Penuh semangat suami isteri itu mulai bekerja. Biarpun senjata di tangan mereka hanya keris dan cundrik kecil saja, namun karena mereka memiliki tenaga dalam yang amat kuat, agaknya tidak akan sukar bagi mereka untuk membongkar tembok tebal itu. Akan tetapi, belum juga sebata terbongkar, tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis keras disusul ketawa bergelak.
Pujo dan
Kartikosari kaget sekali, melompat berdiri dan tampaklah asap putih membanjir
masuk dari lubang-lubang di bawah dekat pintu. Pujo tersedak dan Kartikosari
terbatuk-batuk ketika asap belerang mulai menyerang hidung dan memenuhi ruangan
itu! Mereka berusaha menutup pernapasan, namun betapa saktipun seseorang, tak
mungkin is dapat menghentikan napas terlalu lama. Mereka terbatuk-batuk,
terengah-engah, terhuyung-huyung. Pujo masih ingat akan isterinya, memeluk
isterinya, seakan-akan hendak melindungi isterinya dengan tubuh sendiri menjadi
perisai. Namun, menghadapi musuh berupa asap belerang, tak mungkin dia dapat
melindungi isterinya atau dirinya sendiri. Hampir berbareng mereka roboh
pingsan, menggeletak di atas lantai, masih berpelukan.
"Cukup!
Buka pintunya, tangkap dan ikat mereka pada tiang!"
Terdengar
suara Jokowanengpati berseru, akan tetapi suami isteri itu tidak dapat
mendengar perintah ini, juga masih belum sadar ketika tubuh mereka yang lemas
itu diseret ke tiang, kemudian dipaksa berdiri dan diikat lengan dan kaki
mereka pada tiang, beradu punggung pada tiang di tengah ruangan. Jokowanengpati
memasuki ruangan setelah asap mulai menipis dan karena sekarang pintu terbuka,
maka ruangan itu tidaklah segelap tadi.
"Ha-ha-hal
Pujo, keparat. Kau mau bilang apa sekarang?"
Jokowanengpati
tertawa mengejek setelah memberi isyarat kepada para pengawal yang jumlahnya
enam orang Itu untuk keluar dari ruangan. la melangkah maju dan menampar muka
Pujo dengan kedua telapak tangan, berkali-kali. Karena Pujo masih belum sadar
betul dan tubuhnya lemas, maka kepalanya terguncang-guncang ke kanan kiri
ketika menerima tamparan. Akan tetapi, pukulan-pukulan keras itu malah
membuatnya cepat siuman dari pingsannya. Begitu sadar dan melihat bahwa ia
ditampari Jokowanengpati, seketika Pujo menegangkan tubuhnya dan urat-urat di
lehernya mengeras, kepalanya tidak terguncang-guncang lagi.
"Jokowanengpati
manusia pengecut!" Ia memaki, suaranya penuh nada ejekan.
"Ha-ha-ha-ha!
Tak usah kau memancing-mancing kemarahanku agar kau kubebaskan dan kutantang
bertanding, Pujo. Sebentar lagi kau mampus. Nah, rasakan ini!"
Kakinya
melayang dan
"ngekkk!"
kaki itu bersarang di perut Pujo! Betapapun Pujo mengerahkan tenaga, namun
karena tenaga lawannya juga amat kuat, maka is meringis kesakitan.
"Desss!
Plakk! Bukk!!"
Jokowanengpati
terus menghantam dan memukuli seluruh tubuh Pujo.
"Jahanam
pengecut, keparat!"
Kartikosari
yang baru saja siuman itu menjerit-jerit ketika menoleh dan melihat suaminya
dipukul tanpa dapat membalas sedikitpun karena tangan dan kakinya terikat.
Makian Kartikosari menolong Pujo. Jokowanengpati menghentikan siksaannya, lalu
melangkah mendekati Kartikosari. Mukanya yang tampan itu menyeringai, matanya
memandangi tubuh yang montok, melahapnya penuh nafsu.
