Badai Laut Selatan ; Bagian 064


Penuh semangat suami isteri itu mulai bekerja. Biarpun senjata di tangan mereka hanya keris dan cundrik kecil saja, namun karena mereka memiliki tenaga dalam yang amat kuat, agaknya tidak akan sukar bagi mereka untuk membongkar tembok tebal itu. Akan tetapi, belum juga sebata terbongkar, tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis keras disusul ketawa bergelak.
Pujo dan Kartikosari kaget sekali, melompat berdiri dan tampaklah asap putih membanjir masuk dari lubang-lubang di bawah dekat pintu. Pujo tersedak dan Kartikosari terbatuk-batuk ketika asap belerang mulai menyerang hidung dan memenuhi ruangan itu! Mereka berusaha menutup pernapasan, namun betapa saktipun seseorang, tak mungkin is dapat menghentikan napas terlalu lama. Mereka terbatuk-batuk, terengah-engah, terhuyung-huyung. Pujo masih ingat akan isterinya, memeluk isterinya, seakan-akan hendak melindungi isterinya dengan tubuh sendiri menjadi perisai. Namun, menghadapi musuh berupa asap belerang, tak mungkin dia dapat melindungi isterinya atau dirinya sendiri. Hampir berbareng mereka roboh pingsan, menggeletak di atas lantai, masih berpelukan.
"Cukup! Buka pintunya, tangkap dan ikat mereka pada tiang!"
Terdengar suara Jokowanengpati berseru, akan tetapi suami isteri itu tidak dapat mendengar perintah ini, juga masih belum sadar ketika tubuh mereka yang lemas itu diseret ke tiang, kemudian dipaksa berdiri dan diikat lengan dan kaki mereka pada tiang, beradu punggung pada tiang di tengah ruangan. Jokowanengpati memasuki ruangan setelah asap mulai menipis dan karena sekarang pintu terbuka, maka ruangan itu tidaklah segelap tadi.
"Ha-ha-hal Pujo, keparat. Kau mau bilang apa sekarang?"
Jokowanengpati tertawa mengejek setelah memberi isyarat kepada para pengawal yang jumlahnya enam orang Itu untuk keluar dari ruangan. la melangkah maju dan menampar muka Pujo dengan kedua telapak tangan, berkali-kali. Karena Pujo masih belum sadar betul dan tubuhnya lemas, maka kepalanya terguncang-guncang ke kanan kiri ketika menerima tamparan. Akan tetapi, pukulan-pukulan keras itu malah membuatnya cepat siuman dari pingsannya. Begitu sadar dan melihat bahwa ia ditampari Jokowanengpati, seketika Pujo menegangkan tubuhnya dan urat-urat di lehernya mengeras, kepalanya tidak terguncang-guncang lagi.
"Jokowanengpati manusia pengecut!" Ia memaki, suaranya penuh nada ejekan.
"Ha-ha-ha-ha! Tak usah kau memancing-mancing kemarahanku agar kau kubebaskan dan kutantang bertanding, Pujo. Sebentar lagi kau mampus. Nah, rasakan ini!"
Kakinya melayang dan
"ngekkk!" kaki itu bersarang di perut Pujo! Betapapun Pujo mengerahkan tenaga, namun karena tenaga lawannya juga amat kuat, maka is meringis kesakitan.
"Desss! Plakk! Bukk!!"
Jokowanengpati terus menghantam dan memukuli seluruh tubuh Pujo.
"Jahanam pengecut, keparat!"

