Badai Laut Selatan ; Bagian 065


"Wah, Lasmini tentu menerima hadiah hebat dari Raden Mas Joko!" kata seorang di antara mereka yang berkutang kuning.
"Dengan menyuguhkan keponakanmu yang remaja dan cantik itu, tentu hadiahnya besar, kalau tidak engkau sendiri menerima kehormatan melayani radenmas ...... hi-hi-hik!"
"Hisshh!" desis yang berkutang biru, yaitu wanita yang dikenal Roro Luhito.
"Jangan bicara sembarangan, kau ! Keponakanku itu bocah tak tahu diuntung. Tidak menurut, menyepak-nyepak meronta-ronta ketika dibawa masuk, sungguh memalukan hatiku dan juga menguatirkan. Jangan-jangan Raden Mas Joko akan marah....."
"Mana bisa marah?" sambung orang ke tiga.
"Dik Lasmini agaknya tidak tahu akan kesukaan Raden Mas Joko. Menurut kakangmas Banu ...... "
"Hi-hik ! Pacarmu yang baru itu, pengawal yang bertugas di luar pintu gerbang, yang kumisnya tebal hidungnya panjang?" orang ke empat memotong.
"Hushh, jangan buka rahasia orang, dong!" seru yang digoda.
"Bagaimana kesukaan Raden Mas Joko?" desak Lasmini.
"Menurut ...... eh, kakangmas Banu, justeru bocah yang seperti keponakanmu itulah yang disukai Raden Mas Jokowanengpati, lebih suka yang demikian daripada yang jinak dan penurut. Katanya....... eh, katanya beliau lebih menyukai kuda liar daripada kuda jinak. Entah apa maksudnya, hi-hihik!"

Empat orang itu tertawa cekikikan. Muak rasa hati Roro Luhito mendengar percakapan ini, dan kebenciannya terhadap Jokowanengpati makin mendalam. Cepat ia mengambil empat buah batu kerikil, tangannya lalu diayun dan empat orang wanita itu roboh pingsan karena pelipis mereka disambar batu kerikil yang meluncur cepat dan kuat. Di Iain saat, tubuh Roro Luhito sudah berkelebat masuk dan melompat keluar lagi sambil memanggul Lasmini yang masih pingsan. Dengan gerakan laksana burung srikatan, cepat dan trampil, Roro Luhito berlompatan ke dalam taman sari, lalu keluar lagi dari taman sari melalui pintu rahasia, membawa tawanannya ke tempat gelap di luar tembok kadipaten. Dapat dibayangkan betapa kaget dan bingungnya hati Lasmini ketika ia siuman kembali, tahu-tahu ia telah berada di bawah pohon, di udara terbuka, hanya diterangi bintang dan bulan sepotong. Serasa mimpi ia bangun duduk, dan memandang bengong kepada wanita cantik yang berdiri di depannya. Kini Roro Luhito tahu nama wanita ini, maka segera ia menegur,
"Lasmini, masih kenalkah engkau kepadaku?"
Lasmini bangkit berdiri. Rasa nyeri dan takutnya lenyap ketika ia mendapat kenyataan bahwa yang berdiri di situ adalah seorang wanita pula, seorang manusia, bukan setan.
"Bagaimanakah saya bisa berada di sini? Kepalaku pening tadi dan ...... "
Ia meraba pelipisnya dan kagetlah ia karena di pelipis kanannya kini tumbuh bisul!.
"Aduhhh ...... kenapa pelipisku ini ...... ?"
"Jangan banyak cerewet! Akulah yang merobohkan kau dan tiga orang temanmu tadi. Lihat baik-baik, siapa aku?"
Lasmini kaget, mulai gelisah hati, lalu memandang dan mengingat-ingat.
"Serasa kenal ...... eh, bukankah andika ini ...... Raden Ajeng Roro Luhito ...... ?"
"Hemm, ternyata engkau masih mengenalku .." kata Roro Luhito, agak terharu.
"Aduh, den ajeng....!" Lasmini lalu menjatuhkan diri, memeluk lutut wanita perkasa itu sambil menangis.
"Diam, tak usah menangis. Mari duduk yang baik dan ceritakan semuanya. Àpà yang terjadi di kadipaten? Dan kemana ayah bunda dan keluargaku semua?"