"He-he-he,
kau makin cantik jelita saja, Kartikosari. Kau makin ayu denok. Ah, ingatkah
kau malam hari itu di dalam guha? Alangkah senangnya!"
"Jokowanengpati
manusia rendah! Binatang! Tutup mulutmu yang kotor dan bunuhlah aku kalau kau
tidak berani menghadapi aku bertanding secara jantan!" Pujo
berteriak-teriak marah.
"Ha-ha-ha-ha!
Pujo, sepuluh tahun yang lalu kau hanya menduga-duga, sekarang akan kausaksikan
dengan mata kepalamu sendiri bahwa akulah yang akhirnya mendapatkan
Kartikosari, bukan engkau! ....... Ha-ha-ha!"
Jokowanengpati
mendekat dan dengan lagak kurang ajar mencium bibir Kartikosari. Wanita itu
membuang muka sehingga hanya pipinya yang kena cium.
"Bedebah!
Binatang ....... !!" Kartikosari memaki.
"Joko,
iblis laknat engkau!" Pujo hanya dapat memaki dengan amarah meluap-luap.
Jokowanengpati
kembali menghadapi Pujo, lalu memperlihatkan tangan kirinya. Kelingkingnya
buntung mengerikan.
"Kau
lihat ini ? Kau tadi menanyakan mengapa kelingking kiriku buntung? Ha-ha-ha,
Kartikosari. Bukankah kelingking ini ketika dengan liar kau menyatakan sayang
dan kasihmu kepadaku, Manis?"
"Jahanam.......!
Kubunuh....... engkau......... !!! " Kartikosari hampir pingsan saking
marahnya.
"Bunuh?
Kau membunuh aku? Heh-heh-heh! Suamimu inilah yang akan kubunuh. Lihat!"
Jokowanengpati
kembali menghantam, kali ini ke arah dada Pujo. Kartikosari menjerit, Pujo
mengerahkan tenaga dan ......
"Bukkk!"
pukulan jatuh dengan hebatnya, membuat Pujo sesak bernapas dan mukanya pucat.
Akan tetapi ia tidak mati, pingsanpun tidak, hanya menderita nyeri bukan main.
"Ha-ha-ha,
akan kubunuh dia perlahan- lahan, kusiksa dia perlahan-lahan, di depan matamu, Kartikosari.
Ya, di sini, di depanmu! Akan tetapi, dia harus melihat dulu betapa kau adalah
milikkul Heh, Pujo. Katakanlah, ada yang akan kau lakukan kalau aku menggagahi
Kartikosari di sini, di depan matamu?"
"Jokowanengpati,
kaubunuhlah aku! Bunuhlah Aku dan kalau perlu, kaubunuh pula isteriku, jangan
kau lakukan penghihaan biadab ini!"
Pujo akhirnya
mengeluh. Sementara itu, Kartikosari menangis karena wanita inipun maklum
betapa kehormatannya terancam penghinaan yang lebih hebat daripada kematian.
Betapa ia dan suaminya sama sekaii tidak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa.
"Heh-heh-heh,
salah siapa? Kenapa isterimu begini cantik, begini molek, begini menggairahkan!
Dan mengapa kau kebetulan berdiri di tengah jalan menghalangi kesenangan
hidupku? Ha-ha, kau akan menyaksikan betapa senangnya aku memiliki tubuh
isterimu, kemudian dia akan melihat kau mampus. Aduh, alangkah manis dan
nikmatnya pembalasan!"
Jokowanengpati
tertawa-tawa berkakakan, suami isteri itu memandang penuh kengerian dan
diam-diam mereka menganggap betapa musuh besar ini telah menjadi gila. Mereka
berdua memendam sakit hati bertahun-tahun, mengharapkan pembalasan. Sekarang
setelah bertemu dengan musuh besar, mereka tertahan dan si musuh besar ini
malah bicara tentang nikmatnya membalas dendam! Siapa sebetulnya yang
mendendam?.
