Tidak mungkin dalam pertemuan dan dalam percakapan itu, secara tiba-tiba saja Pujo menyimpangkan percakapan dengan pertanyaan tentang tangan kirinya yang kehilangan jari kelingking, kalau saja mereka berdua itu tidak sudah menduga bahwa kelingking yang dahulu digigit putus oleh Kartikosari dalam gelap itu adalah kelingkingnya! Agaknya suami isteri ini sadar bahwa bukan Wisangjiwo yang memperkosa Kartikosari dalam guha itu, berdasarkan bukti kelingking itulah.
"Adimas
Pujo dan Diajeng Kartikosari, silahkan Adinda berdua masuk. Mari kita
bercakap-cakap di dalam. Tentang ini....... " Ia menggerakkan tangan
kirinya ke depan, " ....... ada riwayatnya. Marilah masuk dan nanti
kuceritakan semua kepada kalian."
Pujo dan
Kartikosari saling lirik, kemudian mereka mengangguk dan ikut masuk. Sudah
sepatutnya sikap Jokowanengpati itu. Andaikata bukan Jokowanengpati musuh besar
mereka, tentu begini pula sikapnya. Tak mungkin, seseorang, apalagi seperti
Jokowanengpati yang agaknya di kadipaten ini sekarang mempunyai kedudukan
tinggi, suka menceritakan tentang buntungnya kelingking di depan para penjaga
itu. Seorang di antara tiga penjaga yang tadi belum dirobohkan, dibentak oleh
Jokowanengpati,
"Hayo
perketat penjagaan dan jangan bertindak sembrono seperti tadi. Kalian bertujuh
patut dihukum mampus. Tak tahukah bahwa yang datang ini adalah adik-adik
seperguruanku?"
"Ampun
..... Raden Mas ..... " mereka berlutut dan menyembah penuh permohonan,
wajah mereka ketakutan.
"Keparat,
minggir!"
Jokowanengpati
membentak lagi, lalu mempersilahkan dua orang tamunya memasuki pendopo, terus
melalui pintu menuju ke ruang tamu di sebelah kiri pendopo. Pujo dan
Kartikosari bersikap tenang, namun pandang mata mereka waspada mengerling ke
kanan kiri, menjaga kalau-kalau ada serangan gelap.
"Silakan
duduk. Di sini sunyi tak terganggu. Kita dapat berbicara leluasa dan tenang.
Agaknya banyak hal yang harus mendapat penjelasan, Dimas Pujo. Terutama sekali
tentang keterangan dahulu bahwa Diajeng Kartikosari suda meninggal. Aku tidak
melihat sebab-sebab yang tepat mengapa dahulu itu engkau berbohong kepadaku.
Akan tetapi biarlah engkau sendiri yang nanti memberi keterangan agar hatiku
tidak merasa bingung dan penasaran. Sekarang lebih dahulu kau dengarlah tentang
Kadipaten Selopenangkep."
Jokowanengpati
menarik napas panjang dan memandang kedua orang suami isteri yang duduk di atas
bangku berukir di depannya. Lampu lampu dipasang pada dinding di belakang dan
atas kepala Jokowanengpati sehingga sinar lampu yang menyinari kepalanya
membuat wajahnya tersembunyi dalam bayangan gelap. Sebaliknya, sinar lampu itu
langsung menerangi wajah Pujo dan Kartikosari. Melihat betapa suami isteri itu
kelihatannya gelisah, kadang-kadang saling lirik dan terutama sekali selalu
memandang ke arah tangan kirinya Jokowanengpati tidak memberi kesempatan mereka
membuka mulut, langsung menyambung kata-katanya.
"Seperti
telah kuceritakan kepadamu sepuluh tahun yang lalu, Adimas Pujo, ketika itupun
aku sudah menduga bahwa Adipati Joyowiseso merencanakan pemberontakan terhadap
Medang. Maka aku sengaja datang ke sini dan melakukan penyelidikan, terpaksa
ketika itu aku berpura-pura memusuhimu, bahkan setelah kau berhasil melarikan
diri, aku membawa pasukan untuk mengejar dan mencari-carimu."
