"Wah, Lasmini tentu menerima hadiah hebat dari Raden Mas Joko!" kata seorang di antara mereka yang berkutang kuning.
"Dengan
menyuguhkan keponakanmu yang remaja dan cantik itu, tentu hadiahnya besar,
kalau tidak engkau sendiri menerima kehormatan melayani radenmas ......
hi-hi-hik!"
"Hisshh!"
desis yang berkutang biru, yaitu wanita yang dikenal Roro Luhito.
"Jangan
bicara sembarangan, kau ! Keponakanku itu bocah tak tahu diuntung. Tidak
menurut, menyepak-nyepak meronta-ronta ketika dibawa masuk, sungguh memalukan
hatiku dan juga menguatirkan. Jangan-jangan Raden Mas Joko akan
marah....."
"Mana
bisa marah?" sambung orang ke tiga.
"Dik
Lasmini agaknya tidak tahu akan kesukaan Raden Mas Joko. Menurut kakangmas Banu
...... "
"Hi-hik !
Pacarmu yang baru itu, pengawal yang bertugas di luar pintu gerbang, yang
kumisnya tebal hidungnya panjang?" orang ke empat memotong.
"Hushh,
jangan buka rahasia orang, dong!" seru yang digoda.
"Bagaimana
kesukaan Raden Mas Joko?" desak Lasmini.
"Menurut
...... eh, kakangmas Banu, justeru bocah yang seperti keponakanmu itulah yang
disukai Raden Mas Jokowanengpati, lebih suka yang demikian daripada yang jinak
dan penurut. Katanya....... eh, katanya beliau lebih menyukai kuda liar
daripada kuda jinak. Entah apa maksudnya, hi-hihik!"
Empat orang
itu tertawa cekikikan. Muak rasa hati Roro Luhito mendengar percakapan ini, dan
kebenciannya terhadap Jokowanengpati makin mendalam. Cepat ia mengambil empat
buah batu kerikil, tangannya lalu diayun dan empat orang wanita itu roboh
pingsan karena pelipis mereka disambar batu kerikil yang meluncur cepat dan
kuat. Di Iain saat, tubuh Roro Luhito sudah berkelebat masuk dan melompat
keluar lagi sambil memanggul Lasmini yang masih pingsan. Dengan gerakan laksana
burung srikatan, cepat dan trampil, Roro Luhito berlompatan ke dalam taman
sari, lalu keluar lagi dari taman sari melalui pintu rahasia, membawa
tawanannya ke tempat gelap di luar tembok kadipaten. Dapat dibayangkan betapa
kaget dan bingungnya hati Lasmini ketika ia siuman kembali, tahu-tahu ia telah
berada di bawah pohon, di udara terbuka, hanya diterangi bintang dan bulan
sepotong. Serasa mimpi ia bangun duduk, dan memandang bengong kepada wanita
cantik yang berdiri di depannya. Kini Roro Luhito tahu nama wanita ini, maka
segera ia menegur,
"Lasmini,
masih kenalkah engkau kepadaku?"
Lasmini
bangkit berdiri. Rasa nyeri dan takutnya lenyap ketika ia mendapat kenyataan
bahwa yang berdiri di situ adalah seorang wanita pula, seorang manusia, bukan
setan.
"Bagaimanakah
saya bisa berada di sini? Kepalaku pening tadi dan ...... "
Ia meraba
pelipisnya dan kagetlah ia karena di pelipis kanannya kini tumbuh bisul!.
"Aduhhh
...... kenapa pelipisku ini ...... ?"
"Jangan
banyak cerewet! Akulah yang merobohkan kau dan tiga orang temanmu tadi. Lihat
baik-baik, siapa aku?"
Lasmini kaget,
mulai gelisah hati, lalu memandang dan mengingat-ingat.
"Serasa
kenal ...... eh, bukankah andika ini ...... Raden Ajeng Roro Luhito ......
?"
"Hemm,
ternyata engkau masih mengenalku .." kata Roro Luhito, agak terharu.