Kartikosari
diam-diam mengambil keputusan untuk tidak melawan, membiarkan dirinya
diperhina, bahkan akan diusahakan agar Jokowanengpati mengira dia membalas
cumbu rayu dan cintanya, agar orang ini menjadi lengah, kemudian ia akan
mencari kesempatan baik untuk mengirim serangan maut! Pujo sendiri sudah putus
harapan, tidak tahu bagaimana ia akan dapat menolong isterinya. Kematiannya
sendiri yang sudah diambang mata tidak dihiraukan, hanya keadaan isterinya yang
membuat ia putus harapan dan risau. Sepasang suami isteri ini benar-benar sudah
merasa putus asa, tidak melihat jalan keluar, hanya dapat menyerahkan nasib di
tangan Hyang Widi . Hanya penyerahan bulat inllah yang membuat mereka masih
bertahan, dengan hiburan batin bahwa akhirnya toh kematian akan menamatkan
segala derita.
Jokowanengpati
sudah kelihatan buas. Sambil menyeringai seperti iblis ia sudah menanggalkan
bajunya, menanggalkan destarnya. Dibentangnya kainnya di atas lantai, di depan
Pujo yang memandang dengan mata terbelalak tanpa cahaya. Semua ini dilakukan
oleh Jokowanengpati lambat-lambat, sengaja untuk menyiksa perasaan hati Pujo.
Kemudian ia bangkit berdiri, melangkah mendekati Kartikosari sambil berkata,
manis-manis buatan,
"Marilah,
wong ayu ...... "
Akan tetapi
pada saat itu, terdengar orang batuk-batuk dan di depan pintu ruangan itu
muncul dua orang pengawal yang memandang ke arah Jokowanengpati dengan wajah
serius.
"Setan!
Mau apa kalian?" bentak Jokowanengpati, menarik kembali kedua tangannya
yang tadi sudah hampir menyentuh tubuh Kartikosari. Wanita itu meramkan kedua
matanya dengan tubuh lemas dan isak tertahan.
"Maafkanlah
hamba, radenmas, hamba tidak berani mengganggu...... akan tetapi...... perlu
melaporkan bahwa menurut penjaga, dua orang tawanan ini tadi datang bersama
seorang wanita lagi yang kini entah menghilang kemana."
Seperti
disengat kelabang Jokowanengpati memutar tubuhnya serentak memandang Pujo dan
Kartikosari. Pujo masih membelalakkan kedua mata penuh kebencian, sedangkan
Kartikosari membuang muka ke samping, matanya masih dipejamkan, dadanya yang
membusung padat itu bergerak naik turun. Dengan langkah lebar Jokowanengpati
mengbadapi Pujo dan membentak,
"Hayo
katakan, siapa wanita itu? Dan di mana dia sekarang?"
Pujo tersenyum
mengejek.
"Hemm,
manusia yang diperhamba nafsu macam engkau ini, Jokowanengpati, selalu
dibayangi rasa cemas akan datangnya hukuman atas perbuatan-perbuatanmu yang
terkutuk. Memang takkan meleset lagi, manusia rendah dan hina, hukuman itu akan
datang, bagaikan pedang yang selalu tergantung di atas tengkukmu. Tentang
wanita itu, kau carilah sendiri!"
"Plak-plak-plak!"
Dalam
amarahnya Jokowanengpati menampar dan menghantam muka Pujo sehingga mengucurlah
darah dari hidung dan mulut Pujo. Namun sedikitpun Pujo tidak mengeluh, masih
tersenyum mengejek dan baru dia mengusap darah itu dari pundak kanan kiri
ketika dengan muka keruh, Jokowanengpati melompat keluar ruangan itu.
"Kalian
jaga baik-baik mereka, awas, jangan sampai terlepas!"
Demikian
Jokowanengpati berpesan kepada empat orang penjaga di depan kamar tahanan,
kemudian pergi bersama dua orang pelapor tadi untuk mencari wanita yang
dikabarkan datang bersama Pujo dan Kartikosari, dan yang katanya hilang tak
meninggalkan jejak. Perlu diperiksa seluruh isi kadipaten, pikirnya.
