Badai Laut Selatan ; Bagian 066


Dengan menahan kemarahan dan tergesa-gesa, Roro Luhito membebaskan suami isteri itu, lalu berbisik,
"Lekas, mari keluar dari sini! Kalian bantu aku menyelidiki orang tuaku...ini"
Suaranya gemetar dan tangannya menarik lengan Kartikosari diajak keluar tahanan. Pujo mengikuti dari belakang setelah mengambil kerisnya Banuwilis dan cundrik isterinya yang tadi terlepas di lantai ketika mereka berjuang melawan asap belerang. Tanpa bicara ia menyerahkan cundrik isterinya dan mereka bertiga kini keluar dari kamar, senjata masing-masing di tangan.
Roro Luhito sudah membuang pisau rampasannya, kini juga menghunus kerisnya dan memegang di tangan kanan. Berkat ketrampilan Roro Luhito yang hafal benar akan keadaan di dalam kadipaten, mereka bertiga dapat keluar dari ruangan di bawah tanah, lalu langsung ke bagian belakang gedung kadipaten yang luas itu. Sunyi saja keadaannya. Tidak tampak seorangpun penjaga maupun pelayan, seakan-akan semua orang telah meninggalkan gedung. Di depan pintu kamar tahanan yang letaknya di belakang gedung, Roro Luhito berhenti, ragu-ragu.
"Tidak baik ini.... " bisiknya.
"Ada apakah, diajeng?" Pujo berbisik pula.
"Begini sunyi, tiada rintangan ...... "
Kartikosari melangkah maju.
"Terjang saja ke dalam. Takut apa?"

Penuh semangat tiga orang itu mendorong daun pintu kamar tahanan, daun pintu terbuka dan...... Roro Luhito menahan pekik, lalu menerjang masuk diikuti Pujo dan Kartikosari.
"Ha-ha-ha-ha! Sudah kuduga tentu engkau yang datang, adinda yang manis Roro Luhito! Berhenti! Maju setindak lagi, keris ini akan memasuki tubuh ayahmu!"
Dengan muka pucat Roro Luhito terpaksa tidak berani bergerak, juga Pujo dan Kartikosari karena pada saat itu, Jokowanengpati sedang mengancamkan kerisnya pada dada Adipati Joyowiseso yang kelihatan lemah dan lemas. Jelas bahwa orang tua itu banyak menanggung penderitaan, bajunya compang-camping, membayangkan kulit tubuh yamg luka-luka, wajahnya pucat sekali dan ia tampak lemas kehabisan tenaga.
"Ayahh ...... !"
Roro Luhito terisak, akan tetapi tidak berani mendekati. Adipati Joyowiseso menggerakkan kepalanya dengan lemah, menoleh dan memandang puterinya. Kedua matanya menjadi basah dan dua butir air mata membasahi pipinya yang cekung.
"Jahanam Jokowanengpati!" Puteri adipati itu kini mendamprat dengan mata mendelik, berapi-api sinarnya ditujukan ke arah Jokowanengpati, musuh besarnya yang tidak saja telah menodai dirinya, akan tetapi yang kini malah mendatangkan malapetaka kepada keluarga ayahnya.
"Lepaskan ayahku!!"
"Jokowanengpati iblis keparat, binatang terkutuk ...... !" Kartikosari juga memaki saking bencinya.
"Dosamu bertumpuk-tumpuk, Jokowanengpati. Kini tiba saatnya engkau membayar, tiba saatnya engkau menerima hukumanmu!" Pujo berkata, kerisnya digenggam erat-erat.
Menghadapi ancaman tiga orang lawan tangguh ini, Jokowanengpati tertawa.
"Ha-ha-ha-ha! Kalian sudah masuk perangkap, masih banyak berlagak? Lihat, kalian sudah terkurung!"

Ketiga orang itu melirik ke belakang dan benar saja. Kalau tadinya tak tampak seorangpun penjaga, kini pintu kamar itu penuh dengan pasukan yang berjejal di luar. Jalan keluar sudah tertutup! Namun mereka tidak takut sama sekali. Satu-satunya hasrat hati yang ada hanyalah menerjang dan merobohkan Jokowanengpati, melampiaskan dendam kesumat. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang berani bergerak maju karena lawan yang licik itu telah menodong Adipati Joyowiseso.
"Lepaskan ayahku! Pengecut, tak tahu malu!" Kembali Roro Luhito membentak.
"Kalian bertiga yang harus melepaskan senjata. Hayo buang senjata! Lihat! Haruskah aku menyiksa lebih dulu kakek ini?"
Jokowanengpati menekan ujung keris di dada Joyowiseso, tepat di ulu hatinya. Jelas tampak betapa ujung keris yang runcing itu merobek kulit dan beberapa titik darah menetes keluar.
"Uuhhhggghh !" Joyowiseso mengeluh, menahan rasa perih.
"Tidak lekas membuang senjata?" Jokowanengpati mengancam.
"Uuuuuhhhggh....!" Kembali Joyowiseso mengeluh.
Anak mana yang tidak akan hancur luluh hatinya menyaksikan ayahnya diancam maut ? Roro Luhito tak dapat lagi menahan hatinya. Dilemparkannya keris di tangan itu ke lantai, lalu ia lari menubruk ayahnya.
"Ayahhhh ...... !”
"Luhito ...... uhphh, Luhito anakku ...... "