"Aduh,
den ajeng....!" Lasmini lalu menjatuhkan diri, memeluk lutut wanita
perkasa itu sambil menangis.
"Diam,
tak usah menangis. Mari duduk yang baik dan ceritakan semuanya. Àpà yang
terjadi di kadipaten? Dan kemana ayah bunda dan keluargaku semua?"
Lasmini masih
menangis terisak-isak, kemudian setelah agak reda ia bercerita. Cerita yang
membuat Roro Luhito terkejut bukan main, membuat wajahnya sebentar pucat
sebentar merah dan giginya yang putih berkerot saking marahnya. Untung bagi
Roro Luhito bahwa ia menculik Lasmini sehingga ia dapat mendengar semua urusan
yang terjadi di situ. Lasmini adalah penari muda cantik yang dulu pernah
diganggu oleh Cekel Aksomolo, bahkan dikorbankan kepada cekel tua yang mata
keranjang itu. Karena sejak peristiwa itu wataknya lalu berubah genit dan
jalang, mudah saja bagi Lasmini untuk menarik perhatian dan ia berhasil menarik
hati seorang perwira pasukan kota raja sehingga mendapat kepercayaan dari
Jokowanengpati dan dijadikan pelayan. Dari perwira yang menjadi pacarnya itulah
Lasmini mendengar akan semua peristiwa yang kini ia ceritakan sambil menangis
di depan Roro Luhito. Betapapun juga, karena semenjak kecilnya ia
"ngenger" (mengabdi) Adipati Joyowiseso, ada juga kesetiaan dan
keharuan menyelinap di hatinya ketika bersua dengan puteri bekas gustinya itu.
Memang terjadi
perubahan besar dalam persekutuan antara Adipati Joyowiseso dan tokoh-tokoh
sakti termasuk Jokowanengpati, setelah terjadi perpecahan di kota raja antara
Pangeran Sepuh (Tua) dan Pangeran Anom (Muda). Jokowanengpati dan tokoh-tokoh
sakti yang tadinya membantu niat berontak adipati ini, melihat kesempatan yang
lebih besar untuk kemuliaan di kemudian hari. Mereka seakan-akan tidak
menghiraukan lagi Adipati Joyowiseso setelah mereka diberi kesempatan oleh
Pangeran Anom yang pandai mengumpulkan tenaga orang-orang sakti untuk mencapai
cita-citanya, yaitu menguasai kerajaan yang diperebutkan dengan kakak tirinya,
Pangeran Sepuh. Melihat ini, Adipati Joyowiseso tentu saja juga menyerahkan
diri menghamba kepada Pangeran Anom, akan tetapi dalam perebutan kekuasaan
secara diam-diam itu, tenaga sang adipati belum sangat dibutuhkan sehingga
adipati ini terdesak oleh Jokowanengpati, Cekel Aksomolo, dan yang lain.
Perubahan
besar terjadi ketika secara tiba-tiba Wisangjiwo yang tadinya juga menjadi
kepercayaan Pangeran Anom membalik dan menghamba kepada Pangeran Sepuh! Hal ini
benar-benar mengejutkan dan tidak dimengerti oleh orang lain, juga tidak
dimengerti pula oleh Adipati Joyowiseso sendiri. Kejadian aneh ini ada
sebabnya, yaitu sejak Wisangjiwo ditangkap oleh Pujo di pantai selatan! Ketika
mendapat kesempatan melarikan diri setelah ikatannya dilepaskan oleh
Kartikosari, Wisangjiwo diam-diam bersembunyi dan mendengarkan percakapan suami
isterl itu. Alangkah kaget hatinya mendengar akan perbuatan Jokowanengpati yang
luar biasa kejinya. Dia sendiripun seorang laki-laki mata keranjang, akan
tetapi tak pernah ia melakukan perbuatan keji seperti yang dilakukan
Jokowanengpati. Tahulah ia bahwa Jokowanengpati orang yang telah memperkosa
Kartikosari di dalam guha, mempergunakan namanya! Sungguhpun Kartikosari ketika
bercerita kepada Pujo tidak menyebut-nyebut nama karena suami isteri itu
sendiri masih menduga-duga, ia yakin bahwa Jokowanengpatilah orangnya.