Melihat betapa
pandang mata suami isteri itu tidak berubah, tetap tegang, penuh selidik dan
penuh benci, Jokowanengpati diam-diam menduga-duga. Perbuatannya dalam beberapa
hari ini, bersama Ni Durgogini dan Ni Nogogini, menyerbu ke Bayuwismo dalam
usaha mencari pusaka Mataram kalau-kalau disembunyikan di situ, kemudian
membunuh enam orang cantrik agar tidak mengenalnya, dilakukan secara sembunyi
dan tidak seorangpun tahu. Tak mungkin Pujo dan isterinya tahu akan hal itu.
Akan tetapi kedatangannya ke Bayuwismo beberapa tahun yang lalu bersama Cekel
Aksomolo dan pasukan kadipaten, tentu ada yang tahu. Berpikir sejauh ini ia
lalu berkata pula,
"Karena
harus dapat melakukan penyelidikan secara tepat, aku terpaksa membantu usaha
pemberontakan Adipati Joyowiseso sehingga terpaksa pula aku ikut menyerbu ke
Bayuwismo bersama Cekel Aksomolo dan pasukan kadipaten. Untung aku ikut ke
sana, kalau tidak ada aku yang mencegah, tentu paman-paman cantrik di sana
sudah dibunuh Cekel Aksomolo ketika itu."
Dua pasang
mata di depannya itu memancarkan sinar penuh kemarahan, akan tetapi mereka diam
saja. Hal ini bahkan menimbulkan ketegangan dan kegelisahan di hati
Jokowanengpati yang cepat-cepat menyambung,
"Akan
tetapi, akhirnya tibalah saatnya menghancurkan para pemberontak. Dua pekan yang
lalu, aku diberi tugas oleh Gusti Pangeran Anom, memimpin pasukan besar dan
menyerbu kadipaten ini, menangkap adipati, membasmi kaki tangannya dan
mengambil alih kadipaten atas nama Gusti Pangeran Anom, dan ..... "
"Cukup !
Kami datang bukan untuk mendengarkan obrolan!!"
Tiba-tiba
Kartikosari bangkit berdiri sambil membentak. Jokowanengpati terkejut sekali,
dan Pujo segera memegang tangan isterinya, disuruhnya duduk dan bersikap
tenang. Kemudian sambil memandang tajam kepada Jokowanengpati, Pujo berkata,
"Kakang
Jokowanengpati, maafkan sikap kami. Akan tetapi sesungguhnya kedatangan kami
ini mempunyai keperluan penting. Kami tidak mengira akan bertemu denganmu di
sini. Soal-soal lain kami tidak peduli, akan tetapi harap kau suka menjawab dua
pertanyaan kami. Pertama, siapakah yang begitu keji membunuh semua cantrik
Bayuwismo siang tadi dan ke dua, ke mana hilangnya kelingking tangan kirimu
itu!"
Wajah
Jokowanengpati menjadi pucat, akan tetapi karena terlindung oleh bayang-bayang
gelap, tidak tampak oleh kedua orang tamunya. Di dalam hatinya Jokowanengpati
agak menyesal mengapa ia membiarkan Ni Durgogini dan Ni Nogogini pergi dari
kadipaten, menuju ke kota raja memberi laporan kepada Pangeran Anom. Kalau saja
ia yang pergi ke kota raja, tentu tidak akan bertemu dengan Pujo dan
Kartikosari. Akan tetapi, bagaimana ia bisa meninggalkan Kadipaten
Selopenangkep kalau kadipaten ini sudah dikuasainya dan setiap hari ia dapat
bersenang-senang dengan gadis-gadis rampasan yang cantik-cantik? Sebagai
penguasa sementara yang baru, ia memerintahkan agar semua perawan denok di
kadipaten itu dikumpulkan di kadipaten untuk melayaninya.
