Dengan menahan kemarahan dan tergesa-gesa, Roro Luhito membebaskan suami isteri itu, lalu berbisik,
"Lekas,
mari keluar dari sini! Kalian bantu aku menyelidiki orang tuaku...ini"
Suaranya
gemetar dan tangannya menarik lengan Kartikosari diajak keluar tahanan. Pujo
mengikuti dari belakang setelah mengambil kerisnya Banuwilis dan cundrik
isterinya yang tadi terlepas di lantai ketika mereka berjuang melawan asap
belerang. Tanpa bicara ia menyerahkan cundrik isterinya dan mereka bertiga kini
keluar dari kamar, senjata masing-masing di tangan.
Roro Luhito
sudah membuang pisau rampasannya, kini juga menghunus kerisnya dan memegang di
tangan kanan. Berkat ketrampilan Roro Luhito yang hafal benar akan keadaan di
dalam kadipaten, mereka bertiga dapat keluar dari ruangan di bawah tanah, lalu
langsung ke bagian belakang gedung kadipaten yang luas itu. Sunyi saja
keadaannya. Tidak tampak seorangpun penjaga maupun pelayan, seakan-akan semua
orang telah meninggalkan gedung. Di depan pintu kamar tahanan yang letaknya di
belakang gedung, Roro Luhito berhenti, ragu-ragu.
"Tidak
baik ini.... " bisiknya.
"Ada
apakah, diajeng?" Pujo berbisik pula.
"Begini
sunyi, tiada rintangan ...... "
Kartikosari
melangkah maju.
"Terjang
saja ke dalam. Takut apa?"
Penuh semangat
tiga orang itu mendorong daun pintu kamar tahanan, daun pintu terbuka dan......
Roro Luhito menahan pekik, lalu menerjang masuk diikuti Pujo dan Kartikosari.
"Ha-ha-ha-ha!
Sudah kuduga tentu engkau yang datang, adinda yang manis Roro Luhito! Berhenti!
Maju setindak lagi, keris ini akan memasuki tubuh ayahmu!"
Dengan muka
pucat Roro Luhito terpaksa tidak berani bergerak, juga Pujo dan Kartikosari
karena pada saat itu, Jokowanengpati sedang mengancamkan kerisnya pada dada
Adipati Joyowiseso yang kelihatan lemah dan lemas. Jelas bahwa orang tua itu
banyak menanggung penderitaan, bajunya compang-camping, membayangkan kulit
tubuh yamg luka-luka, wajahnya pucat sekali dan ia tampak lemas kehabisan
tenaga.
"Ayahh
...... !"
Roro Luhito
terisak, akan tetapi tidak berani mendekati. Adipati Joyowiseso menggerakkan
kepalanya dengan lemah, menoleh dan memandang puterinya. Kedua matanya menjadi
basah dan dua butir air mata membasahi pipinya yang cekung.
"Jahanam
Jokowanengpati!" Puteri adipati itu kini mendamprat dengan mata mendelik,
berapi-api sinarnya ditujukan ke arah Jokowanengpati, musuh besarnya yang tidak
saja telah menodai dirinya, akan tetapi yang kini malah mendatangkan malapetaka
kepada keluarga ayahnya.
"Lepaskan
ayahku!!"
"Jokowanengpati
iblis keparat, binatang terkutuk ...... !" Kartikosari juga memaki saking
bencinya.
"Dosamu
bertumpuk-tumpuk, Jokowanengpati. Kini tiba saatnya engkau membayar, tiba
saatnya engkau menerima hukumanmu!" Pujo berkata, kerisnya digenggam
erat-erat.
Menghadapi
ancaman tiga orang lawan tangguh ini, Jokowanengpati tertawa.
"Ha-ha-ha-ha!
Kalian sudah masuk perangkap, masih banyak berlagak? Lihat, kalian sudah
terkurung!"