Lasmini masih menangis terisak-isak, kemudian setelah agak reda ia bercerita. Cerita yang membuat Roro Luhito terkejut bukan main, membuat wajahnya sebentar pucat sebentar merah dan giginya yang putih berkerot saking marahnya. Untung bagi Roro Luhito bahwa ia menculik Lasmini sehingga ia dapat mendengar semua urusan yang terjadi di situ. Lasmini adalah penari muda cantik yang dulu pernah diganggu oleh Cekel Aksomolo, bahkan dikorbankan kepada cekel tua yang mata keranjang itu. Karena sejak peristiwa itu wataknya lalu berubah genit dan jalang, mudah saja bagi Lasmini untuk menarik perhatian dan ia berhasil menarik hati seorang perwira pasukan kota raja sehingga mendapat kepercayaan dari Jokowanengpati dan dijadikan pelayan. Dari perwira yang menjadi pacarnya itulah Lasmini mendengar akan semua peristiwa yang kini ia ceritakan sambil menangis di depan Roro Luhito. Betapapun juga, karena semenjak kecilnya ia "ngenger" (mengabdi) Adipati Joyowiseso, ada juga kesetiaan dan keharuan menyelinap di hatinya ketika bersua dengan puteri bekas gustinya itu.
Memang terjadi perubahan besar dalam persekutuan antara Adipati Joyowiseso dan tokoh-tokoh sakti termasuk Jokowanengpati, setelah terjadi perpecahan di kota raja antara Pangeran Sepuh (Tua) dan Pangeran Anom (Muda). Jokowanengpati dan tokoh-tokoh sakti yang tadinya membantu niat berontak adipati ini, melihat kesempatan yang lebih besar untuk kemuliaan di kemudian hari. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan lagi Adipati Joyowiseso setelah mereka diberi kesempatan oleh Pangeran Anom yang pandai mengumpulkan tenaga orang-orang sakti untuk mencapai cita-citanya, yaitu menguasai kerajaan yang diperebutkan dengan kakak tirinya, Pangeran Sepuh. Melihat ini, Adipati Joyowiseso tentu saja juga menyerahkan diri menghamba kepada Pangeran Anom, akan tetapi dalam perebutan kekuasaan secara diam-diam itu, tenaga sang adipati belum sangat dibutuhkan sehingga adipati ini terdesak oleh Jokowanengpati, Cekel Aksomolo, dan yang lain.