Tentu saja ia
membiarkan kedua orang iblis betina yang makin tua makin menggila akan tetapi
masih tetap cantik itu untuk mengumpulkan pemuda-pemuda tampan pula dalam
kadipaten. Senyum simpul menghias mulut Jokowanengpati. Untung ia cerdik.
Terlalu cerdik untuk orang-orang tak berpengalaman macam Pujo dan Kartikosari.
Untung ia telah bersiap-siap menghadapi ancaman musuh dari manapun datangnya. Dengan
pelbagai siasat, ia mérencanakan penjagaan diri yang cukup kuat, dan di
antaranya, ruangan tamu ini merupakan tempat ia menyelamatkan diri daripada
musuh-musuh yang terlampau berat.
Sama sekali ia
tidak gentar menghadapi Pujo dan Kartikosari, yang keduanya adalah adik-adik
seperguruannya. Ia sudah banyak menerima gemblengan Ni Durgogini yang sakti.
Akan tetapi sebagai seorang cerdik, ia tidak mau mengambil resiko berbahaya.
Kalau ada cara lain mengalahkan lawan yang jauh lebih mudah, mengapa menggunakan
cara yang sukar dan berbahaya?
Jokowanengpati
memasukkan kedua tangannya ke bawah meja yang berdiri di depannya, lalu berkata
dengan suara mengejek,
"Mengapa
tidak kau cari sendiri siapa yang membunuh para cantrik, dan tentang
kelingkingku ini, hemm .... digigit kuda betina liar!!"
Pujo dan
Kartikosari menjadi marah sekali. Sungguhpun Jokowanengpati tidak mengakui
perbuatannya secara berterang, namun kata-katanya itu merupakan ejekan yang
cukup jelas. Namun, tak sempat suami isteri itu mengeluarkan kata-kata, karena
pada saat itu, lantai di bawah mereka amblas ke bawah sehingga dua buah bangku
yang mereka duduki berikut tubuh mereka melayang ke dalam lubang dan tidak
dapat dicegah lagi!
"Ha-ha-ha-ha!
..... Orang-orang tolol macam kalian mana mampu melawan aku?"
Jokowanengpati
tertawa bergelak sambil menepuk-nepuk meja di depannya. Otomatis lantai yang
berlubang itu bergeser dan tertutup kembali. Tepukan tangannya disambut
munculnya empat orang pengawal. Mereka duduk bersimpuh dan menyembah.
"Seorang
dari kalian atur penjagaan yang lebih ketat, jangan biarkan siapapun masuk
kadipaten. Seorang lagi bawa pasukan menjaga tawanan di bawah tanah. Kamu dua
orang mari ikut bersamaku, bawa regu penyemprot asap belerang!"
Jokowanengpati
kelihatan gembira sekali. Dua orang musuhnya, yang selama ini mendatangkan
mimpi buruk kepadanya, telah tertangkap dan sebentar lagi tentu dapat
dilenyapkan dari permukaan bumi. Yang pasti Pujo, adapun Kartikosari .....
hemmm! Wanita itu makin montok dan ayu saja.
Kalau orang
biasa yang terbanting jatuh dari tempat hampir sepuluh meter, tentu akan
luka-luka, setidaknya patah tulang salah urat, kalau tidak pecah kepalanya dan
mati. Namun Pujo dan Kartikosari adalah orang-orang yang selain kuat juga
terlatih, memiliki susunan syaraf yang amat peka, tubuh yang trampil. Ketika
melayang-layang jatuh, cepat mereka dapat mengatur keseimbangan tubuh sehingga
ketika terbanting di atas tanah, mereka dapat menahan bantingan itu dengan
kedua tumit kaki dan tekukan lutut. Bangku yang turut melayang jatuh, telah
mereka dorong ke pinggir sebelum sampai di dasar "sumur" itu.
"Kau
tidak apa-apa, Nimas ..... ? " Pujo merangkul isterinya di dalam ruangan
yang gelap pekat itu.
"Tidak,
Kakangmas," bisik Kartikosari.