Ketiga orang
itu melirik ke belakang dan benar saja. Kalau tadinya tak tampak seorangpun penjaga,
kini pintu kamar itu penuh dengan pasukan yang berjejal di luar. Jalan keluar
sudah tertutup! Namun mereka tidak takut sama sekali. Satu-satunya hasrat hati
yang ada hanyalah menerjang dan merobohkan Jokowanengpati, melampiaskan dendam
kesumat. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang berani bergerak maju
karena lawan yang licik itu telah menodong Adipati Joyowiseso.
"Lepaskan
ayahku! Pengecut, tak tahu malu!" Kembali Roro Luhito membentak.
"Kalian
bertiga yang harus melepaskan senjata. Hayo buang senjata! Lihat! Haruskah aku
menyiksa lebih dulu kakek ini?"
Jokowanengpati
menekan ujung keris di dada Joyowiseso, tepat di ulu hatinya. Jelas tampak
betapa ujung keris yang runcing itu merobek kulit dan beberapa titik darah
menetes keluar.
"Uuhhhggghh
!" Joyowiseso mengeluh, menahan rasa perih.
"Tidak
lekas membuang senjata?" Jokowanengpati mengancam.
"Uuuuuhhhggh....!"
Kembali Joyowiseso mengeluh.
Anak mana yang
tidak akan hancur luluh hatinya menyaksikan ayahnya diancam maut ? Roro Luhito tak
dapat lagi menahan hatinya. Dilemparkannya keris di tangan itu ke lantai, lalu
ia lari menubruk ayahnya.
"Ayahhhh
...... !”
"Luhito
...... uhphh, Luhito anakku ...... "
Ayah dan anak
itu bertangis-tangisan. Pujo dan Kartikosari tidak dapat menyalahkan Roro
Luhito. Dengan kemarahan meluap mereka hendak menerjang maju, akan tetapi
tiba-tiba dari belakang mereka menyambar angin yang aneh. Mereka cepat
membalikkan tubuh dan ...... selembar jala telah melayang dan mengembang,
langsung menubruk mereka. Suami isteri ini tak mungkin dapat mengelak lagi
karena jala itu amat lebar. Namun mereka tidak gentar karena apakah hebatnya
selembar jala? Tentu mudah diputuskan!
Dapat
dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika jala itu menyelimuti tubuh dan
mereka berusaha meronta dan membabat dengan keris, jala itu tidak dapat dibabat
putus! Kiranya itu bukanlah jala ikan biasa, melainkan jala yang terbuat
daripada bahan yang tidak dapat diputus senjata tajam Mereka hanya dapat
meronta-ronta dan bergerak-gerak seperti dua ekor ikan terkena jaring!
"Ha-ha-ha,
Pujo manusia goblok! Sekarang kau hendak lari ke mana? Ha-ha-ha! Hayo rampok
(keroyok) keparat ini sampai hancur tubuhnya, akan tetapi awas, jangan bunuh
yang betina. Ha- ha-ha!"
Para penjaga
itu berlomba maju untuk mengeroyok Pujo yang sudah berselimut jala. Pedang,
golok dan tombak menghujam ke arah tubuh Pujo. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar
jeritan yang merupakan lengking tinggi dan tahu-tahu dua orang penjaga yang
terdepan, terpelanting seperti disambar petir.
"Hayo
siapa berani maju mengantar nyawa! Majulah, keparat kalian semua! Siapa berani
menyentuh kakangmas Pujo, hendak kulihat orangnya!"
Roro Luhito
berdiri dengan sikap seperti Srikandi, kedua tangannya terkepal kedua kakinya
terpentang, tubuhnya agak merendah, matanya mengeluarkan sinar berapi-api,
berdiri membelakangi Pujo dan Kartikosari, bagaikan seekor singa betina
melindungi anak-anaknya!.