Kartikosari yang baru saja siuman itu menjerit-jerit ketika menoleh dan melihat suaminya dipukul tanpa dapat membalas sedikitpun karena tangan dan kakinya terikat. Makian Kartikosari menolong Pujo. Jokowanengpati menghentikan siksaannya, lalu melangkah mendekati Kartikosari. Mukanya yang tampan itu menyeringai, matanya memandangi tubuh yang montok, melahapnya penuh nafsu.
"He-he-he, kau makin cantik jelita saja, Kartikosari. Kau makin ayu denok. Ah, ingatkah kau malam hari itu di dalam guha? Alangkah senangnya!"
"Jokowanengpati manusia rendah! Binatang! Tutup mulutmu yang kotor dan bunuhlah aku kalau kau tidak berani menghadapi aku bertanding secara jantan!" Pujo berteriak-teriak marah.
"Ha-ha-ha-ha! Pujo, sepuluh tahun yang lalu kau hanya menduga-duga, sekarang akan kausaksikan dengan mata kepalamu sendiri bahwa akulah yang akhirnya mendapatkan Kartikosari, bukan engkau! ....... Ha-ha-ha!"
Jokowanengpati mendekat dan dengan lagak kurang ajar mencium bibir Kartikosari. Wanita itu membuang muka sehingga hanya pipinya yang kena cium.
"Bedebah! Binatang ....... !!" Kartikosari memaki.
"Joko, iblis laknat engkau!" Pujo hanya dapat memaki dengan amarah meluap-luap.
Jokowanengpati kembali menghadapi Pujo, lalu memperlihatkan tangan kirinya. Kelingkingnya buntung mengerikan.
"Kau lihat ini ? Kau tadi menanyakan mengapa kelingking kiriku buntung? Ha-ha-ha, Kartikosari. Bukankah kelingking ini ketika dengan liar kau menyatakan sayang dan kasihmu kepadaku, Manis?"
"Jahanam.......! Kubunuh....... engkau......... !!! " Kartikosari hampir pingsan saking marahnya.
"Bunuh? Kau membunuh aku? Heh-heh-heh! Suamimu inilah yang akan kubunuh. Lihat!"
Jokowanengpati kembali menghantam, kali ini ke arah dada Pujo. Kartikosari menjerit, Pujo mengerahkan tenaga dan ......
"Bukkk!" pukulan jatuh dengan hebatnya, membuat Pujo sesak bernapas dan mukanya pucat. Akan tetapi ia tidak mati, pingsanpun tidak, hanya menderita nyeri bukan main.
"Ha-ha-ha, akan kubunuh dia perlahan- lahan, kusiksa dia perlahan-lahan, di depan matamu, Kartikosari. Ya, di sini, di depanmu! Akan tetapi, dia harus melihat dulu betapa kau adalah milikkul Heh, Pujo. Katakanlah, ada yang akan kau lakukan kalau aku menggagahi Kartikosari di sini, di depan matamu?"
"Jokowanengpati, kaubunuhlah aku! Bunuhlah Aku dan kalau perlu, kaubunuh pula isteriku, jangan kau lakukan penghihaan biadab ini!"

Pujo akhirnya mengeluh. Sementara itu, Kartikosari menangis karena wanita inipun maklum betapa kehormatannya terancam penghinaan yang lebih hebat daripada kematian. Betapa ia dan suaminya sama sekaii tidak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa.
"Heh-heh-heh, salah siapa? Kenapa isterimu begini cantik, begini molek, begini menggairahkan! Dan mengapa kau kebetulan berdiri di tengah jalan menghalangi kesenangan hidupku? Ha-ha, kau akan menyaksikan betapa senangnya aku memiliki tubuh isterimu, kemudian dia akan melihat kau mampus. Aduh, alangkah manis dan nikmatnya pembalasan!"
Jokowanengpati tertawa-tawa berkakakan, suami isteri itu memandang penuh kengerian dan diam-diam mereka menganggap betapa musuh besar ini telah menjadi gila. Mereka berdua memendam sakit hati bertahun-tahun, mengharapkan pembalasan. Sekarang setelah bertemu dengan musuh besar, mereka tertahan dan si musuh besar ini malah bicara tentang nikmatnya membalas dendam! Siapa sebetulnya yang mendendam?.
Kartikosari diam-diam mengambil keputusan untuk tidak melawan, membiarkan dirinya diperhina, bahkan akan diusahakan agar Jokowanengpati mengira dia membalas cumbu rayu dan cintanya, agar orang ini menjadi lengah, kemudian ia akan mencari kesempatan baik untuk mengirim serangan maut! Pujo sendiri sudah putus harapan, tidak tahu bagaimana ia akan dapat menolong isterinya. Kematiannya sendiri yang sudah diambang mata tidak dihiraukan, hanya keadaan isterinya yang membuat ia putus harapan dan risau. Sepasang suami isteri ini benar-benar sudah merasa putus asa, tidak melihat jalan keluar, hanya dapat menyerahkan nasib di tangan Hyang Widi . Hanya penyerahan bulat inllah yang membuat mereka masih bertahan, dengan hiburan batin bahwa akhirnya toh kematian akan menamatkan segala derita.

