiwo. Akan tetapi Jokowanengpati tidak menjawab pertanyaan ini karena dia sedang memandang kepada Kartikosari dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, seakan-akan ia melihat munculnya setan di siang hari.
"Dia ini Kartikosari, isteriku, apakah kau lupa?" Pujo memancing.
" ....... dia ....... eh ....... bukankah kau dulu bilang bahwa Diajeng Kartikosari sudah ....... mati? dimas Pujo, apa yang terjadi? Dahulu kau bilang bahwa Diajeng Kartikosari sudah mati terbunuh oleh Wisangjiwo ....... !"
Pujo tersenyum kecil.
"Tadinya memang kami sangka begitu akan tetapi ternyata tidak demikian. Kakang Jokowanengpati, apa yang telah terjadi dengan kelingking kirimu?"

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Jokowanengpati mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini kemudian melihat betapa sinar mata sepasang suami isteri itu memandangnya bagaikan ujung dua buah pedang yang tajam runcing menodong ulu hatinya! Namun Jokowanengpati tetap cerdik sekali bahkan sekarang lebih berpengalaman dan lebih licin. Betapapun kaget hatinya, wajahnya tidak membayangkan kekagetan ini, bahkan ia dapat memaksa wajahnya itu memperlihatkan keheranan dan kesungguhan. Padahal di hatinya ia mengerti bahwa agaknya suami isteri ini sudah mengerti atau setidaknya sudah menduga akan rahasianya, sepuluh tahun yang lalu di dalam Guha Siluman yang gelap.

<<< Bagian 061                                                                                    Bagian 063 >>>

No comments:

Post a Comment