"Aku,
sungguh bodoh kita sampai kena di akali jahanam itu!" Pujo mengepal
tinjunya daiam gelap.
"Keparat
itu dengan perbuatannya ini jelas membuktikan dosanya. Mari kita periksa tempat
ini dan berusaha keluar."
Mulailah
mereka meraba-raba. Alangkah kaget hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa
mereka terkurung dalam sebuah ruangan yang tertutup rapat dan amat kuat,
terbuat dari tembok yang amat tebal. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat
sebuah tiang kayu jati. Pujo memanjat tiang ini ke atas dan ternyata di atas
juga tertutup bahkan tertutup jeruji besi yang kuat di bawah atap! Sebuah pintu
di kiri terbuat dari besi pula. Suami isteri ini sudah mencoba-coba untuk
mencari jalan keluar dengan membobol pintu atau dinding, namun sia-sia.
Terlampau kuat dinding dan pintu itu. Mereka seperti dua ekor harimau masuk
perangkap, hanya bisa marah- marah akan tetapi tidak mampu keluar!
"Jahanam
busuk Jokowanengpati!" Kartikosari berteriak marah.
"Kalau
kau memang jantan, hayo bertanding sampai titik darah terakhir! Engkau menjebak
kami secara pengecut. Tak tahu malu!"
Pujo kembali
merangkul isterinya yang berteriak-teriak itu, kemudian berbisik,
"Nimas,
percuma marah-marah terhadap seorang yang sudah kehilangan jiwa ksatrianya.
Lebih baik kita memikirkan akal untuk dapat keluar dari sini."
Mereka duduk
berdampingan di atas lantai ruangan itu. Keadaan yang gelap pekat mulai
remang-remang setelah mata mereka biasa di ruang gelap itu. Kiranya di sebelah
bawah terdapat lubang-lubang kecil, agaknya lubang hawa. Legalah hati Pujo.
Setidaknya, dengan adanya lubang-lubang kecil itu, mereka tidak akan mati
pengap. Dan dari lubang-lubang kecil ini pula masuknya sinar yang membuat
ruangan itu remang-remang. Mulailah mereka mempelajari keadaan ruangan.
Bentuknya bundar, di tengah-tengah tiang. Tidak ada sebuahpun perabot rumah
yang menghias ruangan kecuali sebuah lampu kecil tergantung di dekat tiang.
Tembok dan pintu besi, juga tiang itu tidaklah baru, berarti tempat ini sudah
ada sejak Joyowiseso menjadi adipati di situ.
"Hemm,
agaknya tempat ini memang merupakan tempat tahanan, akan tetapi tidak seperti
tempat tahanan di mana aku dahulu dikeram," kata Pujo.
Kartikosari
mengangguk-angguk dan menyentuh lengan suaminya.
"Kakangmas,
kita tenang-tenang saja dan mengaso mengumpulkan tenaga. Biarkan mereka itu
membuka pintu lalu kita menyerbu keluar!"
Pujo
menggeleng kepala.
"Kurasa
Jokowanengpati pengecut licik itu tidaklah begitu bodoh, Nimas. Bagaimana kalau
dia membiarkan kita kelaparan, kehausan dan lemas tak berdaya sebelum pintu ini
dibuka?"
"Ah,
Kakangmas, takut apa? Biar kita mati. Mati di sampingmu adalah nikmat,
Kakangmas. Takut apa?"
Pujo merangkul
leher isterinya dan mencium bibirnya, lalu berbisik,
"Akupun
tidak takut mati, karena ada engkau di sampingku, Nimas. Akan tetapi, kita
tidak boleh mati sekarang. Bangsat itu belum terbalas, dan aku belum melihat
anak kita, bagaimana kita bisa mati ? Tidak, kita harus berusaha. Kerisku masih
ada padaku, dengan senjata aku bisa membongkar tembok, sedikit demi sedikit,
sebata demi sebata."
"Kau
benar, Kakangmas. Akupun dapat membantumu dengan cundrikku!"
No comments:
Post a Comment