Jokowanengpati sudah kelihatan buas. Sambil menyeringai seperti iblis ia sudah menanggalkan bajunya, menanggalkan destarnya. Dibentangnya kainnya di atas lantai, di depan Pujo yang memandang dengan mata terbelalak tanpa cahaya. Semua ini dilakukan oleh Jokowanengpati lambat-lambat, sengaja untuk menyiksa perasaan hati Pujo. Kemudian ia bangkit berdiri, melangkah mendekati Kartikosari sambil berkata, manis-manis buatan,
"Marilah, wong ayu ...... "
Akan tetapi pada saat itu, terdengar orang batuk-batuk dan di depan pintu ruangan itu muncul dua orang pengawal yang memandang ke arah Jokowanengpati dengan wajah serius.
"Setan! Mau apa kalian?" bentak Jokowanengpati, menarik kembali kedua tangannya yang tadi sudah hampir menyentuh tubuh Kartikosari. Wanita itu meramkan kedua matanya dengan tubuh lemas dan isak tertahan.
"Maafkanlah hamba, radenmas, hamba tidak berani mengganggu...... akan tetapi...... perlu melaporkan bahwa menurut penjaga, dua orang tawanan ini tadi datang bersama seorang wanita lagi yang kini entah menghilang kemana."
Seperti disengat kelabang Jokowanengpati memutar tubuhnya serentak memandang Pujo dan Kartikosari. Pujo masih membelalakkan kedua mata penuh kebencian, sedangkan Kartikosari membuang muka ke samping, matanya masih dipejamkan, dadanya yang membusung padat itu bergerak naik turun. Dengan langkah lebar Jokowanengpati mengbadapi Pujo dan membentak,
"Hayo katakan, siapa wanita itu? Dan di mana dia sekarang?"
Pujo tersenyum mengejek.
"Hemm, manusia yang diperhamba nafsu macam engkau ini, Jokowanengpati, selalu dibayangi rasa cemas akan datangnya hukuman atas perbuatan-perbuatanmu yang terkutuk. Memang takkan meleset lagi, manusia rendah dan hina, hukuman itu akan datang, bagaikan pedang yang selalu tergantung di atas tengkukmu. Tentang wanita itu, kau carilah sendiri!"
"Plak-plak-plak!"
Dalam amarahnya Jokowanengpati menampar dan menghantam muka Pujo sehingga mengucurlah darah dari hidung dan mulut Pujo. Namun sedikitpun Pujo tidak mengeluh, masih tersenyum mengejek dan baru dia mengusap darah itu dari pundak kanan kiri ketika dengan muka keruh, Jokowanengpati melompat keluar ruangan itu.
"Kalian jaga baik-baik mereka, awas, jangan sampai terlepas!"