Melihat dua
orang penjaga tadi roboh terpelanting dan tak dapat bangun lagi karena tulang
dada dan tengkorak kepalanya remuk oleh terjangan gadis ini, para penjaga yang
lain menjadi kesima dan jerih. Jokowanengpati juga terperanjat sekali. Sepak
terjang Roro Luhito tadi benar-benar hebat luar biasa. Tidak disangka-sangkanya
kalau gadis itu memiliki kepandaian sedemikian hebatnya, iapun terheran-heran
mengapa gadis ini menolong Pujo dan Kartikosari dari dalam kamar tahanan di
bawah tanah, dan sekarang begitu nekat membela Pujo. Bukankah gadis itu
seharusnya membenci dan sakit hati kepada Pujo?
"Diajeng
Luhito........ dia ....... Pujo itu musuh kita, dialah jahanam yang dahulu
memperkosa..."
"Tutup
mulutmu yang busuk!!" Roro Luhito membentak, kemarahannya meluap-luap.
"Jahanam
terkutuk, siapa tidak ketahui perbuatanmu yang keji dan hina?"
Makin kagetlah
Jokowanengpati. Celaka, pikirnya. Semua rahasianya agaknya telah terbuka. Tidak
saja Pujo dan Kartikosari yang tahu bahwa dialah yang dahulu menggagahi
Kartikosari mempergunakan nama Wisangjiwo, bahkan kini agaknya Roro Luhito juga
sudah tahu bahwa dialah yang dahulu memperkosa puteri adipati itu mempergunakan
nama Pujo! Akan tetapi dasar seorang cerdik, ia segera dapat menekan
kegelisahannya dan sekali lagi ujung kerisnya ditekankan di dada Joyowiseso
membuat adipati ini yang sudah lemah itu mengeluh kesakitan.
"Diajeng
Luhito, lekas tinggalkan mereka, kalau tidak, ayahmu tentu akan kubunuh lebih
dulu!"
Roro Luhito
bimbang hatinya. Tidak ingin ia melihat Pujo laki-laki yang dipujanya di dalam
hati itu, mati dikeroyok. Akan tetapi bagaimana pula ia dapat melihat ayahnya
dibunuh begitu saja? Cinta kasih dan bakti, sama berat! Selagi ia bimbang, ia
mendengar suara bisikan Pujo di belakangnya, bisikan yang menggetar penuh
perasaan haru.
"Diajeng,
minggirlah. Belum tentu mereka dapat membunuh kami"
Ketika melirik
dan melihat betapa suami isteri itu masih berdiri dengan keris di tangan, ia
dapat mengerti bahwa biarpun sudah berselimut jala, agaknya tidak akan mudah
membunuh mereka. Terpaksa ia lari menubruk ayahnya yang kelihatan amat pucat
itu.
"Roro
....... anakku........ Pujo tidak berdosa ....... ??”
Dengan air
mata membasahi pipi, Roro Luhito menggeleng kepala. Ia tidak ada waktu untuk
melayani percakapan ayahnya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahnya yang
membanjir keluar dari bibir yang pucat itu, karena pada saat itu seluruh
perhatiannya ia curahkan ke depan, ke arah Pujo dan Kartikosari yang berada di
dalam jala. Kembali para penjaga menyerbu dengan senjata-senjata mereka. Akan
tetapi, tepat seperti yang diduga dan diharapkan Roro Luhito, begitu suami
isteri itu bergerak, keris mereka menyambar di antara lubang-lubang jala dan
empat orang penjaga yang mengeroyok itu roboh dengan darah muncrat-muncrat dari
perut mereka!
Jokowanengpati
memaki-maki anak buahnya sehingga mereka terpaksa maju terus. Tombak-tombak
panjang datang bagaikan hujan. Karena Kartikosari dengan gigih membantu
suaminya, kini para penjaga yang panik dan agak gentar itu menjadi ngawur dan
asal menyerang saja, tidak perduli Pujo ataupun Kartikosari mereka tusuk dengan
tombak. Ribut keadaan di situ dan suami isteri yang gagah perkasa itu dengan
gerakan teratur meloncat ke sana ke mari di dalam jala, merobohkan belasan
orang prajurit anak buah Jokowanengpati, Para perajurit mengeroyok terus,
korban-korban yang roboh diseret keluar.