Perubahan besar terjadi ketika secara tiba-tiba Wisangjiwo yang tadinya juga menjadi kepercayaan Pangeran Anom membalik dan menghamba kepada Pangeran Sepuh! Hal ini benar-benar mengejutkan dan tidak dimengerti oleh orang lain, juga tidak dimengerti pula oleh Adipati Joyowiseso sendiri. Kejadian aneh ini ada sebabnya, yaitu sejak Wisangjiwo ditangkap oleh Pujo di pantai selatan! Ketika mendapat kesempatan melarikan diri setelah ikatannya dilepaskan oleh Kartikosari, Wisangjiwo diam-diam bersembunyi dan mendengarkan percakapan suami isterl itu. Alangkah kaget hatinya mendengar akan perbuatan Jokowanengpati yang luar biasa kejinya. Dia sendiripun seorang laki-laki mata keranjang, akan tetapi tak pernah ia melakukan perbuatan keji seperti yang dilakukan Jokowanengpati. Tahulah ia bahwa Jokowanengpati orang yang telah memperkosa Kartikosari di dalam guha, mempergunakan namanya! Sungguhpun Kartikosari ketika bercerita kepada Pujo tidak menyebut-nyebut nama karena suami isteri itu sendiri masih menduga-duga, ia yakin bahwa Jokowanengpatilah orangnya. Kelingking kiri Jokowanengpati juga buntung! Pantas saja pengakuan Jokowanengpati tentang kelingking itu berubah-ubah. Dan perbuatan Jokowanengpati itulah yang mendatangkan dendam di hati Pujo dan Kartikosari, sehingga terjadi penyerbuan ke Kadipaten Selopenangkep dan puteranya terculik! Semua gara-gara Jokowanengpati. Mulai menyesallah hati Wisangjiwo. Mulai terbuka matanya betapa Pujo dan Kartikosari adalah korban-korban keganasan orang jahat. Mulai insyaf ia betapa semua itu juga merupakan akibat daripada kesesatannya sendiri. Ia menyesal dan insyaf bahwa dengan menghamba kepada Pangeran Anom, ia bersekongkol dengan orang-orang jahat macam Jokowanengpati, Cekel Aksomolo, dan lain-lain. Inilah yang menyebabkan Wisangjiwo mengambil keputusan bulat, "menyeberang" kepada Pangeran Sepuh. Karena ia dahulu masuk dan mengabdi kerajaan atas perantaraan Ki Patih Narotama, tentu saja Pangeran Sepuh suka menerimanya dengan girang. Wisangjiwo yang kebingungan, kehilangan pegangan dan merasakan pahitnya bibit yang ia tanam sendiri dahulu itu, sama sekali tidak menyangka bahwa Pangeran Anom menjadi marah sekali kepadanya. Tentu saja Pangeran Anom tidak berani berterang menyuruh orang menyerangnya di depan mata Pangeran Sepuh, akan tetapi atas hasutan Jokowanengpati, Pangeran Anom lalu mengutus pasukan pengawalnya, dikepalai Jokowanengpati dan kedua wanita iblis Ni Durgogini dan Ni Nogogini, mendatangi Selopenangkep dan memberi hukuman kepada keluarga Wisangjiwo, yaitu semua penghuni kadipaten dengan tuduhan memberontak yang diperkuat oleh Jokowanengpati!.

Pasukan kota raja amat terlatih dan kuat, apalagi dikepalai oleh seorang sakti seperti Jokowanengpati dibantu Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Tanpa perlawanan berarti, Kadipaten Selopenangkep dapat diserbu, banyak di antara keluarga kadipaten dibunuh, dan kadipaten diambil alih. Peristiwa itu sudah terjadi beberapa pekan lamanya. Kemudian, Lasmini menceritakan pula betapa Jokowanengpati dibantu oleh Ni Durgogini dan Ni Nogogini, pergi ke Sungapan, katanya hendak mencari pusaka Mataram, demikian cerita pacarnya.
"Baru tadi mereka bertiga kembali dari Sungapan, den ajeng. Malah dua orang wanita yang menakutkan itu siang tadi terus pergi, kabarnya hendak pergi ke kota raja. Ah, banyak kejadian mengerikan, den ajeng. Malah belum lama tadi, menurut pengawal dalam, ada dua orang musuh tertawan, kini dikurung dalam kamar tahanan bawah tanah yang menyeramkan itu ...... "
"Begitukah ...... ??"
Roro Luhito terkejut karena dapat menduga bahwa dua orang musuh yang dimaksudkan itu tentulah Pujo dan Kartikosari.
"Dan ayah di mana sekarang ...... ? Masih ...... masih hidupkah ...... ?"
Lasmini menangis tersedu-sedu. Roro Luhito berdebar hatinya dan ia mengguncang-guncang pundak wanita itu, kehilangan sabar.
"Hayo cepat jawab, di mana ayah dan ibu?"
"Hamba....... hamba tidak tahu jelas ... kabarnya ...... gusti adipati ditahan dalam kamar tahanan di belakang..dijaga keras...... "
Roro Luhito meloncat berdiri tegak.
"Keparat kau Jokowanengpati!" serunya marah. Kemudian sekali renggut, ia melepaskan kemben yang melibat pinggang ramping Lasmini. Wanita itu kaget sekali, tubuhnya gemetar wajahnya pucat.
"Raden ajeng....... hamba ....... hamba.. "
"Diam ! Kau juga bukan manusia baik-baik, Lasmini. Kau mengorbankan keponakanmu yang masih kecil untuk memuaskan nafsu jahat Jokowanengpati, agar kau disuka dan mendapat kedudukan baik. Kau perempuan rendah dan keji, sudah sepatutnya kalau kubunuh engkau. Akan tetapi karena kau telah menceritakan semua dengan jujur, kuampunkan nyawamu!"
Sambil bicara, Roro Luhito menelikung (mengikat kaki tangan) Lasmini seperti kambing akan disembelih.
"Katakan, selain Jokowanengpati dan para pengawal, ada siapa lagi di sana? Para pinisepuh (orang tua) sakti maksudku."
Dengan tubuh menggigil ketakutan Lasmini pienjawab,
"Ti ...... tidak ada lagi, setelah dua orang wanita iblis itu pergi ...... "

