Badai Laut Selatan ; Bagian 063


Tidak mungkin dalam pertemuan dan dalam percakapan itu, secara tiba-tiba saja Pujo menyimpangkan percakapan dengan pertanyaan tentang tangan kirinya yang kehilangan jari kelingking, kalau saja mereka berdua itu tidak sudah menduga bahwa kelingking yang dahulu digigit putus oleh Kartikosari dalam gelap itu adalah kelingkingnya! Agaknya suami isteri ini sadar bahwa bukan Wisangjiwo yang memperkosa Kartikosari dalam guha itu, berdasarkan bukti kelingking itulah.
"Adimas Pujo dan Diajeng Kartikosari, silahkan Adinda berdua masuk. Mari kita bercakap-cakap di dalam. Tentang ini....... " Ia menggerakkan tangan kirinya ke depan, " ....... ada riwayatnya. Marilah masuk dan nanti kuceritakan semua kepada kalian."
Pujo dan Kartikosari saling lirik, kemudian mereka mengangguk dan ikut masuk. Sudah sepatutnya sikap Jokowanengpati itu. Andaikata bukan Jokowanengpati musuh besar mereka, tentu begini pula sikapnya. Tak mungkin, seseorang, apalagi seperti Jokowanengpati yang agaknya di kadipaten ini sekarang mempunyai kedudukan tinggi, suka menceritakan tentang buntungnya kelingking di depan para penjaga itu. Seorang di antara tiga penjaga yang tadi belum dirobohkan, dibentak oleh Jokowanengpati,
"Hayo perketat penjagaan dan jangan bertindak sembrono seperti tadi. Kalian bertujuh patut dihukum mampus. Tak tahukah bahwa yang datang ini adalah adik-adik seperguruanku?"
"Ampun ..... Raden Mas ..... " mereka berlutut dan menyembah penuh permohonan, wajah mereka ketakutan.
"Keparat, minggir!"

Jokowanengpati membentak lagi, lalu mempersilahkan dua orang tamunya memasuki pendopo, terus melalui pintu menuju ke ruang tamu di sebelah kiri pendopo. Pujo dan Kartikosari bersikap tenang, namun pandang mata mereka waspada mengerling ke kanan kiri, menjaga kalau-kalau ada serangan gelap.
"Silakan duduk. Di sini sunyi tak terganggu. Kita dapat berbicara leluasa dan tenang. Agaknya banyak hal yang harus mendapat penjelasan, Dimas Pujo. Terutama sekali tentang keterangan dahulu bahwa Diajeng Kartikosari suda meninggal. Aku tidak melihat sebab-sebab yang tepat mengapa dahulu itu engkau berbohong kepadaku. Akan tetapi biarlah engkau sendiri yang nanti memberi keterangan agar hatiku tidak merasa bingung dan penasaran. Sekarang lebih dahulu kau dengarlah tentang Kadipaten Selopenangkep."
Jokowanengpati menarik napas panjang dan memandang kedua orang suami isteri yang duduk di atas bangku berukir di depannya. Lampu lampu dipasang pada dinding di belakang dan atas kepala Jokowanengpati sehingga sinar lampu yang menyinari kepalanya membuat wajahnya tersembunyi dalam bayangan gelap. Sebaliknya, sinar lampu itu langsung menerangi wajah Pujo dan Kartikosari. Melihat betapa suami isteri itu kelihatannya gelisah, kadang-kadang saling lirik dan terutama sekali selalu memandang ke arah tangan kirinya Jokowanengpati tidak memberi kesempatan mereka membuka mulut, langsung menyambung kata-katanya.
"Seperti telah kuceritakan kepadamu sepuluh tahun yang lalu, Adimas Pujo, ketika itupun aku sudah menduga bahwa Adipati Joyowiseso merencanakan pemberontakan terhadap Medang. Maka aku sengaja datang ke sini dan melakukan penyelidikan, terpaksa ketika itu aku berpura-pura memusuhimu, bahkan setelah kau berhasil melarikan diri, aku membawa pasukan untuk mengejar dan mencari-carimu."
Melihat betapa pandang mata suami isteri itu tidak berubah, tetap tegang, penuh selidik dan penuh benci, Jokowanengpati diam-diam menduga-duga. Perbuatannya dalam beberapa hari ini, bersama Ni Durgogini dan Ni Nogogini, menyerbu ke Bayuwismo dalam usaha mencari pusaka Mataram kalau-kalau disembunyikan di situ, kemudian membunuh enam orang cantrik agar tidak mengenalnya, dilakukan secara sembunyi dan tidak seorangpun tahu. Tak mungkin Pujo dan isterinya tahu akan hal itu. Akan tetapi kedatangannya ke Bayuwismo beberapa tahun yang lalu bersama Cekel Aksomolo dan pasukan kadipaten, tentu ada yang tahu. Berpikir sejauh ini ia lalu berkata pula,
"Karena harus dapat melakukan penyelidikan secara tepat, aku terpaksa membantu usaha pemberontakan Adipati Joyowiseso sehingga terpaksa pula aku ikut menyerbu ke Bayuwismo bersama Cekel Aksomolo dan pasukan kadipaten. Untung aku ikut ke sana, kalau tidak ada aku yang mencegah, tentu paman-paman cantrik di sana sudah dibunuh Cekel Aksomolo ketika itu."