Demikian Jokowanengpati berpesan kepada empat orang penjaga di depan kamar tahanan, kemudian pergi bersama dua orang pelapor tadi untuk mencari wanita yang dikabarkan datang bersama Pujo dan Kartikosari, dan yang katanya hilang tak meninggalkan jejak. Perlu diperiksa seluruh isi kadipaten, pikirnya.
Belum lama Jokowanengpat pergi, sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya menyelinap di tempat gelap mendekati pintu ruangan, kemudian bagaikan halilintar menyambar, tubuhnya bergerak menerjang empat orang penjaga itu, tangannya bergerak dan mata pisau berkilat. Empat orang pengawal yang sama sekali tidak menyangka akan datangnya serangan hebat ini, terkena tusukan di bagian tubuh yang mematikan. Mereka roboh dan berkelojotan, hanya mampu mengeluarkan sedikit suara. Bayangan itu lalu melompat ke dalam kamar dan ternyata dia adalah Roro Luhito yang membawa sebuah pisau belati!
"Oh ...... diajeng, syukur kau datang........ ! "
Kartikosari berseru girang sekali. Memang tadi dia dan suaminya juga mengharapkan pertolongan Roro Luhito, akan tetapi mengingat akan saktinya Jokowanengpati ditambah bantuan para pengawal, mereka sudah putus harapan karena mereka bersangsi apakah Roro Luhito akan mampu menghadapi Jokowanengpati dan kaki tangannya. Kini puteri ayu itu muncul setelah Jokowanengpati keluar, sungguh amat membesarkan hati.
Pujo juga memandang girang, akan tetapi tidak kuasa mengeluarkan kata-kata. Ia hanya terheran-heran melihat bekas air mata di kedua pipi wanita itu, dan tampak betapa kedua tangan Roro Luhito gemetar ketika ia menggunakan pisau belati untuk mengiris putus belenggu yang mengikat kedua lengan dan kaki Pujo dengan isterinya.
Bagaimanakah Roro Luhito tahu-tahu muncul di tempat tahanan rahasia itu? Seperti kita ketahui, puteri adipati ini memasuki kadipaten melalui pintu rahasia yang berada di taman sari. Agaknya Jokowanengpati dan kaki tangannya belum menemukan pintu rahasia ini sehingga ia dapat masuk dengan leluasa tanpa ada gangguan. Biarpun rumah besar itu adalah rumahnya dan sejak lahir sampai enam belas tahun lamanya ia tidak pernah meninggalkan rumah ini, namun Roro Luhito merasa asing. Sudah sepuluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Kini usianya sudah dua puluh enam tahun. Betapa besar rindunya kepada ayah bundanya.
Akan tetapi sekarang ia merasa asing, seakan-akan memasuki rumah orang lain. Hal ini adalah karena ia tidak melihat seorangpun manusia yang dikenalnya dalam rumah itu. Dengan amat hati-hati ia memasuki rumah dan bersembunyi, melihat wajah-wajah pengawal yang asing, melihat wajah pelayan-pelayan wanita muda cantik-cantik yang asing pula.

Celaka, pikirnya. Benar-benar Kadipaten Selopenangkep telah diambil alih dan ke manakah perginya keluarganya? Ke manakah ibunya, ayahnya, isteri-isteri lain dari ayahnya? Ke mana perginya kakaknya, Wisangjiwo dan mbakyu iparnya, Listyokumolo?. Dengan hati penuh kegelisahan Roro Luhito lalu menyelinap ke belakang. Ia melihat empat orang wanita muda, dandanannya seperti pelayan, akan tetapi pakaiannya itu baru dan rapi, orangnya masih muda-muda dan cantik, sedang bercakap-cakap sambil terkekeh genit. Roro Luhito mengenal seorang di antara mereka, seorang penari yang seringkali dahulu bermain di pendopo kadipaten. Ia tidak tahu siapa namanya, akan tetapi wajah itu masih diingatnya. Ia menyelinap, mendekat akan tetapi tetap bersembunyi.

<<< Bagian 063                                                                                    Bagian 065 >>>

No comments:

Post a Comment