Belum lama
Jokowanengpat pergi, sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya menyelinap di
tempat gelap mendekati pintu ruangan, kemudian bagaikan halilintar menyambar,
tubuhnya bergerak menerjang empat orang penjaga itu, tangannya bergerak dan mata
pisau berkilat. Empat orang pengawal yang sama sekali tidak menyangka akan
datangnya serangan hebat ini, terkena tusukan di bagian tubuh yang mematikan.
Mereka roboh dan berkelojotan, hanya mampu mengeluarkan sedikit suara. Bayangan
itu lalu melompat ke dalam kamar dan ternyata dia adalah Roro Luhito yang
membawa sebuah pisau belati!
"Oh
...... diajeng, syukur kau datang........ ! "
Kartikosari
berseru girang sekali. Memang tadi dia dan suaminya juga mengharapkan
pertolongan Roro Luhito, akan tetapi mengingat akan saktinya Jokowanengpati
ditambah bantuan para pengawal, mereka sudah putus harapan karena mereka
bersangsi apakah Roro Luhito akan mampu menghadapi Jokowanengpati dan kaki
tangannya. Kini puteri ayu itu muncul setelah Jokowanengpati keluar, sungguh
amat membesarkan hati.
Pujo juga
memandang girang, akan tetapi tidak kuasa mengeluarkan kata-kata. Ia hanya
terheran-heran melihat bekas air mata di kedua pipi wanita itu, dan tampak
betapa kedua tangan Roro Luhito gemetar ketika ia menggunakan pisau belati
untuk mengiris putus belenggu yang mengikat kedua lengan dan kaki Pujo dengan
isterinya.
Bagaimanakah
Roro Luhito tahu-tahu muncul di tempat tahanan rahasia itu? Seperti kita
ketahui, puteri adipati ini memasuki kadipaten melalui pintu rahasia yang berada
di taman sari. Agaknya Jokowanengpati dan kaki tangannya belum menemukan pintu
rahasia ini sehingga ia dapat masuk dengan leluasa tanpa ada gangguan. Biarpun
rumah besar itu adalah rumahnya dan sejak lahir sampai enam belas tahun lamanya
ia tidak pernah meninggalkan rumah ini, namun Roro Luhito merasa asing. Sudah
sepuluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Kini usianya sudah dua puluh enam
tahun. Betapa besar rindunya kepada ayah bundanya.
Akan tetapi
sekarang ia merasa asing, seakan-akan memasuki rumah orang lain. Hal ini adalah
karena ia tidak melihat seorangpun manusia yang dikenalnya dalam rumah itu.
Dengan amat hati-hati ia memasuki rumah dan bersembunyi, melihat wajah-wajah
pengawal yang asing, melihat wajah pelayan-pelayan wanita muda cantik-cantik
yang asing pula.
Celaka,
pikirnya. Benar-benar Kadipaten Selopenangkep telah diambil alih dan ke manakah
perginya keluarganya? Ke manakah ibunya, ayahnya, isteri-isteri lain dari
ayahnya? Ke mana perginya kakaknya, Wisangjiwo dan mbakyu iparnya, Listyokumolo?.
Dengan hati penuh kegelisahan Roro Luhito lalu menyelinap ke belakang. Ia
melihat empat orang wanita muda, dandanannya seperti pelayan, akan tetapi
pakaiannya itu baru dan rapi, orangnya masih muda-muda dan cantik, sedang
bercakap-cakap sambil terkekeh genit. Roro Luhito mengenal seorang di antara
mereka, seorang penari yang seringkali dahulu bermain di pendopo kadipaten. Ia
tidak tahu siapa namanya, akan tetapi wajah itu masih diingatnya. Ia
menyelinap, mendekat akan tetapi tetap bersembunyi.
No comments:
Post a Comment