Roro Luhito menggunakan tangannya merenggut putus ujung kemben, menyumpal mulut Lasmini, tubuh Lasmini terguling ke dalam gerombolan alang-alang. Cepat Roro Luhito kembali memasuki pintu rahasia di taman sari, masuk dengan hati-hati, langsung ia menuruni jalan rahasia dari kamar belakang yang kosong, yang membawanya ke bagian bawah tanah di mana terdapat beberapa ruangan untuk menahan tawanan-tawanan penting. Tentu saja ia hafal akan keadaan di kadipaten ini. Menurutkan kata hatinya memang ia ingin segera pergi menjenguk ke belakang gedung, ke tempat tahanan di mana mungkin ia dapat bertemu dengan ayah bundanya, akan tetapi pikirannya mengingatkan bahwa untuk bergerak selanjutnya, tak mungkin dapat ia lakukan tanpa bantuan Pujo dan Kartikosari. Ia tahu bahwa Jokowanengpati adalah seorang sakti. Biarpun sekarang ia tidak takut, dan belum tentu kalah setelah ia menerima gemblengan gurunya, Resi Telomoyo, namun ia harus berlaku hati-hati, apalagi kalau diingat bahwa Jokowanengpati dibantu oleh banyak pengawal. Baru saja menuruni ruangan di bawah tanah, yang agak gelap, tiba-tiba seorang penjaga. sudah menegurnya.
"Hordah ! Siapa ini ..... ??"
Dan sebelum ia sempat menjawab, penjaga itu sudah mencabut pisau belatinya dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya mencengkeram ke arah pundak sambil berbisik,
"Ah, kau dayang dalam jangan berteriak!"

Penjaga itu dengan dengus penuh nafsu menyeringai dan hendak menciumnya, pisau belati dipakai mengancam, tangan kiri hendak berkurang ajar. Bagaikan kilat cepatnya, sekali menggerakkan tangan, Roro Luhito sudah membuat dua gerakan. Pertama merampas pisau dan kedua membenamkan mata pisau ke dalam dada penjaga sambil melompat mundur sehingga ketika tubuh penjaga yang jantungnya sudah ditembus pisau itu roboh, darah yang muncrat tidak mengenai bajunya. Kemudian, setelah membersihkan pisau pada baju korbannya, Roro Luhito melanjutkan perjalanan, berindap-indap di ruangan bawah, pisau tajam di tangannya.
Secara kebetulan sekali Jokowanengpati pergi meninggalkan ruangan tahanan, menyerahkan penjagaan kepada empat orang penjaga itu, menunda niatnya yang amat keji, niat yang kiranya hanya dapat dilakukan oleh iblis. Karena empat orang penjaga tidak menyangka-nyangka, secara mudah sekali mereka menjadi korban pisau belati di tangan Roro Luhito.

<<< Bagian 064                                                                                   Bagian 066 >>>

No comments:

Post a Comment