Dua pasang mata di depannya itu memancarkan sinar penuh kemarahan, akan tetapi mereka diam saja. Hal ini bahkan menimbulkan ketegangan dan kegelisahan di hati Jokowanengpati yang cepat-cepat menyambung,
"Akan tetapi, akhirnya tibalah saatnya menghancurkan para pemberontak. Dua pekan yang lalu, aku diberi tugas oleh Gusti Pangeran Anom, memimpin pasukan besar dan menyerbu kadipaten ini, menangkap adipati, membasmi kaki tangannya dan mengambil alih kadipaten atas nama Gusti Pangeran Anom, dan ..... "
"Cukup ! Kami datang bukan untuk mendengarkan obrolan!!"
Tiba-tiba Kartikosari bangkit berdiri sambil membentak. Jokowanengpati terkejut sekali, dan Pujo segera memegang tangan isterinya, disuruhnya duduk dan bersikap tenang. Kemudian sambil memandang tajam kepada Jokowanengpati, Pujo berkata,
"Kakang Jokowanengpati, maafkan sikap kami. Akan tetapi sesungguhnya kedatangan kami ini mempunyai keperluan penting. Kami tidak mengira akan bertemu denganmu di sini. Soal-soal lain kami tidak peduli, akan tetapi harap kau suka menjawab dua pertanyaan kami. Pertama, siapakah yang begitu keji membunuh semua cantrik Bayuwismo siang tadi dan ke dua, ke mana hilangnya kelingking tangan kirimu itu!"
Wajah Jokowanengpati menjadi pucat, akan tetapi karena terlindung oleh bayang-bayang gelap, tidak tampak oleh kedua orang tamunya. Di dalam hatinya Jokowanengpati agak menyesal mengapa ia membiarkan Ni Durgogini dan Ni Nogogini pergi dari kadipaten, menuju ke kota raja memberi laporan kepada Pangeran Anom. Kalau saja ia yang pergi ke kota raja, tentu tidak akan bertemu dengan Pujo dan Kartikosari. Akan tetapi, bagaimana ia bisa meninggalkan Kadipaten Selopenangkep kalau kadipaten ini sudah dikuasainya dan setiap hari ia dapat bersenang-senang dengan gadis-gadis rampasan yang cantik-cantik? Sebagai penguasa sementara yang baru, ia memerintahkan agar semua perawan denok di kadipaten itu dikumpulkan di kadipaten untuk melayaninya.
Tentu saja ia membiarkan kedua orang iblis betina yang makin tua makin menggila akan tetapi masih tetap cantik itu untuk mengumpulkan pemuda-pemuda tampan pula dalam kadipaten. Senyum simpul menghias mulut Jokowanengpati. Untung ia cerdik. Terlalu cerdik untuk orang-orang tak berpengalaman macam Pujo dan Kartikosari. Untung ia telah bersiap-siap menghadapi ancaman musuh dari manapun datangnya. Dengan pelbagai siasat, ia mérencanakan penjagaan diri yang cukup kuat, dan di antaranya, ruangan tamu ini merupakan tempat ia menyelamatkan diri daripada musuh-musuh yang terlampau berat.