Ayah dan anak itu bertangis-tangisan. Pujo dan Kartikosari tidak dapat menyalahkan Roro Luhito. Dengan kemarahan meluap mereka hendak menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba dari belakang mereka menyambar angin yang aneh. Mereka cepat membalikkan tubuh dan ...... selembar jala telah melayang dan mengembang, langsung menubruk mereka. Suami isteri ini tak mungkin dapat mengelak lagi karena jala itu amat lebar. Namun mereka tidak gentar karena apakah hebatnya selembar jala? Tentu mudah diputuskan!
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika jala itu menyelimuti tubuh dan mereka berusaha meronta dan membabat dengan keris, jala itu tidak dapat dibabat putus! Kiranya itu bukanlah jala ikan biasa, melainkan jala yang terbuat daripada bahan yang tidak dapat diputus senjata tajam Mereka hanya dapat meronta-ronta dan bergerak-gerak seperti dua ekor ikan terkena jaring!
"Ha-ha-ha, Pujo manusia goblok! Sekarang kau hendak lari ke mana? Ha-ha-ha! Hayo rampok (keroyok) keparat ini sampai hancur tubuhnya, akan tetapi awas, jangan bunuh yang betina. Ha- ha-ha!"
Para penjaga itu berlomba maju untuk mengeroyok Pujo yang sudah berselimut jala. Pedang, golok dan tombak menghujam ke arah tubuh Pujo. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar jeritan yang merupakan lengking tinggi dan tahu-tahu dua orang penjaga yang terdepan, terpelanting seperti disambar petir.
"Hayo siapa berani maju mengantar nyawa! Majulah, keparat kalian semua! Siapa berani menyentuh kakangmas Pujo, hendak kulihat orangnya!"
Roro Luhito berdiri dengan sikap seperti Srikandi, kedua tangannya terkepal kedua kakinya terpentang, tubuhnya agak merendah, matanya mengeluarkan sinar berapi-api, berdiri membelakangi Pujo dan Kartikosari, bagaikan seekor singa betina melindungi anak-anaknya!.
Melihat dua orang penjaga tadi roboh terpelanting dan tak dapat bangun lagi karena tulang dada dan tengkorak kepalanya remuk oleh terjangan gadis ini, para penjaga yang lain menjadi kesima dan jerih. Jokowanengpati juga terperanjat sekali. Sepak terjang Roro Luhito tadi benar-benar hebat luar biasa. Tidak disangka-sangkanya kalau gadis itu memiliki kepandaian sedemikian hebatnya, iapun terheran-heran mengapa gadis ini menolong Pujo dan Kartikosari dari dalam kamar tahanan di bawah tanah, dan sekarang begitu nekat membela Pujo. Bukankah gadis itu seharusnya membenci dan sakit hati kepada Pujo?
"Diajeng Luhito........ dia ....... Pujo itu musuh kita, dialah jahanam yang dahulu memperkosa..."
"Tutup mulutmu yang busuk!!" Roro Luhito membentak, kemarahannya meluap-luap.
"Jahanam terkutuk, siapa tidak ketahui perbuatanmu yang keji dan hina?"

Makin kagetlah Jokowanengpati. Celaka, pikirnya. Semua rahasianya agaknya telah terbuka. Tidak saja Pujo dan Kartikosari yang tahu bahwa dialah yang dahulu menggagahi Kartikosari mempergunakan nama Wisangjiwo, bahkan kini agaknya Roro Luhito juga sudah tahu bahwa dialah yang dahulu memperkosa puteri adipati itu mempergunakan nama Pujo! Akan tetapi dasar seorang cerdik, ia segera dapat menekan kegelisahannya dan sekali lagi ujung kerisnya ditekankan di dada Joyowiseso membuat adipati ini yang sudah lemah itu mengeluh kesakitan.
"Diajeng Luhito, lekas tinggalkan mereka, kalau tidak, ayahmu tentu akan kubunuh lebih dulu!"
Roro Luhito bimbang hatinya. Tidak ingin ia melihat Pujo laki-laki yang dipujanya di dalam hati itu, mati dikeroyok. Akan tetapi bagaimana pula ia dapat melihat ayahnya dibunuh begitu saja? Cinta kasih dan bakti, sama berat! Selagi ia bimbang, ia mendengar suara bisikan Pujo di belakangnya, bisikan yang menggetar penuh perasaan haru.
"Diajeng, minggirlah. Belum tentu mereka dapat membunuh kami"
Ketika melirik dan melihat betapa suami isteri itu masih berdiri dengan keris di tangan, ia dapat mengerti bahwa biarpun sudah berselimut jala, agaknya tidak akan mudah membunuh mereka. Terpaksa ia lari menubruk ayahnya yang kelihatan amat pucat itu.
"Roro ....... anakku........ Pujo tidak berdosa ....... ??”
Dengan air mata membasahi pipi, Roro Luhito menggeleng kepala. Ia tidak ada waktu untuk melayani percakapan ayahnya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahnya yang membanjir keluar dari bibir yang pucat itu, karena pada saat itu seluruh perhatiannya ia curahkan ke depan, ke arah Pujo dan Kartikosari yang berada di dalam jala. Kembali para penjaga menyerbu dengan senjata-senjata mereka. Akan tetapi, tepat seperti yang diduga dan diharapkan Roro Luhito, begitu suami isteri itu bergerak, keris mereka menyambar di antara lubang-lubang jala dan empat orang penjaga yang mengeroyok itu roboh dengan darah muncrat-muncrat dari perut mereka!