Kelingking kiri Jokowanengpati juga buntung! Pantas saja pengakuan
Jokowanengpati tentang kelingking itu berubah-ubah. Dan perbuatan
Jokowanengpati itulah yang mendatangkan dendam di hati Pujo dan Kartikosari,
sehingga terjadi penyerbuan ke Kadipaten Selopenangkep dan puteranya terculik!
Semua gara-gara Jokowanengpati. Mulai menyesallah hati Wisangjiwo. Mulai
terbuka matanya betapa Pujo dan Kartikosari adalah korban-korban keganasan
orang jahat. Mulai insyaf ia betapa semua itu juga merupakan akibat daripada
kesesatannya sendiri. Ia menyesal dan insyaf bahwa dengan menghamba kepada
Pangeran Anom, ia bersekongkol dengan orang-orang jahat macam Jokowanengpati,
Cekel Aksomolo, dan lain-lain. Inilah yang menyebabkan Wisangjiwo mengambil
keputusan bulat, "menyeberang" kepada Pangeran Sepuh. Karena ia
dahulu masuk dan mengabdi kerajaan atas perantaraan Ki Patih Narotama, tentu
saja Pangeran Sepuh suka menerimanya dengan girang. Wisangjiwo yang
kebingungan, kehilangan pegangan dan merasakan pahitnya bibit yang ia tanam
sendiri dahulu itu, sama sekali tidak menyangka bahwa Pangeran Anom menjadi
marah sekali kepadanya. Tentu saja Pangeran Anom tidak berani berterang
menyuruh orang menyerangnya di depan mata Pangeran Sepuh, akan tetapi atas
hasutan Jokowanengpati, Pangeran Anom lalu mengutus pasukan pengawalnya,
dikepalai Jokowanengpati dan kedua wanita iblis Ni Durgogini dan Ni Nogogini,
mendatangi Selopenangkep dan memberi hukuman kepada keluarga Wisangjiwo, yaitu
semua penghuni kadipaten dengan tuduhan memberontak yang diperkuat oleh
Jokowanengpati!.
Pasukan kota
raja amat terlatih dan kuat, apalagi dikepalai oleh seorang sakti seperti
Jokowanengpati dibantu Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Tanpa perlawanan berarti,
Kadipaten Selopenangkep dapat diserbu, banyak di antara keluarga kadipaten
dibunuh, dan kadipaten diambil alih. Peristiwa itu sudah terjadi beberapa pekan
lamanya. Kemudian, Lasmini menceritakan pula betapa Jokowanengpati dibantu oleh
Ni Durgogini dan Ni Nogogini, pergi ke Sungapan, katanya hendak mencari pusaka
Mataram, demikian cerita pacarnya.
"Baru
tadi mereka bertiga kembali dari Sungapan, den ajeng. Malah dua orang wanita
yang menakutkan itu siang tadi terus pergi, kabarnya hendak pergi ke kota raja.
Ah, banyak kejadian mengerikan, den ajeng. Malah belum lama tadi, menurut
pengawal dalam, ada dua orang musuh tertawan, kini dikurung dalam kamar tahanan
bawah tanah yang menyeramkan itu ...... "
"Begitukah
...... ??"
Roro Luhito
terkejut karena dapat menduga bahwa dua orang musuh yang dimaksudkan itu
tentulah Pujo dan Kartikosari.
"Dan ayah
di mana sekarang ...... ? Masih ...... masih hidupkah ...... ?"
Lasmini
menangis tersedu-sedu. Roro Luhito berdebar hatinya dan ia mengguncang-guncang
pundak wanita itu, kehilangan sabar.
"Hayo
cepat jawab, di mana ayah dan ibu?"
"Hamba.......
hamba tidak tahu jelas ... kabarnya ...... gusti adipati ditahan dalam kamar
tahanan di belakang..dijaga keras...... "
Roro Luhito
meloncat berdiri tegak.