Sama sekali ia tidak gentar menghadapi Pujo dan Kartikosari, yang keduanya adalah adik-adik seperguruannya. Ia sudah banyak menerima gemblengan Ni Durgogini yang sakti. Akan tetapi sebagai seorang cerdik, ia tidak mau mengambil resiko berbahaya. Kalau ada cara lain mengalahkan lawan yang jauh lebih mudah, mengapa menggunakan cara yang sukar dan berbahaya?
Jokowanengpati memasukkan kedua tangannya ke bawah meja yang berdiri di depannya, lalu berkata dengan suara mengejek,
"Mengapa tidak kau cari sendiri siapa yang membunuh para cantrik, dan tentang kelingkingku ini, hemm .... digigit kuda betina liar!!"
Pujo dan Kartikosari menjadi marah sekali. Sungguhpun Jokowanengpati tidak mengakui perbuatannya secara berterang, namun kata-katanya itu merupakan ejekan yang cukup jelas. Namun, tak sempat suami isteri itu mengeluarkan kata-kata, karena pada saat itu, lantai di bawah mereka amblas ke bawah sehingga dua buah bangku yang mereka duduki berikut tubuh mereka melayang ke dalam lubang dan tidak dapat dicegah lagi!
"Ha-ha-ha-ha! ..... Orang-orang tolol macam kalian mana mampu melawan aku?"
Jokowanengpati tertawa bergelak sambil menepuk-nepuk meja di depannya. Otomatis lantai yang berlubang itu bergeser dan tertutup kembali. Tepukan tangannya disambut munculnya empat orang pengawal. Mereka duduk bersimpuh dan menyembah.
"Seorang dari kalian atur penjagaan yang lebih ketat, jangan biarkan siapapun masuk kadipaten. Seorang lagi bawa pasukan menjaga tawanan di bawah tanah. Kamu dua orang mari ikut bersamaku, bawa regu penyemprot asap belerang!"
Jokowanengpati kelihatan gembira sekali. Dua orang musuhnya, yang selama ini mendatangkan mimpi buruk kepadanya, telah tertangkap dan sebentar lagi tentu dapat dilenyapkan dari permukaan bumi. Yang pasti Pujo, adapun Kartikosari ..... hemmm! Wanita itu makin montok dan ayu saja.