Jokowanengpati memaki-maki anak buahnya sehingga mereka terpaksa maju terus. Tombak-tombak panjang datang bagaikan hujan. Karena Kartikosari dengan gigih membantu suaminya, kini para penjaga yang panik dan agak gentar itu menjadi ngawur dan asal menyerang saja, tidak perduli Pujo ataupun Kartikosari mereka tusuk dengan tombak. Ribut keadaan di situ dan suami isteri yang gagah perkasa itu dengan gerakan teratur meloncat ke sana ke mari di dalam jala, merobohkan belasan orang prajurit anak buah Jokowanengpati, Para perajurit mengeroyok terus, korban-korban yang roboh diseret keluar.
Tidak mudah bagi para pengeroyok yang hanya memiliki kepandaian biasa itu untuk merobohkan dua orang suami isteri yang sakti. Hujan tombak dan golok itu hanya mampu membuat pakaian suami isteri itu compang-camping dan memang Pujo dan isterinya menderita luka-luka, namun hanyalah luka pada kulit belaka, bekas goresan-goresan senjata tajam dan tusukan-tusukan tombak runcing yang mengakibatkan darah membasahi baju dan jala. Melihat betapa anak buahnya masih juga belum berhasil merobohkan Pujo malah sebaliknya banyak anak buahnya menjadi korban, Jokowanengpati marah sekali. Ia tahu bahwa Pujo sudah mulai letih, karena Pujo belum pulih dari akibat penyiksaan di dalam kamar tahanan di bawah tanah. Begitu melihat kesempatan baik, Jokowanengpati melompat ke depan dan sekali kaki tangannya bergerak, ia berhasil merampas keris di tangan Kartikosari dan menendang terlepas keris dari tangan Pujo. Suami isteri itu memang mengeluarkan tangan yang memegang keris dari dalam jala.
"Ha-ha-ha-ha, kalian masih hendak memperlihatkan kegagahan?" Jokowanengpati membentak anak buahnya yang sudah hendak menerjang lagi. Ia ingin melampiaskan kemarahannya dengan menyiksa Pujo. Di tangannya telah tampak sebatang cambuk besar dan panjang. Begitu ia menggerakkan tangannya, terdengar suara berdetak-detak dan cambuk itu melecut ke depan, menghantam tubuh Pujo di dalam jala. Bertubi-tubi cambuk itu bergerak dan melecut dan selalu tepat mengenai tubuh Pujo. Kartikosari memaki-maki dan berusaha menangkis ujung cambuk yang begitu keji menghujani tubuh suaminya yang makin lemah. Sementara itu, dengan pertanyaan-pertanyaan mendesak, Adipati Joyowiseso sudah mendengar hal-hal yang terpenting dari mulut puterinya. Mendadak ia memegang tangan puterinya, berbisik,
"Bagaimana kau bisa mendiamkannya saja? Lawan dia! Bantu mereka. Jangan hiraukan aku lagi!"

Memang di dalam hatinya, Roro Luhito yang menonton dengan muka pucat itu sudah ingin sekali turun tangan, hanya ia mengingat akan keselamatan ayahnya maka ia tidak berani meninggalkan ayahnya. Kini mendengar bisikan ayahnya, timbul semangatnya dan tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya mencelat ke depan. Gerakannya ini hebat sekali, pekiknya seperti bukan suara manusia dan ia menerjang Jokowanengpati benar-benar amat aneh sehingga Jokowanengpati terkejut bukan main, cepat membuang diri ke belakang. Sungguhpun ia berhasil mengelak, namun secara aneh dan tiba-tiba pecutnya sudah terampas oleh Roro Luhito. Jokowanengpati yang cerdik maklum bahwa gadis itu sudah nekat dan agaknya percuma mengancamnya melalui ayahnya, maka ia segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok. Ia sendiri juga menerjang maju hendak meringkus Roro Luhito yang cantik manis akan tetapi kini memiliki ilmu kepandaian hebat itu.
Kembali ramai di dalam ruangan tahanan yang luas itu. Roro Luhito yang telah kehilangan kerisnya, kini mengamuk dengan cambuk rampasannya, ia tidak pandai bermain cambuk, akan tetapi karena ilmunya tinggi, hantaman cambuknya amat hebat dan sekali terpukul cambuk, seorang pengeroyok tentu akan roboh dan tak dapat bangun kembali.

<<< Bagian 065                                                                                    Bagian 067 >>>

No comments:

Post a Comment