Tidak mudah
bagi para pengeroyok yang hanya memiliki kepandaian biasa itu untuk merobohkan
dua orang suami isteri yang sakti. Hujan tombak dan golok itu hanya mampu
membuat pakaian suami isteri itu compang-camping dan memang Pujo dan isterinya
menderita luka-luka, namun hanyalah luka pada kulit belaka, bekas
goresan-goresan senjata tajam dan tusukan-tusukan tombak runcing yang
mengakibatkan darah membasahi baju dan jala. Melihat betapa anak buahnya masih
juga belum berhasil merobohkan Pujo malah sebaliknya banyak anak buahnya
menjadi korban, Jokowanengpati marah sekali. Ia tahu bahwa Pujo sudah mulai
letih, karena Pujo belum pulih dari akibat penyiksaan di dalam kamar tahanan di
bawah tanah. Begitu melihat kesempatan baik, Jokowanengpati melompat ke depan dan
sekali kaki tangannya bergerak, ia berhasil merampas keris di tangan
Kartikosari dan menendang terlepas keris dari tangan Pujo. Suami isteri itu
memang mengeluarkan tangan yang memegang keris dari dalam jala.
"Ha-ha-ha-ha,
kalian masih hendak memperlihatkan kegagahan?" Jokowanengpati membentak
anak buahnya yang sudah hendak menerjang lagi. Ia ingin melampiaskan
kemarahannya dengan menyiksa Pujo. Di tangannya telah tampak sebatang cambuk
besar dan panjang. Begitu ia menggerakkan tangannya, terdengar suara berdetak-detak
dan cambuk itu melecut ke depan, menghantam tubuh Pujo di dalam jala.
Bertubi-tubi cambuk itu bergerak dan melecut dan selalu tepat mengenai tubuh
Pujo. Kartikosari memaki-maki dan berusaha menangkis ujung cambuk yang begitu
keji menghujani tubuh suaminya yang makin lemah. Sementara itu, dengan
pertanyaan-pertanyaan mendesak, Adipati Joyowiseso sudah mendengar hal-hal yang
terpenting dari mulut puterinya. Mendadak ia memegang tangan puterinya,
berbisik,
"Bagaimana
kau bisa mendiamkannya saja? Lawan dia! Bantu mereka. Jangan hiraukan aku
lagi!"
Memang di
dalam hatinya, Roro Luhito yang menonton dengan muka pucat itu sudah ingin
sekali turun tangan, hanya ia mengingat akan keselamatan ayahnya maka ia tidak
berani meninggalkan ayahnya. Kini mendengar bisikan ayahnya, timbul semangatnya
dan tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya mencelat ke
depan. Gerakannya ini hebat sekali, pekiknya seperti bukan suara manusia dan ia
menerjang Jokowanengpati benar-benar amat aneh sehingga Jokowanengpati terkejut
bukan main, cepat membuang diri ke belakang. Sungguhpun ia berhasil mengelak,
namun secara aneh dan tiba-tiba pecutnya sudah terampas oleh Roro Luhito.
Jokowanengpati yang cerdik maklum bahwa gadis itu sudah nekat dan agaknya percuma
mengancamnya melalui ayahnya, maka ia segera memberi aba-aba kepada anak
buahnya untuk maju mengeroyok. Ia sendiri juga menerjang maju hendak meringkus
Roro Luhito yang cantik manis akan tetapi kini memiliki ilmu kepandaian hebat
itu.
Kembali ramai
di dalam ruangan tahanan yang luas itu. Roro Luhito yang telah kehilangan
kerisnya, kini mengamuk dengan cambuk rampasannya, ia tidak pandai bermain
cambuk, akan tetapi karena ilmunya tinggi, hantaman cambuknya amat hebat dan
sekali terpukul cambuk, seorang pengeroyok tentu akan roboh dan tak dapat
bangun kembali.
No comments:
Post a Comment