Kalau orang biasa yang terbanting jatuh dari tempat hampir sepuluh meter, tentu akan luka-luka, setidaknya patah tulang salah urat, kalau tidak pecah kepalanya dan mati. Namun Pujo dan Kartikosari adalah orang-orang yang selain kuat juga terlatih, memiliki susunan syaraf yang amat peka, tubuh yang trampil. Ketika melayang-layang jatuh, cepat mereka dapat mengatur keseimbangan tubuh sehingga ketika terbanting di atas tanah, mereka dapat menahan bantingan itu dengan kedua tumit kaki dan tekukan lutut. Bangku yang turut melayang jatuh, telah mereka dorong ke pinggir sebelum sampai di dasar "sumur" itu.
"Kau tidak apa-apa, Nimas ..... ? " Pujo merangkul isterinya di dalam ruangan yang gelap pekat itu.
"Tidak, Kakangmas," bisik Kartikosari.
"Aku, sungguh bodoh kita sampai kena di akali jahanam itu!" Pujo mengepal tinjunya daiam gelap.
"Keparat itu dengan perbuatannya ini jelas membuktikan dosanya. Mari kita periksa tempat ini dan berusaha keluar."
Mulailah mereka meraba-raba. Alangkah kaget hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa mereka terkurung dalam sebuah ruangan yang tertutup rapat dan amat kuat, terbuat dari tembok yang amat tebal. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah tiang kayu jati. Pujo memanjat tiang ini ke atas dan ternyata di atas juga tertutup bahkan tertutup jeruji besi yang kuat di bawah atap! Sebuah pintu di kiri terbuat dari besi pula. Suami isteri ini sudah mencoba-coba untuk mencari jalan keluar dengan membobol pintu atau dinding, namun sia-sia. Terlampau kuat dinding dan pintu itu. Mereka seperti dua ekor harimau masuk perangkap, hanya bisa marah- marah akan tetapi tidak mampu keluar!
"Jahanam busuk Jokowanengpati!" Kartikosari berteriak marah.
"Kalau kau memang jantan, hayo bertanding sampai titik darah terakhir! Engkau menjebak kami secara pengecut. Tak tahu malu!"
Pujo kembali merangkul isterinya yang berteriak-teriak itu, kemudian berbisik,
"Nimas, percuma marah-marah terhadap seorang yang sudah kehilangan jiwa ksatrianya. Lebih baik kita memikirkan akal untuk dapat keluar dari sini."

Mereka duduk berdampingan di atas lantai ruangan itu. Keadaan yang gelap pekat mulai remang-remang setelah mata mereka biasa di ruang gelap itu. Kiranya di sebelah bawah terdapat lubang-lubang kecil, agaknya lubang hawa. Legalah hati Pujo. Setidaknya, dengan adanya lubang-lubang kecil itu, mereka tidak akan mati pengap. Dan dari lubang-lubang kecil ini pula masuknya sinar yang membuat ruangan itu remang-remang. Mulailah mereka mempelajari keadaan ruangan. Bentuknya bundar, di tengah-tengah tiang. Tidak ada sebuahpun perabot rumah yang menghias ruangan kecuali sebuah lampu kecil tergantung di dekat tiang. Tembok dan pintu besi, juga tiang itu tidaklah baru, berarti tempat ini sudah ada sejak Joyowiseso menjadi adipati di situ.
"Hemm, agaknya tempat ini memang merupakan tempat tahanan, akan tetapi tidak seperti tempat tahanan di mana aku dahulu dikeram," kata Pujo.
Kartikosari mengangguk-angguk dan menyentuh lengan suaminya.
"Kakangmas, kita tenang-tenang saja dan mengaso mengumpulkan tenaga. Biarkan mereka itu membuka pintu lalu kita menyerbu keluar!"
Pujo menggeleng kepala.
"Kurasa Jokowanengpati pengecut licik itu tidaklah begitu bodoh, Nimas. Bagaimana kalau dia membiarkan kita kelaparan, kehausan dan lemas tak berdaya sebelum pintu ini dibuka?"
"Ah, Kakangmas, takut apa? Biar kita mati. Mati di sampingmu adalah nikmat, Kakangmas. Takut apa?"
Pujo merangkul leher isterinya dan mencium bibirnya, lalu berbisik,
"Akupun tidak takut mati, karena ada engkau di sampingku, Nimas. Akan tetapi, kita tidak boleh mati sekarang. Bangsat itu belum terbalas, dan aku belum melihat anak kita, bagaimana kita bisa mati ? Tidak, kita harus berusaha. Kerisku masih ada padaku, dengan senjata aku bisa membongkar tembok, sedikit demi sedikit, sebata demi sebata."
"Kau benar, Kakangmas. Akupun dapat membantumu dengan cundrikku!"

<<< Bagian 062                                                                                    Bagian 064 >>>

No comments:

Post a Comment