"Keparat
kau Jokowanengpati!" serunya marah. Kemudian sekali renggut, ia melepaskan
kemben yang melibat pinggang ramping Lasmini. Wanita itu kaget sekali, tubuhnya
gemetar wajahnya pucat.
"Raden
ajeng....... hamba ....... hamba.. "
"Diam !
Kau juga bukan manusia baik-baik, Lasmini. Kau mengorbankan keponakanmu yang
masih kecil untuk memuaskan nafsu jahat Jokowanengpati, agar kau disuka dan mendapat
kedudukan baik. Kau perempuan rendah dan keji, sudah sepatutnya kalau kubunuh
engkau. Akan tetapi karena kau telah menceritakan semua dengan jujur,
kuampunkan nyawamu!"
Sambil bicara,
Roro Luhito menelikung (mengikat kaki tangan) Lasmini seperti kambing akan
disembelih.
"Katakan,
selain Jokowanengpati dan para pengawal, ada siapa lagi di sana? Para pinisepuh
(orang tua) sakti maksudku."
Dengan tubuh
menggigil ketakutan Lasmini pienjawab,
"Ti
...... tidak ada lagi, setelah dua orang wanita iblis itu pergi ...... "
Roro Luhito
menggunakan tangannya merenggut putus ujung kemben, menyumpal mulut Lasmini,
tubuh Lasmini terguling ke dalam gerombolan alang-alang. Cepat Roro Luhito
kembali memasuki pintu rahasia di taman sari, masuk dengan hati-hati, langsung
ia menuruni jalan rahasia dari kamar belakang yang kosong, yang membawanya ke
bagian bawah tanah di mana terdapat beberapa ruangan untuk menahan
tawanan-tawanan penting. Tentu saja ia hafal akan keadaan di kadipaten ini.
Menurutkan kata hatinya memang ia ingin segera pergi menjenguk ke belakang
gedung, ke tempat tahanan di mana mungkin ia dapat bertemu dengan ayah
bundanya, akan tetapi pikirannya mengingatkan bahwa untuk bergerak selanjutnya,
tak mungkin dapat ia lakukan tanpa bantuan Pujo dan Kartikosari. Ia tahu bahwa
Jokowanengpati adalah seorang sakti. Biarpun sekarang ia tidak takut, dan belum
tentu kalah setelah ia menerima gemblengan gurunya, Resi Telomoyo, namun ia
harus berlaku hati-hati, apalagi kalau diingat bahwa Jokowanengpati dibantu
oleh banyak pengawal. Baru saja menuruni ruangan di bawah tanah, yang agak
gelap, tiba-tiba seorang penjaga. sudah menegurnya.
"Hordah !
Siapa ini ..... ??"
Dan sebelum ia
sempat menjawab, penjaga itu sudah mencabut pisau belatinya dengan tangan
kanan, lalu tangan kirinya mencengkeram ke arah pundak sambil berbisik,
"Ah, kau
dayang dalam jangan berteriak!"
Penjaga itu
dengan dengus penuh nafsu menyeringai dan hendak menciumnya, pisau belati
dipakai mengancam, tangan kiri hendak berkurang ajar. Bagaikan kilat cepatnya,
sekali menggerakkan tangan, Roro Luhito sudah membuat dua gerakan. Pertama
merampas pisau dan kedua membenamkan mata pisau ke dalam dada penjaga sambil
melompat mundur sehingga ketika tubuh penjaga yang jantungnya sudah ditembus
pisau itu roboh, darah yang muncrat tidak mengenai bajunya. Kemudian, setelah
membersihkan pisau pada baju korbannya, Roro Luhito melanjutkan perjalanan,
berindap-indap di ruangan bawah, pisau tajam di tangannya.
Secara
kebetulan sekali Jokowanengpati pergi meninggalkan ruangan tahanan, menyerahkan
penjagaan kepada empat orang penjaga itu, menunda niatnya yang amat keji, niat
yang kiranya hanya dapat dilakukan oleh iblis. Karena empat orang penjaga tidak
menyangka-nyangka, secara mudah sekali mereka menjadi korban pisau belati di
tangan Roro Luhito.
No comments:
Post a Comment